Created: Sunday, 01 January 2012 15:23 | Rate this article
( 0 Votes ) 
| Category: Reviews

Arianto Sangaji, review of Karl Marx’s Grundrisse: Foundations of the Critique of Political Economy 150 Years Later, IndoProgress, 2012.

SUATU ketika, Lenin mengatakan, adalah mustahil untuk memahami secara utuh karya Marx tentang Capital, khususnya bab pertama, tanpa melakukan studi dan pemahaman mendalam atas karya Hegel tentang Logic secara keseluruhan.

‘Konsekuensinya,’ demikian Lenin, ‘dalam setengah abad terakhir (di masa Lenin hidup), tak ada seorang pun Marxis yang memahami Marx.’

Menurut Martin Nicolaus – penerjemah karya Marx yang mendahului Capital, Grundrisse – pernyataan Lenin mengenai kesulitan membaca Capital itu, karena saat itu Grundrisse belum diterbitkan. Grundrisse sendiri lebih banyak berbicara tentang metode. Maka, menurut Nicolaus, dengan meminjam aforisme Lenin, untuk bisa memahami Capital yang tebalnya 4.000 halaman itu secara menyeluruh, kita pertama-tama mesti memahami dulu 800 halaman Grundrisse dan 1.000 halaman Logic. ‘Membaca Grundrisse dengan baik adalah cara terbaik untuk memahami Logic, dan selanjutnya untuk membaca Capital. Atau dengan kata lain, akan sangat sulit untuk bisa memahami relevansi keberadaan Logic bagi Capital tanpa pertama-tama membaca secara menyeluruh Grundrisse (Nicolaus, 1993:60). Padahal, membaca Grundrisse sendiri bukan pekerjaan mudah, apalagi membaca Logic-nya Hegel.

Beruntung sekali ketika memperingati 150 tahun terbitnya Grundrisse, sekelompok intelektual Marxis menuliskan catatannya tentang buku ini. Dengan dieditori filsuf muda yang sangat brilian, Marcello Musto, catatan-catatan tersebut terbit menjadi sebuah buku menarik yang diberi titel Karl Marx’s Grundrisse: Foundation of the critique of political economy 150 years . Buku ini berisi kumpulan tulisan yang terdiri dari 32 bab dengan 31 penulis. Mereka mengulas relevansi Grundrisse guna memahami Capital dan teori-teori Marx secara keseluruhan. Penyumbang tulisan adalah para ahli terkemuka di berbagai disiplin ilmu sosial, yang tidak asing bagi para pembaca yang mengikuti kajian Marxisme masa kini. Melalui buku ini, kita diberi peta dalam memahami kompleksitas Grundrisse.

***

Grundrisse adalah manuskrip-manuskrip yang pernah ditulis Marx, tetapi tidak pernah dipublikasi semasa hidupnya. Naskah ini ditulis antara Agustus 1857 dan Mei 1858, tiada lain adalah draf pendahuluan dari kritik Marx terhadap ekonomi politik dan karya persiapan utama untuk bukunya, Capital.

Ketika tengah menulis Grundrisse, disaat berbarengan Marx juga sedang sibuk-sibuknya menulis berbagai isu yang luas sehubungan krisis kapitalisme global saat itu. Sebagai koresponden harian New York Tribune, dia menulis lusinan artikel mengenai berbagai soal, terutama tentang perkembangan krisis di Eropa. Dalam rentang waktu yang sama, antara Oktober 1857 hingga Februari 1858, Marx melakukan kompilasi tiga buku yang lazim dikenal sebagai the Crisis Notebooks. Tidak seperti esktraksi buku-buku dari karya-karya para ekonom yang pernah dilakukan sebelumnya, di the Crisis Notebooks dia juga membuat catatan melimpah ruah tentang krisis, kecenderungan di pasar modal, fluktuasi perdagangan, dan kebangkrutan ekonomi yang sedang terjadi di Eropa, Amerika Serikat, dan belahan dunia lain.

