Created: Monday, 02 March 2020 08:24 | Rate this article
( 0 Votes ) 
| Category: Articles

Konsepsi Marx tentang Komunisme (Bagian I)
 

I. Di mana dan Mengapa Marx Menulis tentang Komunisme

MARX menetapkan bagi dirinya sendiri tugas yang sepenuhnya berbeda dengan kaum sosialis sebelumnya; prioritas mutlaknya adalah ‘menyingkapkan hukum gerak ekonomi masyarakat modern’.

Tujuannya ialah mengembangkan kritik menyeluruh atas moda produksi kapitalis, yang akan mendukung kaum proletar, subjek revolusioner yang utama, dalam menggulingkan sistem sosial-ekonomi yang ada sekarang.

Selain itu, karena ia sama sekali tak berharap untuk menciptakan agama baru, Marx menahan diri untuk tidak mempromosikan gagasan yang menurutnya secara teoretis tidak berfaedah dan secara politis kontra-produktif: model universal masyarakat komunis. Karena alasan inilah, dalam ‘Penutup Edisi Kedua’ (1873) dari Kapital, Volume I (1867), ia menjelaskan bahwa dirinya tidak punya minat untuk ‘menulis resep-resep bagi toko-toko masakan di masa depan’. Ia juga menerangkan maksud pernyataan terkenal ini dalam ‘Catatan-Catatan Kecil untuk Wagner’ (1879-80), di mana sebagai respon atas kritik dari ekonom Jerman Adolph Wagner (1835-1917), ia menegaskan bahwa dirinya tak pernah ‘menegakkan suatu ‘sistem sosialis’.

Marx melontarkan deklarasi serupa dalam tulisan-tulisan politiknya. Dalam Perang Saudara di Prancis (1871), ia menulis tentang Komune Paris, perebutan kekuasaan pertama oleh kelas bawah: ‘Kelas pekerja tidak mengharapkan mujizat dari Komune. Mereka tidak memiliki bekal utopia siap-saji yang tinggal diperkenalkan lewat dekrit rakyat’. Sebaliknya, emansipasi kaum proletar harus ‘melalui perjuangan panjang, rangkaian proses sejarah, yang mengubah keadaan dan manusia’. Poinnya bukanlah ‘merealisasikan hal-hal ideal’, melainkan ‘membebaskan elemen-elemen baru dari masyarakat baru yang tengah dikandung oleh masyarakat borjuis yang telah menua dan mendekati keruntuhannya’.

Akhirnya, Marx mengatakan banyak hal serupa dalam korespondensinya dengan pemimpin-pemimpin gerakan buruh Eropa. Pada tahun 1881, misalnya, ketika Ferdinand Nieuwenhuis (1846-1919), perwakilan utama Liga Sosial-Demokrat di Belanda, menanyakan kepadanya tentang hal-hal apa yang pemerintahan revolusioner harus lakukan untuk menegakkan masyarakat sosialis setelah merebut kekuasaan, Marx menjawab bahwa ia selalu menganggap pertanyaan-pertanyaan semacam itu ‘keliru’, dan berargumen bahwa ‘apa yang harus dilakukan … pada suatu momen tertentu tentu bergantung sepenuhnya pada situasi-situasi aktual sejarah di mana tindakan tersebut hendak diterapkan’. Ia meyakini bahwa adalah mustahil untuk ‘menyelesaikan suatu persamaan matematika yang tidak mengandung elemen-elemen solusinya’; ‘antisipasi doktriner dan fantastis tentang program aksi revolusi di masa depan hanya akan mengalihkan perhatian dari perjuangan di masa kini’.

