Created: Monday, 14 January 2019 13:05 | Rate this article
( 0 Votes ) 
| Category: Journalism

Marx Tentang Perjuangan Melawan Perbudakan di Amerika Serikat

Pada musim semi 1861, politik dunia diguncang oleh pecahnya Perang Saudara di  Amerika Serikat.

Perang itu meletus tak lama setelah Abraham Lincoln terpilih sebagai Presiden AS. Tujuh negara pemilik budak menyatakan pemisahan diri mereka dari Amerika Serikat: Carolina Selatan, Mississippi, Florida, Alabama, Georgia, Louisiana, dan Texas. Tak lama kemudian bergabung Virginia, Arkansas, Tennessee, Carolina Utara, lalu Missouri dan Kentucky (meskipun dua yang terakhir tidak secara resmi menyatakan pemisahan diri). Konflik berdarah yang terjadi kemudian merenggut sekitar 750.000 jiwa di antara Konfederasi/Confederation (yang lebih memilih mempertahankan dan memperluas perbudakan) dan Persatuan/Union (Amerika yang setia pada Lincoln, meskipun dalam beberapa kasus mempertimbangkan perbudakan legal).

Peristiwa itu segera memicu Karl Marx untuk mulai mempelajari situasi tersebut dan, pada awal Juli, menulis kepada kawannya Friedrich Engels: “Konflik antara Selatan dan Utara … akhirnya sampai ke pikiran (jika kita mengabaikan tuntutan baru ‘para pemberani’) oleh bobot perkembangan luar biasa dari Negara-Negara Barat-Utara yang semakin meningkat skalanya. “Dalam pandangan Marx, tidak ada komponen dari gerakan separatis yang memiliki legitimasi; mereka harus dilihat sebagai masalah “perebutan kekuasaan”, karena “tidak mengijinkan  orang banyak untuk memilih”. Bagaimanapun, apa yang dipermasalahkan tidak hanya “pemisahan diri dari Utara, tetapi juga mengonsolidasikan dan mengintensifkan oligarki dari 300.000 tuan budak (slave lords) di Selatan”. Beberapa hari kemudian, Marx mengamati bahwa “Tindakan pemisahan diri [telah] diwakili secara keliru di koran-koran Inggris”, karena di mana-mana, dengan perkecualian Carolina Selatan, “terdapat oposisi yang kuat melawan pemisahan diri ini”. Selain itu, di tempat-tempat di mana konsultasi pemilihan diizinkan – “hanya beberapa” dari Negara-negara di Teluk Meksiko mengadakan “pemungutan suara rakyat yang layak” – terjadi dalam kondisi tercela. Di Virginia, misalnya, “massa besar pasukan Konfederasi tiba-tiba diterjunkan ke wilayah itu” dan “di bawah perlindungan mereka (ini benar-benar Bonapartis), massa memilih pemisahan diri” – namun ada “50.000 suara” untuk Persatuan/Union,” terlepas dari terorisme sistematis”. Texas, yang, “setelah Carolina Selatan, [memiliki] barisan budak dan terorisme terbesar”, masih mencatat “11.000 suara untuk Union”. Di Alabama, “tidak ada pemilihan suara baik untuk pemisahan diri atau Konstitusi baru”, dan mayoritas 61-39 delegasi konvensi yang mendukung pemisahan diri hanya karena fakta bahwa di bawah Konstitusi “setiap pemilik budak juga memilih 3/5 budaknya”. Sedangkan untuk Louisiana, lebih banyak suara untuk Union ketimbang suara untuk pemisahan diri yang diberikan kepada “pemilihan delegasi untuk konvensi”, tetapi cukup banyak delegasi yang membelot untuk mengubah keseimbangan.

