Categories
Journalism

Pekerja Adat dan Pembaruan Kiri: Percakapan dengan Álvaro García Linera

Álvaro García Linera dilahirkan di Cochabamba, Bolivia pada tahun 1962.

Ia berkenalan dengan Marxisme dan perjuangan rakyat Aymara ketika masih berusia sangat muda. Pindah ke Meksiko, tempat ia lulus dalam matematika, pada awal 1980-an, ia dipengaruhi oleh gerakan gerilya Guatemala yang memperjuangkan kepentingan masyarakat adat. Setelah kembali ke Bolivia, Linera menjadi salah satu pendiri Pasukan Gerilya Túpac Katari, sebuah organisasi politik yang menggabungkan perjuangan kelas Marxis dengan prinsip-prinsip Kataris yang mempromosikan emansipasi masyarakat adat. Karena aktivitasnya ini, ia dipenjara dengan penjagaan keamanan maksimum antara tahun 1992 dan 1997. Keluar dari penjara ia kemudian mengajar sosiologi dan menjadi intelektual yang berpengaruh. Setelahnya ia bergabung dengan Movement for Socialism (MAS) pimpinan Evo Morales, dan sejak 2006 Linera wakil presiden Negara Plurinasional Bolivia. Dia adalah salah satu suara paling orisinal dari gerakan Kiri Amerika Latin, yang karya-karyanya meliputi Value Form dan Community Form (1995) dan Plebeain Power (2008). Percakapan kami dengannya berpusat pada situasi kekuatan-kekuatan progresif di Amerika Latin dan bagian dunia lainnya.

Marcello Musto: Komitmen politik Anda ditandai oleh kesadaran bahwa sebagian besar organisasi komunis Amerika Latin tidak mampu berbicara kepada kelas-kelas populer secara keseluruhan dan hanya menempati fungsi tidak lebih sebagai pengamat. Di Bolivia, misalnya, ketergantungan mereka pada Marxisme-Leninisme yang paling skematis dan ekonomistik menghalangi mereka untuk mengenali kekhasan masalah masyarakat adat dan menempatkannya di pusat kegiatan politik mereka. Mereka melihat penduduk asli sebagai massa tani “borjuis kecil” tanpa potensi revolusioner. Bagaimana Anda menyadari bahwa perlu membangun sesuatu yang secara radikal berbeda dari kaum Kiri yang ada pada saat itu?

Álvaro García Linera: Di Bolivia, makanan diproduksi oleh petani-petani lokal, bangunan-bangunan dan rumah-rumah dibangun oleh pekerja lokal, jalanan dibersihkan oleh penduduk lokal, dan kaum elite dan kelas menengah memercayakan perawatan anak-anak mereka kepada mereka-mereka ini. Namun kaum Kiri tradisional tampaknya buta akan hal ini dan hanya menyibukkan diri dengan para pekerja di industri skala besar, tanpa memperhatikan identitas etnis mereka. Meskipun, tentu saja, penting untuk mengorganisir para pekerja di pertambangan, namun jumlah mereka adalah minoritas jika dibandingkan dengan para pekerja lokal yang didiskriminasi dan bahkan lebih dieksploitasi. Sejak akhir 1970-an, populasi Aymara mengorganisir mobilisasi besar melawan kediktatoran serta pemerintahan demokratis yang muncul setelah kejatuhannya. Mereka melakukannya dengan bangga, dengan bahasa dan simbol-simbolnya sendiri, yang beroperasi melalui komunitas gabungan dari campesinos (para petani) dan memajukan kelahiran suatu bangsa di bawah kepemimpinan adat. Itu adalah momen penemuan sosial.

Bagaimana Anda merespons ini?

Ketika orang-orang Indian ini memberontak, saat itu saya masih berstatus sebagai siswa sekolah. Pemberontakan itu sangat mengesankan bagi saya. Tampak jelas bahwa wacana perjuangan sosial kaum Kiri klasik, yang hanya berpusat pada pekerja dan borjuis, adalah tidak memadai dan tidak berkelanjutan. Perjuangan itu harus memasukkan tema-tema adat dan untuk merefleksikan komunitas agraria, atau kepemilikan kolektif atas tanah, sebagai dasar untuk organisasi sosial. Selain itu, untuk memahami perempuan dan laki-laki yang merupakan penduduk mayoritas dan yang menuntut sejarah dan tempat yang berbeda di dunia ini, adalah perlu untuk masuk lebih dalam ke aspek etnis-nasional dari masalah rakyat tertindas ini. Dan untuk ini, skematisme buku-buku teks Marxis, bagi saya, tampaknya tidak memadai. Ini mendorong saya untuk mencari referensi-referensi lain, dari penyimpanan ide-ide Indianis ke Marx yang tulisannya tentang perjuangan-perjuangan antikolonial dan komune agraria di Rusia telah memperkaya analisisnya tentang bangsa-bangsa yang tertindas.

Dengan berlalunya waktu, kompleksitas subjek transformasi sosial – yang sangat penting dalam pemikiran dan aktivitas politik Anda – telah menjadi pertanyaan penting bagi semua kekuatan progresif. Ketika visi kaum proletar sebagai satu-satunya kekuatan yang mampu menggulingkan kapitalisme telah berkurang, dan ketika mitos pelopor revolusioner telah bubar, apa yang seharusnya menjadi titik awal baru bagi kaum Kiri?

Masalah dari kaum Kiri tradisional adalah bahwa mereka membingungkan konsep “kondisi proletar” dengan bentuk sejarah yang khusus dari kerja upahan. Yang pertama telah menyebar ke mana-mana dan menjadi kondisi material di seluruh dunia. Tidak benar bahwa dunia kerja menghilang – tidak pernah ada buruh sebanyak ini di dunia, di setiap negara. Tetapi pertumbuhan sangat besar tenaga kerja global ini terjadi pada saat semua serikat buruh dan struktur-struktur politik yang ada terpecah berantakan. Lebih dari kapan pun sejak awal abad ke-19, kondisi kelas pekerja, sekali lagi, merupakan kondisi dari dan untuk kapital. Tetapi saat ini, sedemikian rupa,  dunia pekerja menjadi lebih kompleks, terhibridisasi, nomaden, dan tercerabut dari tempat tinggalnya (deterritorial). Paradoksnya, di zaman ketika setiap aspek kehidupan manusia telah dikomodifikasi, semuanya tampak terjadi seolah-olah tidak ada lagi pekerja.

Apa karakter dari perjuangan sosial saat ini? Apakah kesulitan yang dihadapi organisasi-organisasi politik dan serikat pekerja dalam mengorganisir pekerja migran, tidak aman, dan tidak terampil sangat berbeda dengan yang ada pada masa produksi Fordist pada abad ke-20?

Kelas pekerja baru tidak disatukan terutama di seputar masalah perburuhan. Mereka belum memiliki kekuatan untuk melakukan ini, dan mungkin tidak akan memilikinya untuk waktu yang lama ke depan. Mobilisasi sosial tidak lagi terjadi melalui bentuk-bentuk klasik aksi kelas pekerja yang terpusat, melainkan melalui campuran berbagai serikat, isu-isu lintas-sektor, dan bentuk-bentuk yang fleksibel, lancar, dan dapat berubah. Kita berbicara tentang bentuk-bentuk baru aksi kolektif yang dilontarkan oleh para pekerja, bahkan jika, dalam banyak kasus, apa yang muncul kurang identitas buruhnya dibandingkan fitur-fitur pelengkap lainnya seperti konglomerat teritorial atau kelompok-kelompok yang menuntut hak atas perawatan kesehatan, pendidikan atau transportasi umum.

