Created: Wednesday, 01 August 2018 15:58 | Rate this article
( 0 Votes ) 
| Category: Journalism

Konsep Alienasi (Keterasingan) dan Sejarahnya

 

KALI ini saya akan bercerita tentang salah satu konsep penting dalam Marxisme, yakni konsep alienasi (keterasingan).

Catatan sistematis pertama tentang alienasi termaktub dalam karya Georg W.F. Hegel The Phenomenology of Spirit, di mana istilah Entäusserung (self-externalization) dan Entfremdung (estrangement) diadopsi untuk menunjukkan bahwa dalam dunia objektivitas Roh (spirit) bukan lagi dirinya sendiri. Konsep alienasi kemudian secara mencolok muncul tulisan-tulisan Hegelian Kiri, dan teori keterasingan religius Ludwig Feuerbach dalam bukunya The Essence of Christianity – yaitu, proyeksi manusia mengenai esensi dirinya sendiri ke dalam imanjinasi ketuhanan (imaginary deity) – yang berkontribusi pada pengembangan konsep tersebut. Sayangnya, konsep ini kemudian menghilang dari refleksi filosofis, dan tidak ada pemikir terkemuka pada paruh kedua abad XIX yang memberikan perhatian besar terhadapnya.

Teori ini baru kembali menjumpai pembacanya melalui filsuf-cum revolusioner Hungaria György Lukács. Dalam bukunya History and Class Consciousness, Lukács memperkenalkan istilah ‘reifikasi’ (Versachlichung) untuk menggambarkan fenomena dimana aktivitas kerja mengonfrontasi manusia sebagai sesuatu yang objektif dan independen, mendominasi manusia melalui hukum eksternal yang otonom. Kejadian penting selanjutnya yang dengan cepat menyebarkan konsep ini muncul dalam karya Marx berjudul the Economic-Philosophical Manuscripts of 1844, yang ditemukan pada tahun 1932. Dalam karya Marx muda yang sebelumnya tidak dipublikasikan ini, alienasi disajikan sebagai fenomena yang melaluinya produk buruh mengonfrontasi si buruh ‘sebagai sesuatu yang asing, sebagai kekuatan independen dari produsen’. Marx menyebutkan empat keadaan dimana buruh teralienasi dalam masyarakat borjuis: 1) oleh hasil kerjanya, yang menjadi “objek asing yang memiliki kekuasaan atas dirinya”; 2) terasing dari aktivitas kerjanya, dimana aktivitasnya justru ‘ditujukan untuk melawan dirinya sendiri’, seolah-olah aktivitas kerja itu ‘bukan miliknya’; 3) terasing dari ‘dirinya sendiri sebagai manusia/man’s species-being”, yang ditransformasukan menjadi ‘sesuatu yang keberadaannya asing baginya’; dan 4) oleh manusia lain, dan dalam hubungannya dengan ‘kerja mereka dan objek kerja’. Bagi Marx, tidak seperti Hegel, alienasi tidak menempel pada objektifikasi sebagaimana adanya melainkan dengan fenomena tertentu dalam bentuk ekonomi yang aktual: yaitu, upah buruh dan transformasi produk tenaga kerja menjadi objek yang berdiri bertentangan dengan produsernya. Sementara Hegel menerangkan keterasingan sebagai manifestasi ontologis buruh, Marx menganggapnya sebagai karakteristik dari epos sistem produksi tertentu: kapitalisme.

Pada bagian awal abad XX, sebagian besar penulis yang membahas keterasingan menganggapnya sebagai aspek universal dari eksistensi manusia. Dalam Being and Time, Martin Heidegger mendekatinya sebagai ‘modus eksistensial Mengada-di-dalam-dunia (Being-in-the-world)‘, sebagai sebuah realitas yang membentuk bagian dari dimensi fundamental sejarah. Setelah Perang Dunia II, alienasi menjadi tema yang berulang di bawah pengaruh eksistensialisme Prancis, yang ditandai dengan menyebarnya ketidakpuasan manusia dalam masyarakat, perpecahan antara individualitas manusia dan dunia pengalaman. Satu dekade kemudian, istilah itu masuk dalam kosakata sosiologi Amerika Utara. Sosiologi arus utama memperlakukan istilah alienasi ini sebagai masalah manusia individual, bukan hubungan sosial, dan pencarian solusi berpusat pada kapasitas individu untuk menyesuaikan diri dengan tatanan yang ada, bukan pada tindakan kolektif untuk mengubah masyarakat. Pergeseran besar pendekatan ini pada akhirnya menolak analisis faktor-faktor sejarah-sosial (historical-social factors). Sementara dalam tradisi Marxis konsep alienasi telah berkontribusi pada beberapa kritisisme tajam terhadap cara produksi kapitalis, pelembagaannya dalam ranah sosiologi telah mereduksinya menjadi sekadar fenomena ketidakmampuan individu untuk menyesuaikan diri dengan norma-norma sosial.