Pertimbangan-pertimbangan semacam itu, dalam surat-surat Marx kepada Engels, dilengkapi dengan argumen yang bahkan lebih penting dalam karya jurnalistiknya. Selain kontribusi sporadis ke koran New-York Tribune, Marx sejak Oktober 1861 juga menulis untuk harian liberal Wina Die Presse, yang jumlah pelanggannya mencapai 30.000. Wina Die Presse adalah koran yang paling banyak dibaca di Austria dan salah satu yang paling populer di negara-negara berbahasa Jerman. Tema utama artikel-artikel ini – yang juga termasuk laporan tentang invasi Prancis kedua ke Meksiko – adalah dampak ekonomi dari perang Amerika terhadap Inggris. Secara khusus, Marx fokus pada perkembangan perdagangan dan situasi keuangan, serta menilai kecenderungan-kecenderungan dalam opini publik. Dengan demikian, dalam “A London Workers ‘Meeting” (1862), ia menyatakan senang dengan demonstrasi yang dilakukan oleh kaum buruh Inggris, yang, meskipun “tidak diwakili di Parlemen”, sukses membawa “pengaruh politik” mereka untuk menanggung dan mencegah intervensi militer Inggris melawan Union.

Demikian pula, Marx menulis sebuah artikel yang berapi-api untuk New-York Tribune setelah Trent Affair, ketika Angkatan Laut AS secara ilegal menangkap dua diplomat Konfederasi di atas kapal Inggris. Amerika Serikat, tulisnya, tidak boleh melupakan “bahwa setidaknya kelas pekerja Inggris [tidak pernah] meninggalkan” kapal itu. Bagi kelas pekerja Inggris sikap itu dilakukan “meskipun stimulan beracun setiap hari di publikasi oleh pers yang kejam dan sembrono, tidak ada satu pun pertemuan publik untuk perang yang dapat diadakan di Inggris selama semua periode yang damai diguncang dalam keseimbangan”. “Sikap kelas pekerja Inggris” semakin dihargai ketika diletakkan berdampingan dengan “perilaku munafik, bodoh, dan pengecut John Bull yang resmi dan baik-baik saja”; keberanian dan konsistensi di satu sisi, inkoherensi dan kontradiksi-diri di sisi lain. Dalam sebuah suratnya kepada Ferdinand Lassalle pada Mei 1861, ia berkomentar: “Seluruh pers resmi di Inggris, tentu saja, mendukung para pemilik budak. Mereka adalah orang yang sama yang membuat dunia bosan dengan filantropi perdagangan anti perbudakan. Tapi kapas, kapas!”

Ketertarikan Marx pada Perang Sipil jauh melampaui konsekuensi-konsekuensinya bagi Inggris; dia ingin, di atas segalanya, menjelaskan sifat dari konflik tersebut. Artikel yang ditulisnya untuk New-York Tribune beberapa bulan setelah konflik pecah adalah contoh yang baik tentang ini: “Orang-orang Eropa tahu bahwa perjuangan untuk kelanjutan Union adalah perjuangan melawan kelanjutan slaveocracy (demokrasi-perbudakan) – yang dalam kontes ini adalah bentuk tertinggi dari pemerintahan sendiri oleh rakyat yang terealisasi dalam wujud perlawanan terhadap bentuk perbudakan manusia paling kejam dan tak tahu malu yang terekam dalam catatan sejarah.”

Dalam beberapa artikel untuk Die Presse, Marx menganalisis secara lebih mendalam argumen kedua pihak yang berseberangan. Dia memulai dengan menunjukkan kemunafikan kaum Liberal dan Konservatif Inggris. Dalam “Perang Sipil Amerika Utara” (25 Oktober 1861), ia mencemooh “penemuan brilian” The Times, harian Inggris terkemuka ketika itu, bahwa perang tersebut hanyalah “perang tarif belaka, perang antara sistem proteksionis dan sistem perdagangan bebas”, dan kesimpulannya bahwa Inggris tidak punya pilihan selain menyatakan dukungannya pada “perdagangan bebas” yang diwakili oleh Konfederasi Selatan. Beberapa mingguan, termasuk The Economist dan The Saturday Review, melangkah lebih jauh dan bersikeras bahwa “masalah perbudakan … sama sekali tidak ada hubungannya dengan perang ini”.