Alih-alih mencibir perjuangan ini karena bentuknya yang berbeda dari masa lalu, kaum Kiri harus memperhatikan hibriditas atau heterogenitas sosial ini – pertama-tama, untuk memahami perjuangan yang ada dan mengartikulasikannya dengan yang lain di tingkat lokal, nasional dan internasional. Subjek perubahan tetaplah “tenaga kerja hidup/living labour”: pekerja yang menjual tenaga kerjanya dalam berbagai cara. Tetapi bentuk-bentuk organisasi, wacana, dan identitas-identitasnya sangat berbeda dari yang kita kenal di abad kedua puluh.

Di tengah kompleksitas sosial zaman kita, menurut Anda apakah perlu kita memikirkan kembali konsep tentang kelas?

Kelas-kelas, identitas, dan kolektif yang dimobilisasi bukanlah abstraksi: mereka adalah bentuk pengalaman kolektif dunia yang dibangun dalam skala luas. Sama seperti mereka mengambil bentuk kontingen seratus tahun yang lalu, mereka melakukannya lagi melalui rute yang tidak terduga dan seringkali mengejutkan serta penyebab yang sangat berbeda dari yang ada di masa lalu. Kita tidak boleh membingungkan konsep kelas sosial – cara mengklasifikasikan orang secara statistik berdasarkan atas properti mereka, sumber daya, akses terhadap kekayaan, dll. – dengan cara aktual di mana mereka dikelompokkan bersama berdasarkan kedekatan elektif, tempat tinggal, masalah bersama dan karakteristik budaya. Ini adalah gerakan nyata dari konstruksi kelas yang dimobilisasi, yang hanya bertepatan dengan konvergensi yang ditunjukkan dalam data statistik.

Anda sering mengutip Antonio Gramsci. Seberapa pentingkah pemikirannya untuk pilihan politik Anda?

Gramsci sangat menentukan dalam pengembangan pemikiran saya. Saya mulai membacanya ketika masih sangat muda, saat tulisan-tulisannya beredar di antara satu kudeta ke kudeta lainnya. Sejak itu, tidak seperti begitu banyak teks yang mengandung analisis ekonomi atau formulasi filosofis yang lebih memusatkan pada estetika kata-kata ketimbang pada realitas, Gramsci telah membantu saya mengembangkan cara pandang yang berbeda. Dia berbicara tentang masalah-masalah seperti bahasa, sastra, pendidikan atau akal sehat yang, meskipun tampaknya sekunder, sebenarnya membentuk jaringan kehidupan sehari-hari bagi individu dan menentukan persepsi dan kecenderungan politik kolektif mereka.
Sejak masa-masa awal itu, saya secara teratur kembali membaca Gramsci, dan dia selalu mengungkapkan hal-hal baru kepada saya, khususnya berkaitan dengan pembentukan molekular negara. Saya yakin bahwa Gramsci adalah pemikir yang sangat diperlukan untuk pembaruan Marxisme di dunia saat ini.

Dari apa yang Anda katakan, jelas bahwa cara Anda berhubungan dengan Marx – yang sangat Anda kenal dan tentang siapa Anda banyak menulis – sangat berbeda dengan Marxisme Soviet. Apakah Anda berpikir bahwa peralihan ke Marx tentang pertanyaan dan keraguan, yang ditemukan dalam manuskrip yang belum selesai di tahun-tahun terakhirnya, hari ini mungkin lebih bermanfaat daripada pernyataan yang terkandung dalam pamflet dan buku yang diterbitkannya?

Buku teks Marxisme selalu tampak tidak memadai bagi saya. Jadi, saya mengambil inisiatif untuk menyelidiki penulis yang diilhami oleh ideologi indigenis, serta Marxis lain dan Marx lain yang berbicara kepada saya tentang identitas sosial hibrida. Dengan cara ini, saya menemukan seorang Marx yang mengajari saya tentang perjuangan kolonial, yang berbicara tentang komunitas agraris, yang terus berusaha menempatkan tema negara-negara tertindas di atas fondasi yang kuat – sebuah Marx di pinggiran, lebih plural dan lebih berlimpah dengan pertanyaan ketimbang dengan jawaban. Pertanyaan-pertanyaan inilah yang memungkinkan saya, selama bertahun-tahun, untuk membaca secara berbeda Grundrisse, Manuskrip tahun 1861-1863 dan Capital dan menemukan elemen-elemen logika genetika kapitalisme yang gagal dipahami oleh penulis lain, sebelum dan sesudah Marx.

Dalam empat tahun terakhir, hampir di mana-mana di Amerika Latin, pemerintah berkuasa yang mengambil isyarat dari ideologi reaksioner dan berupaya untuk menerapkan kembali agenda ekonomi neoliberal. Terpilihnya Jair Bolsonaro di Brasil adalah kasus yang paling mencolok. Apakah belokan tajam ini cenderung bertahan lama?

Saya pikir masalah besar bagi Kanan global adalah ia tidak memiliki narasi untuk masa depan. Negara-negara yang mendewakan liturgi pasar bebas sekarang membangun tembok melawan imigran dan barang-barang, seolah-olah presiden mereka adalah penguasa feodal zaman akhir. Mereka yang menyerukan privatisasi sekarang memohon kepada negara yang mereka gunakan untuk memfitnah, dengan harapan bahwa hal itu akan menyelamatkan mereka dari beban hutang. Dan mereka yang dulu menyukai globalisasi dan berbicara tentang dunia yang akhirnya akan menjadi dunia sekarang dengan dalih “keamanan benua”.

Kita hidup dalam planet yang serba kacau, di mana sulit untuk meramalkan seperti apa Kanan Amerika Latin yang baru di masa depan. Apakah mereka akan memilih globalisasi atau proteksionisme? Apakah mereka akan mengikuti kebijakan privatisasi atau intervensi negara? Mereka sendiri tidak tahu jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini, karena mereka berlayar dalam lautan kebingungan dan hanya bisa mengekspresikan pandangan-pandangan jangka pendek. Kekuatan-kekuatan Kanan ini tidak mewakili masa depan di mana masyarakat Amerika Latin dapat mempercayakan harapan jangka panjangnya. Sebaliknya: mereka makin meningkatkan ketidakadilan dan ketidaksetaraan. Satu-satunya masa depan nyata yang bisa mereka tawarkan kepada generasi baru adalah kegelisahan dan ketidakpastian.

Di banyak bagian dunia, penurunan tajam partai-partai politik tradisional seiring dengan bangkitnya kekuatan-kekuatan politik baru yang, dalam cara mereka yang berbeda, menantang globalisasi neoliberal dan tatanan yang ada. “Pasar bebas” tidak lagi dianggap identik dengan pembangunan dan demokrasi, seperti yang keliru diyakini setelah runtuhnya Tembok Berlin, dan perdebatan tentang alternatif untuk kapitalisme sekali lagi membangkitkan minat yang cukup besar. Apa yang harus dilakukan kaum Kiri Amerika Latin untuk membalikkan keadaan dan membuka siklus baru keterlibatan dan emansipasi politik?

Kondisi-kondisi yang ada bagi tahap pengembangan progresif baru akan melampaui apa yang dicapai dalam dekade terakhir. Dalam konteks ketidakpastian yang besar ini, ada ruang untuk proposal alternatif dan orientasi kolektif ke cakrawala baru, berdasarkan pada keterlibatan nyata orang-orang dan (secara ekologis berkelanjutan) untuk mengatasi ketidakadilan sosial.

