Categories
Journalism

Konsep Alienasi (Keterasingan) dan Sejarahnya

KALI ini saya akan bercerita tentang salah satu konsep penting dalam Marxisme, yakni konsep alienasi (keterasingan).

Catatan sistematis pertama tentang alienasi termaktub dalam karya Georg W.F. Hegel The Phenomenology of Spirit, di mana istilah Entäusserung (self-externalization) dan Entfremdung (estrangement) diadopsi untuk menunjukkan bahwa dalam dunia objektivitas Roh (spirit) bukan lagi dirinya sendiri. Konsep alienasi kemudian secara mencolok muncul tulisan-tulisan Hegelian Kiri, dan teori keterasingan religius Ludwig Feuerbach dalam bukunya The Essence of Christianity – yaitu, proyeksi manusia mengenai esensi dirinya sendiri ke dalam imanjinasi ketuhanan (imaginary deity) – yang berkontribusi pada pengembangan konsep tersebut. Sayangnya, konsep ini kemudian menghilang dari refleksi filosofis, dan tidak ada pemikir terkemuka pada paruh kedua abad XIX yang memberikan perhatian besar terhadapnya.

Teori ini baru kembali menjumpai pembacanya melalui filsuf-cum revolusioner Hungaria György Lukács. Dalam bukunya History and Class Consciousness, Lukács memperkenalkan istilah ‘reifikasi’ (Versachlichung) untuk menggambarkan fenomena dimana aktivitas kerja mengonfrontasi manusia sebagai sesuatu yang objektif dan independen, mendominasi manusia melalui hukum eksternal yang otonom. Kejadian penting selanjutnya yang dengan cepat menyebarkan konsep ini muncul dalam karya Marx berjudul the Economic-Philosophical Manuscripts of 1844, yang ditemukan pada tahun 1932. Dalam karya Marx muda yang sebelumnya tidak dipublikasikan ini, alienasi disajikan sebagai fenomena yang melaluinya produk buruh mengonfrontasi si buruh ‘sebagai sesuatu yang asing, sebagai kekuatan independen dari produsen’. Marx menyebutkan empat keadaan dimana buruh teralienasi dalam masyarakat borjuis: 1) oleh hasil kerjanya, yang menjadi “objek asing yang memiliki kekuasaan atas dirinya”; 2) terasing dari aktivitas kerjanya, dimana aktivitasnya justru ‘ditujukan untuk melawan dirinya sendiri’, seolah-olah aktivitas kerja itu ‘bukan miliknya’; 3) terasing dari ‘dirinya sendiri sebagai manusia/man’s species-being”, yang ditransformasukan menjadi ‘sesuatu yang keberadaannya asing baginya’; dan 4) oleh manusia lain, dan dalam hubungannya dengan ‘kerja mereka dan objek kerja’. Bagi Marx, tidak seperti Hegel, alienasi tidak menempel pada objektifikasi sebagaimana adanya melainkan dengan fenomena tertentu dalam bentuk ekonomi yang aktual: yaitu, upah buruh dan transformasi produk tenaga kerja menjadi objek yang berdiri bertentangan dengan produsernya. Sementara Hegel menerangkan keterasingan sebagai manifestasi ontologis buruh, Marx menganggapnya sebagai karakteristik dari epos sistem produksi tertentu: kapitalisme.

Pada bagian awal abad XX, sebagian besar penulis yang membahas keterasingan menganggapnya sebagai aspek universal dari eksistensi manusia. Dalam Being and Time, Martin Heidegger mendekatinya sebagai ‘modus eksistensial Mengada-di-dalam-dunia (Being-in-the-world)‘, sebagai sebuah realitas yang membentuk bagian dari dimensi fundamental sejarah. Setelah Perang Dunia II, alienasi menjadi tema yang berulang di bawah pengaruh eksistensialisme Prancis, yang ditandai dengan menyebarnya ketidakpuasan manusia dalam masyarakat, perpecahan antara individualitas manusia dan dunia pengalaman. Satu dekade kemudian, istilah itu masuk dalam kosakata sosiologi Amerika Utara. Sosiologi arus utama memperlakukan istilah alienasi ini sebagai masalah manusia individual, bukan hubungan sosial, dan pencarian solusi berpusat pada kapasitas individu untuk menyesuaikan diri dengan tatanan yang ada, bukan pada tindakan kolektif untuk mengubah masyarakat. Pergeseran besar pendekatan ini pada akhirnya menolak analisis faktor-faktor sejarah-sosial (historical-social factors). Sementara dalam tradisi Marxis konsep alienasi telah berkontribusi pada beberapa kritisisme tajam terhadap cara produksi kapitalis, pelembagaannya dalam ranah sosiologi telah mereduksinya menjadi sekadar fenomena ketidakmampuan individu untuk menyesuaikan diri dengan norma-norma sosial.

Konsep ini juga menemukan jalannya dalam psikoanalisis, di mana Erich Fromm menggunakannya dalam rangka membangun jembatan ke Marxisme. Namun ia meletakkan penekanan utama pada subjektivitas, dan gagasannya tentang keterasingan, yang dirangkumnya dalam The Sane Society sebagai ‘modus pengalaman di mana individu mengalami dirinya sebagai makhluk asing’. Pada Fromm, konsep ini tetap terlalu fokus pada individu.

Pada 1960-an, muncul trend baru dalam menteorikan alienasi dan konsep itu tampaknya mengekspresikan semangat zaman menuju kesempurnaan. Dalam buku Guy Debord The Society of the Spectacle, teori alienasi terkait dengan kritik terhadap produksi immaterial: ‘dengan “revolusi industri kedua”, konsumsi yang teralienasi telah menjadi harga yang harus dibayar sebanyak produksi yang teralienasi.” Namun, popularitas istilah tersebut, dan penerapannya yang serampangan, menciptakan ambiguitas atau ketidakpastian konseptual yang mendalam.

Penyebaran karya Marx Grundrisse, sebuah naskah yang ditulis pada 1857-58 dan kemudian menuai populartiasnya pada awal tahun 1970-an, disusul dengan “Capital, Volume Satu: Buku 1, Bab VI, tidak diterbitkan”, memusatkan perhatian pada cara bagaimana Marx mengonseptualisasikan alienasi pada tulisan-tulisan masa tuanya. Konspetualisasinya ini, dalam banyak hal, mengingatkan kita pada analisis-analisisnya dalam the Economic-Philosophical Manuscripts of 1844, namun diperkaya dengan pemahaman yang luas tentang kategori-kategori ekonomi serta analisis sosial yang lebih ketat. Tak pelak hal ini melempangkan jalan bagi pemahaman konsepsi alienasi yang berbeda dari konsepsi sebelumnya yang hegemonik dalam sosiologi dan psikologi.

Pada Marx tua, konsepsinya ditujukan untuk mengatasi alienasi dalam praktik – ke aksi politik dari gerakan sosial, partai dan serikat buruh untuk mengubah kondisi-kondisi kerja dan hidup kelas pekerja. Publikasi dari karya-karya (setelah the Economic-Philosophical Manuscripts of 1844 pada 1930-an) dapat dianggap sebagai “generasi kedua” dari tulisan-tulisan Marx tentang alienasi. Di sini, Marx tidak hanya menyediakan landasan teoretis yang koheren untuk studi-studi baru tentang alienasi, tetapi di atas semuanya adalah platform ideologi anti-kapitalis bagi gerakan sosial dan politik yang meledak secara spektakuler di dunia selama tahun-tahun itu. Pada momen ini, alienasi pergi meninggalkan buku-buku para filsuf dan ruang-ruang kuliah universitas, turun ke jalan-jalan dan ruang-ruang perjuangan buruh, dan menjadi kritik terhadap masyarakat borjuis secara umum.

Kemajuan ini juga terbukti tampak di bagian yang terkenal dari Capital, Volume I: ‘Fetisisme/pemujaan Komoditi dan Rahasianya’. Bagi Marx, dalam masyarakat kapitalis, hubungan di antara orang-orang muncul tidak “sebagai hubungan sosial yang langsung di antara orang-orang […], tetapi lebih sebagai hubungan material di antara orang-orang dan hubungan sosial di antara benda-benda’. Fenomena ini disebutnya sebagai “pemujaan/fetisisme yang melekat erat pada produk kerja segera setelah mereka diproduksi sebagai komoditas, dan karena itu tidak dapat dipisahkan dari produksi komoditas tersebut.” Konsep Fetisisme komoditi ini bukanlah pengganti dari konsep alienasi di tulisan-tulisan awalnya. Dalam masyarakat borjuis, Marx berpendapat, kualitas dan hubungan manusia berubah menjadi kualitas dan hubungan di antara benda-benada. Inilah teori yang disebut Lukács sebagai reifikasi, yang menggambarkan fenomena ini dari sudut pandang hubungan manusia, sementara konsep fetisisme memperlakukan fenomena itu dalam kaitannya dengan komoditas.

Sebaliknya, bagi Marx, sistem produksi post-kapitalis, bersamaan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dan konsekuensi pengurangan hari kerja, menciptakan kemungkinan bentuk sosial baru. Dalam sistem baru ini, buruh yang teralienasi dan dipaksa kerja oleh kapital sekaligus subjek yang tunduk pada hukum-hukumnya, secara bertahap digantikan dengan dengan kegiatan-kegiatan kreatif dan berkesadaran melampaui kebutuhan mendesaknya. Demikian juga hubungan sosialnya yang utuh mengganti pertukaran acak yang sama (undifferentiated exchange) yang didikte oleh hukum-hukum komoditas dan uang. Inilah ruang dimana kebebasan manusia yang sejati merekah menggantikan ruang kebebasan kapitalis.***

Categories
Journalism

Surat-surat untuk Revolusi: Persahabatan Marx-Engels

DALAM suasana perayaan ulang tahun Karl Marx yang ke-200, saya ingin berbagi cerita tentang persahabatannya dengan Friedrich Engels.

Marx dan Engels pertama kali bertemu di Cologne, Jerman, pada November 1842. Pertemuan itu terjadi di kantor koran Rheinische Zeitung, dimana Marx aktif sebagai editor muda. Namun kolaborasi teoritik mereka baru dimulai pada 1844, di Paris, Prancis. Engels, anak seorang industrialis tekstil, berkesempatan mengunjungi Inggris. Di sana ia melihat dengan mata kepalanya sendiri dampak-dampak dari penindasan kapitalis terhadap kelas-kelas pekerja. Artikelnya tentang kritik ekonomi-politik yang dimuat dalam Franco-German Yearbooks, mendapatkan perhatian yang sangat besar dari Marx, yang saat itu memutuskan untuk mendedikasikan seluruh energinya pada subjek yang sama. Keduanya kemudian memulai kerjasama politik dan teoritiknya hingga masa akhir kehidupan mereka.

Pada 1845, ketika pemerintah Prancis mengusir Marx karena aktivitas-aktivitas komunisnya, Engels menyusulnya ke Brussel, Belgia, tempat tinggal baru Marx dan keluarganya. Tahun yang sama terbitlah karya bersama mereka yang sangat sedikit: The Holy Family (Keluarga Suci), sebuah kritik terhadap idealisme para Hegelian Muda (Young Hegelians); dan tak lama berselang keduanya menulis manuskrip yang tidak diterbitkan – The German Ideology (Ideologi Jerman) – yang menghadirkan “kritik tajam laksana gigitan tikus”. Selanjutnya, dengan mencuatnya ke permukaan tanda-tanda pertama revolusi pada 1848, Marx dan Engels menulis sebuah karya yang kelak menjadi teks politik yang paling luas dibaca dalam sejarah umat manusia: the Manifesto of the Communist Party (Manifesto Partai Komunis).

Tahun 1849, menyusul kekalahan revolusi 1848, Marx kembali terusir dari Brussel dan memutuskan pindah ke Inggris. Engels pun dengan segera menyeberangi perbatasan mengikuti jejak langkah karibnya itu. Marx menyewa penginapan murah di London, sementara Engels memilih pergi mengelola bisnis keluarganya di Manchester, sekitar 300 km jauhnya dari Marx. Dari 1850 hingga 1870, ketika Engels pensiun dari bisnis dan pada akhirnya bisa bergabung kembali dengan kawannya di ibukota Inggris itu, keduanya hidup pada periode yang sangat intens dalam kehidupan mereka. Mereka menulis catatan-catatan beberapa kali dalam seminggu ketika peristiwa-peristiwa politik dan ekonomi besar berlangsung pada masa itu. Lebih dari 2.500 surat menyurat saling mereka kirimkan dalam dua dekade tersebut. Keduanya juga mengirimkan sekitar 1.500 surat-surat korespondensi kepada para aktivis dan intelektual di hampir sekitar 20 negara. Untuk aktivitas yang sangat luar biasa ini, mesti ditambahkan 10.000 surat yang ditujukan kepada Marx dan Engels dari pihak ketiga, dan 6.000 surat lainnya, yang walaupun sulit dilacak, namun diketahui dengan pasti pernah ada. Ini sungguh sebuah harta karun yang tak ternilai harganya, mencakup gagasan-gagasan yang, dalam beberapa kasus, gagal mereka formulasikan secara utuh dalam tulisan-tulisannya.

Beberapa korespondensi di abad ke-19 itu bisa mengumbar banyaknya referensi yang sarat pengetahuan sebagaimana yang mengalir dari pena kedua komunis revolusioner komunis itu. Marx bisa membaca dalam delapan bahasa dan Engels sendiri menguasai setidaknya 12 bahasa; surat-surat mereka secara mencolok ditandai oleh pergantian secara berkelanjutan antara berbagai bahasa yang berbeda-beda dan untuk jumlah kutipan yang mereka pelajari, termasuk dalam bahasa Latin dan Yunani kuno. Kedua humanis ini juga sangat mencintai sastra. Marx hafal cuplikan-cuplikan naskah karya Shakespeare dan tak pernah lelah membolak-balik halaman buku karya Aeschylus, Dante dan Balzac. Engels untuk waktu lama adalah presiden dari Schiller Institute di Manchester dan sangat memuja Aristoteles, Goethe dan Lessing. Bersamaan dengan diskusi rutin soal aktivitas-aktivitas internasional dan kemungkinan-kemungkinan revolusioner, banyak dari korespondensi mereka berkaitan dengan penemuan-penemuan besar terbaru masa itu dalam bidang teknologi, geologi, kimia, fisika, matematika dan antropologi. Marx selalu memandang Engels sebagai teman bicara yang tak tergantikan, tempatnya mengonsultasikan suara kritisnya kapanpun ia harus mengambil posisi untuk soal-soal yang kontroversial.

Acap kali hubungan mereka melibatkan pembagian kerja yang nyata. Dari 487 artikel yang diterbitkan atas nama Marx antara periode 1851 dan 1862 di New-York Tribune (sebuah koran dengan sirkulasi terbesar di Amerika Serikat), hampir setengahnya sesungguhnya ditulis oleh Engels. Marx menulis buat publik Amerika tentang krisis ekonomi dan peristiwa-peristiwa besar dalam politik dunia, sementara Engels menceritakan kembali peristiwa dan hasil yang mungkin dari banyak perang yang terjadi. Melalui pembagian kerja ini, ia memberikan kesempatan kepada Marx agar bisa mendedikasikan lebih banyak waktu untuk menyelesaikan studi-studi ekonominya.

Melampaui level hubungan intelektual, dalam pengertian kemanusiaan hubungan kedua sahabat ini lebih luar biasa lagi. Marx menceritakan semua kesulitan pribadinya kepada Engels, dimulai dengan kesulitan materialnya yang mengerikan dan berbagai masalah kesehatan yang menyiksanya selama beberapa dekade. Sebaliknya, Engels menunjukkan kesetiakawanan (self-abnegation) yang total dalam membantu Marx dan keluarganya, selalu melakukan segala daya untuk memastikan kehidupan mereka tetap bermartabat dan memfasilitasi penyelesaian Kapital. Marx tak pernah lupa dengan bantuan keuangan ini, sebagaimana bisa kita lihat dari apa yang ditulisnya pada suatu malam di bulan Agustus 1867, beberapa menit setelah ia selesai mengoreksi bukti-bukti Kapital Volume I: “Saya berutang budi kepada Anda, karena Anda lah buku ini menjadi mungkin.”

Mulai bulan September 1864, keterlibatan Marx dalam aktivitas Asosiasi Kelas Pekerja Internasional (International Working Men’s Association) telah menyebabkan penyelesaian penulisan karya magnum opusnya tertunda-tunda. Sejak awal ia telah menduga akan memikul beban berat ketika memimpin asosiasi itu, tetapi Engels dengan segera menggunakan bakat politiknya untuk melayani para pekerja. Pada malam 18 Maret 1871, ketika mereka menerima berita bahwa “badai langit/storming of the heavens” mengalami kesuksesan dan bahwa komune sosialis pertama dalam sejarah manusia muncul di Paris, mereka memahami bahwa waktu dapat berubah lebih cepat dari yang mereka harapkan.

Bahkan setelah kematian istri Marx, Jenny, pada 1881, ketika para dokter memberikan resep perjalanan jauh dari London dalam upaya untuk menyembuhkan penyakitnya, Marx dan Engels tidak pernah berhenti menulis satu sama lain. Seringkali mereka menggunakan julukan yang penuh kasih sayang di mana berbagai kawan dalam perjuangan menyapa mereka: Moor (untuk Marx karena jenggot dan rambutnya yang hitam legam) dan Jenderal (untuk Engels karena pengetahuannya yang luas tentang strategi militer).

Sesaat sebelum kematiannya, Marx meminta putrinya Eleanor untuk mengingatkan Engels agar “membuat sesuatu” dari naskahnya yang belum selesai. Menghormati permintaan itu, Engels memulai tugas besar tersebut segera setelah sore pada Maret 1883, ketika dia melihat sahabatnya itu untuk terakhir kalinya. Dia masih bertahan hidup selama 12 tahun sejak meninggalnya Marx, dan selama itu banyak hal yang dipersiapkannya untuk mempublikasikan rancangan materi bagi Kapital Volume II dan Volume III, yang tak sempat diselesaikan Marx.

Selama masa-masa terakhir dalam hidupnya, Engels merindukan banyak hal yang berkaitan dengan Marx, termasuk surat-menyurat yang konstan. Ketika ia dengan hati-hati menyusun korespondensi mereka, ia teringat tahun-tahun ketika, sambil mengisap cerutunya, ia memiliki kebiasaan menulis surat pada larut malam. Kini dia sering membaca kembali surat-surat itu dengan sentuhan melankolis, memikirkan semua momen di masa muda mereka, ketika sambil tersenyum dan bercanda satu sama lain, mereka mencoba memprediksi di mana revolusi berikutnya akan pecah. Meskipun demikian, tak pernah terpikir olehnya bahwa banyak orang lain akan melanjutkan pekerjaan teoritis mereka, dan bahwa jutaan orang, di setiap sudut dunia, akan terus berjuang untuk emansipasi kelas-kelas tertindas.

Categories
Journalism

Baca Karl Marx! Perbincangan dengan Immanuel Wallerstein

SELAMA tiga dekade, kebijakan dan ideologi neoliberal telah mendominasi di seluruh dunia. Namun demikian, krisis ekonomi 2008, kesenjangan sosial-ekonomi yang sangat tinggi di masyarakat kita – khususnya antara Global Utara dan Selatan – dan isu lingkungan yang dramatis saat ini telah mendorong beberapa sarjana, analis ekonomi dan politisi untuk membuka kembali perdebatan tentang masa depan kapitalisme dan kebutuhan akan alternatif.

Dalam konteks inilah, hari ini hampir di semua tempat di seluruh dunia, bersamaan dengan peringatan dua abad kelahiran Marx, terjadi “Kebangkitan Marx”; kembali ke seorang penulis di masa lalu yang secara keliru terkait dengan dogmatisme Marxisme-Leninisme dan, kemudian, buru-buru dienyahkan menyusul runtuhnya Tembok Berlin.

Kembali ke Marx tidak hanya sangat diperlukan untuk memahami logika dan dinamika kapitalisme. Karyanya juga merupakan alat yang sangat berguna bagi pemeriksaan yang ketat terkait dengan kegagalan eksperimen-eksperimen sosial-ekonomi sebelumnya untuk menggantikan kapitalisme dengan cara produksi yang lain. Penjelasan tentang kegagalan ini sangat penting bagi pencarian alternatif kontemporer kita. Immanuel Wallerstein saat ini adalah Senior Research Scholar di Yale University, New Haven – USA, adalah salah satu sosiolog hidup terbesar dan salah satu cendekiawan yang paling tepat untuk membahas relevansi Marx saat ini. Dia telah menjadi pembaca Marx untuk waktu yang lama dan karyanya telah dipengaruhi oleh teori-teori sang revolusioner yang lahir di Trier, pada 5 Mei 1818 itu. Wallerstein telah menulis lebih dari 30 buku, yang telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa, termasuk The Modern World-System yang terkenal itu, yang diterbitkan dalam empat volume antara tahun 1974 dan 2011. Berikut petikannya:

Marcello Musto (MM) : Profesor Wallerstein, 30 tahun setelah berakhirnya apa yang disebut “sosialisme yang benar-benar ada/actually existing socialism”, publikasi, perdebatan, dan konferensi di seluruh dunia tentang kejeniusan Karl Marx dalam menjelaskan masa kini terus berlangsung. Apakah ini mengejutkan? Atau apakah Anda percaya bahwa gagasan-gagasan Marx akan senantiasa relevan buat mereka yang mencari alternatif bagi kapitalisme?

Immanuel Wallerstein (IW) : Ada anekdot lama tentang Marx: “Anda melemparkannya ke luar dari pintu depan dan dia akan menyelinap masuk melalui jendela belakang”. Itulah yang kembali terjadi saat ini. Marx relevan karena kita masih harus berurusan dengan isu-isu yang banyak dibicarakannya dan karena apa yang dia katakan berbeda dari apa yang dikatakan oleh kebanyakan penulis lain tentang kapitalisme. Banyak kolumnis dan sarjana – tidak hanya saya sendiri – menemukan Marx sangat berguna dan hari ini dia berada di salah satu fase popularitas barunya, terlepas dari apa yang diprediksi pada tahun 1989.

MM : Runtuhnya Tembok Berlin membebaskan Marx dari rantai ideologi yang tidak ada hubungannya dengan konsepsinya tentang masyarakat. Lanskap politik setelah bubarnya Uni Soviet membantu membebaskan Marx dari peran boneka bagi aparatus negara. Apa penafsiran Marx tentang dunia yang tetap menarik perhatian?

IW : Saya percaya bahwa ketika orang berpikir tentang interpretasi Marx mengenai dunia dalam satu konsep, yang mereka pikirkan adalah tentang “perjuangan kelas/class struggle.” Ketika saya membaca Marx dalam terang isu-isu saat ini, bagi saya perjuangan kelas berarti perjuangan yang diperlukan dari apa yang saya sebut Kiri Global – yang saya percaya berusaha untuk mewakili 80 persen populasi dunia berpenghasilan rendah- melawan Kanan Global – yang mungkin hanya mewakili 1 persen dari populasi. Perjuangan itu di atas19 persen lainnya. Ini tentang bagaimana membuat mereka mendekat ke sisi Anda, ketimbang ke yang lainnya. Kita hidup di era krisis struktural dari sistem dunia. Sistem kapitalis yang ada tidak dapat bertahan hidup, tetapi tidak ada yang tahu pasti sistem apa yang akan menggantikannya. Saya yakin ada dua kemungkinan: pertama, apa yang saya sebut “Spirit of Davos.” Tujuan dari Forum Ekonomi Dunia Davos adalah untuk membangun sistem yang sanggup mempertahankan fitur-fitur terburuk dari kapitalisme: hirarki sosial, eksploitasi, dan di atas semuanya, polarisasi kekayaan. Alternatifnya adalah sebuah sistem yang harus lebih demokratis dan lebih egaliter. Perjuangan kelas adalah upaya mendasar untuk memengaruhi masa depan yang akan menggantikan kapitalisme.

MM: Refleksi Anda tentang kelas menengah mengingatkan saya pada gagasan hegemoni Antonio Gramsci. Tetapi saya kira pointnya juga untuk mengerti bagaimana cara memotivasi massa rakyat, 80 persen yang Anda sebutkan, untuk berpartisipasi dalam politik. Hal ini secara khusus sangat mendesak dalam apa yang disebut global South (baca: negara-negara Selatan), di mana mayoritas populasi dunia terkonsentrasi, dan di mana, dalam dekade terakhir, terjadi peningkatan dramatis ketidaksetaraan yang dihasilkan oleh kapitalisme, dan disaat bersamaan gerakan-gerakan progresif telah menjadi jauh lebih lemah daripada sebelumnya. Di wilayah-wilayah ini, perlawanan terhadap globalisasi neoliberal sering disalurkan dalam bentuk dukungan terhadap fundamentalisme agama dan partai-partai yang mengusung gagasan nasionalisme sempit (xenophobia). Kita lihat fenomena ini juga muncul di Eropa. Pertanyaannya: Apakah Marx membantu kita memahami skenario baru ini? Studi-studi yang terbit belakangan ini telah menawarkan interpretasi baru tentang Marx yang mungkin berkontribusi untuk membuka “jendela belakang” lain di masa depan, untuk menggunakan ekspresi Anda. Mereka menunjukkan tentang keluasan analisa Marx tentang kontradiksi masyarakat kapitalis melampaui konflik antara kapital dan buruh ke domain lain. Faktanya, Marx mencurahkan banyak waktunya untuk mempelajari masyarakat non-Eropa dan peran destruktif kolonialisme di negara-negara kapitalisme pinggiran (peripheral capitalism). Secara konsisten, bertentangan dengan interpretasi yang menyamakan konsepsi Marx tentang sosialisme dengan pengembangan kekuatan produktif, perhatian pada masalah ekologi tampak menonjol dalam karyanya. Akhirnya, Marx secara luas tertarik pada beberapa topik lain yang sering diabaikan oleh para sarjana ketika mereka berbicara tentangnya. Di antaranya adalah potensi teknologi, kritik terhadap nasionalisme, pencarian bentuk-bentuk kepemilikan kolektif yang tidak dikontrol oleh negara dan kebutuhan akan kebebasan individu dalam masyarakat kontemporer: semua masalah mendasar zaman kita. Tetapi di samping wajah-wajah baru Marx – yang menunjukkan bahwa minat baru dalam pemikirannya adalah sebuah fenomena yang ditakdirkan untuk berlanjut di tahun-tahun mendatang – dapatkah Anda menunjukkan tiga gagasan Marx paling terkemuka yang Anda yakini layak dipertimbangkan kembali hari ini ?

IW : Pertama, Marx menjelaskan kepada kita lebih baik daripada orang lain bahwa kapitalisme bukanlah cara alami dalam mengorganisikan masyarakat. Dalam The Poverty of Philosophy, yang diterbitkan ketika ia baru berusia 29 tahun, ia sudah mengejek para ekonom-politik borjuis yang berpendapat bahwa hubungan kapitalis “adalah hukum alam, independen dari pengaruh waktu”. Marx menulis bahwa bagi mereka “dalam sejarahnya, sejak di dalam institusi feodalisme kita menemukan hubungan produksi yang sangat berbeda dari masyarakat borjuis”, tetapi mereka tidak menerapkan sejarah ini pada cara produksi yang mereka dukung; buat mereka kapitalisme adalah hubungan produksi “yang alami dan abadi”. Dalam buku saya, Historical Capitalism , saya mencoba menjelaskan bahwa kapitalisme adalah sistem yang muncul secara historis, bertentangan dengan beberapa gagasan yang samar dan tidak jelas yang dianut oleh beberapa ahli ekonomi-politik arus utama. Saya berdebat beberapa kali bahwa tidak ada kapitalisme yang bukan kapitalisme historis. Sesederhana itu buat saya dan kita berhutang banyak pada Marx.

Kedua , saya ingin menekankan pentingnya konsep “akumulasi primitif,” yang berarti penyingkiran kaum tani dari tanah mereka yang merupakan fondasi dari kapitalisme. Marx sangat paham bahwa ini adalah proses kunci yang membentuk dominasi kaum borjuis. Itu terjadi di masa awal kapitalisme dan terus terjadi hingga sekarang.

Terakhir, ketiga, saya ingin mengundang refleksi yang lebih besar tentang masalah “kepemilikan pribadi dan komunisme.” Dalam sistem yang didirikan di Uni Soviet – khususnya di bawah Stalin – negara memiliki properti tetapi itu tidak berarti bahwa orang-orang tidak dieksploitasi atau ditindas. Faktanya mereka dieksplitasi dan ditindas. Berbicara tentang sosialisme di satu negara, seperti yang dilakukan Stalin, sebelum periode itu juga merupakan sesuatu yang tidak pernah masuk ke dalam pikiran seseorang, termasuk Marx. Kepemilikan publik atas alat-alat produksi adalah satu kemungkinan. Mereka juga bisa dimiliki secara kooperatif. Tetapi kita harus tahu siapa yang memproduksi dan siapa yang menerima nilai lebih ( surplus value) jika kita ingin membangun masyarakat yang lebih baik. Itu harus sepenuhnya diatur kembali, dibandingkan dengan kapitalisme. Ini adalah pertanyaan kunci bagi saya.

MM : Tahun 2018 menandai peringatan dua abad kelahiran Marx dan buku-buku dan film-film baru telah didedikasikan untuk hidupnya. Apakah ada periode biografi yang menurut Anda paling menarik?

IW: Marx memiliki kehidupan yang sangat sulit. Dia berjuang dengan kemiskinan pribadi yang parah. Untungnya dia memiliki kawan seperti Friedrich Engels yang membantunya bertahan hidup. Marx juga tidak memiliki kehidupan yang mudah secara emosional dan kegigihannya dalam mencoba melakukan apa yang dia anggap sebagai pekerjaan hidupnya – pemahaman tentang bagaimana kapitalisme beroperasi – sangat mengagumkan. Inilah yang dilihatnya bisa ia lakukan. Marx tidak ingin menjelaskan zaman kuno, atau mendefinisikan seperti apa sosialisme di masa depan nantinya. Ini bukan tugas yang ingin dikerjakannya. Dia ingin memahami dunia kapitalis di mana dia hidup.

MM: Sepanjang hidupnya, Marx bukan hanya seorang sarjana yang terisolasi di antara tumpukan buku-buku di British Museum di London, tetapi selamanya ia adalah seorang revolusioner militan yang terlibat dalam perjuangan di zamannya. Karena aktivismenya, ia diusir dari Prancis, Belgia, dan Jerman pada masa mudanya. Dia juga dipaksa pergi ke pengasingan di Inggris ketika revolusi tahun 1848 mengalami kekalahan. Dia menerbitkan surat kabar dan jurnal dan selalu mendukung gerakan buruh dengan segala cara yang dia bisa. Kemudian, dari tahun 1864 hingga 1872, ia menjadi pemimpin Asosiasi Kelas Pekerja Internasional (International I), organisasi transnasional pertama kelas pekerja dan, pada tahun 1871 membela Komune Paris, eksperimen sosialis pertama dalam sejarah.

IW : Ya itu benar. Penting untuk mengingat militansi Marx. Seperti yang baru-baru ini Anda soroti dalam buku Workers Unite! , ia memiliki peran luar biasa di Internasional I, sebuah organisasi orang-orang yang secara fisik terpisah satu sama lain, pada saat mekanisme komunikasi yang mudah tidak ada. Aktivitas politik Marx juga melibatkan jurnalisme. Dia melakukan itu di sepanjang hidupnya, sebagai cara untuk berkomunikasi dengan audiens yang lebih besar. Dia bekerja sebagai wartawan untuk terus menghidupkan asap dapurnya, tetapi dia melihat kontribusinya itu sebagai aktivitas politik. Dia tidak memiliki perasaan netral. Dia selalu seorang jurnalis yang berkomitmen.

MM: Pada 2017, pada peringatan 100 tahun Revolusi Rusia, beberapa sarjana kembali ke perbedaan atau pertentangan antara Marx dan beberapa pengikutnya yang berkuasa di abad ke-20. Apa perbedaan utama antara Marx dan mereka?

IW : Tulisan-tulisan Marx memberi gambaran jelas dan jauh lebih halus dan beraneka ragam dari beberapa interpretasi sederhana dari ide-idenya. Adalah selalu baik untuk mengingat boutade terkenal di mana Marx berkata: “Jika ini adalah Marxisme, maka saya bukanlah seorang Marxis.” Marx selalu siap menghadapi dunia nyata, tidak seperti banyak orang lain yang secara dogmatis memaksakan pandangan mereka. Marx sering mengubah pikirannya. Dia terus mencari solusi atas masalah yang dia lihat sedang dihadapi dunia. Itu sebabnya dia masih merupakan pemandu (guide) yang sangat membantu dan berguna.

MM : Sebagai penutup, apa yang ingin Anda katakan kepada generasi muda yang belum menemukan Marx?

IW : Hal pertama yang harus saya katakan kepada anak muda adalah mereka harus membaca-nya. Jangan membaca tentang dia, tetapi baca Marx . Hanya sedikit orang – dibandingkan dengan banyak orang yang berbicara tentang dia – yang sebenarnya membaca Marx. Itu juga berlaku untuk Adam Smith. Umumnya, orang hanya membaca tentang para pemikir klasik ini. Orang-orang belajar tentang mereka melalui ringkasan orang lain. Mereka ingin menghemat waktu tetapi, sebenarnya, itu buang-buang waktu! Orang hanya ingin membaca figur yang menarik dan Marx adalah sarjana paling menarik dari abad ke-19 dan ke-20. Tidak ada keberatan tentang itu. Tidak ada yang setara dengannya terkait jumlah pasal yang ditulisnya, atau untuk kualitas analisisnya. Jadi, pesan saya kepada generasi baru adalah Marx benar-benar layak ditemukan tetapi Anda harus membaca, membaca, dan membaca-nya. Baca Karl Marx!***

Categories
Journalism

Mempelajari Kembali Marxisme

Setelah Jakarta lumpuh oleh aksi demonstrasi sopir Bluebird ,Senin (22/3) lalu. Seorang budayawan membroadcast tulisan lewat grup Peduli Negara (3) Whatsapp (WA). Ia mengatakan:

“Anda boleh membenci Karl Marx sampai ke ubun-ubun, tapi sulit dibantah kalau ia juga berkata benar. Dalam kritiknya kepada kapitalisme, Marx mengatakan perubahan adalah satu keniscayaan. Dalam hal ini “perubahan kekuatan produksi akan mengubah hubungan produksi”. Teknologi adalah kekuatan produksi yang dalam perkembangannya akan merombak hubungan produksi. Teknologi mengubah hubungan sosial, politik, dan kebudayaan dibangun di atasnya.

Dalam kata lain, teknologi selalu bersifat disruptif bagi hubungan produksi. Demikianlah hubungan “buruh dan majikan” menjadi buram dalam dunia yang dianyam oleh Internet ini. Perusahaan taksi kedodoran menghadapi Uber, Grab, dan juga Gojek. Rantai keuntungan dipangkas, tempat buat akumulasi laba tanpa kerja menjadi kian sempit. Berkat teknologi, para pekerja berpeluang menjadi tuan bagi dirinya sendiri.

Dalam esainya yang monumental Why Socialism (1949) di Monthly Review, Albert Einstein, si jenius fisika itu mengatakan akar kejahatan ekonomi adalah kapitalisme, dan sosialisme adalah jalan keluar yang patut dipertimbangkan. “The achievement of socialism requires the solution of some extremely difficult socio-political problems: how is it possible, in view of the far-reaching centralization of political and economic power, to prevent bureaucracy from becoming all-powerful and overweening? How can the rights of the individual be protected and therewith a democratic counterweight to the power of bureaucracy be assured?”.

Tapi tentu saja bagi Anda pembenci Marx, di musim aksi Anti-Komunis hari-hari ini, baik Marx dan Einstein punya dosa rangkap: mereka penganjur sosialisme dan Yahudi.

Kebetulan beberapa hari sebelumnya Profesor Marcello Musto dari Kanada mengirimkan Bergelora.com artikel dibawah ini dengan judul asli :

Marx Is Back
Bertentangan dengan perkiraannya yang terlupakan dalam beberapa tahun terakhir,– Karl Marx hari ini telah kembali menjadi perhatian para ahli internasional. Kemampuannya terus menjelaskan dunia sekarang ini, menegaskan kembali keabsahan teorinya,– setelah para ahli di Eropa, Amerika Serikat, Jepang dan Asia menjadi lebih sering mengkaji tulisan-tulisan Marx.

Ilustrasi yang paling signifikan dari penemuan kembali ini adalah dimulainya kembali publikasi karya-karya Marx. Bahkan,– meskipun difusi besar pemikiran Marx pada abad kedua puluh , masih belum ada edisi lengkap dan ilmiah dari karya-karyanya sampai saat ini. Marx terbukti sebagai pemikir terbesar kemanusiaan.

Untuk memahami bagaimana hal itu mungkin, kita perlu mempertimbangkan perubahan-perubahan bervariasi dari gerakan kelas pekerja yang terlalu sering menghalangi, ketimbang memfasilitasi penerbitan tulisan-tulisan Marx. Setelah Marx dan Engels meninggal, konflik dalam Partai Sosial Demokrat Jerman menyebabkan kelalaian besar terhadap warisan tulisan Marx dan Engels. Usaha pertama untuk mempublikasikan karya-karya mereka lengkap, Marx-Engels-Gesamtausgabe (MEGA), dibuat di Uni Soviet hanya pada tahun 1920 tetapi pada awal 1930-an terjadi pembersihan oleh Stalin, yang juga melanda para intelektual akademis utama yang terlibat dalam proyek itu. Kemunculan Nazisme di Jerman tiba-tiba tentu mengganggu karya-karya pada edisi ini.

Pada tahun 1975 ada usaha kembali untuk mereproduksi seluruh tulisan pemikir yang disebut MEGA, mulai tapi ditangguhkan juga, kali ini sebagai akibat dari jatuhnya Tembok Berlin. Pada tahun 1990, International Marx-Engels Foundation (Imes) diciptakan dengan tujuan menyelesaikan edisi ini, membawa bersama-sama pada inetlektual akademis dari tiga benua yang berbeda. Proyek ini sangat penting, terutama karena sejumlah besar manuskrip Marxist masih tetap belum dipublikasikan. Upaya ini akan digunakan sebagai dasar untuk semua terjemahan baru dari karya Marx dan Engels dalam semua bahasa.

MEGA ini terdiri dari empat bagian yaitu, semua karya-karya mereka; korespondensi mereka; modal dan beberapa draft-nya; dan lebih dari dua ratus notebook pada topik yang paling beragam dalam delapan bahasa, lokasi pengembangan Marxisme. Sampai saat ini 58 dari 114 volume yang direncanakan telah diterbitkan. Sebanyak 18 volume lainnya dilanjutkan pada tahun 1998. Setiap volume terdiri dari dua buku-buku tebal yang besar terdiri dari satu untuk teks dan yang lainnya untuk para kritikus. Informasi lebih lanjut bisa mengunjungi www.bbaw.de/vs/mega.

Marx yang seperti apa yang muncul pada edisi baru dari sejarah dan kritik kali ini? Pastilah berbeda dari yang digambarkan oleh musuh dan para pengikutnya selama ini. Namun paradoks pasti akan tampak. Karl Marx sering ‘disalah mengertikan’ oleh banyak orang. Selama ini telah terjadi, epigon sistimatis yang berulang dari teori kritik Marx, pemiskinan teori yang disertai penyebarannya, manipulasi dan sensor dari tulisan-tulisannya dan pemanfaatannya untuk alasan instrumental untuk diktat politik,– telah ikut membuatnya sebagai korban dari salah pikiran yang mendalam dan berulang.

Penemuan kembali karyanya menunjukkan perbedaan antara Marx dan ‘Marxisme-Leninisme’, antara kekayaan kerangka masalah dan polimorf yang masih harus dieksplorasi, dan doktrin yang mengubah konsepsi aslinya sampai sebatas menjadi penolakan terhadap manifestonya. Patung-patung batu, yang berdiri di ruang publik di banyak negara liberal di Eropa Timur yang menggambarkan Marx sebagai nabi dengan kepastian dogmatis tentang masa depan,— sekarang akan diganti dengan gambar dari seorang penulis yang,–sampai kematiannya, meninggalkan sebagian besar dari tulisan-tulisannya yang belum selesai sehingga mendedikasikan dirinya untuk penelitian lebih lanjut agar diuji kebenaran dan kekuatan tesis-tesisnya.

Untuk itu ada dua contoh, satu adalah karakter fragmentaris pada The German Ideology di edisi terbaru, yang membuktikan ada pemalsuan interprestasi pada ‘Marxis-Leninis’ dengan mengubah naskah ini menjadi sebuah eksposisi lengkap tentang ‘materialisme historis’ tanpa Marxisme. Konsep Marx sendiri tentang sejarah perlu penulusan kembali dalam totalitas karyanya.

Contoh lainnya adalah penerbitan buku Das Capital kedua dan ketiga, yang memberikan terang pada lebih dari lima ribu editorial Engels yang menunjukkan bahwa, Capital masih jauh dari konklusi dan masih merupakan catatan sementara dalam masih perlu dikembangkan lagi. Penyelesaian segera dari publikasi semua karya asli yang diwariskan oleh Marx pada akhirnya akan memberikan penilaian tepat

Apa yang telah dipastikan adalah nilai dari upaya intelektual tanpa henti seorang Karl Marx. Walaupun belum selesai, tapi tetap merupakan upaya genius dan menyajikan kekayaan analisa untuk melihat dunia kontemporer. Dihadapkan dengan kontradiksi saat ini dan krisis masyarakat kapitalis, dalam edisi-edisi ini kita menyoroti kembali Marx yang sama, yang terlalu cepat kita singkirkan setelah 1989. Setelah membersihkan kesalahan pikir selamaini, diharapkan ini kali kita akan mendengar langsung dari manusia Marx sendiri.

 

Pengantar Redaksi

Categories
Journal Articles

Kiri Radikal Pasca-1989 di Eropa

1. Akhir dari “sosialisme yang ada secara aktual”
RUNTUHNYA Tembok Berlin pada 1989 membawa perubahan besar dalam lanskap politik Eropa.
Runtuhnya rezim birokratik represif blok Soviet memiliki efek positif, yakni membebaskan komunisme dari ‘sosiali me yang ada secara aktual,’ dan membuka kembali peluang untuk perjuangan emansipasi kelas-pekerja.