Melawan penafsiran-penafsiran ini, Marx memperhatikan motif-motif politik di balik konflik itu. Pada pemilik budak di Selatan, ia mengatakan bahwa tujuan utama mereka adalah untuk mempertahankan kontrol terhadap Senat dan karenanya “kontrol politik Amerika Serikat”. Untuk itu, adalah perlu menaklukkan daerah baru (seperti yang terjadi pada tahun 1845 dengan aneksasi Texas) atau mengubah wilayah-wilayah yang ada di AS menjadi “negara budak”. Para pendukung utama perbudakan di Amerika adalah “oligarki sempit yang [berhadapan] dengan berjuta-juta orang kulit putih miskin, yang jumlahnya terus meningkat melalui konsentrasi kepemilikan tanah dan yang kondisinya hanya bisa dibandingkan dengan masyarakat rendahan (plebeian) Romawi pada periode kemerosotan ekstrim Roma ”. Oleh karena itu, “akuisisi dan prospek akuisisi wilayah-wilayah baru” adalah satu-satunya cara yang mungkin untuk menyamakan kepentingan orang miskin dengan kepentingan para pemilik budak, “untuk memberikan kepada mereka yang haus akan tindakan sebuah arah yang tidak berbahaya dan menjinakkan mereka dengan harapan bahwa suatu hari kelak mereka bisa menjadi pemilik budak”. Di sisi lain, Lincoln mengejar tujuan “membatasi dengan ketat perbudakan di daerah lamanya”, yang “terikat pada hukum ekonomi untuk mengarah pada kepunahan bertahap” dan karenanya untuk melenyapkan “hegemoni” politik  dari “negara-negara budak”.

Marx menggunakan artikelnya untuk membantah yang sebaliknya: “Seluruh gerakan didasarkan dan, seperti yang kita lihat, pada masalah budak. Bukan dalam pengertian apakah budak di dalam negara budak yang ada harus dibebaskan secara langsung atau tidak, tetapi apakah 20 juta manusia bebas di Utara harus tunduk lebih lama lagi kepada oligarki 300 ribu pemilik budak. ”Apa yang dipertaruhkan – dan Marx mendasarkan ini pada wawasannya tentang mekanisme ekspansionis dari bentuk ekonomi – adalah “apakah Wilayah republik yang luas harus menjadi pembibitan bagi negara-negara bebas atau untuk perbudakan; [dan] apakah kebijakan nasional dari Union adalah penggunaan kekuatan bersenjata untuk menyebarkan perbudakan ke Meksiko, Amerika Tengah dan Selatan”.

Penilaian ini menyoroti jurang yang memisahkan Marx dari Giuseppe Garibaldi, yang telah menolak tawaran pos komando angkatan darat di Utara dengan alasan bahwa tawaran itu hanya soal perebutan kekuasaan yang tidak ada urusannya dengan emansipasi para  budak. Mengenai posisi Garibaldi dan upayanya yang gagal untuk memulihkan perdamaian antara kedua belah pihak, Marx berkomentar kepada Engels: “Garibaldi, si brengsek itu, telah membodohi dirinya sendiri dengan suratnya kepada Yankees yang mempromosikan kerukunan.” Sementara Garibaldi gagal memahami tujuan sebenarnya atau opsi-opsi dalam proses yang sedang berjalan, Marx – sebagai seorang non-maksimalis bersikap hati-hati dengan perkembangan sejarah yang mungkin – segera merasa bahwa hasil dari Perang Sipil Amerika akan menentukan pada skala dunia dan menetapkan jarum jam sejarah bergerak baik di lintasan perbudakan atau emansipasi.

Pada November 1864, dihadapkan dengan peristiwa yang berlangsung cepat dan dramatis, Marx meminta pamannya Philips untuk merefleksikan “bagaimana pada saat pemilihan Lincoln [pada tahun 1860] itu hanya masalah tidak membuat konsesi lebih lanjut kepada pemilik budak, sementara tujuan yang kini diakuinya, yang sebagian telah disadari, adalah penghapusan perbudakan”. Dan Marx menambahkan: “Kita harus mengakui bahwa revolusi besar tidak pernah terjadi dengan kecepatan yang sedemikian cepat. Revolusi ini akan memiliki pengaruh yang sangat bermanfaat bagi seluruh dunia.”