Tugas terbesar kaum Kiri, dalam mengatasi batasan dan kesalahan-kesalahan sosialisme abad kedua puluh, adalah memetakan cakrawala baru yang menawarkan solusi untuk pertanyaan-pertanyaan aktual yang menyebabkan penderitaan bagi mayoritas penduduk. Ini akan melayani “prinsip harapan” baru – nama apa pun yang kita berikan – yang menyerukan kesetaraan, kebebasan sosial, hak-hak dan kapasitas-kapasitas universal sebagai dasar penentuan nasib sendiri secara kolektif.

Categories
Journalism

Mitos ‘Marx Muda’ dalam Penafsiran-penafsiran atas Naskah-naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844 (Bagian I)

Dua edisi dari 1932
Naskah-naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844 (Economic-Philosophic Manuscripts of 1884) adalah salah satu di antara tulisan-tulisan paling terkenal Marx, dan yang paling banyak diterbitkan di seluruh dunia.
Tetapi meskipun buku ini telah memainkan peran utama dalam interpretasi keseluruhan pemikiran Marx, namun untuk waktu yang lama, buku ini tidak dikenal hingga kemudian terbit hampir seabad setelah penyusunannya.
Penerbitan naskah-naskah ini sama sekali bukan akhir dari cerita. Sebaliknya, penerbitannya telah memicu perselisihan yang panjang tentang karakter dari teks tersebut. Beberapa menganggapnya sebagai karya yang belum matang dibandingkan dengan kritik Marx selanjutnya tentang ekonomi politik. Yang lain menilainya sebagai landasan filosofis yang tak ternilai untuk pemikirannya, yang kehilangan intensitasnya selama bertahun-tahun saat ia mengerjakan penulisan Kapital. Oleh karena itu, bidang penelitian menyangkut hubungan antara teori-teori ‘muda’ dari Naskah-naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844  dan yang ‘matang’ dari Kapital bergantung pada pertanyaan-pertanyaan berikut: Dapatkah tulisan-tulisan ‘Marx Muda’ dianggap sebagai bagian integral dari ‘Marxisme’? Apakah ada kesatuan inspirasi dan realisasi organik di seluruh karya Marx? Atau haruskah dua Marx yang berbeda diidentifikasi di dalamnya?
Konflik penafsiran juga memiliki sisi politik. Para sarjana Marx di Uni Soviet setelah awal dekade tiga puluhan, juga sebagian besar peneliti yang dekat dengan partai-partai Komunis di dalam atau terkait dengan ‘blok sosialis’, menawarkan analisis reduksionis dari Naskah-naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844. Sedangkan mereka yang ada dalam tradisi kritis Marxisme, menetapkan nilai yang lebih tinggi pada teks-teks ini dan menemukan di dalamnya argumen yang paling kuat (terutama dalam kaitannya dengan konsep alienasi) untuk menghancurkan monopoli penafsiran yang dilakukan oleh Uni Soviet atas karya Marx. Dalam setiap kasus, pembacaan instrumentalis menjadi  contoh yang jelas tentang bagaimana konflik-konflik teoretis dan politik telah berulang kali mendistorsi karya Marx guna melayani tujuan yang tidak berkaitan dengannya.
Edisi lengkap pertama dari Naskah-naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844 diterbitkan pada tahun 1932, dalam bahasa Jerman. Bahkan, dua versi terbit pada tahun yang sama, dan ini menambah kebingungan tentang teks tersebut. Para sarjana Sosial Demokrat seperti Siegfried Landshut dan Jacob Peter Mayer, memasukkan naskah-naskah itu ke dalam koleksi dua jilid berjudul Historical Materialism: Early Writings. Versi kedua dari Naskah-naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844 yang muncul pada tahun 1932 adalah yang diedit oleh Institute Marx-Engels (IME) di Moskow dan diterbitkan dalam volume ketiga Bagian Satu dari karya-karya Marx dan Engels (Marx-Engels Gesamtausgabe). Ini adalah edisi ilmiah lengkap pertama, dan yang pertama-pertama menggunakan nama yang kemudian terkenal sebagai Naskah-naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844.

Satu atau dua Marx? Perselisihan tentang kesinambungan pemikiran Marx
Dua edisi tahun 1932 memunculkan banyak kontroversi karakter hermeneutik atau politik, di mana teks Marx sering terjepit di antara dua penafsran ekstrem. Yang pertama memahaminya sebagai ekspresi semata dari teori anak muda yang secara negatif diilhami oleh konsep-konsep dan terminologi filosofis, sementara yang lain menganggapnya sebagai ekspresi tertinggi humanisme Marx dan inti mendasar dari keseluruhan teori kritisnya. Dengan berlalunya waktu, para pendukung dari kedua posisi ini terlibat dalam debat yang hidup, menawarkan jawaban yang berbeda mengenai ‘kesinambungan’ dari pemikiran Marx. Apakah sebenarnya ada dua pemikir yang berbeda: Marx muda dan Marx tua? Atau apakah hanya ada satu Marx, yang keyakinannya tetap sama selama beberapa dekade?
Pertentangan antara kedua pandangan ini menjadi semakin tajam. Yang pertama, menyatukan ortodoksi Marxis-Leninis dengan orang-orang di Eropa Barat dan di tempat lain yang berbagi prinsip teoretis dan politiknya, meremehkan atau sama sekali mengabaikan pentingnya tulisan-tulisan awal Marx; mereka menyajikan karya-karya awal itu sebagai sepenuhnya dangkal dibandingkan dengan karya-karyanya kemudian dan, dengan demikian, mengembangkan konsepsi yang jelas anti-humanis dari pemikirannya. Pandangan kedua, yang diadvokasi oleh kelompok penulis yang lebih heterogen, memiliki isu bersama yakni penolakan terhadap dogmatisme Komunisme resmi dan korelasi yang ingin dibangun oleh para eksponennya antara pemikiran Marx dan politik Uni Soviet.
Kutipan dari dua protagonis utama di tahun 1960-an berikut ini memberikan contoh yang paling mendekati untuk menjelaskan pengertian dari perdebatan itu. Bagi Louis Althusser, sebagai proponen pendekatan pertama mengatakan:
Pertama-tama, setiap diskusi tentang Karya-karya Awal Marx adalah sebuah diskusi politik. Perlu kita ingatkan bahwa Karya-karya Awal Marx (…) yang ditemukan oleh Sosial-Demokrat dan
dieksploitasi oleh mereka dengan maksud menghancurkan Marxisme-Leninisme? (…) Inilah lokasi dari diskusi ini: Marx Muda. Hal yang benar-benar dipertaruhkan di dalamnya: Marxisme. Ketentuan diskusi: apakah Marx Muda sudah dan sepenuhnya Marx.
Iring Fetscher, di sisi lain, berpendapat:
Tulisan-tulisan awal Marx, intinya secara tegas  menyatakan pembebasan manusia dari segala bentuk eksploitasi, dominasi dan alienasi, sehingga pembaca Soviet harus memahami komentar-komentar ini sebagai kritik terhadap situasinya sendiri di bawah dominasi Stalinis. Karena alasan ini, tulisan-tulisan awal Marx tidak pernah diterbitkan dalam edisi besar dan murah dalam bahasa Rusia. Mereka dianggap sebagai karya yang relatif tidak signifikan dari Marx muda yang Hegelian yang belum mengembangkan Marxisme.
Kedua belah pihak yang berselisih ini telah mendistorsi teks Marx tersebut dengan berbagai cara. Kalangan ‘Ortodoks’ menyangkal pentingnya Naskah-naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844 (meskipun sangat diperlukan untuk memahami evolusi pemikiran Marx) dan dengan teguh memegang  keyakinan ini sehingga mereka mengeluarkan naskah-naskah tersebut dari edisi Rusia dan Jerman pada karya lengkap Marx dan Engels. Di sisi lain, banyak perwakilan dari apa yang disebut ‘Marxisme Barat’, serta sejumlah filsuf eksistensialis, mengambil sketsa yang belum selesai dari seorang mahasiswa muda yang tidak mahir dalam teori ekonomi dan melabelinya nilai yang lebih besar ketimbang Kapital, produk yang dihasilkan setelah melalui lebih dari dua puluh tahun penelitian.