Namun demikian, tak seperti klaim para komentator yang keliru memahami, Marx telah mengembangkan, baik dalam terbitan maupun bukan, sejumlah diskusi tentang masyarakat komunis yang muncul di tiga jenis teks. Pertama, teks-teks di mana Marx mengkritik ide-ide yang ia anggap salah secara teoritis dan beresiko untuk menyesatkan kaum sosialis di masanya. Beberapa bagian dari Manuskrip-Manuskrip Ekonomi dan Filsafat tahun 1844 dan Ideologi Jerman; bab tentang ‘Literatur Sosialis dan Komunis’ dalam Manifesto Komunis, kritik atas Pierre-Joseph Proudhon dalam Grundrisse, Urtext, dan Kontribusi pada Kritik Ekonomi-Politik; teks-teks dari awal tahun 1870-an yang diarahkan pada anarkisme; dan tesis-tesis yang mengkritik Ferdinand Lassalle (1825-1864) dalam Kritik Program Gotha (1875) tergolong dalam kategori ini. Sebagai tambahan, catatan-catatan kritis Marx atas Proudhon, Lassalle, dan komponen anarkis dari Asosiasi Pekerja Internasional yang tersebar dalam surat-suratnya juga dapat digolongkan dalam bagian ini.

Golongan kedua ialah tulisan-tulisan militan dan propaganda politik yang ditulis untuk organisasi-organisasi kelas pekerja. Di dalamnya, Marx mencoba untuk menyuguhkan indikasi-indikasi yang lebih konkret tentang masyarakat yang mereka perjuangkan dan instrumen-instrumen yang diperlukan untuk membangunnya. Yang termasuk dalam grup ini adalah Manifesto Komunis, resolusi, laporan, dan pesan untuk Asosiasi Pekerja Internasional—termasuk Nilai, Harga, dan Profit dan Perang Saudara di Prancis—serta beragam artikel-artikel jurnalistik, ceramah publik, pidato, surat untuk kelompok militan, dan dokumen-dokumen pendek seperti Program Minimum Partai Pekerja Prancis.

Golongan ketiga dan terakhir adalah teks-teks tentang kapitalisme, yang mengandung diskusi-diskusi terpanjang dan paling mendetil dari Marx tentang karakteristik masyarakat komunis. Bab-bab penting Kapital dan manuskrip-manuskrip persiapan, khususnya teks penting seperti Grundrisse, mengandung beberapa gagasan utamanya tentang sosialisme. Pengamatan-pengamatan kritisnya mengenai aspek-aspek moda produksi yang dominanlah, persisnya, yang merangsang refleksi-refleksi tentang masyarakat komunis, dan bukanlah suatu kebetulan bahwa dalam beberapa kasus, halaman-halaman karyanya secara berurutan dan bergantian membahas dua tema ini.

Pembelajaran yang teliti atas diskusi-diskusi Marx tentang komunisme akan menolong kita untuk membedakan konsepsi Marx sendiri dengan konsepsi rezim-rezim abad keduapuluh, yang meski mengklaim diri bertindak atas namanya, melakukan rangkaian kejahatan dan kekejaman. Lewat pembedaan ini, menjadi mungkin bagi kita untuk menempatkan kembali proyek politik Marxian dalam horison yang sesuai: perjuangan untuk emansipasi mereka yang disebut Saint-Simon ‘kelas termiskin dan terbanyak’.

Catatan-catatan Marx tentang komunisme tidak boleh dianggap sebagai model yang harus diikuti secara dogmatis, tidak juga sebagai solusi yang secara pukul rata bisa diterapkan di segala tempat dan kesempatan. Namun sketsa-sketsa ini tetap merupakan harta karun teoritis yang tak ternilai, yang masih bermanfaat pada hari ini untuk mengkritik kapitalisme.

II. Keterbatasan-keterbatasan Formulasi-formulasi Awal

Tidak seperti klaim-klaim yang disusun oleh propaganda Marxis-Leninis tertentu, teori-teori Marx bukanlah hasil dari kebijaksanaan yang sifatnya bawaan lahir, melainkan hasil dari proses penyempurnaan konseptual dan politik yang panjang. Studi intensif atas ilmu ekonomi dan disiplin-disiplin ilmu lainnya, bersama dengan observasi tentang peristiwa-peristiwa sejarah yang aktual, khususnya Komune Paris, sangatlah penting bagi perkembangan pemikirannya tentang masyarakat komunis.

Beberapa tulisan awal Marx—banyak di antaranya tidak ia selesaikan atau terbitkan—secara mengejutkan sering dianggap sebagai sintesis dari ide-idenya yang paling signifikan. Tetapi faktanya, mereka semua menunjukkan keterbatasan-keterbatasan dari konsepsi-konsepsi awalnya tentang masyarakat pasca-kapitalis.

