Categories
Journalism

Apa Kata Marx tentang Pemerintahan Teknokrat

HANYA segelintir orang yang tahu bahwa di belantara topik yang menjadi perhatian Marx, ia juga sempat menulis kritik terhadap apa yang disebut-sebut “pemerintahan teknis” (atau pemerintahan teknokrat). Sebagai kontributor New York Tribune, salah satu suratkabar dengan sirkulasi terluas pada masanya, Marx mengamati arah perkembangan politik dan institusional yang kelak melahirkan satu di antara pemerintahan teknokrat pertama dalam sejarah: kabinet Earl of Aberdeen, yang berlangsung sejak Desember 1852 hingga Januari 1855.

Laporan-laporan Marx menonjol karena ketajaman dan sarkasmenya. Harian The Times merayakan momen-momen 1852 itu sebagai tanda bahwa Inggris berada di fajar ‘ketika ruh partai politik lenyap dari bumi, digantikan kejeniusan, pengalaman, industri, dan patriotisme yang menjadi satu-satunya kualifikasi untuk menduduki jabatan’. Suratkabar London ini menyerukan ‘orang-orang dari semua kubu politik’ untuk bersatu menyokong pemerintah baru karena ‘prinsip-prinsipnya yang didukung dan bisa diterima semua kalangan’. Argumen serupa dikemukakan pada Februari 2021, ketika Mario Draghi, mantan Presiden Bank Sentral Eropa, menjadi Perdana Menteri Italia.

Dalam artikel bertajuk “A Superannuanted Administration: Prospect of the Coalition Ministry” (1853), Marx mencemooh sudut pandang The Times. Hal-hal yang dianggap modern dan memikat bagi suratkabar terdepan Inggris itu sangat rupanya sekadar lelucon di mata Marx. Ketika The Times mendeklarasikan “sebuah kabinet yang terdiri dari sosok-sosok baru, muda, dan menjanjikan”, Marx menyatakan bahwa “dunia pastinya tidak akan kaget menyaksikan era baru dalam sejarah Inggris Raya ini diresmikan oleh orang-orang kepala delapan yang sudah bau tanah”. Di samping menyoroti orang-orang di kabinet tersebut, Marx juga menyoroti kepentingan yang lebih besar dan kebijakan-kebijakan dalam kabinet ini: “Kita dijanjikan bahwa konflik antar partai—bahkan partai itu sendiri—akan lenyap,” kata Marx. “Lalu apa artinya The Times?”

Sayangnya isu yang diangkat Marx sangat penting buat hari ini, ketika kuasa kapital atas pekerja semakin liar persis seperti yang terjadi pada pertengahan abad ke-19. Pemisahan antara ekonomi dan politik—yang membedakan kapitalisme dari mode produksi sebelumnya—telah mencapai puncak. Tak hanya mendominasi politik dan mendikte agenda beserta keputusan-keputusannya, kuasa ekonomi bahkan berada di luar yurisdiksi politik dan kontrol demokratik—sampai-sampai perubahan pemerintahan tidak lagi mengubah arah kebijakan sosial dan ekonomi, yang tidak bergeser sama sekali.

Selama tiga puluh tahun terakhir, kewenangan dalam pengambilan keputusan telah berpindah dari ranah politik ke ekonomi. Opsi-opsi kebijakan yang sesungguhnya partisan kini sudah menjadi imperatif ekonomi yang menutup-nutupi proyek politik dan reaksioner ini dengan topeng ideologis kepakaran yang seolah apolitis. Diopernya unsur-unsur politik ke ekonomi, sebagai ranah khusus yang tahan perubahan, turut memunculkan ancaman terbesar terhadap demokrasi di zaman kita. Parlemen—yang marwah perwakilannya sudah terkikis oleh sistem pemilu yang berat sebelah dan campur tangan otoriter terhadap hubungan eksekutif-legislatif—mendapati kekuasaannya dirampas dan dioper ke ‘pasar’. Pemeringkatan oleh Standard & Poor’s dan indeks Wall Street—jimat sakti masyarakat dewasa ini—dianggap lebih lebih besar bobotnya ketimbang kehendak rakyat. Paling banter, pemerintah hanya mampu ‘mengintervensi’ ekonomi. Kelas penguasa terkadang memang perlu mengurangi anarki kapitalisme beserta krisis-krisisnya yang merusak. Namun, pemerintah tidak akan bisa menggugat aturan dan pilihan-pilihan mendasar di bidang ekonomi.

Seorang wakil terkemuka dari fenomena ini adalah mantan Perdana Menteri Italia Draghi. Selama 17 bulan, ia memimpin koalisi yang sangat luas. Isinya termasuk Partai Demokrat, Silvio Berlusconi (musuh bebuyutan Draghi), hingga Five Star Movement yang populis dan partai kanan Lega Nord. Kita bisa menyaksikan ditangguhkannya politik di balik kedok istilah “pemerintahan teknis”—atau dalam bahasa mereka: “pemerintah yang terdiri dari orang-orang terbaik” atau “pemerintahan yang diisi orang-orang berbakat’ Dalam beberapa tahun terakhir, pendapat bahwa tidak boleh ada pemilu baru setelah krisis politik kian santer; politik harus menyerahkan seluruh kendali kepada ekonomi. Dalam sebuah artikel yang terbit pada April 1853, “Achievements of the Ministry”, Marx menulis bahwa “Kabinet Koalisi (‘teknis’) adalah simbol ketidakberdayaan politis”. Pemerintah tidak lagi membahas haluan ekonomi mana yang akan diambil. Sekarang haluan ekonomilah yang melahirkan pemerintahan.

Sebuah mantra neoliberal terus didengungkan beberapa tahun terakhir di Eropa: guna memulihkan ‘kepercayaan’ pasar, diperlukan percepatan ‘reformasi struktural’, sebuah ungkapan yang kini sama artinya dengan kehancuran sosial: pemotongan upah, serangan terhadap hak-hak kelas pekerja terkait perekrutan dan pemecatan, kenaikan usia pensiun, dan privatisasi berskala besar. Jalan ‘reformasi struktural’ ini telah ditempuh “pemerintahan-pemerintahan teknokratik” baru pimpinan orang-orang yang CV-nya penuh pengalaman pernah bekerja di institusi-institusi ekonomi yang paling bertanggung jawab atas krisis ekonomi. Mereka mengaku harus mengambil kebijakan-kebijakan tersebut “demi kemaslahatan negara” dan “generasi mendatang”. Tak hanya itu, kuasa ekonomi dan media arus utama pun mati-matian membungkam siapapun yang bersuara kritis.

Per hari ini Draghi tidak lagi menjadi Perdana Menteri Italia. Koalisinya telah ambruk karena ekstremnya perbedaan kebijakan-kebijakan dari partai-partai pendukungnya. Pemilu Italia akan diadakan lebih awal pada 25 September. Jika kaum Kiri tidak ingin lenyap, mereka harus berani mengusulkan kebijakan radikal yang diperlukan untuk mengatasi masalah-masalah kekinian yang paling mendesak, dimulai dari krisis lingkungan. Orang-orang yang tidak mampu menjalankan program transformasi sosial dan redistribusi kekayaan adalah para ‘teknokrat’—yang sebenarnya sangat politis—seperti bankir Mario Draghi.

Dan Draghi tidak akan dirindukan.***

Categories
Journalism

Agresi Rusia, Ekspansi NATO dan Skenario Perang di Ukraina: Percakapan dengan Étienne Balibar, Silvia Federici, dan Michael Löwy

PERANG di Ukraina dimulai empat bulan lalu. Menurut Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, perang ini telah menewaskan lebih dari 4.500 warga sipil dan menciptakan hampir lima juta pengungsi. Angka-angka ini tidak termasuk kematian personel militer—setidaknya 10.000 orang Ukraina dan mungkin lebih banyak lagi di pihak Rusia—serta jutaan orang yang telah mengungsi di dalam perbatasan Ukraina.

Invasi ke Ukraina telah melumat kota-kota dan infrastruktur sipil. Butuh beberapa generasi untuk membangunnya kembali. Invasi juga menimbulkan kejahatan perang berskala besar, seperti yang dilakukan selama pengepungan Mariupol oleh pasukan Rusia.

Saya menggelar diskusi roundtable bersama tiga pemikir Marxis: Étienne Balibar, Profesor Filsafat Eropa Kontemporer di Kingston University (London, Inggris Raya), Silvia Federici, Profesor Emeritus Filsafat Politik di Universitas Hofstra (Hempstead, Amerika Serikat) dan Michael Löwy, Direktur Riset Emeritus di Centre national de la recherche scientifique (Paris, Prancis). Diskusi ini digelar untuk meninjau apa yang terjadi sejak perang meletus, merefleksikan peran NATO, dan menimbang kemungkinan-kemungkinan skenario masa depan.

Rangkuman pembicaraan di bawah ini lahir dari serangkaian komunikasi selama beberapa pekan terakhir melalui email dan telepon.

Marcello Musto (MM): Invasi Rusia ke Ukraina telah mengembalikan Eropa ke kebrutalan perang dan menghadapkan dunia pada dilema bagaimana merespons serangan terhadap kedaulatan Ukraina.

Michael Löwy (ML): Selama Putin ingin melindungi minoritas penutur bahasa Rusia di wilayah Donetsk, ada rasionalitas tertentu dalam kebijakannya. Ini juga berlaku pada sikapnya yang menentang ekspansi NATO di Eropa Timur. Namun, invasi brutal ke Ukraina—dengan serangkaian pengeboman kota dan ribuan korban sipil termasuk lansia dan anak-anak—tidak memiliki pembenaran.

Étienne Balibar (EB): Perang di depan mata kita ini adalah perang “total”. Ini perang teror dan bumi hangus oleh tentara negeri jiran yang lebih kuat. Pemerintahan negara ini ingin militernya terlibat petualangan imperialis yang tak berujung. Sikap penting dan mendesak yang harus diambil adalah bahwa perlawanan Ukraina harus dipertahankan. Untuk itulah perlawanan ini harus benar-benar didukung oleh tindakan, bukan sekadar perasaan. Tindakan apa? Pada titik inilah bermula perdebatan taktik, kalkulasi efektivitas tindakan, serta risiko “defensif” dan “ofensif”. Yang jelas, pilihannya bukan “wait and see”.

MM: Di samping perlawanan balik Ukraina yang sah dilakukan, ada persoalan yang sama pentingnya, soal bagaimana Eropa bisa menghindari citra sebagai sebagai aktor dalam perang ini alih-alih sebagai pihak yang sekuat mungkin berkontribusi untuk diplomasi demi mengakhiri konflik bersenjata. Terlepas dari retorika permusuhan tiga bulan terakhir, itulah yang tampak dalam sebagian besar opini publik: Eropa tidak boleh ambil bagian dalam perang. Pokok terpenting dalam opini publik ini adalah bagaimana agar penduduk yang menderita tidak semakin banyak. Karena bahayanya adalah bangsa ini [Ukraina] akan dianggap bangsa yang menjadi martir di tangan Rusia. Ukraina akan berubah menjadi kamp militer yang menerima senjata dari NATO dan mengobarkan perang panjang untuk kepentingan Washington yang ingin menyaksikan Rusia lemah secara permanen dan Eropa bergantung secara ekonomi dan militer kepada Amerika Serikat.

Jika ini terjadi, konflik akan melebar keluar dari isu pertahanan kedaulatan Ukraina. Mereka yang sejak awal mengecam bahaya beruntun perang pasca-pengiriman senjata berat ke Ukraina tentu bukannya tidak menyadari kekerasan harian di sana dan tidak pula ingin menyerahkan penduduk Ukraina ke kuasa militer Rusia. “Non-blok“ tidak berarti netralitas atau kesetaraan, seperti yang muncul dalam berbagai karikatur. Ini bukan soal pasifisme abstrak sebagai prinsip; ini alternatif diplomatik yang konkret. Artinya, menimbang secara hati-hati setiap tindakan atau ujaran bisa mendekatkan kita ke tujuan pokok dalam situasi saat ini, yaitu membuka keran negosiasi yang kredibel demi memulihkan perdamaian.

Silvia Federici (SF): Tidak ada dilema di sini. Perang Rusia di Ukraina harus dikecam. Penghancuran kota, pembunuhan orang-orang tak berdosa, teror yang harus dialami ribuan warga—semua ini tidak bisa dibenarkan. Bukan cuma kedaulatan yang dilanggar dalam tindakan agresi ini. Tapi saya setuju kita juga harus mengutuk manuver-manuver AS dan NATO untuk mengobarkan perang ini, mengutuk keputusan Amerika Serikat dan Uni Eropa mengirim senjata ke Ukraina, yang akan memperpanjang perang entah sampai kapan. Tidak pantas mengirim senjata mengingat invasi Rusia bisa dihentikan seandainya AS menjamin NATO tidak melakukan ekspansi ke perbatasan Rusia.

MM: Salah satu hal utama yang dibicarakan sejak awal perang adalah jenis bantuan apa yang bisa diberikan ke Ukraina untuk mempertahankan diri dari agresi Rusia tanpa harus menggiring situasi ke kehancuran lebih besar di dalam negeri dan memperluas konflik secara global. Di antara isu-isu yang diperdebatkan beberapa bulan terakhir adalah permintaan Zelensky untuk pemberlakuan zona larangan terbang di langit Ukraina, taraf sanksi ekonomi untuk Rusia, dan yang lebih penting, tepat atau tidaknya mengirimkan senjata ke pemerintah Ukraina. Menurut Anda, apa keputusan yang harus diambil agar jumlah korban tidak bertambah dan eskalasi lebih lanjut bisa dicegah?

ML: Banyak kritik yang bisa dilontarkan terhadap Ukraina saat ini: kurangnya demokrasi, penindasan terhadap minoritas berbahasa Rusia, ‘oksidentalisme’, dan banyak lagi yang lainnya. Tapi ini tidak membatalkan hak rakyat Ukraina untuk membela diri melawan invasi Rusia ke wilayah mereka, melawan serbuan yang disertai penghinaan luar biasa terhadap hak bangsa-bangsa dunia untuk menentukan nasib sendiri.

EB: Saya akan bilang bahwa perang Ukraina melawan invasi Rusia adalah “perang yang adil” (just war) dalam artian yang paling tegas. Saya sangat sadar “just war” adalah kategori yang bisa dipertanyakan. Saya juga sadar bahwa di Barat, istilah ini punya riwayat panjang yang mustahil dilepaskan dari manipulasi dan kemunafikan, atau ilusi-ilusi yang akhirnya melahirkan bencana. Tapi saya tidak melihat ada istilah lain yang cocok. Jadi, saya mengapropriasi istilah ini sekaligus menekankan bahwa perang “adil” adalah situasi di mana pengakuan atas legitimasi pihak yang melakukan pembelaan diri dalam agresi—kriteria dalam hukum internasional—tidak cukup, namun kita perlu berkomitmen terhadap pihak yang satu ini.

Ini perang yang menempatkan orang-orang seperti saya—yang menganggap semua perang di seluruh dunia dalam situasi hari ini tidak bisa dibenarkan atau membawa malapetaka—tidak punya pilihan untuk bersikap pasif karena akibatnya akan lebih buruk lagi. Jadi, saya tidak merasa antusias, tetapi saya memilih melawan Putin.

MM: Saya paham apa saja yang melatarbelakangi amatan-amatan ini, tapi saya akan lebih menyoroti apa saja yang dibutuhkan untuk mencegah malapetaka besar. Karena itu, saya akan fokus pada kebutuhan mencapai kesepakatan damai yang sangat mendesak ini. Semakin lama waktu yang diperlukan, semakin besar potensi perang terus meluas. Tak seorang pun berniat memalingkan diri dan mengabaikan apa yang terjadi di Ukraina. Tapi kita harus sadar ketika negeri adidaya berkekuatan nuklir seperti Rusia terlibat, sementara tidak ada gerakan pro-perdamaian yang cukup besar yang aktif di sana, maka anggapan bahwa perang melawan Putin dapat “dimenangkan” adalah ilusi.

EB: Saya sangat takut terjadi eskalasi militer—termasuk nuklir. Ini menakutkan dan kelihatannya bukan mustahil. Tapi pasifisme bukanlah pilihan. Kebutuhan paling mendesak adalah membantu Ukraina melawan agresi. Jangan sampai kita memainkan kartu “non-intervensi” lagi. Uni Eropa juga sudah terlibat dalam perang. Kalaupun tidak mengirim pasukan, Uni Eropa mengirimkan senjata—dan saya pikir itu tindakan yang tepat. Itu bentuk intervensi.

MM: 9 Mei lalu pemerintahan Biden menyetujui Ukraine Democracy Defense Lend-Lease Act of 2022. Isinya paket bantuan militer dan keuangan lebih dari 40 miliar dolar AS untuk Ukraina. Ini jumlah yang sangat besar—yang belum mencakup bantuan dari berbagai negara Uni Eropa—dan tampaknya dirancang untuk mendanai perang berkepanjangan. Biden sendiri menegaskan kesan ini pada 15 Juni, ketika ia mengumumkan AS akan mengirimkan bantuan militer senilai satu miliar dolar lagi. Pasokan senjata yang semakin besar dari AS dan NATO mendorong Zelensky untuk terus menunda perundingan yang sangat dibutuhkan dengan pemerintah Rusia. Selain itu, mengingat senjata yang dikirim dalam banyak perang di masa lalu akhirnya digunakan oleh pihak lain untuk tujuan yang berbeda, tampaknya masuk akal untuk bertanya-tanya apakah pengiriman senjata ini semata bertujuan untuk mengusir pasukan Rusia dari Ukraina.

SF: Saya pikir langkah terbaik adalah Amerika Serikat dan Uni Eropa memberikan jaminan kepada Rusia bahwa Ukraina tidak akan bergabung dengan NATO. Pokok ini telah dijanjikan kepada Mikhail Gorbachev saat runtuhnya Tembok Berlin, meskipun tidak tertulis. Sayangnya, tidak ada minat mencari solusi. Banyak orang di struktur militer dan politik AS yang selama bertahun-tahun mendukung dan mempersiapkan konfrontasi dengan Rusia. Perang hari ini dengan mudah digunakan untuk membenarkan peningkatan besar dalam ekstraksi minyak bumi dan mengesampingkan semua isu pemanasan global. Biden sudah gagal menepati janji kampanyenya untuk menghentikan pengeboran di tanah-tanah warga asli Amerika. Kita juga menyaksikan pengalihan dana miliaran dolar—yang semestinya bisa digunakan untuk meningkatkan taraf hidup ribuan orang Amerika—ke military industrial complex AS, salah satu pemenang utama dalam perang ini. Perdamaian tidak akan terwujud melalui eskalasi militer.

MM: Mari kita bahas reaksi kaum kiri terhadap invasi Rusia. Meskipun hanya segelintir organisasi membuat kesalahan politik yang besar ketika menolak untuk secara tegas mengutuk “operasi militer khusus” Rusia. Di luar kesalahan-kesalahan lain, ini kesalahan yang bisa mempersulit mereka—atau membuat mereka tidak kredibel—ketika mereka ingin mengecam tindakan agresi NATO kelak. Ini mencerminkan pandangan yang sempit ideologis yang mereduksi pemahaman politik menjadi satu dimensi belaka: seolah-olah semua isu geopolitik harus dinilai bobotnya semata-mata dalam upaya melemahkan AS.

Pada saat bersamaan, terlalu banyak orang kiri yang menyerah pada godaan untuk terlibat perang baik langsung maupun tidak. Saya tidak kaget dengan posisi Sosialis Internasional, Partai Hijau di Jerman, atau beberapa anggota parlemen progresif dari Partai Demokrat di AS—meskipun sikap pro-militerisme dadakan orang-orang yang sehari sebelumnya mendaku diri pasifis ini terasa tetap menghujam dan mengejutkan. Banyak kekuatan kiri “radikal” yang beberapa pekan ini bersuara segendang sepenarian dengan kubu pro-Zelensky. Saya percaya ketika kubu progresif tidak menentang perang, mereka akan kehilangan bagian penting dari alasan kenapa mereka harus ada dan akhirnya mereka akan menelan mentah-mentah ideologi kubu lawan.

ML: Saya akan mulai dengan mengingat bahwa argumen anti-komunis dipakai dalam salah satu “justifikasi” Putin atas invasi ke Ukraina. Dalam pidato Putin sebelum perang, pada 21 Februari, dia menyatakan Ukraina “sepenuhnya diciptakan oleh Bolshevik dan Komunis Rusia” dan bahwa Lenin adalah “pengarang dan arsitek” negeri ini. Putin menyatakan ambisinya untuk merestorasi “Rusia yang ada dalam sejarah” pra-Bolshevik—yaitu Rusia era Tsar—dengan cara mencaplok Ukraina.

EB: Putin menyatakan Lenin telah sembrono menyerah pada nasionalisme Ukraina. Menurut Putin, jika Lenin tidak melakukan itu, maka tidak akan ada pula Ukraina merdeka, karena penduduk Ukraina akan menganggap tanahnya sendiri sebagai bagian dari Rusia. Argumen ini seperti memakai posisi Stalin untuk melawan Lenin. Tentu saja, saya pikir Lenin benar dalam penyikapannya atas isu “kebangsaan” yang tersohor itu.

MM: Lenin menulis bahwa kendati perjuangan suatu bangsa untuk merdeka dari kekuatan imperialis dapat dimanfaatkan oleh imperialis lain daya untuk kepentingannya sendiri, seharusnya ini tidak mengubah kebijakan kaum kiri untuk mendukung hak bangsa-bangsa menentukan nasib sendiri. Dalam sejarahnya, kaum progresif selalu mendukung prinsip ini, membela hak negara-negara untuk menegakkan perbatasan atas dasar kehendak rakyat.

ML: Bukan kebetulan jika sebagian besar partai kiri “radikal” dunia, termasuk yang paling suka bernostalgia dengan sosialisme Soviet, misalnya partai komunis Yunani dan Chili, mengutuk invasi Rusia ke Ukraina. Sayangnya, kekuatan-kekuatan kiri terdepan di Amerika Latin dan pemerintah seperti Venezuela memihak Putin, atau membatasi diri dengan sekadar mengambil sikap “netral”—seperti yang ditunjukkan oleh Lula, pemimpin Partai Buruh di Brasil. Pilihan kaum kiri adalah antara hak bangsa untuk menentukan nasib sendiri—seperti yang dikatakan Lenin—dan hak imperium untuk menyerang dan mencaplok negara lain. Anda tidak bisa memilih dua-duanya, karena ini dua opsi yang tidak dapat didamaikan.

SF: Di AS, juru bicara gerakan-gerakan keadilan sosial dan organisasi feminis seperti Code Pink telah mengutuk agresi Rusia. Tapi perlu dicatat bahwa pembelaan AS dan NATO terhadap demokrasi cukup selektif, mengingat rekam jejak mereka di Afghanistan, Yaman, operasi Africom di Sahel. Rekornya panjang. Kemunafikan dalam pembelaan AS atas demokrasi di Ukraina juga terlihat jelas jika kita menimbang bagaimana pemerintah AS tutup mata atas pendudukan brutal Israel di Palestina dan penghancuran kehidupan rakyat Palestina yang tidak ada habis-habisnya. Perlu dicatat juga bahwa AS telah membuka pintu untuk Ukraina tepat setelah menutup akses imigran dari Amerika Latin, sementara bagi banyak imigran ini, menyelamatkan diri ke negeri asing adalah perkara hidup-mati. Sementara itu, kaum kiri yang kini bercokol di lembaga negara—dimulai dengan Ocasio-Cortez—sudah mendukung pengiriman senjata ke Ukraina.

Saya juga berharap media-media radikal bisa lebih dalam mempertanyakan pengetahuan yang kita terima dari para pejabat negara. Misalnya, kenapa “Afrika kelaparan” karena perang di Ukraina? Kebijakan internasional apa yang membuat negara-negara Afrika bergantung pada biji-bijian Ukraina? Mengapa tidak menyebut perampasan tanah besar-besaran oleh perusahaan-perusahaan internasional, yang kini membuat banyak orang membicarakan “penjajahan gaya baru di Afrika”? Saya ingin bertanya sekali lagi: nyawa siapa yang dianggap berharga? Kenapa hanya kematian tertentu yang bisa membangkitkan amarah?

MM: Terlepas dari meningkatnya dukungan untuk NATO setelah invasi Rusia ke Ukraina—yang sangat gamblang dalam permintaan formal Finlandia dan Swedia untuk bergabung dengan NATO—kita perlu bekerja lebih keras untuk memastikan agar publik tidak melihat NATO—mesin perang terbesar dan paling agresif di dunia—sebagai solusi keamanan global. NATO telah menampilkan jati dirinya sebagai organisasi maut penyulut ketegangan yang bisa memicu perang dunia dalam misinya memperluas dan memperkokoh dominasi unipolar. Tapi ada paradoks di sini. Hampir empat bulan setelah perang dimulai, kita tentu dapat mengatakan bahwa Putin tidak hanya keliru mengambil strategi militer, tetapi juga akhirnya memperkuat—bahkan jika dilihat dari konsensus internasional—musuh yang lingkup pengaruhnya (sphere of influence) ingin ia batasi: NATO.

EB: Saya termasuk orang yang berpikir bahwa NATO seharusnya lenyap bersama Pakta Warsawa ketika Perang Dingin berakhir. Di sisi lain, NATO tidak hanya punya fungsi eksternal, tetapi juga—dan ini mungkin sebagian besar fungsinya—mendisiplinkan alias menjinakkan siapa pun yang berada di kubu Barat. Semua itu pasti ada kaitannya dengan imperialisme: NATO adalah bagian dari instrumen yang agar menjamin Eropa secara umum tidak memiliki otonomi geopolitik sejati di hadapan imperium Amerika. Inilah salah satu alasan kenapa NATO terus dipertahankan usai Perang Dingin. Dan saya setuju dampaknya amat buruk bagi seluruh dunia. NATO mengkonsolidasikan beberapa kediktatoran di dalam teritori pengaruhnya. NATO memfasilitasi—atau menoleransi—segala macam perang, beberapa di antaranya sangat mematikan dan melibatkan kejahatan terhadap kemanusiaan. Pendapat saya tentang NATO tidak berubah dengan kejadian baru-baru ini yang disebabkan Rusia.

ML: NATO adalah organisasi imperialis yang didominasi Amerika Serikat dan bertanggung jawab atas agresi yang tak terhitung banyaknya. Penghancuran monster politik dan militer yang lahir dari Perang Dingin ini adalah syarat mendasar demokrasi. Melemahnya NATO dalam beberapa tahun terakhir telah menyebabkan presiden neoliberal Prancis Emmanuel Macron untuk menyatakan bahwa NATO sudah “mati otak” pada 2019. Sayangnya, invasi kriminal Rusia ke Ukraina malah memberi angin untuk NATO. Beberapa negara netral—seperti Swedia dan Finlandia—sekarang sudah memutuskan masuk NATO. Pasukan AS diposkan di Eropa dalam jumlah besar. Jerman, yang dua tahun lalu menolak menaikkan anggaran militernya meski ada tekanan keras dari Trump, baru-baru ini memutuskan untuk menginvestasikan 100 miliar euro untuk pemersenjataan kembali (rearmament). NATO semestinya mengalami kemunduran perlahan—bahkan mungkin lenyap. Tapi Putin malah menyelamatkannya.