Pemilihan kembali Lincoln pada November 1864 memberikan kesempatan kepada Marx untuk mengekspresikan, atas nama Asosiasi Pekerja Internasional, ucapan selamat dengan signifikansi politik yang jelas: “Jika perlawanan terhadap Penguasa Budak adalah semboyan yang disediakan untuk pemilihan pertama Anda, maka kemenangan dari pemilihan ulang Anda adalah seruan Kematian untuk Perbudakan”.

Beberapa perwakilan dari kelas penguasa Selatan telah menyatakan bahwa “perbudakan [adalah] lembaga yang bermanfaat”, dan bahkan berkhotbah bahwa itu adalah “satu-satunya solusi dari masalah besar ‘hubungan buruh dengan kapital’.” Itulah kenapa Mars bersikeras meluruskannya:

Kelas-kelas pekerja Eropa mengerti seketika itu juga, bahkan sebelum keberpihakan fanatik kelas-kelas atas untuk bangsawan Konfederasi telah memberikan peringatan yang suram, bahwa pemberontakan para pemilik budak adalah lonceng peringatan bagi sebuah perang suci melawan pekerja, dan bahwa bagi para pekerja, dengan harapan mereka untuk masa depan, bahkan penaklukan-penaklukan di masa lalu mereka dipertaruhkan dalam konflik besar di sisi lain Atlantik tersebut.
Marx kemudian membahas masalah yang tidak kalah pentingnya:

Sementara kelas pekerja, kekuatan politik sejati di Utara, mengijinkan perbudakan untuk mengotori republik mereka sendiri; sementara di depan orang-orang Negro, yang dikuasai dan dijual tanpa persetujuannya, mereka (pekerja kulit putih ini) menyombongkan hak prerogatif tertinggi dari pekerja kulit putih untuk menjual dirinya sendiri dan memilih tuannya sendiri; mereka (para pekerja kulit putih ini) tidak akan bisa mencapai kebebasan kerja yang sejati atau mendukung saudara-saudara mereka di Eropa dalam perjuangannya untuk pembebasan.
Hal yang sangat mirip dikemukakan Marx dalam Capital Volume I, di mana ia dengan tegas menggarisbawahi bahwa “di Amerika Serikat, setiap gerakan buruh independen dilumpuhkan selagi perbudakan merusak sebagian dari republik. Buruh di dalam kulit  yang putih tidak bisa membebaskan dirinya sendiri ketika itu dilabeli di dalam kulit yang hitam.” Tetapi, “sebuah kehidupan baru segera muncul dari kematian perbudakan. Buah pertama dari Perang Saudara Amerika ini adalah agitasi” untuk delapan jam kerja sehari.

Marx sangat menyadari posisi politik Abraham Lincoln yang moderat, juga tidak menutupi prasangka rasial dari beberapa sekutunya. Tetapi dia selalu dengan jelas menekankan, tanpa sektarianisme, perbedaan antara sistem budak di Selatan dan sistem yang didasarkan pada upah buruh di Utara. Dia mengerti bahwa, di Amerika Serikat, kondisi-kondisinya sedang berkembang untuk menghancurkan salah satu institusi paling terkenal di dunia. Akhir dari perbudakan dan penindasan ras akan memungkinkan gerakan pekerja global untuk beroperasi dalam kerangka kerja yang lebih menguntungkan untuk pembangunan masyarakat tanpa kelas dan modus produksi komunis.

Dengan mengingat hal ini, Marx menyusun “Pidato dari Asosiasi Kelas Pekerja Internasional kepada Presiden Johnson”, yang menggantikan Lincoln setelah pembunuhannya pada 14 April 1865. Marx ingin mengingatkan Andrew Johnson bahwa, dengan jabatan presidennya, ia telah menerima “tugas untuk mencabut dengan hukum apa yang telah ditebas oleh pedang”: yaitu,” untuk memimpin pekerjaan rekonstruksi politik dan regenerasi sosial yang sulit …; untuk memulai era baru emansipasi buruh.”