Categories
Journalism

Kisah Program 1880 dari Partai Buruh Sosialis Prancis

Selama tahun 1880, Karl Marx secara khusus menaruh perhatian pada gerakan buruh Prancis, dan dengan berbagai cara yang mungkin dan tepat berkontribusi pada kemajuannya.

Pada bulan Oktober tahun sebelumnya, Federasi Partai Pekerja Sosialis Prancis (Federation of the French Socialist Workers’ Party), yang lahir dari perpaduan berbagai aliran sosialis, bertemu dalam kongres di Marseilles. Prosesnya ditandai oleh konflik antara kaum “Possibilis”, yang dipimpin oleh mantan anarkis Paul Brousse (1844-1912), dan arus lain yang lebih dekat dengan ide-ide Marx, dipimpin oleh Jules Guesde (1845-1922). Ketika yang terakhir memenangkan mayoritas, Marx berkomentar kepada kawannya Friedrich Adolph Sorge: “geng anti-komunis, yang terdiri dari elemen-elemen yang sangat heterogen, akhirnya dikalahkan di Kongres Marseilles.”

Guesde, dengan pemilu yang sebentar lagi digelar, harus menyusun program politik, kemudian meminta bantuan Marx, dan Paul Lafargue mengatur agar mereka bertemu di London pada Mei 1880. Inilah asal mula dari Program Elektoral Buruh Sosialis (Electoral Programme of the Socialist Workers), yang muncul di berbagai harian Prancis di musim semi dan diadopsi di Le Havre pada November pada kongres pendirian Partai Buruh Sosialis Prancis (French Socialist Workers’ Party). Kontribusi Marx dalam mengemukakan tuntutan utama kelas pekerja sangat menentukan. Engels mengungkapkan latar belakangnya dalam sepucuk surat kepada Eduard Bernstein: “Tema-temanya didiktekan kepadanya (Guesde) oleh Marx, di sini, di kamar saya ini, di hadapan Lafargue dan saya sendiri. … (Itu) adalah mahakarya penalaran yang meyakinkan, diperhitungkan untuk menjelaskan banyak hal kepada massa dalam beberapa kata. Saya jarang melihatnya seperti itu, dan bahkan dalam versi singkat ini, sungguh menakjubkan.”

Berawal dari poin bahwa buruh tidak akan pernah bisa bebas dalam sistem produksi yang berdasarkan pada buruh upahan (wage labour), Marx menyatakan bahwa emansipasi mereka akan tercapai hanya setelah “pengambilalihan politik dan ekonomi kelas kapitalis dan pengembalian semua alat-alat produksi kepada kepemilikan kolektif”. Kelas buruh, lanjutnya, harus memerangi segala jenis diskriminasi dan beroperasi sedemikian rupa untuk mengakhiri posisi penundukkan (subaltern) perempuan dalam kaitannya dengan laki-laki: “emansipasi kelas produktif seluruh manusia tanpa membedakan jenis kelamin atau ras. ”

Para pekerja harus mendukung suatu bentuk pemerintahan yang dapat menjamin partisipasi mereka seluas-luasnya. Mereka harus berjuang untuk “penghapusan hutang publik”, untuk “transformasi semua pajak langsung menjadi pajak progresif atas pendapatan”, dan untuk mengakhiri dukungan negara pada urusan-urusan keagamaan. Kelas pekerja juga harus menuntut hak atas pendidikan yang didanai publik untuk semua dan memperjuangkan “pembatalan semua kontrak yang telah mengalienasi properti publik (bank, kereta api, tambang, dll.)”. Pada saat yang sama, mereka harus memobilisasi agar “operasi semua tempat kerja milik negara dipercayakan kepada buruh pekerja yang bekerja di sana”. Organisasi politik proletariat, termasuk konstitusi “partai politik yang berbeda” yang bersaing dengan partai-partai demokratis dan berjuang melawan partai-partai borjuis, sangat penting untuk pencapaian tujuan-tujuan ini.

Dalam sebuah surat kepada Sorge, Marx menjelaskan bahwa “dengan pengecualian dari beberapa kebodohan seperti upah minimum yang ditetapkan oleh hukum” – dia khawatir bahwa tindakan seperti itu, jika diadopsi, akan, menurut hukum ekonomi, membuahkan hasil dari penetapan upah minimum itu menjadi maksimum – seksi ekonomi dari dokumen ini terdiri “semata-mata dari tuntutan yang, pada kenyataannya, muncul secara spontan dari gerakan buruh itu sendiri”. Bagi Marx, “membawa pekerja Prancis agar membumi dan meninggalkan pernyataan-pernyataan verbal mereka yang absurd (cloud-cuckoo land) adalah sebuah langkah maju yang luar biasa, dan karenanya membangkitkan kebencian di antara banyak intelektual Prancis yang penipu,  yang mencari nafkah sebagai ‘provokator’.” Dia juga menekankan bahwa, untuk pertama kalinya, program tersebut telah dibahas oleh para pekerja sendiri – “bukti bahwa ini (adalah) gerakan nyata kelas pekerja yang pertama di Prancis”. Marx dengan jelas membedakan fase ini dari fase yang terjadi sebelumnya, ketika “sekte-sekte di sana menerima slogan-slogan mereka dari para pendiri mereka, sementara sebagian besar proletariat mengikuti borjuis radikal atau pseudo-radikal dan berjuang untuk mereka ketika hari itu tiba, hanya untuk kemudian dibantai, dideportasi, dll., pada esok harinya oleh anak-anak muda yang mereka tempatkan di pucuk pimpinan. “Di antara “banyak kebodohan”, Marx memasukkan penghapusan atas warisan (Poin 12 dalam Program), sebuah tuntutan lama Saint-Simonian, menentang apa yang penah dia polemikkan dengan Mikhail Bakunin dalam Asosiasi Kelas Pekerja Internasional: “Jika kelas pekerja memiliki kekuatan yang cukup untuk menghapuskan hak waris, itu akan cukup kuat untuk dilanjutkan ke pengambilalihan, yang akan menjadi sebuah proses yang jauh lebih sederhana dan lebih efisien.”