Konsep ini juga menemukan jalannya dalam psikoanalisis, di mana Erich Fromm menggunakannya dalam rangka membangun jembatan ke Marxisme. Namun ia meletakkan penekanan utama pada subjektivitas, dan gagasannya tentang keterasingan, yang dirangkumnya dalam The Sane Society sebagai ‘modus pengalaman di mana individu mengalami dirinya sebagai makhluk asing’. Pada Fromm, konsep ini tetap terlalu fokus pada individu.

Pada 1960-an, muncul trend baru dalam menteorikan alienasi dan konsep itu tampaknya mengekspresikan semangat zaman menuju kesempurnaan. Dalam buku Guy Debord The Society of the Spectacle, teori alienasi terkait dengan kritik terhadap produksi immaterial: ‘dengan “revolusi industri kedua”, konsumsi yang teralienasi telah menjadi harga yang harus dibayar sebanyak produksi yang teralienasi.” Namun, popularitas istilah tersebut, dan penerapannya yang serampangan, menciptakan ambiguitas atau ketidakpastian konseptual yang mendalam.

Penyebaran karya Marx Grundrisse, sebuah naskah yang ditulis pada 1857-58 dan kemudian menuai populartiasnya pada awal tahun 1970-an, disusul dengan “Capital, Volume Satu: Buku 1, Bab VI, tidak diterbitkan”, memusatkan perhatian pada cara bagaimana Marx mengonseptualisasikan alienasi pada tulisan-tulisan masa tuanya. Konspetualisasinya ini, dalam banyak hal, mengingatkan kita pada analisis-analisisnya dalam the Economic-Philosophical Manuscripts of 1844, namun diperkaya dengan pemahaman yang luas tentang kategori-kategori ekonomi serta analisis sosial yang lebih ketat. Tak pelak hal ini melempangkan jalan bagi pemahaman konsepsi alienasi yang berbeda dari konsepsi sebelumnya yang hegemonik dalam sosiologi dan psikologi.

Pada Marx tua, konsepsinya ditujukan untuk mengatasi alienasi dalam praktik – ke aksi politik dari gerakan sosial, partai dan serikat buruh untuk mengubah kondisi-kondisi kerja dan hidup kelas pekerja. Publikasi dari karya-karya (setelah the Economic-Philosophical Manuscripts of 1844 pada 1930-an) dapat dianggap sebagai “generasi kedua” dari tulisan-tulisan Marx tentang alienasi. Di sini, Marx tidak hanya menyediakan landasan teoretis yang koheren untuk studi-studi baru tentang alienasi, tetapi di atas semuanya adalah platform ideologi anti-kapitalis bagi gerakan sosial dan politik yang meledak secara spektakuler di dunia selama tahun-tahun itu. Pada momen ini, alienasi pergi meninggalkan buku-buku para filsuf dan ruang-ruang kuliah universitas, turun ke jalan-jalan dan ruang-ruang perjuangan buruh, dan menjadi kritik terhadap masyarakat borjuis secara umum.

Kemajuan ini juga terbukti tampak di bagian yang terkenal dari Capital, Volume I: ‘Fetisisme/pemujaan Komoditi dan Rahasianya’. Bagi Marx, dalam masyarakat kapitalis, hubungan di antara orang-orang muncul tidak “sebagai hubungan sosial yang langsung di antara orang-orang […], tetapi lebih sebagai hubungan material di antara orang-orang dan hubungan sosial di antara benda-benda’. Fenomena ini disebutnya sebagai “pemujaan/fetisisme yang melekat erat pada produk kerja segera setelah mereka diproduksi sebagai komoditas, dan karena itu tidak dapat dipisahkan dari produksi komoditas tersebut.” Konsep Fetisisme komoditi ini bukanlah pengganti dari konsep alienasi di tulisan-tulisan awalnya. Dalam masyarakat borjuis, Marx berpendapat, kualitas dan hubungan manusia berubah menjadi kualitas dan hubungan di antara benda-benada. Inilah teori yang disebut Lukács sebagai reifikasi, yang menggambarkan fenomena ini dari sudut pandang hubungan manusia, sementara konsep fetisisme memperlakukan fenomena itu dalam kaitannya dengan komoditas.

Sebaliknya, bagi Marx, sistem produksi post-kapitalis, bersamaan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dan konsekuensi pengurangan hari kerja, menciptakan kemungkinan bentuk sosial baru. Dalam sistem baru ini, buruh yang teralienasi dan dipaksa kerja oleh kapital sekaligus subjek yang tunduk pada hukum-hukumnya, secara bertahap digantikan dengan dengan kegiatan-kegiatan kreatif dan berkesadaran melampaui kebutuhan mendesaknya. Demikian juga hubungan sosialnya yang utuh mengganti pertukaran acak yang sama (undifferentiated exchange) yang didikte oleh hukum-hukum komoditas dan uang. Inilah ruang dimana kebebasan manusia yang sejati merekah menggantikan ruang kebebasan kapitalis.***