SF: Yang juga mengkhawatirkan, perang Rusia di Ukraina sudah membuat banyak orang lupa akan ekspansionisme NATO beserta dukungannya untuk kebijakan imperialis Uni Eropa dan Amerika Serikat. Saatnya kembali membaca NATO’s Secret Armies karya Danielle Ganser untuk menyegarkan ingatan kita tentang pemboman NATO di Yugoslavia, peran NATO di Irak, serta kepemimpinan NATO dalam aksi pemboman dan pecah-belah Libya baru-baru ini. Sudah terlalu sering NATO menginjak-injak demokrasi, dan kini ia berpura-pura membela demokrasi. Saya tidak percaya anggapan bahwa NATO hampir mati sebelum invasi Rusia ke Ukraina. Masuknya NATO ke Eropa Timur dan kehadirannya di Afrika menunjukkan hal sebaliknya.

MM: Amnesia ini sepertinya telah mempengaruhi banyak kaum kiri di pemerintahan. Mayoritas anggota parlemen dari Aliansi Kiri di Finlandia berpaling dari prinsip-prinsip historisnya dan memilih bergabung dengan NATO. Di Spanyol, sebagian besar anggota Unidas Podemos menyepakati suara seluruh kubu parlemen yang menyokong pengiriman senjata ke tentara Ukraina dan mendukung kenaikan anggaran belanja militer besar-besaran di KTT NATO yang akan diadakan di Madrid pada 29-30 Juni. Jika sebuah partai tidak memiliki keberanian berbicara lantang menentang kebijakan semacam itu, maka ia telah terlibat dalam perluasan militerisme AS di Eropa. Padahal, partai-partai kiri di masa lalu sudah berkali-kali dihukum secara politik, termasuk di bilik suara, karena politik rendahan semacam ini.

EB: Yang terbaik adalah agar Eropa cukup kuat melindungi wilayahnya sendiri, dan agar ada sistem keamanan internasional yang efektif—yaitu agar PBB dirombak secara demokratis dan hak veto permanen anggota Dewan Keamanan ditiadakan. Tapi semakin NATO mencuat sebagai sistem keamanan, semakin lemah pula PBB. Di Kosovo, Libya dan Irak pada 2013, misi Amerika Serikat dan NATO adalah melemahkan kapasitas PBB untuk menyelenggarakan mediasi, regulasi, dan pengadilan internasional.

MM: Cerita yang kami dengar dari media benar-benar beda: NATO digambarkan sebagai satu-satunya penyelamat dunia dari kekerasan dan ketidakstabilan politik. Di sisi lain, sentimen anti-Rusia telah menyebar ke seluruh Eropa. Warga Rusia dimusuhi dan didiskriminasi.

EB: Bahaya besar—mungkin bahaya utama yang berkaitan dengan apa disebut Clausewitz sebagai “faktor moral” dalam perang—terletak pada godaan untuk memobilisasi opini publik yang bersimpati pada warga Ukraina melalui sentimen anti-Rusia. Media mendukung upaya ini lewat kabar-kabar setengah benar tentang sejarah Rusia dan Soviet. Sengaja atau tidak, media membuat rakyat Rusia gamang di hadapan ideologi rezim oligarki hari ini. Menyerukan sanksi atau boikot terhadap seniman, dan lembaga-lembaga kebudayaan atau akademik yang terbukti punya hubungan dengan rezim dan para pentolannya adalah satu hal. Tapi, jika benar bahwa opini publik Rusia adalah salah satu dari sedikit pintu peluang untuk keluar dari bencana ini, maka menstigmatisasi budaya Rusia adalah tindakan keblinger.

MM: Beberapa sanksi terhadap individu sangat keras dan kontraproduktif. Ada orang-orang yang tidak pernah menyatakan dukungan untuk kebijakan pemerintah Rusia disasar hanya karena kebetulan lahir di Rusia, terlepas dari apa pun pendapat mereka tentang perang ini. Langkah-langkah semacam ini akan mengompori propaganda nasionalis Putin dan dapat menggiring warga Rusia untuk mendukung pemerintah mereka.

EB: Terus terang, tidak elok rasanya menuntut warga negara sebuah kediktatoran polisi ala rezim Putin untuk “mengambil sikap” jika mereka ingin terus diterima di “demokrasi” kita.

ML: Saya setuju. Sentimen anti-Rusia wajib ditolak. Ini ideologi yang sangat reaksioner seperti halnya semua bentuk nasionalisme chauvinistik. Saya ingin menambahkan bahwa penting bagi kaum kiri internasionalis, yang mendukung perlawanan rakyat Ukraina melawan invasi Rusia, untuk menunjukkan solidaritas mereka kepada warga Rusia—individu, surat kabar, atau organisasi—yang telah menentang perang kriminal Putin di Ukraina. Ada, kok, kelompok-kelompok dan partai-partai politik Rusia yang mendaku kiri dan baru-baru ini merilis pernyataan sikap mengutuk agresi ke Ukraina.

MM: Mari kita akhiri diskusi ini dengan apa yang Anda pikirkan soal jalannya perang dan kemungkinan skenario-skenario masa depan.

EB: Orang hanya akan sangat pesimistis menatap perkembangan ke depan. Saya sendiri percaya peluang untuk mencegah malapetaka sangat kecil. Setidaknya ada tiga alasan. Pertama, eskalasi mungkin terjadi, terutama jika perlawanan terhadap invasi terus berlanjut dan tidak cukup hanya menggunakan senjata “konvensional”—yang batasannya dengan “senjata pemusnah massal” kian kabur. Kedua, jika perang berakhir dengan “hasil” tertentu, segala kemungkinan akan mengarah pada bencana. Tentu akan celaka jika Putin mencapai misi-misinya dengan mengkremus rakyat Ukraina dan akhirnya memancing tindakan-tindakan serupa. Mungkin juga, jika dia dipaksa berhenti dan mundur, dengan kembali ke politik blok di mana dunia akan membeku. Apa pun pilihannya, hal ini akan memancing gejolak nasionalisme dan kebencian yang bakal berlangsung lama. Ketiga, perang dan episode-episode lanjutannya akan memukul mundur mobilisasi planet bumi dalam melawan bencana iklim. Bahkan kenyataannya perang telah mempercepat bencana iklim. Terlalu banyak waktu yang terbuang sia-sia.

ML: Saya punya kegelisahan yang sama, terutama soal tertahannya perang melawan perubahan iklim, yang sekarang benar-benar terpinggirkan oleh perlombaan senjata semua negara yang berurusan dengan perang.

SF: Saya juga pesimis. AS dan negara-negara NATO lainnya tidak beritikad meyakinkan Rusia bahwa NATO tidak akan memperluas jangkauannya ke perbatasan Rusia. Walhasil, perang akan berlanjut dengan dampak-dampak mematikan bagi Ukraina, Rusia dan sekitarnya. Kita akan melihat dalam beberapa bulan mendatang bagaimana negara-negara Eropa lainnya akan terpengaruh. Saya tidak bisa membayangkan skenario masa depan selain perluasan situasi perang permanen yang sudah menjadi kenyataan di begitu banyak belahan dunia. Saya juga tidak bisa membayangkan skenario selain—lagi-lagi—bahwa sumber-sumber daya yang sangat dibutuhkan untuk mendukung reproduksi sosial dialihkan ke tujuan-tujuan yang destruktif. Bagi saya, perih rasanya kita tidak punya gerakan feminis yang turun ke jalan ramai-ramai, melakukan pemogokan, dan bertekad mengakhiri semua perang.

MM: Saya juga merasa perang tidak akan reda dalam waktu dekat. Perdamaian yang “tidak sempurna” tetapi lekas diwujudkan tentu akan lebih baik daripada memperpanjang permusuhan. Tapi, ada banyak sekali kekuatan di lapangan dengan tujuan-tujuan yang berbeda pula. Setiap kali seorang kepala negara menyatakan “kami akan mendukung Ukraina sampai menang”, prospek perundingan semakin jauh. Namun, saya kira prospek yang lebih besar adalah bahwa situasi kita kini mengarah ke perang yang tidak ada habisnya, di mana pasukan Rusia berhadapan dengan militer Ukraina yang disuplai dan didukung secara tak langsung oleh NATO.

Kaum kiri harus berjuang keras mendukung solusi diplomatik dan melawan kenaikan anggaran belanja militer. Kenaikan anggaran ini niscaya dibebankan pada kelas pekerja dan niscaya menyulut krisis ekonomi dan sosial lebih lanjut. Jika ini kejadian, maka pihak yang akan diuntungkan adalah kaum kanan yang hari ini semakin agresif dan reaksioner dalam mempengaruhi perdebatan politik di Eropa.

EB: Demi mengedepankan cara-cara pandang yang positif, kita harus memiliki tujuan untuk merombak ulang Eropa—demi kepentingan Rusia, Ukraina, dan kepentingan kita sendiri—sedemikian rupa sehingga soal-soal negara dan bangsa benar-benar kembali dipikirkan. Tujuan yang lebih ambisius lagi adalah menciptakan dan mengembangkan Eropa Raya yang multibahasa, multikultural, dan membuka diri untuk dunia—alih-alih meletakkan militerisasi Uni Eropa ke dalam horizon masa depan kita, meski dalam jangka pendek ini pendek ini tidak terhindarkan. Tujuannya untuk menghindari “benturan peradaban” di mana kita akan menjadi pusatnya.

ML: Saya ingin mengusulkan tujuan yang lebih ambisius dalam artian positif; saya akan bilang bahwa kita harus membayangkan corak Eropa yang lain dan Rusia yang lain, menyingkirkan oligarki parasit kapitalis mereka. Pepatah Jean Jaurès “Kapitalisme menyeret perang seperti awan menyeret badai” terdengar lebih relevan dari sebelumnya. Hanya di Eropa yang lain itu, dari Atlantik hingga Ural—Eropa yang sosial, ekologis, dan pasca-kapitalis—perdamaian dan keadilan dapat terjamin. Apakah ini skenario yang mungkin? Tergantung kita masing-masing.

Categories
Journalism

Kaum Kiri dan Perang: Sampai Jumpa di Zimmerwald?

KETIKA ilmu politik telah mengeksplorasi motif ideologi, politik, ekonomi, dan bahkan psikologi di balik dorongan berperang, kontribusi paling menarik dari teori-teori sosialis adalah penjelasannya tentang hubungan perkembangan kapitalisme dan penyebaran perang.

Dalam debat-debat di Internasional Pertama (1864-1872), salah satu tokoh utamanya yang bernama César de Paepe menyusun rumusan yang kelak menjadi posisi klasik gerakan buruh: di bawah rezim produksi kapitalis, perang tak terhindarkan. Dalam masyarakat modern, perang tidak disebabkan oleh ambisi raja atau hasrat perorangan lainnya, tetapi oleh model sosial-ekonomi yang dominan. Gerakan sosialis juga menunjukkan segmen populasi mana yang paling terpukul oleh dampak-dampak perang yang mengerikan. Dalam kongres Internasional pada 1868, para delegasi menerima mosi yang menyerukan kepada kaum pekerja untuk memperjuangkan “penghapusan seluruh perang seutuhnya,” karena buruhlah yang pada akhirnya berkorban—baik harta maupun nyawa, terlepas dari menang atau kalah—untuk keputusan kelas penguasa dan pemerintah yang mewakili mereka. Ihwal yang dipelajari buruh dari sejarah panjang peradaban manusia ini bersumber dari keyakinan bahwa setiap perang harus dianggap sebagai “perang saudara”, sebuah bentrokan sengit para pekerja yang merampas sumber-sumber penghidupan yang mereka perlukan guna melangsungkan hidup. Kaum pekerja harus mengambil sikap tegas terhadap perang apapun, dengan menolak wajib militer dan menggelar aksi mogok. Internasionalisme pun menjadi kiblat masyarakat masa depan. Dalam masyarakat itu, perang akan lenyap karena sebab-sebab utamanya—kapitalisme dan persaingan antar negara borjuis di ranah ekonomi dunia—juga menghilang.

Claude Henri de Saint-Simon adalah salah seorang tokoh pendahulu sosialisme yang mengambil sikap tegas terhadap perang dan konflik sosial. Bagi Saint-Simon, perang dan konflik sosial adalah penghalang bagi kemajuan-kemajuan fundamental dalam industri. Soal perang, Karl Marx tidak mengembangkan pandangan-pandangannya sendiri, yang sifatnya fragmentatif dan kadang saling bertolak belakang. Ia juga tidak menelurkan panduan untuk mengambil sikap yang tepat guna merespons perang. Tiap kali harus mendukung salah satu kubu dalam perang, satu-satunya sikap yang selalu ia ambil adalah menentang rezim Tsar Rusia yang menurutnya adalah garda terluar kontra-revolusi dan salah satu batu penghalang emansipasi kelas pekerja. Dalam Kapital (1867), Marx berpendapat bahwa kekerasan adalah daya penggerak ekonomi, “bidan setiap masyarakat lama yang tengah mengandung janin masyarakat baru.” Namun, Marx tidak pernah memikirkan perang sebagai jalan pintas yang perlu dipertimbangkan bagi perubahan revolusioner dalam masyarakat, dan tujuan besar yang disasar oleh aktivitas-aktivitas Marx adalah menghimpun kelas pekerja berdasarkan asas solidaritas internasional. Sebagaimana juga dikemukakan Engels, kelas pekerja di tanah air masing-masing harus tegas melawan upaya-upaya pengerdilan terhadap perjuangan kelas yang dilakukan negara melalui propaganda “ancaman musuh dari luar” merebak tiap kali perang meletus. Dalam surat-suratnya kepada para tokoh gerakan buruh, Engels selalu memperingatkan betapa chauvinisme bisa mengakibatkan patriotisme yang bercokol secara ideologis dan tertundanya revolusi proletar. Dalam Anti-Dühring (1878), Engels menyatakan bahwa sosialisme mengemban tugas untuk “menghapuskan militerisme dan seluruh tentara reguler.” Pernyataan ini berpijak pada analisis tentang efek senjata-senjata dalam perang yang kian mematikan.

Bagi Engels, pembahasan mengenai perang sangatlah penting. Karib Marx ini pun mencurahkan perhatian yang besar–tentang perang ini–dalam salah satu tulisan terakhirnya. Dalam ”Bisakah Eropa Melucuti Bedil?” (1893), Engels mencatat bahwa tiap negeri adidaya saling berlomba secara militer dan memupuk persiapan perang dalam 25 tahun terakhir. Dalam perlombaan ini, produksi senjata meroket setinggi langit dan menggiring Eropa lebih dekat ke “perang bumi hangus yang belum pernah disaksikan dunia.” Menurut salah satu penulis Manifesto Komunis (1848) ini, “Model tentara reguler (standing armies) telah diterapkan sedemikian ekstrem di seantero Eropa sampai-sampai ia berpotensi menghancurkan ekonomi rakyat saking hebatnya beban militer yang harus ditanggung, atau berkembang menjadi perang pemusnahan massal.” Analisis Engels juga menekankan bagaimana keberadaan angkatan bersenjata terus dipertahankan khususnya demi kepentingan politik domestik dan operasi-operasi militer di luar negeri. Dengan memperhebat kekuatan untuk menindas perjuangan proletariat dan buruh, militer dirancang “bukan untuk melindungi negeri dari musuh eksternal alih-alih dari musuh internal.” Oleh karena rakyat menanggung ongkos terbesar perang lewat pungutan pajak dan rekrutmen pasukan, maka gerakan buruh harus memperjuangkan “pengurangan secara bertahap masa dinas [di militer] melalui perjanjian internasional” serta mendukung pelucutan senjata sebagai satu-satunya “jaminan damai” yang efektif.

Ujian dan keruntuhan
Tak lama berselang, debat teoretis di masa damai berkembang menjadi isu politik teratas pada zamannya. Gerakan pekerja harus menghadapi situasi-situasi riil dan para wakil mereka pada mulanya menentang segala dukungan untuk perang. Dalam konflik Prancis-Prusia (1870) yang kelak mengawali Komune Paris, anggota parlemen dari Partai Sosial Demokrat Jerman, Wilhelm Liebknecht and August Bebel, mengutuk misi aneksasi Imperium Jerman di bawah Kanselir Bismarck. Setelah “menolak RUU pendanaan tambahan untuk melanjutkan perang” dalam pemungutan suara, keduanya diganjar dua tahun hukuman penjara dengan dakwaan berkhianat terhadap negara. Namun, sikap yang diambil Liebknecht dan Bebel menunjukkan kepada kelas pekerja sebuah cara alternatif untuk membangun momentum politik di kala krisis.

Perang semakin menjadi isu kontroversial dalam debat-debat Internasional Kedua (1889-1916) seiring negeri-negeri adidaya Eropa terus melangsungkan ekspansi imperialis mereka. Dalam kongres pendiriannya, Internasional Kedua telah menetapkan resolusi perdamaian sebagai ”prasyarat wajib setiap emansipasi pekerja.” Kebijakan perdamaian ala borjuasi diolok-olok sebagai wujud lain dari ”perdamaian bersenjata”. Pada 1895, pemimpin Partai Sosialis Prancis (SFIO) Jean Jaurès memberikan pidato di parlemen yang kelak diingat sebagai cermin kegelisahan kaum kiri dalam merespons perang. “Bahkan ketika menginginkan perdamaian, bahkan dalam suasana tenang,” demikian Jaurès, “perang masih berkecamuk di dalam masyarakatmu yang kacau dan penuh kekerasan ini bak awan yang terlelap menanggung badai.”

Ketika Weltpolitik—kebijakan agresif Imperium Jerman untuk memperluas kekuasaannya di ranah internasional—mengubah percaturan geopolitik, prinsip-prinsip anti-militerisme semakin mengakar dalam gerakan kelas pekerja dan mempengaruhi diskusi-diskusi tentang konflik bersenjata. Perang tak lagi semata dilihat sebagai gerbang menuju revolusi dan pemicu kehancuran sistem (sebuah gagasan kiri yang berakar pada slogan Robespierre, “Tak ada revolusi tanpa revolusi”). Bagi kaum kiri saat itu, perang adalah marabahaya karena dampak-dampaknya yang luar biasa destruktif bagi proletariat: kelaparan, kemelaratan dan pengangguran. Perang, dengan demikian, menjadi ancaman serius bagi kekuatan progresif. Dalam situasi perang, tulis Karl Kautsky dalam Revolusi Sosial (1902), kaum pekerja akan “dibebani tugas-tugas tidak esensial” yang akan membuat kemenangan final proletariat kian jauh alih-alih mendekat.

Resolusi “Tentang Militerisme dan Konflik Internasional” yang diadopsi Internasional Kedua dalam Kongres Stuttgart (1907), merangkum seluruh pokok yang kelak menjadi warisan bersama gerakan buruh, di antaranya: voting menolak peningkatan anggaran belanja militer, antipati terhadap sistem tentara reguler, dukungan terhadap sistem milisi rakyat dan rencana pembentukan peradilan arbitrase untuk menyelesaikan konflik internasional dengan cara-cara damai. Yang tidak terkandung dalam resolusi ini adalah aksi-aksi pemogokan umum menentang segala jenis perang, sebagaimana diusulkan Gustave Hervé; mayoritas peserta kongres menganggap ide ini terlalu radikal dan hitam-putih (Manichaean). Resolusi diakhiri dengan amandemen yang disusun Rosa Luxemburg, Vladimir Lenin, dan Yulii Martov. Amandemen tersebut menyatakan: “jika perang meletus … [kaum sosialis] mengemban tugas untuk menghentikannya secepat mungkin, dan dengan segala daya memanfaatkan krisis ekonomi dan politik yang dipicu perang, untuk membangkitkan massa sehingga mempercepat tumbangnya kekuasaan kelas kapitalis.” Para perwakilan Partai Sosial Demokrat Jerman (SPD) mendukung amandemen ini karena di dalamnya tidak ada tuntutan bagi partai untuk mengubah garis politik. Resolusi dalam bentuknya yang telah diamandemen ini adalah dokumen terakhir tentang perang yang mendapat suara bulat dari Internasional Kedua.

Gambaran umum perang kian merisaukan seiring kian ketatnya persaingan ekonomi antar negara kapitalis yang dibarengi merebaknya konflik-konflik global. Pada 1911, Jaurès menerbitkan Tentara Baru (1911) yang memancing percakapan tentang isu lain yang menjadi buah bibir kala itu: perbedaan antara perang ofensif (perang dalam rangka menyerbu negara lain) dan defensif (perang yang dilancarkan untuk mempertahankan diri), serta bagaimana perang defensif harus disikapi, termasuk dalam kasus-kasus dimana kemerdekaan suatu negara terancam. Bagi Jaurès, satu-satunya tugas militer adalah membela negara dari invasi atau dari pihak agresor manapun yang menampik penyelesaian perselisihan dengan jalan mediasi. Semua tindakan militer yang tergolong dalam kategori ini harus dianggap sah. Namun, kritik jernih Luxemburg terhadap posisi Jaurès menunjukkan bahwa “fenomena-fenomena sejarah seperti perang modern tidak dapat dinilai dengan tolok ukur ’keadilan’, atau melalui skema ideal pertahanan dan agresi.” Luxemburg memperingatkan betapa sulitnya memastikan apakah sebuah perang betul-betul berwatak ofensif atau defensif, atau apakah negara yang memulainya sengaja menyerbu atau terpaksa menyerang karena terjebak siasat negara-negara yang penentang. Oleh sebab itu, bagi Luxemburg, perbedaan ofensif-defensif itu harus dibuang. Ia pun mengkritik usulan Jaurès tentang “bangsa yang dipersenjatai”, dengan alasan bahwa ide seperti ini akhirnya hanya akan menyuburkan militerisasi di masyarakat.

Seiring waktu komitmen Internasionale Kedua untuk mendukung kebijakan damai semakin kendur. Organisasi ini tidak terlihat serius menentang kebijakan pemersenjataan kembali (rearmament) dan persiapan perang. Sebuah faksi SPD yang kian moderat dan bertendensi legalistik malah mendukung obligasi perang—bahkan kelak menyepakati ekspansi kolonial—sebagai imbalan untuk kebebasan politik yang lebih besar di Jerman. Gustav Noske, Henry Hyndman dan Antonio Labriola terhitung sebagai tokoh dan teoritikus terkemuka yang pertama-tama mengambil posisi ini. Akhirnya, sebagian besar kaum Sosial Demokrat Jerman, Sosialis Prancis, para pemimpin Partai Buruh Inggris dan kaum reformis Eropa lainnya mendukung Perang Dunia Pertama (1914-1918). Rangkaian peristiwa ini berujung malapetaka. Berkat iming-iming bahwa “manfaat kemajuan” tak semestinya dimonopoli oleh kaum kapitalis, gerakan kelas pekerja malah menyepakati misi ekspansionis kelas yang berkuasa. Mereka terbuai dalam dekapan ideologi nasionalis. Internasional Kedua, yang terbukti tak berdaya menghadapi perang, gagal mewujudkan salah satu misinya: melestarikan perdamaian.

Dalam Konferensi Zimmerwald (1915), Lenin dan delegasi lainnya—termasuk Leon Trotsky yang menulis draf akhir Manifesto Zimmerwald—meramalkan: “Untuk beberapa dekade ke depan, anggaran belanja perang akan menguras energi terbaik rakyat, merusak upaya-upaya perbaikan sosial, dan menghambat kemajuan apapun.” Bagi Lenin dkk., perang menelanjangi “kapitalisme modern yang semakin sulit didamaikan tak hanya dengan kepentingan massa pekerja […] tetapi juga dengan syarat-syarat mendasar kehidupan bersama umat manusia.” Peringatan itu hanya diindahkan oleh segelintir orang dalam gerakan pekerja. Seruan kepada seluruh buruh Eropa di Konferensi Kienthal (1916) juga bernasib sama. Seruan Kienthal berbunyi: “Pemerintah kalian dan koran-koran mereka sudah mengumumkan bahwa perang harus berlanjut agar militerisme mampus! Mereka membohongi kalian! Perang tidak pernah membunuh perang. Perang memang memicu perasaan dan keinginan balas dendam. Dengan menandai kalian agar berkorban, mereka menjerumuskan kalian ke lingkaran setan.” Dokumen final Kienthal—yang akhirnya pisah jalan dengan Kongres Stuttgart yang menyerukan penyelenggaraan peradilan arbitrase internasional—menyatakan bahwa “ilusi pasifisme borjuis” tidak akan memutus mata rantai perang alih-alih sekadar ikut melanggengkan tatanan sosial-ekonomi yang ada. Penaklukkan kekuasaan oleh massa-rakyat dan penggulingan sistem hak milik kapitalis adalah satu-satunya jalan untuk mencegah konflik bersenjata di masa depan.

Rosa Luxemburg dan Vladimir Lenin adalah dua penentang perang di garis terdepan. Karya-karya Luxemburg memperluas pemahaman teoretis di kubu kiri dan menunjukkan bagaimana militerisme berperan sebagai tulang punggung negara. Luxemburg, dengan iman baja dan daya tutur yang nyaris tak tertandingi pemimpin komunis lainnya, menegaskan bahwa slogan “Perang melawan perang!” harus menjadi “landasan politik kelas pekerja.” Internasional Kedua, tulis Luxemburg dalam Krisis Demokrasi Sosial (1916)—yang kelak dikenal sebagai Pamflet Junius—bubar karena gagal “menyepakati taktik dan aksi bersama proletariat di seluruh dunia.” Sejak itulah “memerangi imperialisme dan mencegah perang, baik dalam situasi damai maupun perang” menjadi “misi utama” yang wajib diemban proletariat.

Jasa besar Lenin—sebagaimana terlihat dalam Sosialisme dan Perang (1915) dan banyak tulisan lainnya yang terbit selama Perang Dunia I—adalah mengidentifikasi dua persoalan fundamental. Persoalan pertama menyangkut “falsifikasi sejarah” yang dilakukan kaum borjuasi tiap kali mereka mengait-ngaitkan “sentimen progresif pembebasan nasional” dengan apa yang sebenarnya merupakan perang “penjarahan”—sebuah perang yang dilancarkan demi satu tujuan: memutuskan kubu mana yang bakal mendapat giliran untuk menindas bangsa-bangsa yang dianggap paling asing seraya meningkatkan taraf ketimpangan kapitalisme. Persoalan kedua yang diangkat Lenin adalah pengaburan kontradiksi oleh kaum reformis sosial—atau “chauvinis sosial”, demikian sebut Lenin—yang pada akhirnya mendukung justifikasi perang sekalipun mereka sudah mendefinisikan perang sebagai aktivitas “kriminal” dalam resolusi-resolusi Internasional Kedua. Di balik klaim kaum reformis untuk “membela tanah air”, terkandung privilese negara-negara adikuasa untuk “menjarah tanah jajahan dan menindas bangs-bangsa asing.” Perang tidak dilakukan untuk menjaga “eksistensi bangsa-bangsa”, melainkan untuk “ mempertahankan privilese, dominasi, penjarahan dan kekerasan” yang melekat pada berbagai spesies “borjuasi imperialis”. Kaum sosialis yang tunduk pada patriotisme telah menggantikan perjuangan kelas dengan perjuangan untuk berebut “jatah keuntungan yang diperoleh borjuasi nasional lewat penjarahan negeri-negeri lain.” Maka dari itu, Lenin mendukung “perang untuk mempertahankan diri” (defensive wars)—bukan “pertahanan nasional negara-negara Eropa ala Jaurès, melainkan “perang yang adil” (just wars) yang dilancarkan “bangsa-bangsa yang ditaklukkan dan ditindas,” yang telah “dijarah dan dirampas hak-haknya” oleh “negeri-negeri adikuasa pemilik budak.” Tesis paling tersohor dari pamflet ini—bahwa kaum revolusioner harus berusaha “mengubah perang imperialis menjadi perang saudara”—menyiratkan bahwa siapapun yang benar-benar mendambakan “perdamaian demokratis nan langgeng” harus mengobarkan “perang saudara melawan borjuasi dan pemerintah mereka sendiri.” Lenin memiliki keyakinan—yang kelak dibantah oleh sejarah—bahwa setiap perjuangan kelas yang konsisten dilancarkan pada masa perang “niscaya” akan menciptakan spirit revolusioner di tengah massa.