Namun demikian, pergolakan politik struktural dengan transformasi ekonomi yang besar, memulai sebuah proses restorasi kapitalis yang menghasilkan pukulan balik sosial yang parah dalam skala global. Di Eropa, kekuatan-kekuatan anti-kapitalis menemukan pengaruh mereka mengecil dalam tekanan: menjadi semakin sulit bagi mereka untuk mengorganisir dan mengorientasikan perjuangan sosial, dan secara ideologis, kaum Kiri secara keseluruhan kehilangan posisi hegemonik yang telah dimenangkannya setelah 1968 di wilayah-wilayah kunci dari banyak budaya nasional.

Pukulan balik ini juga terlihat di tingkat elektoral. Sejak 1980an, partai-partai yang bersatu di sekitar gagasan Eurokomunisme [1] dan juga mereka yang masih terikat kuat dengan Moskow, [2] mengalami kemunduran tajam dalam dukungan elektoral. Yang selanjutnya mengalami kehancuran nyata setelah runtuhnya Uni Soviet. Nasib serupa juga memengaruhi berbagai kelompok Kiri Baru dan partai-partai Trotskyis. [3]

Sebuah fase rekonstruksi kemudian dimulai, di mana formasi politik baru seringkali muncul melalui pengelompokkan kembali elemen-elemen anti-kapitalis yang masih ada. Hal ini memungkinkan kekuatan tradisional Kiri terbuka kepada gerakan perdamaian, ekologis dan feminis yang telah berkembang sejak beberapa dekade sebelumnya. Izquierda Unida di Spanyol, yang terbentuk pada 1986, merupakan pelopor dalam hal ini. Inisiatif serupa lalu terbentuk di Portugal (di mana Koalisi Demokratik Unitaris (CDU) dibentuk pada 1987); Denmark (Daftar Unitaris/Merah-Hijau pada 1989); Finlandia (Aliansi Kiri pada 1990); dan Italia serta Yunani pada 1991, ketika Partai Refondasi Komunis (PRC) dan Synaspismos (Koalisi Kiri, Gerakan dan Ekologi) muncul. Bentuk-bentuk organisasional dari kumpulan baru ini sangat bervariasi. Partai-partai yang terdiri dari Izquierda Unida – termasuk Partai Komunis Spanyol – mempertahankan keberadaan mereka; Koalisi Demokratik Unitaris di Portugal berfungsi hanya sebagai sebuah blok elektoral; dan Partai Refondasi Komunis serta Synaspismos membentuk diri mereka sebagai sebuah subjek politik unitaris yang baru.

Meskipun demikian, di negara-negara lain, terdapat upaya (beberapa tidak serius) untuk memperbarui kembali partai-partai yang sudah ada sebelum keruntuhan Tembok Berlin. Pada 1989, menyusul pendirian Republik Ceko, Partai Komunis Bohemia dan Moravia (KSČM) diproklamirkan; dan pada 1990, Partai Sosialisme Demokratik (PDS) muncul di Jerman, mengambilalih peran Partai Persatuan Sosialis yang telah menguasai GDR sejak 1949. Begitu pula pada 1990, di Swedia, Partai Kiri–Komunis mengadopsi posisi yang lebih moderat dan menghapus ‘Komunis’ dari namanya.

2. Kegagalan Pemerintahan
Partai-partai baru ini, seperti yang lain yang belum mengubah nama mereka, berhasil mempertahankan kehadiran politiknya di panggung nasional mereka masing-masing. Bersama-sama dengan kekuatan gerakan sosial dan serikat buruh progresif, mereka berkontribusi pada perlawanan yang semakin meningkat terhadap kebijakan-kebijakan neoliberal setelah 1993, ketika Perjanjian Maastricht berlaku dan menerapkan parameter monetaris yang kaku untuk negara-anggota baru yang bergabung ke Uni Eropa.

Pada 1994, sebuah grup Kiri Bersatu Eropa dibentuk di Parlemen Eropa, dan pada tahun berikutnya, mengikuti kedekatan baru dengan Skandinavia, mereka mengubah namanya menjadi Kiri Bersatu Eropa/Kiri Hijau Nordik (GUE/NGL). Pada pertengahan 1990an, ditopang oleh pemogokan dan demonstrasi besar terhadap negara mereka masing-masing (Berlusconi dan Dini di Italia, Juppé di Perancis, Gonzáles dan Aznar di Spanyol), beberapa kekuatan Kiri radikal bahkan mencapai terobosan elektoral yang moderat. Izquierda Unida mendapat 13,4 persen di pemilu Eropa pada 1994; Partai Refondasi Komunis 8,5 persen di pemilu nasional pada 1996; dan Partai Komunis Perancis hampir 10 persen di pemilu parlementer pada 1997. Di saat yang sama, partai-partai ini meningkatkan keanggotaan mereka dan keberakaran mereka di tingkat lokal dan di tempat kerja.

Selain Republik Ceko (dengan KSČM yang Komunis), negara-negara Eropa Timur adalah pengecualian dari fase konsolidasi ini; warisan ‘komunis’ pasca-perang mengeksklusi ‒ dan terus menghalangi ‒ proses kelahiran kembali kekuatan Kiri. Saat abad baru menyingsing, sebuah gerakan yang besar dan heterogen secara politik untuk melawan globalisasi neoliberal menyebar ke seluruh penjuru dunia. Sejak akhir 1990an, kolektif-kolektif yang diorganisir-sendiri, gerakan serikat lapisan bawah, partai-partai anti-kapitalis dan organisasi non-pemerintah sudah mendorong protes massa di konferensi tingkat tinggi dari G8, Dana Moneter Internasional, Organisasi Perdagangan Dunia dan Forum Ekonomi Dunia (di Davos, Switzerland). Dengan terbentuknya Forum Sosial Dunia (WSF/World Social Forum) di Brazil pada 2001, dan Forum Sosial Eropa (ESF/European Social Forum) telah mendorong pembahasan yang lebih luas tentang alternatif dari kebijakan-kebijakan yang dominan.

Sementara, dengan naiknya Tony Blair sebagai pemimpin Partai Buruh (1994) dan perdana menteri Inggris (1997-2007), terbuka jalan untuk pergeseran yang lebih besar dalam ideologi dan program Sosialis Internasional. [4] ‘Jalan Ketiga’ Blair ‒ pada kenyataannya, tidak lain dari penerimaan tanpa syarat atas mantra neoliberal yang bertopeng perayaan hampa dari ‘yang baru’ ‒ didukung dalam bentuk dan derajat yang berbeda-beda oleh pemerintahan Gerhard Schröder di Jerman, kanselir dari Partai Sosial-demokratik Jerman (SPD) selama 1998-2005,[5] dan José Sócrates dari Portugis, perdana menteri dari Partai Sosialis (PS) selama 2005-2011. Romano Prodi di Italia (perdana menteri dan ketua koalisi kiri-tengah selama 1996-1998 dan 2006-2008) juga memiliki banyak tema yang sama dan mengumandangkan pencarian sebuah ‘jalan baru’.

Atas nama ‘generasi masa depan’ (yang sementara ini dirampas haknya untuk bekerja) dan terinspirasi oleh adopsi Program Lisbon oleh UE pada 2000, pemerintahan-pemerintahan ini menerapkan serangkaian kontra-pembaruan ekonomi yang telah memerosotkan model sosial Eropa. Mereka dengan keras memulai pemotongan besar-besaran dalam belanja negara, membuat hubungan kerja lebih rentan (dengan membatasi jaminan legal dan secara umum memperburuk kondisi kerja), menerapkan kebijakan ‘moderasi’ upah dan meliberalisasi pasar serta jasa sesuai dengan petunjuk Bolkestein pada 2006 yang membawa bencana. Apa yang disebut Agenda 2010 di Jerman, terutama rencana ‘Hartz IV’ dari Schröder, adalah bukti paling konklusif dari arah kebijakan baru ini.

Banyak bagian dari Eropa selatan melihat tergerusnya apa yang masih tersisa dari negara kesejahteraan: serangan pada sistem pensiun, satu putaran lagi dari privatisasi yang masif, komodifikasi pendidikan, pemotongan drastis pada pembiayaan penelitian dan pengembangan, serta kurangnya kebijakan industri yang efektif. Kecenderungan ini juga terlihat dalam pemerintahan yang dipimpin oleh Konstantinos Simitis (1996-2004) di Yunani, Massimo D’Alema (1998-2000) di Italia dan José Zapatero (2004-2011) di Spanyol.

Pilihan-pilihan serupa beroperasi di Eropa Timur, ketika pemerintahan Sosialis Leszek Miller (2001-2004) di Polandia dan Ferenc Gyurcsány (2004-2010) di Hongaria turut dalam barisan pengikut yang paling berdedikasi dari neoliberalisme dan menerapkan pemotongan belanja negara. Dengan demikian, mereka mengalienasi kelas pekerja dan bagian termiskin dari penduduk, sampai tingkat di mana sekarang kekuatan Sosialis Internasional menempati posisi yang sepenuhnya marginal di kedua negara.

Terkait kebijakan ekonomi, sulit untuk mendeteksi sesuatu yang lebih dari perbedaan minimal antara berbagai pemerintahan sosial-demokratik ini dan rezim konservatif yang berkuasa saat itu. Bahkan, dalam banyak kasus, pemerintahan sosial-demokratik atau kiri-tengah lebih efisien dalam menjalankan proyek neoliberal, mengingat serikat-serikat buruh menganggap tindakan pemerintah lebih dapat diterima karena keyakinan lama yang ilusif bahwa mereka ‘ramah’ kepada gerakan buruh. Sejalan dengan waktu, pengadopsian model yang non-konfliktual dan lunak telah menjadikan serikat buruh semakin tidak mewakili bagian terlemah dari masyarakat.

Orientasi kebijakan luar negeri melibatkan keterputusan yang sama dengan masa lalu. Pada 1999, pemerintahan yang dipimpin oleh Demokrat Kiri (DS), pewaris Partai Komunis lama, mengesahkan intervensi militer kedua dari Italia sejak perang; pengeboman NATO di Kosovo, dengan penggunaan senjata uranium terdeplesi yang banyak dilaporkan. Pada 2003, para pemimpin Partai Buruh Inggris berdiri di garis depan berdampingan dengan George W. Bush dalam sebuah perang yang mereka lancarkan terhadap ‘negara bandit’ Irak, yang mereka fitnah memiliki senjata pemusnah massal. [6] Di antara kedua konflik ini, tidak ada kekuatan dalam Sosialisme Eropa yang menentang intervensi di Afghanistan (yang ‘kerusakan sampingannya’ yang parah berdampak pada penduduk secara umum) atau berbicara menentang operasi Kebebasan Abadi yang lebih umum dan dilancarkan oleh Amerika Serikat.

Partai-partai Sosialis sering mendorong persoalan ekologi ke dalam deklarasi prinsip, tetapi hampir tidak pernah menerjemahkannya ke dalam perundang-undangan yang efektif untuk menyelesaikan masalah besar yang dihadapi lingkungan hidup. Ini diperparah oleh perubahan moderat di kebanyakan partai-partai Hijau, yang dengan memilih bersekutu tanpa pandang bulu dengan partai-partai Kanan atau Kiri, bermutasi menjadi barisan ‘pasca-ideologi’ dan menyerah dalam pertempuran dengan cara produksi yang berlaku.

Pergeseran dalam sosial demokrasi Eropa, yang melibatkan penerimaan tidak kritis atas kapitalisme dan semua prinsip neoliberalisme, menunjukkan bahwa peristiwa 1989 tidak hanya mengguncang kubu Komunis, tetapi semua kekuatan Sosialisme. Karena hal ini meninggalkan hasrat pembaruan apapun dan tidak lagi menyokong jenis intervensi negara dalam ekonomi yang telah menjadi ciri khusus mereka yang utama setelah Perang Dunia Kedua.

Terlepas dari perubahan-perubahan besar ini, banyak partai Kiri radikal Eropa bersekutu dengan kekuatan sosial-demokratik ‒ entah karena kekhawatiran yang masuk akal untuk membendung kemunculan pemerintahan sayap-kanan yang akan memerosotkan lebih lanjut situasi anak muda, pekerja dan pensiunan, atau dalam beberapa kasus untuk menghindari isolasi atau mencegah logika ‘pemungutan suara taktis’ bekerja merugikan mereka. Jadi, dalam rentang beberapa tahun, Partai Refondasi Komunis di Italia (1996-98 dan 2006-8), Partai Komunis Perancis (1997-2002), Izquierda Unida di Spanyol (2004-8) dan Partai Kiri Sosialis di Norwegia (2005-13), [7] semua mendukung atau menjabat sebagai menteri dalam pemerintahan Kiri Tengah. Lebih belakangan lagi, Aliansi Kiri (2011-14) dan Partai Rakyat Sosialis (2011-15) masing-masing telah memikul tanggung jawab pemerintahan di Finlandia dan Denmark. Pilihan-pilihan seperti itu telah dibuat secara konsisten di tingkat lokal, seringkali tanpa perhatian serius terhadap program dari kekuatan politik yang menjadi mitra koalisi. [8]

Angin neoliberal yang berembus tanpa hambatan dari Semenanjung Iberia ke Rusia, bersama dengan ketiadaan gerakan sosial yang besar dan mampu mewarnai tindakan pemerintah ke arah sosialis, rupanya menerangkan sebuah konstelasi negatif bagi partai-partai sayap-kiri radikal. Lebih jauh lagi, apakah mereka dipanggil untuk menjabat di kementrian yang kurang penting (seperti di Perancis atau Italia) atau harus puas dengan kelompok parlementer yang kecil (seperti di Spanyol), hubungan kekuatan vis-à-vis eksekutif yang berkuasa sangat tidak menguntungkan mereka. Kaum Kiri anti-kapitalis tidak berhasil memperoleh capaian sosial apapun yang signifikan, yang bertentangan dengan garis pedoman dasar ekonomi; yang mereka bisa peroleh hanyalah obat yang memberikan keringanan kecil dan tak berkala. Lebih sering mereka harus menelan pil pahit dan memilih langkah-langkah yang sebelumnya mereka janjikan akan paling mereka tentang. Dipimpin oleh anggota parlemen dan tokoh lokal yang dipilih karena loyalitas tidak kritis mereka terhadap kepemimpinan yang ada, partai-partai ini ditelan oleh kebijakan kabinet yang mereka dukung. Kesenjangan dengan basis mereka sendiri pelan-pelan tumbuh, tetapi terus meluas, mengakibatkan hilangnya kredibilitas dan persetujuan di antara pemilih mereka.

Akibatnya, hasil di kotak suara hancur di mana-mana. Dalam pemilihan presiden pada 2007, kaum Komunis Perancis memperoleh kurang dari 2 persen suara, dan di tahun berikutnya, Izquierda Unida mencapai titik terendah dengan angka 3,8 persen. Di Italia, untuk pertama kalinya dalam sejarah Republik itu, kaum Komunis dikucilkan dari parlemen, mencapai total angka yang suram 3,1 persen dan hanya ada di bawah payung Kiri Pelangi. [9]

3. Kediktatoran Troika
Selama 2007, Amerika Serikat dihantam oleh salah satu krisis finansial paling parah dalam sejarah, yang segera memengaruhi Eropa dan menenggelamkannya ke dalam resesi yang mendalam. Ketika utang negara yang melonjak meningkatkan bahaya kredit macet, banyak negara beralih ke kredit dari (apa yang disebut) Troika, yang terdiri dari Komisi Eropa, Bank Sentral Eropa dan Dana Moneter Internasional. Bangsa-bangsa yang beresiko gagal bayar diberikan pinjaman sebagai imbalan dari memperkenalkan kebijakan pemotongan belanja negara yang kaku, selain mana langkah-langkah ‘restrukturisasi’ pada tahun 90an tampak cukup mengekang. Sejak 2008, sudah terdapat total 13 program bailout di UE: satu di Hongaria (2008-10), satu di Latvia (2008-11) [10] dan tiga di Romania, plus ‒ dalam Zona Euro ‒ tiga di Yunani (2010-18), satu di Irlandia (2010-13), satu di Portugal (2011-14), dua di Siprus (2011-16) dan satu di Spanyol (2012-13).

Istilah ‘pembaruan struktural’ mengalami transformasi semantik yang radikal. Awalnya, dalam kosa kata gerakan buruh, hal itu merujuk ke perbaikan kondisi sosial yang pelan tetapi terus-menerus, namun sekarang hal itu menjadi sinonim dengan erosi negara kesejahteraan secara mendalam. Pembaruan-semu yang bersangkutan ‒ kemunduran menjadi istilah yang lebih baik ‒ telah membatalkan sejumlah capaian dan menghidupkan kembali kondisi hukum dan ekonomi yang mengingatkan kita akan kapitalisme abad kesembilan belas yang tamak.

Inilah latar dari resesi yang mengerikan, dari mana Eropa masih belum muncul, dan yang pada saat ini, menyaksikannya bergulat dengan hantu deflasi. Tekanan yang kuat atas upah untuk turun telah menyebabkan rontoknya permintaan, berakibat jatuhnya PDB, dan pengangguran telah mencapai tingkat yang belum pernah tercatat sebelumnya sejak Perang Dunia Kedua. Antara tahun 2007 dan 2014, tingkat pengangguran melonjak dari 8,4 persen menjadi 26,5 persen di Yunani, dari 8,2 persen menjadi 24,5 persen di Spanyol, dari 6,1 persen menjadi 12,7 persen di Italia, dan dari 9,1 persen menjadi 14,1 persen di Portugal. Pada 2014, kurangnya pekerjaan mencapai proporsi yang epidemik bagi seluruh generasi anak muda: 24,1 di Perancis, 34,7 persen di Portugal, 42,7 persen di Italia, 52,4 persen di Yunani dan 53,2 persen di Spanyol. Lebih dari sejuta anak muda, seringkali yang paling terampil dan pendidikannya paling baik, dipaksa untuk beremigrasi dari kelima negara ini. [11]

Jadi, kita menghadapi bentuk baru perjuangan kelas: hal itu dilancarkan dengan tekad yang besar oleh kelas-kelas yang dominan terhadap kelas-kelas subaltern, sementara perlawanan dari yang terakhir seringkali lemah, tidak terorganisir dan terfragmentasi. [12] Hal ini terjadi baik di daerah pusat kapitalis yang maju, di mana pembatasan hak-hak pekerja telah melampaui apapun yang dapat dibayangkan selama 30 tahun yang lalu, dan di pinggiran ekonomi dunia, di mana perusahaan (banyak dari mereka multinasional) mengeksploitasi tenaga kerja mereka dalam bentuk-bentuk yang ekstrem dan dengan kejam melucuti negara-negara itu dari sumber daya alam mereka yang berharga. Hal ini menyebabkan peningkatan ketidaksetaraan yang tinggi dan redistribusi kekayaan yang besar untuk para penduduk terkaya planet ini. Hubungan sosial telah mengalami perubahan yang mendalam, diakibatkan oleh ketidakpastian kerja, kompetisi di antara pekerja, komodifikasi setiap bidang kehidupan, perang sosial di antara strata yang paling miskin, serta sebuah kapitalisme yang baru dan lebih invasif, yang merusak kehidupan dan hati nurani orang-orang dengan cara yang belum pernah terlihat sebelumnya.

Pada saat yang sama, krisis di Eropa telah menyebar dengan cepat ke dunia politik. Selama 20 tahun terakhir, kekuasaan pengambilan-keputusan semakin berpindah dari ranah politik ke ekonomi; ekonomi sekarang ini mendominasi politik dan seringkali digambarkan sebagai sebuah ranah yang terpisah dan kebal dari perubahan, yang menetapkan agenda dan memastikan pilihan-pilihan kuncinya berada di luar kontrol rakyat.

Apa yang belum lama ini biasanya terlihat sebagai ranah untuk tindakan politik sekarang diatur oleh imperatif-semu ekonomi, yang di balik topeng non-politiknya yang ideologis, sebenarnya menyajikan sebuah bentuk otoritarian yang berbahaya dan sebuah isi yang sepenuhnya reaksioner. Kasus yang paling melambangkan hal ini adalah Perjanjian tentang Stabilitas, Koordinasi dan Pemerintahan dalam Persatuan Ekonomi dan Moneter (TSCG) ‒ ‘perjanjian fiskal’, sebagaimana hal itu dikenal luas, yang memaksakan kewajiban anggaran berimbang ke dalam hukum negara-negara UE. Ini berarti setiap negara-anggota berjanji memenuhi, dalam rentang waktu 20 tahun, ketentuan-ketentuan Perjanjian Maastricht, di mana utang negara tidak boleh melebihi ambang batas 60 persen dari Produk Domestik Bruto. Pada kenyataannya, menurut statistik 2014, angka ini sekarang adalah 92 persen di Zona Euro; angka itu berjumlah 74,4 persen di Jerman dan 89,4 persen di Inggris (satu-satunya negara dengan Republik Ceko yang tidak menandatangani perjanjian itu), dan naik menjadi 106,5 persen di Belgia, 130,2 persen di Portugal, 132 persen di Italia dan 177 persen di Yunani.

Dengan membangun dinding yang menghalangi parlemen nasional mengambil keputusan yang mandiri untuk tujuan-tujuan ekonomi-politik, TSCG dengan demikian berperan merusak negara sosial di negara-negara UE yang paling dililit utang dan mengancam memperdalam lebih jauh resesi yang sedang terjadi. Sebagai bagian dari serangan umum ini, dan terinspirasi oleh beberapa negara berbahasa Inggris, Perancis (sejak 2007) dan Italia (pada 2011) memperkenalkan komisioner ‘peninjau belanja’ yang baru untuk ‘merasionalisasi’ belanja negara. Langkah-langkah yang mereka usulkan tidak hanya mengurangi pemborosan, seperti yang dimaksudkan, tetapi juga menyebabkan penurunan jumlah dan kualitas pelayanan.

Tahap berikut dari proyek ini seharusnya adalah Kemitraan Investasi dan Perdagangan Transatlantik (TTIP), sebuah persetujuan antara UE dan AS. Negosiasi-negosiasi yang sangat rahasia mengenai rinciannya sekarang ini sedang berlangsung, diarahkan ke deregulasi perdagangan lebih lanjut, keutamaan keuntungan perusahaan di atas kepentingan umum, dan akibatnya peningkatan kompetisi yang destruktif dan memerosotkan, yang menyebabkan penurunan upah lebih lanjut dan lebih sedikit hak bagi pekerja.

Pergeseran dari sistem pemilu proporsional ke sistem lain yang didasarkan pada ‘bonus-bonus’ mayoritas dari satu atau lain jenis, dan juga kecenderungan anti-demokrasi yang menguatkan eksekutif di hadapan kekuatan legislatif, telah merusak karakter representatif dari parlemen nasional. Tetapi, transfer kekuasaan yang terakhir ini, dari parlemen ke pasar dan institusi-institusi oligarkisnya, merupakan halangan terparah bagi demokrasi di zaman kita. [13] Hal itu menunjukkan bahwa kapitalisme saat ini sedang menderita krisis konsensus yang mendalam dan tidak sesuai dengan demokrasi.

Di sisi lain, di beberapa referendum nasional sejak pengadopsian Perjanjian Maastricht, pilihan terhadap kekuasaan teknokratik yang dominan di Eropa telah dikalahkan lebih dari satu kali di kotak suara. Hal ini terjadi di Perancis dan Belanda pada 2005, dalam kaitannya dengan Perjanjian yang menetapkan sebuah Konstitusi untuk Eropa, [14] dan di Irlandia pada 2008 dalam kaitannya dengan Perjanjian Lisbon. [15]

Indeks pasar saham, penilaian lembaga pemeringkat dan hasil yang menyebar di obligasi pemerintah adalah pujaan-pujaan besar masyarakat kontemporer: hal itu memperoleh nilai lebih besar dari kehendak rakyat. Karenanya, keputusan-keputusan yang menyebabkan bahaya terbesar bagi massa penduduk dipresentasikan sebagai benar-benar sangat diperlukan bagi ‘pemulihan kepercayaan pasar.’

Paling banter, politik dipanggil untuk memberikan dukungan kepada ekonomi, seperti dalam kasus bailout bank di AS dan Eropa pada awal 2008. Para perwakilan keuangan yang besar memerlukan intervensi negara untuk mengurangi efek yang sangat destruktif dari krisis kapitalis yang paling belakangan ini, tetapi mereka dengan keras menolak membuka kembali pembahasan tentang aturan-aturan dasar dan pilihan-pilihan ekonomi.

Bahkan rotasi pemerintahan kanan-tengah dan kiri-tengah tidak mengubah arah dasar sosial-ekonomi, karena adalah ekonomi yang semakin menentukan formasi, komposisi dan tujuan pemerintahan yang memegang tampuk kekuasaan. Jika, di masa lalu, faktor utamanya adalah sejumlah besar uang yang diberikan oleh ‘kepentingan sempit’ kepada pemerintah atau partai yang hendak mereka kontrol, dan juga upaya mewarnai media massa untuk melayani mereka, maka elemen kunci di abad ke-21 adalah fatwa-fatwa lembaga internasional.

Bukti paling jelas dari hal ini datang dengan musim ‘pemerintahan teknokratik.’ Dalam kurang dari seminggu ‒ selama 11-16 November 2011 ‒ dua suri teladan kekuatan ekonomi, Lucas Papademos (wakil-presiden Bank Sentral Eropa selama 2002-2010) dan Mario Monti, masing-masing ditetapkan sebagai perdana menteri Yunani dan Italia, tanpa melalui pemilu. Papademos hanya menjabat selama tujuh bulan, sementara Monti, berkat dukungan penuh Partai Demokratik (PD), menjabat selama setahun setengah. Sudah terkenal sebagai pembela pemotongan belanja negara, mereka secara serentak memajukan pemotongan belanja yang drastis dan pengorbanan sosial lebih lanjut. Pengalaman mereka terbukti berumur pendek, karena mereka terlihat pergi dengan cepat segera setelah pemilih diberi kesempatan bersuara. Tetapi aktivitas pemerintahan mereka memiliki efek yang sangat merusak, baik di tingkat ekonomi dan, mungkin terlebih lagi, karena luka di demokrasi yang disebabkan oleh bentuk pelantikan mereka.

Selama tahun-tahun itu, beberapa kekuatan dalam Sosialis Internasional mengambil jalan yang berakhir dengan cara yang sama. Karena secara ideologis yakin bahwa tidak ada alternatif bagi neoliberalisme ‒ meskipun krisis 2008 telah menunjukkan potensi bencananya dan pemerintahan Obama telah memilih jalan yang berbeda dengan Undang-Undang Reinvestasi dan Pemulihan tahun 2009 ‒ mereka bersekutu dengan kekuatan grup partai-partai kanan-tengah yang bernama Partai Rakyat Eropa (EEP) dan secara tidak kritis mengadopsi elemen-elemen utama pendekatannya atas ekonomi dan masyarakat.

Prototipe kecenderungan ini adalah Grosse Koalition di Jerman, yang perjanjiannya adalah Partai Sosial-demokratik Jerman, dengan mendukung Angela Merkel sebagai kanselir selama 2005-2009 dan sejak 2013 sampai sekarang, harus untuk semua maksud dan tujuan, menyerahkan otonominya. Eksperimen lain ‘persatuan nasional’ telah terjadi di Eropa selatan. Di Yunani, antara tahun 2012 dan 2015, Gerakan Sosialis Pan-Hellenik (PASOK) dan, untuk waktu tertentu, Kiri Demokratik (DIMAR), memberikan dukungan mereka kepada perdana menteri dari Demokrasi Baru (ND), Antonis Samaras. Di Italia, setelah pemilu 2013, Partai Demokratik memasuki pemerintahan (dengan wakil sekretarisnya, Enrico Letta, sebagai perdana menteri) berdampingan dengan koalisi kanan-tengah, Rakyat Kebebasan (PdL), yang dipimpin oleh Silvio Berlusconi. Pada 2014, ‘ikonoklas’ muda neo-Blairit, Matteo Renzi mengambilalih dan menghidupi pemerintahan yang sekarang masih berjalan, di mana Partai Demokratik (PD) telah bekerjasama dengan Kanan-Tengah Baru (NCD), sebuah kelompok sempalan dari gerakan Berlusconi, dan mencapai kesepakatan dengannya dalam beberapa ‘pembaruan’ konstitusional dan elektoral yang signifikan.

Sejak pemilihan Jean-Claude Juncker [16] sebagai presiden Komisi Eropa pada 2014, koalisi besar antara Partai Rakyat Eropa dengan Aliansi Progresif dari Sosialis dan Demokrat (S&D) masih terus memerintah institusi-institusi utama Uni Eropa.

4. Anti-politik, populisme dan xenofobia
Keseragaman pendekatan yang berbahaya terhadap persoalan politik dan ekonomi ‒ yang telah dikonfirmasi sejak 2012 dengan evolusi pemerintahan Sosialis Hollande di Perancis ‒ serta ketidaksukaan opini publik yang meningkat terhadap teknokrasi Brussel, telah membantu menghasilkan perubahan besar kedua (setelah yang pertama pada 1989) dalam konteks politik Eropa.

Selama beberapa tahun terakhir, sebuah ketidaksukaan yang mendalam telah berkembang di mana-mana di benua lama terhadap apapun yang bisa digambarkan sebagai ‘politik’; istilah ini telah menjadi sinonim dengan kekuasaan untuk kekuasaan itu sendiri, dan bukan sebagai sebuah komitmen dan kepentingan bersama untuk perubahan sosial, seperti yang sebagian besar dipahami pada 1960an dan 1970an. Fenomena baru ini terkait khususnya, tetapi bukan secara eksklusif, dengan generasi muda. Hal itu juga telah mendorong apati yang lebih tersebar dan penurunan konflik sosial, terutama ketika organisasi-organisasi gerakan serikat buruh semakin terlihat diakui oleh kekuasaan yang berlaku.

Di sejumlah negara, gelombang anti-politik juga telah berdampak besar pada kekuatan Kiri radikal. Sebagian besar akibat kinerja mereka yang buruk di pemerintahan, mereka bahkan disalahkan karena beradaptasi dengan iklim yang ada dan secara bertahap meninggalkan tuntutan militan yang biasa mereka usung.

Telah terjadi perubahan yang signifikan dalam perimbangan kekuatan di Eropa. Beberapa sistem bipartisan telah meledak begitu saja, seperti di masa pasca-kediktatoran Spanyol dan Yunani, di mana kekuatan Sosialis dan Kanan-Tengah biasanya mendapatkan tiga perempat suara pemilih. Kecenderungan serupa tampaknya telah memengaruhi sistem politik di Perancis dan Italia, di mana selama berpuluh-puluh tahun, suara yang ada terbagi antara blok kanan-tengah dan kiri-tengah. Lebih jauh lagi, ketiga grup politik di Parlemen Eropa yang terpilih pada 2009 ‒ Partai Rakyat Eropa, Aliansi Progresif dari Sosialis dan Demokrat serta Aliansi Kaum Liberal dan Demokrat untuk Eropa (ALDE) ‒ kehilangan lebih dari 13 persen kursi mereka di pemilu yang diselenggarakan pada 2014.

Lanskap politik-elektoral telah dimodifikasi oleh abstainisme, kebangkitan formasi populis baru, kemajuan besar kekuatan kanan-jauh, dan dalam beberapa kasus, konsolidasi alternatif kiri dari kebijakan neoliberal. Tingkat abstainisme elektoral yang lebih tinggi, sebuah kecenderungan yang terlihat di berbagai negara, terutama disebabkan oleh keterasingan yang semakin tinggi dari partai politik secara umum. Partisipasi pemilih di pemilu parlementer menurun di Perancis dari 67,9 persen pada 1997 menjadi 57,2 persen pada 2013;[17] di Jerman dari 84,3 persen pada 1987 menjadi 71,5 persen pada 2013; di Inggris dari 77 persen pada 1992 menjadi 66,1 persen pada 2015; di Italia dari 87,3 persen pada 1992 menjadi 72,2 persen pada 2013; di Portugal dari 71,5 persen pada 1987 menjadi 57% pada 2015; di Yunani dari 76,6 persen pada 2004 menjadi 56,5 persen pada 2015; dan di Polandia (di pemilu presiden) dari 64,7 persen pada 1995 menjadi 48,9 persen pada 2015.

Partisipasi dalam pemilu untuk Parlemen Eropa juga telah jatuh, dari 62 persen pada 1979 menjadi 42,6 persen di jajak pendapat terbaru; [18] Ini mencerminkan hilangnya minat terhadap institusi yang merepresentasikan model yang semakin teknokratis dan tidak politis bagi Eropa. Dengan menunggangi gelombang anti-UE, gerakan ‘pasca-ideologi’ yang baru telah bangkit dalam beberapa tahun terakhir, dipandu oleh kutukan umum terhadap sistem sekarang yang korup atau oleh mitos demokrasi online sebagai jaminan bagi partisipasi politik lapisan bawah yang berlawanan dengan praktik partai politik selama ini.

Berdasarkan prinsip-prinsip ini, Partai Pembajak (PP) didirikan secara hampir bersamaan di Swedia dan Jerman pada 2006. Tiga tahun kemudian, partai itu memenangkan 7,1 persen suara di pemilihan-Euro Swedia dan 2 persen di pemilihan Bundestag. Pada 2012, partai ini juga didirikan di Islandia, di mana ia memenangkan 5 persen suara pada pemilu yang diselenggarakan di tahun berikutnya. Ini merupakan persentase yang signifikan jika kita melihat program politik yang terbatas dari Partai Pembajak, tetapi kecil jika dibandingkan dengan Gerakan Lima Bintang (M5S) yang dibuat oleh pelawak Beppe Grillo pada 2009. Di pemilihan umum berikutnya, gerakan itu menjadi kekuatan politik pertama di Italia dengan 25,5 persen suara.

Pada 2013, Alternatif untuk Jerman (AfD) didirikan di Berlin, dan berkat gelombang Euro-skeptisisme, ia menang 4,7 persen di pemilihan federal pada 2013 dan 7 persen di pemilihan-Euro pada tahun berikutnya. Pada 2014, adalah giliran partai Sungai (TP) di Yunani yang mendapatkan 6,6 persen dan 4,1 persen masing-masing di pemilihan Eropa dan nasional yang berikutnya. Sementara itu, Ciudadanos (C’s) ‒ sebuah gerakan yang didirikan di Catalunya pada 2006 ‒ menerobos ke angka 3,2 persen di pemilihan-Euro, 6,6 persen di pemilihan dewan lokal pada 2015 dan menggandakan jumlahnya ke 13,9 persen di pemilihan umum Desember 2015.

Akhirnya, di pemilihan presiden yang terakhir di Polandia, penyanyi populis sayap-kanan Pawel Kukiz memperoleh 21,3 persen suara; gerakannya, Kukiz’15 telah menjadi kekuatan politik ketiga di negeri itu, memenangkan 8,8 persen suara di pemilihan legislatif pada Oktober 2015.
Selama periode yang sama, sejumlah formasi yang sudah ada meningkatkan kehadiran mereka dengan berdasarkan pada platform politik yang sama. Contoh paling mencolok adalah Partai Kemerdekaan Inggris (UKIP), yang dengan menggabungkan populisme dengan nasionalisme dan xenofobia, berada di peringkat pertama jajak pendapat Euro pada 2014 (26,6 persen) dan memperoleh 12,6 persen suara di pemilihan umum pada Mei 2015. Di Parlemen Eropa, wakil-wakil Partai Kemerdekaan Inggris sudah bergabung dengan Gerakan Lima Bintang untuk membentuk sebuah grup baru, Kebebasan dan Demokrasi Langsung Eropa.

Di Switzerland, Partai Rakyat Swiss/Serikat Demokratik dari Tengah (SVP-UDC) mencapai hasil terbaiknya pada 2015, memenangkan 29,4 persen di pemilihan bulan Oktober. Meskipun namanya bisa menyampaikan pesan yang berbeda, ia pada kenyataannya adalah sebuah formasi kanan-jauh yang xenofobik, yang membedakan dirinya di masa lalu dengan mengadvokasi sebuah referendum (secara aktual disetujui pada 2009) untuk melarang menara masjid baru.

Di banyak negara Eropa, partai-partai xenofobik, nasionalis atau yang secara terbuka neofasis sudah jauh melangkah maju ketika dampak krisis ekonomi melanda diri mereka semakin terasa. Dalam beberapa kasus, mereka telah memodifikasi bahasa politik mereka, mengganti pembelahan kiri-kanan yang klasik dengan sebuah perjuangan baru yang spesifik dalam masyarakat kontemporer: apa yang disebut Marine Le Pen sebagai konflik ‘antara mereka yang di atas dan mereka yang di bawah.’ [19] Dalam polarisasi baru ini, para calon kanan-jauh seharusnya merepresentasikan ‘rakyat’ melawan kekuasaan (atau kekuatan yang untuk jangka waktu lama telah bergantian di pemerintahan) dan para elit yang menyukai pasar bebas yang mahakuasa.

Profil ideologis dari gerakan politik ini juga telah berubah. Komponen rasisnya seringkali digeser ke belakang dan isu-isu ekonomi dimajukan ke depan. Oposisi yang terbatas dan buta terhadap kebijakan imigrasi UE dibawa selangkah lebih maju dengan memainkan perang di antara kaum miskin, bahkan lebih dari diskriminasi berdasarkan warna kulit atau afiliasi agama. Dalam konteks pengangguran yang tinggi dan konflik sosial yang parah, xenofobia dibangkitkan melalui propaganda yang menegaskan bahwa para migran mengambil pekerjaan dari pekerja lokal dan yang terakhir harus menjadi prioritas dalam pekerjaan, pelayanan sosial dan hak-hak kesejahteraan. [20]

Perubahan ini tentu saja telah memainkan peran dalam kesuksesan Front Nasional baru-baru ini, yang di bawah kepemimpinan Marine Le Pen, memperoleh 17,9 persen suara dalam pemilihan presiden 2012, menjadi partai politik Perancis terbesar (24,8 persen) dalam pemilihan-Euro 2014, dan menggotong 25,2 persen suara di pemilihan lokal pada Maret 2015, serta 27,7 persen di pemilihan regional pada Desember 2015, meski gagal menguasai pemerintahan regional manapun. [21] Sementara itu, di Italia, Liga Utara juga telah mengalami metamorfosis.

Kelompok itu lahir pada 1989 menuntut kemerdekaan untuk ‘Padania’ (nama yang diberikan mereka untuk Italia utara), dan setelah 1996, ia membayangkan pemisahan diri daerah itu secara sepihak. Namun, belakangan ini, kelompok itu telah mengubah dirinya menjadi sebuah partai nasional, yang platform anti-imigran ‘non-euronya’ menjadi jangkar persekutuan dengan kekuatan-kekuatan utama yang berasal dari tradisi fasis. Sebagai hasilnya, angka elektoralnya telah meningkat secara dramatis: sekarang ia merupakan organisasi kanan-tengah Italia yang terbesar, mendekati Forza Italia (FI) dari Silvio Berlusconi.

Baik di Perancis maupun Italia, beberapa benteng historis dari suara kelas-pekerja dan Komunis telah bermutasi menjadi basis elektoral yang stabil bagi kedua partai di atas. Sebuah kesepakatan koalisi antara Front Nasional dan Liga Utara mengarah pada pembentukan Bangsa-Bangsa dan Kebebasan Eropa (ENL) pada Juni 2015 di Parlemen Eropa di Brussels; koalisi ini juga mencakup partai-partai politik mapan yang, di samping organisasi-organisasi yang lebih kecil, untuk beberapa lama telah menuntut penarikan diri dari euro, revisi perjanjian tentang imigrasi dan kembali ke kedaulatan nasional. Di antara kekuatan yang paling representatif dalam hal ini adalah Kepentingan Flemish (VB) di Belgia, Partai Kebebasan Austria (FPÖ) yang memenangkan 20,5 persen suara di pemilihan nasional pada 2013, 19,7 persen di pemilihan Eropa pada 2014 dan 30,8 persen di pemilihan Wina pada 2015; serta Partai untuk Kebebasan (PVV) di Belanda, yang didirikan pada 2006 dan memenangkan 13,3 persen di pemilihan Eropa yang terakhir. Posisi kedua partai terakhir sudah naik menempati posisi ketiga dalam politik nasional mereka.

Kekuatan kanan-jauh telah bergabung dengan lebih dari satu grup di Parlemen Eropa dan, untuk pertama kalinya sejak Perang Dunia Kedua, sudah mengalami kemajuan penting di berbagai daerah di benua itu. Di setiap negara Skandinavia, misalnya, mereka sudah menjadi realitas yang mapan, belum lagi berbicara tentang reorientasi ideologi dalam masyarakat yang telah didorong oleh kesuksesan elektoral mereka. Di tanah air par excellence dari ‘model Nordik,’ partai Demokrat Swedia, yang berdiri pada 1988 melalui fusi kelompok-kelompok neo-Nazi, telah muncul sebagai kekuatan politik ketiga terbesar, dan bersekutu dengan UKIP di Eropa.

Di Denmark dan Finlandia, dua partai yang didirikan pada 1995 dan berafiliasi ke Grup Konservatif dan Reformis Eropa telah memperoleh hasil yang jauh lebih mengejutkan, menjadi partai kedua terbsar di negara mereka masing-masing. Yang menakjubkan secara umum, Partai Rakyat Denmark (DPP) memenangkan jumlah suara terbesar di pemilihan Eropa terakhir, dengan total 26,6 persen; ia kemudian mengkonsolidasikan kesuksesannya dengan 21,1 persen di pemilihan legislatif pada 2015 dan bergabung dengan mayoritas pemerintahan. Di Finlandia, partai Finlandia Sejati (PS) sekarang juga duduk di bangku pemerintahan, setelah memperoleh dukungan 17,6 persen di kotak suara pada 2015. Akhirnya, di Norwegia, Partai Kemajuan (FfP) ‒ yang sudah mengumpulkan 22,9 persen suara pada 2009, dan yang pandangan politiknya sama-sama reaksioner ‒ telah memasuki pemerintahan untuk pertama kalinya, dengan angka 16,3 persen.

