Created: Monday, 04 March 2019 13:21 | Rate this article
( 0 Votes ) 
| Category: Journalism

Kritik Marx Terhadap Sosial Demokrasi (Bagian-1)

 

I. Melawan Penyimpangan sosial-demokratik

Pada akhir 1874, sebuah berita surat kabar diterima Marx yang mengabarkan bahwa Asosiasi Umum Buruh Jerman, yang didirikan oleh Ferdinand Lassalle, dan Partai Buruh Sosial Demokrat, yang terhubung dengan Marx, berniat untuk bersatu menjadi kekuatan politik tunggal.

Marx dan Engels tidak diajak berkonsultasi mengenai manfaat proyek tersebut, dan baru pada bulan Maret mereka menerima rancangan program partai baru itu. Engels kemudian menulis kepada August Bebel bahwa dia tidak bisa “memaafkannya karena tidak memberi tahu mereka sepatah kata pun tentang keseluruhan proyek politik ini “; dan dia memperingatkan bahwa dirinya dan Marx “tidak akan pernah bisa memberikan kesetiaan (mereka) kepada partai baru” yang didirikan atas dasar sosialisme negara Lassallean. Terlepas dari deklarasi yang tajam ini, para pemimpin yang telah aktif membangun apa yang akan menjadi Partai Pekerja Sosialis Jerman (SAPD) tidak mengubah posisi mereka.

Atas dasar itu, Marx merasa berkewajiban untuk menulis sebuah kritik panjang tentang rancangan program untuk kongres persatuan (unification congress) yang akan diadakan pada 22 Mei 1875 di kota Gotha.

II. Melawan Program Gotha

Dalam surat yang menyertai teksnya, Marx mengakui bahwa “setiap langkah gerakan nyata lebih penting daripada selusin program”. Tetapi dalam kasus “program-program yang prinsipil”, maka program-program itu harus ditulis dengan sangat hati-hati, karena mereka akan menetapkan “patokan bagi seluruh dunia untuk … mengukur seberapa jauh partai (telah) maju”. Dalam Critique of the Gotha Program (1875), Marx mengungkap berbagai ketidaktepatan dan kesalahan dalam manifesto baru yang dirancang di Jerman. Misalnya, dalam mengkritik konsep “distribusi yang adil/fair distribution“, ia bertanya secara polemik: “bukankah borjuis menyatakan bahwa distribusi saat ini adalah ‘adil’? Dan bukankah, pada kenyataannya, satu-satunya distribusi yang ‘adil’ adalah yang berdasarkan modus produksi saat ini?” Dalam pandangannya, tuntutan politik yang harus dimasukkan ke dalam program bukanlah programnya Lassalle “hasil kerja yang tidak berkurang” untuk setiap pekerja, tetapi transformasi dari modus produksi. Marx menjelaskan, dengan ketelitiannya yang luar biasa, bahwa Lassalle “tidak tahu apa itu upah”. Mengikuti para ekonom borjuis, ia “mengambil tampilan atau penampakkan luar ketimbang esensi dari masalah ini”. Marx menjelaskan:

Upah bukanlah seperti apa yang tampak, yaitu nilai, atau harga, dari tenaga kerja, tetapi hanya bentuk topeng untuk nilai, atau harga, dari tenaga kerja. Dengan demikian seluruh konsepsi borjuis tentang upah sampai sekarang, serta semua kritik yang sebelumnya diarahkan terhadap konsepsi ini, dilemparkan ke laut untuk selamanya dan diperjelas bahwa pekerja-upahan diijinkan untuk bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup subsistennya, yaitu untuk hidup hanya sejauh ia bekerja untuk waktu tertentu yang gratis bagi kapitalis (dan karenanya juga untuk konsumsi bersama nilai lebih); bahwa seluruh sistem produksi kapitalis mengaktifkan peningkatan tenaga kerja gratis ini dengan memperpanjang hari kerja atau dengan menggenjot produktivitas, yaitu, meningkatkan intensitas tenaga kerja, dll.; bahwa, konsekuensinya sistem kerja upahan adalah sebuah sistem perbudakan, dan, memang perbudakan ini menjadi lebih parah secara proporsional seiring dengan perkembangan tenaga kerja sosial produktif, tak peduli apakah buruh menerima pembayaran yang lebih baik atau lebih buruk.

Poin kontroversial lain menyangkut peran negara. Marx berpendapat bahwa kapitalisme hanya dapat digulingkan melalui “transformasi revolusioner masyarakat”. Kaum Lassallean berpendapat bahwa “organisasi sosialis dari total tenaga kerja muncul dari bantuan negara, yang negara berikan kepada masyarakat koperasi produsen, dimana negara, bukan pekerja, sebagai aktornya.” Sementara bagi Marx, “masyarakat koperasi hanya memiliki nilai sejauh mereka adalah kreasi independen dari pekerja dan bukan anak didik baik dari pemerintah atau borjuis”; gagasan “bahwa dengan pinjaman negara seseorang dapat membangun masyarakat baru seperti halnya dengan kereta api baru ” adalah khas dari ketidakpastian teoritis Lassalle.