Menarik garis pemisah
Perang Dunia I melahirkan perpecahan tidak hanya di Internasional Kedua tetapi juga di tubuh gerakan anarkis. Tak lama setelah perang meletus, Kropotkin menulis sebuah artikel yang menyatakan bahwa “menghentikan invasi Jerman di Eropa Barat adalah tugas setiap orang yang mencintai gagasan kemajuan umat manusia.” Membaca artikel ini, banyak pihak beranggapan Kropotkin telah mencampakkan prinsip-prinsip yang telah ia perjuangkan seumur hidupnya. Namun, pernyataan ini merupakan upaya Kropotkin untuk melampaui slogan “pemogokan umum melawan perang”—yang tak diacuhkan massa pekerja—dan untuk menghindari kemunduran umum dalam politik Eropa yang akan terjadi jika Jerman menang. Dalam pandangan Kropotkin, jika kaum anti-militer tetap berpangku tangan, maka secara tak langsung mereka telah membantu misi penaklukan para agresor, dan hambatan yang muncul dari sana akan lebih sulit diatasi oleh siapapun yang memperjuangkan revolusi sosial.

Menanggapi Kropotkin, anarkis Italia Enrico Malatesta berargumen bahwa meskipun dirinya bukan pasifis dan menganggap sah perjuangan bersenjata dalam perang pembebasan, Perang Dunia bukanlah—sebagaimana digaungkan propaganda borjuis—perjuangan demi “kemaslahatan umum melawan musuh bersama” demokrasi. Alih-alih, bagi Malatesta, Perang Dunia adalah sekadar contoh lain dari upaya kelas yang berkuasa untuk menaklukkan massa pekerja. Dia menyadari “kemenangan Jerman niscaya berarti kemenangan militerisme, namun di sisi lain kemenangan bagi pihak Sekutu juga sama saja dengan dominasi Rusia-Inggris di Eropa dan Asia.”

Dalam Manifesto Enam Belas (1916), Kropotkin bersikukuh akan pentingnya “melawan agresor yang menjadi wajah kehancuran seluruh harapan pembebasan kita.” Kemenangan Triple Entente terhadap Jerman akan mendatangkan keburukan yang lebih kecil (lesser evil) dan lebih minim efeknya untuk pelemahan kebebasan-kebebasan yang ada. Di sisi lain, Malatesta dan para penandatangan manifesto anti-perang dari Anarkis Internasional (1915) menyatakan: “Mustahil perang ofensif dan defensif bisa dibedakan.” Mereka juga menambahkan bahwa “Tak satu pun dari kubu dalam perang berhak mengklaim peradaban, sebagaimana mereka juga tak berhak mendaku melakukan pembelaan diri secara sah.” Perang Dunia I, tegas mereka, adalah episode lanjutan dalam pusaran konflik antar kapitalis dari berbagai negeri imperialis, sebuah perang yang dilancarkan dengan mengorbankan kelas pekerja. Malatesta, Emma Goldman, Ferdinand Nieuwenhuis dan sebagian besar aktivis gerakan anarkis yakin bahwa mendukung pemerintah borjuis adalah kesalahan yang tak termaafkan. Sebaliknya, tanpa terkecuali, mereka berakhir dengan slogan “tolak kirim orang dan uang untuk tentara,” dan bahkan secara tegas menolak memberikan dukungan tak langsung dalam upaya-upaya perang.

Penyikapan terhadap perang juga menimbulkan perdebatan dalam gerakan feminis. Kaum lelaki direkrut ke medan tempur sehingga kalangan industri menggantikan mereka dengan perempuan di posisi-posisi yang telah lama dimonopoli laki-laki. Namun, pekerja perempuan ini mendapat upah yang jauh lebih rendah dan bekerja dalam kondisi yang sangat eksploitatif. Situasi ini memicu penyebaran ideologi chauvinis di sebagian besar gerakan hak pilih perempuan (suffragette) yang baru lahir. Beberapa pemimpin gerakan melangkah lebih jauh dengan mengajukan petisi untuk penyusunan undang-undang yang bakal mengizinkan perempuan untuk mendaftar sebagai tentara. Ekspos terhadap pemerintah yang bermuka dua—yang memukul mundur capaian-capaian mendasar reformasi sosial dengan cara menggaungkan ketakutan akan “musuh di perbatasan”—adalah salah satu prestasi terpenting tokoh-tokoh terdepan komunis perempuan kala itu. Clara Zetkin, Alexandra Kollontai, Sylvia Pankhurst, dan tentu saja Rosa Luxemburg termasuk dalam golongan pertama yang secara tegas dan berani menapaki jalan yang kelak menjadi teladan bagi generasi mendatang bahwa perlawanan terhadap militerisme amatlah penting bagi perlawanan terhadap patriarki. Kelak, penolakan terhadap perang menjadi unsur tak terpisahkan dalam peringatan Hari Perempuan Internasional, dan kerja-kerja menggugurkan anggaran perang untuk konflik-konflik baru terus mengemuka di banyak panggung gerakan feminis internasional.

Tujuan akhir tidak berarti menghalalkan segala cara dan cara yang salah bisa merusak tujuan
Pasca-kelahiran Uni Soviet dan berkembangnya dogmatisme ideologi pada 1920an dan 1930an, perpecahan mendalam antara kaum revolusioner dan reformis merembet hingga ke perkara strategi, hingga menihilkan aliansi anti-militerisme antara Komunis Internasional (1919-1943) dan partai-partai Sosialis dan Sosial Demokrat Eropa. Setelah mendukung perang, partai-partai yang terlibat dalam pembengtukan Buruh dan Sosialis International (Labour and Socialist International Buruh dan Sosialis Internasional) (1923-1940) kehilangan martabatnya di mata kaum komunis. Gagasan Leninis tentang “mengubah perang imperialis menjadi perang saudara” masih berlaku di Moskow. Para politisi dan teoretikus terkemuka di Rusia masih berpikir bahwa “1914 Jilid Dua”—alias perang dunia berikutnya—mustahil dihindari. Masing-masing kubu lebih sibuk bicara tentang apa yang harus dilakukan jika perang kembali pecah ketimbang membahas cara-cara mencegah perang baru. Pada dasarnya, slogan-slogan dan pernyataan sikap yang mereka utarakan saat itu berbeda dari apa yang diharapkan, dan berjarak pula dari apa yang kelak menjadi tindakan politik. Pendapat-pendapat kritis di kubu Komunis disuarakan oleh Nikolai Bukharin, seorang pendukung slogan “perjuangan untuk perdamaian.” Pemimpin Rusia lain yang meyakini perdamaian sebagai “salah satu isu utama dunia dewasa ini” adalah Georgi Dimitrov, yang berpendapat bahwa tak semua negara adidaya memikul tanggung jawab yang sama atas ancaman perang. Dimitrov juga menghendaki pemulihan hubungan dengan partai-partai reformis untuk membangun front rakyat guna melawan perang. Kedua pandangan ini kontras dengan mantra-mantra ortodoksi Soviet tidak memperbarui analisis teoretis mereka. Ortodoksi Moskow bersikeras bahwa hasrat berperang telah mengalir di tubuh seluruh kekuatan imperialis tanpa pengecualian, tanpa ada bedanya.

Mao Zedong memiliki pandangan berbeda. Sebagai pemimpin gerakan pembebasan melawan invasi Jepang, ia menulis dalam On Protracted War (1938) bahwa “perang yang adil”—di mana komunis wajib berpartisipasi—“diberkahi kekuatan luar biasa yang dapat mengubah banyak hal atau merintis jalan untuk perubahan-perubahan tersebut. Maka dari itu, Mao mengusulkan strategi “melawan perang yang tidak adil dengan perang yang adil,” kemudian “meneruskan perang hingga tujuan politiknya tercapai.” Argumen-argumen Mao yang mendukung “keperkasaan perang revolusioner” kembali muncul dalam Masalah Perang dan Strategi (1938). Dalam tulisan ini ia bersikukuh bahwa “hanya senjata yang mampu mengubah seluruh dunia,” dan “perampasan kekuasaan oleh militer, penyelesaian masalah dengan perang, adalah tugas utama dan wujud tertinggi revolusi.”

Di Eropa, eskalasi kekerasan aliansi Nazi-Fasis di dalam maupun di luar negeri, serta pecahnya Perang Dunia II (1939-1945) memunculkan skenario yang bahkan lebih jahat daripada perang 1914-18. Setelah pasukan Hitler menyerbu Uni Soviet pada 1941, Perang Patriotik Akbar (The Great Patriotic War) yang berakhir dengan keoknya Nazisme menjadi unsur sentral dalam wacana kebangsaan Rusia yang sukses bertahan dari keruntuhan Tembok Berlin dan terus eksis hingga sekarang.

Setelah Perang Dunia II berakhir, dunia terbelah menjadi dua blok. Joseph Stalin menegaskan bahwa tugas utama gerakan Komunis internasional adalah melindungi Uni Soviet. Pilar utama kebijakan ini adalah pembentukan zona penyangga (buffer zone) yang terdiri dari delapan negara di kawasan Eropa Timur (setelah keluarnya Yugoslavia menjadi tujuh negara). Pada periode tersebut, Doktrin Truman menandai kemunculan jenis perang baru: Perang Dingin. Selanjutnya, Amerika Serikat berperan penting dalam menghambat kekuatan progresif di Eropa Barat dengan menyokong kekuatan anti-komunis di Yunani, menjalankan program Marshall Plan (1948), dan mendirikan NATO (1949). Uni Soviet merespons langkah-langkah AS dengan mendirikan Pakta Warsawa (1955). Konfigurasi baru ini akhirnya memicu perlombaan senjata besar-besaran, yang juga melahirkan lomba uji coba bom nuklir, terlepas dari fakta bahwa kehancuran Hiroshima dan Nagasaki masih segar dalam ingatan.

Sejak 1961, di bawah kepemimpinan Nikita Khrushchev, Uni Soviet merintis jalan politik baru yang kelak dikenal sebagai “koeksistensi damai”. Perubahan sikap yang menekankan pentingnya prinsip non-intervensi dan penghormatan atas kedaulatan nasional, serta kerjasama ekonomi dengan negara-negara kapitalis ini, dimaksudkan untuk mencegah potensi perang dunia ketiga (seperti yang telah terlihat selama krisis misil Kuba pada 1962) serta menguatkan pandangan bahwa perang bisa dihindari. Namun, upaya kerjasama konstruktif ini hanya terarah ke AS, bukan ke negara-negara yang saat itu telah menjadi bagian dari blok sosialis (actually existing socialism). Pada 1956, Uni Soviet mengkremus pemberontakan rakyat di Hongaria. Alih-alih mengutuk, partai-partai komunis Eropa Barat membenarkan intervensi militer tersebut dengan dalih melindungi blok sosialis. Sekretaris Partai Komunis Italia Palmiro Togliatti, misalnya, menyatakan: “Kami tetap mendukung kubu kami sendiri sekalipun keliru.” Mayoritas pihak yang mengambil posisi yang sama kelak memahami dampak desktruktif intervensi Soviet dan menyesal keputusan mereka.

Nasib serupa menimpa Cekoslowakia pada 1968. Kala itu, koeksistensi damai antara kedua blok tengah berada di puncak. Dihadapkan pada tuntutan demokratisasi dan desentralisasi ekonomi selama Musim Semi Praha, Politbiro Partai Komunis Uni Soviet secara bulat memutuskan untuk mengirim setengah juta tentara dan ribuan tank. Dalam kongres Partai Persatuan Pekerja Polandia 1968, Leonid Brezhnev menjelaskan bahwa intervensi tersebut mengacu pada apa yang disebutnya “kedaulatan terbatas” negara-negara Pakta Warsawa: “Ketika kekuatan-kekuatan yang memusuhi sosialisme mencoba mengubah perkembangan beberapa negara dalam blok sosialis ke arah kapitalisme, ini tidak hanya menjadi perkara negara yang bersangkutan, tetapi juga menjadi urusan dan keprihatinan bersama seluruh negara sosialis.” Menurut logika anti-demokrasi ini, mana yang “sosialis” dan mana yang bukan sosialisme sudah sewajarnya diputuskan oleh para pemimpin Soviet. Namun, kali ini para pengkritik dari kubu kiri mengambil sikap lebih terbuka dan bahkan mewakili mayoritas. Meskipun ketidaksetujuan atas tindakan Soviet diungkapkan tidak hanya oleh gerakan Kiri Baru tetapi juga oleh mayoritas partai Komunis, termasuk Tiongkok, Rusia tetap pantang mundur dan malah melakukan proses yang mereka sebut “normalisasi”. Uni Soviet terus mengalokasikan sebagian besar sumber daya ekonominya untuk belanja militer, dan ini ikut memperkuat budaya otoriter di masyarakat. Walhasil, Uni Soviet kehilangan kepercayaan dari gerakan perdamaian yang saat itu membengkak berkat aksi mobilisasi besar-besaran melawan perang di Vietnam.

Salah satu perang terpenting dalam dekade berikutnya dimulai dengan invasi Soviet ke Afghanistan. Pada 1979, Tentara Merah kembali menjadi instrumen utama kebijakan luar negeri Moskow, yang terus mengklaim hak untuk campur tangan dalam ”zona keamanan” yang ia definisikan sendiri. Keputusan buruk itu berubah menjadi petualangan melelahkan selama lebih dari sepuluh tahun, menyebabkan angka kematian yang besar, dan membuat jutaan orang mengungsi. Dalam kesempatan ini gerakan Komunis internasional jauh lebih berani bersikap ketimbang saat mereka menanggapi invasi Soviet ke Hongaria dan Cekoslowakia. Namun, di mata publik internasional, perang baru ini telah mengungkap perceraian antara blok sosialis dengan alternatif politik yang berpijak pada perdamaian dan perlawanan terhadap militerisme.

Secara keseluruhan, intervensi militer Soviet tidak hanya menciderai inisiatif pengurangan senjata secara umum tetapi juga mendiskreditkan dan melemahkan sosialisme secara global. Uni Soviet semakin dilihat sebagai kekuatan imperial yang tindakannya tidak berbeda dengan Amerika Serikat. Washington sendiri diam-diam telah menyokong kudeta dan upaya penggulingan pemerintahan yang dipilih secara demokratis di lebih dari 20 negara dunia. Terakhir, “perang sosialis” pada 1977-1979 yang melibatkan Kamboja dan Vietnam serta Tiongkok dan Vietnam—tanpa melupakan latar belakang perpecahan Uni Soviet dan RRC—telah menggerus pengaruh ideologi “Marxis-Leninis”—yang bahkan sudah melenceng jauh dari fondasi asli yang diletakkan oleh Marx dan Engels—yang selama ini terus mengaitkan perang secara eksklusif dengan kekacauan ekonomi dalam sistem kapitalisme.

Menjadi di kiri berarti melawan perang
Berakhirnya Perang Dingin tidak mengurangi frekuensi campur tangan dalam urusan negara lain, tidak pula meningkatkan kebebasan setiap orang untuk memilih rezim politik di mana ia bisa hidup. Banyak perang—tanpa mandat PBB dan bahkan didefinisikan dengan absurdnya sebagai intervensi “kemanusiaan”—yang dilakukan oleh AS dalam dua puluh lima tahun terakhir—plus bentuk-bentuk baru konflik, sanksi politik dan ekonomi yang dilakukan secara ilegal, dan pengkondisian media—menunjukkan bagaimana pembagian kutub antara dua negara adidaya gagal melapangkan jalan menuju era kebebasan dan kemajuan yang dijanjikan oleh mantra neoliberal “Tatanan Dunia Baru”. Dalam konteks ini, banyak kekuatan politik yang pernah mengklaim nilai-nilai kiri kini terlibat dalam sejumlah perang. Dari Kosovo hingga Irak dan Afghanistan—beberapa contoh perang besar yang dilancarkan NATO sejak runtuhnya Tembok Berlin—kekuatan-kekuatan ini kerap mendukung intervensi bersenjata dan membuat sikap mereka semakin sulit dibedakan dari kubu kanan.

Dalam perang Rusia-Ukraina kaum kiri kembali menghadapi dilema klasik: respons apa yang semestinya diberikan ketika kedaulatan suatu negara diserang? Pemerintah Venezuela, misalnya, tidak mengutuk invasi Rusia ke Ukraina. Ini kesalahan politik. Absennya kecaman Caracas bisa mempersulit posisi Venezuela seandainya kelak diserbu oleh Amerika Serikat. Kecaman Venezuela atas invasi AS—jika nanti benar-benar kejadian—akan terdengar kurang kredibel. Memang benar “dalam kebijakan luar negeri, tak banyak yang dapat diperoleh dengan menggunakan jargon populer seperti ’reaksioner’ dan ’revolusioner’”—bahwa apa yang “secara subjektif reaksioner [mungkin terbukti] revolusioner secara objektif dalam kebijakan luar negeri,” demikian isi surat Marx kepada Ferdinand Lassalle pada 1860. Namun, kaum kiri sudah seharusnya belajar dari pengalaman abad ke-20 bahwa aliansi “dengan musuhnya musuh saya” seringkali mengarah pada kesepakatan-kesepakatan kontraproduktif, terutama ketika—seperti yang hari ini terjadi—front progresif lemah secara politik, gagap secara teori, dan miskin mobilisasi massa.

Dalam Revolusi Sosialis dan Hak Bangsa-Bangsa untuk Menentukan Nasib Sendiri, Lenin berujar: “Dalam kondisi-kondisi tertentu, perjuangan pembebasan nasional melawan kekuatan imperialis dapat dimanfaatkan oleh kekuatan “adidaya” lain untuk kepentingan yang sama-sama imperialisnya; namun ini tidak berarti bahwa kaum Sosial Demokrat bisa mengabaikan pengakuan atas hak semua bangsa untuk menentukan nasib sendiri.” Di luar kepentingan dan intrik geopolitik yang lazim turut bermain, dalam sejarahnya kaum kiri telah lama mendukung prinsip penentuan nasib sendiri dan membela hak masing-masing negeri untuk mendirikan perbatasan atas dasar kehendak warganya. Kaum kiri telah melancarkan perang terhadap perang dan “pencaplokan wilayah” karena mereka sadar bahwa perang dan aneksasi hanya akan memicu konflik besar antara pekerja di negara yang mendominasi dan bangsa-bangsa tertindas, lantas menciptakan kondisi bagi yang bangsa-bangsa terjajah untuk bersatu dengan kelas borjuasi mereka sendiri dan memusuhi buruh-buruh di negara penindas. Dalam Hasil Diskusi Penentuan Nasib Sendiri (1916), Lenin menulis: “Jika revolusi sosialis ingin menang di Petrograd, Berlin dan Warsawa, maka pemerintah sosialis Polandia, seperti halnya pemerintah sosialis Rusia dan Jerman, harus menanggalkan upaya-upaya penuh paksaan untuk mengontrol, misalnya, orang-orang Ukraina di dalam perbatasan Polandia melalui.” Jika demikian, mengapa opsi yang berbeda harus ditawarkan kepada pemerintah nasionalis pimpinan Vladimir Putin?

Di sisi lain, terlalu banyak kaum kiri yang menyerah pada godaan untuk terlibat dalam perang—baik langsung maupun tidak—lantas mengobarkan ‘persekutuan suci’ (union sacrée, sebuah ungkapan yang dicetuskan pada 1914 untuk menyambut dukungan kaum kiri Prancis kepada pemerintah yang memutuskan untuk terjun ke kancah Perang Dunia I). Hari ini, posisi semacam itu semakin mengaburkan perbedaan antara Atlantisisme dan pasifisme. Sejarah menunjukkan, ketika kubu progresif tidak menentang perang, bagian penting dari alasan keberadaan mereka akan hilang dan pada akhirnya mereka pun akan larut dalam ideologi kubu lawan. Ini terjadi tiap kali partai kiri menjadikan eksistensi mereka di pemerintahan sebagai tolok ukur tindakan politik. Itulah yang dilakukan kaum komunis Italia ketika mendukung intervensi NATO di Kosovo dan Afghanistan, atau ketika mayoritas anggota Unidas Podemos hari ini bersama parlemen Spanyol mendukung keputusan pengiriman bantuan senjata ke kubu Ukraina. Perilaku rendahan semacam itu sudah berkali-kali diganjar hukuman, termasuk di bilik-bilik pemungutan suara ketika pemilu digelar.

Bonaparte bukanlah demokrasi
Pada 1853-1856, Marx menulis serangkaian artikel yang cemerlang untuk New-York Daily Tribune. Kumpulan artikel itu menyuguhkan banyak sekali paralel yang menarik dan berguna sebagai pelajaran untuk hari ini. Dalam sebuah artikel bertahun 1853, Marx membahas seorang penguasa besar Moskow dariq abad ke-15 yang dianggap telah menyatukan Rusia dan meletakkan pondasi bagi kekuasaannya yang otokratik. Marx menyatakan: “Orang cukup mengganti deretan nama dan tanggal ini sehingga jelas bahwa kebijakan Ivan III […], dan kebijakan Tsar Rusia sekarang tidak hanya serupa tetapi juga identik.” Namun, pada tahun berikutnya, ketika Marx berseberangan dengan kaum demokrat liberal yang mengusung koalisi anti-Rusia, ia menulis: “Keliru ketika perang melawan Rusia digambarkan sebagai pertempuran antara kebebasan dan despotisme. Bahkan seandainya gambaran itu benar, kebebasan untuk sementara waktu diwakili oleh seorang Bonaparte, seluruh misi yang dipikul perang ini adalah pelestarian … Traktat Wina—perjanjian-perjanjian yang membatalkan kebebasan dan kemerdekaan bangsa-bangsa.” Jika kita mengganti Bonaparte dengan Amerika Serikat dan Traktat Wina dengan NATO, amatan Marx seakan ditulis untuk hari ini.

Keraguan politik atau kekaburan teori tak terlihat dalam pemikiran mereka yang menentang nasionalisme Rusia dan Ukraina serta ekspansi NATO. Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah ahli memberikan penjelasan tentang akar konflik Rusia-Ukraina (tanpa sama sekali mengurangi bobot kebrutalan invasi Rusia); posisi mereka yang mengusung kebijakan untuk tidak berpihak pada kubu-kubu yang bertikai adalah jalan paling efektif untuk mengakhiri perang sesegera mungkin dan memastikan agar jumlah korban jiwa tak bertambah. Ini bukan soal berperilaku bak “jiwa-jiwa molek” yang mabuk idealisme abstrak, yang menurut Hegel tak mampu menghadapi realitas penuh kontradiksi di dunia nyata. Sebaliknya: pokok dari pendekatan ini adalah memberikan basis kenyataan kepada satu-satunya penangkal sejati perang agar tidak merembet ke mana-mana. Di sisi lain, seruan rekrutmen serdadu untuk perang terus bergema. Demikian pula suara-suara yang menekankan bahwa Eropa wajib menyuplai senjata dan amunisi yang dibutuhkan untuk berperang (sikap ini misalnya diambil oleh Perwakilan Tinggi Urusan Luar Negeri dan Kebijakan Keamanan Uni Eropa). Namun, berbeda dengan posisi-posisi tersebut, yang perlu terus digencarkan adalah diplomasi berlandaskan dua tuntutan pokok yang tak bisa ditawar—de-eskalasi konflik dan netralitas Ukraina yang merdeka.

Meskipun dukungan untuk NATO meningkat karena invasi Rusia, diperlukan kerja keras untuk memastikan agar publik tidak memandang NATO—mesin perang terbesar dan paling agresif di dunia—sebagai solusi untuk masalah-masalah keamanan global. NATO harus diekspos sebagai organisasi berbahaya lagi tidak efektif, sebagai organisasib yang telah menjerumuskan dunia ke dalam ketegangan-ketegangan yang bisa melahirkan perang, sebagai akibat dari upayanya untuk melancarkan ekspansi dan dominasi tatanan dunia unipolar.

Dalam Sosialisme dan Perang, Lenin berpendapat bahwa kaum Marxis berbeda dari pasifis dan anarkis karena mereka “menilai perlunya mempelajari setiap perang secara historis (dari sudut pandang materialisme dialektis Marx) dan secara terpisah.” Selanjutnya ia menegaskan: “Terlepas dari semua kengerian, kekejaman, kesulitan dan penderitaan yang niscaya mengiringi semua perang, ada banyak perang dalam sejarah yang berwatak progresif, yaitu yang menguntungkan perkembangan umat manusia.” Jika benar demikian yang terjadi di masa lalu, sulit rasanya menegaskan pernyataan tersebut dalam konteks masyarakat hari ini, ketika senjata pemusnah massal terus menyebar. Jarang sekali perang—yang tidak semestinya dirancukan dengan revolusi—membuahkan dampak demokratisasi sebagaimana diharapkan oleh para teoritikus sosialisme. Perang memang sering terbukti menjadi cara terburuk untuk melakukan revolusi, baik karena harga nyawa yang harus dibayar maupun karena penghancuran kekuatan produktif yang ditimbulkannya. Pelajaran ini juga tidak boleh dilupakan oleh kaum kiri moderat.

Bagi kaum kiri, perang tidak boleh menjadi—mengutip Clausewitz—“kelanjutan politik dengan cara lain.” Kenyataannya, perang hanya akan memperjelas kegagalan politik. Jika kaum kiri ingin kembali hegemonik dan menunjukkan bahwa dirinya mampu menggali dan menafsirkan sejarahnya untuk tugas-tugas hari ini, mereka perlu menulis “anti-militerisme” dan “Katakan tidak untuk perang!” di spanduk-spanduk.

Categories
Interviews

Merayakan Marx Tua: Wawancara Marcello Musto (Bagian II)

TAHUN-TAHUN terakhir kehidupan Karl Marx seringkali diabaikan karena dianggap sebagai periode kemunduran fisik dan intelektual. Namun sejatinya, pemikiran Marx tetaplah hidup hingga akhir hayat karena tanggapan-tanggapannya atas berbagai persoalan politik masih relevan bagi kita hingga hari ini.

Pemikiran Marx tua adalah tema dari karya Marcello Musto yang baru terbit, The Last Years of Karl Marx. Di dalam buku itu, Musto dengan handal merajut detail biografis yang kaya pembacaan seksama atas tulisan-tulisan Marx tua yang seringkali diliputi nada keraguan. Editor Jacobin, Nicolas Allen, bercakap-cakap dengan Musto mengenai kompleksitas studi atas tahun-tahun terakhir kehidupan Marx, tentang mengapa keraguan-keraguan Marx tua lebih bermanfaat bagi kita hari ini alih-alih klaim-klaim penuh keyakinan yang ia buat semasa muda. Perbincangan ini adalah bagian pamungkas dari dua wawancara. Bagian pertama dapat dilihat di sini.