Kemenonjolan yang hampir-seragam dari partai-partai ini, di daerah di mana organisasi gerakan pekerja telah mempraktikkan hegemoni yang tak pernah dipersoalkan untuk jangka waktu yang sangat lama, mungkin juga disebabkan oleh fakta bahwa mereka mengangkat pertempuran dan isu-isu yang dulunya dekat dengan kaum sosialdemokratik dan komunis. Dua faktor lain yang berguna, meski tidak mendasar, adalah simbolisme politik mereka yang dirancang dengan hati-hati ‒ partai Demokrat Swedia, misalnya, telah mengganti lambang api yang dulunya umum di antara gerakan fasis dengan bunga liar yang menenteramkan dalam warna nasional ‒ dan tumbuhnya pimpinan-pimpinan muda yang terampil berkomunikasi dengan media.

Kaum Kanan telah membuat terobosan mereka tidak hanya dengan instrumen reaksioner yang klasik, seperti kampanye menentang globalisasi, tetapi juga dengan kedatangan pencari-suaka yang baru dan hantu ‘Islamisasi’ masyarakat. Namun demikian, yang terpenting adalah mereka menyerukan kebijakan-kebijakan sosial yang secara tradisional terkait dengan kaum Kiri, di saat kaum Sosial Demokrat memilih pemotongan belanja negara dan Kiri radikal tercekik karena dukungannya terhadap, atau partisipasi aktualnya dalam, pemerintahan. Meskipun demikian, ‘kesejahteraan’ kaum kanan berbeda jenis: tidak lagi universal, inklusif dan solidaristik, tetapi didasarkan pada prinsip yang oleh beberapa teoritisi disebut sebagai ‘nasionalisme kesejahteraan.’ Dengan kata lain, hal itu melibatkan pemberian hak dan layanan hanya ke anggota masyarakat nasional yang sudah ada.

Selain dukungan yang meluas di provinsi dan daerah pedesaan, yang seringkali penduduknya berkurang secara drastis dan terpukul oleh tingkat pengangguran yang tinggi karena krisis ekonomi, kaum Kanan jauh Skandinavia telah mampu menggalang dukungan dari sejumlah penting pekerja yang telah menyerah ke pemerasan ‘antara imigrasi atau negara kesejahteraan.’ Kaum Kanan radikal juga sudah mampu mengorganisir diri mereka kembali di sejumlah negara Eropa Timur, sejak akhir rezim pro-Soviet di sana. ‘Serikat Serangan Nasional’ (ATAKA) di Bulgaria, Partai Nasional Slovak (SNS) dan Partai Romania yang Lebih Besar (RM) adalah beberapa kekuatan politik yang sudah sering memperolah hasil bagus dan mengirim wakil-wakil mereka sendiri ke parlemen.

Di Polandia, partai Hukum dan Keadilan (Pis) yang populis memenangkan pemilihan presiden pada Mei 2015, dan setelah memperoleh 37,6 persen di pemilihan legislatif pada Oktober 2015, memegang kursi mayoritas absolut yang pertama di parlemen sejak akhir Perang Dingin. Tidak seperti penggunaan yang biasa dari nilai-nilai nasionalisme dan agama ultra-konservatif, program ekonomi PiS menampilkan janji-janji untuk meningkatkan belanja sosial, memperbaiki tingkat upah dan menetapkan usia pensiun yang lebih rendah. Itu adalah platform kiri, di sebuah negara di mana Kiri anti-kapitalis tidak ada dan sosial demokrasi hanya memiliki sisa ruang yang kecil setelah mereka menjalankan kebijakan-kebijakan yang memukul lapisan terlemah dari masyarakat.

Namun demikian, kasus yang paling mengkhawatirkan di bagian Eropa yang ini adalah Hongaria. Setelah pemerintahan Partai Sosialis Hongaria (MSZP) memaksakan langkah-langkah pemotongan belanja negara yang parah atas perintah Troika, yang mengakibatkan deflasi, Serikat Sipil Hongaria/Fidesz (yang berafiliasi ke Partai Rakyat Eropa) mengambilalih kendali kekuasaan. Kemudian pada 2012, setelah membersihkan pengadilan dan meletakkan media massa di bawah kendali, pemerintah memperkenalkan sebuah konstitusi baru dengan nada otoritarian yang membawa negara semakin jauh dari rule of law. Seolah-olah itu tidak cukup, Gerakan untuk Hongaria yang Lebih Baik (Jobbik) menjadi partai ketiga di negeri itu sejak 2010, menjaring 20,5 persen suara di pemilu 2014. Berbeda dengan kebanyakan Kanan radikal di Eropa Barat dan Skandinavia, Jobbik merupakan contoh klasik ‒ sekarang dominan di Timur ‒ dari sebuah formasi kanan-jauh yang menggunakan kebencian terhadap minoritas (terutama Roma), anti-semitisme dan anti-komunisme sebagai instrumen utama propaganda dan tindakan politiknya.

Untuk melengkapi survei ini, kita harus menyebutkan beberapa organisasi neo-Nazi yang tersebar di seluruh bagian Eropa. Dua dari mereka telah memperoleh hasil yang baik dalam jajak pendapat. Partai Nasional Demokratik Jerman (NPD) memiliki pijakan di dua parlemen regional; ia mendapatkan 1,5 persen dalam pemilihan 2013; dan ia memiliki satu utusan di Parlemen Eropa sejak 2012. Di Yunani, Fajar Emas (GD) memperoleh 9,4 persen suara di pemilihan Eropa 2014 dan 7 persen di pemilihan umum 2015, dengan demikian menegaskan dirinya sebagai kekuatan politik ketiga di negeri itu. [22]

Dengan demikian, pada tahun-tahun belakangan ini, partai-partai Kanan neofasis, nasionalis atau populis sudah sangat memperluas dukungan mereka di hampir setiap bagian Eropa. Dalam banyak kasus, mereka telah terbukti mampu menghegemoni debat politik dan terkadang memasuki pemerintahan melalui koalisi dengan Kanan yang lebih moderat. Hal itu adalah wabah yang mengkhawatirkan, di mana sudah tentu mustahil untuk meresponsnya tanpa memerangi virus yang pertama-tama menyebabkannya: mantra neoliberal yang masih sangat populer di Brussel.

Meskipun demikian, di Yunani maupun di daerah timur Jerman, kaum Kanan jauh belum bertindak sebaik yang mungkin mereka mampu; dan di Spanyol, Portugal dan Republik Ceko ‒ yaitu, di daerah di mana Kiri Komunis telah mempertahankan akarnya di masyarakat dan mengembangkan sebuah kebijakan oposisi yang koheren pada tahun-tahun belakangan ini [23] ‒ kondisi untuk kebangkitan baru dari Kanan radikal belum terpenuhi.

5. Geografi politik baru dari Kiri radikal Eropa
Krisis ekonomi dan politik yang melintasi Eropa bukan hanya menyebabkan majunya kekuatan populis, xenofobik dan kanan-jauh. Pada saat yang sama, hal itu telah mendorong perjuangan besar dan demonstrasi protes melawan langkah-langkah pemotongan belanja negara yang dipaksakan oleh Komisi Eropa dan diimplementasikan oleh pemerintahan nasional.
Terutama di Eropa selatan, hal ini telah mendorong kebangkitan kembali Kiri radikal, dan juga terobosan elektoral yang penting. Yunani, Spanyol dan Portugal, bersama-sama dengan Irlandia dan, dengan kurang mencolok, negara-negara lain, telah menjadi panggung mobilisasi massa yang mengesankan terhadap kebijakan-kebijakan neoliberal. Di Yunani, lebih dari empat puluh pemogokan umum telah diserukan sejak 2010.

Di Spanyol, jutaan warga negara berpartisipasi dalam sebuah pemberontakan besar yang dimulai pada Mei 2011 yang memunculkan gerakan yang kemudian disebut Indignados. Para demonstran menduduki alun-alun kota Madrid, Puerta del Sol, selama empat minggu. Beberapa hari setelah tindakan mereka dimulai, sebuah gerakan protes serupa turun ke jalan di Athena, di Lapangan Syntagma. Dan di kedua negara, perjuangan sosial secara efektif meletakkan fondasi untuk penegasan dan pertumbuhan Kiri lebih lanjut.

Di sisi lain, meskipun gerakan serikat buruh menghadapi situasi yang sama ‒ langkah-langkah pemerintah pasca-krisis telah menyebabkan bencana sosial yang sama di negara-negara Eropa ‒ mereka tidak mempunyai kemauan politik untuk merumuskan plaftorm tuntutan bersama dan mengorganisir serangkaian mobilisasi berskala-benua. Pengecualian parsialnya hanyalah pemogokan umum 14 November 2012 di Spanyol, Italia, Portugal, Siprus dan Malta, yang juga didukung oleh aksi-aksi solidaritas di Perancis, Yunani dan Belgia.

Di tingkat politik, Kiri anti-kapitalis terjebak dalam pembangunan kembali dan penyusunan kembali kekuatannya di lapangan. Formasi-formasi baru yang terinspirasi oleh pluralisme mulai terbentuk dan menjadi serangkaian subyek politik, pada saat yang sama mengamankan demokrasi yang lebih besar melalui prinsip ‘satu orang, satu suara.’ Pada 1999, Blok Kiri (BE) di Portugal mengumpulkan kekuatan terpenting yang berada di sebelah kiri Partai Komunis Portugis, dan pada tahun yang sama pembentukan Kiri menandai permulaan yang segar di Luxemburg. Pada 2004, Synaspismos dan serangkaian kekuatan anti-kapitalis yang lain di Yunani berkumpul untuk membentuk Syriza, Koalisi Kiri Radikal (meskipun fusinya menjadi sebuah partai yang aktual baru terjadi pada 2012).

Pada Mei 2004, pembentukan Partai Kiri Eropa pada awalnya menghubungkan lima belas partai komunis, sosialis dan ekologis dengan tujuan membangun sebuah subyek politik yang dapat menyatukan kekuatan utama Kiri militan Eropa atas dasar sebuah program bersama. Pada saat yang sama, organisasi politik dari 20 negara adalah bagian dari hal ini. [24] Pengelompokan kembali ini telah didahului, beberapa bulan sebelumnya, oleh pembentukan Aliansi Kiri Hijau Nordik, yang melibatkan tujuh partai dari Eropa utara.

Selain koalisi Kiri Eropa, terdapat juga Kiri Anti-kapitalis Eropa (EACL), sebuah formasi yang lebih kecil yang diluncurkan pada 2000 dan berisikan lebih dari 30 organisasi Trotskyis (seringkali kecil). Promotor utamanya adalah Blok Kiri di Portugal, Daftar Bersatu/Merah Hijau di Denmark dan Partai Anti-kapitalis Baru di Perancis. Di Parlemen Eropa, perwakilan kekuatan ini telah bergabung dengan grup Kiri Bersatu Eropa/Kiri Hijau Nordik. [25]

Beberapa tahun kemudian, komponen paling radikal dari SPD Jerman dan Partai Sosialis Perancis (PS)[26] memisahkan diri dan dengan cepat mengadopsi posisi di sebelah kiri kepemimpinan Partai Sosialisme Demokratik (di Jerman) atau Partai Komunis Perancis. Hal ini mendorong peluncuran Kiri (Die Linke – DL) di Jerman pada 2007 dan Front Kiri (FdG) di Perancis pada 2008. Juga di Perancis, transformasi Liga Komunis Revolusioner (LCR) menjadi Partai Anti-kapitalis Baru (NPA) pada 2009 mungkin disebabkan oleh visi yang sama dengan visi kekuatan berorientasi-kelas tipikal tertentu dari Komunisme Eropa: yaitu, memfokuskan inisiatif politik pada kontradiksi baru yang penting dan terikat dengan eksklusi sosial.

Di Italia, juga pada 2009, Kebebasan dan Ekologi Kiri (SEL) yang baru terbentuk menggabungkan tiga elemen: sayap moderat dari Partai Refondasi Komunis, sebuah kelompok penentang dalam Demokrat Kiri (DS); dan Federasi Kiri (FdS), sebuah aliansi antara Partai Refondasi Komunis dan tiga gerakan politik yang lebih kecil. Di Switzerland, sebuah proses serupa diselesaikan pada 2010 dengan pendirian Kiri (AL).

Jalan serupa dicoba di Inggris, dengan pembentukan Partai Kehormatan pada 2004 dan Persatuan Kiri pada 2013. Kecenderungan ini bahkan melintasi Bosphorus, di mana para aktivis Kurdi berkumpul pada 2012 dengan beberapa gerakan Kiri Turki untuk membentuk Partai Rakyat Demokratik (HDP); ini dengan cepat menjadi kekuatan politik keempat di negeri itu, mendapatkan 10,7 persen suara di pemilihan November 2015. [27]

Tahun 2014 menyaksikan kemunculan Kiri Bersatu di Slovenia dan Podemos di Spanyol. Yang terakhir lebih merupakan kasus khusus, karena ia mengklaim melampaui definisi tradisional dari partai Kiri, tetapi ia memajukan calon untuk pertama kalinya di pemilihan Eropa yang terakhir dan telah bergabung dengan grup Kiri Bersatu Eropa/Kiri Hijau Nordik di Parlemen Eropa. Akhirnya, pada Oktober 2015, sebuah koalisi elektoral baru bernama Aliansi Anti-Pemotongan Belanja Negara – Rakyat Sebelum Keuntungan (AAA-PBP) mengakhiri perseteruan lama antara Partai Sosialis (PS) dan Aliansi Rakyat Sebelum Keuntungan (APBP). [28]

Model plural, yang sangat berbeda dari partai gerakan Komunis abad ke-20 yang ‘sentralis demokratik’ dan monolitik, dengan cepat menyebar ke hampir semua kekuatan Kiri radikal Eropa. Eksperimen yang paling berhasil bukanlah yang hanya menyatukan kelompok dan organisasi yang sudah ada serta kecil, tetapi penyusunan ulang yang sejati yang didorong oleh kebutuhan untuk melibatkan jaringan subyek sosial yang luas dan tersebar serta menjahit bentuk-bentuk perjuangan yang berbeda. Pendekatan ini sudah memperoleh kemenangan sejauh ia telah menarik berbagai kekuatan baru, menarik anak-anak muda, membawa kembali orang-orang militan yang kecewa dan membantu kemajuan elektoral dari partai-partai yang baru dibentuk.

Di pemilihan Jerman 2009, Die Linke memenangkan 11,9 persen suara ‒ tiga kali lipat dari 4 persen yang diperoleh Partai Sosialisme Demokratik tujuh tahun sebelumnya. Di pemilihan presiden Perancis pada 2012, calon Front Kiri, Mélenchon, memperoleh suara tertinggi yang pernah didapatkan oleh partai yang berada di sebelah kiri Partai Sosialis sejak 1981. Dan pada tahun yang sama, Syriza mulai meningkat pesat sehingga ia memperoleh 16,8 persen di pemilihan bulan Mei, 26,9 persen di bulan Juni dan akhirnya 36,3 persen pada Januari 2015 ketika, unik bagi sebuah partai anti-kapitalis Eropa sejak Perang Dunia Kedua, ia membentuk sebuah pemerintahan sebagai mitra mayoritas.[29]

Hasil sangat baik juga diperoleh di Semenanjung Iberia, di mana Kiri Plural Spanyol (sebuah blok elektoral yang baru dan dipimpin oleh Izquierda Unida) melewati batas ambang 10 persen dalam pemilihan-Euro pada 2014, dan Podemos nyaris mencapainya dengan 8 persen. Total suara yang dicapai oleh semua kekuatan Kiri lebih besar lagi di pemilihan umum Desember 2015. Dalam peristiwa itu, Podemos telah mencapai 12,6 persen, Persatuan Rakyat (PU) ‒ pengelompokan terbaru yang didorong oleh Izquierda Unida ‒ 3,6 persen, dan berbagai daftar elektoral lokal ‒ di antaranya ada Bersama Kita Bisa (ECP) (Catalunya ‒ 3,7 persen); Komitmen‒Kita Bisa‒Sudah Saatnya (C-P-É) (Valencia ‒ 2,6 persen); Gelombang (EM) (Galicia ‒ 1,6 persen); Negara Basque Bersatu (EH Bildu) (0,8 persen) ‒ semuanya telah mengumpulkan hampir 9 persen suara.

Adapun Portugal, Koalisi Demokratik Unitaris memperoleh total 8,3 persen dalam pemilihan umum Oktober 2015, sementara Blok Kiri, dengan 10,2 persen, mendapatkan hasil terbaiknya, menjadi kekuatan politik ketiga di negeri itu. Hasil ini telah dikonfirmasi di pemilihan presiden Januari 2016, ketika partai yang terakhir sekali lagi melampaui 10 persen.

Eksperimen kiri plural, selalu dicirikan oleh oposisi yang jelas terhadap neoliberalisme, juga telah membuahkan hasil di pemungutan suara tingkat lokal. Satu contoh kasus bagus adalah pemilihan regional Perancis pada 2010 di Limousin, ketika koalisi Front de Gauche dan Partai Antikapitalis Baru bersama-sama memperoleh 19,1 persen di putaran kedua, dan pemilihan kotamadya di Spanyol, di mana daftar Madrid Ahora dan Barcelona en Comú (termasuk Izquierda Unida dan Podemos) memenangkan dua kota terbesar di negeri itu. Di kedua kasus, aliansi luas yang didorong oleh lapisan bawah memungkinkannya mengatasi perbedaan antara kelompok-kelompok kepemimpinan nasional.

Partai yang memilih untuk tidak membangun blok dengan kekuatan politik lain terkadang juga telah mencapai hasil elektoral yang patut diperhatikan pada dekade terakhir. Sebagai contoh, di Belanda, Partai Sosialis (SP) meningkat menjadi 16,6 persen suara pada 2006, menjelang seruannya untuk memilih ‘tidak’ dalam referendum Konstitusi Eropa; dan di Siprus, sekretaris jenderal AKEL Demetris Christofias memenangkan pemilihan presiden pada 2009 dengan 33,2 persen di pemungutan suara putaran pertama dan 53,3 persen di putaran kedua. Namun demikian, masa jabatan Christofias berakhir dengan kemunduran besar, karena ia tidak mampu mengakhiri konflik yang telah membelah pulau itu sejak 1974, dan secara eksplisit tunduk pada permintaan Troika dalam ekonomi.

Pembalikan lain yang telah menggoncang geografi Kiri Eropa, sekurangnya tidak dapat diperkirakan beberapa tahun yang lalu, seperti kemenangan pemerintahan Syriza di Yunani. Di pemilihan bercorak-utama yang diselenggarakan pada September 2015, 59,5 persen anggota dan pendukung terdaftar Partai Buruh Inggris memilih Jeremy Corbyn sebagai pimpinan baru mereka. Di negara di mana Tony Blair berkuasa dua puluh tahun lalu, sebuah pernyataan-diri anti-kapitalis sekarang telah menempati pos utama di Partai Buruh, warna yang paling sayap-kiri dalam sejarahnya. Pembalikan peristiwa yang luar biasa ini merepresentasikan contoh signifikan lebih jauh dari kebangkitan Kiri.

Di tingkat UE, kemajuan umum dari Kiri radikal dikonfirmasi di pemilihan Eropa terakhir pada 2014. Jumlah suara totalnya mencapai 12.981.378 atau 8 persen, dengan penambahan 1.885.574 dari 2009. [30] Bahkan dengan kriteria tunggal berupa jumlah perwakilan yang dipilih (6,9 persen, atau 52 anggota parlemen), Kiri Bersatu Eropa/Kiri Hijau Nordik sekarang menjadi kekuatan politik kelima di Parlemen Eropa, meningkat dari yang ketujuh pada 2009.[31] Dengan demikian, ia berada di belakang Partai Rakyat Eropa (29,4 persen), Aliansi Progresif dari Sosialis dan Demokrat (25,4 persen), Konservatif dan Reformis Eropa (9,3 persen) serta Aliansi Demokrat dan Liberal untuk Eropa (8,9 persen); tetapi berada di depan Aliansi Bebas Eropa/Hijau (6,6 persen), Kebebasan dan Demokrasi Langsung Eropa (6,4 persen) serta Bangsa-Bangsa dan Kebebasan Eropa (5,2 persen).

Meski demikian, ada beberapa elemen negatif yang menggelapkan gambaran ini. Di banyak negara Eropa Timur, Kiri radikal masih mengekspresikan posisi yang marjinal, jika bukan terisolasi secara total; [32] mereka jauh dari perjuangan sosial, kurang mengakar di daerah-daerah lokal dan serikat buruh, tidak begitu diketahui oleh generasi muda, dan terus diguncang oleh sektarianisme yang merusak dan menyebabkan pembelahan internal. Dengan kata lain, ia tidak memiliki prospek perkembangan yang segera.

Situasi ini direfleksikan dalam jajak pendapat. Di enam negara ‒ Polandia, Romania, Hongaria, Bulgaria, Bosnia-Herzegovina dan Estonia ‒ Kiri radikal mengumpulkan kurang dari 1 persen suara, sementara di negara lainnya seperti Kroasia, Slowakia, Lithuania dan Latvia, mereka tidak lebih baik. Mereka juga masih sangat lemah di Austria, Belgia dan Switzerland, serta di Serbia, Kiri masih diidentifikasi dengan Partai Sosialis yang dipimpin selama bertahun-tahun oleh Slobodan Milošević.

Dengan demikian, kenyataan yang kita hadapi di Eropa sangat heterogen. Di Semenanjung Iberia dan Cekungan Mediterania ‒ dengan pengecualian Italia ‒ Kiri radikal telah meluas secara signifikan pada tahun-tahun belakangan ini. Di Yunani, Spanyol, Portugal dan Siprus, kekuatan itu telah mengonsolidasikan diri mereka dan bisa dikenal di antara aktor-aktor utama dalam arena politik. Begitu pula, di Perancis, kekuatan Kiri radikal telah mendapatkan kembali peran yang agak signifikan dalam masyarakat dan politik. Sementara itu, di Irlandia, nasionalisme republikan progresif (meski moderat) dari Sinn Fein (SF), yang mengumpulkan 22,8 persen suara pada pemilihan-Euro 2014, telah bertindak sebagai penahan majunya kekuatan-kekuatan konservatif.

Di Eropa Tengah, Kiri radikal mampu mempertahankan kekuatan elektoral yang besar di Jerman dan Belanda, tetapi bobotnya terbatas di tempat-tempat lain. Di negara-negara Nordik, mereka mempertahankan posisi yang didapatkannya setelah 1989 (sekitar 10 persen di jajak pendapat), tetapi mereka terbukti tidak mampu menarik ketidakpuasan rakyat yang tersebar, yang malah ditangkap oleh ekstrim Kanan.

Meski demikian, masalah utama Kiri radikal masih ada di bagian timur, di mana dengan pengecualian Partai Komunis Bohemia dan Moravia di Republik Ceko, serta Kiri Bersatu di Slovenia, kekuatan itu nyaris tidak ada dan tidak mampu bergerak melampaui hantu ‘sosialisme yang ada secara aktual,’ Dalam situasi ini, ekspansi UE ke arah timur dengan tegas telah menggeser gravitasi pusat politik ke kanan, seperti yang dapat kita lihat dari posisi ekstrim yang kaku yang diambil oleh pemerintahan di Eropa Timur selama krisis baru-baru ini di Yunani dan terkait dengan kedatangan orang-orang yang melarikan diri dari daerah-daerah yang dilanda perang.

6. Melampaui batasan Zona Euro?
Perubahan partai-partai Kiri radikal menjadi organisasi yang luas dan lebih plural berguna dalam mengurangi fragmentasi mereka, tetapi hal itu tentu belum menyelesaikan masalah politik mereka.

Di Yunani, ketika pemerintahan yang dipimpin oleh Alexis Tsipras mulai bekerja, Syriza berniat keluar dari kebijakan pemotongan belanja negara yang diadopsi oleh semua pemerintahan, kiri-tengah, ‘teknokratik’ atau ‘kanan-tengah,’ yang telah berganti satu sama lain sejak 2010. Meski demikian, karena besarnya utang negara, penerapan kongkrit dari langkah ini dengan segera disubordinasi di bawah negosiasi dengan kreditor internasional. Setelah lima bulan perundingan yang melelahkan ‒ selama mana Bank Sentral Eropa berhenti lagi memberikan kredit kepada bank sentral di Athena, menyebabkan cabang-cabang dari berbagai bank Yunani kehabisan uang ‒ para pemimpin Zona Euro memaksakan sebuah rencana bailout yang baru dan berisikan semua syarat ekonomi yang selama ini telah ditentang dengan tegas oleh Syriza.

Sejak 2010, rangkaian kekuatan politik parlementer yang telah menerima memorandum Brussels memang sudah luas. Dari kiri ke kanan, mereka sudah tunduk pada logika pemotongan belanja negara yang tak kenal ampun: Demokrasi Baru, Orang-orang Yunani Independen (ANEL), Sungai, Kiri Demokratis, Gerakan Sosialis Panhelenis dan akhirnya, Syriza. [33] Bahkan respons yang kuat dalam referendum konsultatif pada 5 Juli 2015 (ketika 61,3 persen rakyat Yunani menyatakan “tidak” dengan tegas kepada usulan Troika) tidak membawa hasil yang berbeda. Untuk menghindari keluarnya Yunani dari Zona Euro, pemerintahan Tsipras menyetujui pengorbanan sosial lebih lanjut, penjualan aset-aset publik dengan harga murah dan masif, serta secara lebih umum satu rakit penuh langkah-langkah pemotongan belanja negara yang diarahkan pada kepentingan kreditor internasional dan bukannya pada pembangunan ekonomi Yunani. [34]

Di sisi lain, keluarnya Yunani dari Zona Euro ‒ sebuah skenario yang dibayangkan oleh beberapa kalangan, tetapi hanya jika negosiasi dengan Eurogroup gagal ‒ akan melontarkan negeri itu ke situasi kekacauan ekonomi dan resesi yang mendalam. Adalah penting untuk mempersiapkan diri dengan baik dari jauh-jauh hari untuk sebuah keputusan yang krusial seperti itu, dengan hati-hati menimbang setiap kemungkinan dan merencanakan secara ketat semua penanggulangan yang tepat. Di atas segalanya, adalah penting untuk memenangkan serangkaian luas kekuatan sosial dan politik serta mengandalkan dukungan mereka ‒ jika tidak, autarki ekonomi di mana Yunani dikutuk untuk mengadopsinya selama jangka waktu yang tidak dapat diperkirakan, dapat membuka ruang lebih besar lagi bagi kelompok neofasis Fajar Emas.

Hasil negosiasi antara Tsipras dan Eurogroup membuatnya sangat jelas bahwa ketika sebuah partai sayap-kiri memenangkan pemilu dan berusaha menerapkan kebijakan ekonomi alternatif, institusi-institusi Brussels siap mengintervensi dan menghentikan mereka. Pada 1990an, penerimaan tanpa syarat paham neoliberal menyelaraskan kekuatan sosial demokrasi Eropa dengan partai-partai kanan-tengah. Sekarang, sebaliknya, ketika sebuah partai Kiri radikal naik ke kekuasaan, Troika itu sendiri yang turun tangan menghalangi pemerintahan baru merusak arahan-arahan ekonominya. Memenangkan pemilu tidaklah cukup; Uni Eropa telah menjadi landasan dari kapitalisme neoliberal.

Menyusul episode Yunani, terdapat refleksi kolektif yang mendalam terhadap kebijakan mempertahankan mata uang tunggal dengan ongkos apapun. Berbagai upaya dilakukan untuk memahami cara mana yang terbaik untuk mengakhiri kebijakan ekonomi yang sekarang, tanpa, pada waktu yang sama, mengabaikan proyek persatuan politik Eropa yang baru dan berbeda.
Posisi mayoritas di antara partai-partai Kiri radikal tetaplah bahwa masih mungkin untuk memodifikasi kebijakan Eropa dalam konteks yang ada: yaitu, melakukannya tanpa mengakhiri persatuan moneter yang dicapai pada 2002 ketika euro mulai berlaku.

Syriza adalah kekuatan paling menonjol yang masih menganut pandangan ini: ia memiliki kesempatan dalam pemerintahan untuk merumuskan dan menerapkan solusi-solusi alternatif ‒ terlepas dari tekanan yang tidak patut dari institusi UE untuk membendung perubahan apapun ‒ tetapi ia tidak mempertimbangkan pilihan ‘Grexit.’ Pada September 2015, Tsipras memenangkan pemilihan awal yang ia serukan mengikuti konflik dengan sebagian dari partai yang menentang penerapan usulan-usulan memorandum Eurogroup; ia mengumpulkan 35,5 persen suara rakyat dan kembali ke pemerintahan dengan grup parlementer yang kohesif, tidak lagi terpapar oleh bahaya ketidakpuasan internal.

Jadi, terlepas dari tingkat abstain yang lebih tinggi (sampai 7 persen sejak pemilihan yang lalu tujuh bulan sebelumnya), dan terlepas dari fakta bahwa orang yang memberikan suara lebih sedikit 600,000 orang daripada referendum Juli, Syriza mampu mempertahankan dukungan dari bagian yang cukup besar dari rakyat Yunani. Meskipun demikian, mosi percaya yang baru dan mereka berikan akan diuji dalam waktu singkat ketika kapak yang dipaksakan oleh Eurogroup terasa akibatnya, dan tidaklah terlalu gegabah untuk memprediksi kemunculan skenario yang lebih tak tentu lagi daripada yang sejauh ini kita lihat.

Syriza tampaknya memiliki strategi dua-arah untuk mencegah hilangnya dukungan yang dialami oleh semua partai lain yang menerapkan program bailout Troika sebelumnya. Pemerintahan Yunani akan berupaya menegosiasikan pengurangan besar dalam utang negara, untuk menghindari serangan siklus deflasi yang baru. Dan ia akan berusaha menjalankan sebuah agenda yang paralel dengan yang dipaksakan oleh Brussels, yaitu mengambil beberapa langkah redistributif yang dapat membatasi efek dari memorandum yang paling baru.

Mengingat apa yang terjadi pada 2015, terdapat landasan objektif untuk berpendapat bahwa ini adalah misi yang hampir-mustahil. Bagaimanapun juga, setelah pengalaman pemerintahan Tsipras, dan mengingat kemungkinan bahwa institusi UE akan menolak restrukturisasi utang apapun, menjadi jelas bahwa Kiri juga perlu mempersiapkan diri untuk kemungkinan keluar dari Zona Euro. Meskipun demikian, adalah keliru untuk menganggap hal ini sebagai obat dari semua masalah.

Selain Syriza, sebagian besar kekuatan utama dalam Partai Kiri Eropa memiliki pandangan yang sama bahwa adalah mungkin untuk memperbarui Uni Eropa dalam konfigurasi yang ada; ini berlaku bagi Die Linke di Jerman, Partai Komunis Perancis dan Izquierda Unida di Spanyol. Podemos juga masuk dalam blok ini, karena kepemimpinannya yakin bahwa jika pemerintahan Yunani disusul oleh yang lain yang siap untuk putus dari pemotongan belanja negara yang dipaksakan-Troika, akan terbuka ruang untuk menghancurkan apa yang saat ini tampak sangat tidak bisa diubah. Hasil pemilihan Portugal baru-baru ini ‒ yang telah menghasilkan aliansi yang selama ini sangat tidak mungkin[35]: sebuah pemerintahan minoritas yang dipimpin oleh seorang Sosialis Antonio Costa, dengan dukungan eksternal dari Blok Kiri dan Koalisi Demokratik Bersatu ‒ tampak memperkuat harapan seperti itu. Skenario serupa juga tidak dapat diabaikan di Spanyol, di mana pada saat ini negosiasi antara Partai Pekerja Sosialis Spanyol (PSOE) dan Podemos sedang berlangsung.

Dalam pandangan yang lain, ‘krisis Yunani’ ‒ pada kenyataannya, sebuah krisis demokrasi di zaman kapitalisme neoliberal ‒ tampak membuktikan bahwa model UE yang ada tidak dapat diperbarui: bukan karena hubungan kekuatan lebih tidak menguntungkan bagi Kiri anti-kapitalis akibat pembesaran di bagian timur, tetapi karena arsitektur umumnya. Parameter-parameter ekonomi yang diterapkan dengan kekakuan yang semakin tinggi sejak penandatanganan Perjanjian Maastricht niscaya telah mengurangi, atau dalam beberapa kasus, hampir membatalkan urgensi politik yang jauh lebih kompleks dan majemuk.

Selama 25 tahun terakhir, kebijakan neoliberal dengan jubah teknokratik dan non-ideologis yang menipu, sudah menang di seluruh Eropa, memberikan pukulan berat bagi model negara kesejahteraan. Negara-negara menemukan diri mereka secara perlahan dilucuti instrumen pengarah ekonomi dan politiknya yang penting, yang sangat dibutuhkan untuk meluncurkan program investasi publik yang dapat mengubah arah krisis. Dan di atas ini, praktik anti-demokrasi berupa pengambilan keputusan penting tanpa mengupayakan persetujuan rakyat sudah begitu melekat sehingga hal itu sekarang tampak sangat biasa.

Mereka yang menganggap tujuan mendemokratisasikan Zona Euro sebagai ilusif mungkin masih minoritas dalam Kiri radikal, tetapi barisan mereka membesar beberapa bulan belakangan ini. Di samping kekuatan yang secara tradisional Euro-skeptik seperti Partai Komunis Portugis, Partai Komunis Yunani atau Daftar Unitaris/Merah-Hijau di Denmark, sekarang terdapat Persatuan Rakyat (LE) yang menyempal dari Syriza. Lahir di Athena pada Agustus 2015, ia telah merekrut sejumlah besar mantan pemimpin dan anggota yang menentang keputusan Tsipras untuk menerima perintah Eurogroup. Tetapi meskipun ia menginginkan kembali ke drachma, ia masih berada di luar parlemen Yunani setelah pemilihan terakhir, mendapatkan hanya 2,8 persen suara rakyat.

Pada saat yang sama, berbagai intelektual dan pemimpin politik secara eksplisit telah mengambil posisi menentang euro. [36] Lafontaine, misalnya, telah mengusulkan untuk kembali (dengan bentuk yang fleksibel) ke Sistem Moneter Eropa (EMS): yaitu, kesepakatan yang berlaku sebelum euro diadopsi, yang menetapkan fluktuasi nilai-tukar yang terkontrol di antara berbagai mata uang nasional. Walau bagaimanapun, pencarian solusi yang segera untuk mengakhiri tahap pemotongan belanja negara, dengan latar belakang tekanan yang baru dan tidak dapat diterima seperti yang dilancarkan kepada Yunani, mesti mempertimbangkan semua implikasinya. Di tingkat simbolik, kembali ke sistem moneter yang lama mungkin terlihat sebagai langkah pertama untuk menghentikan seluruh proyek persatuan Eropa; dan secara politik, hal itu mungkin akan menjadi katalis yang berbahaya yang menguntungkan Kanan populis.

Selain kedua posisi yang terus terang mendukung dan menentang ‘demokratisasi euro,’ terdapat serangkaian opini yang cukup luas dan ragu-ragu memberikan jawaban yang jelas terhadap pertanyaan: ‘Apa yang harus dilakukan jika hal-hal yang terjadi di Yunani terulang di negara lain?’ Banyak yang khawatir bahwa partai-partai atau pemerintahan koalisi lain akan menjadi sasaran pemerasan yang sama seperti Syriza, tetapi ada juga ketakutan yang meluas bahwa jika ia memikirkan penarikan diri dari Zona Euro, Kiri anti-kapitalis akan mengasingkan sebagian besar penduduk yang khawatir terhadap kemungkinan inflasi dan akibatnya berupa instabilitas ekonomi serta kemerosotan upah dan pensiun mereka. Contoh tipikal dari ketidakpastian ini adalah posisi Blok Kiri di Portugal dan Partai Sosialis di Belanda yang berganti-ganti pada tahun-tahun belakangan ini.

Meskipun seruan Mélenchon baru-baru ini, ‘Sebuah Rencana B di Eropa,’ [37] penuh dengan kontradiksi dan kesamaran, ia telah memberikan rangsangan lebih lanjut untuk diskusi. Menandai campur tangan UE di Yunani sebagai sebuah ‘ coup d’État’ yang sungguhan, mereka mengusulkan sebuah konferensi internasional yang permanen untuk merancang cara bagaimana alternatif dari sistem moneter berbasis-euro bisa ada jika kebutuhannya muncul. [38] Jika di bulan-bulan mendatang, intelektual, partai politik dan kekuatan sosial lain bersatu atas dasar tujuan ini, di masa depan tuntutan untuk meninggalkan euro mungkin akan menjadi bendera dari tidak hanya Kanan populis.

Di sisi lain, konflik yang meledak dalam Syriza dapat direproduksi di tempat lain. Sudah ada tanda-tanda ini dalam ketegangan internal yang telah memmengaruhi Front de Gauche dan Die Linke. Dengan demikian, untuk Kiri radikal Eropa, resiko berupa periode baru pembelahan bisa mewujud secara kongkrit. Hal ini mengungkap batas-batas dari bentuk plural yang diadopsi kekuatan militan pada tahun-tahun belakangan ini, dengan segala kekurangan definisi programatiknya. Karena keragaman posisi politik dan budaya politik di antara berbagai organisasi yang menghidupkan konfigurasi yang baru mungkin sangat memerlukan kesepakatan tentang strategi yang akan dijalankan; hal itu akan sulit dicapai, tetapi tidak mustahil.

Ketegangan lain ada dalam Kiri radikal Eropa mengenai hubungan dengan kekuatan sosial-demokratik. Isu kuncinya, yang terus ada baik di tingkat kota maupun regional, adalah apakah merupakan ide yang baik untuk terlibat bersama-sama dengan mereka dalam pengalaman memerintah; bahaya yang jelas adalah pada akhirnya kita hanya akan memainkan peran subordinat, menerima seperti di masa lalu, kompromi-kompromi negatif yang degradatif dan memerosotkan capaian-capaian yang ada dalam dukungan rakyat, serta menyerahkan monopoli oposisi sosial kepada Kanan populis.

Namun demikian, pilihan memerintah harus dipertimbangkan hanya jika terdapat kondisi untuk menerapkan sebuah program ekonomi yang benar-benar memutuskan diri dari kebijakan pemotongan belanja negara pada dekade terakhir. Keputusan yang lain dari itu akan berarti belum menangkap berbagai pelajaran pada tahun-tahun yang lampau, ketika partisipasi dalam eksekutif moderat yang dipimpin-Sosialis menodai kredibilitas Kiri radikal di antara kelas pekerja, gerakan sosial, dan bagian terlemah dari masyarakat.

Menghadapi pengangguran yang di beberapa negara telah mencapai tingkat yang belum pernah terlihat sejak perang, sudah menjadi prioritas untuk meluncurkan sebuah rencana yang ambisius untuk buruh, yang didukung investasi publik dan memiliki pembangunan yang berkelanjutan sebagai prinsip panduannya. Hal ini harus berjalan bersama-sama dengan perubahan arah yang jelas terkait ketidakamanan pekerjaan yang telah menandai semua ‘pembaruan’ pasar-kerja yang terakhir; juga harus diperkenalkan legislasi untuk menetapkan batas ambang minimum di bawah mana upah tidak boleh dibiarkan jatuh. Langkah-langkah seperti itu akan memungkinkan anak muda untuk merencanakan kembali masa depan mereka. Juga harus ada pemotongan jam kerja dan penurunan umur pensiun, dengan demikian memulihkan beberapa elemen keadilan sosial untuk melawan pembagian kekayaan yang tidak setara, yang terus tumbuh di bawah rezim neoliberal.

Untuk menghadapi peningkatan pengangguran yang dramatis, partai-partai Kiri radikal harus memajukan langkah-langkah yang cenderung menetapkan pendapatan warga negara dan bentuk dukungan yang dasar bagi yang kurang mampu ‒ mulai dari hak atas perumahan melalui konsesi transportasi ke pendidikan gratis ‒ dengan suatu cara untuk memerangi kemiskinan dan eksklusi sosial yang semakin meluas.

Pada saat yang sama, adalah penting untuk membalik proses privatisasi yang telah menandai kontra-revolusi selama beberapa dekade belakangan ini. Semua barang bersama yang ditransformasikan dari pelayanan komunitas menjadi alat untuk menciptakan laba bagi segelintir harus dipulihkan ke kontrol dan kepemilikan publik. Usulan Jeremy Corbyn untuk menasionalisasi kembali kereta api Inggris, dan juga kebutuhan di mana-mana di Eropa untuk menginvestasikan sumber daya secara signifikan di sekolah dan universitas, mengindikasikan arah yang benar untuk diambil.

Terkait pembiayaan untuk pembaruan seperti itu, hal ini dapat berasal dari pajak atas kapital dan atas aktivitas non-produktif dari perusahaan-perusahaan besar, dan juga atas pendapatan dan transaksi keuangan. Jelas bahwa cara pertama yang diperlukan untuk tujuan ini adalah referendum untuk menghapuskan ‘paket fiskal’ dan membatalkan rantai yang dipaksakan oleh Troika. Juga sangat penting untuk memblokir persetujuan Kemitraan Investasi dan Perdagangan Transatlantik, yang jika diterapkan, hanya akan memperburuk situasi lebih lanjut. [39] Di tingkat benua, sebuah alternatif yang riil hanya bisa dibayangkan jika spektrum kekuatan sosial dan politik yang luas mampu berjuang untuk dan mencapai sebuah konferensi Eropa tentang restrukturisasi utang negara.

Ini hanya bisa terjadi jika Kiri radikal berkembang, dengan keteguhan dan konsistensi yang lebih besar, serta bermacam kampanye politik dan mobilisasi transnasional. Hal ini perlu dimulai dari penolakan terhadap perang dan xenofobia ‒ isu yang lebih menentukan lagi sejak penyerangan 13 November 2015 di Paris ‒ dan dukungan untuk perluasan kewarganegaraan serta hak sosial penuh bagi para migran yang datang ke tanah Eropa.