Secara keseluruhan, Marx mengamati bahwa manifesto politik untuk kongres fusi menunjukkan bahwa ide-ide sosialis mengalami kesulitan menembus organisasi pekerja Jerman. Sejalan dengan keyakinan awalnya, ia menekankan bahwa salah satu kesalahan mereka adalah memperlakukan “negara sebagai entitas independen yang memiliki basis intelektual, etika, dan libertariannya sendiri”, alih-alih “memperlakukan masyarakat yang ada sebagai … basis dari negara yang ada”. Sebaliknya, Wilhelm Liebknecht dan para pemimpin sosialis Jerman lainnya membela keputusan taktis mereka untuk berkompromi tentang program, dengan alasan bahwa ini diperlukan untuk mencapai sebuah partai yang bersatu. Sekali lagi, Marx harus menghadapi jarak yang sangat jauh antara pilihan yang dibuat di Berlin dan di London. Dia sudah berkomentar tentang hal itu sehubungan dengan minimnya keterlibatan organisasi Jerman dalam Asosiasi Kelas Pekerja Internasional (International Working Men’s Association).

III. Polemik dengan Eugen Dühring

Pada dekade 1870-an Marx mengikuti secara intensif pertempuran politik paling penting di tingkat internasional. Tapi  di saat bersamaan, ia tidak pernah kehilangan pengamatannya tentang perkembangan politik utama di Jerman. Setelah ketegangan besar seputar kongres Gotha berlalu, ia melanjutkan upayanya untuk mengarahkan Partai Pekerja Sosialis Jerman ke arah anti-kapitalis. Namun, kecenderungan lain berkembang yang berpeluang memunculkan potensi konflik baru.

Semenjak tahun 1874 Eugen Duhring, seorang profesor ekonomi di Universitas Berlin, mulai menerima perhatian yang signifikan dari para intelektual Partai. Artikel-artikel yang mendukung posisinya muncul di Der Volksstaat (Negara Rakyat), yang telah menjadi organ Partai Buruh Sosial-Demokrat Jerman. Oleh karena itu, setelah diminta oleh Liebknecht untuk terlibat, dan setelah mendengarkan pandangan Marx bahwa perlu “untuk mengkritik Duhring tanpa kompromi”, Engels memutuskan untuk menulis kritik lengkap tentang positivisme Jerman. Tugas ini, yang diperpanjang dari akhir 1876 hingga Juli 1878, berakhir dalam bentuk buku berjudul Anti-Duhring (1877-78), yang penerbitannya didahului oleh kutipan-kutipan di kolom Vorwärts (Maju), koran harian Partai Pekerja Sosialis di Jerman yang lahir dari kongres fusi Gotha.

Marx berperan aktif dalam proyek Anti-Duhring ini: di musim dingin 1877, ia menulis bab kunci “Tentang ‘Sejarah Kritis'”, baik atas nama Engels dan atas namanya sendiri, menganggapnya sebagai respons terhadap serangan yang terkandung dalam buku Duhring  Critical History of Political Economy and Socialism (1871). Marx menunjukkan bahwa “berdasarkan nilai, Herr Duhring memahami lima hal yang sangat berbeda dan secara langsung bertentangan, dan, karenanya,  gambaran yang tepat buatnya adalah, dirinya sendiri tidak tahu apa yang diinginkannya.” Lebih dari itu, dalam buku ekonom Jerman, “’hukum alam dari semua ilmu ekonomi’, diperkenalkan dengan pongah,  terbukti sekadar akrab secara universal, dan bahkan  seringkali tidak dipahami dengan baik, sehingga deskripsi terburuk oun tidak bisa menggambarkannya.” Satu-satunya penjelasan “yang ia berikan dari “fakta-fakta ekonomi” adalah bahwa “mereka adalah hasil dari ‘kekuatan’, sebuah istilah yang telah dimiliki oleh orang-orang picik (philistine) dari semua bangsa selama ribuan tahun untuk menghibur dirinya sendiri atas segala hal yang tidak menyenangkan yang terjadi padanya, dan yang membuat kita berada di tempat kita sekarang ini. ”Bagi Marx, Duhring tidak mencoba untuk “menyelidiki asal-usul dan dampak-dampak dari kekuatan ini”, dan, ketika dipaksa untuk menjelaskan eksploitasi kapitalis terhadap buruh, ia “pertama-tama menunjukkannya secara umum berdasarkan pajak dan biaya tambahan” à la Proudhon, kemudian “menjelaskannya secara terperinci melalui teori Marx tentang surplus-tenaga kerja”. Hasilnya benar-benar tidak masuk akal: “dua cara pandang yang benar-benar kontradiktif, … di salin mentah-mentah tanpa menarik napas.”***

Marcello Musto (1976) adalah Professor bidang Teori Sosiologi di York University (Toronto). Ia telah menulis banyak buku dan artikel yang diterbitkan di lebih dari 20 bahasa. Di antaranya ia mengedit beberapa volume seperti Karl Marx’s ‘Grundrisse’: Foundations of the Critique of Political Economy 150 Years Later (Routledge, 2008); Marx for Today (Routledge, 2012); Workers Unite!: The International 150 Years Later (Bloomsbury, 2014). Ia juga menulis buku Another Marx: Early Manuscripts to the International (Bloomsbury, 2018) dan The Last Marx (1881-1883): An Intellectual Biography (forthcoming 2019). Tulisan-tulisannya tersedia di www.marcellomusto.org. Buku terbarunya dalam bahasa Indonesia berjudul, Marx Yang Lain, akan diterbitkan dalam waktu oleh penerbit Marjin Kiri.