 

SALAH satu bab yang sentral dalam The Last Years of Karl Marx membahas tentang hubungan Marx dengan Rusia. Seperti Anda tunjukkan, Marx terlibat dalam dialog yang sangat intens dengan beberapa kalangan kiri Rusia, khususnya seputar penerimaan mereka atas volume pertama Capital. Apakah yang menjadi poin-poin utama dalam perdebatan tersebut?

Selama bertahun-tahun, Marx menilai Rusia sebagai salah satu hambatan emansipasi kelas pekerja. Beberapa kali ia menekankan bahwa perkembangan ekonomi Rusia yang lambat dan rezim politiknya yang despotik menjadikan kekuasaan tsar benteng terdepan kontra-revolusi. Namun dalam tahun-tahun terakhir hidupnya, Marx mulai melihat Rusia secara berbeda. Ia menangkap beberapa kondisi yang memungkinkan terjadinya transformasi sosial yang besar setelah penghapusan perhambaan pada 1861. Rusia di mata Marx lebih mungkin melahirkan revolusi ketimbang Inggris. Di Inggris, kapitalisme telah melahirkan buruh pabrik dalam jumlah terbesar di dunia. Di sisi lain, gerakan buruh menikmati kondisi hidup yang lebih baik karena kecipratan hasil eksploitasi kolonial sehingga makin lemah dan terkena pengaruh buruk dari reformisme ala serikat buruh.

Dialog-dialog antara Marx dan kaum revolusioner Rusia berciri intelektual dan juga politis. Pada paruh pertama dekade 1870-an, ia mengakrabkan diri dengan literatur-literatur kritis utama tentang masyarakat Rusia dan menaruh perhatian khusus pada karya filsuf sosialis Nikolai Chernyshevsky (1828-1889). Ia percaya fenomena sosial yang telah mencapai tingkat perkembangan yang tinggi di negara-negara termaju dapat menyebar sangat cepat ke bangsa-bangsa lain dan membuat lonjakan dari tingkat yang lebih rendah menjadi lebih tinggi, melompati fase-fase perantara. Gagasan ini memberikan Marx bahan-bahan pemikiran untuk mempertimbangkan kembali konsepsi materialistiknya tentang sejarah.

Untuk sekian lama, Marx telah menyadari bahwa skema kemajuan linear yang melewati fase corak produksi Asiatik, kuno, feodal, dan borjuis modern, sebagaimana ia jabarkan dalam pengantar untuk A Contribution to the Critique of Political Economy (1859) sangat tidak memadai untuk memahami pergerakan sejarah. Ia paham pentingnya membersihkan diri dari filsafat sejarah. Ia tidak lagi memahami pergantian corak produksi dalam lintasan sejarah sebagai urutan yang pasti.

Marx juga berkesempatan untuk berdiskusi dengan kaum militan dari berbagai tendensi revolusioner di Rusia. Ia mengagumi karakter membumi dari aktivitas politik populisme Rusia – yang pada waktu itu merupakan gerakan sayap kiri anti-kapitalis – khususnya karena mereka tidak jatuh ke dalam sikap ultra-revolusioner yang tak masuk akal ataupun generalisasi-generalisasi yang kontra-produktif. Marx menilai relevansi organisasi-organisasi sosialis yang ada di Rusia dari karakter pragmatis mereka, bukan deklarasi kesetiaan pada teori-teorinya. Bahkan, ia mengamati bahwa seringkali mereka yang mengaku “Marxis” justru adalah pihak yang paling doktriner. Perjumpaannya dengan teori-teori dan aktivitas politik kaum populis Rusia – sama seperti pertemuannya dengan para pejuang Komune Paris satu dekade sebelumnya – mendorong Marx menjadi lebih fleksibel dalam menganalisis peristiwa-peristiwa revolusioner dan kekuatan-kekuatan subjektif pembentuknya. Ini mendekatkan Marx kepada internasionalisme sejati berskala global.

Tema sentral dialog dan pertukaran gagasan antara Marx dan banyak figur kiri Rusia adalah seputar isu kompleks tentang perkembangan kapitalisme, yang jelas mengandung implikasi-implikasi teoretik dan politis. Kerumitan diskusi ini juga terbukti dengan keputusan final Marx untuk tidak jadi mengirimkan suratnya yang berisi kritik atas kesalahan-kesalahan tafsir atas Capital ke jurnal Otechestvennye Zapiski, ataupun merespons “pertanyaan hidup-mati” Vera Zasulich (1849-1919) mengenai masa depan komune pedesaan (obshchina) hanya dengan surat pendek yang penuh kehati-hatian, bukan dengan tulisan panjang yang telah ia siapkan dengan penuh semangat lewat tiga naskah persiapan.


Korespondensi Marx dengan tokoh sosialis Rusia Vera Zasulich adalah topik yang banyak diminati hari ini. Marx menunjukkan komune pedesaan Rusia berpotensi untuk mengadopsi kemajuan-kemajuan terkini masyarakat kapitalis – teknologi, khususnya – tanpa harus melalui pergolakan sosial yang teramat destruktif bagi kaum petani Eropa Barat. Dapatkah Anda menjelaskan dengan lebih detail pemikiran yang mendasari kesimpulan-kesimpulan Marx?

Lewat kebetulan belaka, surat Zasulich tiba di tangan Marx persis ketika minatnya pada bentuk-bentuk masyarakat purba, membuatnya menaruh perhatian lebih seksama pada penemuan-penemuan terbaru para antropolog di masanya. Sebelumnya, minat ini makin dalam pada 1879 lewat studi atas karya sosiolog Maksim Kovalevsky (1851-1916). Teori dan praktik juga menuntunnya ke posisi tersebut. Mengikuti ide-ide yang digagas oleh antropolog Morgan, Marx menulis bahwa kapitalisme dapat digantikan dengan bentuk yang lebih maju dari cara produksi kolektif zaman kuno.

Pernyataan ambigu ini membutuhkan paling tidak dua klarifikasi. Pertama, berbekal apa yang ia pelajari dari Chernyshevsky, Marx berargumen bahwa Rusia tidak bisa mengulangi begitu saja setiap tahapan sejarah Inggris dan negara-negara Eropa Barat lainnya. Pada prinsipnya, transformasi sosialis obshchina dapat terjadi tanpa harus melalui kapitalisme. Namun ini bukan berarti bahwa Marx mengubah pandangan kritisnya tentang komune pedesaan di Rusia, atau bahwa ia percaya bahwa negara-negara yang kapitalismenya masih kurang berkembang sejatinya lebih dekat pada revolusi daripada negara-negara dengan perkembangan kapasitas produktif yang lebih maju. Ia tak sekonyong-koyong meyakini bahwa komune-komune tua di pedesaan merupakan tempat yang lebih mendukung emansipasi individu daripada relasi sosial yang berada di bawah kapitalisme. Kedua, analisisnya mengenai kemungkinan transformasi progresif obshchina tidak dimaksudkan untuk diangkat ke model yang lebih umum. Ini merupakan analisis spesifik atas corak produksi kolektif tertentu pada momen historis tertentu. Dengan kata lain, Marx menunjukkan fleksibilitas teoretik dan kelenturan skema yang gagal diperlihatkan banyak pemikir Marxis setelahnya. Pada akhir hidupnya, Marx menunjukkan keterbukaan teoretik yang lebih luas lagi, yang memungkinkannya mempertimbangkan jalur-jalur alternatif menuju sosialisme yang sebelumnya tidak ia pikirkan secara serius atau yang dianggapnya tidak mungkin berhasil.

Keraguan Marx berubah menjadi keyakinan bahwa kapitalisme merupakan tahap yang tak terelakkan bagi perkembangan ekonomi di setiap negara dan kondisi sejarah. Minat baru ini—yang muncul hari ini terhadap pertimbangan-pertimbangan yang Marx tidak pernah kirimkan kepada Zasulich dan dalam ide-ide serupa yang terekspresikan dengan lebih jelas dalam tahun-tahun terakhir hidup Marx—dimotori oleh konsepsi mengenai masyarakat pasca-kapitalis yang amat jauh dari pemahaman tentang sosialisme berkekuatan produksi—konsepsi yang mengandung nada nasionalis dan simpati pada kolonialisme, yang memengaruhi Internasional Kedua dan partai-partai sosial-demokratik. Ide-ide Marx juga sangat berbeda dengan “metode ilmiah” tentang analisis sosial yang berkembang di Uni Soviet dan satelit-satelitnya.


Meskipun kondisi kesehatan Marx yang buruk sudah menjadi pengetahuan umum, tetap menyakitkan rasanya waktu membaca bab terakhir The Last Years of Karl Marx di mana Anda menceritakan kondisinya yang memburuk. Biografi-biografi intelektual tentang Marx perlu menghubungkan kehidupan dan aktivitas politiknya dengan pemikirannya; namun bagaimana dengan periode belakangan ketika Marx makin tidak aktif karena kondisinya melemah? Bagaimana Anda mendekati periode tersebut sebagai seseorang yang menulis biografi intelektual?

Salah satu pakar Marx terbaik dari yang pernah ada, Maximilien Rubel (1905-1996), pengarang buku Karl Marx: essai de biographie intellectuelle (1957), berargumen bahwa untuk bisa menulis tentang Marx, seseorang harus sedikit menjadi filsuf, sejarawan, ekonom, dan sosiolog pada saat yang sama. Saya mau menambahkan bahwa dengan menulis biografi Marx, seseorang belajar banyak tentang ilmu kedokteran juga. Sepanjang kehidupan dewasanya, Marx berurusan dengan sejumlah masalah kesehatan. Yang paling lama adalah infeksi di kulit yang menemaninya selama penulisan Capital dan termanifestasi dalam nanah dan bisul pada berbagai bagian tubuhnya. Karena alasan inilah, ketika Marx menyelesaikan magnum opus-nya, ia menulis: “Saya harap kaum borjuasi akan mengingat bisul-bisulku hingga akhir hayat mereka!”

Dua tahun terakhir kehidupannya terbilang sulit. Marx amat berduka karena kehilangan istri dan putri sulungnya. Ia juga mengalami radang tenggorokan kronis yang seringkali berkembang menjadi radang paru-paru. Ia berusaha—dan berakhir dengan kesia-siaan—menemukan tempat dengan iklim cocok agar kondisinya membaik. Ia bahkan menjelajahi Inggris seorang sendiri, ke Prancis, dan bahkan ke Aljazair, di mana ia memulai satu periode panjang pengobatan. Aspek paling menarik dari bagian biografi Marx ini adalah kebijaksanaannya, selalu diikuti dengan ironi, yang ia demonstrasikan sewaktu menghadapi kerapuhan tubuhnya. Surat-surat yang ia tuliskan pada putri-putrinya dan kepada Engels, ketika ia merasa bahwa ia telah mencapai ujung jalan kehidupan, menunjukkan sisi intimnya. Surat-surat ini menunjukkan nilai penting apa yang ia sebut sebagai “dunia mikroskopik”, yang dimulai dengan perhatian mendalam Marx terhadap cucu-cucunya. Dunia mikroskopik ini juga menunjukkan seseorang yang telah lama dan intens mengarungi kehidupan dan kini mengevaluasi segala aspeknya.

Para penulis biografi harus memperhitungkan penderitaan-penderitaan Marx di ranah privat, khususnya ketika perihal ini relevan untuk memahami lebih baik lagi kesulitan-kesulitan di balik penulisan buku, atau alasan-alasan mengapa suatu naskah tidak selesai. Namun, para penulis juga harus tahu pada titik mana mereka harus berhenti dan mengabaikan pandangan yang secara khusus tertuju pada urusan-urusan pribadi Marx.


Ada begitu banyak isi pemikiran Marx yang termuat dalam surat-surat dan naskah-naskah yang tak selesai. Haruskah kita memberikan status yang sama pada tulisan-tulisan ini dengan tulisan-tulisan lain Marx yang lebih mapan? Ketika Anda berargumen bahwa tulisan Marx “secara esensial belum tuntas”, apakah Anda punya bayangan seperti ini?

Capital tetaplah tidak tuntas karena kemiskinan yang menggerogoti Marx selama dua dekade kehidupannya dan karena kondisi kesehatannya yang buruk terkait kecemasan sehari-hari. Jelas bahwa tugas yang ia bebankan pada dirinya sendiri – memahami corak produksi kapitalis dalam keadaan idealnya dan mendeskripsikan kecenderungan-kecenderungan umum perkembangannya – luar biasa sulit untuk dicapai. Namun Capital bukanlah satu-satunya proyek yang tidak tuntas. Kritik tanpa ampun yang Marx terapkan pada dirinya sendiri menambahkan kesulita, dan lamanya waktu yang ia habiskan untuk banyak proyek yang hendak ia terbitkan disebabkan oleh ketelitian ekstrem yang ia terapkan pada seluruh pemikirannya.

Ketika Marx masih muda, ia dikenal di antara teman-teman kampusnya karena kecermatannya. Ada kisah-kisah yang menggambarkannya sebagai sosok yang menolak untuk menuliskan sebuah kalimat jika ia tidak mampu membuktikannya dengan sepuluh cara yang berbeda. Inilah alasan mengapa intelektual muda yang sebenarnya paling produktif di kalangan Hegelian Kiri ini menerbitkan lebih sedikit karya dibandingkan banyak anggota lainnya. Keyakinan Marx bahwa informasi yang dimilikinya masih belum cukup, dan penilaiannya belum masak, menghalanginya untuk menerbitkan tulisan-tulisan yang berakhir sebagai catatan garis besar atau fragmen-fragmen. Namun ini juga menjadi alasan mengapa catatan-catatannya sangatlah bermanfaat dan patut dipertimbangkan sebagai bagian integral dari karya lengkapnya. Hasil jerih lelahnya ini memiliki banyak dampak teoretik yang luar biasa di kemudian hari.

Ini bukan berarti bahwa tulisan-tulisannya yang belum kelar tersebut memiliki bobot yang sama dengan yang telah diterbitkan. Saya akan membedakan lima tipe tulisannya: karya yang telah terbit, naskah-naskah persiapan, artikel-artikel jurnalistik, surat-surat, dan buku-buku catatan. Namun ada pembedaan juga yang harus diterapkan pada kategori-kategori ini. Beberapa tulisan Marx yang diterbitkan tidak boleh dianggap sebagai representasi pandangan finalnya mengenai isu yang dibahas. Misalnya, Manifesto of the Communist Party dianggap Engels dan Marx sebagai dokumen sejarah dari masa muda mereka, dan bukan sebagai naskah definitif yang memuat konsepsi-konsepsi politik utama mereka. Perlu diingat juga bahwa tulisan-tulisan propaganda politik dan saintifik seringkali tidak dapat digabungkan. Sayangnya, kesalahan-kesalahan semacam ini sangat sering muncul dalam literatur sekunder tentang Marx. Belum lagi absennya dimensi kronologis dalam banyak upaya merekonstruksi pemikirannya. Tulisan-tulisan dari 1840an tidak dapat dikutip begitu saja bersama dengan tulisan-tulisan dari 1860an dan 1870an, karena mereka tidak mengandung bobot pengetahuan ilmiah dan pengalaman politik yang sama. Beberapa naskah ditulis oleh Marx hanya untuk dirinya sendiri, sementara naskah-naskah lain adalah materi-materi persiapan untuk buku-buku yang hendak diterbitkan. Beberapa di antaranya direvisi dan diperbarui oleh Marx, sementara yang lainnya ditinggal begitu saja (dalam kategori ini ada jilid III Capital). Beberapa artikel jurnalistik mengandung pertimbangan-pertimbangan yang dapat dianggap sebagai karya final Marx. Namun beberapa yang lainnya ditulis secara tergesa-gesa demi mendapatkan uang untuk membayar sewa tempat tinggal. Beberapa surat mencakup pandangan-pandangan otentik Marx mengenai isu-isu yang didiskusikan. Beberapa yang lainnya hanya mengandung versi yang diperhalus, karena ditujukan pada orang-orang di luar lingkaran pergaulannya, sehingga penting untuk mengekspresikan pandangannya secara diplomatis. Karena semua alasan ini, menjadi jelas bahwa pemahaman yang baik mengenai kehidupan Marx amatlah krusial dalam upaya untuk memahami gagasan-gagasannya secara tepat. Akhirnya, ada lebih dari 200 buku catatan yang mengandung rangkuman-rangkuman (dan kadang-kadang komentar) dari buku-buku terpenting yang dibaca Marx sepanjang 1838 hingga 1882. Buku-buku catatan ini penting untuk memahami asal-usul kelahiran teorinya dan unsur-unsur yang tidak mampu atau belum sempat ia kembangkan.

Ide-ide yang dipikirkan oleh Marx dalam tahun-tahun terakhir kehidupannya ini terutama termuat dalam buku-buku catatan ini. Buku-buku catatan tersebut memang sulit sekali untuk dibaca, namun mereka memberikan kepada kita akses pada harta karun yang amat berharga: bukan hanya penelitian yang Marx tuntaskan sebelum kematiannya, namun juga pertanyaan-pertanyaan yang ia ajukan pada dirinya sendiri. Beberapa keraguannya mungkin malah lebih bermanfaat bagi kita hari ini daripada keyakinannya.

 

Categories
Interviews

Merayakan Marx Tua: Wawancara Marcello Musto (Bagian I)

TAHUN-TAHUN terakhir kehidupan Karl Marx seringkali diabaikan karena dianggap sebagai periode kemunduran fisik dan intelektual. Namun sejatinya, pemikiran Marx tetaplah hidup hingga akhir hayat karena tanggapan-tanggapannya atas berbagai persoalan politik masih relevan bagi kita hingga hari ini.

Pemikiran Marx tua adalah tema dari karya Marcello Musto yang baru terbit, The Last Years of Karl Marx. Di dalam buku itu, Musto dengan handal merajut detail biografis yang kaya pembacaan seksama atas tulisan-tulisan Marx tua yang seringkali diliputi nada keraguan. Editor Jacobin, Nicolas Allen, bercakap-cakap dengan Musto mengenai kompleksitas studi atas tahun-tahun terakhir kehidupan Marx, tentang mengapa keraguan-keraguan Marx tua lebih bermanfaat bagi kita hari ini alih-alih klaim-klaim penuh keyakinan yang ia buat semasa muda. Wawancara ini adalah bagian pertama. Bagian kedua bisa dilihat di sini.


Nicolas Allen (NA): Khususnya tiga tahun terakhir kehidupan Marx pada 1880-an, “Marx tua” yang menjadi tema tulisan anda, seringkali diabaikan oleh kaum Marxis dan ahli Marx. Selain fakta bahwa Marx tidak menerbitkan karya besar pada tahun-tahun itu, menurut Anda mengapa perhatian pada periode tersebut terbilang kurang?

Marcello Musto (MM): Semua biografi intelektual Marx yang terbit hingga hari ini sedikit sekali menyoroti dekade terakhir kehidupannya; umumnya mereka hanya menyuguhkan beberapa halaman tentang aktivitas Marx setelah bubarnya International Working Men’s Association pada 1872. Bukan kebetulan kalau para peneliti ini hampir selalu menggunakan sebutan “dekade terakhir” untuk bagian yang sangat pendek dalam buku-buku mereka ini. Keterbatasan ini bisa dimaklumi untuk para penulis seperti Franz Mehring (1846-1919), Karl Vorländer (1860-1928), dan David Ryazanov (1870-1938), yang menulis biografi Marx pada masa antara dua perang dunia, dan hanya bisa fokus ke sejumlah naskah yang belum diterbitkan. Namun, masalahnya lebih kompleks bagi karya-karya yang muncul setelah masa pergolakan tersebut.

Dua tulisan Marx yang paling dikenal – Economic and Philosophic Manuscripts of 1844 dan The German Ideology (1845-46), keduanya sama-sama belum dituntaskan – diterbitkan pada 1932 dan mulai beredar pada paruh kedua 1940-an. Mengingat Perang Dunia II menerbitkan perasaan cemas akibat kebrutalan Nazi sehingga aliran-aliran filsafat seperti eksistensialisme meraup popularitas, maka tema tentang kondisi individu dalam masyarakat pun naik ke permukaan. Ini menciptakan kondisi sempurna bagi naiknya minat terhadap ide-ide filosofis Marx, seperti keterasingan dan hakikat manusia. Sama seperti kebanyakan karya yang lahir dari dunia akademik, biografi-biografi Marx yang terbit dalam periode ini mencerminkan semangat zamannya (Zeitgeist) dan memberi penekanan pada tulisan-tulisan Marx sewaktu muda. Banyak buku dari 1960-an dan 1970-an yang mengklaim isinya sebagai pengantar pemikiran Marx secara keseluruhan, namun sejatinya cuma fokus pada periode 1843-1848, zaman ketika Marx baru berusia tiga puluh tahun pada waktu penerbitan Manifesto of the Communist Party (1848).

Dalam konteks ini, bukan hanya dekade terakhir kehidupan Marx yang dikesampingkan, namun Capital sendiri juga digeser ke posisi sekunder. Sosiolog liberal Raymond Aron secara tepat menggambarkan sikap ini dalam buku D’une Sainte Famille à l’autre. Essais sur les marxismes imaginaires (1969). Di buku itu ia mengolok-olok betapa kaum Marxis di Paris sepintas saja membaca Capital, karya utama Marx dan hasil dari kerjanya selama bertahun-tahun. Mereka lebih terpikat pada Economic and Philosophic Manuscripts of 1844.

Kita bisa bilang bahwa mitos “Marx Muda” adalah kesalahpahaman utama dalam sejarah studi Marx. Mitos ini dipopulerkan salah satunya oleh Louis Althusser dan mereka yang menyatakan bahwa Marx muda tidak patut dianggap bagian dari Marxisme. Marx tidak menerbitkan karya apapun yang bakal ia anggap sebagai karya “utama” dalam paruh pertama tahun 1840-an. Misalnya, seseorang harus membaca pidato-pidato Marx dan resolusi-resolusinya untuk International Working Men’s Association, jika hendak memahami pemikiran politiknya, bukannya malah membaca artikel-artikel jurnal dari 1844 yang muncul di German-French Yearbook. Bahkan ketika kita menganalisis naskah-naskahnya yang belum tuntas seperti Grundrisse (1857-58) ataupun Theories of Surplus-Value (1862-63), akan tampak bahwa naskah-naskah ini lebih signifikan bagi Marx sendiri ketimbang kritik atas neo-Hegelianisme di Jerman yang “ditinggalkan untuk kritik yang seperti gigitan tikus” pada 1846. Tren untuk memberikan penekanan berlebih pada tulisan-tulisan Marx waktu muda tidak banyak berubah sejak keruntuhan Tembok Berlin. Biografi-biografi yang lebih baru juga tetap mengabaikan periode [Marx tua] ini – meski telah muncul penerbitan naskah-naskah baru Marx dalam Marx-Engels-Gesamtausgabe (MEGA²), edisi historis-kritis dari karya lengkap Marx dan Friedrich Engels (1820-1895) yang dilanjutkan pada 1998, dan beberapa studi berboot tentang fase terakhir produksi intelektual Marx.

Alasan lain dari pengabaian ini adalah kerumitan luar biasa pada studi-studi yang dikerjakan oleh Marx di akhir hayatnya. Lebih gampang menulis tentang mahasiswa bau kencur dari kelompok Hegelian Kiri ketimbang mencoba memahami kerumitan naskah-naskah dengan ragam minat intelektual dari awal 1880-an yang ditulis dalam berbagai bahasa; inilah yang mungkin menghambat kemajuan pemahaman tentang capaian-capaian penting Marx. Terlalu banyak penulis biografi dan ahli Marx yang gagal untuk melihat lebih dalam pada apa yang sebenarnya ia kerjakan pada masa itu karena mereka secara keliru menganggap Marx tidak lagi melanjutkan kerja intelektualnya dan menggambarkan sepuluh tahun terakhir kehidupan Marx sebagai “penderitaan yang memuncak secara perlahan,”


Dalam film baru Miss Marx, ada adegan yang muncul segera setelah penguburan Marx yang menunjukkan bagaimana Engels dan Eleanor, putri bungsu Marx, membuka-buka naskah-naskah di meja kerja Marx. Engels memeriksa satu makalah dan mengomentari minat Marx tua terhadap persamaan diferensial. The Last Years of Karl Marx kelihatannya memberikan kesan bahwa pada tahun-tahun terakhir kehidupannya, cakupan minat Marx lebih luas daripada sebelumnya. Apakah ada garis panduan yang menghubungkan bermacam-macam topik yang digelutinya seperti antropologi, ekologi, matematika, sejarah, gender, dan lain-lain?

Sebelum meninggal, Marx berpesan pada Eleanor untuk mengingatkan Engels agar ia “melakukan sesuatu” terhadap naskah-naskahnya yang belum tuntas. Sebagaimana yang kita tahu, selama dua belas tahun akhir kehidupan Engels sejak Marx meninggal, ia mengambilalih tugas maha berat memeriksa dan mengirim jilid II dan III Capital ke percetakan. Dua karya ini dikerjakan Marx sejak pertengahan 1860-an hingga 1881, namun gagal diselesaikan. Teks-teks lain yang ditulis oleh Engels sendiri, setelah Marx meninggal pada 1883, secara tidak langsung memenuhi permintaan Marx dan terkait erat dengan riset-riset yang ia kerjakan selama tahun-tahun terakhir kehidupannya. Misalnya, Origins of the Family, Private Property, and the State (1884) disebut-sebut oleh penulisnya sebagai “eksekusi wasiat” dan terinspirasi oleh riset Marx tentang antropologi, sebagaimana tampak dalam bagian-bagian yang ia salin pada 1881 dari Ancient Society (1877) karya Henry Morgan (1818-1881) dan komentar-komentar yang ia tambahkan pada rangkuman buku tersebut.

Tidak ada garis panduan tunggal yang dapat menjelaskan tahun-tahun terakhir penelitian Marx. Beberapa studinya semata-mata muncul dari penemuan-penemuan ilmiah terbaru (ia tak mau ketinggalan) , atau dari peristiwa-peristiwa politik yang dianggapnya penting. Sebelumnya Marx telah memahami bahwa tingkat emansipasi suatu masyarakat bergantung pada tingkat emansipasi perempuan. Namun, ia baru punya kesempatan untuk menganalisis penindasan gender dengan lebih mendalam berkat kemunculan studi-studi antropologi pada 1880-an. Dibandingkan dua dekade sebelumnya, Marx kurang mencurahkan perhatian untuk isu-isu ekologis. Namun, di sisi lain ia sekali lagi menenggelamkan diri dalam tema-tema sejarah. Di antara musim gugur 1879 dan musim panas 1880, ia mengisi buku catatan berjudul Notes on Indian History (664-1858). Sementara itu, antara musim gugur 1881 dan musim dingin 1882, ia menggarap secara intensif Chronological Extracts, pembabakan sejarah beranotasi per tahun sepanjang 550 halaman yang dikerjakan dengan tulisan tangan yang lebih kecil daripada biasanya. Catatan ini mencakup rangkuman peristiwa-peristiwa dunia dari abad pertama sebelum masehi hingga Perang Tiga Puluh Tahun pada 1648. Di situ ia merangkum sebab-sebab dan ciri-ciri utamanya. Mungkin saja Marx hendak menguji apakah konsepsi-konsepsinya punya dasar yang kuat dalam konteks perkembangan-perkembangan penting di bidang politik, militer, ekonomi, dan teknologi pada masa-masa sebelumnya. Yang jelas, kita harus ingat bahwa ketika Marx mengerjakan semua ini, ia sangat menyadari kondisi kesehatannya yang lemah menjadi penghalang untuk menuntaskan jilid kedua Capital. Ia berharap mampu menyelesaikan koreksi untuk edisi ketiga dalam bahasa Jerman dari jilid pertama. Namun tetap saja ia tidak berdaya mengerjakan itu.