Tidak ada jalan pintas bagi sebuah politik alternatif. Karena tidak cukup untuk mempercayai para pemimpin alternatif; begitu pula, kelemahan partai-partai sekarang ini tidak membenarkan pembatalan mereka oleh institusi negara.[40] Adalah penting untuk membangun organisasi-organisasi baru ‒ Kiri memerlukan hal ini sebanyak yang mereka perlukan pada abad ke-20: organisasi yang memiliki kehadiran yang meluas di tempat kerja; organisasi yang berusaha keras menyatukan perjuangan kelas pekerja dan subaltern, di saat di mana hal ini belum pernah lebih terfragmentasi daripada sekarang; organisasi yang struktur lokalnya mampu memberikan jawaban segera (bahkan sebelum legislasi untuk perbaikan secara umum) terhadap masalah-masalah dramatis yang diakibatkan oleh kemiskinan dan eksklusi sosial. Begitu pula, akan membantu hal ini terjadi jika Kiri menggunakan lagi bentuk-bentuk perlawanan sosial dan solidaritas yang dipraktikkan oleh gerakan pekerja di masa sejarah yang lain.

Prioritas-prioritas baru juga perlu didefinisikan, terutama kesetaraan gender yang riil dan latihan politik yang saksama terhadap anggota-anggota yang lebih muda. Kunci untuk kerja seperti itu, di masa di mana demokrasi disandera oleh organisme teknokratik, adalah mendorong partisipasi lapisan bawah dan pengembangan perjuangan sosial.

Satu-satunya inisiatif Kiri radikal, yang memiliki aspirasi untuk mengubah arah peristiwa, hanya memiliki jalan tunggal di hadapan mereka: membangun sebuah blok sosial baru yang mampu merangsang oposisi massa terhadap kebijakan-kebijakan yang dimulai oleh Perjanjian Maastricht; dan dengan demikian, mengubah di akarnya pendekatan ekonomi yang saat ini dominan di Eropa.***

Diterjemahkan oleh M. Zaki Hussein.

References

1. Pada 1989, Partai Komunis Italia (PCI), Partai Komunis Spanyol (PCE), Kiri Yunani (EAR) dan Partai Rakyat Sosialis (SF) di Denmark membentuk Grup untuk Kiri Bersatu Eropa di Parlemen Eropa.
2. Dimulai pada 1989, Partai Komunis Perancis (PCF), Partai Komunis Portugis (PCP), Partai Komunis Yunani (KKE) dan Partai Buruh (WP) di Irlandia membentuk grup Persatuan Kiri di Parlemen Eropa.
3. Di antara mereka yang paling signifikan secara elektoral adalah Perjuangan Buruh (LO) di Perancis.
4. Pemerintahan yang dipimpin oleh Lionel Jospin di Perancis, yang mengurangi jam kerja seminggu menjadi tiga puluh lima jam, adalah pengecualian dari kecenderungan ini. Di Spanyol, pemerintahan Zapatero mengikuti kebijakan neoliberal yang sama seperti di negara-negara Eropa lain dan tersapu oleh efek dari krisis ekonomi. Namun demikian, ia mengadopsi sejumlah pembaruan penting terkait hak-hak sipil. Untuk analisis yang lengkap terhadap kecenderungan sosial-demokratik di Eropa, lihat Jean-Michel de Waele, Fabien Escalona, Mathieu Vieira (eds.), The Palgrave Handbook of Social Democracy in the European Union , Basingstoke: Palgrave Macmillan, 2013.
5. Lihat Anthony Blair dan Gerhard Schröder, Europe: The Third Way ‒ die Neue Mitte, London/Berlin, Partai Buruh/SPD, 1999.
6. Pada 18 Oktober 2015, surat kabar Mail on Sunday menerbitkan sebuah dokumen rahasia (‘Rahasia/Noforn) tertanggal 28 Maret 2002 (setahun sebelum perang Irak) yang membuktikan bahwa perdana menteri Inggris ‒ sementara mengumumkan keputusannya untuk mencari solusi diplomatik bagi krisis itu ‒ sudah menawarkan Bush dukungannya untuk meyakinkan opini publik dunia bahwa Saddam Hussein memiliki senjata pemusnah massal. Lihat http://www.dailymail.co.uk/news/article-3277402/Smoking-gun-emails-reveal-Blair-s-deal-blood-George-Bush-Iraq-war-forged-YEAR-invasion-started.html.
7. Partai ini hanya bergabung dengan Kiri Hijau Nordik, bukan dengan grup Kiri Bersatu Eropa/Kiri Hijau Nordik dalam parlemen Eropa.
8. Partai Kiri (‘Die Linke’) mengambil keputusan yang sama di Jerman, memasuki pemerintahan dengan kaum Sosial Demokrat di Negara Brandenburg (di mana sebagai akibatnya suaranya jatuh dari 27,2 persen pada 2009 menjadi 18,6 persen pada 2014) dan di Berlin (di mana suaranya turun setengah dari 22,6 persen pada 2001 menjadi 11,6 persen pada 2011). Di Belanda, Partai Sosialis ada dalam pemerintahan di enam dari dua belas provinsi di negeri itu, setelah bergabung dalam beberapa kasus dengan partai-partai kanan-tengah, sementara Partai Buruh (PvdA), yang merupakan afiliasi dari Sosialis Internasional, masih terus menjadi oposisi.
9. Di Denmark, Partai Rakyat Sosialis memperoleh 13 persen pada 2007, tetapi kemudian jatuh ke angka yang sekarang 4,2 persen setelah perubahan sikap politik yang moderat mendukung pemerintahan. Kejatuhan ini terjadi bersamaan waktunya dengan perpindahan partai itu dari grup Kiri Bersatu Eropa/Kiri Hijau Nordik dalam parlemen Eropa ke grup Partai Hijau Eropa ‒ sebuah langkah yang disetujui oleh kongres nasionalnya pada 2008.
10. Latvia mengadopsi Euro pada 1 Januari 2014.
11. Institut Statistik Nasional Portugis telah menghitung bahwa selama 2010-2014, setidaknya 200.000 orang berumur antara 20 dan 40 tahun meninggalkan negeri itu. Di Spanyol, Institut Statistik Nasional menghitung setidaknya 133.000 emigran muda baru selama tahun 2008-2013. Dan di Italia, setidaknya 136.000 anak muda pergi ke luar negeri antara tahun 2010 dan 2014. Pada kenyataannya, perkiraan-perkiraan ini berada jauh di bawah angka sebenarnya. Dalam kasus Yunani, tidak ada data resmi, karena badan statistik nasionalnya tidak mencatat emigrasi anak muda.
12. Pada 2006, investor dan tokoh terkemuka AS, Warren Buffet, menyartakan dengan fasih dalam sebuah wawancara: ‘Baiklah, ada perang kelas, tetapi itu adalah kelas saya, kelas kaya, yang sedang melancarkan perang, dan kami menang.’ Lihat Ben Stein, ‘In Class Warfare, Guess Which Class Is Winning,’ New York Times, 26 November 2006.
13. Mengenai hubungan antara kapitalisme dan demokrasi ‒ sebuah tema mengenai mana sejumlah besar literatur tumbuh subur beberapa tahun belakangan ini ‒ lihat Ellen Meiksins Wood, Democracy Against Capitalism, London: Cambridge University Press, 1995.
14. Disetujui hanya di Spanyol dan Luxemburg, ratifikasi perjanjian ini menemui kemacetan persis sebagai akibat dari penolakan ini di Perancis dan Belanda.
15. Di Yunani, referendum konsultatif yang diselenggarakan oleh pemerintahan Tsipras pada Juli 2015 juga menghasilkan suara ‘tidak’ dalam jumlah besar terhadap kebijakan-kebijakan Brussel yang terkait.
16. Sebagai perdana menteri Luxemburg, Juncker telah memungkinkan lebih dari 300 perusahaan multinasional mengambil keuntungan dari rezim pajak khusus di negerinya.
17. Namun, harus dicatat bahwa partisipasi dalam pemilu presiden yang lebih penting di Perancis jauh lebih tinggi, seperti yang ditunjukkan oleh 79,4 persen kedatangan pemilih pada 2012.
18. Di banyak negara Eropa Timur, angkanya sangat rendah: Slowakia 13 persen, Republik Ceko 18,2 persen, Slovenia 24,5 persen, Kroasia 25,2 persen, Hongaria 28,9 persen. Yang juga penting adalah 33,6 persen di Portugal dan 35,6 persen di Inggris. Lihat http://www.europarl.europa.eu/pdf/elections_results/review.pdf .
19. Setelah pemilihan kota pada Maret 2014.
20. ‘Prioritas untuk orang Perancis’ adalah sebuah slogan xenofobik lama dari Jean-Marie Le Pen: lihat karyanya Les Français d’abord, Paris: Carrère-Michel Lafon, 1984.
21. Sejak pemilihan 2012, Front Nasional telah menjadi bagian dari sebuah koalisi yang lebih luas, yang menamakan dirinya Barisan Biru Laut (Rassemblement Blu Marine – RBM).
22. Untuk kajian tentang kekuatan kanan-jauh di Eropa, lihat buku yang diedit oleh Andrea Mammone, Emmanuel Godin dan Brian Jenkins: Mapping the Extreme Right in Contemporary Europe, London: Routledge, 2012.
23. Ini benar bahkan ketika kita mempertimbangkan keterombangambingan posisi Izquierda Unida terhadap pemerintahan Spanyol selama 2004-2008.
24. Untuk daftar kekuatan yang bergabung dalam Partai Kiri Eropa, lihat http://www.european-left.org/about-el/member-parties .
25. Namun demikian, grup ini tidak mencakup formasi yang berpartisipasi dalam Partai Inisiatif Komunis dan Pekerja, sebuah aliansi yang diluncurkan pada 2013 yang terdiri dari—selain Partai Komunis Yunani (KKE), komponen utamanya—29 partai-partai Stalinis ortodoks yang kecil.
26. Kartel Oskar Lafontaine Buruh dan Keadilan Sosial ‒ Alternatif Elektoral (WASG) muncul pada 2005, dan pembentukan Parti de Gauche (PG) di Perancis di bawah kepemimpinan Jean-Luc Mélenchon diumumkan pada November 2008 (kongres pendiriannya diselenggarakan pada Februari 2009).
27. Pada pemilihan Juni 2015, sebelum spiral kekerasan dan pembunuhan yang dipicu oleh Presiden Recep Erdoğan, HDP memenangkan lebih banyak lagi suara (13,1 persen).
28. Untuk pemetaan Kiri Eropa, lihat Birgit Daiber, Cornelia Hildebrandt, Anna Strienthorst (ed.), From Revolution to Coalition: Radical Left Parties in Europe , Berlin: Rosa Luxemburg Foundation, 2012; dan lebih baru lagi, edisi khusus Socialism and Democracy (vol. 29/3, 2015) yang diedit oleh Babak Amini: The Radical Left in Europe.
29. Satu-satunya contoh lain hanya negara Siprus yang kecil, di mana Partai Rakyat Pekerja Progresif (AKEL) membentuk sebuah pemerintahan koalisi pada 2009.
30. Penting untuk dicatat bahwa semua data yang beredar tentang hasil pemilihan ‒ termasuk yang dikeluarkan oleh Uni Eropa ‒ merujuk ke persentase jumlah total perwakilan yang dipilih, bukan ke jumlah suara yang diberikan. Salah satu pengecualian yang patut dipuji dari praktek ini adalah Paolo Chiocchetti, ‘The Radical Left at the 2014 European Parliament election: A First Assessment,’ dalam sebuah publikasi online yang diedit oleh Cornelia Hildebrandt: Situation on the Left in Europe after the EU Elections: New Challenges , Berlin: Rosa Luxemburg, 2014.
31. Untuk ini, perlu ditambahkan dua lagi anggota parlemen Euro dari Partai Komunis Yunani, yang tidak termasuk dalam grup EUL/NGL.
32. Utusan di Parlemen Eropa dari grup EUL/NGL berasal dari hanya setengah dari 29 negara yang menjadi anggota Uni Eropa.
33. Slogan terkenal Margaret Thatcher: ‘Tidak ada alternatif’ terus mewujud, seperti momok, bahkan dengan jarak tiga puluh tahun.
34. Lihat kumpulan Preliminary Report, yang diedit oleh Komite Kebenaran Utang Negara, komisi ini didirikan pada 4 April 2015 atas inisiatif mantan presiden parlemen Yunani, Zoe Konstantopoulou:
http://cadtm.org/IMG/pdf/Report.pdf . Beberapa minggu yang lalu, pemerintahan Tsipras yang baru memutuskan untuk menghapus dokumen penting ini dari situs resmi parlemen Yunani.
35. Di Portugal tahun 1970an, setelah Revolusi Anyelir dan pendirian republik, kaum Sosialis tidak pernah bernegosiasi dengan kekuatan politik di sebelah kiri mereka.
36. Selain pengarang yang telah mengajukan pendapat ini di waktu-waktu tertentu ‒ lihat misalnya, Jacques Sapir, Faut-il sortir de l’Euro?, Paris: Le Seuil, 2012; dan Heiner Flassbeck serta Costas Lapavitsas, Against the Troika: Crisis and Austerity in the Eurozone, London: Verso, 2015 ‒ terdapat sejumlah intervensi ke arah ini. Dalam sebuah wawancara di mingguan Jerman yang terjenal, Der Spiegel, yang berjudul ‘Krise in Griechenland: Lafontaine fordert Ende des Euro’ (11 Juli 2015), Oskar Lafontaine tidak menghindar dari topik yang pelik ini dengan menyatakan ‘euro telah gagal’. Di Italia, sosiolog yang belum lama ini meninggal, Luciano Gallino, menerbitkan sebuah artikel yang menjelaskan kenapa Italia bisa dan harus meninggalkan euro: ‘Perché l’Italia può e deve uscire dall’euro’, La Repubblica, 22 September 2015. Dan di Portugal, Francisco Loucã yang berpengaruh ‒ yang selama 10 tahun merupakan pemimpin utama Blok Kiri ‒ sudah menerbitkan pandangan yang semakin kritis sebelum pecahnya krisis Yunani. Lihat bukunya bersama Joao Ferreira do Amaral: A Solução Novo Escudo, Alfragide: Lua de Papel, 2014; dan lebih belakangan ini artikelnya, ‘Sair ou não sair do euro’, Público, 27 Februari 2015.
37. Keempat penandatanganan yang lain adalah Oskar Lafontaine, mantan menteri keuangan Yunani Yanis Varoufakis, Zoe Konstantopoulou dan ekonom Italia Stefano Fassina.
38. Pertemuan pertama tentang topik itu diselenggarakan di Paris pada 23-24 Januari 2016, tetapi hal itu mengecewakan baik dalam hal partisipasi maupun kualitas perdebatannya.
39. Yang penting dalam hal ini adalah demonstrasi besar pada 10 Oktober 2015 di Berlin, yang memobilisasi 250.000 orang melawan persetujuan komersial ini.
40. Ketika Syriza naik ke kekuasaan pada Januari 2015, ia telah memperoleh 2.250.000 suara, tetapi keanggotaan totalnya tidak lebih dari 36.000. Sejak ia menjalankan tanggung jawab pemerintahan, keputusan yang secara demokratis diambil oleh partai Yunani itu berkali-kali dijungkirbalikkan atau diabaikan.

Categories
Interviews

Marxisme: Musto

“Aku ingin menjelaskan tentang Operaismo. Menjawab pertanyaanmu. Lalu menyadari bahwa kau tidak ada lagi dalam ruangan.”

“Aku menghisap kretek di luar. Tidak tahan.”

Ia tertawa sembari menggeleng kepala. Tanda bahwa ia tidak terkejut dengan jawabanku.

“Lagipula, tujuan pertanyaanku adalah sekedar provokasi. Agar kau dapat memperkenalkan sedikit tentang Operaismo kepada para peserta diskusi. Masih banyak yang belum tahu. Ide tentang Operaismo, apalagi menyangkut apa yang disebut dengan Marxis-Otonomis.”

Aku menjawab dengan santai pertanyaan dari laki-laki Italia ini. Berbincang selama hampir dua jam sebelum ia memulai kuliah umumnya membuat aku merasa akrab dengannya. Tidak ada kesan sombong, meski aku menyadari sejak awal bahwa laki-laki jangkung berkacamata asal Naples yang sedang berjalan di sampingku adalah seorang intelektual yang tengah diperhitungkan. Namanya mengemuka di kalangan pengkaji Marxisme. Buku-buku yang ditulis pemuda pendukung S.S.C. Napoli ini mendapat sambutan hangat. Umurnya baru akan genap 40 tahun sebentar lagi.

Saat itu, ia baru saja memberikan kuliah umum. Kini, beberapa teman mau mengajaknya ngaso di salah satu kantin kampus.

“Kau benar-benar tidak tahan jika tidak merokok? Misal, selama sehari penuh?”

Aku menatapnya, lalu menggeleng. “Aku tidak merokok. Aku menghisap kretek.”

Ia mengacungkan jempol. Kami lalu tertawa bersama.

Marcelo Musto, lahir di kota yang klub sepakbolanya pernah merasakan masa jaya sewaktu Diego Maradona bermain di sana -sebelum diskors 15 bulan karena kecanduan kokain. Lahir pada 14 April 1976, pria berkacamata ini menamatkan studi sarjana muda hingga doktoral di University of Napoli – L’Orientale di kota kelahirannya. Belajar filsafat dan politik. Belum puas dengan itu, ia mengambil studi doktoral ilmu filsafat di University of Nice – Sophia Antipolis.

“Tentu saja aku suka sepakbola. Hampir semua orang Naples menggandrungi olahraga ini.”

Karya-karya Musto dalam berbagai format -buku, bab dalam buku, tulisan di jurnal atau artikel, telah diterjemahkan ke dalam 16 bahasa. Kebanyakan karyanya berada di seputaran elaborasi mengenai pemikiran-pemikiran Marx dan relevansinya dengan kondisi hari ini, soal teori keterasingan (theory of allienation) atau mempelajari berbagai varian Marxisme dan sejarah pemikiran sosialisme.

“Kau pernah membaca salah satu tulisanku?”

Aku mengangguk. “Beberapa artikel. Kalau buku, hanya dua.”

“Ah, dua judul dalam bahasa Inggris itu?

“Iya.” Aku menyalakan kretek.

“Terima kasih.”

Aku menyimpan dua buku terbitan Routledge itu di Hue. Aku membelinya saat mulai mendalami studi mengenai gerakan pelajar demokratik di Asia Tenggara. Kisaran medio 2013. Dibeli secara online dan berujung pada pertengkaran dengan pasanganku. Ia marah karena aku membelanjakan sebagian uang tabungan yang diperuntukkan untuk rencana kami berdua liburan musim dingin. Cukup puas membaca kedua buku itu. Banyak membantu.

Ketertarikanku terhadap tulisan Musto berawal saat mendapati sebuah ulasan Nick Taylor mengenai Marx for Today di blog The London School of Economics and Political Science. Meski singkat, review itu berhasil memprovokasiku.

Meski review ini bukan perkenalan yang pertama dengan nama Marcelo Musto.

Semasa menghadiri sebuah pertemuan di Jawaharlal Nehru University, seorang kawan bercerita tentang sekelompok intelektual Marxis yang menulis tentang Grundrisse. Hasilnya baru saja diterbitkan dalam buku bunga rampai berisi beragam tulisan dari berbagai sudut pandang. Nama Musto muncul dalam pembicaraan tersebut.

Buku yang dimaksud berjudul Karl Marx’s Grundrisse: Foundation of the critique of political economy 150 years later . Tebalnya hampir 300 halaman. IndoProgress juga memuat ulasan Arianto Sangaji mengenai buku ini . Lumayan jadi teman menunggu ketika kau dianugerahi keberlimpahan waktu saat transit di bandara atau menunggu bus antar negara.

Grundrisse memang elok dan menggiurkan.

Salah satu dari banyak karya Marx yang sayangnya tidak selesai ditulis dalam bentuk buku utuh. Ia adalah manuskrip-manuskrip berisikan penjelasan mengenai metode dan konsep yang sedang digeluti Marx untuk persiapan Capital. Naskah ini terbit kemudian setelah ditemukan oleh David Ryazanov, Direktur Marx-Engels Institute yang berbasis di Moskow. Grundrisse hadir pertama kali dalam bahasa Rusia dalam dua volume berbeda -terbit 1939 dan 1941. Ia mungkin salah satu naskah Marx yang paling tragis. Mulai mendapatkan pembaca luas secara pada kisaran 1957 meski Marx menulis Grundrisse seratus tahun sebelumnya.

Edisi terjemahan penuh Grundrisse dalam bahasa Inggris dikerjakan oleh Martin Nicolaus yang terbit tahun 1973. Keterlambatan ini menurutku ikut mempengaruhi timpangnya popularitas antara Grundrisse dan Capital, meski yang disebut terakhir ditulis belakangan oleh Marx.

Dalam Grundrisse, Marx memamerkan kapasitasnya sebagai intelektual bajingan yang tidak main-main dalam melakukan kritik secara radikal. Lelaki berjanggut yang mati dalam kemiskinan ini misalnya, tidak semena-mena menjatuhkan penghakiman terhadap pemikiran David Ricardo -yang tidak lain adalah kritik terhadap praktek ekonomi merkantilisme yang ekstraktif dan brutal. Melalui “naskah mentah” ini, Marx mendudukkan peran komoditi sebagai pusat dari perputaran kapitalisme, juga berhasil merekuperasi konsep dialektika Hegel untuk kemudian digunakan sebagai senjata menyerang filsafat borjuis Hegel -seperti yang tertuang dalam Logic, dan mentransformasikannya sebagai salah satu fundamen penting gagasannya sendiri yang dikemudian hari dikenal sebagai Dialektika Materialisme.

Singkatnya, Grundrisse adalah pengantar yang dapat dikatakan sempurna untuk memahami Capital -meski jeda di antaranya adalah pentingnya mempelajari Logic yang ditulis Hegel. Meski diniatkan sebagai catatan pribadi, Grundrisse adalah hadiah langka yang dihadiahkan seorang revolusioner supaya kita dapat mengerti totalitas kritik ekonomi-polik yang ia sodorkan dalam bukunya.

* * *

“Dia salah satu orang yang serius dan tekun mempelajari tentang Operaismo. Cuma sedikit jumlahnya di Indonesia.”

Marcelo Musto menatap lelaki berkacamata yang berkulit kuning di sampingku. Namanya Hizkia Yosie Polimpung. Ia salah satu pendiri Koperasi Riset Purusha, yang para pegiatnya adalah anak-anak muda. Yosie juga salah satu editor di Jurnal IndoProgress, sebuah sindikasi informal yang memfokuskan diri pada pengembangan, elaborasi dan perdebatan mengenai konsep, metode dan ragam pemikiran Marxisme di Indonesia. IndoProgress dan Purusha adalah inisiator diskusi -bersama SEMAR UI- di mana Musto didaulat sebagai pembicara.

“Cuk.”

Aku tertawa mendengar respon Yosie terhadap introduksi dirinya di hadapan Musto.

Seperti Musto, aku mengenal Yosie pertama kali lewat tulisan-tulisannya di IndoProgress. Saat itu aku masih menggelandang di Thailand dan membaca artikel-artikel berbahasa Indonesia adalah pelarian yang nikmatnya hanya berada satu level di bawah daging babi dan bir. Ketika memutuskan pulang ke Indonesia, saya langsung menjumpainya. Bertukar pikiran sebentar dan segera menemukan ada irisan-irisan yang membuat saya merasa nyaman berbincang dengan dirinya.

Yosie sedang menempuh studi doktoral ilmu filsafat di Universitas Indonesia. Ia berupaya merevitalisasi filsafat nihilisme yang kepalang bablas dan jadi bulan-bulanan para pecinta kutipan buku dan tulisan penuh prasangka yang tidak ilmiah. Yang paling menarik dari Yosie menurutku adalah dua tulisannya yang merupakan ulasan terhadap buku Martin Suryajaya berjudul Materialisme Dialektis: Kajian tentang Marxisme dan Filsafat Kontemporer .

Buku Martin tersebut, adalah salah satu di antara sedikit karya yang saya sesali di kemudian hari karena membelinya dengan hanya bermodal rasa ingin tahu.

Pemikiran Otonomia, oleh banyak Marxis -atau mereka yang mendaku diri Marxis hanya karena menggunakan kaos palu arit atau bintang merah dan kepal tangan kiri- memang diliputi prasangka, tuduhan-tuduhan bahkan penghakiman yang jauh dari sikap ilmiah dan objektif yang diadvokasikan oleh Marx sendiri. Konsepsi, metodologi dan sejarah pemikiran Otonomia dipandang sebagai anak haram jadah, atau sekedar buah kenakalan remaja. Bagi para fundamentalis Marxisme, Otonomia -dan Operaismo, tidak jauh lebih haram dari pemikiran anarkisme, komunisme libertarian atau nihilisme individual.

Orang-orang ini bertingkah persis sama seperti kelompok Lutheran konservatif yang menjadi salah satu sebab muaknya saya dengan lembaga gereja.

Sebagian besar dari mereka tidak pernah membaca karya para pemikir Otonomia, karena kebenaran Marxisme menurut mereka telah mutlak ketika Tsar Rusia berhasil tumbang tahun 1917 oleh pemberontakan luas petani miskin, kelompok buruh, militer rendahan bergaji menyedihkan dan para pemuda penuh gelora. Itu kenapa, saya tidak kaget ketika umpatan-umpatan Martin tentang Otonomia -satu bab khusus dalam buku Materialisme Dialektis berisi makian-makian spekulatif untuk mengharamkan ide Otonomia- yang didasarkan pada spekulasi diamini banyak pembacanya. Gelombang kebangkitan gerakan pekerja di Italia, radikalisasi pelajar dan meluapnya diskursus tentang pengarusutamaan jender di periode 1970-an, disapu habis oleh khotbah seorang intelektual.

Banyak memang yang ahistoris. Sebagian lain, terlalu enggan untuk mencoba terbuka dan belajar mengenali.

Yang pertama kali disebut otonomis adalah para individu yang tergabung dalam gerakan Autonomia di Italia. Gerakan ini muncul dan mulai bergerak di periode -yang hari ini dikenal sebagai- Hot Autumn di tahun 1969. Ini adalah periode suram di mana penangkapan ekstrajudisial seramai pasar malam. Memasuki periode 1970-an, gerakan ini menyebar luas di Italia dan menjadi salah satu motor gerakan sosial yang menuntut perubahan secara menyeluruh.

Grup-grup otonomis tumbuh subur seperti jamur ajaib (magic mushroom) di atas kotoran sapi sesudah hujan reda.

Tiap-tiap orang menghimpun dirinya ke dalam berbagai afinitas dan asosiasi yang didasarkan pada kesamaan isu, tempat kerja, universitas, atau lingkungan tempat tinggal. Sementara itu, para pengusaha, birokrat dan partai Komunis Italia -seperti sebelumnya, justru mengambil posisi berseberangan.

Partai Komunis Italia, berkebalikan dengan klaim tugas sejarah yang menjadi pembelaan mereka terhadap sentralisme dan wabah birokratisme, adalah salah satu unsur yang berusaha keras merepresi dan menghentikan gerakan ini. Ini adalah masa di mana kepercayaan politik terhadap lembaga-lembaga kekuasaan dan model-model representasi mengalami degradasi. Orang-orang menolak mematuhi hukum negara dan memilih mengkreasikan kesepakatan-kesepakatan baru yang diambil dengan persetujuan dan keterlibatan banyak orang.

Gerakan Otonomia adalah inisiatif yang mulanya muncul di pabrik-pabrik di Italia Utara. Pada 1950—1960an, berbagai model protes pekerja hadir. Mencuri di tempat kerja, bekerja secara lambat, melakukan sabotase mesin, mogok-mogok kerja yang liar (wildcat strikes), hingga pendudukan dan pengambilalihan pabrik. Dinamika ini mendapatkan respon beragam dari para militan, yang kemudian mendorong terjadinya perkembangan-perkembangan teoritis. Analisa terhadap dinamika konflik dalam sistem kapitalisme, fungsi kerja, bentuk-bentuk kerja, komposisi kelas pekerja, hingga perluasan-perluasan konseptual mengenai bentuk-bentuk dan kemungkinan-kemungkinan alternatif untuk merealisasikan bentuk masyarakat yang berbeda.

Meskipun aksi-aksi langsung, pemogokan, squating massal, pertempuran jalanan, pendudukan universitas dan berbagai aksi radikal lainnya dilakukan dengan skala besar dan massif selama tahun 1970, gerakan di Italia tersebut terpecah-pecah. Salah satu faktor penyebabnya adalah serangan-serangan brutal, pemenjaraan dan pembunuhan para radikal yang dilakukan oleh polisi dan pemerintah yang saat itu dikontrol oleh partai Komunis. Di saat yang sama, respon terhadap menanjaknya eskalasi serangan dari negara, taktik terorisme revolusioner juga ikut berkembang sebagai cara untuk membalas dan mempertahankan diri dari gelombang represi.

Grup-grup teroris revolusioner -semisal Brigade Merah – melakukan aksi penculikan, dan pembunuhan terhadap tokoh-tokoh politik dan kepala pemerintahan. Ini adalah masa di mana terma gerilyawan kota kembali populer di tengah berbagai variasi gerakan sosial lain. Semisal eksisnya berbagai pertemuan-pertemuan besar yang mendorong tiap orang untuk terlibat sebagai ujicoba demokrasi. Atau bagaimana menjalankan universitas secara desentralis dan otonom tanpa intervensi dari kekuasaan negara.

Ini adalah masa di mana berbagai taktik yang mungkin diujicobakan, baik secara terbatas atau secara luas. Kritik dan diskusi dibangun dan ide dipertukarkan, praktik ditanggapi dan diperiksa kekurangannya. Mario Tronti, Bifo Berrardi, Paolo Virno, Sergio Bologna dan Antonio Negri -barisan teoris Otonomia- bukanlah intelektual belakang meja seperti tuduhan Martin. Tuduhan tersebut adalah bukti kemalasan paling banal Martin yang luar biasanya kemudian diterbitkan dalam bentuk buku dengan klaim Dialektika Materialisme. Berkebalikan dengan itu, tulisan-tulisan para teoritisi Otonomia didasarkan pada geliat praktik yang sedang atau telah diujicobakan. Mereka mengikuti jejak langkah Marx yang mensyaratkan pengamatan yang mendalam, akurasi data, penelaahan konsep dan metodeologi serta pemeriksaan basis filsafat. Praktik yang tanpa didahului justifikasi-justifikasi tanpa bukti -yang dilakukan Martin bukan hanya sekedar merendahkan kerja-kerja tekun yang revolusioner, namun meludahi klaim teoritik dirinya sendiri.

Otonomia memang unik.

Ia keluar dari posisi biner perdebatan anti-kapitalisme yang sebelumnya berputar di dua poros: Leninisme dan segala variannya di satu sisi, serta anarkisme. Ia menyerap berbagai keunggulan dari bermacam tendensi dan faksi anti kapitalisme yang terserak macam tai saat perutmu dihajar mencret.

Salah satu warisan gerakan Otonomia misalnya adalah elaborasi mengenai pekerja imaterial.

Saat itu teknologi baru hadir dan gelombang investasi besar-besaran perusahaan pada teknologi untuk mengurangi jumlah buruh manual. Hal ini tidak lain merupakan tanggapan (restrukturisasi kapitalisme) terhadap resistensi yang dilakukan oleh pekerja industri -seperti mogok kerja dan demo. Restrukturisasi kapitalisme mensyaratkan peningkatan kapasitas (intelektualisasi) kelompok pekerja. Efeknya adalah perubahan sosial ekonomi yang lebih luas, yang tidak hanya terjadi di dalam pabrik, tapi juga masyarakat secara luas. Jika dalam masyarakat industri, ekonomi barang adalah tulang punggung, pekerja tidak dibebani syarat kemampuan (skills) yang rumit dan beragam. Sementara dalam masyarakat pasca-industri, di mana ekonomi jasa menjadi tumpuan, maka pelayanan (service), informasi dan pengetahuan, menjadi prasyarat utama.

Singkatnya, jika pekerja material dalam masyarakat industri menghasilkan produk berupa barang, maka di masyarakat pasca-industri maka yang dihasilkan adalah pengetahuan, informasi, komunikasi dan relasi afektif -misal, senyum dan pelukan.

Mauricio Lazzarato mempertegas hal tersebut dengan mengatakan bahwa pekerja imaterial menghasilkan konten informasi dan kultural dari komoditas. Meskipun begitu, pekerja imaterial di masyarakat pasca-industri tetap mensyaratkan adanya kemampuan-kemampuan manual (dalam level yang lebih kompleks) semisal kemampuan mengoperasikan perangkat komputer, kemampuan menganalisa, kemampuan merumuskan solusi dan strategi, dan lain sebagainya. Ini mengapa pada hari-hari ini, produk yang dihasilkan oleh pekerja immaterial kemudian mendikte jenis kerja lainnya, termasuk kerja-kerja industri. Pekerja immaterial juga tidak terintegrasi secara langsung ke dalam proses kerja manual yang dikerjakan pekerja material di ranah industri. Namun mereka adalah orang yang bertanggung jawab atas proses reproduksi tenaga kerja melalui perekrutan, wawancara, pelatihan dasar, peningkatan kapasitas hingga solidaritas (afeksi).

Misal, kelompok masyarakat yang sangat tergantung kepada para pengacara ketika berhadapan dengan hukum yang reresif atau kelompok masyarakat ulayat yang mesti bersandar pada pengetahuan para fasilitator (mediator) konflik. Pekerja imaterial adalah mereka yang menghasilkan sesuatu yang tidak bisa dirasakan oleh panca indera, namun produk tersebut memiliki peran penting yang menentukan alur dari distribusi komoditas yang diproduksi industri dan pekerja material.

Peninggalan berharga lain dari gerakan Otonomia -yang di kemudian hari begitu membantu saat saya menuliskan tugas akhir studi di Thailand- adalah soal kapitalisme kognitif.

Untuk memahami kapitalisme kognitif, kita perlu menyadari bahwa dalam kapitalisme pasca-Fordisme, universitas sinonim dengan pabrik, tenaga administrasi dan para pengajar berperan sebagai buruh imaterial, dan pelajar adalah produk yang dihasilkan dari mata rantai produksi tersebut. Keberadaan universitas dan tenaga pengajar -yang merupakan agen dengan hubungan saling memengaruhi. Kebijakan kampus yang komersil, kehidupan akademik yang hirarkis dan eksploitatif, termasuk ketidakberdayaan pelajar dalam menghadapi represif kognitif dalam proses belajar. Produk-produk kebijakan institusi pendidikan tersebut adalah alat represi. Alat represi ini mendapatkan sokongan aktif melalui agen-agen ideologis -tenaga administrasi dan tenaga pengajar- yang tugasnya adalah memastikan pasifisme pelajar terus berlangsung dan semakin dalam.

Aturan tentang pemecatan pelajar (DO) di perguruan tinggi, beban studi yang menumpuk, jangka waktu belajar yang dibatasi, bersahutan dengan kurikulum yang feodal, pedagogi yang lumpuh serta rendahnya kualitas tenaga pengajar di institusi pendidikan. Masalah-masalah tersebut tidak muncul sebagai akibat yang berdiri sendiri, namun merupakan hasil langsung yang terhubung dengan perluasan dan percepatan transformasi perguruan tinggi sebagai pabrik penghasil tenaga kerja imaterial yang siap dilempar ke pasar.

Di Indonesia, gerakan pelajar masih terlalu dungu untuk memahami hal ini.

Mereka gagal mengidentifikasi bahwa medan pertarungan gerakan pelajar tidak terletak di luar institusi pendidikan, tetapi justru di dalam kampus. Meninggalkan kampus justru merupakan bentuk impotensi dan kecacatan filosofis yang fundamental. Kebodohan massal ini ironisnya dilabeli dengan heroik (bunuh diri kelas, turun basis, dan segala macam tetek bengek lain). Semua itu bertujuan untuk menutupi logika jungkir balik di tengah serikat-serikat pelajar saat memandang dirinya. Berubahnya kampus menjadi tukang stempel bagi praktik-praktik eksploitasi sumber daya alam dan manusia, adalah bukti kegagalan advokasi gerakan pelajar. Banyak aktivis pelajar yang berupaya mengingkari bahwa perguruan tinggi adalah bentuk inisiasi yang dilakukan oleh negara dan kapitalisme agar seseorang siap menjadi pekerja yang patuh, interupsi justru mesti dilakukan dan berawal dari ruang-ruang di mana, pelajar adalah bagian integral di dalamnya.

Saya menulis kritik yang cukup keras soal ini. Tapi, angin berhembus ke utara terlalu kencang.

* * *

“Saya masih punya satu kali lagi diskusi dengan kalian. Mungkin itu bisa jadi kesempatan untuk menjelaskan lebih dalam dan detil soal pertanyaan yang kamu ajukan. Forum macam ini memang bukan tempat yang tepat. Saya sekedar memberi pengantar saja hari ini.”

Saya mengangguk. Tersenyum. “Tak usah dipikirkan. Suatu saat akan ada kesempatan.”

“Ya benar. Saya ingin datang ke Indonesia lain kali. Mungkin liburan. Atau kau bisa mengundang saya ke sini.”

Aku tertawa kecil.

Ia menatapku heran. “Kenapa?”

“Saya bukan bagian dari dunia akademik di negeri ini. Saya orang luar.”

Musto masih menatap saya lekat. Ia mungkin belum mengerti.

“Saya bukan pengajar atau peneliti di lembaga pemerintah atau universitas. Saya bekerja di sebuah NGO. Sulit bagi saya untuk bikin acara seminar macam ini.”

“Oh, saya paham.” Jari telunjuknya bergerak mendorong sanggahan kacamata yang mulai melorot di hidungnya. Terlalu sering membungkuk, mungkin. “Tapi kamu bisa memprovokasi orang lain untuk melakukan itu.” Kali ini Musto bertanya dengan senyum yang juga tampak provokatif buatku.

“Ah, kau ini. Nanti saja. Tidak ada yang tahu masa depan.” Aku menjawab sembari membuang puntung kretek yang sudah tandas.

“Jangan lupa. Bisa tahun depan, atau akhir tahun depan. Saya bisa luangkan waktu.” Nada bicaranya serius.

Aku hanya mengangkat bahu.

“Oh iya. Juga kurangi merokok.”

Aku mendongak dan menatap matanya. “Aku tidak merokok. Aku menghisap kretek.”

Categories
Past talks

Contemporary Revival of Marxism around the World

Categories
Journal Articles

Bangkit dan jatuhnya Asosiasi Kelas Pekerja Internasional

Tahap-tahap pembukaan
Pada 28 September 1864, St. Martin’s Hall yang terletak di jantung kota London penuh sesak oleh hadirnya sekitar dua ribu pekerja. [1] Mereka datang untuk menghadiri sebuah pertemuan atas undangan dari para pemimpin serikat buruh Inggris dan sebuah kelompok kecil buruh dari benua Eropa. Sebuah pernyataan bertajuk Address of English to French Workmen menyatakan:

Sebuah persaudaraan rakyat sungguh sangat dibutuhkan oleh buruh, karena kami temukan bahwa kapanpun kita berusaha untuk memperbaiki kondisi sosial kita melalui pengurangan jam kerja yang sangat berat, atau melalui peningkatan upah buruh, majikan kita selalu mengancam kita dengan membawa lebih banyak orang Prancis, Belgia, dan lain-lain untuk mengerjakan pekerjaan kita agar bisa mengurangi tingkat upah; dan kami menyesal bahwa ini telah terjadi, walaupun ini bukan keinginan dari saudara-saudara kami tersebut untuk menyakiti kita, tapi karena kekuarangan komu. Tujuan kita adalah menaikkan tingkat upah yang sangat rendah sedekat mungkin dengan mereka yang memperoleh bayaran lebih baik. Dan tidak mengijinkan majikan kita untuk memecah belah sesama kita, dan membuat kita terpuruk pada kondisi yang paling rendah, yang membuat mereka seenaknya memaksakan agenda-agendanya untuk memuaskan rasa tamaknya. [2]

Para organiser pertemuan ini tidak membayangkan – tidak juga meramalkan – apa yang akan segera terjadi selanjutnya. Gagasan mereka adalah ingin membangun sebuah forum internasional dimana masalah-masalah yang berdampak pada buruh bisa dibahas dan didiskusikan. Tetapi, ini tidak termasuk kehendak untuk mendirikan sebuah organisasi yang bisa mengoordinasikan serikat buruh dan tindakan politik kelas pekerja. Dalam realitasnya, pertemuan itu melahirkan sebuah contoh bagi seluruh organisasi gerakan buruh, dimana baik yang reformis maupun revolusioner kemudian menjadikannya sebagai bahan referensi: Asosiasi Kelas Pekerja Internasional (the International Working Men’s Association). [3]

Dengan segera muncul gairah di seluruh Eropa. Muncul solidaritas kelas untuk membagi gagasan secara bersama dan menginspirasi sejumlah besar laki-laki dan perempuan untuk berjuang bagi tujuan-tujuan yang paling radikal: mengubah dunia. Jadi, dalam kesempatan Kongres Ketiga Internasional yang diselenggarakan di Brussel pada 1886, penulis The Times secara akurat mengidentifikasi cakupan dari proyek tersebut:

“Ini bukanlah … sekadar merenungkan adanya perbaikan, tapi lebih dari itu sebuah regenerasi, dan bukan hanya terbatas pada satu bangsa, tapi mencakup seluruh umat manusia. Hal ini tentunya merupakan sasaran paling luas yang pernah digagas lembaga manapun, kemungkinan dengan pengecualian Gereja Kristen. Singkatnya, ini adalah program dari Asosiasi Pekerja Internasional.”[4]

Berkat Internasional, gerakan buruh pada akhirnya memperoleh pemahaman tentang mekanisme corak produksi kapitalis, menjadi lebih sadar akan kekuatannya, dan mampu membangun bentuk-bentuk perjuangan baru dan lebih maju. Gaung organisasi jauh melampaui batas-batas Eropa, di antara para pengrajin tangan di Buenos Aires, asosiasi-asosiasi buruh awal di Kalkuta, dan bahkan pada kelompok-kelompok di Australia dan Selandia Baru melamar untuk bergabung ke dalam Internasional.

Orang yang Tepat Di Tempat yang Tepat
Organisasi-organisasi buruh yang didirikan Internasional terdiri dari berbagai macam bentuk. Kekuatan penggerak utama adalah serikat buruh Inggris, yang para pemimpinnya sangat tertarik dengan persoalan-persoalan ekonomi; mereka bertarung untuk meningkatkan kondisi-kondisi buruh, tanpa mempersoalkan kapitalisme. Dengan demikian mereka memandang Internasional sebagai alat yang mungkin bisa mencegah terjadinya impor tenaga kerja dari luar negeri di saat mereka melakukan pemogokan.