Dalam Manuskrip-Manuskrip Ekonomi dan Filsafat tahun 1844, Marx menulis tentang persoalan-persoalan ini dengan sangat abstrak, karena ia belum sanggup memperluas studi-studi ekonominya dan baru memperoleh pengalaman politik yang minim pada saat itu. Pada kesempatan tertentu, ia mendeskripsikan ‘komunisme’ sebagai ‘negasi atas negasi’, sebagai ‘momen dialektika Hegelian’: ‘ekspresi positif dari penghapusan kepemilikan pribadi’. Namun pada kesempatan lain, terinspirasi dari Ludwig Feuerbach (1804-1872), ia menulis bahwa:

komunisme, sebagai perkembangan penuh dari naturalisme, sama dengan humanisme, dan sebagai perkembangan penuh dari humanisme sama dengan naturalisme; ia merupakan resolusi sejati atas konflik manusia dengan alam dan antara manusia dengan manusia—resolusi tulen atas ketegangan eksistensi dengan esensi, antara objektivikasi dan konfirmasi diri, antara kebebasan dan keniscayaan, antara individu dan spesiesnya.

Beberapa bagian dari Manuskrip-Manuskrip Ekonomi dan Filsafat tahun 1844 dipengaruhi oleh matriks teologis filsafat sejarah Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831): misalnya, argumen bahwa ‘seluruh pergerakan sejarah [telah] membidani kelahiran komunisme’; atau bahwa komunisme adalah ‘teka-teki sejarah yang terpecahkan’, yang ‘sadar bahwa dirinya adalah solusi’.

Ideologi Jerman,yang ditulis oleh Marx bersama dengan Engels dan tadinya dimaksudkan untuk menyertakan teks dari pengarang lain, juga mengandung kutipan terkenal yang telah menimbulkan kebingungan di antara para penafsir karya Marx. Dalam sebuah halaman yang tak dituntaskan, kita membaca bahwa sementara dalam masyarakat kapitalis, dengan pembagian kerjanya, setiap manusia ‘memiliki area beraktivitas yang partikular dan eksklusif’, dalam masyarakat komunis:

masyarakat mengatur produksi umum dan karenanya memungkinkan saya untuk mengerjakan satu hal hari ini dan hal lain keesokannya, berburu di pagi hari, memancing di siang hari, menggiring ternak di sore hari, melakukan kritik setelah makan malam, karena saya mampu berpikir, tanpa secara khusus menjadi pemburu, pemancing, gembala, ataupun kritikus.

Banyak pengarang, baik Marxis maupun anti-Marxis, percaya bahwa ini merupakan karakteristik utama masyarakat komunis bagi Marx—pandangan yang dapat mereka pegang karena kurang akrab dengan Kapital dan teks-teks politik penting lainnya. Meski ada banyak analisis dan diskusi tentang manuskrip 1845-46, mereka tidak sadar bahwa kutipan ini merupakan formulasi kembali ide tua—dan terkenal—dari Charles Fourier, yang diadopsi oleh Engels namun ditolak oleh Marx.

Di tengah keterbatasan-keterbatasan ini, Ideologi Jerman merepresentasikan kemajuan yang nyata dibanding dengan Manuskrip-Manuskrip Ekonomi dan Filsafat tahun 1844. Sementara yang terakhir ini dipengaruhi oleh idealisme Hegelian Kiri—kelompok yang diikuti Marx hingga 1842—dan minim diskusi politik konkret, Ideologi Jerman menegaskan bahwa ‘adalah mungkin untuk mencapai pembebasan yang riil hanya dalam dunia yang riil dan dengan perangkat-perangkat yang riil’. Komunisme, karenanya, seharusnya tidak dianggap sebagai ‘keadaan yang hendak ditegakkan, angan-angan ideal yang kepadanya kenyataan harus menyesuaikan diri, [tetapi sebagai] gerakan riil yang menghapuskan keadaan yang sekarang’.