Namun, saya tidak akan mengatakan bahwa topik-topik penelitian selama tahun-tahun terakhir kehidupan Marx lebih luas dari sebelumnya. Mungkin keluasan cakupan riset Marx lebih tampak jelas dalam periode ini karena tidak dilakukan secara paralel dengan penulisan buku atau naskah-naskah persiapan yang signifikan. Akan tetapi, beberapa ribu halaman catatan yang disusun oleh Marx dalam delapan bahasa, sejak ia masih mahasiswa, mulai dari tentang filsafat, seni, sejarah, agama, politik, hukum, sastra, ekonomi-politik, hubungan internasional, teknologi, matematika, fisiologi, geologi, mineralogi, agronomi, antropologi, kimia, dan fisika, menjadi saksi rasa haus Marx akan pengetahuan dalam beragam disiplin ilmu. Yang mengejutkan, Marx tidak mampu meninggalkan kebiasaan ini, bahkan di saat kondisi fisiknya merosot. Rasa ingin tahu Marx yang besar dan semangat otokritiknya mengalahkan pertimbangan bahwa ia harus mengelola karya-karyanya dengan lebih “bijak” dan fokus.

Namun, obrolan seputar “apa yang seharusnya Marx lakukan” biasanya lahir dari orang-orang ‘sakit’ yang berharap Marx menjadi individu yang tak mengerjakan apapun kecuali menulis Capital – bahkan tidak membela diri di tengah kontroversi-kontroversi politik yang melibatkannya. Marx tetaplah seorang manusia, meski pernah menyebut dirinya “mesin yang dikutuk untuk melahap buku lalu membuangnya ke tumpukan tahi sejarah”. Minat Marx pada matematika dan kalkulus diferensial, misalnya, bermula sebagai stimulus intelektual saat menjajaki metode analisis sosial. Kelak minat ini malah menjadi klangenan, pelarian di masa-masa sulit, “kesibukan untuk menjaga ketenangan pikiran,” sebagaimana ia ceritakan pada Engels.


Studi-studi sebelumnya tentang tulisan-tulisan Marx tua cenderung berfokus pada riset Marx tentang masyarakat non-Eropa. Dengan mengakui bahwa ada be rbagaijalur perkembangan masyarakat di luar “model Barat”, sebagaimana yang diyakini Marx juga, tepatkah jika kita mengatakan bahwa Marx menggeser posisinya menjadi Marx yang “non-Eurosentris” seperti yang diklaim oleh beberapa penafsir? Ataukah lebih akurat jika apa yang dilakukan Marx adalah penegasan bahwa karyanya tidak pernah dimaksudkan untuk diterapkan begitu saja tanpa pertama-tama memperhatikan realitas konkret masyarakat-masyarakat yang secara historis berbeda?

Kunci pertama dan terutama untuk memahami minat geografis yang luas dalam riset Marx pada dekade terakhir kehidupannya terletak pada rencananya untuk menyiapkan penjelasan yang lebih solid tentang dinamika corak produksi kapitalis dalam skala global. Inggris adalah objek pengamatan utama dalam Capital, Volume I; setelah penerbitan volume tersebut, Marx hendak memperluas riset-riset sosio-ekonomi dalam dua jilid Capital yang akan ditulisnya. Alasan inilah yang membuat Marx memutuskan untuk belajar bahasa Rusia pada 1870 dan terus membutuhkan literatur dan statistik tentang Rusia dan Amerika Serikat. Ia percaya bahwa analisis tentang perubahan ekonomi di negara-negara tersebut akan sangat berguna untuk memahami kemungkinan bentuk-bentuk perkembangan kapitalisme dalam periode dan konteks yang berbeda-beda. Unsur krusial ini diabaikan dalam literatur sekunder mengenai topik – yang sekarang ini trendi – “Marx dan Eurosentrisme.”

Pertanyaan kunci lainnya dalam riset Marx mengenai masyarakat-masyarakat non-Eropa adalah apakah kapitalisme adalah prasyarat mutlak bagi kelahiran masyarakat komunis dan pada titik mana masyarakat komunis ini harus berkembang secara internasional. Konsepsi multilinear yang dipegang Marx pada tahun-tahun terakhir hidupnya, membuatnya lebih memperhatikan kekhasan sejarah dan ketimpangan perkembangan ekonomi dan politik di berbagai negara dan konteks sosial. Marx menjadi sangat skeptis mengenai transfer kategori-kategori penafsiran di antara konteks yang sangat berbeda secara historis dan geografis. Sebagaimana yang ditulis Marx, ia juga menyadari bahwa “peristiwa-peristiwa yang sangat mirip, yang terjadi di konteks historis yang berbeda, mengarah pada hasil yang sangat berbeda.” Pendekatan ini jelas menambah kesulitan yang harus ia hadapi saat menyelesaikan Capital serta menambah persepsi dalam diri Marx bahwa karya utamanya itu takkan sempat ia tuntaskan. Tapi jelas hal ini membuka harapan-harapan revolusioner yang baru.

Tak seperti apa yang diyakini secara naif oleh beberapa penulis, Marx tidak secara tiba-tiba menyadari bahwa ia selama ini berpandangan Eurosentris, lalu mengerahkan perhatiannya pada tema-tema studi baru karena merasa perlu mengoreksi pandangan-pandangan politiknya. Ia telah lama menjadi “warga dunia,” sebagaimana Marx menyebut dirinya sendiri, dan terus mencoba untuk menganalisis perubahan ekonomi dan sosial dalam implikasi globalnya. Sebagaimana para pemikir lain yang sekaliber dengannya, Marx menyadari superioritas Eropa modern dibanding benua-benua lainnya dalam hal produksi industrial dan organisasi sosial. Namun, ia tidak pernah menganggap fakta ini sebagai faktor permanen ataupun bersifat niscaya. Dan tentu saja ia selalu menjadi musuh bebuyutan kolonialisme. Pertimbangan-pertimbangan itu semestinya jelas bagi siapapun yang membaca Marx.

Categories
Journalism

Tambang-Tambang Potosí: Lokasi Harta Karun Dunia yang Terlupakan

KEKAYAAN Potosí di Bolivia mulai dikenal di Eropa pada 1545, ketika sekelompok conquistadores (pasukan penakluk) dari Spanyol bermukim di sana untuk mengeksploitasi harta karun terpendam. Kota itu kemudian berkembang pesat sehingga dalam kurun waktu 80 tahun sejak didirikan, populasinya mencapai 160 ribu jiwa, mengalahkan jumlah penduduk Paris, Roma, London, atau Sevilla.

Nama Potosí akhirnya tersohor di seluruh dunia. Diperkirakan sekitar 50 ribu ton perak telah disedot dari sana – cukup untuk membangun jembatan yang bisa menghubungkan kota itu dengan Spanyol. Tambang perak terbesar di dunia itu memproduksi logam dalam jumlah raksasa, yang diangkut dengan rombongan llama menuju pesisir Chile, sebelum dipindahkan ke kapal-kapal Iberia. Bagi kaum ningrat Potosí, segalanya terbuat dari perak dan nama daerah tersebut menjadi ungkapan bagi kemewahan: “it’s worth a Potosí“, tulis Miguël de Cervantes dalam Don Quixote. Artinya: senilai dengan sekian perak.

Namun, para penduduk asli Potosí diperbudak. Ketika kondisi-kondisi tak manusiawi mulai membunuh puluhan ribu penduduk asli, para penjajah mengimpor budak-budak baru dari Afrika, yang jumlahnya lebih dari 30 ribu orang. Jumlah total mereka yang mati di tambang-tambang tersebut tak dapat dihitung secara persis. Yang jelas, ‘peradaban Eropa’ telah mengundang genosida dan penjarahan.

Setelah dua abad eksploitasi, perak Potosí mulai habis. Mereka yang dapat meninggalkan Potosí dan area sekitarnya menghilang. Pada 1987, kota tersebut dideklarasikan sebagai situs warisan dunia UNESCO. Namun – seperti yang ditulis Eduardo Galeano dalam Open Veins of Latin America – yang tertinggal di sana hanyalah bayang-bayang kekayaan dari masa lalu.

Gunung Pemakan Manusia
Di jalan-jalan Potosí Anda akan menyadari keberadaan gunung raksasa yang tingginya nyaris mencapai 4800 meter. Namanya Cerro Rico, sang gunung pemakan manusia. Di Gunung yang besar, kemerah-merahan, dan penuh bintik-bintik itu, tampak dari jauh orang-orang yang bergegas untuk mencabik-cabiknya, beserta truk-truk yang naik dan turun untuk mengangkut batu-batuan berharga dari sana.

Wilayah atas kota ini adalah tempat para pekerja terkonsentrasi. Sekitar 6.000 pekerja tambang – jumlahnya bergantung pada harga logam di pasar global – bermukim di dekat puncak gunung dan menyandarkan hidupnya pada perak, juga seng, tembaga, dan timah, yang masih tersedia di sana. Mereka bekerja layaknya tukang, dengan peralatan-peralatan kasar dan pengetahuan yang diwariskan secara turun-temurun. Pekerjaan mereka mungkin yang paling parah di dunia. Bukan hanya melelahkan, tetapi juga mematikan. Mereka bisa mati sewaktu-waktu karena keadaan yang tidak aman. Walhasil, pekerja-pekerja ini berserah pada Tio, sosok ilahiah tempat mereka mengharapkan perlindungan dan kemujuran. Namun, pada akhirnya mereka tetap akan mati pelan-pelan, karena di rahang gunung tersebut, setiap hela napas mendekatkan mereka pada silicosis.

Perempuan tidak diizinkan untuk memasuki bagian dalam gunung. Hanya palliras yang diperbolehkan untuk naik ke sana, yaitu janda-janda para pekerja tambang yang memiliki hak untuk mengumpulkan batu-batuan yang kadang-kadang jatuh dari gerobak-gerobak yang beroperasi antara pintu masuk tambang dengan deretan truk. Mereka bertemu di pasar dan bersama dengan para pekerja lain berbelanja barang kebutuhan pokok, yakni daun koka yang penting untuk kerja sehari penuh di ketinggian, rokok linting yang mengandung kayu putih untuk menolong pernapasan, serta alkohol murni (96°) yang mereka minum pada jam istirahat agar dapat bertahan dalam kondisi-kondisi ekstrem.

Gerbang Menuju Neraka
Dengan didampingi oleh pemandu dan sekelompok pekerja tambang, saya mengunjungi beberapa lubang yang selama berabad-abad menganga di Cerro Rico. Meski di luar lubang cuacanya panas, suhu udara segera turun di bawah nol derajat setelah masuk beberapa ratus meter. Beberapa stalaktit membuat jalurnya sulit dilalui. Sementara itu, di beberapa titik ada genangan air setinggi pergelangan kaki yang merembes ke dalam sepatu bot. Jalur-jalur yang mudah dilewati silih berganti dengan jalur-jalur yang membuat kami nyaris harus berjalan dengan lutut karena terowongan yang tingginya sedikit di atas 1 meter itu semakin mengecil dan menyempit. Jika Anda berhenti di sini, rasa panik akan menguasai. Di luar sinar lampu helm yang temaram, semuanya betul-betul gelap dan sunyi. Sesekali kesunyian dipecahkan oleh gerobak yang mengangkut 1 ton atau lebih mineral tambang; roda-rodanya nyaris tidak dapat diperbaiki lagi sehingga butuh empat orang untuk mendorongnya. Jika hal ini terjadi, Anda harus lebih hati-hati dan merapat ke dinding agar mereka bisa lewat.

Kami terus maju. Beberapa menit kemudian, suhu udara tiba-tiba naik mencapai sekitar 40 derajat Celsius – perubahan mendadak yang menyiksa. Permukaan yang kami injak tidak lagi basah dan mengering. Kurangnya oksigen membuat napas kami sesak. Debu berhamburan: memasuki tenggorokan, paru-paru, dan mata. Anda harus terus berjalan sekian belas meter lagi, di mana suara di sekitar teramat bising. Di sinilah para pengebor bekerja. Pekerjaan mereka adalah yang terberat: harus mengebor dinding dan merobeknya dengan dinamit buatan sendiri. Mereka bekerja dengan nyaris telanjang, dalam kondisi paling menyedihkan. Beberapa menggunakan lift untuk turun sejauh 240 meter ke dalam lorong-lorong sempit mencari seng dan timah, sambil berharap untuk meraup bahan-bahan tersebut sebanyak mungkin, demi memperoleh upah mingguan.

Ini perjalanan panjang. Udara dingin merasuk ke dalam tulang. Ketika cahaya akhirnya tampak di kejauhan, ia tampak seperti kembalinya kehidupan. Rasanya begitu lama kami berjalan, padahal baru tiga jam. Sementara itu para mineros (pekerja tambang) lain berdatangan untuk menggantikan rombongan sebelumnya. Ketika melihat wajah-wajah mereka yang ramah namun dibuat keras oleh keadaan, Anda tidak dapat membayangkan bagaimana mungkin mereka menghabiskan setiap hari selama 30 tahun di neraka ini.

Ekonomi Semi-Kolonial
Dalam beberapa dekade terakhir, jumlah pekerja tambang Bolivia telah merosot drastis; angkanya kini 70 ribu, hanya 1,5 persen dari populasi dengan usia produktif. Namun, mereka memproduksi 25 persen ekspor negara ini dan 300 ribu orang lainnya mendapat pekerjaan dari sektor-sektor terkait, seperti transportasi, permesinan, dan perdagangan. Mengingat bahwa mereka juga merupakan salah satu lapisan proletar yang paling agresif di Amerika Latin, jelaslah bahwa posisi mereka masih sentral dalam kehidupan sosial-ekonomi negara termiskin di kawasan tersebut.

Meski Bolivia adalah produsen perak dan timah terbesar ketujuh di dunia, ekonominya masih ditandai oleh minimnya sarana-sarana penghidupan. Sekitar 90 persen pekerja tambangnya bekerja dalam korporasi tanpa perlindungan kerja dan jaminan sosial, namun hanya mengambil bagian dalam 20 persen dari seluruh kerja penambangan. Pasalnya, sektor ini didominasi oleh perusahaan-perusahaan multinasional: korporasi San Cristóbal asal Jepang bukan hanya mengontrol 85 persen pasar timah, tapi juga (bersama perusahaan Sinchi Wayra dari Swiss) 85 persen seng dan (lagi-lagi bersama Sinchi Warya dan perusahaan Panamerican Silver dari Amerika Serikat) 75 persen penambangan perak.

Keberadaan mereka tidak membawa perbaikan – lihat fakta bahwa sebagian besar tambang yang digunakan hari ini adalah tambang-tambang yang sama dengan yang digunakan di zaman kolonial. Tidak ada perubahan juga di level infrastruktur, karena mineral-mineral tambang masih diangkut dengan sistem kereta api dari tahun 1892. Kemajuan dalam otonomi nasional juga terbilang minim: Bolivia hanya mengolah sebagian kecil perak dan timahnya, sementara untuk seng malah sama sekali tidak. Ia harus membatasi diri pada ekspor bahan-bahan mentah dan mengirimkannya ke negara-negara di mana perusahaan-perusahaan multinasional yang mengontrol pasar bermarkas. Hanya sebagian kecil dari jutaan dolar pemasukan dari sektor ini yang disisakan untuk Bolivia. Korporasi-korporasi asing hanya membayar 8 persen pajak – angka yang jauh lebih rendah daripada 56 persen yang sebelumnya dibayarkan oleh BUMN Comibol, namun juga masih lebih rendah daripada 13,5 persen yang disetorkan oleh ‘baron-baron timah’ yang tersohor di tahun 1930-an.

Melihat kenyataan ini, dan mempertimbangkan kerusakan lingkungan serta perampasan sumber-sumber daya tak terbarukan, ada harapan Bolivia bergerak tanpa ragu mengejar nasionalisasi, demi mengakhiri ekonomi semi-kolonial dan memasuki fase modernisasi yang ramah lingkungan—dengan sikap hormat pada masyarakat adat yang hidup di wilayahnya.

Categories
Journalism

Jalan Terjal Komune Paris (Bagian II)

Perjuangan kolektif dan feminis
Kumone Paris lebih dari sekadar aksi-aksi yang disetujui oleh dewan legislatifnya.

Ia bahkan menata kembali ruang perkotaan, seperti nampak dalam keputusan untuk menghancurkan Pilar Vendôme, yang dianggap monumen barbarisme dan simbol perang. Komune Paris juga menerapkan kebijakan sekularisasi pada beberapa tempat ibadah dengan menyerahkannya kepada masyarakat.

Komune terus berjalan berkat tingkat partisipasi massa yang luar biasa dan semangat gotong-royong yang kuat. Dalam atmosfer penolakan terhadap otoritas, klub-klub revolusioner yang menjamur di hampir seluruh arrondisement memainkan peranan penting. Setidaknya ada 28 klub yang menyuguhkan salah satu contoh terbaik mobilisasi spontan. Dibuka setiap petang, klub-klub ini menawarkan ruang bagi para penduduk untuk bersua usai jam kerja dan leluasa mendiskusikan situasi sosial dan politik, memeriksa capaian wakil-wakil mereka, dan mengusulkan cara-cara alternatif untuk menyelesaikan masalah sehari-hari. Klub-klub ini adalah perkumpulan dengan struktur horizontal yang menopang pembentukan kedaulatan rakyat sekaligus menjadi corongnya. Klub-klub ini juga penciptaan ruang-ruang persaudaraan sejati di mana semua orang menjadi tuan bagi nasibnya sendiri.

Arah cita-cita emansipasi ini tidak memberikan tempat bagi diskriminasi berdasarkan status kebangsaan. Status kewargaan berlaku bagi siapapun yang berjuang bagi perkembangan Komune. Orang asing menikmati hak-hak sosial yang sama dengan orang Prancis. Prinsip kesetaraan ini terbukti dalam peranan penting 3.000 orang asing yang aktif dalam Komune. Leo Frankel, anggota Asosiasi Pekerja Internasional dari Hongaria, tak hanya terpilih untuk menduduki kursi di Dewan Komune, namun juga menjabat sebagai “menteri” perburuhan—salah satu posisi kunci. Demikian pula Jaroslaw Dombrowski dan Walery Wroblewski dari Polandia yang menempati posisi perwira tinggi di pucuk pimpinan Garda Nasional.

Meski belum mendapatkan hak untuk memilih ataupun untuk duduk di Dewan Komune, kaum perempuan punya peran penting dalam kritik-kritik terhadap tatanan sosial yang ada. Dalam banyak kasus, kaum perempuan mematahkan norma-norma masyarakat borjuis dan membentuk identitas baru yang berlawanan dengan nilai-nilai keluarga patriarkal; mereka keluar dari kekangan domestik untuk kemudian terlibat di ruang-ruang publik. Serikat Perempuan untuk Pertahanan Paris dan Perawatan Korban Luka–yang kelahirannya berhutang banyak pada anggota Internasional I bernama Elisabeth Dmitrieff–berperan penting menandai arena-arena strategis perjuangan sosial. Kaum perempuan berhasil menutup rumah-rumah bordil berlisensi, menggolkan penyetaraan guru laki-laki dan perempuan, melambungkan slogan “gaji setara untuk kerja setara”, menuntut hak-hak yang setara dalam pernikahan dan pengakuan atas serikat-serikat independen, serta mempromosikan dewan-dewan khusus perempuan dalam serikat-serikat pekerja.

Ketika situasi keamanan memburuk pada pertengahan Mei (pasukan kontra-revolusi [Versaillais] mulai berjejer di pintu-pintu masuk kota) perempuan mengangkat senjata dan mendirikan batalion. Banyak dari mereka yang gugur di barikade. Propaganda borjuis menjelek-jelekkan mereka, menjuluki para perempuan ini les pétroleuses (tukang bakar rumah), dan melayangkan tuduhan bahwa mereka bersiap membakar seisi kota dalam aksi-aksi perang jalanan.

Sentralisasi atau desentralisasi?
Demokrasi sejati yang hendak ditegakkan oleh kaum Komune adalah proyek ambisius nan sulit. Kedaulatan rakyat membutuhkan partisipasi warga sebesar-besarnya. Sejak Maret, komisi sentral, komite lokal, klub revolusioner, dan batalion menjamur di Paris, beriringan dengan dua lembaga inti yang tak kalah kompleks, yaitu Dewan Komune dan Komite Sentral Garda Nasional. Pihak yang terakhir disebut ini memegang kontrol militer dan seringkali bertindak sebagai penyeimbang kekuasaan Dewan Komune. Meski keterlibatan langsung warga adalah jaminan vital bagi perwujudan demokrasi, pelbagai otoritas yang terlibat menyulitkan proses pengambilan keputusan sampai-sampai pelaksanaan dekrit-dekrit yang telah dibuat pun menjadi berliku.

Masalah hubungan antara otoritas pusat dan badan-badan lokal juga memicu sejumlah kekacauan, yang kadang melumpuhkan kapasitas politik Komune. Keseimbangan antara kedua lembaga ini rusak pada masa darurat perang. Saat itu, di tengah ketidakefektifan pemerintahan dan ketidakdisiplinan Garda Nasional, Jules Miot mengusulkan pembentukan Komite Keselamatan Publik beranggotakan lima orang. Komite ini segaris dengan model kedikatoran Maximilien Robespierre pada 1793. Usulan Miot disetujui pada 1 Mei, dengan dukungan suara mayoritas 45 lawan 23. Langkah yang terbukti keblinger ini mengawali akhir dari eksperimen politik segar yang dihadirkan Komune.

Komune pun pecah menjadi dua blok yang berlawanan. Blok pertama, yang terdiri atas kaum neo-Jacobin dan Blanquis, condong pada konsentrasi kekuasaan. Mereka akhirnya menempatkan politik di atas perjuangan sosial. Blok kedua, yang antara lain diisi oleh mayoritas anggota International Working Men’s Association, memprioritaskan perjuangan sosial lebih di atas perjuangan politik. Bagi blok kedua, pemisahan kekuasaan adalah wajib hukumnya dan kemerdekaan politik tak boleh diganggu gugat. Dipimpin oleh Eugène Varlin, sosok yang tak kenal lelah, blok ini menolak mentah-mentah pendekatan otoriter dan tidak ikut ambil bagian dalam pemilihan anggota Komite Keselamatan Publik. Menurut mereka, sentralisasi kekuasaan di tangan segelintir orang jelas-jelas bertentangan dengan prinsip-prinsip pendirian Komune. Pasalnya, para wakil terpilih–yang asalnya dari rakyat–tidak berdaulat dan tidak memiliki hak untuk menyerahkan mandat kepada badan tertentu. Pada 21 Mei, ketika kelompok minoritas ini ikut ambil bagian lagi dalam sebuah sesi di Dewan Komune, upaya baru untuk merajut persatuan kembali muncul. Sayang, semuanya sudah terlambat.

Komune sebagai sinonim revolusi
Komune Paris akhirnya digilas habis oleh pasukan Versailles. Selama semaine sanglante, Minggu Berdarah antara 21 dan 28 Mei, sebanyak 17.000 hingga 25.000 warga Paris dibantai. Pertempuran terakhir pecah di dinding-dinding kuburan Père Lachaise. Penyair Arthur Rimbaud muda menggambarkan ibukota Prancis sebagai “kota yang berkabung, sekarat”.

Inilah pembantaian paling berdarah dalam sejarah Prancis. Hanya 6.000 orang yang berhasil kabur ke Inggris, Belgia dan Swiss. Jumlah tawanan mencapai 43.552 orang. Seratus orang di antaranya dijatuhi hukuman mati tak lama setelah diadili, sementara 13.500 lainnya dikirim ke penjara atau kamp kerja paksa, atau diasingkan ke wilayah terpencil seperti Kaledonia Baru. Beberapa dari mereka yang dibuang ke pengasingan bersolidaritas dengan tokoh-tokoh Aljazair usai revolusi anti-kolonial Mokrani. Revolusi ini pecah bersamaan dengan Komune dan sama-sama digilas pasukan Prancis.

Ketakutan akan Komune Paris semakin membuat negara menggencarkan represi terhadap gerakan sosialis di seluruh Eropa. Pers liberal dan konservatif, yang menutup mata atas kekerasan rezim Thiers, melayangkan tuduhan bahwa kaum Komune telah melakukan kejahatan luar biasa. Mereka sangat lega menyaksikan pulihnya “tatanan alamiah”, legalitas borjuis. Mereka juga sangat puas menyaksikan kemenangan “peradaban” terhadap anarki. Mereka yang berani melawan kelas penguasa beserta hak-hak istimewanya dihukum dan dijadikan contoh buruk. Para perempuan kembali diperlakukan sebagai makhluk rendahan. Kaum pekerja, dengan tangan-tangan yang kotor, kapalan, namun pernah berani memegang pemerintahan, diarak untuk kembali ke kedudukan semula. Bagi koran-koran ini, itulah kedudukan kaum pekerja yang semestinya.

Namun pergolakan di Paris terlanjur memasok energi besar bagi perjuangan kaum pekerja dan mendorong mereka melaju ke arah yang lebih radikal. Keesokan hari usai kekalahan, Eugène Pottier menuliskan sebuah lagu yang ditakdirkan menjadi ‘lagu kebangsaan’ gerakan kelas pekerja: “Kumpullah melawan / Dan [esok] Internasionale / Pastilah di dunia!”

Komune Paris menunjukkan bahwa perjuangan pekerja haruslah bercita-cita membangun masyarakat yang betuk-betul berbeda dengan kapitalisme. Bahkan jika masa-masa indah (Le Temps des cerises)* tak datang dua kali bagi para protagonisnya, Komune Paris menjadi wujud dari gagasan perubahan sosio-politik beserta penerapan praktisnya. Ia menjadi sinonim konsep revolusi itu sendiri, dengan pengalaman ontologis dari kelas pekerja. Dalam Perang Sipil di Prancis (1871), Karl Marx mengatakan bahwa “garda depan kaum proletar modern” ini telah berhasil “melekatkan kaum pekerja sedunia pada Prancis”. Komune Paris mengubah kesadaran kaum pekerja dan persepsi kolektif mereka. 150 tahun telah berlalu, namun bendera merah Komune terus berkibar dan mengingatkan kita bahwa dunia alternatif selalu mungkin tercipta. Vive la Commune!

*Mengutip judul tulisan seorang pelaku Komune bernama Jean-Baptiste Clément

Categories
Journalism

Jalan Terjal Komune Paris (Bagian I)

Kaum borjuis Prancis telah lama meraih kemenangan. Sejak revolusi 1789, mereka adalah kelompok yang meraup kekayaan, sementara kelas pekerja secara terus-terusan harus menanggung beban krisis.