***
Program Elektoral Pekerja Sosialis[1]

Jules Guesde, Paul Lafarge, Karl Marx

Pembukaan (Preambule)

Mengingat,
Bahwa pembebasan kelas produktif adalah pembebasan semua manusia tanpa membedakan jenis kelamin atau ras;
Bahwa produsen dapat bebas hanya ketika mereka memiliki alat-alat produksi;
Bahwa hanya ada dua bentuk di mana alat-alat produksi dapat menjadi milik mereka

1.    Bentuk individu, yang tidak pernah ada dalam keadaan umum dan yang semakin dihilangkan oleh kemajuan industrial;

2.    Bentuk kolektif, elemen-elemen material dan intelektual yang didasari oleh perkembangan masyarakat kapitalis;

Mengingat,
Bahwa perampasan kolektif ini hanya dapat timbul dari aksi revolusioner kelas produktif – atau proletariat – yang diorganisir dalam partai politik yang berbeda;
Bahwa organisasi semacam itu harus dicapai dengan segala cara yang dimiliki proletariat, termasuk hak pilih universal, yang dengan demikian akan diubah dari instrumen penipuan seperti yang berlangung  hingga kini menjadi instrumen bagi pembebasan;
Kaum buruh sosialis Prancis, dalam mengadopsi bentuk organisasi kepartaian sebagai tujuan bagi pengambilalihan politik dan ekonomi kelas kapitalis dan pengembalian semua alat-alat produksi kepada komunitas, telah memutuskan, sebagai alat organisas dan perjuangan, untuk mengikuti pemilihan umumdengan tuntutan-tuntutan langsung berikut:

A. Tuntutan Politik

Penghapusan semua undang-undang tentang pers, pertemuan, dan asosiasi, dan di atas semua itu, hukum yang menentang Asosiasi Pekerja Internasional. Penghapusan livret[2], kontrol administratif atas kelas pekerja, dan semua pasal dalam Code[3] yang menetapkan inferioritas pekerja dalam kaitannya dengan bos, dan perempuan dalam kaitannya dengan laki-laki;

1.    Penghapusan anggaran untuk urusan keagamaan dan pengembalian kepada negara ‘barang-barang yang dikatakan tak       berguna, bergerak dan tidak bergerak’ (diputuskan oleh Komune[4] 2 April 1871), termasuk semua laporan-laporan industrial dan komersial dari perusahaan-perusahaan terkait;
2.    Penghapusan hutang publik;
3.    Penghapusan tentara-tentara tetap dan mempersenjatai rakyat secara umum;
4.    Komune harus menjadi penguasa administrasi dan kepolisiannya.

B.    Tuntutan Ekonomi

1.    Satu hari istirahat setiap minggu atau larangan hukum terhadap majikan yang memaksakan hari kerja lebih dari enam hari dari tujuh hari. Pengurangan legal jam kerja untuk orang dewasa menjadi delapan jam setiap harinya. Larangan anak di bawah umur empat belas tahun bekerja di tempat kerja pribadi; dan, pengurangan jam kerja untuk anak yang berumur antara 14 dan 16 tahun dari delapan menjadi enam jam per hari[5];
2.    Supervisi protektif terhadap buruh magang oleh organisasi pekerja;
3.    Upah minimum resmi, ditentukan setiap tahun sesuai dengan harga makanan lokal oleh komisi statistik pekerja;
4.    Larangan hukum bagi para bos yang mempekerjakan pekerja asing dengan upah lebih rendah dari pekerja Prancis;
5.    Pembayaran yang sama untuk pekerjaan yang sama, untuk pekerja dari kedua jenis kelamin;
6.    Instruksi ilmiah dan profesional dari semua anak, dengan pemeliharaan mereka menjadi tanggung jawab masyarakat, diwakili oleh negara dan Komune;
7.    Tanggung jawab masyarakat untuk orang tua dan orang difabel;
8.    Larangan bagi campur tangan pengusaha dalam bentuk apapun terhadap administrasi masyarakat ramah pekerja, masyarakat hemat, dll., yang dikembalikan ke kontrol eksklusif pekerja[6];
9.    Tanggung jawab para bos dalam hal kecelakaan, dijamin oleh jaminan yang dibayarkan oleh majikan ke dana pekerja, sebanding dengan jumlah pekerja yang dipekerjakan dan bahaya yang disebabkan oleh industri;
10.    Intervensi oleh pekerja dalam peraturan khusus dari berbagai tempat kerja;diakhirinya hak yang direbut oleh para bos untuk menjatuhkan hukuman kepada pekerjanya dalam bentuk denda atau pemotongan upah (dekrit Komune 27 April 1871)
11.    Pembatalan semua kontrak yang telah mengasingkan properti publik (bank, kereta api, tambang, dll.), dan pengoperasian semua tempat kerja milik negara agar dipercayakan kepada pekerja yang bekerja di sana;
12.    Penghapusan semua pajak tidak langsung dan transformasi semua pajak langsung menjadi pajak progresif atas pendapatan lebih dari 3.000 franc. Penghapusan semua warisan pada garis keturunan tidak langsung (collateral line)[7] dan semua warisan langsung lebih dari 20.000 franc.

[1] Marx adalah penulis utama dari Pembukaan (Preamble)
[2] Livret adalah sebuah sertifikat yang menunjukkan bahwa pekerja tidak lagi memiliki
hutang atau kewajiban kepada mantan majikannya. Tidak ada pekerja yang bisa diambil
tanpa menunjukkannya. Praktik ini baru dihapus pada tahun 1890.
[3] Merujuk pada Napoleonic Code yang ditetapkan pada 1804.
[4] Komune di sini adalah Komune Paris
[5] Tuntutan-tuntutan ini harus disituasikan dalam konteks abad ke-19.
[6] Tuntutan-tuntutan ini harus, tentu saja, dilihat dalam konteks akhir abad ke-19.
[7] Yaitu, mewariskan kepada selain keturunan langsung.

Categories
Journalism

‘Perjuangan!’: Sebuah Wawancara dengan Karl Marx pada 1880

Pada Agustus 1880, John Swinton, seorang jurnalis Amerika yang berpengaruh dengan pandangan progresifnya, sedang dalam perjalanan ke Eropa.

Ketika berada di sana, ia mengunjungi Ramsgate, sebuah kota kecil di pesisir Kent, yang terletak beberapa kilometer dari ujung tenggara Inggris. Perjalanan ini dibuat dengan tujuan melakukan sebuah wawancara untuk The Sun – surat kabar yang dia edit, yang pada saat itu adalah salah satu yang paling luas dibaca di Amerika Serikat. Pria yang akan diwawancara Swinton adalah figur yang telah menjadi salah satu perwakilan utama gerakan buruh internasional: Karl Marx.

Meskipun lahir di Jerman, Marx hidup tanpa kewarganegaraan (stateless), setelah diusir oleh pemerintah Prancis, Belgia dan Prusia ketika mereka meringkus gerakan-gerakan revolusioner yang muncul di negara mereka antara tahun 1848 dan 1849. Ketika Marx mengajukan permohonan naturalisasi di Inggris pada 1874, permintaannya ditolak karena laporan Scotland Yard (polisi Inggris) yang menyebutkan bahwa ia adalah ‘agitator Jerman yang terkenal dan pendukung prinsip-prinsip komunis’, yang ‘tidak loyal kepada Raja dan negaranya sendiri’.

Selama lebih dari satu dekade, Marx menjadi koresponden koran New York Tribune; pada tahun 1867 ia menerbitkan kritik besar terhadap corak produksi kapitalis yang berjudul Capital, dan selama delapan tahun, dimulai pada tahun 1864, ia menjadi tokoh panduan Asosiasi Pekerja Internasional. Pada tahun 1871, namanya ditampilkan di halaman-halaman surat kabar Eropa yang paling banyak dibaca, setelah membela Komune Paris dalam bukunya The Civil War in France. Pers reaksioner kemudian membaptisnya dengan julukan ‘red terror doctor’’.

Pada Musim Panas 1880, Marx berada di Ramsgate bersama keluarganya, di bawah perintah dokter untuk ‘menahan diri dari pekerjaan apa pun’ dan ‘untuk memulihkan sistem saraf(nya) dengan tidak melakukan aktivitas apapun’. Kesehatan istrinya lebih buruk lagi. Jenny von Westphalen menderita kanker dan kondisinya tiba-tiba memburuk hingga tingkat yang mengancam keselamatan jiwanya’. Inilah situasi di mana Swinton, yang telah menjadi pemimpin redaksi di New York Times sepanjang tahun 1860-an, mengenal Marx dan menulis gambaran yang simpatik, intens, dan akurat tentangnya.