Kemudian adalah kalangan Mutualis yang sangat lama mendominasi Prancis, tapi juga kuat di Belgia dan Swiss yang berbahasa Prancis. Dengan mempertahankan teori Pierre-Joseph Proudhon, mereka menentang segala keterlibatan kelas pekerja dalam politik dan menjadikan pemogokan sebagai senjata, sekaligus memegang posisi konservatif tentang emansipasi perempuan. Pembelaan terhadap sistem koperasi bersamaan dengan garis federalis, mereka mempertahankan keyakinan bahwa adalah mungkin mengubah kapitalisme melalui akses sama terhadap kredit. Dengan demikian, pada akhirnya, bisa dikatakan bahwa mereka kelompok sayap kanan di dalam Internasional.

Di samping kedua komponen itu, yang merupakan mayoritas, terdapat juga kelompok-kelompok lain. Kelompok ketiga yang terpenting adalah kaum Komunis. Mengelompok pada Karl Marx dan aktif dalam kelompok-kelompok kecil dengan pengaruh yang terbatas, mereka mengambil posisi antikapitalis: menentang sistem produksi yang ada dan mendukung keharusan tindakan politik untuk menghancurkan sistem itu.

Pada saat ketika Internasional didirikan, anggota-anggota dari Internasional juga meliputi elemen-elemen demokratik yang kabur, yang tidak ada hubungannya dengan tradisi sosialis. Ini ditambah pelik oleh fakta bahwa beberapa buruh yang bergabung dalam Internasional membawa beragam teori yang membingungkan, sebagian terinspirasi pada gagasan utopian; sementara partai yang dipimpin oleh para pengikut Ferdinand Lassalle, yang tidak pernah berafiliasi dengan Internasional tapi ada dalam orbitnya – memusuhi serikat buruh dan memandang tindakan politik secara kaku dalam pengertian nasional.

Mengamankan kebersamaan dari seluruh arus ini dalam satu organisasi, di seputar program yang amat jauh dari pendekatan awal masing-masing kelompok, merupakan pencapaian terbesar Marx. Kecerdasan politiknya membuatnya sanggup merekonsiliasikan sesuatu yang tampaknya mustahil terjadi, memastikan Internasional tidak secara tergesa-gesa mengikuti jalan buntu dari banyak asosiasi-asosiasi buruh yang telah ada sebelumnya. [5] Adalah Marx yang memberikan tujuan jelas kepada Internasional, dan Marx juga yang mencapai pendekatan non-eksklusif, namun tegas berbasiskan kelas, memenangkan program politik yang berkarakter massa, yang melampaui seluruh sektarianisme. Jiwa politik dari Dewan Umum selalu adalah Marx: ia yang membuat rancangan dari seluruh resolusi-resolusi utama dan mempersiapkan sebagian besar dari laporan-laporan konrgres. Dia adalah ‘orang yang tepat di tempat yang tepat’, ujar pemimpin buruh Jerman Johan Georg Eccarius. [6]

Bertentangan dengan penggambaran Marx sebagai pendiri Internasional, ia tidak termasuk salah satu di antara para organiser dalam pertemuan di St. Martin’s Hall, dan bahkan bukan seorang peserta pembicara. [7] Benar bahwa ia kemudian segera mengerti akan potensi dari pertemuan tersebut dan bekerja keras untuk memastikan bahwa organisasi baru ini harus sukses mewujudkan misinya. Berkat nama besarnya, paling tidak dalam lingkaran yang ketat, ia kemudian ditunjuk sebagai komite tetap (standing committee), [8] dimana ia dengan cepat memperoleh kepercayaan untuk diberikan tugas menulis Pidato Pelantikan(Inaugural Address) dan Anggaran Dasar Sementara Internasional (Provisional Statutes of the International). Dalam dua teks fundamental ini, sebagaimana yang diikuti banyak orang, Marx merangkai gagasan-gagasan terbaik dari berbagai kompomen Internasional. Dia memastikan bahwa antara perjuangan ekonomi dan perjuangan politik terhubung satu sama lain, dan menjadikan pemikiran internasional dan aksi internasional sebagai pilihan yang tak dapat diubah.

Selain keberhasilan ini, sumbangan terbesar Marx adalah kemampuannya dalam membuat Internasional berfungsi sebagai sintesa atas berbagai keragaman politik, menyatukan konteks keragaman nasional ke dalam sebuah proyek perjuangan bersama. Mengelola kesatuan ini, saat itu, sungguh meletihkan, khususnya karena posisi antikapitalis Marx tak pernah dominan dalam organisasi. Namun demikian, dari waktu ke waktu, khususnya melalui keuletannya, atau melalui perpecahan yang kadang terjadi, pemikiran Marx kemudian menjadi doktrin yang hegemonik.

Karakter dari mobilisasi buruh, tantangan anti-sistemik dari Komune Paris, tugas yang belum pernah terjadi sebelumnya yang harus diemban bersamaan dengan organisasi yang besar dan kompleks, polemik berkelanjutan dengan tendensi-tendensi lain dalam gerakan buruh tentang berbagai isu teoritik dan politik: kesemuanya ini mendorong Marx melampaui batas-batas ekonomi politik semata, yang menyerap begitu banyak perhatiannya sejak kekalahan revolusi 1848 dan surutnya sebagian besar kekuatan progresif. Dia juga merangsang untuk mengembangkan dan kadang-kadang merevisi gagasannya, menempatkan keyakinan-keyakinan lama untuk didiskusikan dan mempertanyakan hal-hal baru pada dirinya, dan secara khusus untuk mempertajam kritiknya atas kapitalisme melalui penggambaran luas garis besar-garis besar masyarakat komunis. Pandangan ortodoks Soviet dalam melihat peran Marx dalam Internasional, bahwa ia secara mekanistis menerapkannya ke dalam tahap-tahap sejarah teori politik yang terbatas pada bidang studinya, dengan demikian secara keseluruhan telah memisahkannya dari kenyataan.

Keanggotaan dan Struktur
Selama masa hidupnya, Internasional digambarkan sebagai organisasi yang besar dan sangat kuat. Dari segi keanggotaan selalu dibesar-besarkan. Jaksa penuntut umum yang mendakwa beberapa pemimpin Internasional Prancis pada Juni 1870 menyatakan bahwa organisasi ini memiliki lebih dari 800.000 anggota di Eropa;[9] setahun kemudian, setelah kekalahan Komune Paris, The Times menulis total ada 2,5 juta anggota Internasional. [10] Dalam kenyataannya, jumlah keanggotaan Internasional jauh lebih kecil. Selalu sulit untuk memperkirakan berapa sesungguhnya jumlah anggotanya, bahkan bagi para pemimpinnya sendiri dan mereka yang melakukan studi dari dekat. Tetapi penelitian terbaru mengemukakan hipotesisnya bahwa pada puncak perkembangan Internasional pada periode 1871-72, keanggotaannya mungkin lebih dari 150,000 tapi tidak lebih.

Pada masa-masa itu, ketika terjadi kelangkaan organisasi kelas pekerja yang efektif, selain dari serikat buruh Inggris dan Asosiasi Umum Buruh Jerman (General Association of German Workers), jumlah sebanyak itu cukup besar. Juga harus diingat, dengan seluruh eksistensinya, Internasional diakui sebagai organisasi legal hanya di Inggris, Swiss, Belgia, dan Amerika Serikat. Di negara-negara lain, keberaadaannya paling baik secara hukum tidak diakui dan para anggotanya menjadi subjek yang teraniaya. Di sisi lain, Asosiasi memiliki kapasitas yang luar biasa dalam menggalang berbagai komponen tersebut ke dalam kesatuan yang padu. Dalam dua tahun setelah pendiriannya, Internasional sukses menyatukan ratusan kelompok buruh; setelah 1868, kelompok-kelompok baru terbentuk di Spanyol, dan menyusul Komune Paris juga terbentuk di Italia, Belanda, Denmark, dan Portugal. Perkembangan Internasional pasti berlangsung tidak seimbang ( uneven), namun demikian perasaan memiliki yang kuat dimiliki oleh mereka yang telah bergabung dengannya. Mereka mempertahankan rantai solidaritas kelas dan memberikan respon terbaik yang bisa mereka lakukan untuk ajakan pawai, meneriakkan kata-kata seperti yang tertera dalam poster atau membentangkan bendera merah perjuangan, demi kelangsungan organisasi yang mereka butuhkan itu. [11]

Namun demikian, anggota Internasional hanya terdiri dari sebagian kecil dari total angkatan kerja. Di Inggris, dengan pengecualian pabrik baja, Internasional selalu jarang tampil di antara proletariat industrial. [12] Mayoritas anggotanya berasal dari tukang jahit, pengrajin sepatu, buruh konveksi, dan tukang kayu – yakni, dari sektor-sektor kelas pekerja yang paling terorganisir dan paling sadar kelas. Tak dimana pun buruh pabrik menjadi mayoritas, paling tidak setelah perluasan organisasi di Eropa Selatan. Pembatas terbesar lainnya adalah kegagalan merangkul buruh tidak terampil (unskilled labour), [13] meskipun upaya ke arah sana sudah dilakukan menjelang kongres pertama. DokumenInstructions for Delegates of the Provisional General Council jelas mengemukakan hal ini: “Mempertimbangkan sendiri dan bertindak sebagai pembela dan perwakilan dari seluruh kelas pekerja, (serikat) tak boleh gagal dalam menarik orang-orang di luar mereka ke dalam barisan mereka.”[14]

Dalam salah satu dokumen kunci organisasi-politik Internasional, Marx meringkas fungsi-fungsi organisasi sebagai berikut: “merupakan urusan Asosiasi Pekerja Internasional untuk menggabungkan dan menyelaraskan gerakan spontan kelas pekerja, tetapi tidak mendikte atau memaksakan doktrin dari sistem apapun.” [15] Dengan demikian, di samping mempertimbangkan jaminan otonomi kepada federasi dan seksi-seksi lokal, Internasional selalu mempertahankan inti kepemimpinan politik. Dewan Umum adalah badan yang sukses menyatu-padukan berbagai tendensi dan memberikan petunjuk-petunjuk kepada organisasi secara keseluruhan. Dari Oktober 1864 sampai Agustus 1872, dilakukan pertemuan-pertemuan besar secara rutin sebanyak 385 kali, memperdebatkan isu-isu yang sangat luas: kondisi-kondisi pekerja; dampak-dampak dari mesin baru; dukungan untuk pemogokan, peran dan pentingnya serikat buruh, masalah Irlandia, hal-hal yang berkaitan dengan beragam kebijakan internasional, dan merancang dokumen-dokumen Internasional. [16]

Formasi Internasional
Inggris adalah negara pertama yang melamar untuk bergabung ke dalam Internasional; 4.000 anggota Operative Society of Bricklayers menyatakan berafiliasi pada Februari 1865, yang kemudian segera diikuti oleh asosiasi-asosiasi buruh konstruksi dan pembuat sepatu. Pada tahun pertama keberadaannya, Dewan Umum mulai melakukan aktivitas seriusnya untuk menerbitkan prinsip-prinsip Asosiasi. Ini membantu untuk memperluas horizon Asosiasi melampaui masalah-masalah ekonomi, sebagaimana yang kita lihat dari fakta bahwa di antara organisasi-organisasi yang bergabung ke dalam Liga Pembaruan (Reform League) berorientasi elektoral yang didirikan pada Februari 1865.

Di Prancis, Internasional mulai dibentuk pada Januari 1865, ketika seksi pertama didirikan di Paris. Tetapi harus diingat bahwa kekuatannya sangat terbatas, pengaruh ideologinya sangat kecil, dan bahkan tidak sanggup mendirikan sebuah federasi nasional. Namun demikian, para pendukung Internasional di Prancis, yang sebagian besar adalah pengikut teori mutualis Proudhon, membentuk kelompok mereka sendiri sebagai kelompok terbesar kedua pada konferensi pertama Internasional.

Pada tahun setelahnya, Internasional terus memperluas dirinya di Eropa dan mendirikan inti pertamanya di Belgia dan Swiss berbahasa Prancis. Namun, berdasarkan Prussian Combination Laws, Internasional tidak bisa membuka seksi dalam apa yang kemudian disebut Konfederasi Jerman. 5.000 anggota Asosiasi Umum Pekerja Jerman, partai buruh pertama dalam sejarah – mengikuti sebuah garis yang mendua, di satu sisi melakukan dialog dengan Otto von Bismarck dan menunjukkan sedikit atau bahkan tidak memiliki ketertarikan pada Internasional selama tahun-tahun awal keberadaannya. Ini berbeda dengan Wilhelm Liebknecht, di samping kedekatan politiknya dengan Marx.

Aktivitas Dewan Umum di London sangat menentukan dalam penguatan Internasional lebih lanjut. Pada musim semi 1866, dengan dukungannya pada pemogokan London Amalgamated Tailors, Internasional memainkan peran aktif bagi perjuangan buruh untuk pertama kalinya, dan menyusul suksesnya pemogokan lima kelompok buruh tukang jahit, yang masing-masing terdiri dari 500 buruh, yang kemudian memutuskan bergabung dengan Internasional. Melalui kerja-kerja sederhananya itu, Internasional menjadi asosiasi pertama yang sukses besar dalam merekrut organisasi-organisasi buruh ke dalam barisannya.[17]

Pada September 1866, kota Jenewa menjadi tuan rumah kongres pertama Internasional, yang terdiri dari 60 delegasi dari Inggris, Prancis, Jerman dan Swiss. Pada saat itu, Asosiasi sukses mencapai keseimbangan yang baik sejak dua tahun pendiriannya, dari spanduk-spanduk yang terbentang dalam pawai yang dilakukan oleh lebih dari seratus serikat buruh dan organisasi-organisasi politik. Mereka yang terlibat dalam kongres secara mendasar terbelah dalam dua blok. Blok pertama terdiri atas delegasi dari Inggris, sedikit dari Jerman dan mayoritas dari Swiss, yang diikuti oleh Dewan Umum yang petunjuknya diberikan oleh Marx (yang tidak hadir di Jenewa). Blok kedua terdiri dari delegasi Prancis dan beberapa dari Swiss berbahasa Prancis, yang dibentuk oleh kelompok mutualis. Ketika itu, dalam kenyataannya, posisi moderat merupakan hal yang lazim dalam Internasional.

Mendasarkan diri mereka sendiri pada resolusi-resolusi yang disiapkan Marx, para pemimpin Dewan Umum sukses dalam meminggirkan kelompok mutualis dalam kongres, dan memperoleh suara berkaitan dengan dukungan bagi campur tangan negara. Pada isu selanjutnya. Marx mengemukakan hal ini dengan sangat jelas:

Dalam menegakkan undang-undang tersebut (reformasi sosial), kelas pekerja tidak melindungi kekuasaan pemerintah. Sebaliknya, mereka mentransformasikan kekuasaan tersebut, sekarang digunakan untuk melawan pemerintah, menjadi agen untuk kepentingan mereka sendiri. [18]
Dengan demikian, jauh dari memperkuat masyararakat borjuis (sebagaimana keyakinan Proudhon), tuntutan reformis ini merupakan titik berangkat yang tak terelakkan dari emansipasi kelas pekerja.

Lebih jauh “instruksi” yang ditulis Marx untuk kongres Jenewa menggarisbawahi fungsi dasar serikat buruh, melawan tidak hanya mutualis tapi posisi yang diambil kelompok lain:
Aktivitas serikat-serikat buruh ini tidak hanya absah, juga dibutuhkan. Ia tidak bisa ditiadakan sejauh sistem yang ada sekarang tetap eksis…. Di lain pihak, tanpa mereka sadari, serikat-serikat buruh membentuk pusat-pusat organisasi dari kelas pekerja seperti yang dibuat komunitas-komunitas abad pertengahan dan komune-komune bagi kelas menengah. Jika serikat-serikat buruh diminta untuk perang gerilya antara kapital dan buruh, mereka tetap sangat penting sebagai agensi-agensi organisasi untuk menggantikan sistem buruh upahan dan kekuasaan kapital.

Dalam dokumen yang sama, Marx tidak segan-segan mengritik serikat-serikat yang ada. Sebab mereka…

terlalu eksklusif tunduk pada perjuangan-perjuangan lokal dan mendesak dengan kapital (dan tidak) memiliki pengetahuan yang menyeluruh tentang kekuasaan mereka dalam bertindak melawan sistem perbudakan upah itu sendiri. Oleh karena itu mereka terlalu jauh dari gerakan-gerakan sosial dan politik pada umumnya. [19]

Bertambah Kuat
Dari akhir 1866, pemogokan-pemogokan berlangsung semakin intensif di banyak negara Eropa. Diorganisasikan oleh massa luas kaum buruh, mereka membantu menumbuhkan kepedulian atas kondisi-kondisinya dan membentuk inti sebuah gelombang perjuangan yang baru dan sangat penting.

Walaupun beberapa pemerintahan saat itu menyalahkan Internasional atas terjadinya pemberontakan, kebanyakan buruh yang ditanya mengaku tidak tahu keberadaan Internasional; akar penyebab dari protes-protes mereka karena kondisi kerja yang sangat buruk dan kondisi kehidupan yang dideritanya. Namun demikian, mobilisasi tersebut mengantarkan mereka ke dalam sebuah periode kontak dan koordinasi dengan Internasional, yang mendukung mereka dengan deklarasi dan menyerukan adanya solidaritas, pengumpulan dana untuk pemogokan, dan membantu upaya-upaya perlawanan dari para bos yang melemahkan perlawanan kaum buruh.

Karena peran politiknya dalam periode ini, kaum buruh kemudian mulai mengakui Internasional sebagai sebuah organisasi yang membela kepentingan mereka, dan dalam beberapa kasus, meminta untuk berafiliasi dengannya. [20] Kaum buruh di beberapa negara menggalang dana untuk mendukung pemogokan-pemogokan dan setuju untuk tidak menerima pekerjaan yang akan membuat mereka menjadi tentara industrial bayaran, sehingga para bos kemudian dipaksa untuk berkompromi dengan banyaknya tuntutan para pemogok. Di kota-kota yang menjadi pusat aksi-aksi pemogokan itu, ratusan anggota baru berhasil direkrut ke dalam Internasional. Sebagaimana yang kemudian tercantum dalam laporan hasil pengamatan Dewan Umum: “Bukanlah Asosiasi Pekerja Internasional yang mendesak rakyat ke dalam pemogokan-pemogokan, tetapi pemogokan-pemogokan itulah yang memaksa kaum buruh menjadi bagian dari Asosiasi Pekerja Internasional.[21] Dengan demikian, terhadap seluruh kesulitan-kesulitan yang berkaitan dengan perbedaan kebangsaan, bahasa dan budaya politik, Internasional berhasil menunjukkan kebutuhan absolut akan solidaritas kelas dan kerjasama internasional, bergerak dengan pasti melampaui karakter terbatas dari strategi-strategi dan tujuan-tujuan semula.

Dari tahun 1867 dan selanjutnya, diperkuat oleh kesuksesan mencapai tujuan-tujuan tersebut, melalui peningkatan keanggotaan dan organisasi yang lebih eifisien, Internasional mencapai kemajuan di seluruh benua Eropa. Itu merupakan tahun terobosan di Prancis khususnya, dimana pemogokan buruh perak (bronze workers’) memiliki dampak (walau tidak langsung) yang sama dengan pemogokan para tukang jahit di London. Internasional kini telah memiliki 25 seksi hanya di Jenewa saja.

Tetapi Inggris tetap merupakan negara dimana Internasional memiliki keanggotaan terbesar. Dalam kurun waktu 1867, dari belasan organisasi yang berafiliasi jumlah keanggotaan mencapai 50.000. [22] Tidak ada tempat lain dimana keanggotaan Internasional mencapai jumlah sebanyak itu. Namun, sebaliknya dalam periode 1864-67, tahun-tahun setelahnya di Inggris ditandai oleh stagnasi. Terdapat beberapa alasan untuk ini, tapi yang terutama adalah Internasional gagal menembus ke dalam pabrik industri atau buruh tidak terampil (unskilled labour).

Menguatnya pelembagaan gerakan buruh lebih jauh menyumbang pada penurunan dalam kehidupan Internasional. Undang-undang Reformasi ( Reform Act) yang merupakan hasil dari pertempuran pertama digabung dengan Liga Reformasi (Reform League), memperluas hak pilih ke lebih dari satu juta buruh Inggris. Produk selanjutnya dari legalisasi serikat buruh, yang mengakhiri resiko penganiayaan dan penindasan, mengijinkan kekuatan buruh (four estate) untuk hadir secara nyata dalam masyarakat. Hasilnya, penguasa-penguasa pragmatis di seluruh negeri terus bertahan dalam kekuasaannya berbarengan dengan jalan reformasi, dan di kalangan kelas pekerja, tidak seperti karibnya di Prancis, tumbuh rasa memiliki yang kuat akan harapan bagi masa depan melalui perubahan yang damai. [23]

Tentu saja situasi di Eropa lainnya sangat berbeda. Dalam Konfederasi Jerman, kemampuan tawar-menawar kolektif buruh hampir tidak ada. Di Belgia, pemogokan tetap direpresi oleh pemerintah mirip seperti mereka sedang dalam berperang, sementara di Swiss, keberadaan serikat buruh seperti sebuah anomali, yang sulit ditoleransi oleh tatanan yang mapan. Di Prancis, pemogokan dilegalkan pada 1864, namun serikat buruh pertama tetap beroperasi di bawah pengawasan yang sangat ketat.

Inilah latar belakang dari kongress 1867, dimana Internasional berkumpul dengan kekuatan baru berdasarkan atas perluasan keanggotaan. Marx sedang sibuk mempersiapkan penerbitan Capital dan harus absen dari Dewan Umum ketika dokumen-dokumen persiapan (preparatory documents) disusun bersamaan dengan konferensi itu sendiri. [24] Dampaknya begitu sangat terasa, sebagaimana terbukti dalam fokus kongres lebih pada laporan-laporan mentah mengenai pertumbuhan organisasi di berbagai negara dan tentang tema-tema Proudhonian yang dengan kuat diwakili oleh kelompok mutualis.

Yang juga didiskusikan adalah persoalan perang dan militerisme, dimana perwakilan dari Belgia, César De Paepe memformulasikan apa yang kemudian menjadi posisi klasik dari gerakan buruh: “sejauh tetap ada apa yang kita sebut sebagai prinsip-prinsip kebangsaan … sejauh itu terdapat perbedaan kelas-kelas, maka perang akan terjadi… penyebab sebenarnya dari perang adalah karena kepentingannya beberapa kapitalis.” [25] Sebagai tambahan, kongres juga mendiskusikan pembebasan perempuan, [26] dan akhirnya kongres memutuskan mendukung laporan yang menyatakan bahwa “usaha-usaha seluruh bangsa harus menuju pada kepemilikan negara atas alat-alat transportasi dan sirkulasi.”[27] Ini adalah deklarasi kolektivis pertama yang disetujui di kongres Internasional.

Kekalahan Mutualis
Sejak hari-hari pertama Internasional, gagasan-gagasan Proudhon sangat hegemonik di kalangan Eropa berbahasa Prancis. Selama empat tahun, kalangan mutualis merupakan sayap yang sangat moderat dalam Internasional. Serikat-serikat buruh Inggris yang merupakan mayoritas, tidak menganut paham Marx yang anti kapitalisme, tetapi mereka juga tidak berada dalam jajaran yang sama terkait dengan kebijakan-kebijakan organisasi yang coba diberlakukan oleh pengikut-pengikut Proudhon.

Marx tanpa keraguan memainkan peran kunci dalam perjuangan panjang untuk mengurangi pengaruh Proudhon dalam Internasional. Gagasan-gagasannya sangat fundamental bagi perkembangan teori para pemimpinnya, dan ia menunjukkan kapasitas yang menakjubkan untuk meyakinkan mereka dengan memenangkan seluruh konflik besar di dalam organisasi. Namun demikian, para buruh sendiri telah memilih doktrin Proudhonian; di atas semuanya seluruh perkembang-biakkan dari pemogokan-pemogokan makin meyakinkan para mutualis akan kesalahan konsepsi-konsepsi mereka. Dan adalah gerakan buruh itu sendiri yang menunjukkan, dalam oposisinya terhadap Proudhon, mengenai ketidakmungkinan untuk memisahkan masalah-masalah sosial-ekonomi dari masalah politik.[28]

Kongres Brussel tahun 1868 pada akhirnya mengikis sayap pengaruh mutualis. Poin terbesarnya muncul ketika dewan menyetujui proposal De Paepe’s mengenai sosialisasi alat-alat produksi – sebuah langkah maju yang menentukan dalam mendefinisikan basis ekonomi dari sosialisme, tidak lagi sekadar dalam tulisan-tulisan terpisah para intelektual tetapi sebagai program dari sebuah organisasi transnasional yang besar. Berkaitan dengan pertanian, pertambangan dan transportasi, kongres menyatakan kebutuhan untuk konversi lahan ke dalam “kepemilikan bersama dari masyarakat,” bahkan mengamati kehancuran lingkungan sebagai dampak dari kepemilikan privat atas hutan-hutan.[29] Ini adalah titik penting bagi kemenangan Dewan Umum dan kemunculan pertama kalinya prinsip-prinsip sosialis dalam program politik sebuah organisasi buruh yang besar.

Jika balikan kolektivis dari Internasional dimulai pada Kongres Brussel, maka Kongres Basel yang dilakukan setahun kemudian yang mengonsolidasikan dan menghapus aliran Proudhon, bahkan di tanah kelahirannya, Prancis. Sebelas dari delegasi Prancis bahkan menyetujui teks baru yang menyatakan “bahwa masyarakat memiliki hak untuk menghancurkan kepemilikan individual atas tanah dan membuatnya menjadi bagian dari komunitas.” [30] 78 delegasi yang terdiri tidak hanya dari Prancis, Swiss, Jerman, Inggris dan Belgia, tapi juga dari Spanyol, Italia, dan Austria, ditambah Serikat Buruh Nasional (National Labor Union) Amerika Serikat, membubuhkan tanda tangannya pada naskah tersebut. Wilayah pemilih asosiasi juga semakin membesar, dan catatan mengenai langkah-langkah, termasuk juga laporan-laporan umum mengenai aktivitas kongres, telah menularkan antusiasme kepada para buruh yang hadir dalam ajang itu.

Kongres Basel juga menarik karena Mikhail Bakunin ambil bagian dalam aktivitas-aktivitas tersebut sebagai delegasi. Ketika organisasinya International Alliance for Socialist Democracy melamar untuk bergabung ke dalam Internasional, Dewan Umum pada awalnya menolak permintaan tersebut, dengan dasar bahwa mereka tetap mempertahankan afiliasinya dengan kelompok lain, yang memiliki struktur transnasional yang parallel, dan salah satu tujuannya adalah – “menyamakan kelas-kelas” [31] – sesuatu yang secara radikal berbeda dengan pilar penting dari Internasional, penghapusan kelas-kelas. Namun demikian, segera sesudahnya, Aliansi memodifikasi programnya dan setuju untuk menyelesaikan seksi-seksi jaringannya; 104-anggota seksi Jenewa menyatakan mengakui keberadaan Internasional.

Marx cukup mengenal Bakunin, tetapi meremehkan konsekuensi atas langkah ini. Pengaruh dari revolusioner Rusia yang terkenal ini dengan cepat meningkat dalam jumlah di seksi Swiss, Spanyol, dan Prancis (sebagaimana terjadi di Italia segera setelah Komune Paris), dan sebagaimana terjadi di Basel, ia berhasil memengaruhi hasil-hasil musyawarah. Keputusan tentang hak waris, misalnya, adalah kejadian pertama dimana delegasi menolak proposal Dewan Umum. Setelah akhirnya berhasil mengalahkan kelompok mutualis dan meletakkan hantu Proudhon pada peristirahatannya, Marx kini harus berkonfrontasi dengan rival yang lebih berat, yakni orang yang membentuk tendensi baru – kolektif anarkisme – dan tampak bisa memenangkan kontrol atas organisasi.

Sebelum Komune Paris
Akhir 60-an dan awal 70-an merupakan periode yang sarat dengan konflik sosial. Banyak buruh yang mengambil bagian dalam aksi-aksi protes memutuskan untuk membangun kontak dengan Internasional. Ketika 8.000 penenun pita dan pencelup sutra di Basel meminta dukungan, Dewan Umum tak sanggup mengirim bantuan lebih dari empat pounds dari dananya. Tapi kabar ini langsung menyebar yang kemudian berhasil mengumpulkan £300 dari kelompok-kelompok buruh di berbagai negara. Bahkan yang lebih siginifikan adalah perjuangan buruh di Newcastle untuk mengurangi jam kerja menjadi 9 jam, ketika dua utusan Dewan Umum memainkan peran kunci dalam memblokade para bos yang berusaha memasukkan pekerja bayaran yang didatangkan dari tempat lain. Kesuksesan pemogokan ini menjadi isu kontroversial ( cause célèbre), menjadi peringatan buat kapitalis-kapitalis Inggris, yang sejak saat itu menyerah untuk merekrut buruh dari tempat-tempat lainnya.[32]

Tahun 1869 menjadi saksi perluasan signifikan dari Internasional di seluruh Eropa. Namun demikian, Inggris adalah pengecualian dalam hal ini. Sementara para pemimpin buruh didukung penuh oleh Marx untuk melawan kaum mutualis, mereka memiliki waktu yang sangat terbatas dalam isu-isu teoritik [33] dan tidak sepenuhnya tertarik dengan gelora revolusi. Inilah alasan mengapa Marx, untuk waktu lama, menentang pendirian federasi Inggris yang independen dari Dewan Umum Internasional.

Di seluruh negara-negara Eropa dimana Internasional sangat kuat, para anggotanya melahirkan organisasi-organisasi baru yang sepenuhnya otonom dari organisasi-organisasi yang telah eksis sebelumnya. Namun demikian, di Inggris, serikat yang merupakan kekuatan utama Internasional secara alamiah tidak membubarkan struktur mereka sendiri. Dewan Umum yang berbasis di London, dengan demikian secara penuh memiliki dua fungsi sekaligus: sebagai kantor pusat dunia dan sebagai pemimpin untuk Inggris, dimana serikat buruh yang berafiliasi memiliki 50.000 buruh dalam jangkauan pengaruhnya.

Di Prancis, penindasan polisi dari Second Empire menyebabkan 1868 sebagai tahun krisis serius bagi Internasional. Namun demikian, pada tahun berikutnya, terlihat adanya kebangkitan organisasi, dan pemimpin-pemimpin baru yang mengabaikan posisi mutualis muncul ke depan. Puncak dari perluasan bagi Internasional terjadi pada 1870, tetapi di samping pertumbuhan sangat luas, organisasi tidak pernah berakar di 38 dari 90 departemennya. Secara nasional total keanggotaan mencapai antara 30.000 sampai 40.000.[34] Jadi, walaupun Internasional tidak menjadi sebuah organisasi massa sejati di Prancis, namun jelas pertumbuhannya sangat cepat dan membangkitkan minat yang luas.

Di Belgia, keanggotaannya mencapai puncak pada awal 1870 hingga mencapai puluhan ribu, mungkin lebih besar dari jumlah keanggotaan di seluruh Prancis. Di sinilah Internasional mencapai angka tertinggi baik dalam hal keanggotaan secara umum maupun pengaruhnya yang sangat kuat dalam masyarakat. Evolusi positif sepanjang periode ini juga nyata di Swiss. Namun demikian, pada 1870, aktivitas Bakunin membelah organisasi ke dalam dua grup yang sama besarnya, yang saling berkonfrontasi satu sama lain pada kongres Federasi Romande (Romande Federation), persisnya menyangkut pertanyaan apakah International Alliance for Socialist Democracy yang dikontrol oleh Bakunin harus diakui oleh Federasi. [35] Ketika terbukti tidak mungkin untuk direkonsiliasikan posisinya, panitia melanjutkannya dalam dua kongres yang parallel, dan sebuah kesepakatan dicapai hanya setelah intervensi dari Dewan Umum. Kelompok yang lebih kecil, yang beraliansi dengan London, mempertahankan nama Federasi Romande, sementara yang terkait dengan Bakunin kemudian menggunakan nama Federasi Jura (Jura Federation), walaupun afiliasinya dengan Internasional lagi-lagi diakui.

Selama periode ini, ide-ide Bakunin mulai menyebar, namun negara dimana mereka memperoleh dukungan yang cepat adalah Spanyol. Sebenarnya, Internasional pertama kali berkembang di semenanjung Iberia, melalui aktivitas dari anarkis Neapolitan Giuseppe Fanelli, yang atas permintaan Bakunin mengunjungi Barcelona dan Madrid untuk membantu mendirikan baik seksi Internasional maupun kelompok-kelompok International Alliance for Socialist Democracy. Perjalanan itu berakhir dengan sukses. Tetapi penyebaran dokumen-dokumen kedua organisasi tersebut, seringkali kepada orang yang sama, merupakan contoh utama dari kebingungan Bakunin dan campur-aduk (eclecticism) teoritis pada saat itu; buruh Spanyol mendirikan Internasional dengan prinsip-prinsip International Alliance for Socialist Democracy.

Di Konfederasi Jerman Utara (North German Confederation), selain terdapat dua organisasi politik gerakan buruh – the Lassallean General Association of German Workers and the Marxist Social Democratic Workers’ Party of Germany – hanya terdapat sedikit antuasiasme terhadap Internasional dan sedikit permintaan untuk berafiliasi. Selama tiga tahun pertama, militan-militan Jerman pada dasarnya mengabaikan eksistensi Internasional, karena takut ditindas oleh tangan-tangan penguasa. Keadaan ini agak berubah setelah 1868, sebagai dampak dari ketenaran dan kesuksesan Internasional di seluruh Eropa, dan kedua partai yang saling bersaing untuk mewakili sayap Jerman. Lemahnya Internasional di Jerman pada akhirnya menjadi beban yang lebih berat ketimbang aspek legalnya, walaupun, dan pada akhirnya terus mengalami kemunduran ketika gerakan menjadi lebih asyik dengan masalah-masalah internal. [36]

Melawan kemunduran umum ini, ditandai oleh fakta kontradiksi dan perkembangan tidak seimbang antar negara, Internasional membuat peraturan-peraturan pada kongres kelimanya. Namun demikian, meluasnya perang Franco-Prussia tidak memberikan pilihan selain membatalkan kongres. Konflik yang terjadi di jantung Eropa berarti prioritas utama saat itu adalah membantu gerakan buruh untuk mengekspresikan posisi independennya, jauh dari retorika nasionalis. Dalam First Address on the Franco-Prussian War, Marx menyerukan kepada buruh Prancis untuk menggulingkan Louis Bonaparte dan menghancurkan kekaisaran yang didirikannya 18 tahun sebelumnya. Buruh Jerman, sebagai kontribusinya, seharusnya mengamankan kekalahan Bonaparte agar tidak berbalik menyerang rakyat Prancis:

Sebagai lawan dari masyarakat lama, dengan kemiskinan ekonomi dan igauan politiknya, sebuah masyarakat baru harus muncul ke pemukaan, yang secara internasional menciptakan Perdamaian, karena para penguasa nasional dimanapun adalah sama – Buruh. Penggerak utama dari masyarakat baru ini adalah Asosiasi Pekerja Internasional. [37]

Para pemimpin dari Partai Buruh Sosial Demokrat (Social Democratic Workers’ Party), Wilhelm Liebknecht dan August Bebel, adalah dua anggota parlemen satu-satunya dari Konfederasi Jerman Utara yang menolak untuk memberikan suaranya pada anggaran perang khusus, dan seksi Internasional di Prancis juga mengirim pesan persahabatan dan solidaritas kepada buruh Jerman. Namun kekalahan Prancis menjamin kelahiran sebuah era baru yang lebih kuat bagi negara-bangsa di Eropa, yang bergandengan dengan rasa cinta tanah air yang berlebihan (chauvinism).

Internasional dan Komune Paris
Setelah kemenangan Jerman di Sedan dan ditangkapnya Bonaparte, Republik Ketiga (Third Republic) diproklamirkan di Prancis pada 4 September 1870. Pada Januari setahun kemudian, empat bulan keadaan darurat di Prancis berakhir dan Prancis menerima syarat-syarat yang diajukan Bismarck; gencatan senjata memungkinkan dilaksanakannya pemilu dan diangkatnya Adolphe Thiers sebagai presiden Republik. Tetapi di ibukota, kekuatan-kekuatan Republik-Progresif (Progressive-Republican) memenangi pemilihan umum dan ketidakpuasan-ketidakpuasan rakyat menyebar luas. Berhadapan dengan kemungkinan pemerintah yang ingin melucuti senjata dan mengendalikan seluruh reformasi sosial, penduduk Paris berbalik melawan Thiers dan pada 18 Maret memulai aksi politik pertama dan terbesar dalam kehidupan gerakan buruh: Komune Paris.

Walaupun Bakunin telah mengusulkan agar buruh membalik perang patriotik menjadi perang revolusioner, [38] Dewan Umum di London awalnya memilih opsi untuk diam. Adalah tugas Marx untuk menulis naskah atas nama Internasional, tetapi ia menundanya untuk menerbitkannya dengan alasan-alasan yang sangat kompleks. Sadar bahwa hubungan nyata antara kekuatan-kekuatan yang sedang bergerak dan kelemahan-kelemahan Komune, ia tahu bahwa Komune Paris itu ditakdirkan untuk kalah. Marx bahkan telah mencoba untuk mengingatkan kelas pekerja Prancis dalam Second Address on the Franco-Prussian War: “Setiap usaha untuk membikin marah pemerintahan baru dalam krisis saat ini, ketika musuh telah hampir berada di depan pintu Paris, merupakan sebuah tindakan yang sia-sia. Pekerja Paris … tidak boleh membiarkan dirinya diombang-ambingkan oleh kenangan 1792.”[39] Sebuah deklarasi yang terlalu bergelora akan beresiko menciptakan harapan palsu di kalangan buruh di seluruh Eropa, hingga akhirnya menjadi sumber demoralisasi dan ketidakpercayaan. Firasat buruknya ini dengan segera terbukti, dimana pada 28 Mei Komune Paris tenggelam dalam genangan darah. Dua hari kemudian, Marx muncul dalam Dewan Umum dengan membawa manuskrip berjudul The Civil War in France; yang kemudian dibaca dan mendapat persetujuan penuh, dan kemudian diterbitkan atas nama seluruh anggota Dewan. Dokumen ini berdampak sangat besat dalam beberapa minggu kemudian, lebih besar dari seluruh dokumen gerakan pekerja lainnya pada abad ke-19.

Kendati pembelaan Marx yang luar biasa, dan kendati klaim-klaim yang diajukan para penentang reaksioner maupun kalangan Marxis dogmatik yang senang mengglorifikasi Internasional, [40] Dewan Umum sama sekali tidak terlibat dalam mendorong pemberontakan penduduk Paris. Figur utama dalam organisasi memang berperan, tetapi kepemimpinan Komune berada dalam tangannya sayap republikan-radikal Jacobin. Marx sendiri menunjukkan bahwa “mayoritas Komune bukanlah sosialis, tidak juga bisa menjadi sosialis.” [41]

Marx menghabiskan seluruh hari-harinya untuk menjawab fitnah pers terhadap Internasional dan dirinya sendiri: “dalam kesempatan ini,” tulisnya “orang yang paling banyak difitnah dan diancam di London.” [42] Sementara itu, pemerintahan di seluruh Eropa makin mempertajam alat-alat penindasannya, takut jika pemberontakan-pemberontakan lainnya mungkin menyusul setelah kejadian di Paris. Kritisisme terhadap Komune bahkan menyebar ke seksi-seksi gerakan buruh. Setelah terbitnya The Civil War in France, baik pemimpin serikat buruh George Odger dan Chartist lama Benjamin Lucraft, menyatakan mundur dari Internasional, tunduk di bawah tekanan kampanye media yang penuh permusuhan. Namun demikian, tidak ada serikat buruh yang menarik dukungannya terhadap organisaasi – yang menunjukkan, sekali lagi, kegagalan Internasional berkembang di Inggris karena apatisme politik dalam kelas pekerja. [43]

Selain tragedi berdarah di Paris dan gelombang fitnah serta represi pemerintah di seluruh Eropa, Internasional bertumbuh semakin kuat dan semakin terkenal setelah peristiwa Komune. Bagi kelas kapitalis dan kelas menengah, perkembangan pesat Internasional merupakan pertanda adanya ancaman terhadap tata tertib yang telah mapan, namun bagi buruh, hal itu menggulirkan harapan akan dunia tanpa penindasan dan ketidakadilan. [44] Pemberontakan Paris kian memperkuat gerakan buruh, mendorong mereka untuk mengadopsi posisi-posisi yang lebih radikal. Pengalaman menunjukkan bahwa revolusi adalah mungkin, bahwa tujuan untuk membangun sebuah masyarakat yang sepenuhnya berbeda dari tata sosial kapitalis, sekaligus bagaimana mencapainya, kelas buruh harus menciptakan bentuk-bentuk asosiasi politik yang terorganisasi dengan baik dan berjangka panjang. [45]

Daya hidup Internasional yang luar biasa ini nyata di mana-mana. Jumlah peserta yang hadir dalam pertemuan Dewan Umum berlipat-ganda, sementara koran-koran yang berjaringan ke Internasional meningkat baik dalam jumlah maupun penjualannya. Akhirnya, yang paling signifikan, Internasional terus memperluas sayapnya hingga ke Belgia dan Spanyol, dimana tingkat keterlibatan buruh telah sangat meluas sejak sebelum Komune Paris – dan mengalami terobosan nyata di Italia. Walaupun Giuseppe Garibaldi memiliki gagasan yang samar-samar tentang Asosiasi, [46] ‘pahlawan dua dunia’ ini memutuskan untuk ikut dalam barisan dan menulis surat permohonan keanggotaan sembari melampirkan kalimat yang sangat terkenal: “Internasional adalah matahari bagi masa depan.” [47] Dicetak dalam belasan surat kabar dan dokumen-dokumen resmi buruh, surat Garibaldi ini menjadi alat yang sangat efektif dalam meyakinkan banyak mereka yang masih ragu-ragu untuk bergabung ke dalam organisasi.
Internasional kemudian membuka seksi baru di Portugal pada Oktober 1871. Di Denmark, pada bulan yang sama, dimulai pembangunan jaringan dengan serikat-serikat buruh yang baru berdiri di Kopenhagen dan Jutland. Perkembangan penting lainnya adalah pendirian seksi pekerja Irlandia di Inggris; pemimpin mereka John MacDonnel kemudian ditunjuk menjadi sekretaris penghubung untuk Irlandia. Permintaan untuk bergabung yang tak terduga dari berbagai belahan dunia lainnya: beberapa buruh Inggris di Kalkuta, India, kelompok-kelompok buruh di Victoria, Australia dan gereja Kristen Selandia Baru, dan sejumlah pengrajin di Buenos Aires, Argentina.