Namun, proklamasi Republik Ketiga membuka horison baru dan menawarkan kesempatan perubahan. Setelah mengalami kekalahan perang di Sedan, Napoleon III ditawan Prusia pada 4 September 1870. Januari tahun berikutnya, setelah empat bulan Paris dikepung, Prancis menyerah kepada Otto van Bismarck. Sang Kanselir Prusia memaksakan pokok-pokok kesepakatan yang memberatkan sebagai syarat gencatan senjata. Pemilihan umum digelar dan Adolphe Thiers terpilih sebagai pemangku kekuasaan eksekutif, dengan dukungan kelompok-kelompok besar seperti Legitimist dan Orleanist.

Paris memanas. Kelompok-kelompok republikan radikal dan sosialis menjamur. Pemerintahan sayap kanan yang akan memelihara ketidakadilan sosial menghantui negeri. Namun, naiknya pemerintahan yang hanya akan menambah beban perang pada kaum tak berpunya dan melucuti penduduk ibukota ini justru memicu revolusi baru pada 18 Maret. Thiers dan pasukannya terpaksa minggat ke Versailles.

Perjuangan dan Pemerintahan

Untuk mengamankan legitimasi demokratik, para pemberontak Paris segera mengadakan pemilihan umum. Pada 26 Maret, mayoritas penduduk Prancis (190.000 suara melawan 40.000) menyetujui tujuan-tujuan pemberontakan, dan 70 dari 85 perwakilan terpilih mendeklarasikan dukungan kepada revolusi. Sebanyak 15 anggota representatif moderat dari parti des maires, kelompok yang terdiri atas beberapa mantan kepala arrondissements, segera mengundurkan diri dan tidak bergabung dengan dewan Komune, disusul empat orang dari kubu Radikal. Sebanyak 66 sisanya—yang tidak mudah dibedakan karena afiliasi politik ganda—mewakili spektrum posisi yang luas. Di antara mereka ada sekitar 20 orang dari kelompok republikan neo-Jacobin (termasuk Charles Delescluze dan Félix Pyat yang tersohor), selusin pengikut Auguste Blanqui, 17 anggota Asosiasi Kaum Pekerja Internasional (baik pendukung Pierre-Joseph Proudhon maupun Karl Marx, yang seringkali saling bersitegang), dan beberapa kubu independen. Mayoritas pemimpin Komune adalah kaum buruh atau representasi kelas pekerja, 14 di antaranya berasal dari Garda Nasional. Faktanya, komite sentral Garda Nasional-lah yang mempercayakan kekuasaan di tangan Komune—awal dari rangkaian ketidaksepakatan dan konflik antara kedua lembaga.

Pada 28 Maret, sejumlah besar penduduk berkumpul di sekitar Hôtel de Ville untuk berpesta merayakan dewan perwakilan baru, yang kini secara resmi bernama Komune Paris. Meski berumur tak lebih dari 72 hari, Komune Paris merupakan peristiwa politik terpenting dalam sejarah gerakan buruh abad ke-19, memantik harapan rakyat yang sudah kelelahan digerus beban hidup selama berbulan-bulan. Komite-komite dan kelompok-kelompok baru bermunculan di berbagai pemukiman untuk memberikan dukungan kepada Komune. Tiap-tiap sudut ibukota menggulirkan berbagai inisiatif solidaritas dan merencanakan pembangunan dunia baru. Montmartre berubah menjadi “benteng kebebasan”. Salah satu sentimen yang menyebar luas adalah hasrat untuk berbagi dengan orang lain. Sosok-sosok militan seperti Louise Michel menjadi teladan bagi spirit  ini (Victor Hugo menulis Michel “melakukan apa yang telah dilakoni orang-orang hebat zaman lampau. […] Ia memuliakan mereka yang remuk dan terhempas”.

Namun, ruh Komune tidak datang dari sosok pemimpin atau figur-figur karismatik alih-alih dari sisi kolektivitas yang terang benderang. Perempuan dan laki-laki berkumpul secara sukarela untuk mengerjakan proyek pembebasan untuk semua. Pemerintahan mandiri tak lagi dianggap utopia belaka. Emansipasi diri dipandang sebagai tugas yang esensial.

Transformasi Kekuatan Politik

Dua dari dekrit darurat pertama untuk memangkas kemiskinan akut parah adalah pemberhentian sewa hunian (disebutkan bahwa “properti juga harus berkorban”) dan penjualan barang di bawah 20 franc di pegadaian. Sembilan komisi kolegial juga dibentuk untuk menggantikan kementerian perang, keuangan, keamanan umum, pendidikan, penghidupan, perburuhan dan perdagangan, hubungan internasional dan pelayanan publik. Tidak lama berselang, muncul delegasi yang dipilih untuk mengepalai masing-masing kementerian.

Pada 19 April, tiga hari setelah pemilihan umum lanjutan untuk mengisi 31 kursi kosong, Komune mengadopsi Deklarasi Rakyat Prancis yang menyatakan “jaminan mutlak bagi kebebasan individu, kemerdekaan berkeyakinan dan kemerdekaan kerja” dan juga “intervensi permanen warga dalam urusan-urusan komunal”. Konflik antara Paris dan Versailles dianggap “tidak dapat diselesaikan lewat kompromi-kompromi ilusif”; rakyat punya hak dan “kewajiban untuk melawan dan menang!” Yang lebih signifikan lagi daripada teks ini—yang sebenarnya merupakan sintesis ambigu untuk menghindari ketegangan-ketegangan antar berbagai tendensi politik—adalah aksi-aksi konkret yang melaluinya orang-orang Komune memperjuangkan transformasi total kekuasaan politik. Pembaharuan-pembaharuan yang bukan hanya menyasar cara kerja administrasi politik, tapi juga hakikatnya. Komune membuka kesempatan agar wakil-wakil terpilih bisa ditarik kembali. Komune juga memungkinkan agar tindakan para wakil rakyat ini dikontrol lewat mandat yang mengikat (meski hal ini tidak serta merta mengatasi permasalahan kompleks representasi politik). Para pejabat, yang juga tunduk pada kontrol permanen dan bisa ditarik dari jabatan, tidak asal ditunjuk seperti di masa lalu, tetapi dipilih lewat kontes terbuka atau pemungutan suara. Tujuannya adalah mencegah transformasi ruang publik menjadi domain para politisi profesional. Keputusan-keputusan terkait kebijakan yang diambil tidak diserahkan pada sekelompok kecil fungsionaris dan teknisi, tetapi harus diputuskan oleh rakyat. Tentara dan polisi tidak lagi menjadi institusi yang terpisah dari masyarakat. Pemisahan negara dengan gereja juga menjadi syarat mutlak.

Namun visi perubahan politik Komune tidak terbatas pada hal-hal tersebut: ia menyasar akar yang lebih dalam. Transfer kekuasaan ke tangan rakyat diperlukan untuk secara drastis mereduksi birokrasi. Ranah sosial harus diutamakan di atas ranah politik—sebagaimana diterapkan oleh Henri de Saint-Simon—sehingga politik tidak lagi menjadi suatu fungsi spesialis alih-alih semakin terintegrasi ke dalam aktivitas masyarakat sipil. Dengan demikian, ranah sosial mengambil kembali fungsi-fungsi yang sebelumnya dialihkan kepada negara. Menggulingkan sistem kekuasaan berbasis kelas tidaklah cukup; sistem itu sendiri haruslah diakhiri juga. Semua ini akan menggenapkan visi Komune tentang republik sebagai persekutuan orang-orang merdeka, asosiasi yang sejatinya demokratik dan mempromosikan emansipasi semua komponennya. Hasilnya adalah pemerintahan mandiri para produsen/pekerja.

Memprioritaskan Perubahan-Perubahan Sosial

Komune berpendirian bahwa perubahan-perubahan sosial lebih krusial daripada perubahan politik. Perubahan-perubahan sosial ini adalah alasan keberadaan Komune, tolok ukur kesetiaan Komune pada prinsip-prinsip pendiriannya, dan unsur kunci yang membedakannya dari revolusi-revolusi sebelumnya pada 1789 dan 1848. Komune menelurkan lebih dari satu kebijakan dengan implikasi kelas yang terang. Tenggat waktu pembayaran utang, misalnya, ditunda tiga tahun tanpa tambahan bunga. Penggusuran karena kegagalan membayar sewa ditunda. Sebuah dekrit mengizinkan tempat tinggal kosong agar digunakan oleh mereka yang tak punya tempat tinggal. Ada rencana-rencana untuk memperpendek jam kerja (dari yang tadinya 10 jam menjadi 8 jam nantinya), praktik yang menjamur seperti pemberlakuan denda pada buruh sebagai upaya memotong upah dilarang dan diancam dengan sanksi, dan upah minimum dipatok pada level yang terhormat. Sebisa mungkin pasokan makanan ditambah dan diberi harga yang rendah. Kerja malam di pabrik-pabrik roti dilarang, dan sejumlah toko daging dibuka di kota. Berbagai bentuk bantuan sosial ditambahkan pada lapisan-lapisan masyarakat yang rentan—misalnya, bank makanan bagi perempuan dan anak-anak terlantar. Ada pula diskusi-diskusi seputar cara mengakhiri diskriminasi antara anak yang sah secara hukum dan yang tidak.

Semua anggota Komune percaya bahwa pendidikan adalah unsur penting bagi emansipasi individu dan perubahan sosial-politik. Sekolah digratiskan dan diwajibkan bagi perempuan dan laki-laki. Pelajaran agama digantikan oleh pendidikan sekuler, rasional, dan ilmiah. Komisi-komisi khusus diangkat dan halaman-halaman koran menampilkan argumen-argumen kuat yang mendukung investasi untuk pendidikan perempuan. Agar sungguh-sungguh menjadi “layanan publik”, pendidikan harus menawarkan peluang setara bagi “anak-anak dari kedua jenis kelamin”. Selain itu, “pembedaan orang berdasarkan ras, kebangsaan, agama atau posisi sosial” harus dilarang. Beberapa inisiatif praktis di awal mengiringi kemajuan-kemajuan di atas kertas. Ribuan anak buruh dari berbagai arrondissement menghadiri sekolah untuk pertama kalinya dan menerima bahan ajar secara gratis.

Komune juga mengadopsi kebijakan-kebijakan berkarakter sosialis. Ia mengeluarkan dektrit bahwa bengkel-bengkel peninggalan para bos yang melarikan diri harus diserahkan pada asosiasi-asosiasi kooperatif para pekerja. Teater dan museum—dibuka untuk semua tanpa tarif—dikolektivisasi dan diletakkan di bawah manajemen Federasi Seniman Paris, yang dipimpin oleh pelukis dan sosok militan Gustave Courbet. Sekitar tiga ratus pemahat, arsitek, tukang cetak dan pelukis (di antaranya Édouard Manet) terlibat dalam kelompok ini—contoh yang diikuti oleh dunia opera dengan pendirian federasi serupa.

Semua aksi dan inisiatif ini dimulai dalam kurun waktu yang menakjubkan, hanya 54 hari di Paris yang masih oleng akibat efek perang dengan Prussia. Komune hanya mampu mengerjakan agendanya antara 29 Maret dan 21 Mei, di tengah perjuangan heroik melawan serangan-serangan dari Versailles yang juga banyak menyedot tenaga dan uang. Karena Komune tidak memiliki alat untuk memaksakan kebijakan-kebiajaknnya, banyak dari dekrit yang telah dirilis tidak diterapkan secara seragam di sekujur Paris. Namun demikian, dekrit-dekrit ini menunjukkan hasrat ambisius untuk menata kembali masyarakat dan menunjukkan jalan pada kemungkinan perubahan.

Categories
Journalism

Untuk Rosa Luxemburg, Untuk 150 Tahun Kelahirannya

Ketika diminta berbicara di Kongres Internasional Kedua di Zurich pada Agustus 1893, Rosa Luxemburg, salah satu dari sedikit perempuan yang hadir, berjalan melintasi kerumunan utusan dan aktivis yang memadati aula.

Wajahnya masih belia. Tubuhnya mungil. Masalah di pinggang membuat jalannya pincang sejak usia lima tahun.

Tapi, segala kesan ringkih itu lekas lenyap. Ia sengaja berdiri di atas kursi agar suaranya terdengar. Para hadirin tersihir, terpesona dengan kecakapan bernalar dan orisinalitas pendapat Rosa.

Isu Kebangsaan Polandia
Pada mulanya adalah Polandia.

Dalam pandangan Rosa, pembentukan negara Polandia merdeka tak perlu dijunjung sebagai cita-cita utama gerakan buruh Polandia. Tanah airnya itu masih dikuasai tiga pihak; dibagi oleh kekaisaran Jerman, Austro-Hongaria, dan Rusia. Penyatuan kembali muskil dicapai; sudah semestinya kaum buruh fokus pada agenda-agenda pendorong perjuangan praktis guna memenuhi kebutuhan-kebutuhan khusus.

Lewat corak argumen yang kelak dikembangkan beberapa tahun kemudian, Rosa menyerang siapapun yang menitikberatkan isu-isu kebangsaan. Ia mengingatkan betapa retorika patriotisme bisa digunakan untuk mengerdilkan perjuangan kelas dan mengalihkan perhatian dari isu-isu sosial yang ada. Tak usahlah menuntut proletariat agar “tunduk pada ide kebangsaan Polandia” di tengah berbagai penindasan lain yang mendera mereka—begitulah kira-kira pesannya. Untuk menghindari jebakan ini, Rosa bercita-cita mengembangkan pemerintahan lokal mandiri beserta penguatan otonomi di ranah budaya yang mampu meredam kebangkitan chauvinisme dan berbagai bentuk diskriminasi ketika corak produksi sosialis kelak ditegakkan. Inti dari seluruh refleksi Rosa ini perlunya membedakan isu kebangsaan dan isu negara-bangsa.

Melawan Arus
Argumen di Kongres Zurich adalah pintu masuk menuju kehidupan intelektual Rosa Luxemburg, seorang perempuan yang sudah sepantasnya dianggap salah satu eksponen terpenting sosialisme abad keduapuluh. Lahir 150 tahun silam, tepatnya pada 5 Maret 1871, di Zamość, bagian dari Polandia yang diokupasi Tsar, Rosa menjalani seluruh hidupnya di pinggiran, bergulat dengan begitu banyak situasi serba pelik dan selalu melawan arus. Lahir dari keluarga Yahudi, Rosa bergelut dengan keterbatasan fisik sepanjang hayatnya. Ia pindah ke Jerman pada usia 27 tahun dan menjadi warga negara Jerman lewat pernikahan yang tak didasari cinta. Sebagai seorang pasifis yang gigih selama Perang Dunia I, ia beberapa kali masuk bui karena pemikirannya. Ia sungguh-sungguh memusuhi imperialisme di tengah zaman baru ekspansi kolonial yang penuh kekerasan. Ia berjuang menghapus hukuman mati di tengah merajalelanya barbarisme.

Aspek lain yang tak kalah penting: ia seorang perempuan di lingkungan yang hampir seutuhnya dihuni laki-laki. Rosa seringkali menjadi satu-satunya perempuan, baik di Universitas Zurich—di mana ia meraih gelar doktor pada 1897 dengan tesis bertajuk Perkembangan Industri di Polandia—maupun di jajaran pimpinan Partai Demokrasi Sosial Jerman (SPD). Partai merekrut Rosa sebagai perempuan pengajar pertama di sekolah kader. Kerja itu diembannya sejak 1907 hingga 1914, ketika ia menerbitkan Akumulasi Kapital (1913) dan menggarap proyek yang tak selesai, Pengantar Ekonomi Politik (1925).

Tantangan-tantangan ini mengiringi jiwa Rosa yang merdeka dan mandiri—suatu keutamaan sikap yang tak jarang pula menciptakan masalah di partai-partai kiri. Dengan kecerdasan memikat, Rosa mampu mengembangkan gagasan-gagasan baru dan berani mempertahankannya  di hadapan August Bebel dan Karl Kautsky—dua orang yang mendapat kemewahan akses langsung ke Engels). Segala olah pikir dan debat tak ia lakukan untuk membeo Marx, alih-alih menafsirkannya secara historis dan mengembangkan gagasan-gagasan Marx lebih jauh ketika diperlukan. Bagi Rosa, kemerdekaan berpendapat dan mengambil posisi kritis di dalam partai adalah hak yang tidak dapat diganggu gugat. Partai wajib menjadi rumah bagi beragam pandangan, selama para penghuninya menyepakati prinsip-prinsip dasar yang sama.

Partai, aksi mogok, revolusi
Rosa Luxemburg sukses mengatasi banyak rintangan yang dihadapinya. Dalam perdebatan keras setelah Eduard Bernstein mengambil jalan reformis, nama Rosa kian besar di antara organisasi-organisasi terdepan gerakan buruh Eropa.

Dalam teks yang kini tersohor, Syarat-Syarat Sosialisme dan Tugas-Tugas Demokrasi Sosial (1897-99), Bernstein menyerukan agar partai meninggalkan masa lalu dan berubah menjadi kekuatan yang mampu mendorong perubahan secara gradual. Rosa mengambil posisi berlawanan. Dalam Reformasi Sosial atau Revolusi? (1898-99), ia menyatakan bahwa  dalam setiap periode sejarah “agenda-agenda reformis diterapkan hanya dengan arahan dari revolusi sebelumnya”. Ada perubahan-perubahan yang hanya dimungkinkan oleh perebutan kekuasaan dengan jalan revolusi. Namun, lanjutnya, beberapa orang malah mengais-ngais cita-cita perubahan itu di “kandang ayam parlementarisme borjuis”. Bagi Rosa, orang-orang ini tidak sedang memilih “jalan yang lebih tenang, pasti, dan perlahan menuju tujuan yang sama.” Mereka memilih “tujuan yang berbeda,” merangkul dunia borjuis beserta ideologinya.

Tentu, tujuan yang harus dikejar bukanlah memperbaiki tatanan sosial yang ada, tetapi membangun sesuatu yang sepenuhnya berbeda. Peran serikat buruh—yang hanya mampu menuntut kondisi kerja yang lebih baik tanpa meninggalkan corak produksi kapitalis—dan pecahnya Revolusi Rusia 1905 memicu beberapa gagasan seputar pelaku dan tindakan yang dapat mewujudkan perubahan radikal dalam masyarakat. Dalam Pemogokan Massal, Partai, dan Serikat Buruh (1906) yang menelaah peristiwa-peristiwa besar di Imperium Rusia, Luxemburg menyoroti peran kunci lapisan-lapisan terluas kaum proletar yang mayoritasnya tak terorganisir. Di mata Rosa, massa adalah aktor protagonis sejarah yang sesungguhnya. Di Rusia, “elemen spontanitas”—sebuah konsep yang membuat beberapa tokoh menuduh Rosa terlalu optimis menilai kesadaran kelas massa—senantiasa penting. Konsekuensinya, partai berperan bukan untuk menyiapkan aksi pemogokan massal, alih-alih  menempatkan diri “sebagai nakhkoda gerakan secara keseluruhan,”

Bagi Rosa, pemogokan massal adalah “denyut nadi revolusi” sekaligus “kemudi terkuatnya.” Pemogokan massal adalah “corak khas pergerakan massa proletar, bentuk fenomenal dari perjuangan proletar dalam revolusi.” Pemogokan massal bukan aksi tunggal yang terisolir, melainkan rangkuman dari periode panjang perjuangan kelas. Lebih jauh, kita tidak bisa mengabaikan bahwa “dalam badai zaman revolusi,” kaum proletar ditransformasikan sedemikian rupa sehingga “bahkan kehidupan terbaik—dengan kata lain, kesejahteraan materiil—bernilai kecil jika dibandingkan dengan cita-cita perjuangan tersebut.” Pada titik itu buruh meraih kesadaran dan kedewasaan. Aksi-aksi mogok massal di Rusia telah menunjukkan betapa dalam periode bergemuruh itu “perjuangan-perjuangan ekonomi dan politik saling berbalas tanpa henti” sampai-sampai sulit dikenali perbedaannya.

Komunisme adalah Kemerdekaan dan Demokrasi
Rosa Luxemburg sempat terlibat perdebatan sengit lainnya terkait bentuk organisasi dan peran partai—kali ini dengan Lenin. Dalam Selangkah Maju, Dua Langkah Mundur (1904), sang pemimpin Bolshevik mempertahankan posisi-posisi yang disepakati dalam Kongres Kedua Partai Buruh Demokrasi Sosial Rusia, yaitu konsep tentang partai sebagai organisasi inti yang ketat, yang terdiri atas kaum revolusioner profesional, sebuah organisasi garda depan yang bertugas memimpin massa. Rosa Luxemburg mengambil posisi sebaliknya. Dalam Hal-Ihwal Organisasi dalam Gerakan Demokrasi Sosial Rusia (1904), ia bersikukuh bahwa partai yang terpusat secara ekstrem sejatinya membuka jalan menuju dinamika yang berbahaya, yaitu “ketaatan buta pada otoritas pusat.” Bagi Rosa, partai tidak boleh menghalangi keterlibatan masyarakat, tapi justru harus mengembangkannya, demi mencapai “pembelajaran historis yang tepat mengenai bentuk-bentuk perjuangan.” Marx pernah menulis bahwa “setiap langkah dari gerakan yang riil jauh lebih penting daripada puluhan program.” Rosa Luxemburg menambahkannya: “Kesalahan-kesalahan yang pernah dibuat oleh gerakan buruh revolusioner secara historis jauh lebih bermanfaat ketimbang ketakbersalahan seluruh komite sentral terbaik yang mungkin ada”.

Cekcok ini bahkan semakin relevan setelah Revolusi 1917. Rosa mendukung revolusi Bolshevik  sepenuh hati. Namun, karena gelisah menyaksikan peristiwa-peristiwa yang bergulir di Rusia (dimulai dari cara-cara Bolshevik menangani reforma agraria), Rosa menjadi orang pertama di kubu komunis yang sadar bahwa “keadaan darurat yang diperpanjang” akan membawa “pengaruh buruk pada masyarakat.” Dalam karya anumertanya Revolusi Rusia (1922 [1918]), ia menekankah bahwa dengan merebut kekuasaan politik, kaum proletar menjalankan misi historis: “menciptakan tatanan demokrasi sosialis untuk menggantikan demokrasi borjuis—bukan menghabisi demokrasi.” Baginya, komunisme berarti “demokrasi tanpa batas, dengan partisipasi paling aktif dan tanpa batas dari massa rakyat.” Corak demokrasi seperti ini tak butuh panduan dari para pemimpin yang tak bisa salah. Sebuah cakrawala sosial dan politik yang sungguh berbeda hanya bisa disaksikan melalui proses rumit semacam ini, bukan dalam kondisi di mana kebebasan hanya diperuntukkan bagi “pendukung pemerintah, bagi para anggota satu-satunya partai.”

Rosa Luxemburg meyakini betul bahwa secara hakiki “sosialisme  tidak dapat dipaksakan dari atas”; sosialisme harus memperluas demokrasi, bukan meredupkannya. Bagi Rosa, tindakan untuk “membongkar [tatanan lama]” bisa dilakukan lewat dektrit. Namun, tindakan positif seperti membangun [tatatan baru] tak bisa dilakukan melalui dekrit. Hanya “teritori baru” dan “pengalaman” semata yang akan “sanggup mengoreksi dan membuka pelbagai jalan baru.” Liga Spartakus, yang ia didirikan pada 1914 setelah  perpecahan dalam tubuh SPD dan belakangan menjadi Partai Komunis Jerman (KPD), secara eksplisit menyatakan tidak akan pernah mengambilalih kekuasaan negara “kecuali sebagai respons atas kehendak yang jelas dan bulat dari mayoritas kaum proletar seantero Jerman..

Meski berlawanan secara politik, baik kelompok Sosial-Demokrat maupun Bolshevik sama-sama keliru memahami demokrasi dan revolusi sebagai dua proses yang terpisah. Sebaliknya, bagi Rosa Luxemburg, demokrasi dan revolusi tak terpisahkan—dan itulah inti dari teori politik yang digagasnya. Kelak warisan Rosa pun dihimpit oleh kedua kubu. Kaum Sosial-Demokrat—yang punya peran dalam pembunuhan Luxemburg di tangan paramiliter sayap kanan—menyangkal Rosa selama bertahun-tahun dan menolak aspek revolusioner dari pemikirannya. Di sisi lain, kubu Stalinis tidak tak mau mempopulerkan ide-ide Rosa karena karakternya yang kritis dan berjiwa merdeka.

Melawan militerisme, perang dan imperialisme
Sumbu lain dalam iman politik dan aktivisme Rosa adalah perlawanannya terhadap perang dan militerisme. Di sini ia terbukti mampu memperbarui pendekatan teoritis kaum Kiri dan memenangkan dukungan untuk berbagai keputusan penting di kongres-kongres Internasional Kedua—dan sayangnya, karena itu pula Rosa dianggap duri dalam daging oleh para pendukung Perang Dunia I.

Dalam analisis Rosa, fungsi tentara, penambahan senjata, dan perang-perang baru yang terus meletus tak cukup dipahami lewat pemikiran politik abad ke-19. Perang dan militerisme berkaitan erat dengan kekuatan-kekuatan yang hendak merepresi perjuangan kaum buruh. Perang dan militerisme berfungsi sebagai alat bagi kepentingan kubu reaksioner untuk memecah-belah kelas pekerja. Perang dan militerisme berkaitan erat dengan agenda ekonomi di era itu: kapitalisme membutuhkan imperialisme dan perang bahkan di masa damai untuk menggenjot produksi, sekaligus merebut pasar-pasar baru di tanah jajahan di luar Eropa.

“Kekerasan politik,” tulis Rosa dalam Akumulasi Kapital, “adalah wahana bagi proses ekonomi.” Argumen ini ia dedah lagi dalam sebuah tesis paling kontroversial dalam Akumulasi Kapital: penambahan senjata tak tergantikan perannya bagi ekspansi kapitalisme.

Gambaran ini amat jauh dari skenario-skenario optimistik yang diusung kaum reformis. Luxemburg meringkasnya dalam slogan yang terus bergema sepanjang abad ke-20: “sosialisme atau barbarisme”. Barbarisme, menurut Rosa, bisa dihindari hanya dengan perjuangan massa yang sadar posisi. Karena perjuangan anti-militerisme menuntut kesadaran politik tingkat tinggi, Rosa menjadi salah satu pendukung terdepan aksi-aksi pemogokan massal guna melawan perang—strategi yang diremehkan oleh banyak tokoh, termasuk Marx. Rosa berpendapat bahwa jargon-jargon pertahanan nasional bahkan bisa dipakai untuk melawan skenario-skenario perang teranyar; bahwa slogan “Perang melawan perang!” harusnya menjadi “batu penjuru politik kelas pekerja.” Dalam Krisis Demokrasi Sosial (1916)—yang juga dikenal sebagai Pamflet Junius—ia menulis bahwa Internasional Kedua bubar karena gagal “menyepakati taktik dan aksi bersama kaum proletar di semua negara.” Dari situ, “tujuan utama” kaum proletar seharusnya diarahkan untuk “memerangi imperialisme dan mencegah perang, pada masa damai atau perang.”