Pada level personal, Swinton menggambarkan Marx sebagai ‘pria berkepala besar, murah hati, sopan, dan ramah di usia 60-an, dengan rambut lebat panjang keabu-abuan yang menyenangkan’, yang tahu ‘tidak kalah halus dari Victor Hugo (…) tentang seni menjadi seorang kakek’. Percakapannya, “sangat bebas, sangat luas, sangat kreatif, sangat tajam, sangat otentik”, mengingatkan Swinton pada Socrates “dengan sentuhan sinisnya, jejak-jejak humor, dan energi kegembiraan yang penuh antusiasme”. Dia juga mencatat ‘seorang pria yang tidak berhasrat untuk tampil atau tenar, tidak peduli dengan hiruk pikuk kehidupan atau klaim kekuasaan’.

Namun, ini bukan Marx yang akan digambarkan Swinton pada para pembacanya. Wawancara yang muncul di halaman depan The Sun, pada  6 September 1880, terutama menghadirkan wajah publik Marx: ‘salah satu pria paling hebat saat itu, yang telah memainkan bagian yang sukar dipahami tetapi sangat berpengaruh dalam politik revolusioner selama empat puluh tahun berselang’. Inilah kata Swinton tentang Marx:

[Dia] tanpa terburu-buru dan tanpa jeda, adalah seorang lelaki dengan pikiran yang kuat, luas, dan terangkat, penuh dengan proyek-proyek yang berjangkauan luas, metode-metode logis, dan tujuan-tujuan praktis, ia telah berdiri dan tetap berdiri dalam banyaknya gempa bumi politik yang telah mengguncang bangsa-bangsa dan menghancurkan takhta-takhta, dan kini tengah mengancam dan menakutkan para pimpinan kerajaan dan penipu-penipu mapan, dibandingkan dengan laki-laki mana pun di Eropa.
Diskusi dengan Marx meyakinkan jurnalis New York itu bahwa dia mendapati dirinya di hadapan seorang pria yang ‘terlibat sangat dalam di masanya’, yang tangannya menjulur ‘dari Neva ke Seine, dari Ural ke Pyrenees, sedang bekerja mempersiapkan jalan bagi […] munculnya ‘era baru’. Swinton sangat terkesan dengan Marx karena kemampuannya dalam “menganalisa dunia Eropa, negara demi negara, menunjukkan ciri-ciri dan perkembangannya serta tokoh-tokoh di permukaan dan di bawah permukaan.” Marx kemudian berbicara

tentang kekuatan-kekuatan politik dan gerakan rakyat dari berbagai negara di Eropa – luasnya arus semangat Rusia, pergerakan pemikiran Jerman, aksi Prancis, dan ketidakmampuan bergeraknya Inggris. Dia berbicara dengan penuh harap tentang Rusia, secara filosofis tentang Jerman, dengan keriangan tentang Prancis, dan dengan kesedihan tentang Inggris – merujuk dengan hina kepada ‘reformasi atomistik’ di mana kaum Liberal di  Parlemen Inggris menghabiskan waktu mereka.
Swinton juga terkejut dengan pengetahuan Marx tentang Amerika Serikat. Dia adalah seorang pengamat yang penuh perhatian dan “komentarnya tentang beberapa kekuatan formatif dan substantif tentang kehidupan Amerika penuh dengan ekspresi dan bernada saran”.

Hari itu berlalu dalam serangkaian diskusi yang hidup. Pada sore hari, Marx mengusulkan ‘jalan-jalan di sepanjang pantai’ untuk bertemu keluarganya, yang digambarkan Swinton sebagai ‘orang-orang yang menyenangkan – sekitar sepuluh orang’. Ketika malam tiba, menantu Marx, Charles Longuet (1839-1903) dan Paul Lafargue (1842-1911) terus menemani kedua pria itu; mereka berbicara ‘tentang dunia, tentang manusia, tentang waktu, dan tentang ide-ide, seiring dengan gelas-gelas kami yang bergemerincing di atas deru lautan.’ Pada satu dari momen-momen tersebut, pada sebuah momen yang hening, sang jurnalis Amerika, ‘atas renungan tentang perbincangan dan kerangka usia dan jaman’, larut dalam arus kedalaman ‘pembicaraan hari itu dan fragmen-fragmen sore saat itu’, mengajukan sebuah pertanyaan kritis kepada sang revolusioner dan filsuf yang ada di hadapannya tentang  ‘Apa sebetulnya hukum hidup itu?’

Swinton merasa bahwa pikiran Marx ‘terbalik ke dalam sesaat sembari memandangi laut yang menderu di depannya dan orang-orang yang hilir mudik tanpa jeda di pantai’. Akhirnya, Marx, dengan nada yang dalam dan khidmat, menjawab: ‘Perjuangan!

Categories
Journalism

Marx 201: Kembalinya Alternatif

Kembali ke Marx setelah krisis ekonomi 2008, berbeda dengan kepentingan pembaruan dalam kritiknya terhadap ekonomi.

Banyak penulis, baik di surat-surat kabar, jurnal-jurnal, buku-buku, dan teks-teks akademis, telah mengamati betapa analisis Marx terbukti tak tergantikan dalam memahami kontradiksi-kontradiksi dan mekanisme-mekanisme destruktif dari kapitalisme. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kita jumpai peninjauan kembali sosok Marx sebagai seorang tokoh politik dan teoritikus.

Publikasi naskah-naskah yang sebelumnya tidak dikenal dalam edisi Marx-Engels-Gesamtausgabe (MEGA) Jerman, bersamaan dengan penafsiran-pemafsiran inovatif atas karyanya, telah membuka cakrawala penelitian baru dan menunjukkan lebih jelas daripada di masa lalu kemampuan Marx untuk memeriksa kontradiksi-kontradiksi masyarakat kapitalis pada skala global dan dalam lingkup yang melampui konflik antara kapital dan buruh. Tidaklah berlebihan untuk mengatakan bahwa, dari pemikiran klasik politik, ekonomi dan filosofis yang hebat, Marx adalah sosok yang profilnya paling berubah dalam dekade-dekade awal abad ke-21.

Memikirkan Kembali Alternatif Dengan Marx
Penelitian baru-baru ini telah membantah berbagai pendekatan yang mereduksi konsepsi Marx tentang masyarakat komunis ke pengembangan superior dari kekuatan-kekuatan produktif. Secara khusus, penelitian itu menunjukkan betapa Marx sangat peduli dengan isu-isu ekologis: pada berbagai kesempatan, dia mengecam fakta bahwa ekspansi modus produksi kapitalis tidak hanya meningkatkan pencurian tenaga kerja buruh tetapi juga penjarahan sumberdaya-sumberdaya alam. Persoalan lain yang menjadi perhatian serius Marx adalah migrasi. Dia menunjukkan bahwa perpindahan paksa oleh buruh diciptakan kapitalisme sebagai komponen utama dari eksploitasi borjuis, Karena itu, menurutnya, kata kunci untuk memerangi migrasi ini adalah solidaritas kelas di antara pekerja, tanpa memandang asal-usul mereka atau perbedaan apapun antara tenaga kerja lokal dan tenaga kerja impor.