Konferensi London 1871
Dua tahun telah berlalu sejak kongres Internasional, tetapi kongres yang baru tidak bisa digelar dalam kondisi yang ada. Karenanya Dewan Umum memutuskan untuk menyelenggarakan sebuah konferensi di London. Biarpun usaha-usaha untuk menjadikan acara ini serepresentatif mungkin, faktanya kegiatan ini layaknya pertemuan Dewan Umum yang diperluas. Marx sendiri sebelumnya telah mengumumkan bahwa konferensi ini akan ditujukan “secara khusus berkaitan dengan persoalan kebijakan dan organisasi,” [48] ditambah dengan diskusi teoritik. Ia menyatakan ini dalam sesi pembuka:

Dewan Umum telah mengadakan konferensi dan setuju dengan delegasi-delegasi dari berbagai negara berkaitan dengan tindakan-tindakan yang perlu diambil dalam menghadapi bahaya-bahaya yang menimpa Asosiasi di sejumlah besar negara, dan bergerak ke arah sebuah organisasi baru yang sesuai dengan situasi dan kebutuhan yang ada. Selain itu adalah memberikan respon kepada pemerintahan-pemerintahan yang tak pernah berhenti menghancurkan Asosiasi dengan seluruh alat-alat yang dimilikinya. Dan terakhir menyelesaikan perselisihan Swiss sekali dan selamanya. [49]

Marx mencurahkan seluruh energinya dengan prioritas pada isu-isu ini: reorganisasi Internasional, mempertahankan organisasi dari serangan kekuatan-kekuatan lawan, dan mengecek perkembangan pengaruh Bakunin. Dalam konferensi ini, Marx merupakan peserta yang paling aktif, ia terlibat lebih dari 102 kali dalam rapat-rapat, memblokade proposal-proposal yang tidak sesuai dengan rencananya, dan memenangkan dukungan dari mereka yang sebelumnya belum yakin.[50] Perhelatan di London mengonfirmasi tingginya posisi Marx dalam organisasi, tidak hanya sebagai otak di balik semua garis politik Internasional, tapi juga sebagai seorang petarung dan militan yang cakap.

Keputusan paling penting yang diambil pada konferensi ini, yang mana sangat dikenang kemudian, adalah disetujuinya Resolusi IX Édouard Vaillant. Pemimpin kaum Blanquis – yang sisa kekuatannya bergabung dalam Internasional setelah berakhirnya Komune – mengusulkan agar organisasi sebaiknya bertransformasi menjadi partai terpusat dan berdisiplin, di bawah kepemimpinan Dewan Umum. Di samping beberapa perbedaan, khususnya berkaitan dengan posisi Blanquis mengenai perlunya sebuah kelompok inti militan yang terorganisir dengan ketat sangat dibutuhkan untuk revolusi, Marx tidak ragu untuk membentuk aliansi dengan kelompok Vaillant: tidak hanya untuk memperkuat oposisi terhadap anarkisme Bakunin dalam Internasional, tapi di atas semuanya untuk menciptakan konsensus luas bagi perubahan yang sangat dibutuhkan dalam fase baru perjuangan kelas. Karenanya, Resolusi yang dihasilkan di London itu menyatakan:
guna melawan kekuasaan kolektif dari kelas-kelas pemilik, kelas pekerja tidak bisa bertindak, sebagai sebuah kelas, kecuali dirinya membentuk sebuah partai politik, berbeda dari, dan melawan, seluruh partai-partai lama yang dibentuk oleh kelas-kelas pemilik; bahwa pembentukan partai kelas pekerja ini tidak bisa ditawar guna menjamin kemenangan revolusi sosial dan pada akhirnya – penghapusan kelas-kelas; dan kombinasi kekuatan-kekuatan dimana kelas kelas pekerja yang telah terlibat dalam perjuangan ekonomi pada saat yang sama membantu memudahkan perjuangan melawan kekuasaan politik kaum tuan tanah dan kapitalis. Kesimpulannya jelas: “gerakan ekonomi (dari kelas pekerja) dan tindakan-tindakan politiknya merupakan kesatuan yang tidak terpisahkan.” [51]

Jika Kongres Jenewa pada 1866 memapankan pentingnya serikat buruh, Konferensi London pada 1871 menggeser fokusnya pada instrumen kunci penting lainnya bagi gerakan buruh modern: partai politik. Namun demikian harus ditekankan, pemahaman akan ini harus lebih luas ketimbang yang berkembang pada abad ke-20.[52] Konsepsi Marx harus dibedakan dari baik konsepsi Blanquis – keduanya kemudian bertengkar – dan dari Lenin, yang diadopsi oleh organisasi-organisasi Komunis setelah Revolusi Oktober.

Hanya empat delegasi yang menentang Resolusi IX di Konferensi London itu, tapi kemenangan Marx dengan segera terbukti belangsung singkat. Sebab seruan untuk mendirikan sebanyak mungkin partai politik di beberapa negara dan untuk memberikan kewenangan luas kepada Dewan Umum menghasilkan dampak buruk bagi kondisi internal Internsional; organisasi tidak siap untuk bergerak dengan cepat dari bentuknya yang fleksibel menjadi organisasi yang memiliki kesatuan politik. [53]

Marx sebenarnya yakin bahwa seluruh federasi-federasi utama dan seksi-seksi lokal akan kembali kepada resolusi-resolusi yang dihasilkan oleh Konferensi, tapi ia secepatnya berpikir kembali. Pada 12 November, Federasi Jura menyerukan kongresnya sendiri di sebuah komune kecil Sonviller, dan, walaupun Bakunin tidak bisa hadir, secara resmi dilancarkan oposisi di dalam Internasional. Aliansi terdekat Bakunin, James Guillaume dan para partisipan lainnya menyerang Dewan Umum karena telah memperkenalkan “prinsip kekuasaan” ke dalam Internasional dan mentransformasikan struktur aslinya menjadi “sebuah organisasi hirarkis yang diarahkan dan diatur oleh sebuah komite.” Deklarasi Swiss itu sendiri “menentang seluruh pengarahan otoritas, walaupun otoritas itu dipilih dan diusulkan oleh buruh,” dan bersikeras agar “mempertahankan prinsip otonomi dari seksi-seksi,” sehingga Dewan Umum hanya menjadi semacam “biro korespondensi sederhana dan statistik.”[54]

Walaupun posisi Federasi Jura sudah bisa diperkirakan, Marx mungkin terkejut ketika tanda-tanda keresahan dan bahkan pemberontakan melawan garis politik Dewan Umum muncul ke permukaan di mana-mana. Pada sejumlah negara, keputusan yang diambil di London dinilai tidak dapat diterima karena dianggap mengganggu otonomi politik lokal. Bahkan Federasi Belgia, yang selama konferensi bertujuan untuk memediasi perbedaan di antara kedua belah pihak, mulai mengadopsi posisi yang lebih kritis terhadap London, dan Belanda juga pada akhirnya mengambil jarak. Di Eropa Selatan, dimana reaksi lebih keras lagi, kalangan oposisi memperoleh dukungan yang patut diperhitungkan. Tentu saja, mayoritas terbesar Internasional Iberian berposisi menentang Dewan Umum dan mendorong gagasan Bakunin. Demikian pula di Italia, hasil dari konferensi London dilihat dalam kacamata negatif. Pada faktanya, pendiri kongres dari Federasi Italia dari Internasional mengambil posisi paling radikal dalam menentang Dewan Umum: mereka tidak akan berpartisipasi dalam kongres Internasional di masa depan tetapi mengusulkan untuk menyelenggarakan “kongres umum anti-otoritarian” [55] di Neuchâtel, Swiss. Ini menjadi bukti tindakan pertama dalam perpecahan di masa depan.

Perseteruan di seluruh Atlantik juga membahayakan hubungan di kalangan anggota di London. Hubungan dua aliansi yang dilakukan Marx berbalik menjadi buruk, dan di Inggris juga konflik internal pertama muncul. Dukungan kepada Dewan Umum juga datang dari mayoritas di Swiss, Prancis (kini mayoritasnya adalah kelompok Blanquis), dan kekuatan-kekuatan kecil di Jerman, dan kemudian seksi-seksi di Denmark, Irlandia, dan Portugal, serta kelompok-kelompok di Eropa Timur, Hungaria, dan Bohemia. Tetapi ini lebih sedikit dari apa yang Marx harapkan pada akhir Konferensi London.

Oposisi terhadap Dewan Umum bervariasi dalam karakter dan kadang-kadang terutama karena motif personal. Tetapi, di luar pesona teori Bakunin di beberapa negara tertentu dan kemampuan Guillaume dalam menyatukan beragam oposisi, faktor utama militansi melawan resolusi tentang “Aksi Politik Kelas Pekerja” adalah lingkungan yang tidak memungkinkan diterimanya langkah maju kualitatif yang ditawarkan Marx. Tidak hanya kelompok yang berjaringan dengan Bakunin, tapi sebagian besar federasi dan seksi-seksi lokal menganggap prinsip otonomi dan penghargaan terhadap realitas perbedaan sebagai sebuah fondasi bagi Internasional. Kesalahan Marx dalam memperhitungan masalah ini telah mempercepat terjadinya krisis organisasi. [56]

Akhir Internasional
Pertempuran terakhir datang mendekati akhir musim panas 1872. Setelah peristiwa-peristiwa mengerikan selama tiga tahun sebelumnya – perang Franco-Prussia, gelombang represi menyusul Komune Paris, sejumlah pertarungan internal – Internasional baru bisa mengadakan pertemuan kembali dalam kongres. Di negara-negara dimana Internasional baru berkembang, Internasional meluas berkat usaha-usaha bersemangat dari para pemimpin dan aktivis-aktivis buruh yang seketika terbakar oleh slogan-slogannya. Namun sebagian besar anggota tidak menyadari beratnya konflik yang berkecamuk di kalangan para pemimpin kelompok. [57]

Kongres kelima Internasional bertempat di Hague, pada September, dihadiri oleh 65 delegasi dari total 14 negara. Demikian krusial dan pentingnya perhelatan ini mendorong Marx untuk hadir sebagai individu [58] dengan ditemani oleh Engels. Inilah satu-satunya kongres organisasi dimana Marx ambil bagian. Baik De Paepe dan Bakunin tidak tampak di ibukota Belanda itu, tetapi kontingen “otonomis” hadir dengan kekuatan total 25 orang.

Ironisnya, kongres yang dibuka di Concordia Hall, meskipun seluruh sesi ditandai dengan tidak berkurangnya antagonisme antara kedua kubu, menghasilkan debat yang jauh lebih tidak berkualitas ketimbang dalam dua kongres sebelumnya. Pertarungan ini kian diperparah oleh tiga hari perdebatan berkaitan dengan otoritas. Perwakilan para delegasi tentu saja telah berpihak, tidak lagi merefleksikan hubungan yang jujur dengan kekuatan-kekuatan dalam organisasi. Seksi Prancis semakin terdorong bergerak di bawah tanah, dan mandat mereka sangat diperdebatkan, walaupun kelompok terbesar adalah delegasi Prancis; Jerman tidak memiliki perwakilan di International, walaupun mengirimkan hampir seperempat delegasi. Wakil-wakil lainnya telah didelegasikan sebagai anggota Dewan Umum dan tidak bisa mengekspresikan keinginan setiap seksi.

Persetujuan resolusi Kongres Hague hanya mungkin karena terjadinya penyimpangan komposisi. Keputusan paling penting yang diambil di Hague adalah memasukkan Resolusi IX dari Konferensi London 1871 ke dalam statuta Asosiasi, sebagai artikel baru 7a. Perjuangan politik kini menjadi instrumen yang dibutuhkan bagi transformasi masyarakat sebab: “tuan tanah dan tuan kapital akan selalu menggunakan keistimewaan-keistimewaan politik mereka untuk mempertahankan dan melestarikan monopoli ekonominya, dan untuk memperbudak buruh. Penundukan kekuasaan politik, dengan demikian, menjadi tugas utama kelas pekerja.” [59]

Internasional kini telah berbeda jauh dari saat ketika ia didirikan: komponen-komponen radikal-demokratik memutuskan untuk keluar setelah makin termarjinalisasi; kalangan mutualis telah berhasil dikalahkan dan banyak yang berpindah mendukung posisi Internasional; kaum reformis tidak lagi merupakan bagian terbesar dalam organisasi (kecuali di Inggris); dan anti-kapitalisme telah menjadi garis politik dari seluruh Asosiasi, juga oleh tendensi yang baru terbentuk seperti kolektif anarkhis. Selain itu, walaupun selama beberapa tahun Internasional menyaksikan derajat kemakmuran ekonomi yang dalam beberapa kasus menciptakan kondisi-kondisi yang nyaman, kaum buruh memahami bahwa perubahan nyata akan tiba tidak melalui jalan yang mudah tapi hanya melalui penghapusan penindasan manusia. Mereka juga semakin lebih mendasarkan perjuangannya pada kebutuhan-kebutuhan material mereka, ketimbang pada inisiatif-inisiatif kelompok-kelompok tertentu dimana mereka bernaung.

Gambaran besarnya juga telah berbeda secara radikal. Persatuan Jerman pada 1871 mengonfirmasi permulaan era baru dimana negara-bangsa (nation-state) menjadi pusat politik, hukum dan identitas territorial. Hal ini menimbulkan pertanyaan berkaitan dengan segala bentuk organisasi supranasional yang pembiayaannya berasal dari iuran keanggotaan di setiap negara individual dan mensyaratkan para anggotanya untuk menyerahkan sebagian kepemimpinan politik mereka. Pada saat yang sama, meningkatnya perbedaan antara gerakan-gerakan dan organisasi-organisasi nasional telah menyebabkan kesulitan yang sama besar bagi Dewan Umum untuk memproduksi sintesa politik yang mampu memuaskan tuntutan semua pihak.

Adalah benar bahwa, sejak awalnya, Internasional merupakan pengelompokkan dari berbagai asosiasi dan serikat buruh yang tidak gampang untuk direkonsiliasikan satu dengan lainnya, dan itu merepresentasikan kepekaan dan tendensi politik lebih dari organisasi manapun. Namun demikian, pada 1872 berbagai komponen dari Asosiasi – dan perjuangan kaum buruh, secara umum – menjadi jauh lebih jelas didefinisikan dan diorganisasikan. Legalisasi serikat buruh Inggris secara resmi membuat mereka menjadi bagian dari kehidupan politik nasional; di Jerman terdapat dua partai buruh, yakni Partai Buruh Sosial Demokrat dan Asosiasi Umum Buruh Jerman, dimana keduanya memiliki perwakilan di parlemen; di Prancis buruh dari Lyon hingga Paris, telah siap untuk ‘menyerbu langit’ (storming the heavens); dan Federasi Spanyol telah menyebar ke titik dimana siap untuk menjadi organisasi massa. Perubahan yang sama muncul di negara-negara lain.

Konfigurasi awal Internasional dengan demikian tidak lagi memadai, sama seperti misinya semula yang telah selesai. Tugasnya tidak lagi untuk mempersiapkan dan mengorganisasi dukungan luas di Eropa untuk pemogokan, tidak juga menyerukan kongres mengenai pentingnya serikat buruh atas kebutuhan untuk mensosialisasikan tanah dan alat-alat produksi. Tema-tema ini kini telah menjadi bagian dari warisan kolektif organisasi secara keseluruhan. Setelah Komune Paris, tantangan nyata bagi gerakan buruh sangat revolusioner: bagaimana mengorganisasi gerakan buruh untuk mengakhiri corak produksi kapitalis (capitalist mode of production ) dan menggulingkan lembaga-lembaga borjuis dunia. Pertanyaannya kini bukan lagi bagaimana mereformasi masyarakat yang ada, tapi bagaimana membangun sebuah masyarakat baru.[60] Untuk perjuangan kelas yang lebih maju ini, menurut Marx, diperlukan pembangunan partai politik kelas pekerja di setiap negara. Dokumen To the Federal Council of the Spanish Region of the International Working Men’s Association , yang ditulis Engels pada Februari 1871, merupakan penyataan Dewan Umum yang sangat eksplisit berkaitan dengan tuntutan baru ini:
Pengalaman menunjukkan dimanapun bahwa jalan terbaik untuk membebaskan pekerja dari dominasi partai-partai lama adalah dengan membentuk partai proletarian di setiap negara dengan kebijakannya sendiri, sebuah kebijakan yang secara terbuka berbeda dari kebijakan partai-partai lain, karena harus mengekspresikan kondisi-kondisi yang dibutuhkan untuk pembebasan kelas pekerja. Kebijakan ini mungkin bervariasi dalam detailnya tergantung pada kondisi-kondisi khusus dari setiap negara; tetapi karena hubungan mendasar antara buruh dan kapital adalah sama dimanapun dan dominasi politik kelas-kelas berpunya atas kelas yang dieksploitasi adalah fakta yang eksis dimana-mana, maka prinsip-prinsip dan tujuan-tujuan kebijakan proletarian mungkin saja identik, setidaknya di negara-negara Barat…. Menyerah melawan musuh kita di lapangan politik berarti mengabaikan salah satu senjata paling dahsyat, khususnya dalam ruang organisasi dan propaganda. [61]

Sejak saat itu, partai dimaknai sebagai hal yang sangat esensial bagi perjuangan proletariat: ia harus independen dari seluruh kekuatan politik yang ada dan dibangun, baik secara programatik dan organisasional, sesuai dengan konteks nasional. Pada sesi Dewan Umum 23 Juli 1872, Marx tidak hanya mengritik posisi abstentionists (menolak setiap keterlibatan politik dari kelas pekerja) tapi juga posisi yang sama berbahaya tentang “kelas pekerja Inggris dan Amerika,” “yang membiarkan kelas menengah menggunakan mereka untuk tujuan-tujuan politik.” [62] Pada poin kedua, ia telah menyatakan pada Konferensi London bahwa “politik harus diadaptasikan pada kondisi-kondisi di seluruh negara,” [63] dan pada tahun berikutnya, dalam sebuah pidato di Amsterdam, segera setelah Kongres Hague, ia menekankan:

Satu saat buruh harus merebut kekuasaan politik guna membangun sebuah organisasi buruh: ia harus menggulingkan politik lama yang terus mempertahankan lembaga-lembaga lama, jika ia tidak ingin kehilangan surga di bumi, seperti orang-orang Kristen lama yang mengabaikan dan membenci politik. Tetapi kita menegaskan bahwa jalan untuk mencapai tujuan itu adalah sama di semua tempat … Kita tidak menolak bahwa ada negara-negara … dimana buruh dapat mencapai tujuan mereka dengan cara-cara damai. Ini adalah kasus, kita juga harus mengakui fakta bahwa di banyak negara di Benua ini tuas revolusioner kita harus dipaksakan; paksaan itu suatu hari kelak harus kita lakukan untuk menegakkan kekuasaan buruh. [64]

Jadi, walaupun partai buruh muncul dalam bentuk-bentuk yang berbeda di negara-negara yang berbeda, mereka tidak boleh mensubordinasikan diri mereka sendiri di bawah kepentingan nasional. [65] Perjuangan untuk sosialisme tidak boleh dibatasi oleh sekat-sekat negara nasional, khususnya dalam konteks sejarah yang baru internasionalisme harus dilanjutkan menjadi mercu suar yang memandu proletariat, sekaligus sebagai vaksin melawan serangan mematikan dari negara dan sistem kapitalis.

Selama Kongres Hague, polemik keras terjadi dalam setiap sesi pemungutan suara. Menyusul diadopsinya pasal 7a, tujuan untuk memenangkan kekuasaan politik dicantumkan dalam statuta, dan juga terdapat indikasi bahwa partai buruh adalah penting sebagai instrumen untuk mencapai tujuan tersebut. Keputusan selanjutnya adalah menyangkut perluasan kekuasaan Dewan Umum – dimana 32 suara mendukung, 6 menolak dan 12 abstain – membuat situasi menjadi lebih tidak toleran bagi kalangan minoritas, sebab Dewan kini bertugas untuk memastikan “mengamati secara ketat prinsip-prinsip, statuta-statuta dan aturan-aturan umum Internasional,” dan “hak untuk membekukan cabang-cabang, seksi-seksi, dewan-dewan atau komite-komite federal dan federasi-federasi Internasional hingga kongres tahun berikutnya.”[66]

Untuk pertama kali dalam sejarah Internasional, sebuah kongres menyetujui keputusan Dewan Umum untuk mengeluarkan sebuah organisasi: yakni, Seksi 12 New York. Motivasi dari keputusan ini adalah “Asosiasi Pekerja Internasional berdasarkan pada prinsip penghapusan kelas-kelas dan tidak mengakui seksi borjuis apapun.” [67] Pengusiran Bakunin dan Guillaume telah menyebabkan munculnya kegemparan, atas usulan dari komisi penyelidikan yang menjelaskan bahwa Alliance for Socialist Democracy adalah “sebuah organisasi rahasia dengan status yang sepenuhnya bertentangan dengan Internasional.”[68] Sementara itu, permintaan untuk mengusir Adhemar Schitzguébel, salah satu pendiri dan anggota paling aktif dari Federasi Jura, ditolak. [69] Akhirnya, kongres setuju menerbitkan sebuah laporan panjang, The Alliance for Socialist Democracy and the International Working Men’s Association , yang menelusuri sejarah organisasi yang dipimpin Bakunin dan menganalisis terbitan-terbitan publik dan aktivitas rahasia di setiap negara dari organisasi tersebut. Ditulis oleh Engels, Lafargue and Marx, dokumen ini diterbitkan di Prancis pada Juli 1873.

Perlawanan di kongres tidak seragam dalam tanggapannya terhadap serangan-serangan itu. Namun demikian, pada hari terakhir, sebuah deklarasi bersama yang dibacakan oleh seorang buruh bernama Victor Dave (1845-1922) dari seksi Hague berbunyi:

  1. Kami … pendukung otonomi dan federasi dari kelompok-kelompok pekerja harus melanjutkan hubungan administratif kita dengan Dewan Umum …..
  2. Federasi-federasi yang kita wakili akan membentuk hubungan langsung dan permanen antara mereka sendiri dan seluruh cabang-cabang tetap dari Asosiasi […]
  3. Kami menyerukan kepada seluruh federasi dan seksi-seksi untuk mempersiapkan dari sekarang dan nanti pada kongres umum untuk memenangkan dalam Internasional prinsip-prinsip otonomi federatif sebagai basis bagi organisasi buruh.[70]

Pernyataan ini lebih dari sekadar manuver taktis – dirancang untuk menghindari perpecahan yang tampaknya tidak terhindarkan – melainkan sebuah upaya politik yang serius untuk penyegaran organisasi. Dalam pengertian ini, senada dengan proposal yang lebih “sentralis” untuk memperkuat kekuasaan Dewan Umum, di saat ketika mereka telah siap dengan rencana alternatif yang lebih drastis.

Untuk apa yang terjadi pada sesi pagi pada 6 September – kongres yang paling dramatis – adalah tindakan terakhir dari Internasional seperti yang telah dibayangkan dan dikerjakan selama bertahun-tahun. Engels berdiri untuk berbicara dan, dengan perasaan takjub kepada mereka yang hadir, mengusulkan “kursi Dewan Umum (harus) dipindahkan ke New York pada tahun 1872-1873, dan hal itu harus dibentuk oleh anggota dewan federasi Amerika.” [71] Dengan demikian, Marx dan “para pendiri” Internasional lainnya tidak akan lagi menjadi bagian dari badan pusat, yang nanti akan terdiri dari orang-orang yang namanya tidak terkenal. Maltman Barry, seorang peserta yang juga adalah anggota Dewan Umum yang mendukung posisi Marx, mendeskripsikan dengan baik lebih dari yang lain reaksi dari hadirin:

Ketakutan dan kebingungan tampak jelas terpampang di wajah para peserta mendengar pendapat yang dikemukakan Engels hingga akhir … Suasana menjadi hening sebelum setiap orang berdiri untuk berbicara. Itu adalah kudeta, dan setiap orang melihat ke sekeliling untuk memecahkan pengaruh mantra yang disampaikan Engels.[72]

Engels berpendapat bahwa “konflik antar-kelompok di London telah mencapai tahap dimana (Dewan Umum) harus dipindahkan ke tempat lain, [73] dan New York adalah tempat yang terbaik di masa-masa represi saat itu. Tetapi kelompok Blanquis menolak dengan keras untuk pindah, dengan alasan bahwa “Internasional seharusnya pertama-tama merupakan organisasi pemberontakan permanen dari proletariat”[74] dan “ketika sebuah partai bersatu untuk perjuangan …. dimana aksi-aksinya semakin membesar, maka komite pimpinan harus lebih aktif lagi, dengan persiapan yang baik dan berkuasa penuh.” Vaillant dan pengikut-pengikut Blanqui lainnya yang hadir di Hague merasa dikhianati ketika mereka melihat “pimpinan” digeser “ke tempat lain di Atlantik (sementara) para prajurit sedang bertempur di (Eropa).” [75] Berdasarkan asumsi bahwa “Internasional telah memulai peran perjuangan ekonomi,” mereka ingin memainkan “peran yang sama berkaitan dengan perjuangan politik” dan transformasinya menjadi “partai revolusioner pekerja internasional.” [76] Mengetahui bahwa tidak mungkin lagi memainkan kontrol atas Dewan Umum, kelompok Blanquis ini meninggalkan kongres dan segera setelahnya Internasional.

Dengan mayoritas peserta memutuskan untuk menentang pemindahan kantor Dewan Umum ke New York, hal ini dianggap sebagai tanda berakhirnya struktur kerja Internasional. Dengan perolehan suara yang setuju dan menolak hanya terpaut tiga suara (26 setuju, 23 menolak), keputusan akhirnya tergantung pada 9 suara yang abstain dan fakta bahwa beberapa minoritas anggota senang melihat Dewan Umum dipindahkan jauh dari pusat aktivitas mereka. Faktor lain yang menyebabkan harus pindah tentu saja adalah pandangan Marx bahwa lebih baik Internasional tidak beroperasi ketimbang melihatnya menjadi sebuah organisasi yang sektarian di bawah kontrol para penentanganya. Berakhirnya Internasional, yang kemudian disusul dengan pemindahan Dewan Umum ke New York, adalah jauh lebih baik ketimbang serangkaian pertarungan internal yang panjang dan sia-sia.

Tetap saja, bukanlah sebuah argumen yang meyakinkan – seperti yang selama ini terjadi[77] – bahwa alasan kunci bubarnya Internasional adalah konflik antara dua arus, atau bahkan antara dua orang, Marx dan Bakunin, bagaimanapun hebatnya pengaruh keduanya. Sebaliknya, perubahan yang terjadi di seluruh dunia lah yang menyebabkan Internasional kehilangan relevansinya.

Pertumbuhan dan transformasi organisasi-organisasi gerakan buruh, menguatnya negara-bangsa sebagai hasil dari persatuan Italia dan Jerman, perluasan Internasional di negara-negara seperti Spanyol dan Italia (dimana kondisi-kondisi sosial dan ekonominya sangat berbeda dari Inggris atas Prancis), semakin moderatnya gerakan serikat buruh di Inggris, penindasan yang terjadi setelah Komune Paris: seluruh faktor ini secara bersama-sama membentuk konfigurasi awal Internasional tidak lagi cocok dengan situasi baru ini.

Berhadapan dengan latarbelakang ini, dengan kecenderungan menjauh dari pusat secara umum, perkembangan dalam kehidupan Internasional dan para tokoh utamanya secara alamiah juga berperan penting. Sebagai contoh, Konferensi London ternyata tidak menjadi peristiwa yang menyelamatkan organisasi seperti yang diharapkan Marx; memang, aturan yang kaku secara signifikan memperburuk krisis internal, serta kurang memperhitungkan situasi saat itu atau menunjukkan kemampuan antisipatif yang dibutuhkan untuk mencegah menguatnya Bakunin dan kelompoknya. [78] Terbukti kemenangan Marx telah menimbulkan banyak korban – dimana, dalam rangka menyelesaikan konflik internal, berakhir dengan menguntungkan bagi Bakunin dan kelompoknya itu. Namun demikian, keputusan yang diambil di London hanya mempercepat proses pembusukan yang sedang berlangsung dan tidak mungkin dibalikkan lagi Selain seluruh pertimbangan-pertimbangan organisasional dan sejarah ini, terdapat hal lain yang tidak kalah penting untuk diperhatikan mengenai para tokoh utamanya. Sebagaimana Marx telah ingatkan kepada para delegasi di sesi Konferensi London pada 1871, “tugas dari Dewan sungguh sangat banyak, terpaksa harus mengurusi tidak hanya masalah-masalah umum tapi juga masalah kebangsaan.”[79] Internasional bukan lagi organisasi yang kecil seperti pada 1864 yang kakinya hanya ada di Inggris dan Prancis; ia kini telah berdiri di seluruh negara-negara Eropa, dengan masalah dan karakternya yang khusus. Tidak hanya organisasi yang ada di mana-mana dan didera oleh konflik internal, tapi dengan kedatangan para Communard yang mengungsi ke London, dengan pekerjaan dan keragaman gagasan yang diwarisinya, menyebabkan tugas Dewan Umum untuk memformulasikan kerja-kerja politik lebih sulit lagi.

Selama delapan tahun, Marx dengan sangat bersemangat aktif dalam Internasional. Sadar bahwa kekuatan buruh sedang mengalami kemunduran menyusul kekalahan Komune Paris – fakta paling penting saat itu baginya –ia kemudian mengabdikan sisa hidupnya untuk menyelesaikan Capital. Ketika ia menyeberangi Laut Utara menuju Belanda, ia merasakan bahwa pertempuran yang sedang menunggunya merupakan aktivitasnya yang terakhir sebagai seorang pelaku langsung aktivitas revolusioner itu.

Dari seorang sosok yang dibisukan pada pertemuan pertama di St. Martin Hall pada 1864, Marx kemudian diakui sebagai pemimpin Internasional, tidak hanya oleh para peserta kongres dan Dewan Umum, tapi juga oleh publik luas. Jadi, walaupun Internasional tentu berutang banyak hal pada Marx, Internasional juga telah mengubah hidupnya. Sebelum berdirinya Internasional, ia hanya dikenal di lingkaran kecil aktivis politik. Kemudian, dan di atas segalanya setelah Komune Paris – juga, tentu saja, publikasi karya besarnya pada 1867 – ketenaranya menyebar di kalangan revolusioner di banyak negara Eropa, keadaan dimana media menjulukinya sebagai “red terror doctor.” Tanggung jawab yang melekat atas perannya di Internasional – yang memungkinkannya untuk mengalami langsung dari dekat begitu banyak perjuangan ekonomi dan politik – kemudian mendorongnya untuk melakukan refleksi yang mendalam akan komunisme dan memperkaya keseluruhan teori anti-kapitalisnya.

Marx lawan Bakunin
Pertempuran antara kedua kubu berkecamuk pada bulan-bulan setelah Kongres Hague, tetapi hanya sedikit kasus yang berkaitan langsung pada perbedaan ideologi dan teoritis mereka. Marx sering sekali mengkarikaturkan posisi Bakunin, menggambarkannya sebagai pembela “persamaan kelas/class equalization” (berdasarkan pada prinsip-prinsip program 1868 dari Alliance for Socialist Democracy) atau sederhananya kebuntuan politiknya ( political abstentionism). Anarkis Rusia ini, yang kurang memiliki kapasitas teoritis sebagaimana Marx, dalam medan pertarungan ini selalu melakukan tuduhan-tuduhan dan hinaan-hinaan yang bersifat personal.

Satu-satunya pengecualian yang bisa disebut gagasan positifnya yang tidak utuh adalah Letter to La Liberté (sebuah makalah Brussel) awal Oktober 1872—sebuah teks yang tidak pernah dikirim, dilupakan dan tidak digunakan oleh pendukung-pendukung Bakunin dalam pertempuran tiada akhir ini. Dalam makalah itu, posisi politik “otonomis” cukup jelas disebutkan:
Hanya ada satu hukum yang mengikat seluruh anggota …. seluruh seksi dan federasi Internasional … Itulah solidaritas internasional pekerja di setiap pekerjaan dan di seluruh negara dalam perjuangan ekonomi melawan penindas buruh. Inilah organisasi yang nyata dimana solidaritas melalui aksi-aksi spontan kelas pekerja, dan federasi bebas absolut … yang membentuk kesatuan hidup dan nyata dari Internasional. Siapa yang meragukan bahwa akibat dari perkembangan pesat organisasi ini muncul solidaritas militan proletariat melawan penindas borjuis, bahwa perjuangan politik melawan borjuasi harus muncul dan berkembang? Kaum Marxis dan kami sendiri sepakat pada poin ini. Tetapi kini muncul pertanyaan yang membedakan kita secara mendalam dari kaum Marxis. Kita berpikir bahwa kebijakan proletariat haruslah berwatak revolusioner, bertujuan langsung dan semata-mata menghancurkan Negara. Kita tidak melihat bagaimana mungkin bicara tentang solidaritas Internasional dan tetap berkeinginan untuk mempertahankan Negara …. karena dari sifatnya Negara adalah penghancur solidaritas dan dengan demikian penyebab permanen terjadinya perang. Tidak juga kita bisa membayangkan bagaimana mungkin bicara tentang kebebasan proletariat atau pembebasan nyata massa di dalam dan melalui alat-alat Negara. Negara berarti kekuasaan, dan seluruh kekuasaan memerlukan penundukkan atas massa dan konsekuensinya eksploitasi terhadap massa atas nama beberapa penguasa minoritas.

Kita tidak bisa menerima, bahkan dalam proses transisi revolusioner, adanya entah itu dewan-dewan konstituen, pemerintahan sementara atau apa yang disebut kediktatoran revolusioner karena kita melihat bahwa revolusi hanya akan tulus, jujur dan nyata dalam kepemimpinan massa, dan ketika itu terkonsentrasi dalam segelintir individu berkuasa maka tak terhindarkan dalam waktu singkat menjadi reaksi. [80]

Jadi, walaupun Bakunin memiliki persamaan dengan Proudhon mengenai oposisinya yang tanpa kompromi terhadap setiap bentuk otoritas politik, khususnya dalam bentuk Negara, adalah salah untuk menempatkannya sejajar dengan kalangan mutualis. Sementara kalangan mutualis menolak untuk terlibat dalam seluruh bentuk aktivitas politik, kalangan otonomis – sebagaimana yang ditekankan Guillaume dalam salah satu intervensinya di Kongres Hague – bertempur untuk “sebuah revolusi sosial politik, menghancurkan negara dan politik borjuis.” [81] Harus diakui bahwa kelompok otonomis merupakan satu di antara komponen-komponen revolusioner dalam Internasional, dan mereka menawarkan sumbangan kritis yang menarik terkait masalah kekuasaan politik, negara dan birokrasi.

Lalu, bagaimana “politik negatif” yang dilihat oleh kaum otonomis sebagai satu-satunya bentuk tindakan yang mungkin berbeda dari “politik positif” yang dibela oleh kelompok sentralis? Dalam resolusi Kongres Internasional di Saint-Imier, 15-16 September 1872, dalam proposal yang diajukan oleh Federasi Italia dan dihadiri oleh delegasi-delegasi lain yang baru pulang dari Hague, dinyatakan bahwa “seluruh organisasi politik tidak bisa lain kecuali organisasi dominasi, untuk kepentingan satu kelas dan merugikan massa, dan jika proletariat mengambilalih kekuasaan, dia sendiri akan menjadi kelas dominan dan penindas.”

Konsekuensinya, “penghancuran seluruh kekuasaan politik merupakan tugas pertama proletariat,” dan “setiap organisasi yang disebut sementara dan kekuatan politik revolusioner yang hendak melakukan penghancuran hanya akan menjadi penipuan lebih lanjut, akan sangat berbahaya buat proletariat seperti halnya pemerintahan yang ada saat ini.”[82] Sebagaimana yang ditekankan Bakunin dalam “Internasional dan Karl Marx” (teks tidak lengkap lainnya), tugas Internasional adalah untuk memimpin proletariat “keluar dari politik negara dan dunia borjuis”; basis sejati dari program-program Internasional seharusnya “sangat sederhana dan moderat:

solidaritas organisasi dalam perjuangan ekonomi buruh melawan kapitalisme.” [83] Faktanya, selain menyerap beragam perubahan dalam dokumen tersebut, deklarasi prinsip-prinsip ini dekat dengan tujuan-tujuan semula organisasi dan ditujukan ke arah yang sangat berbeda dari apa yang dimaksud Marx dan Dewan Umum setelah Konferensi London pada 1871. [84]

Perbedaan posisi yang tajam antara prinsip-prinsip dan tujuan-tujuan telah membentuk iklim di Hague. Sementara mayoritas melihat “positif” penundukkan kekuasaan politik,[85] kalangan otonomis menggambarkan partai politik sebagai instrumen yang niscaya akan tunduk pada lembaga-lembaga borjuis dan dengan anehnya menyamakan konsepsi Marx tentang komunisme dengan konsepsi Volksstaat Lassallean yang dilawan Marx tanpa kenal lelah. Namun demikian, dalam beberapa kesempatan terbatas kedua kelompok membagi aspirasi yang sama. Dalam The Alleged Splits in the International, yang ditulisnya bersama dengan Engels, Marx menjelaskan bahwa satu prakondisi bagi masyarakat sosialis adalah dihapuskannya kekuasaan negara:
Seluruh sosialis melihat anarkhi sebagai program berikut: Sekali tujuan gerakan proletariat – yakni penghapusan kelas-kelas – dicapai, kekuasaan negara yang berfungsi untuk menjaga mayoritas terbesar produsen agar tetap melekat pada segelintir penindas lenyap, maka fungsi-fungsi pemerintah hanya menjadi fungsi administratif yang sederhana.

Perbedaan yang tak bisa direkonsiliasikan ini berpangkal dari keinginan kalangan otonomis bahwa tujuan mereka harus direalisasikan secepatnya. Tentu saja, karena mereka melihat Internasional bukan sebagai sebuah instrumen untuk perjuangan politik tetapi sebagai sebuah model ideal bagi masyarakat masa depan dimana tidak ada otoritas apapun yang eksis. Bakunin dan pendukungnya memproklamirkan (dalam penjelasan Marx)

anarki dalam jajaran proletarian sebagai alat yang paling sempurna untuk menghancurkan konsentrasi kekuasaan yang dimiliki oleh kekuatan-kekuatan politik para penindas. Dengan alasan ini, (mereka menuntut) Internasional, saat dimana Dunia Lama sedang mencari cara dalam menuju kehancurannya, agar mengganti Internasional tersebut dengan anarki. [86]

Jadi, di samping persetujuan mereka tentang kebutuhan untuk menghapuskan kelas-kelas dan kekuasaan politik negara dalam masyarakat sosialis, kedua kubu berbeda secara radikal terhadap isu-isu mendasar mengenai jalan yang harus ditempuh dan kekuatan-kekuatan sosial yang dibutuhkan untuk melakukan perubahan. Sementara bagi Marx subjek revolusioner par excellence adalah sebuah kelas tertentu, proletariat pabrik, Bakunin memilih “kerumuman besar rakyat/great rabble of the people” yang disebut “lumpenproletariat,” yang “hampir tidak tercemar oleh peradaban borjuis, yang membawa serta dalam relung jiwa dan aspirasinya, dalam seluruh kebutuhan dan kesengsaraan kehidupan kolektifnya, seluruh bibit-bibit sosialisme masa depan.”[87] Marx sang komunis telah belajar bahwa transformasi sosial membutuhkan kondisi-kondisi sejarah yang khusus, sebuah organisasi yang efektif dan proses panjang pembentukan kesadaran kelas di antara massa; Bakunin sang anarkis yakin bahwa insting-insting dari masyarakat umum, yang disebut “kerumuman/rabble,” tidak saja “tak terkalahkan sebagaimana layaknya keadilan” tapi juga mencukupi pada dirinya sendiri “untuk merayakan dan membawa kemenangan bagi Revolusi Sosial.” [88]

Ketidaksepakatan lainnya berkaitan dengan instrumen untuk mencapai sosialisme. Banyak dari aktivitas militan Bakunin melibatkan pembangunan (atau berkhayal tentang pembangunan) “masyarakat rahasia” yang kecil, sebagian besar adalah kaum intelektual: sebuah “staf umum revolusioner yang terdiri dari individu-individu yang pintar, berdedikasi, dan energik, dan di atas segalanya adalah sahabat-sahabat rakyat yang tulus ikhlas,” [89] mereka yang akan mempersiapkan pemberontakan dan memanggul tugas-tugas revolusi. Marx, di lain pihak, percaya pada emansipasi diri kelas pekerja dan percaya bahwa masyarakat rahasia bertentangan dengan “pembangunan gerakan proletariat karena, ketimbang memimpin kelas pekerja, masyarakat ini menjadikan diri mereka sebagai subjek yang otoriter, yang membentengi independensi dirinya dengan hukum-hukum yang mistik dan menyalahgunakan kekuatan nalarnya.” [90] Pengungsi Rusia ini menentang seluruh tindakan politik yang dilakukan oleh kelas pekerja yang tidak secara langsung mempromosikan revolusi, sementara Marx sebagai seseorang yang tidak memiliki kewarganegaan dan tinggal menetap di London, tidak menghina mobilisasi bagi reformasi sosial dan tujuan-tujun terbatas, sementara secara absolut meyakini bahwa perjuangan kelas pekerja harus terus diperkuat untuk menghancurkan corak produksi kapitalis ketimbang menyatu ke dalam sistem itu.