Kelembutan Abadi
Rosa Luxemburg adalah seorang kosmopolit dari masa depan.  Ia mengaku kerasan “di seluruh pojok dunia, di mana pun ada awan dan burung dan air mata manusia.” Ia penggila botani dan sangat mencintai hewan. Surat-surat Rosa ditulis oleh seorang perempuan yang memiliki kepekaan luar biasa, dengan jati dirinya yang tetap utuh di tengah sederet pengalaman pahit. Bagi salah satu pendiri Liga Spartakus ini, perjuangan kelas bukan hanya soal kenaikan upah. Ia tak mau menjadi pembebek. Sosialismenya tidak pernah ekonomistik. Rosa yang bergumul dengan gejolak zaman berusaha memodernisasi Marxisme tanpa menggoyahkan fondasi-fondasinya. Dalam hal ini, kerja-kerja Rosa adalah memo yang senantiasa relevan bagi kaum Kiri bahwa mereka seharusnya tidak membatasi aktivitas politik pada upaya-upaya reformis, bahwa mereka tak seharusnya meninggalkan cita-cita untuk mengubah rupa dunia hari ini.

Hayat dan karya Rosa—yang berhasil mengawinkan agitasi dan telaah teoritis—menawarkan pelajaran yang tak lekang oleh waktu kepada generasi baru militan, kepada mereka yang sudah memilih untuk terlibat dengan segala pergumulan yang telah dilalui Rosa.

Categories
Journalism

Makan dari Rongsokan Logam: Refleksi tentang Wajah Lain Amerika

SEORANG pemuda tengah berjalan seorang diri di ruas jalan penghubung bandara dam pusat keramaian. Ia mengenakan baju olahraga—jenis yang biasanya bertuliskan nama tim basket atau berlambangkan bendera AS. Namun, baju yang satu ini menunjukkan satu kata dengan lima huruf: Black.

Saya menghampirinya untuk bercakap-cakap dan menanyakan di mana posisi saya tepatnya. Ia mengaku telah tinggal di sana sejak lahir. Pemandangan yang melatari percakapan kami tampak tidak biasa: saya belum pernah melihat yang seperti itu. Saya terus melihat ke sekeliling dan menyadari betapa semua yang telah saya baca tentang tempat ini sesuai kenyataan. Bangunan-bangunan kosong merentang panjang tanpa ujung. Pabrik-pabrik tua ditinggalkan lama selama puluhan tahun, dengan puing-puing raksasa yang tergerus oleh waktu. Bangunan-bangunan yang musnah, pecahan kaca, mesin-mesin yang diselimuti es dan salju. Tanah pembuangan yang hanya dihuni anjing liar, pecandu narkoba, tuna wisma, dan orang-orang pinggiran. Saya sedang berada di Detroit: kota hantu, salah satu contoh paling mengejutkan dari Amerika yang lain, yang tidak pernah ditayangkan dalam serial-serial televisi yang lokasi syutingnya berada di Manhattan atau film-film 3-D yang diproduksi di Hollywood.

Mereka Menyebutnya Motor City
Jika arkeologi industri menjadi bidang studi, Detroit jelas akan menjadi spesimen pertama yang akan dipelajari. Namun sejarahnya di masa lalu identik dengan pertumbuhan dan gemerlap kelimpahan. Baptised Motor City—yang juga jadi latar belakang nama Motown, perusahaan rekaman lagu-lagu soul-rhythm-blues—selama puluhan tahun merupakan pusat mobil di dunia. Pada 1902, kota ini menyambut kelahiran Cadillac, dan setahun berikutnya Henry Ford membuka pabrik yang pada 1908 akan melahirkan Model T, kendaraan pertama yang menjadi produk lini perakitan. Tak lama kemudian, General Motors didirikan pada tahun yang sama, diikuti Chrysler pada 1925. Pendeknya, segala serba-serbi industri mobil di AS berawal dari Detroit.

Kemajuan mengepakkan sayapnya lebar-lebar, demikian pula kota ini. Pada dekade kedua abad ke-20, populasi Detroit bertambah lebih dari dua kali lipat dan menjadikannya pusat penduduk terpadat nomor empat di AS. Proporsi terbesar pendatang berasal dari negara-negara bagian di Selatan – bagian dari rombongan Afro-Amerika (120.000 di Detroit saja) yang pergerakannya di kemudian hari dikenal sebagai ‘migrasi besar pertama’.

Ekspansi ini tidak hanya memengaruhi dunia roda-empat. Keterlibatan Amerika dalam Perang Dunia II mentransformasikan kota utama Michigan ini menjadi ‘gudang senjata demokrasi’, mengutip slogan Franklin Roosevelt. Sejumlah besar pekerja, baik laki-laki maupun perempuan, pindah ke Detroit yang saat itu tengah mengembangkan sektor persenjataan dan berkontribusi lebih dari kota-kota di AS lainnya bagi kerja-kerja dalam perang. Pertumbuhan ini berlanjut setelah 1945. Pada 1956 populasi Detroit mencapai puncak di angka 1.865.000. Para profesor ternama dan wartawan terhormat pada masa itu memuja-mujanya sebagai simbol akhir perjuangan kelas di Amerika, mengacu pada semakin banyak pekerja yang terangkat status ekonominya menjadi kelas menengah dan mulai menikmati kesenangan-kesenangan yang mengikutinya.

Berapa banyak air yang telah mengalir di kolong jembatan sejak itu! Kemerosotan dimulai pada 1960-an dan dipercepat setelah krisis minyak 1973 dan 1979. Hari ini Detroit berpenduduk kurang dari 700.000, angka terendah dalam kurun seratus tahun—dan kelihatannya akan terus turun. Dalam dekade pertama abad ke-21, kota ini kehilangan seperempat dari populasi totalnya. Setiap dua puluh menit ada keluarga yang mengumpulkan seluruh barang miliknya, mengirimkannya ke wilayah tujuan baru, dan mengucapkan selamat tinggal kepada Detroit.

Seratus Ribu Lahan Kosong
Selagi saya berjalan kaki di jalan-jalan kota tersebut, kesan tentang kota berhantu ini semakin kuat. Lebih dari seratus ribu lahan kosong dan rumah dicampakkan, mayoritasnya tinggal puing atau bangunan reyot yang tak aman. Sepuluh ribu di antaranya harus dirobohkan dalam empat tahun ke depan, namun dana operasinya tidak mencukupi. Ada kesan tentang kehancuran yang riil, karena seringkali hanya tersisa satu rumah berpenghuni dalam satu blok. Situasi yang sebelumnya sudah eksplosif menjadi makin dramatis berkat pandemi. Pengelola kota tengah mencoba untuk mengelompokkan penduduk di area-area tertentu dan mengubah sejumlah area lainnya menjadi lahan pertanian komersil. Namun, krisis yang sedang terjadi membuat gambarannya menjadi lebih muram daripada sebelumnya. Demi mengatasi kebangkrutan yang melilit, Detroit belakangan memotong layanan publik terakhirnya, termasuk bus (satu-satunya sarana transportasi bagi kelompok tak berpunya) dan penerangan malam hari di area-area terpencil.

Situasi sosial Detroit juga tidak kalah suram dari lingkungan sekitar. Di Detroit, satu dari tiga penduduknya hidup dalam kemiskinan, demikian pula lebih dari separuh kanak-kanak. Taraf segregasi rasial masih sangat tinggi: lebih dari 80 persen populasi adalah warga kulit hitam dan tinggal di pusat kota, sementara kelas pekerja ‘kulit putih’, atau sisa penduduk yang tidak bermigrasi, telah pindah ke pinggiran atau daerah sekitar pertokoan-pertokoan besar. Ini menunjukkan bahwa meskipun zaman telah berubah, rasisme yang menjadikan Detroit zona perang pada Juli 1967—ketika  Lyndon Johnson mengirimkan mobil-mobil berlapis baja yang menyebabkan 43 orang tewas, 7.200 manusia ditangkap, dan 2.000 bangunan dilumat habis—belum sepenuhnya dihapuskan. Tingkat kejahatan Detroit adalah salah satu yang tertinggi di seantero negeri. Ironisnya, ongkos asuransi kendaraan di tempat lahirnya industri mobil ini adalah yang paling mahal. Angka pengangguran mencapai 50 persen dan uang yang diinvestasikan di kasino raksasa di jalan utama hanya menghasilkan satu perubahan: jiwa-jiwa yang putus asa dan pahit, yang setiap malam antre untuk menghabiskan helai-helai terakhir dolar mereka, dan harapan terakhir mereka, di dahapan deretan panjang mesin judi.

Rongsokan Logam untuk Cina
Pada 2009, menindaklanjuti krisis, General Motors dan Chrysler mengajukan petisi kebangkrutan. Ford juga babak-belur terkena dampak krisis. Bantuan yang diterima oleh ketiga perusahaan besar pada akhir dekade lalu, baik dari pemerintahan Bush maupun Obama, mencapai 80 milyar dolar. ‘Restrukturisasi’ paralelnya—yang meliputi pemecatan, pemotongan gaji, dan kontrak kerja yang lebih rentan—mengikuti model yang direpresentasikan oleh American Axle & Manufacturing, yang didirikan pada 1994 untuk menyuplai komponen-komponen mobil yang lebih murah ke General Motors dan Chrysler. Faktanya, banyak karyawan perusahaan yang sejak awal sudah bekerja dengan kontrak per jam telah dipecat pada 2008, meski profit yang didulangnya sangat berlimpah. Dan mengikuti aksi mogok melawan pemotongan gaji dari 28 ke 14 dolar per jam, pabrik lain di Detroit memecat semua pekerjanya dan menutup pintu. Dengan nada filantrofis, salah satu bos pabrik menjelaskan bahwa, sama seperti pabrik-pabrik Axle & Manufacturing dibuka beberapa tahun sebelumnya di Meksiko, Brazil, dan Polandia, ‘prioritas utama kita adalah membangun Asia’. Bab berikutnya akan ditulis di Cina, dan benar bahwa perusahaan tersebut telah beroperasi di sana sejak 2009 dengan dua pabrik baru.

Bagaimanapun juga, Detroit tak hanya berbicara tentang abad keduapuluh; ia juga bersaksi tentang perubahan-perubahan yang terjadi hari ini dan menanti di masa depan. Ia menggarisbawahi sejauh mana kemiskinan dan pengangguran adalah hasil dari hubungan-hubungan ekonomi yang mencegah perkembangan teknologi dari pemanfaatannya untuk kemaslahatan orang banyak. Detroit menunjukkan bahwa pabrik-pabrik kosong melompong bukan karena tidak ada lagi kerja, tetapi karena produksi telah dialihkan ke tempat-tempat yang upah buruhnya lebih murah dan perjuangan untuk hak-hak sosialnya masih lemah.

Langit lekas gelap di Detroit pada musim dingin. Beberapa orang mengemis di dekat jalur keluar jalan tol. Dari kejauhan, tampak nyala api di lokasi yang dulunya adalah jantung kawasan industri. Sekelompok anak muda menyalakan api di reruntuhan pabrik, sembari berharap menemukan potongan logam yang akan dikirim ke Timur melalui laut. Potongan-potongan logam yang bernilai dua setengah dolar per ons ini adalah satu-satunya barang berharga yang tersisa untuk bertahan hidup. Potongan-potongan logam ini adalah salah satu barang ekspor utama AS ke Cina. Detroit memilikinya dalam jumlah terbesar dibanding seluruh kota lain di dunia. Di tempat lain, logam-logam rongsokan itu digunakan untuk membangun apa yang dulunya pernah ada di sini, untuk menciptakan infrastruktur yang memungkinkan para bos meraup laba yang lebih tinggi. Dalam kosakata dari masa yang lain: ‘Eksploitasi yang dihasilkan melalui tingkatan nilai-lebih yang lebih tinggi’

Tapi jangan salah: pelbagai konflik dan harapan baru akan muncul seiring munculnya pabrik-pabrik baru.

Categories
Interviews

Di Farmasi Marx: Wawancara dengan Marcello Musto

Ada ungkapan yang sering dilontarkan selama pandemi COVID-19: “Semuanya tidak akan pernah sama lagi seperti dulu”.

Kemudian muncul kesadaran bahwa sementara perubahan-perubahan yang sedang berlangsung terbilang banyak dan besar, hal-hal yang berjalan seperti biasanya juga tidak sedikit. Hari ini orang cenderung mengatakan bahwa pandemi menunjukkan—bahkan—mempercepat, proses-proses yang telah berlangsung sebelumnya. Salah satunya adalah tumbuhnya ketimpangan-ketimpangan sosial. Apakah Marx tetap diperlukan untuk memahami faktor-faktor di balik ketimpangan, bentuk-bentuk dan kemungkinan melawannya? Kami membahas soal-soal ini dengan Marcello Musto, seorang profesor sosiologi di York University, Toronto dan sosok otoritatif dari kebangkitan studi Marxis belakangan ini. Kontribusinya mencakup serangkaian monograf brilian dan sukses, yaitu Another Marx: Early Manuscripts to the International (Bloomsbury, 2018) dan The Last Years of Karl Marx: An Intellectual Biography (Stanford, 2020). Ia juga menyunting berbagai bunga rampai, termasuk Marx’s Capital after 150 Years: Critique and Alternative to Capitalism (Routledge, 2019), The Marx’s Revival: Key Concepts and New Interpretations (Cambridge University Press, 2020). Tulisan-tulisannya bisa dilihat di www.marcellomusto.org.

 

Giulio Azzolini: Profesor Musto, apa yang dapat kita pelajari dari Marx untuk krisis pandemi ini?

Marcello Musto: Setelah bertahun-tahun dicekoki mantra-mantra neoliberal, saya pikir pertama-tama adalah bahwa dimensi kooperatif dari manusia tak tergantikan perannya bagi kelangsungan hidup individu, tak kalah pentingnya dari kebebasan individu bagi keberlangsungan masyarakat. Kooperasi dan kemerdekaan harus dianggap sebagai dua unsur hakiki dalam “farmasi Marx”. Saya juga menambahkan tiga anjuran dalam penawar yang ia resepkan bagi penyakit-penyakit masyarakat modern: transfer kekuasaan dalam pengambilan keputusan dari ranah ekonomi ke ranah politik; pendayagunaan sains dan teknologi demi kesejahteraan semua orang alih-alih profit segelintir elit; dan peran sentral pendidikan, termasuk dukungan besar dari sumber daya negara.

 

Pandemi ini telah memanaskan konflik antara Amerika Serikat dan Cina, dan dalam Uni Eropa di antara berbagai negara anggotanya. Apakah ini merupakan konflik antar kapitalisme?

Ini merupakan kecenderungan yang kelihatannya akan berlanjut. Bukan kebetulan juga jika dua negara yang paling terdampak oleh COVID-19, Amerika Serikat dan Inggris, adalah negara-negara yang telah mendorong privatisasi. Model kapitalisme mereka menghambat perkembangan negara sosial atau malahan mereka secara aktif telah menghancurkannya. Namun, di balik fenomena permukaan ini, ada konflik yang bahkan lebih penting soal redistribusi kekayaan yang telah dimenangkan kapital beberapa dekade terakhir ini.

Marx tidak memprediksi pemiskinan kaum proletar, melainkan peningkatan ketimpangan antara kelas-kelas yang ada. Mengenai hal ini, sejarah kelihatannya telah membuktikan bahwa dia benar.

Ya – dan akan semakin jelas ketika kita memikirkan jurang besar yang memisahkan penduduk dunia, bukan hanya secara ekonomi. Marx memahami bahwa kolonialisme Inggris di India melibatkan perampokan sumber daya alam dan bentuk-bentuk baru perbudakan, ketimbang kemajuan stabil sebagaimana dikisahkan oleh para pembelanya. Di sisi lain, ia keliru mengenai peran revolusioner kelas pekerja Eropa. Ia mulai menyadari hal ini dalam tahun-tahun terakhir kehidupannya, ketika ia menulis dalam kekecewaan bahwa kelas pekerja Inggris memilih untuk “mengekor di belakang tuan-tuan mereka.”

 

Dampak ekonomi pandemi ini cukup beragam. Banyak perusahaan telah mengalami kemerosotan. Namun, tidak demikian halnya dengan bisnis-bisnis raksasa. Mereka yang tidak memiliki pekerjaan terjamin kini menganggur, tetapi tidak demikian dengan mereka yang posisinya aman. Beberapa toko kecil tutup, tetapi ada juga yang tidak. Dapatkan Marx menolong kita menafsirkan kenyataan yang menjadi semakin kompleks dan kacau?

Analisis Marx tentang kelas-kelas sosial perlu diperbarui dan teorinya tentang krisis (yang memang belum ia tuntaskan) adalah produk dari zaman yang berbeda. Marx tidak dapat memberikan jawaban pada banyak problem kekinian, tetapi ia mengarahkan telunjuknya pada pertanyaan-pertanyaan yang esensial. Bagi saya, inilah yang menjadi kontribusi utama Marx hari ini: ia membantu kita untuk mengajukan pertanyaan yang tepat, mengidentifikasi kontradiksi-kontradiksi pokok. Bukan kontribusi yang kecil, menurut saya.

 

Krisis yang ada sekarang telah membuka kembali pertanyaan tentang ketidaksetaraan gender. Apakah ada pemikiran Marx mengenai hal ini yang dapat menjadi pelajaran bagi kita?

Saya pikir Marx akan mencoba untuk lebih banyak mempelajarinya hari ini, khususnya dari gerakan feminis baru di Amerika Latin, yang telah memainkan peranan penting dalam mobilisasi sosial berskala besar. Dalam beberapa studi yang ia kerjakan sebelum kematiannya, ia berkutat persis mengenai pentingnya kesetaraan gender, dan materi yang ia ajukan untuk program-program politik menekankan lebih dari sekali bahwa emansipasi kelas pekerja adalah bagi “semua manusia, tanpa pandang jenis kelamin dan etnis mereka”. Ia telah belajar dari para perempuan-perempuan muda, dari buku-buku kaum sosialis Prancis awal, bahwa level umum emansipasi dalam suatu masyarakat bergantung pada tingkat emansipasi perempuan.

 

Di tengah krisis kesehatan, pertarungan untuk kesetaraan etnis juga telah meledak di Amerika Serikat. Apakah ini hanya suatu kebetulan?

Ya, tetapi kebetulan yang menyumbangkan informasi penting, karena menunjukkan luka yang mendalam di negeri tersebut. Black Lives Matter bukanlah fenomena sambil lalu, melainkan sebuah gerakan yang akan tetap bertarung melawan rasisme dan kekerasan di institusi-institusi Amerika.

 

Mari kita sekarang beralih pada hubungan antara perjuangan kelas dan perjuangan lingkungan. Apakah keduanya merupakan isu yang berbeda atau bersifat komplementer? Apakah mereka terstruktur dalam sebuah hierarki?

Dua-duanya saling melengkapi; masing-masing membutuhkan yang lainnya. Kritik atas eksploitasi pekerja dan kritik atas penghancuran lingkungan saat ini tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Perjuangan apapun yang mengabaikan salah satu dari kedua isu ini tidak akan lengkap atau menjadi kurang efektif. Saya membayangkan posisi produktivis dari gerakan buruh dari abad ke-19 dan gerakan-gerakan ekologis yang seringkali mengabaikan persoalan “corak produksi”. Isu-isu yang mengemuka, bagaimana mereka muncul dan untuk siapa, adalah pertanyaan-pertanyaan yang terkait erat dengan kepemilikan sarana-sarana produksi.

 

Marx adalah filsufnya revolusi komunis, namun ia juga merupakan politisi yang mewariskan sebuah organisasi internasional bagi gerakan buruh. Apakah ini merupakan pelajaran juga untuk masa kini?

Tanpa gagasan ini gerakan buruh akan menuju kekalahan, khususnya dalam periode kebangkitan nasionalisme. Bagi Marx, yang melihat perpecahan-perpecahan di antara kelas pekerja sebagai sesuatu yang penting bagi kekuasaan kaum borjuis, internasionalisme juga berarti solidaritas antara kaum pekerja lokal dan imigran. Internasionalisme harus kembali menjadi salah satu batu penjuru gerakan Kiri jika ia hendak memasuki pertarungan ide dalam jangka panjang alih-alih merespons situasi mendesak semata.

 

Pada tahun 2018, Cina merayakan dua abad kelahiran Marx. Di Barat, apakah sang filsuf ditakdirkan untuk bertahan sebagai objek studi, atau apakah ia masih dapat menggerakkan massa?

Cina menggunakan wajah Marx, sembari mengabaikan peringatan-peringatannya yang paling penting. Stalin juga melakukan hal yang sama. Ketika pada masa-masa Gulag, ia sendiri berfoto dengan wajah penuh keyakinan di bawah potret Marx. Di Barat, Marx telah tampil kembali di aula-aula universitas, tetapi tidak akan meraih kembali pengaruh politik yang pernah ia miliki pada era partai-partai “Marxis”. Namun demikian, siapapun yang hendak mencoba untuk memikirkan kembali sebuah masyarakat alternatif tidak akan dapat mengabaikan teori-teorinya.

 

Apakah kelompok Kiri Italia kini merugi karena membela Marxisme setelah dianggap kedaluwarsa, ataukah karena ia meninggalkan Marxisme?

Kaum kiri Italia tengah membayar harga dari kedua kesalahan tersebut. Pertama, mereka sangat terlambat mengidentifikasi pelbagai perubahan yang diperlukan untuk berkonfrontasi dengan metamorfosis-metamorfosis kapitalisme dan untuk merespons tuntutan-tuntutan gerakan-gerakan sosial yang baru. Mereka juga  berpikir pendek ketika meninggalkan Marxisme alih-alih secara kritis meninjau kembali dan memodernisasi teori yang masih valid untuk memahami masyarakat hari ini. Lihat saja bagaimana Gramsci disimpan rapi di loteng justru ketika secara global orang kembali giat menggali pemikirannya. Memang untuk sekian lama kontradiksi-kontradiksi yang diciptakan oleh kapitalisme tidak sedramatis dan sejelas hari ini. Sejarah gerakan Kiri masih belum berakhir.

Categories
Journalism

200 Tahun Engels: Kontribusi dan Keterbatasan Sang “Biola Kedua”

I. Sebelum Marx
Friedrich Engels lebih dulu paham soal pentingnya kritik ekonomi-politik ketimbang Karl Marx.

Waktu keduanya berkenalan, Engels telah menerbitkan lebih banyak artikel tentang ekonomi-politik—meski sang kariblah yang ditakdirkan tersohor di bidang ini.

Lahir di Jerman 200 tahun yang lalu, November 28, 1820, di Barmen (yang hari ini masuk pinggiran kota Wuppertal), Engels dulunya adalah anak muda yang menjanjikan, yang dilarang oleh ayahnya—seorang pemilik pabrik tekstil—untuk berkuliah di universitas. Ia diarahkan untuk bekerja di perusahaan sang ayah. Engels, yang kelak menjadi ateis, adalah seorang otodidak yang luar biasa haus pengetahuan. Ia juga menggunakan nama pena untuk menghindari konflik dengan keluarganya yang sangat konservatif dan saleh.

Dua tahun yang ia habiskan di Inggris—tempat di mana ia diutus pada usia 22 tahun untuk bekerja di kantor Ermen & Engels, Manchester—adalah masa yang krusial bagi pendewasaan keyakinan politiknya. Pada masa itulah ia menyaksikan langsung dampak-dampak eksploitasi kapitalis terhadap proletariat, kepemilikan pribadi, dan kompetisi antar individu. Engels mengadakan kontak dengan gerakan buruh Chartist dan jatuh cinta pada pekerja perempuan asal Irlandia, Mary Burns, yang kelak memainkan peranan kunci dalam perkembangan dirinya.

Engels adalah jurnalis yang brilian. Ia menerbitkan catatan-catatannya di Jerman tentang pergolakan-pergolakan sosial di Inggris. Ia juga menulis untuk pers berbahasa Inggris tentang aneka perkembangan sosial yang terjadi di Eropa. Artikel “Outlines of a Critique of Political Economy” yang terbit dalam Franco-German Yearbooks (1844) memantik minat Marx yang saat itu telah memutuskan akan mengabdikan seluruh energinya untuk menggeluti topik yang sama. Kedua sahabat lalu merintis kolaborasi teoretis dan politik yang bertahan hingga akhir hayat.

Satu tahun kemudian, Engels menerbitkan buku pertamanya dalam bahasa Jerman, The Condition of the Working Class in England. Subjudul buku ini menegaskan bahwa Condition of the Working Class didasarkan “pada pengamatan langsung dan sumber-sumber otentik”. Di bagian pendahuluan, Engels menulis bahwa pengetahuan sejati tentang kondisi kerja dan kehidupan kaum proletar “mutlak dibutuhkan untuk memberikan landasan solid bagi teori-teori sosialis”. Keyakinan ini diekspresikan kembali oleh Engels di berbagai kesempatan lain. Dalam tulisan “To the Working Class of England”, misalnya, Engels menyatakan bahwa studinya “dalam bidang ini” telah memberinya “pengetahuan tentang kehidupan nyata para pekerja” yang bersifat langsung alih-alih abstrak. Ia tidak pernah merasa didiskriminasi atau “diperlakukan sebagai orang asing”, dan ia senang ketika mendapati bahwa mereka kaum pekerja adalah orang-orang yang merdeka dari “kutukan nasionalisme sempit nan arogan”.

II. Revolusi dan Kontra-Revolusi
Pada 1845, ketika pemerintah Prancis mengusir Marx karena aktivitas-aktivitas komunisnya, Engels mengikuti sahabatnya itu ke Brussels. Mereka menerbitkan The Holy Family, or the Critique of Critical Criticism: Against Bruno Bauer and Company (buku pertama yang ditulis Engels bersama Marx). Keduanya juga menelurkan manuskrip yang tidak diterbitkan—The German Ideology—yang ditinggalkan pada “kritisisme tikus”. Dalam periode ini, Engels bepergian ke Inggris bersama Marx dan menunjukkan kepadanya moda produksi kapitalis yang sebagaimana yang ia pernah saksikan dan alami di tanah Britania. Marx akhirnya meninggalkan kritik filosofis pasca-Hegelian dan memulai perjalanan panjang yang membawanya—20 tahun kemudian—pada volume pertama Capital 20 tahun kemudian. Keduanya pun menulis Manifesto of the Communist Party (1848) dan berpartisipasi di kawah pergolakan politik yang mengguncang Eropa pada 1848.

Pada 1849, setelah kekalahan revolusi, Marx dipaksa pindah ke Inggris. Engels pun menyusulnya. Marx tinggal di London, sementara Engels mengelola bisnis keluarga di Manchester, sekitar 300 km dari London. Ia mengaku menjadi “biola kedua”. Demi mencari nafkah dan membantu Marx (yang seringkali tak berpenghasilan), Engels mengelola pabrik ayahnya di Manchester hingga 1870.

Selama dua dekade ini, ketika Engels pensiun dari bisnis keluarga dan akhirnya bergabung kembali dengan Marx di London, kedua sahabat menjalani periode yang paling intens dalam hidup. Beberapa kali dalam seminggu, Marx dan Engels membandingkan catatan-catatan mereka mengenai peristiwa-peristiwa penting terkait ekonomi dan politik utama pada masa itu. Sebagian besar dari 2.500 korespondensi antara keduanya berasal dari dua dekade ini. Selama dua dasawarsa itu pula mereka mengirimkan 1.500 surat kepada aktivis dan intelektual di hampir 20 negara. Angka ini belum termasuk 10.000 surat yang ditujukan kepada Engels dan Marx dari pihak ketiga, dan 6.000 surat lain yang sudah tidak dapat dilacak namun jelas pernah ada. Kumpulan surat ini adalah harta karun tak ternilai berisi berbagai macam gagasan yang dalam beberapa kasus tidak dikembangkan secara penuh dalam tulisan-tulisan Marx dan Engels.