Marx juga masuk ke banyak masalah lain yang, meskipun sering diremehkan, atau bahkan diabaikan oleh para pengikutnya, menempati posisi yang sangat penting bagi agenda politik zaman kita. Di antaranya adalah kebebasan individu dalam bidang ekonomi dan politik, emansipasi jender, kritik  terhadap nasionalisme, dan bentuk-bentuk kepemilikan kolektif yang tidak dikontrol oleh negara.

Lebih jauh, Marx melakukan investigasi menyeluruh terhadap masyarakat-masyarakat di luar Eropa dan tanpa keraguan secara terbuka melawan kerusakan kolonialisme. Adalah sebuah  kesalahan untuk berpikir sebaliknya. Marx mengkritik para pemikir yang, sambil menyoroti konsekuensi destruktif dari kolonialisme, menggunakan kategori-kategori yang khusus untuk konteks Eropa dalam analisis mereka tentang wilayah-wilayah pinggiran di dunia. Berkali-kali dia mengingatkan mereka yang gagal mengamati pentingnya pembedaan-pembedaan antara fenomena, dan terutama setelah kemajuan teoretisnya pada dekade 1870-an, dia sangat berhati-hati dalam mentransfer kategori-kategori interpretatif melintasi bidang sejarah atau geografis yang sama sekali berbeda. Semua ini sekarang jelas, meskipun skeptisisme masih menjadi mode di lingkungan akademik tertentu.

Dengan demikian, tiga puluh tahun setelah runtuhnya tembok Berlin, menjadi mungkin untuk membaca Marx yang sangat berbeda dengan pembacaan teori-teori dogmatis, ekonomistik, dan Eurosentris yang diarak berkeliling begitu lama. Tentu saja, seseorang dapat menemukan dalam warisan keilmuan Marx yang masif, sejumlah pernyataan yang mengatakan bahwa perkembangan kekuatan-kekuatan produktif mengarah pada pembubaran modus produksi kapitalis. Tetapi akan salah untuk mengatributkan kepadanya ide bahwa kedatangan sosialisme adalah keniscayaan sejarah. Tanpa keraguan Marx mengatakan bahwa kemungkinan transformasi masyarakat bergantung pada kelas pekerja dan kapasitasnya, melalui perjuangan, untuk menghasilkan pergolakan sosial yang mengarah pada lahirnya sistem ekonomi dan politik alternatif.

Komunisme Sebagai Asosiasi Bebas
Berbeda dengan persamaan komunisme dengan “kediktatoran proletariat”, sebagaimana yang dianut banyak “real world socialisms” (merujuk pada Uni Soviet dan negara-negara Blok Timur) dalam propaganda mereka, adalah perlu untuk melihat kembali refleksi-refleksi Marx tentang masyarakat komunis. Dia pernah mendefinisikan komunisme sebagai “asosiasi manusia bebas”. Jika komunisme bertujuan untuk menjadi bentuk masyarakat yang lebih tinggi, maka komunisme harus mempromosikan kondisi-kondisi untuk “pengembangan penuh dan bebas setiap individu”.

Dalam Kapital, Marx mengungkapkan karakter hipokrit dari ideologi borjuis. Kapitalisme bukanlah organisasi masyarakat di mana manusia, yang dilindungi oleh norma-norma hukum yang tidak memihak, sanggup menjamin keadilan dan kesetaraan, menikmati kebebasan sejati dan hidup dalam demokrasi yang sempurna. Pada kenyataannya, dalam kapitalisme manusia terdegradasi menjadi objek belaka, yang fungsi utamanya adalah untuk menghasilkan komoditi dan keuntungan bagi orang lain.

Untuk membalikkan keadaan ini, tidaklah cukup melalui modifikasi distribusi barang-barang konsumsi. Yang diperlukan adalah perubahan radikal pada level aset-aset produktif masyarakat: “para produsen dapat bebas hanya ketika mereka memiliki alat-alat produksi”. Karena itu, menurut Marx, tujuan perjuangan buruh haruslah mengembalikan aset-aset itu kepada komunitas. Berkat potensi emansipatoris dari teknologi, adalah sangat mungkin untuk mencapai tujuan dasar komunisme: pengurangan waktu kerja yang diperlukan (necessary labour time) dan peningkatan kapasitas, bakat-bakat kreatif, dan aktivitas-aktivitas individual yang menyenangkan. Model sosialis yang ada dalam pikiran Marx, tidak mengijinkan terjadinya kemiskinan yang luas tetapi menghendaki pencapaian kekayaan kolektif dan kepuasan kebutuhan yang lebih besar.

Marx juga berkomentar bahwa, dalam modus produksi komunis, “kepemilikan pribadi atas planet ini oleh individu-individu sama absurdnya dengan kepemilikan satu manusia oleh manusia lainnya”. Dia mengarahkan kritiknya yang paling radikal terhadap jenis kepemilikan destruktif yang melekat dalam kapitalisme, menunjukkan bahwa masyarakat tidak memiliki lingkungan tetapi memiliki “tugas untuk mewariskan dunia dalam kondisi yang lebih baik kepada generasi mendatang”.

Hari ini, tentu saja, kaum Kiri tidak dapat dengan mudah mendefinisikan kembali politiknya seputar apa yang ditulis Marx lebih dari seabad yang lalu. Tetapi juga tidak seharusnya melakukan kesalahan dengan melupakan kejelasan analisisnya atau gagal menggunakan senjata kritis yang ia tawarkan untuk pemikiran yang lebih segar tentang sebuah masyarakat alternatif di luar kapitalisme.***

Marcello Musto(1976) adalah Professor bidang Teori Sosiologi di York University (Toronto). Ia telah menulis banyak buku dan artikel yang diterbitkan di lebih dari 20 bahasa. Di antaranya ia mengedit beberapa volume seperti Karl Marx’s ‘Grundrisse’: Foundations of the Critique of Political Economy 150 Years Later (Routledge, 2008); Marx for Today (Routledge, 2012); Workers Unite!: The International 150 Years Later (Bloomsbury, 2014). Ia juga menulis buku Another Marx: Early Manuscripts to the International (Bloomsbury, 2018) dan The Last Marx (1881-1883): An Intellectual Biography (forthcoming 2019). Tulisan-tulisannya tersedia di www.marcellomusto.org. Buku terbarunya dalam bahasa Indonesia berjudul, Marx Yang Lain, akan diterbitkan dalam waktu oleh penerbit Marjin Kiri.

Categories
Journalism

Kritik Marx Terhadap Sosial Demokrasi (Bagian II)

Kritik Terhadap Sosialisme Borjuis Kecil
DALAM pemilihan umum bulan Januari 1877, Partai Buruh Sosialis Jerman (the Socialist Workers’ Party of Germany) memenangkan hampir setengah juta suara, meningkat di atas 9 persen.

Namun terlepas dari keberhasilan ini, keadaan partai terus mengganggu Marx. Menulis kepada seorang dokter Jerman Ferdinand Fleckles, ia menertawakan “pamflet pendek” berjudul The Quintessence of Socialism (1879) dari sosiolog Albert Schäffle sebagai “fantastis, benar-benar Swabian … gambaran dari sosialis milenium  masa depan sebagai … kerajaan datang dari borjuis kecil Anda yang nyaman”. Dalam konteks ini, ketika diminta oleh jurnalis Franz Wiede untuk mengambil peran penting dalam menulis ulasan baru, Marx berkomentar kepada Engels: “Tentu akan sangat menyenangkan jika sebuah majalah berkala sosialis yang benar-benar ilmiah muncul. Ini akan memberikan peluang bagi kritisisme dan kontra-kritisisme di mana poin-poin teoretis dapat kita diskusikan dan ketidaktahuan total para profesor dan dosen-dosen universitas menjadi terpapar luas, sehingga dengan demikian secara bersamaan mencerahkan pikiran masyarakat umum.” Namun, pada akhirnya, ia harus menerima bahwa kelemahan dari para kontributor ini akan menghalangi “persyaratan utama dalam semua kritsisme”: yaitu, “tanpa ampun/ruthlessness”. Marx juga memberi komentar tajam terhadap Zukunft (Masa Depan), mencemooh “upayanya untuk menggantikan frase-frase ideologis seperti ‘keadilan’, dll., dengan pengetahuan materialis (dan …) untuk menjajakan fantasi dari struktur masa depan masyarakat”.