Perbedaan ini tidak surut bahkan ketika revolusi telah selesai. Bagi Bakunin, “penghancuran negara (adalah) pra-kondisi atau kebutuhan mendesak bagi emansipasi ekonomi proletariat” [91]; bagi Marx, negara tidak mesti dan tidak harus melenyap sejak dari hari pertama hingga kemudian. Dalam tulisannya yang berjudulPolitical Indifferentism, yang terbit pertama kali dalam Almanacco Repubblicano pada Desember 1873, ia menantang hegemoni kelompok anarkis dalam gerakan buruh Italia dengan menegaskan bahwa

jika perjuangan politik kelas pekerja mengasumsikan bentuk-bentuk kekerasan dan jika rakyat pekerja mengganti kediktatoran kelas borjuis dengan kediktatoran revolusioner mereka, maka (menurut Bakunin) mereka salah karena telah melakukan tindak kriminal lèse-principe; jadi, guna memenuhi kebutuhan-kebutuhan duniawi mereka sehari-hari dan untuk menghancurkan perlawanan kelas borjuis, maka ketimbang meletakkan senjatanya dan menghancurkan negara, mereka malah memberikan negara sebuah bentuk sementara dan revolusioner. [92]

Namun demikian harus dimengerti bahwa Bakunin, di samping secara menjengkelkan menolak untuk membedakan antara kekuasaan proletarian dan borjuis, ia juga meramalkan beberapa bahaya dari apa yang disebut “periode transisi” antara sosialisme dan kapitalisme – khususnya bahaya membusuknya birokrasi setelah revolusi. Dalam karyanya yang tidak selesai The Knouto-Germanic Empire and the Social Revolution, yang ditulisnya antara 1870 dan 19871, ia menulis:
Tetapi dalam Negara Rakyatnya Marx, kita sebut saja begitu, tidak ada kelas yang diistimewakan. Semua adalah setara, tidak hanya dari sudut pandang politik dan hukum, tapi juga dari sudut pandang ekonomi… Dengan demikian tidak akan ada lagi kelas yang diistimewakan, tetapi tetap ada pemerintahan, dan, catat dengan baik, sebuah pemerintahan yang sangat kompleks, yang tugasnya bukanlah mengatur dan mengelola massa secara politik seperti yang seluruh pemerintahan hari ini lakukan, tetapi yang juga mengelola mereka secara ekonomi, dengan mengonsentrasikan ke dalam tangannya sendiri produksi dan pembagian secara adil kekayaan, pengolahan tanah, pendirian dan pengembangan pabrik-pabrik, organisasi dan pengaturan perdagangan, dan akhirnya penggunaan kapital dalam produksi melalui satu-satunya bankir, yaitu Negara… Ini akan diatur secara ilmiah, dengan sangat aristokratik, despotik, sombong, dan menghina semua rezim. Akan ada sebuah kelas baru, hirarki baru yang nyata dan ilmuwan-ilmuwan dan sarjana-sarjana yang palsu, dan dunia akan dibagi ke dalam minoritas penguasa atas nama pengetahuan dan pengabaian yang luar biasa terhadap mayoritas …. Seluruh negara, bahkan yang paling republikan dan paling demokratik … pada esensinya hanya mesin pengatur massa dari atas, melalui kalangan terdidik dan dengan demikian minoritas yang memperoleh keistimewaan, yang diduga mengetahui kepentingan sejati rakyat ketimbang rakyat itu sendiri.[93]

Sebagian karena pengetahuannya yang minim tentang ekonomi, jalan federalis yang diusulkan Bakunin tidak menawarkan petunjuk yang berguna tentang bagaimana masyarakat sosialis masa depan harus didekati. Tetapi wawasan kritisnya sudah mengantisipasi beberapa drama yang terjadi pada abad ke-20.

Kesimpulan
Internasional tidak akan pernah kembali sama. Organisasi besar yang lahir pada 1864, yang secara gemilang mendukung pemogokan-pemogokan dan perjuangan-perjuangan selama delapan tahun, dan yang mengadopsi program antikapitalis dan mendirikan cabang di seluruh negara Eropa, pada akhirnya bubar pada Kongres Hague. Namun demikian, dalam beberapa dekade kemudian, gerakan buruh mengadopsi program-program sosialis, meluas ke seluruh Eropa dan selanjutnya ke seluruh bagian dunia lainnya, dan membangun struktur-struktur baru sebagai wadah koordinasi supranasional. Melampaui keberlanjutan namanya (Internasional Kedua dari 1889-1916, Internasional Ketiga dari 1919-1943) setiap struktur ini secara berkelanjutan merujuk kepada nilai-nilai dan doktrin-doktrin Internasional Pertama. Dengan demikian, pesan-pesan revolusionernya terbukti tumbuh dengan suburnya, memproduksi hasil-hasil sepanjang waktu dengan lebih besar ketimbang yang pernah dicapai selama keberadaannya.

Internasional telah membantu kelas pekerja paham bahwa emansipasi kelas pekerja tak dapat dimenangkan di satu negara tetapi merupakan sebuah tujuan global. Ia juga menyebarkan kesadaran dalam kelas mereka sendiri bahwa mereka harus mencapai tujuan itu lewat kekuatan mereka sendiri, melalui kapasitas mereka sendiri dalam berorganisasi dibandingkan dengan mendelegasikannya ke kekuatan yang lain; dan itu – disinilah kontribusi teoritis Marx menjadi fundamental – adalah esensial untuk mengatasi corak produksi kapitalis dan upah buruh, karena perkembangan di dalam sistem yang ada, meskipun penting untuk diraih, tidak akan mengurangi ketergantungan pada oligarki para majikan/pemberi kerja.

Sebuah jurang memisahkan harapan pada saat ketidakpercayaan menjadi karakter yang melingkupi kita, spirit antisistemik dan solidaritas atas zaman Internasional dari subordinasi ideologi dan individualisme dunia yang dibentuk kembali oleh kompetisi neoliberal dan privatisasi. Hasrat politik sesama pekerja yang berkumpul di London pada 1864 sangat berbeda dengan ketidakacuhan dan kepasrahan yang lazim saat ini.

Namun, sebagaimana dunia kerja kini kembali ke dalam kondisi eksploitasi yang mirip dengan yang terjadi di abad ke 19, proyek Internasional telah sekali lagi mendapatkan relevansinya. Barbarisme saat ini atas “tatanan dunia,” bencana ekologi yang diproduksi oleh moda produksi masa kini, meningkatnya jurang pemisah antara segelintir penindas kaya dan mayoritas yang termiskinkan, penindasan perempuan, dan kencangnya angin peperangan, rasisme dan chauvinisme, mendesak gerakan buruh kontemporer untuk mengorganisir kembali dirinya dengan berbasis pada dua karakteristik kunci Internasional: keberagaman strukturnya dan radikalisme dalam tujuan-tujuannya. Tujuan organisasi yang didirikan di London 150 tahun yang lalu itu kini menjadi semakin penting dari sebelumnya. Meski demikian, untuk menjawab tantangan-tantangan masa kini, Internasional baru tak dapat mengelak dari dua syarat ini: ia haruslah plural dan harus anti kapitalis.***

Diterjemahkan oleh Coen Husain Pontoh dari naskah asli berjudul: Notes on the History of the International

References
1. Artikel ini berdasarkan pada “”Pengantar” untuk Marcello Musto (ed.), Workers Unite!: The International 150 Years Later (New York/London: Bloomsbury, 2014), sebuah antologi dari dokumen-dokumen kunci Internasional. Kutipan yang tertera di sini adalah GC dan PI yang merujuk pada Laporan resmi multi-volume yang diterbitkan di bawah judulGeneral Council of the First International and Première Internationale. Lihat catatan 1 dan 4 dari dokumen yang tercakup dalam edisi ini.
2. David Ryazanov, “Zur Geschichte der Ersten Internationale,” in Marx-Engels Archiv, vol. 1 (1925), 100.
3. Mendekati akhir hidup dari Internasional, dengan mempertimbangkan revisi status organisasi, anggota-anggota dari Dewan Umum (General Council/GC) mengajukan pertanyaan apakah “orang/persons” sebaiknya diganti dengan istilah “manusia/men.” Friedrich Engels memberikan respon bahwa “secara umum dipahami bahwa manusia secara asali telah mengadung pengertian dua jenis kelamin” dan karena itu asosiasi harus terbuka buat laki-laki dan perempuan, BC, V, 256.
4. Dikutip dari G. M. Stekloff, History of the First International, New York: Russell & Russell, 1968 [1928], ii.
5. Bdk Henry Collins and Chimen Abramsky, Karl Marx and the British Labour Movement, London: MacMillan, 1965, 34.
6. Johan Georg Eccarius kepada Karl Marx, 12 Oktober 1864, dalam Marx-Engels-Gesamtausgabe, vol. III/13, Berlin: Akademie, 2002, 10.
7. Marx kepada Engels, 4 4 November 1864, dalam Karl Marx – Friedrich Engels, Collected Works, 50 vol., 1975-2005, Moscow: Progress Publishers [henceforth MECW], vol. 42, 1987, 16.
8. Pada pertemuan pendirian Internasional, sebuah Komite Tetap mendapat tugas untuk mengorganisasir asosiasi. Komite tetap ini kemudian menjadi Dewan Sentral (Central Council), yang selanjutnya menjadi apa yang disebut Dewan Umum (General Council). Untuk selanjutnya, komite ini merujuk secara sederhana pada Dewan Umum.4 November 1864, in Karl Marx – Friedrich Engels, Collected Works, 50 vol., 1975-2005, Moscow: Progress Publishers [henceforth MECW], vol. 42, 1987, 16.
9. Lihat Oscar Testut, L’Association internationale des travailleurs, Lyon: Aimé Vingtrinier, 1870, 310.
10. The Times, 5 Juni 1871.
11. Lihat Julius Braunthal, History of the International, New York: Nelson, 1966 [1961], 116.
12. Collins and Abramsky, Karl Marx and the British Labour Movement, 70; Jacques D’Hondt, “Rapport de synthèse,” in Colloque International sur la première Internationale, La Première Internationale: l’institution, l’implantation, le rayonnement, Paris: Editions du Centre national de la recherche scientifique, 1968, 475.
13. Ibid., 289.
14. GC, I, 34-=351.
15. Musto, Workers Unite!, Document 2; juga, Karl Marx to Paul Lafargue, 19 April 1870, in MECW, vol. 43, 491: “Dewan Umum bukanlah Paus, jadi kami mengijinkan seluruh seksi untuk memiliki pandangan teoritisnya sendiri atas gerakan nyata, begitu seharusnya sejauh tidak ada tantangan langsung kepada Aturan-aturan kami ajukan.”
16. Lihat Georges Haupt, L’Internazionale socialista dalla Comune a Lenin, Turin: Einaudi, 1978, 78.
17. Collins and Abramsky, Karl Marx and the British Labour Movement, 65.
18. Musto, Workers Unite!, Document 2.
19. Ibid.
20. Jacques Freymond, “Introduction,” in PI, I, xi.
21. Various Authors, “Report of the [French] General Council,” 1 September 1869, in PI, II, 24.
22. Henri Collins, “The International and the British Labour Movement: Origin of the International in England” dalam Colloque International, La Première Internationale, 34.
23. Collins and Abramsky, Karl Marx and the British Labour Movement, 290-91.
24. Marx dalam kenyataannya selanjutnya tidak menghadiri congress, dengan pengecualian Kongress Hague (1872).
25. Musto, Workers Unite!, Document 49.
26. Ibid., Document 6.
27. Ibid., Document 32.
28. Freymond, “Introduction,” in PI, I, xiv.
29. Musto, Workers Unite!, Document 3.
30. PI, II, 74.
31. Mikhail Bakunin, “Programme of the Alliance [International Alliance of Socialist Democracy],” in Arthur Lehning (ed.), Michael Bakunin: Selected Writings, London: Jonathan Cape, 1973, 174. Terjemahan dalam buku ini tidak akurat dan menyesatkan. Dalam Fictitious Splits in the International (GC, V, 356-409), Marx dan Engels dikutip langsung dari dokumen asli Bakunin (“l’égalisation politique, économique et sociale des classes”).
32. Braunthal, History of the International, 173.
33. Freymond, “Introduction,” in PI, I, xix.
34. Jacques Rougerie, in “Les sections françaises de l’Association Internationale des Travailleurs,” in Colloque International sur la premieère Internationale, 111, spoke of “some tens of thousands.”
35. Jacques Freymond (ed.), Études et documents sur la Première Internationale en Suisse , Geneva: Droz, 1964, 295.
36. Ibid., x.
37. Musto, Workers Unite!, Document 54.
38. Arthur Lehning, ‘‘Introduction,” in Idem. (ed.), Bakunin – Archiv, vol. VI: Michel Bakounine sur la Guerre Franco-Allemande et la Révolution Sociale en France (1870-1871), Leiden: Brill, 1977, xvi.
39. Musto, Workers Unite!, Document 57.
40. Georges Haupt, Aspects of International Socialism 1871-1914, Cambridge: Cambridge University Press, 1986, 25, peringatan melawan “terbentuknya kembali realitas Komune agar membuatnya cocok dengan imaji yang berbeda karena ideologi.”
41. Karl Marx to Domela Nieuwenhuis, 22 February 1881, MECW, vol. 46, 66.
42. Karl Marx to Ludwig Kugelmann, 18 June 1871, in MECW, vol. 44, 157.
43. Collins and Abramsky, Karl Marx and the British Labour Movement, 222.
44. Lihat Haupt, L’internazionale socialista dalla Comune a Lenin, 28.
45. Ibid., 93-95.
46. Nello Rosselli, Mazzini e Bakunin, Turin: Einaudi, 1927, 323-24.
47. Giuseppe Garibaldi to Giorgio Pallavicino, 14 November 1871, in Enrico Emilio Ximenes, Epistolario di Giuseppe Garibaldi, vol. I, Milan: Brigola 1885, 350.
48. Karl Marx, 15 Agustus 1871, dalam GC, IV, 259.
49. Karl Marx, 17 September 1871, dalam PI, II, 152.
50. Miklós Molnár, Le déclin de la première internationale, Geneva: Droz, 1963, 127.
51. Musto, Workers Unite!, Document 74.
52. Pada awal 1870-an, gerakan kelas pekerja diorganisir sebagai sebuah partai politik hanya di Jerman. Penggunaan kata partai, baik oleh pengikut Marx atau Bakunin kemudian menjadi sangat membingungkan. Bahkan Marx memakai istilah itu lebih sebagai sinonim dengan kelas. Debat dalam Internasional antara 1871 dan 1872 tidak berfokus pada konstruksi sebuah partai politik (sebuah ekspresi yang hanya diutarakan dua kali di Konferensi London dan lima kali pada Kongres Hagus), namun lebih pada “penggunaan.. kata sifat ‘politis’” (Haupt, L’Internazionale socialista dalla Comune a Lenin, 84).
53. Jacques Freymond and Miklós Molnár, “The Rise and Fall of the First International,” dalam Milorad M. Drachkovitch, The Revolutionary Internationals, 1864-1943, Stanford: Stanford University Press, 1966, 27.
54. Berbagai penulis, “Circulaire du Congrès de Sonvilier,” in PI, II, 264-65.
55. Berbagai penulis, Risoluzione, programma e regolamento della federazione italiana dell’Associazione Internazionale dei Lavoratori , dalam Gian Mario Bravo, La Prima Internazionale, Rome: Editori Riuniti, 1978, 787.
56. Lihat Freymond and Molnár, “Rise and Fall of the First International” (note 53), 27-28.
57. Haupt, L’Internazionale socialista dalla Comune a Lenin, 88.
58. Lihat Karl Marx pada Ludwig Kugelmann, 29 July 1872, dalam MECW, vol. 44, 413, dimana ia mencatat bahwa kongres ini akan “menjadi sebuah masalah hidup dan mati untuk Internasional; dan sebelum aku berhenti aku ingin setidaknya melindunginya dari elemen-elemen yang merusak.”
59. Musto, Workers Unite!, Document 65.
60. Freymond, “Introduction,” dalam PI, I, x.
61. Musto, Workers Unite!, Document 69.
62. Karl Marx, 23 July 1872, in GC, V, 263.
63. Karl Marx, 20 September 1871, in PI, II, 195.
64. Musto, Workers Unite!, Document 56.
65. Lihat Haupt, L’Internazionale socialista dalla Comune a Lenin, 100.
66. PI, II, 374.
67. Ibid., 376.
68. Ibid., 377.
69. Ibid., 378.
70. Berbagai penulis, [“Statement of the Minority”], dalam Institute of Marxism-Leninism of the CC, C.P.S.U. (ed.) The Hague Congress of the First International, vol. 1: Minutes and Documents , Moscow: Progress, 1976, 199-200.
71. Friedrich Engels, 5 September 1872, dalam PI, II, 355.
72. Maltman Barry, “Report of the Fifth Annual General Congress of the International Working Men’s Association, Held at The Hague, Holland, September 2-9, 1872,” dalam Hans Gerth, The First International: Minutes of The Hague Congress of 1872, Madison: University of Wisconsin Press, 1958, 279-80. Laporan ini tidak muncul dalam The Hague Congress, vol. 1.
73. Friedrich Engels, 5 September 1872, in PI, II, 356.
74. Édouard Vaillant, Internationale et Révolution. A propos du Congrès de La Haye , in PI, III, 140.
75. Ibid., 142.
76. Ibid., 144.
77. Miklós Molnár, “Quelques remarques à propos de la crise de l’Internationale en 1872,” in Colloque International, La Première Internationale, 439.
78. Molnár, Le Déclin de la Première Internationale, 144.
79. Karl Marx, 22 September 1872, dalam PI, II, 217.
80. Mikhail Bakunin, “A Letter to the Editorial Board ofLa Liberté,” dalam Lehning (ed.), Michael Bakunin: Selected Writings, 236-37.
81. Musto, Workers Unite!, Document 76.
82. Ibid., Document 78.
83. Mikhail Bakunin, “The International and Karl Marx,” dalam Sam Dolgoff (ed.), Bakunin on Anarchy, New York: Alfred A. Knopf, 1971, 303.
84. Tentang penolakan Bakunin atas penaklukan negara oleh kelas pekerja diorganisir dalam sebuah partai politik, lihat Lehning, ‘‘Introduction” (note 38), cvii.
85. Lihat James Guillaume, L’Internationale, Documents et Souvenirs (1864-1878), vol. II, New York: Burt Franklin, 1969 [1907], 342.
86. Musto, Workers Unite!, Document 75.
87. Bakunin, “The International and Karl Marx” (note 83), 294.
88. Ibid., 294-95.
89. Mikhail Bakunin, “Programme and Purpose of the Revolutionary Organization of International Brothers,” dalam Lehning (ed.), Michael Bakunin: Selected Writings, 155.
90. Karl Marx, “Record of Marx’s speech on Secret Societies,” in MECW, vol. 22, 621.
91. Mikhail Bakunin, “Aux compagnons de la Fédération des sections internationales du Jura,” dalam Arthur Lehning et al. (eds.),Bakunin – Archiv, vol. II: Michel Bakounine et les Conflits dans l’Internationale, Leiden: Brill, 1965, 75
92. Karl Marx, “Political Indifferentism,” MECW, vol. 23, p. 393.
93. Mikhail Bakunin, Marxism, Freedom and the State, London: Freedom Press, 1950, 21 [terjemahan disunting].

Categories
Reviews

Arianto Sangaji, IndoProgress

SUATU ketika, Lenin mengatakan, adalah mustahil untuk memahami secara utuh karya Marx tentang Capital, khususnya bab pertama, tanpa melakukan studi dan pemahaman mendalam atas karya Hegel tentang Logic secara keseluruhan.

‘Konsekuensinya,’ demikian Lenin, ‘dalam setengah abad terakhir (di masa Lenin hidup), tak ada seorang pun Marxis yang memahami Marx.’

Menurut Martin Nicolaus – penerjemah karya Marx yang mendahului Capital, Grundrisse – pernyataan Lenin mengenai kesulitan membaca Capital itu, karena saat itu Grundrisse belum diterbitkan. Grundrisse sendiri lebih banyak berbicara tentang metode. Maka, menurut Nicolaus, dengan meminjam aforisme Lenin, untuk bisa memahami Capital yang tebalnya 4.000 halaman itu secara menyeluruh, kita pertama-tama mesti memahami dulu 800 halaman Grundrisse dan 1.000 halaman Logic. ‘Membaca Grundrisse dengan baik adalah cara terbaik untuk memahami Logic, dan selanjutnya untuk membaca Capital. Atau dengan kata lain, akan sangat sulit untuk bisa memahami relevansi keberadaan Logic bagi Capital tanpa pertama-tama membaca secara menyeluruh Grundrisse (Nicolaus, 1993:60). Padahal, membaca Grundrisse sendiri bukan pekerjaan mudah, apalagi membaca Logic-nya Hegel.

Beruntung sekali ketika memperingati 150 tahun terbitnya Grundrisse, sekelompok intelektual Marxis menuliskan catatannya tentang buku ini. Dengan dieditori filsuf muda yang sangat brilian, Marcello Musto, catatan-catatan tersebut terbit menjadi sebuah buku menarik yang diberi titel Karl Marx’s Grundrisse: Foundation of the critique of political economy 150 years . Buku ini berisi kumpulan tulisan yang terdiri dari 32 bab dengan 31 penulis. Mereka mengulas relevansi Grundrisse guna memahami Capital dan teori-teori Marx secara keseluruhan. Penyumbang tulisan adalah para ahli terkemuka di berbagai disiplin ilmu sosial, yang tidak asing bagi para pembaca yang mengikuti kajian Marxisme masa kini. Melalui buku ini, kita diberi peta dalam memahami kompleksitas Grundrisse.

***

Grundrisse adalah manuskrip-manuskrip yang pernah ditulis Marx, tetapi tidak pernah dipublikasi semasa hidupnya. Naskah ini ditulis antara Agustus 1857 dan Mei 1858, tiada lain adalah draf pendahuluan dari kritik Marx terhadap ekonomi politik dan karya persiapan utama untuk bukunya, Capital.

Ketika tengah menulis Grundrisse, disaat berbarengan Marx juga sedang sibuk-sibuknya menulis berbagai isu yang luas sehubungan krisis kapitalisme global saat itu. Sebagai koresponden harian New York Tribune, dia menulis lusinan artikel mengenai berbagai soal, terutama tentang perkembangan krisis di Eropa. Dalam rentang waktu yang sama, antara Oktober 1857 hingga Februari 1858, Marx melakukan kompilasi tiga buku yang lazim dikenal sebagai the Crisis Notebooks. Tidak seperti esktraksi buku-buku dari karya-karya para ekonom yang pernah dilakukan sebelumnya, di the Crisis Notebooks dia juga membuat catatan melimpah ruah tentang krisis, kecenderungan di pasar modal, fluktuasi perdagangan, dan kebangkrutan ekonomi yang sedang terjadi di Eropa, Amerika Serikat, dan belahan dunia lain.

Kendati Marx sudah menghabiskan waktu tidak sedikit untuk menuliskannya, Grundrisse tetap merupakan naskah yang belum untuk diterbitkan. Marx mengisyaratkannya ketika mengirim sepucuk surat kepada Ferdinand Lassale bahwa Grundrisse, yang ditulisnya dalam berbagai periode, dimaksudkan sebagai klarifikasi (metode dan konsep) untuk dirinya sendiri dan bukan dengan tujuan publikasi. Meskipun demikian, sebagian penulis, di antaranya Carol Gould (1978) menganggap Grundrisse sebagai karya Marx paling filosofis di antara tulisan-tulisannya yang lain, di mana konsep-konsep ontologi sosial Marx diformulasikan secara gamblang.

Apapun, di kemudian hari, Grundrisse menjadi salah satu sumber rujukan dalam kerja-kerja akademik. Hampir bisa dipastikan, semua karya-karya akademik dengan pendekatan Marxis, khususnya berkaitan dengan uang, kapital, krisis, dan metode ekonomi politik merujuk ke karya ini. Grundrisse juga jadi bacaan wajib di berbagai disiplin ilmu, dari ilmu lingkungan, filsafat, ekonomi, sejarah, politik, kesusasteraan, geografi, dan sebagainya, terutama pada mata pelajaran yang diasuh oleh para ahli yang mendedikasikan karier akademinya dengan pendekatan Marxisme.

***

Marcello Musto mengorganisir buku ini ke dalam tiga bagian. Pada bagian pertama berisi interpretasi-interpretasi atas topik-topik pokok yang ditulis Marx dalam Grundrisse. Musto sendiri menulis soal sejarah, produksi dan metode di dalam ‘Pengantar 1857.’ Joachim Bischoff dan Christoph Lieber mengulas teori nilai (value) dalam kehidupan ekonomi modern. Terrel Carver mendiskusikan keterasingan. Enrique Dussel membahas kategori nilai-lebih (surplus-value). Ellen Meiksins Wood mengkaji materialisme sejarah (historical materialism). John Bellamy Foster membicarakan kontradiksi ekologi dalam kapitalisme. Iring Fetscher mengurai kerangka masyarakat paska kapitalisme (sosialisme). Terakhir, Moishe Postone membandingkan antara Grundrisse dan Capital.

Ulasan pakar ekonomi politik Marxis Ellen Meiksins Wood, tentang materialisme sejarah di dalam Grundrisse, khusus di bagian yang berjudul ‘Forms which precede capitalist production,’ merupakan salah satu sumbangan menarik dari volume ini. Jika materialisme sejarah mengurai transisi dari satu corak produksi (mode of production) ke corak produksi yang lain, dalam ‘Forms which precede capitalist production’ Marx menaruh perhatian mengenai corak-corak produksi pra-kapitalis: Asiatik, klasikal, dan feodal. Wood melihat proses suksesi dari satu corak produksi ke yang lain berpangkal pada kontradiksi internal dari corak produksi yang ada (the existing mode of production), yakni pada aspek sistem hubungan-hubungan kepemilikan (system of social property relations ), bukan pada faktor eksternal. Pandangan ini tentu mengacu ke Marx yang menyatakan:

It must be kept in mind that the new forces of production and relations of production [i.e. mode of production] do not develop out of nothing, nor drop from the sky, nor from the womb of the self-positing Idea; but from within and in antithesis to the existing development of production and the inherited, traditional relations of property (1973: 278).

Harus senantiasa dicamkan bahwa kekuatan-kekuatan dan hubungan-hubungan produksi baru (yakni corak produksi), tidak berkembang dari ketiadaan, tidak jatuh dari langit, tidak juga dari rahim pergulatan gagasan; tapi dari dalam dan merupakan antitesis terhadap perkembangan produksi yang ada dan yang diwariskan, hubungan kepemilikan tradisional.

Pada tingkat kesejarahan, transisi dari feodalisme ke kapitalisme dipicu oleh kontradiksi internal dari feodalisme sendiri, bukan faktor eksternal, yakni ekspansi perdagangan, seperti yang dianut, misalnya, oleh ekonom Marxis AS terkemuka Paul M. Sweezy.[1] Dalam pandangan Wood, setiap tahap kesejarahan produksi tertentu selalu ditandai dengan hubungan penghisapan oleh kelas yang mengeruk surplus kerja dari kelas produsen langsung. Penghisapan ini berlangsung dalam sistem hubungan kepemilikan tertentu. Baik kelas produsen langsung maupun kelas yang menghisap surplus kerja mereka, selalu berjuang untuk memenuhi kondisi-kondisi yang memungkinkan mereka melakukan reproduksi sehingga menjamin kesinambungan kehidupan mereka. Upaya masing-masing kelas memenuhi kondisi-kondisi inilah yang mendorong transisi dari satu corak produksi ke corak produksi yang lain.

Bagian kedua buku ini berisi tiga tulisan yang mencoba melukiskan kembali konteks biografi dan teori di mana Marx menulis manuskrip-manuskrip ini. Tulisan pertama disumbang sendiri oleh Musto ‘Marx’s life at the time of the Grundrisse: Biographical notes on 1857-8,’ dan dua tulisan dari Michael R. Kratke, masing-masing: ‘The First World economic crisis: Marx as an economic journalist’ dan ‘Marx’s ‘books of crisis’ of 1857-8.’ Paling menarik dari tulisan-tulisan Kratke, yang menggambarkan konteks dari kelahiran Grundrisse, yakni ketika Marx menulis tentang krisis ekonomi. Bagi Marx, krisis ekonomi menjadi salah satu pusat perhatiannya di dalam kerangka kritiknya terhadap kapitalisme.

Relevansinya bagi kita yang hidup di jaman sekarang, bahwa 150 tahun setelah Grundrisse, krisis kapitalisme kembali terjadi di permukaan bumi, dengan pusat goyangan yang sama: New York. Lebih 150 tahun lalu, krisis bermula dari bangkrutnya Ohio Company di New York, menjalar ke seluruh penjuru Amerika Serikat (AS), lantas meluas ke dunia, khsususnya di Inggris, pusat kapitalisme saat itu, di mana Marx hidup bersama keluarganya, dengan memperoleh upah dua poundsterling dari setiap artikelnya tentang krisis yang dimuat di New York Tribune. 150 tahun kemudian, krisis kembali berulang, dimulai dari New York, menyebar ke seluruh penjuru Amerika Serikat, dan kemudian menghajar belahan dunia yang lain (lihat Dumenil, G., and Levy, D., 2011).

Dari kisah mengenai krisis ini, buku ini memberikan beberapa pelajaran penting. Pertama, Kratke memberikan gambaran kepada pembaca bahwa tulisan-tulisan yang muncul di New York Tribune pada zaman itu dan Notebooks yang Marx kerjakan selama bertahun-tahun sejak awal 1850an, menunjukkan ketelitian Marx akan fakta. Marx, misalnya, mencatat secara deskriptif momen-momen krisis dari hari ke hari atau berdasarkan fakta dan cerita yang muncul setiap harinya. Kedua, ketika peristiwa hari-hari itu muncul di dalam Grundrisse, kita menyaksikan Marx mengonseptualisasi krisis secara abstrak berdasarkan penjelasan rasional. Misalnya, dalam bab tentang ‘Money,’ Marx menggambarkan teorinya tentang uang dan menganalisa siklus krisis-krisis moneter yang pernah terjadi. Di bab tentang ‘Capital,’ dia menyatakan bahwa krisis dalam kapitalisme sebagai sesuatu yang siklikal serta pengulangan krisis selalu meningkat dalam skala dan pada gilirannya bermuara pada penghancuran sistem ini. Ketiga, tulisannya tentang krisis, oleh karena itu, merupakan contoh sempurna untuk melihat bagaimana metode ilmiah diterapkan dalam studi-studi Marxisme. Cerita tentang krisis dari pelajaran hari-hari dan teorinya yang abstrak tentang krisis, menggambarkan pendekatan metodologis dalam studi-studi Marxisme. Musto dalam artikel di bagian pertama buku ini mengurai bagaimana metode ekonomi politik ini digunakan Marx.

Sebagai peringatan 150 tahun Grundrisse, bagian ketiga buku berisi semacam tulisan mengenai penerbitan Grundrisse ke dalam berbagai bahasa setelah edisi Jerman buku ini terbit pertama kali pada tahun 1939-41. Akhir tahun 1950an, Grundrisse mulai diterbitkan secara lengkap, setelah sebelumnya, secara terpisah, naskah-naskah itu pernah diterbitkan. Edisi lengkap dalam bahasa asing pertama kali terbit dalam bahasa Jepang (1958), kemudian Cina (1962), Perancis (1967), Rusia (1968), Italia (1968), Spanyol (1970), Inggris (1973), Serbia (1979), Parsi (1985) Yunani (1989), Turki (1999), Korea (2000), dan Portugis (2008). Musto mencatat publikasi terjemahan Grundrisse ke dalam aneka bahasa saat ini mencapai lebih dari 500 ribu kopi. Sesuatu yang kemungkinan mengejutkan bagi Marx sendiri, yang sebenarnya hanya bermaksud membuat catatan-catatan ringkas tentang ide-ide utamanya soal kapitalisme.

***

Sayang, seperti umumnya karya-karya Marx yang lain, Grundrisse belum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Akibatnya, animo publik yang luas akan karya-karya Marx menjadi terkendala. Tidak itu saja, karya-karya sarjana Marxis kontemporer, sebagaimana buku ini, juga sulit diakses oleh pembaca luas dan peminat kajian Marxisme di Indonesia.

Kondisi itu diperburuk dengan tidak diajarkannya Marxisme secara sistematis dan mendalam di perguruan-perguruan tinggi karena warisan penghancuran kiri yang sangat dahsyat. Bahkan, Marxisme sendiri tampaknya sangat asing di kalangan ‘Indonesianists,’ yakni para ahli tentang Indonesia, yang memproduksi pengetahuan mengenai Indonesia. Faktanya, studi-studi mengenai Indonesia, terutama semenjak Orde Baru bertahta, sepenuhnya didominasi oleh pendekatan-pendekatan non-Marxis.

Bagi saya ini ironis. Marxisme sebagai sebuah mazhab pemikiran yang berkontribusi tidak sedikit dalam perjuangan menentang kolonialisme dan imperialisme, kini menjadi terasing di negeri di mana pemikiran itu pernah sangat subur.

Kepustakaan:

Dumenil, G., and Levy, D. (2011). The Crisis of Neoliberalism. Cambridge, Massachusetts, London: Harvard University Press.

Gould, C.C. (1978). Marx’s Social Ontology: Individuality and community in Marx’s theory of social reality . Cambridge, Massachusetts, London: MIT Press.

Hilton, R.H. et.al. (1978). The Transition from Feudalism to Capitalism. London: Verso.

Marx, K. (1973). Grundrisse: Foundations of the critique of political economy (rough draft) . Translated with a foreword by Martin Nicolaus. New York, London: Penguin Books.

Marx, K. (1965). Pre-capitalist economic formation (with an introduction by Eric J. Hobsbawm). New York: International Publishers.

McLellan, D. (1971). Marx’s Grundrisse. London, Basingstoke: Macmillan.

Musto, M. (2008). Karl Marx’s Grundrisse: Foundations of the critique of political economy 150 years later . London, New York: Routledge.

[1] Dalam debat di antara ilmuwan Marxis soal transisi dari feodalisme ke kapitalisme di Eropa, yang terkenal dengan nama ‘transition debate,’ Sweezy menganggap bahwa motor yang menggerakkan transisi itu adalah faktor eksternal, yakni perdagangan. Sebaliknya, ekonom Maurice Dobb menganggap bahwa motor penggerak adalah faktor internal, yakni kontradiksi di dalam feodalisme sendiri. Lihat Hilton, R.H. et.al. (1978).

Categories
Journalism

Penyebaran dan Penerimaan Manifesto Komunis di Italia: Dari Asal hingga 1945

Berbeda dari perkiraan yang menyebutkan bahwa setelah 1989 Karl Marx akan terlupakan, Marx justru kembali menjadi perhatian para akademisi di dunia.
Seratus enampuluh tahun setelah ditulis, Manifesto Komunis kembali dirayakan sebagai teks dengan prediksi dahsyat tentang perkembangan kaum kapitalis dalam skala dunia. Artikel ini mempertimbangkan bagaimana tulisan Marx dan Engels diterjemahkan dan diterima di Italia, dari pertama kali terbit pada tahun 1889 sampai 1945, dan lebih luas lagi, mengeksplorasi interpretasi keliru dari keberadaan karya-karya Marx di Italia.
Dari pengamatan jarak dekat terhadap pers gerakan pekerja yang baru didirikan dan tulisan-tulisan kaum sosialis awal, ditemukan bukti pemalsuan dan termiskinkannya Marxisme. Esai-esai Antonio Labriola mengenai Sejarah Konsepsi Materialis, yang diterbitkan antara 1895 dan 1897, adalah satu-satunya karya di Italia yang menyuguhkan interpretasi yang teliti yang mampu mengukur/memiliki sifat tingkatan Eropa dalam Marxisme. Melalui rekonstruksi historiografi atas karya terjemahan dan perkembangan interpretasi dari Manifesto Komunis-nya Marx dan Engels, artikel ini memperdebatkan ‘krisis Marxisme’ di akhir abad ke 19 di mana Benedetto Croce adalah figur terpenting, pembatasan penyebaran teori-teori Marx dalam Partai Sosialis Italia, perjuangan antara kaum reformis dan serikat buruh revolusioner dan revisionis di awal abad ke 20 dan represi fasisme selama 20 tahun.

Prolog
Berhutang pada kejadian-kejadian politik dan perselisihan teoritis, ketertarikan pada karya Marx tak pernah berlangsung secara konsisten dan telah mengalami periode penolakan yang tak terbantahkan. Dari krisis Marxisme, hingga pembubaran International Kedua, dari diskusi tentang keterbatasan teori nilai lebih ke tragedi komunisme Soviet, kritisisme ide-ide Marx selalu tampak terarah melampaui konsepsi cakrawala Marxisme. Namun demikian, tetap terus ada sebuah “kepulangan pada Marx.” Sebuah kebutuhan baru berkembang yang mengacu pada karyanya, entah itu berupa kritik ekonomi politik atau perumusan alienasi atau halaman-halaman yang cerdas berisi polemik politis, yang kemudian berlanjut menjadi sebuah daya tarik yang begitu kuat, baik untuk pengikut maupun penyanggahnya. Diumumkan mati pada akhir abad ke 20, Marx tiba-tiba hadir kembali dalam panggung sejarah; ada ketertarikan yang kembali hidup pada pemikirannya, dan orang lalu kembali rajin mendatangi buku-bukunya di banyak perpustakaan di Eropa, Amerika, dan Jepang.

Penemuan dan pembelajaran kembali Marx, [1] didasarkan pada kemampuan dahsyatnya yang konsisten untuk menjelaskan apa yang terjadi di masa sekarang; tentu saja, pemikirannya tetap tinggal sebagai sebuah alat yang tak bisa dibuang untuk memahami dan mentranformasikannya. Di hadapan krisis masyarakat kapitalis dan kontradiksi nyata yang menghadangnya, si penulis (baca: Marx) yang telah secara terburu-buru disingkirkan setelah 1989 ini, sekali lagi menyedot perhatian dan kembali dipertanyakan. Seperti yang ditegaskan Jacques Derrida, “adalah sebuah kesalahan untuk tidak membaca dan kembali membaca dan mendiskusikan Marx” [2] – yang cuma beberapa tahun lalu tampak sebagai provokasi usang dan terisolasi – sebuah pernyataan yang terus mendapatkan persetujuan.

Sejak akhir tahun 1990, koran, terbitan berkala, program radio dan televisi telah berulang kali mendiskusikan Marx sebagai sosok pemikir yang paling relevan saat ini. Artikel pertama yang mengatakan ini dan memiliki daya getar yang abadi adalah “Kembalinya Karl Marx” (The Return of Karl Marx”), yang diterbitkan oleh majalah bergengi di Amerika Serikat, The New Yorker. [3]Kemudian giliran BBC yang menganugerahkan mahkota padanya sebagai pemikir terbesar milenium ini. Beberapa tahun setelahnya, mingguan Nouvel Observateur mengabdikan satu isu penuh bertema Karl Marx- Pemikir Milenium Ketiga? (Karl Marx-le penseur du troisieme millenaire?) [4] Tak lama kemudian, Jerman memberi penghargaan pada sosok yang pernah dipaksa hidup dalam pengasingan selama 40 tahun; pada 2004, lebih dari 500 ribu penonton stasiun televisi nasional ZDF memilih Marx sebagai pribadi ketiga terpenting Jerman sepanjang masa (Marx masuk pertama pada jajaran ‘relevansi kontemporer’), dan selama pemilihan umum terakhir, majalah Der Spiegel menaruh gambarnya di sampul depan, dengan tanda kemenangan, dibawah judul Ein Gespenst kehrt zuruck atau Hantu yang Kembali.[5]Melengkapi semua itu, sebuah polling yang diadakan pada 2005 oleh stasiun radio BBC4menempatkan Marx pada posisi terhormat, filsuf yang paling dikagumi oleh para pendengarnya.

Lebih jauh lagi, kepustakaan yang berkaitan dengan Marx yang sudah mengering 15 tahun lalu, kembali menunjukkan tanda-tanda kebangkitan di berbagai negara, baik dalam bentuk formulasi ilmu-ilmu baru maupun dalam booklet dalam berbagai bahasa dengan judul, sepertiMengapa Baca Marx Hari Ini? Demikian juga dengan jurnal-jurnal yang pada akhirnya kembali membuka diri menerima kontribusi tentang Marx dan Marxisme, sebagaimana yang bisa kita lihat sekarang dalam beragam konferensi internasional, berbagai kursus dan seminar di universitas yang mengambil tema tersebut. Pada akhirnya, biarpun masih malu-malu dan sering membingungkan, sebuah minat dan permintaan baru mengenai Marx telah membuatnya kembali bergema dalam kancah politik – dari Amerika Latin hingga Eropa, melalui gerakan globalisasi alternatif.

Sekali lagi, dari seluruh teks karya Marx, satu yang tak terbantahkan dan menjadi perhatian terbesar dari para pembaca dan komentatornya adalah Manifesto Partai Komunis. Edisi baru yang menyoal karya besar ini telah tercetak lusinan di setiap pojok planet, bahkan setelah 1989, dan dirayakan tak hanya sebagai sejarah dalam teks politis yang paling banyak dibaca, namun juga sebagai analisa dari kecenderungan kapitalisme yang paling tepat meramal masa depan. [6] Atas alasan inilah, pada perayaan penyusunannya (disusun 1848) yang ke 160, barangkali menjadi sebuah hal penting untuk melacak kembali pergantian arah dari penyebaran awalnya di satu dari sekian negara dimana karya ini mengalami kesuksesannya yang terbesar: Italia.

Karl Marx: Kesalahpahaman Italia
Di Italia, teori-teori Marx telah menikmati popularitas luar biasa. Partai-partai, serikat-serikat buruh, dan gerakan-gerakan sosial, telah terinspirasi dengan teori-teori ini yang kemudian mengubah kehidupan politik nasional jauh melebihi teori-teori lainnya. Teori Marx telah mengubah arah dan kosakata yang tersebar di setiap bidang ilmu dan kebudayaan. Teori-teori Marx juga terus menjadi alat teoritis utama dalam proses emansipasi jutaan laki-laki dan perempuan yang menyumbang pada kesadaran diri baru pada alam bawah sadar mereka.