Dalam Ideologi Jerman, Marx juga menggambarkan sketsa ekonomi masyarakat masa depan. Sementara revolusi-revolusi sebelumnya hanya menghasilkan ‘pembagian kerja yang baru pada orang-orang lain’,

Komunisme berbeda dengan semua gerakan di masa lalu karena ia menjungkirbalikkan basis dari semua relasi produksi sebelumnya, dan untuk pertama kalinya secara sadar memperlakukan segala premis yang dianggap natural sebagai ciptaan manusia, melucuti mereka dari status alami dan menundukkan mereka pada kekuatan individu-individu yang bersatu. Pengorganisasiannya karena itu secara esensial adalah ekonomik, yaitu produksi material dari syarat-syarat persatuan ini.

Marx juga menyatakan bahwa ‘secara empiris, komunisme hanya mungkin terjadi lewat tindakan rakyat yang berkuasa “secara kompak” dan simultan’. Dalam pandangannya, hal ini mengasumsikan ‘perkembangan universal dari kekuatan-kekuatan produksi’ dan ‘keterhubungan dunia yang menyertainya’. Lebih jauh lagi, untuk pertama kalinya Marx menghadapi tema politik yang fundamental, yang akan ia angkat lagi di masa depan: kelahiran komunisme sebagai akhir dari tirani kelas. Karena revolusi akan ‘menghapuskan kekuasaan semua kelas bersama dengan keberadaan kelas-kelas itu sendiri, karena ia dilaksanakan oleh kelas yang tak lagi terhitung sebagai kelas dalam masyarakat, yang tidak diakui sebagai kelas, dan yang pada dirinya sendiri adalah ekspresi dari peleburan semua kelas dan kebangsaan’.

III. Pengamatan-pengamatan Manifesto Komunis

Marx melanjutkan, bersama Engels, pengembangan refleksi-refleksinya tentang masyarakat pasca-kapitalis dalam Manifesto Komunis. Dalam teks ini, yang lewat analisis mendalamnya tentang perubahan-perubahan yang diakibatkan oleh kapitalisme, berhasil melampaui literatur sosialis yang ada pada masa itu, poin yang paling menarik tentang komunisme ialah mengenai relasi kepemilikan. Marx mengamati bahwa transformasi radikal dari relasi ini ‘sama sekali bukan merupakan karakter unik komunisme’, karena moda-moda produksi baru yang lain dalam sejarah juga membawa perubahan serupa. Bagi Marx, sebagai bantahan kepada klaim-klaim propaganda bahwa kaum komunis akan menghalangi perolehan personal atas hasil kerja, ‘karakter unik komunisme’ bukanlah ‘penghapusan kepemilikan secara umum, melainkan penghapusan kepemilikan borjuis’, penghapusan ‘kekuatan untuk mengambil produk-produk masyarakat […] untuk menundukkan kerja orang lain’. Di matanya, ‘teori kaum komunis’ dapat diringkas dalam satu kalimat: ‘penghapusan kepemilikan pribadi’.

Dalam Manifesto Komunis, Marx juga mengusulkan sepuluh tolok ukur awal yang harus dicapai dalam ekonomi paling maju, menyusul perebutan kekuasaan. Mereka mencakup ‘penghapusan kepemilikan tanah dan penggunaan seluruh biaya sewa tanah untuk kepentingan publik’; sentralisasi kredit di tangan negara, lewat bank nasional […]; sentralisasi sarana komunikasi dan transportasi di tangan negara […]; pendidikan gratis untuk semua anak di sekolah-sekolah publik’, dan juga ‘penghapusan hak warisan’, tolok ukur dari Saint-Simon yang belakangan ia tolak secara tegas.

Seperti halnya dengan manuskrip-manuskrip yang ditulis antara 1844 hingga 1846, adalah sebuah kesalahan jika tolok ukur yang didaftar Marx dalam Manifesto Komunis tersebut—ditulis ketika Marx baru berusia tiga puluh tahun—dianggap sebagai pandangan finalnya tentang masyarakat pasca-kapitalis. Pendewasaan penuh pemikirannya bakal menuntut tahun-tahun pembelajaran serta pengalaman politik yang panjang.