Kendati Marx sudah menghabiskan waktu tidak sedikit untuk menuliskannya, Grundrisse tetap merupakan naskah yang belum untuk diterbitkan. Marx mengisyaratkannya ketika mengirim sepucuk surat kepada Ferdinand Lassale bahwa Grundrisse, yang ditulisnya dalam berbagai periode, dimaksudkan sebagai klarifikasi (metode dan konsep) untuk dirinya sendiri dan bukan dengan tujuan publikasi. Meskipun demikian, sebagian penulis, di antaranya Carol Gould (1978) menganggap Grundrisse sebagai karya Marx paling filosofis di antara tulisan-tulisannya yang lain, di mana konsep-konsep ontologi sosial Marx diformulasikan secara gamblang.

Apapun, di kemudian hari, Grundrisse menjadi salah satu sumber rujukan dalam kerja-kerja akademik. Hampir bisa dipastikan, semua karya-karya akademik dengan pendekatan Marxis, khususnya berkaitan dengan uang, kapital, krisis, dan metode ekonomi politik merujuk ke karya ini. Grundrisse juga jadi bacaan wajib di berbagai disiplin ilmu, dari ilmu lingkungan, filsafat, ekonomi, sejarah, politik, kesusasteraan, geografi, dan sebagainya, terutama pada mata pelajaran yang diasuh oleh para ahli yang mendedikasikan karier akademinya dengan pendekatan Marxisme.

***

Marcello Musto mengorganisir buku ini ke dalam tiga bagian. Pada bagian pertama berisi interpretasi-interpretasi atas topik-topik pokok yang ditulis Marx dalam Grundrisse. Musto sendiri menulis soal sejarah, produksi dan metode di dalam ‘Pengantar 1857.’ Joachim Bischoff dan Christoph Lieber mengulas teori nilai (value) dalam kehidupan ekonomi modern. Terrel Carver mendiskusikan keterasingan. Enrique Dussel membahas kategori nilai-lebih (surplus-value). Ellen Meiksins Wood mengkaji materialisme sejarah (historical materialism). John Bellamy Foster membicarakan kontradiksi ekologi dalam kapitalisme. Iring Fetscher mengurai kerangka masyarakat paska kapitalisme (sosialisme). Terakhir, Moishe Postone membandingkan antara Grundrisse dan Capital.

Ulasan pakar ekonomi politik Marxis Ellen Meiksins Wood, tentang materialisme sejarah di dalam Grundrisse, khusus di bagian yang berjudul ‘Forms which precede capitalist production,’ merupakan salah satu sumbangan menarik dari volume ini. Jika materialisme sejarah mengurai transisi dari satu corak produksi (mode of production) ke corak produksi yang lain, dalam ‘Forms which precede capitalist production’ Marx menaruh perhatian mengenai corak-corak produksi pra-kapitalis: Asiatik, klasikal, dan feodal. Wood melihat proses suksesi dari satu corak produksi ke yang lain berpangkal pada kontradiksi internal dari corak produksi yang ada (the existing mode of production), yakni pada aspek sistem hubungan-hubungan kepemilikan (system of social property relations ), bukan pada faktor eksternal. Pandangan ini tentu mengacu ke Marx yang menyatakan:

It must be kept in mind that the new forces of production and relations of production [i.e. mode of production] do not develop out of nothing, nor drop from the sky, nor from the womb of the self-positing Idea; but from within and in antithesis to the existing development of production and the inherited, traditional relations of property (1973: 278).

Harus senantiasa dicamkan bahwa kekuatan-kekuatan dan hubungan-hubungan produksi baru (yakni corak produksi), tidak berkembang dari ketiadaan, tidak jatuh dari langit, tidak juga dari rahim pergulatan gagasan; tapi dari dalam dan merupakan antitesis terhadap perkembangan produksi yang ada dan yang diwariskan, hubungan kepemilikan tradisional.