Jarang kita temukan korespondensi dari abad ke-19 yang penuh rujukan cerdas sebagaimana dapat dijumpai dalam surat-surat dua dedengkot komunis revolusioner ini. Marx bisa membaca dalam sembilan bahasa dan Engels menguasai dua belas bahasa. Betapa mengagumkannya surat-surat mereka, yang kerap berpindah dari satu bahasa ke bahasa lainnya dan dipadati kutipan terpelajar, termasuk dalam bahasa Latin dan Yunani kuno. Kedua pemikir humanis ini juga pecinta sastra. Marx menguasai petikan-petikan dari Shakespeare, Aeschylus, Dante, dan Balzac, sementara Engels lama menjabat sebagai ketua Schiller Institute di Manchester. Ia juga penggemar berat karya-karya Aristoteles, Goethe dan Lessing. Di samping diskusi tentang peristiwa-peristiwa global dan prospek revolusi, topik-topik bahasan Marx dan Engels juga mencakup perkembangan-perkembangan besar dalam teknologi, geologi, kimia, fisika, matematika, dan antropologi. Marx selalu menganggap Engels sebagai mitra diskusi yang tak tergantikan. Ia selalu mengkonsultasikan pendapat-pendapat kritisnya kepada Engels tiap kali harus mengambil posisi terkait isu-isu kontroversial.

Hubungan keduanya bahkan lebih luar dahsyat lagi di luar urusan intelektual. Marx sering curhat kepada Engels tentang masalah-masalah pribadinya kepada Engels, mulai dari kesulitan materiil hingga problem-problem kesehatan yang menyiksanya selama puluhan tahun. Engels betul-betul berkorban untuk membantu Marx dan keluarganya. Ia selalu melakukan apapun yang bisa dilakukannya untuk memastikan keberlangsungan hidup Marx dan keluarga serta memfasilitasi penuntasan Capital. Marx selalu mensyukuri bantuan finansial Engels, sebagaimana bisa kita lihat dalam tulisannya pada suatu malam di bulan Agustus 1867, beberapa menit setelah ia selesai mengoreksi naskah volume pertama Capital: “Karena hutangku padamu sajalah [karya] ini menjadi mungkin”.

Namun, bahkan selama dua puluh tahun tersebut Engels tidak pernah berhenti menulis. Pada 1850 ia menerbitkan The Peasant War in Germany, sebuah catatan sejarah revolusi 1524-1525 yang berupaya menunjukkan kemiripan watak kelas menengah pada era itu dengan karakter borjuis kecil pada revolusi 1848-1849—serta betapa bertanggungjawabnya mereka atas kekalahan yang terjadi. Agar Marx bisa menghabiskan lebih banyak waktu untuk menuntaskan studi ekonominya, Engels juga menulis hampir separuh dari lima ratus artikel dikirim Marx ke New-York Tribune (surat kabar dengan sirkulasi terluas di Amerika Serikat) antara 1851 hingga 1862. Kepada publik Amerika, Engels melaporkan arah dan kemungkinan hasil dari perang-perang yang terjadi di Eropa. Tak jarang Engels terbukti mampu memprediksi perkembangan yang kelak terjadi dan mengantisipasi strategi-strategi militer di berbagai front. Walhasil, kamerad-kameradnya menjuluk Engels “sang Jenderal”. Aktivitas jurnalistik Engels berlanjut lama, dan pada 1870-1871 ia menerbitkan Notes on the Franco-Prussian War, sebuah rangkaian tematis berisi enam puluh buah tulisan untuk surat kabar Inggris Pall Mall Gazette. Dalam tulisan-tulisan itu Engels menganalisis peristiwa-peristiwa militer yang mendahului Paris Commune. Tulisan-tulisan ini mendapatkan banyak apresiasi dan membuktikan penguasaan Engels atas topik-topik kemiliteran.

III. Sumbangsih Besar dalam Teori
Selama lima belas tahun berikutnya, Engels menghasilkan kontribusi teori utamanya lewat tulisan-tulisan yang menggugat posisi lawan-lawan politik dalam gerakan buruh. Lewat karya-karya ini pula ia berusaha mengklarifikasi sejumlah isu kontroversial. Antara 1872 dan 1873 ia menulis tiga artikel berseri untuk Volksstaat yang juga terbit sebagai pamflet dengan judul The Housing Question. Maksud Engels adalah melawan penyebaran ide-ide Pierre-Joseph Proudhon di Jerman dan menjelaskan kepada kaum buruh bahwa kebijakan-kebijakan reformis tidak dapat menggantikan revolusi proletar.

Anti-Dühring, yang terbit pada 1878 dan digambarkan Engels sebagai “eksposisi metode dialektis yang terhubung dengan pandangan dunia komunis”, menjadi rujukan penting bagi pembentukan ajaran Marxis. Meskipun kita perlu membedakan antara karya-karya Engels yang bersifat populer—dalam polemik terbuka dengan lawan-lawannya — dengan vulgarisasi yang kelak dikembangkan oleh generasi baru gerakan sosial-demokrasi di Jerman, palingan Engels ke ilmu-ilmu alam membuka jalan bagi konsepsi evolusioner tentang fenomena sosial yang malah mengaburkan analisis-analis Marx yang lebih kaya nuansa. Socialism: Utopian and Scientific (1880), sebuah pengembangan dari tiga bab Anti-Dühring untuk tujuan pendidikan, memiliki dampak yang bahkan lebih besar daripada sumber aslinya. Namun di balik kontribusi dan fakta bahwa tulisan tersebut beredar hampir seluas Manifesto of the Communist Party, definisi Engels tentang “sains” dan “sosialisme ilmiah” dapat dipandang sebagai contoh otoritarianisme epistemologis, yang kemudian digunakan oleh diskursus Marxis-Leninis untuk menyingkirkan diskusi kritis tentang tesis-tesis para “pendiri komunisme”. The Dialectics of Nature, fragmen-fragmen dari proyek yang dikerjakan Engels tanpa henti antara 1873 hingga 1883, kini menjadi sumber kontroversi besar. Sejumlah pengamat memandang Dialectics of Nature sebagai tonggak penting Marxisme, sementara beberapa pengamat lain menganggapnya sebagai cikal-bakal dogmatisme Soviet. Sudah semestinya jika Dialectics of Nature dibaca sebagai karya yang belum tuntas, yang menunjukkan keterbatasan Engels, namun juga potensi yang terkandung dalam kritik ekologinya. Sementara penggunaan Engels atas dialektika jelas mereduksi kompleksitas teoretik dan metodologis pemikiran Marx, tidaklah tepat—seperti yang dilakukan beberapa orang di masa lalu—untuk menganggapnya bertanggung jawab atas apapun yang tidak mereka tidak sukai dalam tulisan-tulisan Marx dan untuk mengkambinghitamkan Engels atas kesalahan-kesalahan teoretik atau bahkan kekalahan-kekalahan di tataran praktis.

Pada 1884, Engels menerbitkan Origins of the Family, Private Property and the State, sebuah analisis tentang studi antropologi yang dilakukan oleh ilmuwan Amerika bernama Lewis Morgan. Bagi Morgan, relasi matriarkal secara historis mendahului relasi patriarkal. Bagi Engels, temuan Morgan merupakan penemuan asal-usul manusia yang sama pentingnya dengan “teori Darwin bagi biologi dan teori Marx tentang nilai-lebih bagi kajian ekonomi-politik”. Keluarga pada dasarnya mengandung antagonisme yang kelak berkembang dalam masyarakat dan negara. Penindasan kelas pertama dalam sejarah manusia “beriringan dengan penindasan perempuan oleh laki-laki”. Dalam hal kesetaraan gender dan juga perjuangan anti-kolonialis Engels tidak pernah ragu untuk membela—dan menjelaskan dengan penuh keyakinan—cita-cita emansipasi. Akhirnya, pada 1886, Engels menelurkan karya polemik Ludwig Feuerbach and the End of Classical German Philosophy (1886) yang menyasar kebangkitan kembali idealisme di lingkaran akademik Jerman.

IV. Penyebaran Marxisme
Selama dua belas tahun pasca-kematian Marx, Engels mengabdikan hidupnya untuk gerakan buruh internasional dan membereskan tulisan-tulisan sang karib. Beberapa tulisan jurnalistik untuk koran-koran sosialis besar pada masa itu, termasuk Die Neue Zeit, Le Socialiste dan Critica Sociale, sambutan dalam kongres-kongres partai, dan juga ratusan surat yang  ditulisnya selama periode ini memungkinkan kita untuk memberikan apresiasi lebih besar terhadap sumbangsih Engels bagi pertumbuhan partai-partai buruh di Jerman, Prancis, dan Inggris, serta dalam sejumlah isu-isu terkait teorietis dan organisasi. Beberapa isu di antaranya berhubungan dengan kelahiran Internasional Kedua—yang kongres pendiriannya terlaksana pada 14 Juli 1889 — beserta perdebatan-perdebatan di dalamnya.

Yang bahkan lebih penting lagi adalah Engels mendedikasikan hidupnya untuk penyebaran Marxisme. Pertama-tama, ia mengemban tugas teramat sulit untuk menyiapkan penerbitan naskah volume dua dan tiga Capital yang tak sempat dituntaskan Marx. Ia juga memeriksa edisi-edisi baru dari karya-karya yang sudah diterbitkan, sejumlah terjemahan, serta menulis kata pengantar dan epilog untuk berbagai edisi cetak ulang karya-karya Marx dan tulisan-tulisannya sendiri. Dalam pengantar baru untuk Class Struggles in France (1850) yang ditulis beberapa bulan sebelum kematian Marx, Engels menjelaskan sebuah teori revolusi yang mencoba beradaptasi dengan wajah anyar politik di Eropa. Ia berargumen bahwa kaum proletar telah menjadi mayoritas, dan prospek pengambilalihan kekuasaan melalui sarana-sarana elektoral, melalui pemberlakuan hak pilih secara universal, membuka kemungkinan untuk mempertahankan revolusi dan status legal perjuangan buruh sekaligus. Namun ini tidak berarti—sebagaimana yang dilakukan oleh kelompok sosial-demokrat Jerman dengan memanipulasi tulisan Engels dalam kerangka legalistik-reformis—bahwa “perjuangan di jalanan” tidak lagi berguna. Maksud Engels adalah bahwa revolusi tidak bisa lahir tanpa partisipasi aktif massa, dan ini memerlukan “kerja panjang penuh kesabaran”.

Ketika membaca Engels hari ini, seraya menyadari kenyataan kapitalisme kontemporer di depan mata, terpaculah hasrat kita untuk kembali berjuang dengan mengikuti jalan setapaknya.

Categories
Journalism

Wajah Baru Marx Setelah Marx-Engels Gesamtausgabe (MEGA) (Bagian III)

I. Internasional Pertama
Begitu Kapital terbit, Marx melanjutkan aktivitas militannya dan berkomitmen penuh untuk Asosiasi Pekerja Internasional.
Dalam biografi politiknya, fase ini terdokumentasikan dalam Vol. I/21, “Karl Marx—Friedrich Engels, Werke, Artikel, Entwürfe. September 1867 bis März 1871”, yang mencakup lebih dari 150 teks dan dokumen dari periode 1867-1871, termasuk notulen 169 rapat Dewan Umum di London (dihapus dari semua edisi karya-karya Marx dan Engels sebelumnya) di mana Marx melakukan intervensi. Dengan demikian, ia menyediakan materi riset untuk tahun-tahun yang krusial bagi Internasional.
Sejak awal, pada 1864, ide-ide Proudhon sudah sangat hegemonik di Prancis, kawasan Swiss yang berbahasa Prancis, dan Belgia; dan kaum mutualis—istilah untuk menyebut para pengikutnya—adalah sayap paling moderat dari Internasional. Mereka—yang sepenuhnya menentang intervensi negara di bidang apapun—menolak sosialisasi tanah dan alat-alat produksi, serta penggunaan senjata. Teks-teks yang diterbitkan dalam volume ini menunjukkan bagaimana Marx memainkan peranan kunci dalam perjuangan panjang untuk mengurangi pengaruh Proudhon di Internasional. Teks-teks ini mencakup dokumen-dokumen yang terkait dengan persiapan kongres-kongres Brussels (1868) dan Basel (1869), ketika Internasional untuk pertama kalinya secara tegas menyuarakan sosialisasi alat-alat produksi oleh otoritas negara dan mendukung hak untuk menghapuskan kepemilikan individu atas tanah. Ini menandakan kemenangan penting bagi Marx dan kemunculan prinsip-prinsip sosialis dalam program politik organisasi utama kaum pekerja untuk pertama kalinya.
Di luar program politik Asosiasi Pekerja Internasional, akhir 1860-an dan awal 1870-an dipenuhi dengan konflik-konflik sosial. Banyak pekerja yang berpartisipasi dalam aksi-aksi protes memutuskan untuk menjalin kontak dengan Internasional yang reputasinya terus meluas. Para pekerja ini juga meminta Internasional untuk mendukung perjuangan-perjuangan mereka. Pada periode ini juga terjadi kelahiran beberapa kelompok pekerja Irlandia di Inggris. Marx mengkhawatirkan perpecahan yang diakibatkan oleh nasionalisme garis keras dalam barisan kaum proletar. Dalam sebuah dokumen yang dikenal sebagai “Komunikasi Konfidensial”, ia menekankan bahwa “kaum borjuis Inggris tidak hanya mengeksploitasi penderitaan orang-orang Irlandia untuk menundukkan kelas pekerja di Inggris lewat imigrasi paksa orang-orang miskin dari Irlandia”; mereka juga terbukti sanggup memisahkan kaum pekerja “ke dalam dua kubu yang saling bertentangan”. Dalam pandangannya, “suatu bangsa yang memperbudak bangsa lainnya sebenarnya menempa sendiri rantai yang membelenggunya” dan perjuangan kelas tidak dapat menghindar dari isu penting ini. Tema besar lainnya dalam volume tersebut—khususnya yang diulas dalam tulisan-tulisan Engels untuk The Pall Mall Gazette—adalah penolakan terhadap Perang Prancis-Prusia tahun 1870-1871.

II. Riset-Riset Marx Setelah Kapital
Kerja-kerja Marx untuk Asosiasi Pekerja Internasional berlangsung dari 1864 sampai 1872, dan volume baru IV/18, “Karl Marx—Friedrich Engels, Exzerpte und Notizen. Februar 1864 bis Oktober 1868, November 1869, März, April, Juni 1870, Dezember 1872” menyajikan bagian yang sebelumnya tak dikenal tentang studi-studi yang ia kerjakan selama tahun-tahun tersebut. Penelitian Marx dilakukan jelang dicetaknya Volume I Kapital atau setelah 1867 ketika ia mempersiapkan penerbitkan Volume II dan III untuk diterbitkan. Volume MEGA ini terdiri atas lima buku kumpulan kutipan dan empat buku catatan yang berisi rangkuman lebih dari seratus karya tulis, laporan-laporan debat-debat parlementer dan artikel-artikel jurnalistik. Bagian yang paling tebal dan penting secara teoretis dari materi-materi ini mencakup penelitian Marx tentang agrikultur, di mana minat utamanya di sini ialah tentang sewa tanah, ilmu-ilmu alam, kondisi tanah di negara-negara Eropa dan Amerika Serikat, Rusia, Jepang dan India, dan sistem penggunaan tanah dalam masyarakat-masyarakat pra-kapitalis.
Marx membaca secara cermat Chemistry and Its Application to Agriculture and Philosophy (1843), karya ilmuwan Jerman Justus von Liebig yang ia anggap penting karena turut mengubah pandangannya sebelumnya bahwa penemuan-penemuan ilmiah pertanian modern sukses mengatasi masalah pemulihan tanah. Sejak itu, ia mengembangkan minat pada apa yang kini kita sebut “ekologi”, khususnya masalah erosi tanah dan deforestasi. Di antara buku-buku yang amat berkesan bagi Marx dalam periode ini, ada tempat khusus untuk Introduction to the Constitutive History of the German Mark, Farm, Village, Town and Public Authority (1854) karya teoretikus politik dan sejarawan hukum Georg Ludwig von Mauer. Dalam sebuah surat kepada Engels, ia mengatakan bahwa buku-buku Mauer “amatlah signifikan”, karena dengan cara yang sangat berbeda meneropong “bukan hanya zaman primitif, tetapi juga perkembangan selanjutnya seperti tentang kota-kota merdeka, para pemilik lahan-lahan besar yang menikmati impunitas, pejabat publik, dan perjuangan kalangan petani merdeka dan hamba”. Marx juga memuji Maurer karena menunjukkan bahwa kepemilikan pribadi atas tanah adalah sesuatu yang terjadi dalam periode sejarah tertentu dan tidak bisa dianggap sebagai karakter alami dari peradaban manusia. Akhirnya, Marx mempelajari secara mendalam tiga karya berbahasa Jerman dari Karl Fraas: Climate and the Vegetable World throughout the Ages, a History of Both (1847), A History of Agriculture (1852) dan The Nature of Agriculture (1857). Ia mendapati bahwa yang pertama disebut di atas “amatlah menarik”, dan secara khusus mengapresiasi bagian saat Fraas menunjukkan bahwa “iklim dan flora berubah dalam sejarah”. Ia menyebut pengarangnya sebagai “seorang Darwinis sebelum Darwin”, yang mengakui bahwa “bahkan spesies pun berkembang dalam sejarah”. Marx juga dikejutkan oleh pertimbangan-pertimbangan ekologis Fraas dan keprihatinannya bahwa “pengolahan tanah—jika bersandar pada perkembangan alami dan bukannya secara sadar dikontrol (sebagai borjuis ia semestinya tidak mencapai pemahaman ini)—tidak akan menghasilkan padang gurun”. Marx dapat mendeteksi di sini “sebuah tendensi sosialis bawah sadar”.
Menyusul penerbitan Notebooks on Agriculture, kita bisa berargumen dengan tambahan bukti bahwa ekologi bakal memainkan peranan yang lebih besar dalam pemikiran Marx jika ia memiliki energi untuk menuntaskan dua volume terakhir Kapital. Tentu saja, kritik ekologis Marx bersifat anti-kapitalis, dan di luar harapan-harapannya akan kemajuan ilmu pengetahuan, mencakup pertanyaan tentang corak produksi secara keseluruhan.
Skala studi-studi Marx atas ilmu-ilmu alam telah menjadi nampak sepenuhnya sejak penerbitan Volume IV/26, “Karl Marx, Exzerpte und Notizen zur Geologie, Mineralogie und Agrikulturchemie. März bis September 1878”. Pada musim semi dan musim panas 1878, geologi, mineralogi, dan kimia pertanian menjadi lebih sentral dalam studi-studi Marx daripada ekonomi-politik. Ia mengumpulkan catatan dari berbagai buku, termasuk The Natural History of the Raw Materials of Commerce (1872) oleh John Yeats, The Book of Nature (1848) oleh ahli kimia Friedrich Schoedler, dan Elements of Agricultural Chemistry and Geology (1856) oleh ahli kimia dan mineral James Johnston. Antara Juni dan awal September, ia bergelut dengan Student’s Manual of Geology (1857) karya Joseph Jukes, yang darinya ia mengumpulkan banyak kutipan. Fokus utama dari semua pembelajaran ini adalah pertanyaan-pertanyaan tentang metodologi ilmiah, tahap-tahap perkembangan geologi sebagai disiplin ilmu, dan kegunaannya bagi produksi industrial dan agrikultural.
Pemahaman-pemahaman yang ia dapat melalui pembelajaran ini menyadarkan Marx tentang pentingnya mengembangkan lagi ide-idenya tentang profit, yang pernah membuatnya sibuk pada pertengahan 1860-an ketika menulis naskah tentang “Transformasi Profit-Surplus ke dalam Sewa Tanah“ dalam Kapital, Volume III. Beberapa rangkuman teks-teks ilmu alamnya memiliki tujuan untuk menerangi materi-materi yang sedang ia pelajari. Tetapi catatan-catatan lainnya, yang lebih condong pada aspek-aspek teoretisnya, dimaksudkan untuk digunakan dalam penyelesaian Volume III. Di kemudian hari Engels mengenang bahwa Marx “menyusuri (…) pra-sejarah, agronomi, kepemilikan tanah di Rusia dan Amerika, geologi, dll., secara khusus untuk mengembangkan hingga (…) yang belum pernah diupayakan, bagian tentang sewa tanah dalam Volume III Kapital”. Volume-volume MEGA ini semakin penting karena mereka akan mendiskreditkan mitos yang sering diulangi dalam biografi-biografi dan studi-studi tentang Marx, bahwa setelah Kapital ia telah memuaskan minat intelektualnya dan sepenuhnya meninggalkan studi-studi dan penelitian baru.

III. Kerja-Kerja Terakhir Engels
Akhirnya, tiga buku MEGA yang diterbitkan pada dekade terakhir berkaitan dengan Engels di masa tuanya. Volume I/30, “Friedrich Engels, Werke, Artikel, Entwürfe Mai 1883 bis September 1886” mencakup 43 teks yang ia tulis dalam tiga tahun setelah kematian Marx. Dari 29 teks terpenting dalam volume ini, terdapat 17 tulisan jurnalistik yang muncul di beberapa surat kabar utama kelas pekerja Eropa. Meski dalam periode ini perhatiannya banyak tersedot untuk mengedit naskah Kapital Marx yang belum tuntas, Engels tidak meninggalkan kesempatan untuk mengintervensi rangkaian isu-isu hangat di bidang politik dan teori. Ia juga menulis polemik yang ditujukan untuk menyerang kebangkitan kembali idealisme di lingkaran akademik Jerman, Ludwig Feuerbach and the End of Classical German Philosophy (1886). Empat belas teks lainnya, yang diterbitkan sebagai apendiks dalam volume MEGA ini, adalah beberapa terjemahan Engels dan rangkaian artikel dari penulis lain yang berkolaborasi dengannya.
MEGA juga menerbitkan kumpulan surat-surat Engels yang baru. Volume III/30, “Friedrich Engels, Briefwechsel Oktober 1889 bis November 1890” mencakup 406 surat yang masih terselamatkan dari total 500 atau lebih surat yang ia tulis antara Oktober 1889 dan November 1890. Lebih jauh lagi, disertakannya untuk pertama kali surat-surat dari koresponden lain memungkinkan kita untuk mengapresiasi secara lebih mendalam kontribusi yang Engels berikan bagi perkembangan partai-partai kelas pekerja di Jerman, Prancis, dan Inggris, mengenai beragam isu teoretik dan organisasi. Beberapa di antaranya ialah mengenai kelahiran Internasional Kedua dan perdebatan-perdebatan di dalamnya, yang kongres pendiriannya berlangsung pada tanggal 14 Juli 1889.
Akhirnya, Volume I/32, “Friedrich Engels, Werke, Artikel, Entwürfe März 1891 bis August 1895”, menyertakan tulisan-tulisan dari empat setengah tahun terakhir hidup Engels. Ada sejumlah tulisan-tulisan jurnalistik untuk koran-koran sosialis besar pada masa itu, termasuk Die Neue Zeit, Le Socialiste dan Critica Sociale, tetapi juga sejumlah kata pengantar dan penutup untuk berbagai edisi karya-karya Marx dan Engels, transkripsi pidato, wawancara dan sambutan dalam kongres-kongres partai, catatan percakapan, dokumen-dokumen yang Engels tulis dalam kolaborasi dengan orang lain, dan sejumlah terjemahan.
Tiga volume ini akan terbukti bermanfaat bagi studi yang lebih mendalam atas kontribusi teoretik dan politik Engels tua. Rangkaian publikasi dan konferensi internasional yang dijadwalkan pada perayaan dua abad kelahirannya (1820-2020) tentu tidak akan melewatkan masa dua belas tahun pasca kematian Marx ini, di mana Engels menghabiskan energinya untuk penyebaran Marxisme.

V. Marx yang Lain?
Marx yang seperti apakah yang lahir dari edisi historis-kritis baru atas karya-karyanya ini? Dalam beberapa hal, ia berbeda dari sosok pemikir yang selama ini digambarkan oleh para pengikut dan penentangnya—belum lagi jika kita berbicara tentang patung-patung dari batu yang ditemukan di ruang publik rezim-rezim Eropa Timur, yang menggambarkannya dengan postur menunjuk ke masa depan dengan keyakinan teguh. Di sisi lain, adalah keliru untuk menyebut—seperti mereka yang terlalu bersemangat merayakan penemuan sosok “Marx yang belum dikenal” setiap kali muncul teks yang baru—bahwa penelitian terkini telah memutarbalikkan semua yang sebelumnya diketahui mengenai dirinya. Apa yang disuguhkan oleh MEGA adalah landasan tekstual untuk memikirkan Marx yang berbeda: bukan berbeda karena perjuangan kelas disisihkan dari pemikirannya (seperti yang bakal diharapkan oleh para akademisi, dalam variasi nyanyian lama tentang “Marx sang ekonom” versus “Marx sang politisi” yang berupaya untuk menggambarkannya sebagai pemikir klasik yang ompong); tetapi secara radikal berbeda dengan pengarang yang secara dogmatis dijadikan fons et origo dari “sosialisme riil”, yang semata-mata mengarahkan perhatiannya pada pertentangan kelas.
Kemajuan-kemajuan baru yang dicapai dalam studi-studi Marxian menunjukkan bahwa eksegesis atas karya Marx lagi-lagi, seperti halnya di masa lalu, akan semakin dipertajam. Sejak dulu kaum Marxis mengedepankan tulisan-tulisan Marx muda—terutama Economic and Philosophic Manuscripts of 1844 dan The German Ideology—sementara Manifesto of the Communist Party tetap menjadi tulisannya yang paling banyak dibaca dan dikutip. Namun, dalam tulisan-tulisan masa mudanya tersebut, orang akan menemukan banyak gagasan yang kelak dilampaui dalam karya-karyanya yang belakangan. Sejak dulu, kesulitan untuk memeriksa penelitian Marx dalam dua dekade terakhir kehidupannya menghalangi pemahaman kita tentang pencapaian-pencapaian penting yang ia raih. Namun di atas segalanya itu, di dalam Kapital dan naskah-naskah persiapannya, dan juga dalam penelitian-penelitian di tahun-tahun terakhirnya, kita menemukan refleksi-refleksi yang paling berharga mengenai kritik masyarakat borjuis. Refleksi-refleksi ini merepresentasikan kesimpulan-kesimpulan terakhir, meskipun bukan yang definitif, yang Marx capai. Jika diperiksa secara kritis dalam terang perubahan-perubahan di dunia sejak kematiannya, mereka masih akan terbukti berguna untuk tugas teoretik, setelah kegagalan-kegagalan model sosial-ekonomi alternatif untuk kapitalisme di abad ke-20.
Edisi MEGA ini telah membuktikan kebohongan klaim bahwa segala hal tentang Marx telah ditulis dan dibicarakan. Masih ada banyak hal yang bisa dipelajari dari Marx. Kini menjadi mungkin untuk mempelajari bukan hanya apa yang ditulis Marx dalam karya-karyanya yang telah diterbitkan, tetapi juga pertanyaan dan keraguan yang terkandung dalam sederet naskah yang tak selesai.

 

Bagian I