Level penyebaran teori Marx di Italia memiliki banyak persamaan dengan beberapa negara lain. Untuk itu, adalah esensial untuk menyelidiki apa penyebabnya. Kapan orang bicara pertama kalinya tentang ‘Carlo Marx’? Kapan namanya muncul dalam jurnal-jurnal di antara berbagai karya terjemahan pertama? Kapan reputasinya tersebar dalam imajinasi kolektif para militan dan pekerja sosialis? Dan, di atas semua itu, dalam jalan yang mana dan situasi seperti apa pemikirannya terbangun dan hadir di Italia?

Terjemahan pertama-tama tentang Marx – figur yang asing selama pergolakan revolusioner pada 1848 – muncul pada akhir pertengahan 1860an. Tetapi yang muncul hanya sedikit dan punya rentang yang panjang satu sama lainnya, dan hanya berkaitan dengan ‘Petisi’ dan ‘Undang-Undang’ dari Asosiasi Pekerja Internasional (International Working Men’s Association). Keterlambatan kehadiran ini, sebagiannya karena kurangnya persentuhan Marx dan Engels dengan Italia, sebab mereka tak memiliki korespondensi di sana sampai tahun 1860 dan tak punya hubungan politik sampai tahun 1870, meskipun mereka amat sangat tertarik dengan sejarah, budaya, dan kenyataan kontemporernya.

Mula pertama ketertarikan pada figur Marx muncul dalam kaitannya dengan pengalaman revolusioner Komune Paris (Paris Commune). Hanya dalam hitungan beberapa minggu, media nasional, sebagaimana halnya surat kabar kelas pekerja yang tak terhitung jumlahnya, menerbitkan sketsa biografis “penemu dan pemimpin umum dari Internasional”[7] beserta kutipan surat- surat dan resolusi-resolusi politik (termasuk perang sipil di Prancis). Bahkan pada saat itu, daftar tulisan yang diterbitkan – yang mana, bersama dengan karya-karya milik Engels, telah mencapai total 85 tulisan dalam jangka waktu setahun saja, yaitu 1871-1872- dan secara eksklusif terfokus pada dokumen dari Internasional; perhatian utamanya awalnya politis dan hanya sesudahnya menjadi teoritis. [8] Beberapa koran juga menerbitkan deskripsi fantasi yang menggambarkan Marx dengan aura yang mistis: “Karl Marx adalah sosok yang cerdas dan pemberani dalam menghadapi setiap ujian dan cobaan. Perjalanannya dari satu negara ke negara lainnya, seringkali dengan cara menyamar, membuatnya bisa menyelamatkan dirinya dari pengamatan seluruh polisi rahasia di Eropa.” [9]

Otoritas yang mulai mengelilingi namanya sungguhlah besar dan tak terbatas. [10] Karena itu dalam periode ini, buku-buku propaganda menyebarkan gambar Marx – atau yang mereka anggap sebagai Marx – bersamaan dengan Charles Darwin dan Herbert Spencer. [11]Pemikirannya dianggap sealiran dengan legalisme atau positivisme. [12] Ia kemudian disejajarkan dengan mereka yang secara teori bertolak belakang dengannya, seperti Fourier, Mazzini, dan Bastiat. Atau, di bermacam kesalahpahaman lain, ketokohannya dibandingkan dengan Garibaldi[13] atau Schaffle. [14]

Tak ada satupun dari kenalan sambil lalu dengan Marx ini, yang secara politik menyuarakan hal yang sama dengan dirinya. Pendukung Internasional dari Italia memihak nyaris terang-terangan pada Bakunin yang melawan Marx, yang rumusan-rumusannya secara hakekat tetap tak diketahui, dan konflik di dalam Internasional lebih dilihat sebagai perselisihan pribadi antara dua orang ketimbang sebagai sebuah kontestasi teoritis. [15]

Adalah gampang bagi ide-ide anarkis untuk melakukan hegemoni pada dekade berikutnya, di sebuah negara yang ditandai dengan absennya kapitalisme industri modern, kepadatan rendah populasi pekerja, dan tradisi konspirasi yang hidup dan terikat dengan revolusi yang baru saja terjadi. Maka dari itu, analisa teoritis Marx hanya perlahan-lahan menegas di kalangan gerakan pekerja. Uniknya, analisa-analisa ini menjadi populer pertama kali justru melalui para anarkis, yang secara utuh membagikan teori-teori perjuangan kelas dan emansipasi diri para pekerja yang terdapat pada “Undang-Undang” dan “Petisi” pada Internasional. Dalam cara ini, mereka melanjutkan mencetak Marx, sering dalam bentuk polemik dengan revolusi secara verbal tetapi pada prakteknya adalah legalistik dan sosialisme yang revisionis.

Inisiatif paling penting, terutama adalah publikasi pada 1879, yaitu ringkasan dari volume pertama Capital, disusun oleh Carlo Cafiero. Inilah pertama kalinya konsep teoritis Marx yang utama mulai tersebar di Italia, dalam bentuk yang mulai populer.

Tahun 1880an dan ‘Marxisme’ Tanpa Marx
Tulisan-tulisan Marx tidak diterjemahkan pada 1880an. Dengan pengecualian dari beberapa artikel media sosialis, tulisan yang muncul hanyalah dua karya dari Engels (Socialism, Utopian and Scientific pada 1883 dan The Origins of the Family, Private Property and the State pada 1885); dan ini pun hanya pada edisi-edisi yang kecil, tak tersentuh dari kerja-kerja penuh bakti dan keras kepala dari sosialis macam Benevento, Pasquale Martignetti. Di sisi lain, para elit akademis, politis dan budaya mulai tertarik pada Marx, biarpun lebih sedikit mereka yang ada di Jerman. Melalui inisiatif para penerbit dan akademisi terkemuka, Biblioteca dell’Economistayang sangat prestisius – yang mana telah Marx konsultasikan beberapa kali pada penelitiannya di British Museum – terbitlah volume pertama Capital secara berseri antara 1882 dan 1884, dan kemudian satu volume sendiri pada 1886. Satu indikasi kekosongan gerakan sosialis Italia, bahwa inisiatif dari Biblioteca dell’Economista ini – satu-satunya karya terjemahan setelah Perang Dunia Kedua – diketahui oleh Marx hanya dua bulan sebelum ia meninggal – dan oleh Engels pada tahun 1893!

Dari berbagai keterbatasan seperti yang telah diutarakan di atas, “Marxisme” memang mulai menyebar selama periode ini. Namun, karena sedikitnya terjemahan Marx dan sulitnya melacak kembali terjemahan ini, penyebarannya hampir tak pernah bersinggungan langsung dengan sumber-sumber aslinya, selain melalui referensi-referensi tak langsung, kutipan-kutipan dari tangan kedua, atau ringkasan-ringkasan yang secara ceroboh disusun dan diterbitkan oleh para pengikut kelas dua atau yang seolah-olah seperti penerusnya. [16]

Penyerapan budaya yang sesungguhnya berkembang selama tahun-tahun ini, melibatkan tak hanya konsepsi sosialisme yang beragam hadir di Italia namun juga ideologi-ideologi yang tak punya hubungan sama sekali dengan sosialisme. Para peneliti, penghasut politik dan jurnalis menciptakan campuran mereka sendiri dengan menyilangkan sosialisme dengan seluruh ragam ide-ide teoritis untuk mereka pergunakan sendiri. [17] Dan jika ‘Marxisme’ secara cepat menegaskan dirinya sendiri di atas doktrin-doktrin yang lain, sebagiannya disebabkan karena kurangnya sosialisme Italia yang asli, dan hasil dari homogenisasi budaya ini adalah lahirnya Marxisme yang cacat dan miskin. Sebuah Marxisme tempelan. Sebuah Marxisme tanpa Marx, mengingat kaum sosialis Italia yang telah membaca teks asli bisa dihitung dengan jari dari satu tangan saja. [18]

Biarpun mendasar dan tak murni, determinis, dan terikat secara fungsional pada situasi politik masa itu, “Marxisme” jenis ini masih tetap dapat memberikan sebuah identitas pada gerakan buruh, menyatakan dirinya sendiri dalam Partito dei Lavoratori Italiani (Partai Pekerja Italia) yang didirikan tahun 1892, dan kemudian membangun sebuah hegemoni di dalam budaya dan pengetahuan Italia.

Sementara pada Manifesto Partai Komunis, masih tak ada jejak terhadapnya sampai dengan akhir 1880an. Meski demikian, bersama dengan penafsir utama Manifesto, Antonio Labriola, hal ini telah memainkan peranan penting dalam mengakhiri pemalsuan Marxisme yang telah mencirikan situasi di Italia. Sebelum menuju ke sana, ada baiknya kita mundur sejenak.

Edisi Pertama Manifesto di Italia
Kata pengantar asli pada Manifesto Partai Komunis di tahun 1848 mengatakan bahwa manifesto tersebut akan diterbitkan ke dalam bahasa “Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Belanda dan Denmark.” [19] Kenyataannya, ambisi yang ingin dicapai itu tak terpenuhi. Atau, dalam bahasa yang lebih tepat, Manifesto menjadi satu dari sekian teks yang paling luas tersebar dalam sejarah kemanusiaan, namun tak sesuai dengan rencana kedua penulisnya.

Percobaan pertama untuk “menerjemahkan Manifesto dalam bahasa Italia dan Spanyol” dikerjakan di Paris oleh Hermann Ewerbeck, seorang anggota terkemuka dari Liga Komunis di ibukota Prancis. [20] Namun begitu, biarpun ada kekeliruan referensi pada karya Marx beberapa tahun setelahnya di Herr Vogt edisi Italia, proyek ini tak pernah terwujud. [21] Satu-satunya terjemahan yang terencana, yang akhirnya bisa diselesaikan adalah versi bahasa Inggris di tahun 1850, yang sebelumnya telah didahului dengan versi Swedia pada 1848. Selanjutnya, mengikuti dampak kekalahan revolusi pada 1848-1849, Manifesto tenggelam dan terlupakan. Edisi terbaru hanyalah dalam bahasa Jerman (dua di tahun 1850an dan tiga di tahun 1860an), dan setelahnya harus menunggu 20 tahun untuk munculnya sebuah terjemahan baru. Versi Rusia muncul ke dalam cetakan pada 1869 dan Serbia pada 1871, sementara edisi Amerika muncul di New York pada 1871 dan terjemahan Prancis muncul pertama kali pada 1872 bersamaan dengan terjemahan pertama bahasa Spanyol. Edisi Portugis menyusul tahun berikutnya. [22]

Pada masa ini, Manifesto masih belum dikenal di Italia. Paparan singkat pertama, terdiri atas ringkasan dan kutipan, pertama kali muncul pada 1875, dalam karya Vito Cusumano Le scuole economiche della Germania in rapporto alla questione sociale [Pelajaran Ekonomi Jerman dengan mempertimbangkan Pertanyaan Sosial]. Di sini kita baca bahwa, “dari sudut pandang kaum proletar, program ini sama pentingnya dengan Declaration des droits des homme untuk kaum borjuis: ini adalah satu dari sekian kejadian paling penting dari abad kesembilan belas, satu dari mereka yang mencirikan sebuah kurun waktu, memberikannya nama dan arah.”[23]Ada beberapa referensi pada Manifesto di tahun-tahun berikutnya – meskipun pada 1883 ini dikutip dalam beberapa artikel yang melaporkan kematian Marx. Lembaran informasi kaum sosialis La Plebe menyebutnya sebagai ‘dokumen fundamental dari sosialisme kontemporer… sebuah simbol dari mayoritas kaum proletar sosialis di Barat dan Utara Amerika’ [24] Harian milik kaum borjuis Gazetta Piemontese, dalam satu bagiannya, mengetengahkan Marx sebagai penulis ‘Manifesto Komunis yang terkenal, yang menjadi bendera bagi sosialisme militan, kitab tanya jawab yang diperebutkan, wahyu di mana para pekerja Jerman dan mayoritas pekerja Inggris memberikan suaranya, bersumpah, dan berjuang.’[25] Meski sedemikian apresiasi yang diberikan, tetaplah penting untuk menunggu edisi Italia-nya.

Pada tahun 1885, setelah menerima salinan Manifesto dari Engels, Martignetti menyelesaikan terjemahannya- tetapi karena kekurangan uang terjemahan ini urung diterbitkan. Terjemahan pertama akhirnya muncul, 40 tahun kemudian pada 1889, yang mana pada saat itu sudah ada 21 edisi Jerman, 12 edisi Rusia, 11 edisi Prancis, delapan edisi Inggris, empat edisi Spanyol, tiga edisi Denmark (yang pertama di tahun 1884), dua dalam versi Swedia, dan satu edisi masing-masing untuk versi Portugis, Czech (1882), Polandia (1883), Norwegia (1886) dan Yahudi (1889). Teks Italia dicetak dengan judul Manifesto dei socialisti redatto da Marx e Engels [Manifesto kaum Sosialis, Ditulis oleh Marx dan Engels], dalam sepuluh seri antara Agustus dan November di naskah demokratik Cremona, L’Eco del popolo. Tetapi kualitas dari versi ini amatlah buruk; kata pengantar dari Marx dan Engels hilang, begitu juga dengan bagian ketiga (‘Pustaka Sosialis dan Komunis’), dan beberapa bagian lain yang kalau tidak dihilangkan, hadir dalam bentuk ringkasan. Terjemahan Leonida Bissolati, yang menggunakan edisi Jerman tahun 1883 namun juga mengambil versi Prancis terjemahan Laura Lafargue, menyederhanakan pernyataan-pernyataan yang paling kompleks. Secara umum, terjemahan yang dilakukan ini bukanlah sebuah terjemahan melainkan popularisasi teks, dengan hanya beberapa bagian yang benar-benar diterjemahkan ke dalam bahasa Italia. [26]

Edisi kedua Italia, dan yang pertama muncul dalam bentuk brosur, muncull pada tahun 1891. Terjemahannya (berdasarkan versi Prancis dari Le Socialiste yang diterbitkan di Paris pada tahun 1885) dan kata pengantarnya ditulis oleh seorang anarkis, Pietro Gori. Namun teksnya tak memiliki pembukaan dengan banyak kesalahan yang fatal. Penerbitnya, Flaminio Fantuzzi, yang juga dekat dengan posisi anarkis, menampilkan Engels secara fait accompli, dan Engels, dalam suratnya untuk Martignetti, menyatakan rasa terganggunya pada ‘kata-kata pembukaan oleh karakter tak jelas dari sosok bernama Gori.’ [27]

Terjemahan Italia ketiga keluar pada 1892, sebagai pelengkap majalah Milan Lotta di classe.Menyebut diri sendiri sebagai ‘yang pertama dan satu-satunya terjemahan Manifesto yang bukan berupa pengkhianatan,’ [28] terjemahan ini berdasarkan pada edisi Jerman-nya Pompeo Bettini pada tahun 1883. Toh demikian, terjemahan ini tak bebas dari kesalahan dan penyederhanaan beberapa bagian, namun ia lebih bagus dari versi yang lain dan diterbitkan beberapa kali selama beberapa tahun hingga 1926; ia kemudian memulai proses pembentukan istilah Marxist di Italia. Pada tahun 1893, terjemahan ini muncul sebagai brosur dalam bentuk ribuan salinan, dengan beberapa koreksi dan pengembangan gaya, juga satu indikasi bahwa ‘versi lengkap [telah] dibuat atas dasar edisi kelima Jerman (Berlin 1891).’ [29]Pada 1896, terjemahan ini dicetak kembali sebanyak 2000 kopi. Teksnya berisi kata pengantar dari tahun 1872, 1883, dan 1890 yang diterjemahkan oleh Filippo Turati, direktur Critica Sociale(saat itu adalah jurnal utama sosialisme Italia), juga berisi ‘Kepada para pembaca Italia’ yang ia dapatkan dari Engels, sehingga bisa dibedakan dari versi-versi sebelumnya. Kata pengantar versi Italia ini adalah yang terakhir yang ditulis oleh salah satu dari dua penulis Manifesto.

Dua edisi lebih jauh muncul tahun-tahun berikutnya, jelas-jelas didasari dari versi Bettini, meski tak menyebutkan penerjemahnya. Yang pertama, yang tak punya kata pengantar dan bagian ketiga, didisain untuk membuat Manifesto tersedia dalam bentuk populer yang murah. Ia muncul dalam Diano Marina (in Liguria) sebanyak 8000 kopi yang dipromosikan oleh jurnalEra Nuova pada 1 Mei 1897. Yang kedua, murni menanggalkan kata pengantarnya, terbit di Florence pada 1901 di perusahaan percetakan Nerbini.

Manifesto Antara akhir Abad ke 19 dan Periode Fasis
Pada tahun 1890, penyebaran tulisan-tulisan Marx dan Engels mengalami kemajuan yang cukup besar. Bergabungnya struktur-struktur editorial yang kemudian menjadi Partito Socialista Italiano (Partai Sosialis Italia), bersama dengan karya berbagai jurnal dan penerbitan kecil serta kerjasama Engels dengan Critica Sociale, adalah kondisi-kondisi yang membuat tulisan-tulisan Karl Marx menjadi semakin diketahui banyak kalangan. Namun, kondisi ini tidaklah cukup untuk menghentikan proses distorsi yang telah berjalan. Percobaan untuk mengombinasikan ide-ide Marx dengan teori-teori yang sangat berbeda, sudah terlanjur jamak terjadi baik di kalangan ‘sosialis akademik’ (Kathedersozialismus) dan gerakan buruh, yang kontribusi-kontribusi teoritisnya, yang kini telah menjadi dimensi yang signifikan, tetap ditandai dengan pengenalan teks Marx yang tidak menyeluruh.

Reputasi Marx berada jauh dari sekedar perselisihan, namun ia masih tetap tak dianggap sebagai Dia yang Paling Pertama Dari Angkatannya (primus inter pares) di antara massa kaum sosialis saat itu. Di atas segalanya, Marx tak memiliki penafsir yang sempurna yang bisa mendedah seluruh pemikirannya. Para penafsirnya adalah penafsir yang sangat buruk. Salah satu contoh baik dalam soal ini adalah Achille Loria, ‘ekonom Italia yang paling sosialis, paling Marxist’[30] yang mengoreksi dan menyempurnakan seorang Marx, yang tak seorang pun cukup familiar dengannya, untuk kemudian mengoreksi dan menyempurnakannya dengan cara Loria. Loria, yang dikenal dari penggambaran Engels tentangnya dalam kata pengantar Volume Ketiga Capital – ‘kelancangan yang tak ada batasnya, dipadu dengan bakat selicin belut untuk meloloskan diri dari situasi-situasi yang mustahil; penghinaan heroik untuk tendangan-tendangan yang diterima, pemberian nilai yang ceroboh dan terburu-buru atas pencapaian-pencapaian orang lain.’ [31]

Cerita anekdotal dari Filsuf Benedetto Croce tentang Loria pada 1896, memberi gambaran yang cukup bagus atas pemalsuan yang diderita Marx. Pada 1867, di Naples, pada acara pendirian pertama bagian Italia dari Internasional, sesosok individu asing, ‘sangat tinggi, sangat pirang, dengan gaya tua seorang konspirator dengan cara bicara yang misterius’, campur tangan untuk meyakinkan lahirnya sebuah kelompok. Beberapa tahun setelahnya, seorang pengacara Neapolitan (orang yang berasal dari Naples, Italia-red), yang pada saat acara berlangsung ikut hadir, merasa yakin bahwa ‘sosok tinggi pirang itu adalah Karl Marx,’[32] dan butuh waktu yang cukup lama dan usaha yang besar untuk meyakinkannya bahwa sosok itu bukanlah Karl Marx. Begitu banyaknya konsep-konsep Marx yang diperkenalkan ke Italia oleh ‘Loria yang Agung,’ [33] dapat disimpulkan bahwa dia yang pertama dikenal sebagai Marx yang menyimpang, adalah seorang Marx yang juga ‘tinggi dan pirang’! [34]

Hal ihwal penyimpangan ini berubah hanya melalui karya Antonio Labriola, yang pertama kali mengenalkan pemikiran Marx dengan sungguh-sungguh di Italia. Ia tak sekedar menafsirkan, memperbarui, atau ‘menyempurnakan‘nya melalui penulis-penulis lain. [35] Teks kunci di sini adalah Saggi sulla concezione materialistica della storia [Esai-esai tentang Konsepsi Materialis Sejarah], diterbitkan Labriola antara 1895 dan 1897, yang mana pertama, ‘In memoria del Manifesto dei comunisti’, difokuskan dengan tepat pada asal mula dari Manifesto. Persetujuan Engels kepada karyanya, beberapa saat sebelum Engels meninggal, [36] menunjukkan karya Labriola ini merupakan sebuah tafsir resmi dan komentar paling penting dari sisi ‘Marxist’.

Banyak dari keterbatasan Italia yang bisa dikonfrontasikan dengan cara ini (karya Labriola). Menurut Labriola, revolusi ‘tak bisa dimulai dari sebuah kebangkitan dari massa yang dipimpin oleh segelintir orang, namun ia harus, dan akan menjadi, kerja dari kaum proletar itu sendiri.’ [37] ‘Komunisme kritis’ – yang, bagi para filsuf Neapolitan, adalah istilah paling baik untuk menggambarkan teori-teori Marx dan Engels- ‘tidak menghasilkan revolusi, tidak menyiapkan pemberontakan demi pemberontakan, tidak melengkapi senjata untuk bergerak memberontak, … pendeknya ini bukanlah sesuatu yang ditanamkan atau dikembangkan yang mana mereka yang unggul dari kaum revolusi proletar digembleng dan dilatih, melainkan sebuah kesadaran atas revolusi itu sendiri.’ [38] Manifesto, kemudian, bukanlah sebuah ‘buku petunjuk revolusi kaum proletar’ [39] melainkan sebuah alat untuk menunjukkan anggapan naif sosialisme yang berpikir dirinya sendiri mungkin ‘tanpa revolusi, yaitu tanpa perubahan mendasar di dalam struktur masyarakat elementer yang umum.’ [40]

Dalam karya Labriola, gerakan buruh Italia akhirnya memiliki ahli teori yang mampu memberikan, dalam satu kali dan saat yang bersamaan, kehormatan ilmiah pada sosialisme, menembus dan menghidupkan kembali budaya nasional, dan berkompetisi pada tingkatan yang sama dengan para pemikir besar Eropa dan Marxisme. Meski demikian, ketelitian pada ke-Marxisme-annya, bermasalah dengan kondisi politik yang langsung dihadapi dan kompromi-kompromi teoritik yang kritis juga memberikan karya Labriola ini sebuah karakter yang tak aktual.

Pada puncak dua abad, publikasi La filosofia di Marx karya Giovanne Gentile (sebuah buku yang Lenin nantinya sebut sebagai ‘pantas mendapatkan perhatian’), [41] tulisan-tulisan Croce yang mengumumkan ‘matinya sosialisme’ [42] dan teks-teks politik militan dari Francesco Saverio Merlino dan Antonio Graziadei, menyebabkan hembusan ‘krisis Marxisme’ mulai bertiup di Italia. Namun demikian, tak seperti di Jerman, tidak ada aliran Marxist ortodoks di Partai Sosialis Italia: pertarungan diperjuangkan oleh dua ‘revisionisme’, satu reformis, dan lainnya sindikalis-revolusioner. [43]

Pada periode yang sama, dari 1899 hingga 1902, sebuah letupan terjemahan-terjemahan baru memberikan pembaca Italia akses kepada banyak karya-karya Marx dan Engels yang pada saat itu tersedia. Ini adalah konteks di mana sebuah terjemahan baru atas Manifesto muncul sebagai lampiran edisi ketiga karya Labriola, ‘In memoria del Manifesto dei comunisti’; ini menjadi versi terakhir di Italia hingga akhir Perang Dunia Kedua. Beberapa dilengkapi oleh Labriola sendiri dan lainnya oleh istrinya, Rosalia Carolina De Sprenger, versi menunjukkan beberapa kesalahan dan penghilangan dari edisi lainnya. Edisi ini juga tidak dipakai di banyak teks edisi lain.

Versi Bettini yang kemudian paling sering dipakai hingga akhir tahun 1940an. Versi ini dicetak ulang beberapa kali dari tahun 1910, banyak edisinya berada di bawah pertanda baik dari ‘Societa editrice Avanti,’ alat utama propaganda Partai Sosialis; terutama patut dicatat adalah dua yang muncul pada 1914, yang kedua yang juga berisi Pondasi Komunisme oleh Engels. Antara 1914 dan 1916 (lalu kemudian pada 1921 – 1922) versi ini masuk ke volume pertamaOpere [Kerja-Kerja] oleh Marx dan Engels – sebuah koleksi yang menegaskan banyaknya kebingungan yang terjadi pada waktu itu, serta memasukkan serangkaian tulisan berbahasa Jerman oleh Lassalle. Diikuti kemudian satu edisi di tahun 1917, dua edisi di tahun 1918 dengan lampiran berisi 14 poin dari Konferensi Kienthal dan Manifesto dari Konferensi Zimmerwald. Lainnya muncul pada tahun 1920 (dicetak dua kali di 1922) dalam bentuk terjemahan revisi oleh Gustavo Sacerdote, dan edisi final pada tahun 1925. Sebagai tambahan dari edisi Avanti ini, tujuh cetak ulang dikeluarkan antara tahun 1920 dan 1926 oleh rumah-rumah penerbitan kecil.

Pada dekade pertama abad ke 20, Marxisme dihapuskan dari praktek sehari-hari Partai Sosialis Italia. Dalam sebuah debat parlementer yang terkenal di tahun 1911, Perdana Menteri Giovanni Giolitti menyatakan: ‘Partai Sosialis telah cukup banyak melunakkan program-programnya. Karl Marx telah disimpan di loteng.’ [44] Ulasan mengenai tulisan-tulisan Marx, yang beberapa saat sebelumnya membanjiri pasar buku, lalu mengering dan berhenti. Dan, terlepas dari ‘kembali ke Marx’ pada studi filosofis Rodolfo Mondolfo dan beberapa pengecualian lain, trend yang sama berlanjut pada tahun 1910an. Di daerah yang lain, kaum borjuis merayakan ‘penghancuran Marxisme,’ sementara kutukan-kutukan gereja Katolik yang penuh prasangka telah lama mendominasi dibandingkan percobaan-percobaan untuk menganalisa.

Pada tahun 1922, kebiadaban kaum fasis mulai meledak, dan tahun-tahun setelahnya, semua salinan Manifesto dibuang dari perpustakaan-perpustakaan publik dan universitas. Pada 1924 semua publikasi Marx dan segala yang berkaitan dengan gerakan buruh ditaruh dan dimasukkan dalam daftar hitam. Akhirnya, hukum ‘ultra fasis’ pada 1926 memutuskan pembubaran partai-partai oposisi dan meresmikan periode paling tragis dari sejarah modern Italia.

Terlepas dari beberapa edisi-edisi yang diketik dan diduplikasi secara ilegal, beberapa tulisan Marx yang diterbitkan di Italia antara 1926 dan 1943 muncul di luar negeri; di antaranya adalah dua versi Manifesto dalam bahasa Prancis, di tahun 1931 dan 1939, dan lainnya di Moskow pada tahun 1944, dalam sebuah terjemahan baru oleh Palmiro Togliatti. Namun, tiga edisi berbeda dari Manifesto Partai Komunis adalah pengecualian pada konspirasi hening. Dua dari tiga edisi ini, ‘untuk manfaat akademis’ yang sudah diminta terlebih dahulu, keluar pada tahun 1934: yang pertama pada sebuah volume Politica ed economia yang disunting oleh Roberto Michels (yang secara pribadi merevisi terjemahan Bettini) [45] yang juga berisi teks dari Labriola, Loria, Pareto, Weber dan Simmel; yang kedua di Florence, dalam versi Labriola, dalam kerja kolektif lain, Le carte dei diritti, volume pertama dari serial ‘Sosialisme dan Liberalisme Klasik.’ Yang ketiga muncul tahun 1938, lagi dalam versi Labriola, namun kali ini disunting oleh Croce, sebagai lampiran pada esai Labriola tentang Sejarah Konsepsi Materialis.Volume ini juga berisi esai terkenal Croce dengan judul yang sangat eksplisit: Bagaimana Marxisme Teoritis Lahir dan Mati di Italia (1895- 1900). Namun filsuf idealis ini keliru. ‘Marxisme’ Italia tidak mati, melainkan dibatasi pada karya Antonio Gramsci Prison Notebooks, yang tak lama kemudian menunjukkan semua nilai politis dan teoritisnya.

Pembebasan dari fasisme berdampak pada beragam edisi baru pada Manifesto. Organisasi-organisasi daerah dari Partai Komunis Italia, telah menyelenggarakan rumah-rumah penerbitan individu yang kecil di wilayah-wilayah yang dibebaskan di bagian selatan Italia. Usaha penerbitan ini memberikan hidup yang baru atas teks-teks Marx dan Engels, mengeluarkan tiga edisi pada tahun 1943 dan delapan edisi di 1944. Fenomena ini terus berlanjut hingga beberapa tahun setelahnya, dari tahun 1945 di akhir peperangan hingga tour de force atau pencapaian yang dahsyat tahun 1948, di perayaan kelahirannya yang ke seratus.

Kesimpulan
Tinjauan sejarah ini secara jelas menunjukkan, betapa Italia tertinggal jauh dalam menerbitkanManifesto Komunis. Sementara, di berbagai negara Manifesto Komunis ini adalah karya pertama Marx dan Engels yang keluar sebagai terjemahan, di Italia teks ini muncul hanya setelah serangkaian karya tulis yang lain. [46] Akibatnya, pengaruh politik Manifesto menjadi terbatas dan tidak pernah secara langsung membentuk dokumen besar dari gerakan buruh; pun tidak cukup jelas dalam membentuk kesadaran politik para pemimpin sosialisnya. Meski demikian, ia amat sangat penting bagi para akademisi (seperti yang telah tergambarkan dalam kasus Labriola), dan melalui berbagai edisi, ia hadir dan memainkan peranan penting di antara barisan dan bundelan berkas dan akhirnya menjadi referensi teoritis terdepan.

Seratus enam puluh tahun setelah publikasi pertamanya, dipelajari oleh para penafsir, penentang, dan pengikutnya yang tak terhitung banyaknya, Manifesto telah melewati berbagai fase yang berbeda-beda dan telah dibaca dengan cara yang paling bervariasi: sebagai tombak ‘sosialisme ilmiah’, atau karya jiplakan dari Manifeste de la democratie karya Victor Considerant; sebuah teks penghasut yang bertanggung jawab atas bangkitnya kebencian kelas di dunia atau sebuah simbol pembebasan untuk gerakan buruh internasional; sebagai karya klasik dari masa lalu atau sebuah karya yang dengan jelas memprediksi kenyataan yang terjadi hari ini, yaitu ‘globalisasi kapitalis.’ Apapun tafsiran dari masing-masing mereka pihak, satu hal yang pasti: sangat sedikit karya-karya tulis lain dalam sejarah yang bisa menghadirkan klaim pada vitalitas yang begitu hidup dan penyebaran yang begitu luas. Dan Manifesto terus dicetak dan dibicarakan, di Amerika Latin dan Jepang, di Amerika Serikat dan seluruh Eropa.

Jika keremajaan abadi dari sebuah teks ditandai dengan berisinya teks itu dengan pengetahuan tentang bagaimana tumbuh dan menjadi tua, atau selalu bisa merangsang pertumbuhan ide-ide yang baru, maka Manifesto adalah yang paling memiliki nilai-nilai ini.***

Artikel ini untuk pertama kali muncul di jurnal Critique, Vol. 36, No. 3, Desember 2008, pp. 445-456. Dimuat ulang di sini atas ijin Profesor Musto untuk tujuan Pendidikan.

 

References
[1] Lihat Marcello Musto, ‘The Rediscovery of Karl Marx’, International Review of Social History, 52:3 (2007), pp. 477-498.
[2] Jacques Derrida, Specters of Marx (London: Routledge, 1994), p.13.
[3] John Cassidy, ‘The Return of Karl Marx’, The New Yorker, 20-27 October 1997, pp. 248-259.
[4] Le Nouvel Observateur, October/November 2003.
[5] Der Spiegel, 22 August 2005.
[6] Lihat, khususnya, Eric Hobsbawm, ‘Introduction to Karl Marx and Friedrich Engels, The Communist Manifesto (London: Verso, 1998).
[7] Carlo Marx capo supremo dell’Internazionale’, Il proletario Italiano (Turin), 27 July 1871.
[8] Lihat Roberto Michels, Storia del marxismo in Italia (Rome: Luigi Mongini Editore, 1909), p.15, yang menitikberatkan bahwa ‘awalnya adalah Marx yang politis yang pelan-pelan mendorong orang Italia untuk menyibukkan diri mereka dengan Marx yang ilmiah juga’.
[9] ‘Carlo Marx capo supremo dell’Internazionale’, op.cit.
[10] Cf. Renato Zangheri, Storia del socialismo italiano, vol.1 (Turin: Einaudi, 1993), p.338.
[11] Satu contohnya adalah buku petunjuk oleh Oddino Morgari, L’arte della propaganda socialista, 2nd ed. (Florence: Libr. Editr. Luigi Contigli, 1908), p. 15. Buku ini menyarankan agar partai propagandis sebaiknya memakai metode instruksi yang mana pertama membaca sebuah ringkasan Darwin dan Spencer dan memberikan siswa sebuah ide umum tentang pemikiran modern, dan Marx kemudian bergabung pada ‘tiga sekawan agung’ yang dengan pantas menyempurnakan ‘wahyu dari sosialis kontemporer’. Lihat Michels, Storia del marxismo in Italia, op. cit., p. 102.
[12] Lihat buku yang dibaca secara luas oleh Enrico Ferri, Socialism and Positive Science (Darwin – Spencer – Marx) (London: Independent Labour Party, 1905 [1894]). Dalam kata pengantarnya, pengarangnya menulis: ‘Saya bertujuan membuktikan bagaimana sosialisme Marxist…. adalah tak lebih dari sekedar penyempurnaan praktis yang bermanfaat, dalam kehidupan sosial, dari sebuah revolusi ilmiah modern…. dibawa dan diberikan bentuk yang terarah oleh Charles Darwin dan Herbert Spencer’ (p. xi; terjemahan yang digubah).
[13] Lihat, sebagai contoh, surat dari Asosiasi Demokratik Macerata pada Marx, 22 Desember 1871. Organisasi ini mengusulkan Marx sebagai ‘tiga yang terhormat bersama dengan Warga Giuseppe Garibaldi dan Giuseppe Mazzini’: dalam Giuseppe del Bo (ed.), La corrispondenza di Marx e Engels con italiani. 1848-1895 (Milan: Feltrinelli, 1964), p. 166. Dalam laporannya pada Wilhelm Liebknecht pada 2 Januari 1872, Engels menulis: ‘Sebuah masyarakat di Macerata, di Romagna, telah menominasikan tiga presiden kehormatannya: Garibaldi, Marx dan Mazzzini. Hanya nama Bakunin yang dibutuhkan untuk membuat kekacauan ini menjadi lengkap.’ Marx Engels Collected Works [selanjutnya disingkat MECW], vol. 44 (London: Lawrence & Wishart, 1989), p. 289; Marx-Engels Werke [selanjutnya MEW], vol. 33 (Berlin: Dietz Verlag, 1966), p. 368.
[14] Lihat Michels, Storia del marxismo in Italia, op. cit., p. 101, yang menyatakan bahwa ‘dalam pandangan banyak orang Schaffle dihitung sebagai yang paling sungguh-sungguh dari semua Marxist’.
[15] Cf. Paolo Favilli, Storia del marxismo italiano. Dalle origini alla grande guerra (Milan: FrancoAngeli, 2000 [1996]), p. 50.
[16] Cf. Roberto Michels, Storia critica del movimento socialista italiano. Dagli inizi fino al 1911,(Florence: La voce, 1926), p. 135, yang menegaskan bahwa dalam Marxisme Italia, ‘dalam kasus atas hampir semua pengikutnya, tersebar bukan atas pengetahuan yang dalam dari karya-karya ilmiah yang unggul tetapi dari kontak yang berserakan dengan beberapa dari tulisan minor politisnya dan beberapa ringkasan ilmu ekonomi, seringnya – yang mana adalah hal terburuk – melalui karya imitasi dari Demokrasi Sosial Jerman’.
[17] Cf. Antonio Labriola, Socialism and Philosophy (St. Louis: Telos Press, 1980), p. 120: ‘Di Italia banyak dari mereka yang menganut sosialisme dan bukan semata-mata penghasut, pengajar, atau para ahli, merasakan bahwa adalah tidak mungkin untuk menerimanya sebagai keyakinan ilmiah, kecuali jika dipadukan dengan konsepsi genetik dari hal-hal lainnya, yang tergambar kurang lebih pada setiap dasar dari semua ilmu pengetahuan lain. Ini menjelaskan kegilaan dari banyak orang yang membawa ke dalam cakupan sosialisme semua ilmu pengetahuan yang lain yang mereka inginkan.’
[18] Cf. Michels, Storia del marxismo in Italia, op. cit., p. 99.
[19] Friedrich Engels dan Karl Marx, Manifesto of the Communist Party, MECW 6 (London: Lawrence & Wishart, 1976), p. 481; MEW 4, p. 461.
[20] Lihat, Friedrich Engels to Karl Marx, 25 April 1848, MECW 38 (London: Lawrence & Wishart, p. 1982), p. 173; Marx-Engels[-Gesamtansgabe [selanjutnya disingkat MEGA] III/2, p.153.
[21] Lihat Karl Marx, Herr Vogt, MECW 17 (London: Lawrence & Wishart, 1981), p. 80; MEGA I/18, p. 107.
[22] Pada bibliografi dan sejarah penerbitan Manifesto of the Communist Party, lihat Bert Andreas yang sangat diperlukan, Le Manifeste Communiste de Marx et Engels (Milan: Feltrinelli, 1963).
[23] Vito Cusumano, Le scuole economiche della Germania in rapporto alla questione sociale(Prato: Giuseppe Marghieri Editore, 1875), p. 278.
[24] La Plebe (Milan), April 1883, No. 4.
[25] Dall’Enza, ‘Carlo Marx e il socialismo scientifico e razionale’, Gazzetta Piemontese (Turin), 22 Maret 1883.
[26] Cf. Andreas, op. cit., p. 145.
[27] Friedrich Engels kepada Pasquale Martignetti, 2 April 1891, dalam MEW 38, p. 72.
[28] Lotta di classe (Milan), I:8, 17-18 September 1892.
[29] Carlo Marx and Friedrich Engels, Il Manifesto del Partito Comunista (Milan: Uffici della Critica Sociale, 1893), p. 2.
[30] Filippo Turati kepada Achille Loria, 26 Desember 1890, dalam ‘Appendice’ kepada Paolo Favilli, Il socialismo italiano e la teoria economica di Marx (1892 – 1902) (Naples: Bibliopolis, 1980), pp. 181-182.
[31] Friedrich Engels, ‘Preface’ to Karl Marx, Capital Volume 3 (London: Penguin/NLR, 1981), p. 109.
[32] Benedetto Croce, Materialismo storico ed economia marxistica (Naples: Bibliopolis, 2001), p. 65.
[33] Friedrich Engels, ‘Preface’ to Karl Marx, op. cit., p. 109.
[34] Croce, Materialismo storico ed economia marxistica, op. cit., p. 65.
[35] Lihat ‘Antonio Labriola a Benedetto Croce, 25-V-1895’, dalam Croce, Materialismo storico ed economia marxistica, op. cit., p. 269.
[36] ‘Semua sangat bagus, hanya sedikit kesalahan faktual dan, di bagian awal, gayanya masih sekilas terlalu terpelajar. Aku sangat ingin tahu bagaimana sisanya.’ Friedrich Engels kepada Antonio Labriola, 8 Juli 1895, MEW 39 (Berlin: Dietz Verlag, 1968), p. 498.
[37] Antonio Labriola, ‘In Memory of the Communist Manifesto’, in idem, Essays on the Materialistic Conception of History (New York: Monthly Review Press, 1966 [1903]), p. 59. Terjemahan digubah.
[38] Ibid., p. 53.
[39] Ibid., p. 40.
[40] Ibid., p. 84.
[41] Vladimir Ilyich Lenin, ‘Karl Marx: A Brief Biographical Sketch with an Exposition of Marxism- Bibliography’, Collected Works, Vol. 21 (MoscowL Progress Publishers, 1980), p. 88.
[42] Dalam kaitannya dengan hal ini, lihat esai Croce Come nacque e come mori il marxismo teorico in Italia (1895-1900), dalam Materialismo storico ed economia marxistica, op. cit., pp. 265-305.
[43] Cf. Michels, Storia del marxismo in Italia, op. cit., p. 120.
[44] Frasa ini diucapkan oleh Giolitti di parlemen, pada 8 April 1911.
[45] Perubahan pada versi Bettini yang ada pada edisi baru ini menandai sebuah percobaan yang nyata untuk mendistorsi dan menekan bagian-bagian tertentu pada teks, sehingga menjadi kurang bersifat mengancam dan senada dengan ideologi fasis.
[46] Kronologi penerbitan dalam bahasa Italia dari karya-karya utama Marx dan Engels sampai dengan Manifesto Partai Komunis adalah sebagai berikut: 1871, Karl Marx, La guerra civile in Francia [The Civil War in France]; 1873, Friedrich Engels, Dell’autorita [On Authority]; 1873, Karl Marx, Dell’indifferenza in materia politica [On Political Indifferentism]; 1879, Carlo Cafiero Il capitale di Carlo Marx brevemente compendiato da Carlo Cafiero [Karl Marx’s Capital abridged by Carlo Cafiero]; 1882 – 1884, Karl Marx Il capitale; 1883, Friedrich Engels, L’origine della famiglia, della proprieta privata e dello Stato [Origins of the Family, Private Property and the State]; 1889, Karl Marx/Friedrich Engels, Manifesto del partito comunista (terjemahan Bissolati); 1891, Karl Marx and Friedrich Engels, Manifesto del partito comunista (terjemahan Gori); 1892, Karl Marx and Friedrich Engels, Manifesto del partito comunista (terjemahan Bettini).