Pada tingkat kesejarahan, transisi dari feodalisme ke kapitalisme dipicu oleh kontradiksi internal dari feodalisme sendiri, bukan faktor eksternal, yakni ekspansi perdagangan, seperti yang dianut, misalnya, oleh ekonom Marxis AS terkemuka Paul M. Sweezy.[1] Dalam pandangan Wood, setiap tahap kesejarahan produksi tertentu selalu ditandai dengan hubungan penghisapan oleh kelas yang mengeruk surplus kerja dari kelas produsen langsung. Penghisapan ini berlangsung dalam sistem hubungan kepemilikan tertentu. Baik kelas produsen langsung maupun kelas yang menghisap surplus kerja mereka, selalu berjuang untuk memenuhi kondisi-kondisi yang memungkinkan mereka melakukan reproduksi sehingga menjamin kesinambungan kehidupan mereka. Upaya masing-masing kelas memenuhi kondisi-kondisi inilah yang mendorong transisi dari satu corak produksi ke corak produksi yang lain.

Bagian kedua buku ini berisi tiga tulisan yang mencoba melukiskan kembali konteks biografi dan teori di mana Marx menulis manuskrip-manuskrip ini. Tulisan pertama disumbang sendiri oleh Musto ‘Marx’s life at the time of the Grundrisse: Biographical notes on 1857-8,’ dan dua tulisan dari Michael R. Kratke, masing-masing: ‘The First World economic crisis: Marx as an economic journalist’ dan ‘Marx’s ‘books of crisis’ of 1857-8.’ Paling menarik dari tulisan-tulisan Kratke, yang menggambarkan konteks dari kelahiran Grundrisse, yakni ketika Marx menulis tentang krisis ekonomi. Bagi Marx, krisis ekonomi menjadi salah satu pusat perhatiannya di dalam kerangka kritiknya terhadap kapitalisme.

Relevansinya bagi kita yang hidup di jaman sekarang, bahwa 150 tahun setelah Grundrisse, krisis kapitalisme kembali terjadi di permukaan bumi, dengan pusat goyangan yang sama: New York. Lebih 150 tahun lalu, krisis bermula dari bangkrutnya Ohio Company di New York, menjalar ke seluruh penjuru Amerika Serikat (AS), lantas meluas ke dunia, khsususnya di Inggris, pusat kapitalisme saat itu, di mana Marx hidup bersama keluarganya, dengan memperoleh upah dua poundsterling dari setiap artikelnya tentang krisis yang dimuat di New York Tribune. 150 tahun kemudian, krisis kembali berulang, dimulai dari New York, menyebar ke seluruh penjuru Amerika Serikat, dan kemudian menghajar belahan dunia yang lain (lihat Dumenil, G., and Levy, D., 2011).

Dari kisah mengenai krisis ini, buku ini memberikan beberapa pelajaran penting. Pertama, Kratke memberikan gambaran kepada pembaca bahwa tulisan-tulisan yang muncul di New York Tribune pada zaman itu dan Notebooks yang Marx kerjakan selama bertahun-tahun sejak awal 1850an, menunjukkan ketelitian Marx akan fakta. Marx, misalnya, mencatat secara deskriptif momen-momen krisis dari hari ke hari atau berdasarkan fakta dan cerita yang muncul setiap harinya. Kedua, ketika peristiwa hari-hari itu muncul di dalam Grundrisse, kita menyaksikan Marx mengonseptualisasi krisis secara abstrak berdasarkan penjelasan rasional. Misalnya, dalam bab tentang ‘Money,’ Marx menggambarkan teorinya tentang uang dan menganalisa siklus krisis-krisis moneter yang pernah terjadi. Di bab tentang ‘Capital, dia menyatakan bahwa krisis dalam kapitalisme sebagai sesuatu yang siklikal serta pengulangan krisis selalu meningkat dalam skala dan pada gilirannya bermuara pada penghancuran sistem ini. Ketiga, tulisannya tentang krisis, oleh karena itu, merupakan contoh sempurna untuk melihat bagaimana metode ilmiah diterapkan dalam studi-studi Marxisme. Cerita tentang krisis dari pelajaran hari-hari dan teorinya yang abstrak tentang krisis, menggambarkan pendekatan metodologis dalam studi-studi Marxisme. Musto dalam artikel di bagian pertama buku ini mengurai bagaimana metode ekonomi politik ini digunakan Marx.

Sebagai peringatan 150 tahun Grundrisse, bagian ketiga buku berisi semacam tulisan mengenai penerbitan Grundrisse ke dalam berbagai bahasa setelah edisi Jerman buku ini terbit pertama kali pada tahun 1939-41. Akhir tahun 1950an, Grundrisse mulai diterbitkan secara lengkap, setelah sebelumnya, secara terpisah, naskah-naskah itu pernah diterbitkan. Edisi lengkap dalam bahasa asing pertama kali terbit dalam bahasa Jepang (1958), kemudian Cina (1962), Perancis (1967), Rusia (1968), Italia (1968), Spanyol (1970), Inggris (1973), Serbia (1979), Parsi (1985) Yunani (1989), Turki (1999), Korea (2000), dan Portugis (2008). Musto mencatat publikasi terjemahan Grundrisse ke dalam aneka bahasa saat ini mencapai lebih dari 500 ribu kopi. Sesuatu yang kemungkinan mengejutkan bagi Marx sendiri, yang sebenarnya hanya bermaksud membuat catatan-catatan ringkas tentang ide-ide utamanya soal kapitalisme.

***

Sayang, seperti umumnya karya-karya Marx yang lain, Grundrisse belum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Akibatnya, animo publik yang luas akan karya-karya Marx menjadi terkendala. Tidak itu saja, karya-karya sarjana Marxis kontemporer, sebagaimana buku ini, juga sulit diakses oleh pembaca luas dan peminat kajian Marxisme di Indonesia.

Kondisi itu diperburuk dengan tidak diajarkannya Marxisme secara sistematis dan mendalam di perguruan-perguruan tinggi karena warisan penghancuran kiri yang sangat dahsyat. Bahkan, Marxisme sendiri tampaknya sangat asing di kalangan ‘Indonesianists,’ yakni para ahli tentang Indonesia, yang memproduksi pengetahuan mengenai Indonesia. Faktanya, studi-studi mengenai Indonesia, terutama semenjak Orde Baru bertahta, sepenuhnya didominasi oleh pendekatan-pendekatan non-Marxis.

Bagi saya ini ironis. Marxisme sebagai sebuah mazhab pemikiran yang berkontribusi tidak sedikit dalam perjuangan menentang kolonialisme dan imperialisme, kini menjadi terasing di negeri di mana pemikiran itu pernah sangat subur.

Kepustakaan:

Dumenil, G., and Levy, D. (2011). The Crisis of Neoliberalism. Cambridge, Massachusetts, London: Harvard University Press.

Gould, C.C. (1978). Marx’s Social Ontology: Individuality and community in Marx’s theory of social reality . Cambridge, Massachusetts, London: MIT Press.

Hilton, R.H. et.al. (1978). The Transition from Feudalism to Capitalism. London: Verso.

Marx, K. (1973). Grundrisse: Foundations of the critique of political economy (rough draft) . Translated with a foreword by Martin Nicolaus. New York, London: Penguin Books.

Marx, K. (1965). Pre-capitalist economic formation (with an introduction by Eric J. Hobsbawm). New York: International Publishers.

McLellan, D. (1971). Marx’s Grundrisse. London, Basingstoke: Macmillan.

Musto, M. (2008). Karl Marx’s Grundrisse: Foundations of the critique of political economy 150 years later . London, New York: Routledge.

[1] Dalam debat di antara ilmuwan Marxis soal transisi dari feodalisme ke kapitalisme di Eropa, yang terkenal dengan nama ‘transition debate,’ Sweezy menganggap bahwa motor yang menggerakkan transisi itu adalah faktor eksternal, yakni perdagangan. Sebaliknya, ekonom Maurice Dobb menganggap bahwa motor penggerak adalah faktor internal, yakni kontradiksi di dalam feodalisme sendiri. Lihat Hilton, R.H. et.al. (1978).