Pada bulan Oktober, Marx mengeluh kepada Friedrich Adolph Sorge tentang “roh korup” yang menyebar di partai, “tidak begitu banyak di kalangan massa seperti di kalangan para pemimpin”. Perjanjian dengan kaum  Lassallean telah “menyebabkan kompromi lebih lanjut dengan para penentu lainnya”. Secara khusus, Marx tidak memiliki waktu untuk “segerombolan sarjana muda yang belum matang dan lulusan yang terlalu bijak yang ingin (ed) memberi sosialisme orientasi ‘lebih tinggi, idealis’”. Mereka pikir mereka bisa menggantikan “basis materialis” (yang “menyerukan dilakukannya studi serius dan objektif jika seseorang ingin beroperasi di atasnya”) dengan sebuah  “mitologi modern tentang dewi Keadilan, Kebebasan, Kesetaraan, dan Persaudaraan”.

Apa yang ada di balik kritik-kritik ini bukanlah perasaan cemburu atau persaingan. Marx menulis kepada jurnalis dan anggota parlemen Wilhelm Blos bahwa dia tidak “peduli akan popularitas”, mengingatkan dia “akan kebenciannya pada kultus pribadi, yang pada saat Internasional, ketika diganggu oleh banyak gerakan… untuk memberikan (kepadanya) kehormatan publik, (dia) tidak pernah mengizinkan siapapun dari mereka untuk memasuki domain publisitas”, atau “tidak pernah membalas (kepada) mereka, kecuali sesekali gertakan”. Sikap ini telah menopangnya sejak ia berkomitmen pada politik di masa mudanya, sehingga ketika Liga Komunis lahir pada 1847, ia dan Engels bersedia bergabung “hanya dengan syarat bahwa segala sesuatu yang kondusif bagi muncul dan berkembangnya kepercayaan takhayul terhadap otoritas dihilangkan dari Aturan-aturan”. Satu-satunya kekhawatirannya adalah, dan terus terjadi, bahwa organisasi buruh yang baru lahir ini seharusnya tidak mengaburkan sifat anti-kapitalisme mereka dan – dengan perilaku gerakan buruh Inggris – mengadopsi garis moderat, pro-borjuis.

II. Masalah Kekerasan
Pada akhir 1870-an, terjadi sebuah peristiwa besar yakni percobaan pembunuhan terhadap Kaisar Wilhelm I oleh seorang anarkis bernama Karl Nobiling pada Juni 1878. Reaksi Marx kemudian dicatat oleh Maksim Kovalevsky: “Saya kebetulan berada di perpustakaan Marx ketika ia mendapat berita percobaan pembunuhan yang gagal itu …. Reaksi (nya) adalah mengutuk aksi teroris tersebut, menjelaskan bahwa hanya ada satu hal yang dapat diharapkan dari upaya (pembunuhan) itu yakni mempercepat persekusi baru terhadap kaum sosialis.” Itulah yang terjadi kemudian, ketika Otto von Bismarck menjadikan aksi percobaan pembunuhan itu sebagai dalih  untuk memperkenalkan Undang-undang Anti-Sosialis (the Anti-Socialist Laws) dan memaksa Reichstag (Parlemen Jerman) untuk mengadopsinya pada bulan Oktober. Marx berkomentar kepada Engels: “Pelarangan, sejak dahulu kala, menjadi sarana yang sempurna untuk membuat gerakan anti-pemerintah ‘ilegal’ dan melindungi pemerintah dari hukum – ‘memiliki kewenangan hukum untuk membunuh kita’.”

Debat di parlemen terjadi di pertengahan September, dan Wilhelm  Bracke mengirim Marx catatan stenografi dari sesi Reichstag dan salinan rancangan undang-undang. Marx berencana untuk menulis artikel kritis untuk pers Inggris dan mulai mengumpulkan petikan-petikan dan catatan-catatam untuk tujuan itu. Dalam beberapa halaman, ia menjabarkan perbedaan antara massa Partai Pekerja Sosialis Jerman dan kaum anarkis: yang pertama merupakan “gerakan historis sejati dari kelas pekerja; yang lain … sebuah hantu pemuda buntu yang berniat membuat sejarah, (yang) hanya menunjukkan bagaimana ide-ide sosialisme Prancis dikarikaturasikan kepada orang-orang kelas atas yang turun kelas.” Dalam membantah argumen menteri dalam negeri Prusia, Agustus Eulenburg, bahwa tujuan para pekerja adalah membuat kekerasan, Marx dia menyatakan posisinya dengan sangat jelas:

Tujuannya adalah untuk pembebasan kelas pekerja dan revolusi (transformasi) masyarakat adalah implisit di dalamnya. Perkembangan historis dapat tetap “damai” hanya selama kemajuannya tidak dihalangi secara paksa oleh mereka yang menggunakan kekuatan sosial pada saat itu. Jika di Inggris, misalnya, atau Amerika Serikat, kelas pekerja akan mendapatkan posisi mayoritas di Parlemen atau Kongres, mereka dapat, dengan cara yang sah, melepaskan dirinya dari jeratan hukum dan lembaga yang menghambat perkembangan mereka. (…) Namun, gerakan “damai” mungkin ditransformasikan menjadi gerakan “paksa” karena adanya perlawanan dari pihak yang berkepentingan untuk memulihkan keadaan sebelumnya; jika (seperti dalam kasus Perang Sipil Amerika dan Revolusi Perancis) mereka dijatuhkan dengan paksa, sebab itu adalah pemberontakan melawan kekuatan “yang sah secara hukum”.
Bagi Marx, kemudian, pemerintah “akan berusaha menekan dengan paksa suatu perkembangan yang tidak disukainya tetapi tidak dapat menyerang secara sah”. Itu, tentu saja, adalah “awal dari revolusi kekerasan” – “sebuah cerita lama yang masih tetap benar selamanya”, tambahnya, mengutip Heinrich Heine (1797-1856).

Dalam sepucuk surat kepada Sorge dari September 1879, Marx menggambarkan kecenderungan-kecenderungan baru yang muncul dalam partai Jerman. Dia menekankan bahwa orang-orang seperti penerbit Karl Höchberg, “seseorang yang bukan apa-apa dalam soal teori dan tidak tahu-menahu soal praktik”, senantiasa “berusaha untuk mencabut gigi sosialisme (yang telah mereka lakukan berulang-kali sesuai dengan formula akademik) dan Partai khususnya”. Tujuan mereka adalah “untuk mencerahkan para pekerja, … untuk memberi mereka, dari pengetahuan mereka yang membingungkan dan dangkal, dengan unsur-unsur edukatif” dan, di atas semua itu, “untuk membuat partai menjadi ‘terhormat’ di mata orang-orang kebanyakan (philistines)”. Mereka ini, Marx menyimpulkan, “hanyalah pembual (windbags) kontra revolusioner yang buruk”. Dengan humor yang halus, ia mengatakan bahwa Bismarck telah “melakukan banyak hal baik yang bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk kita”, dengan memaksakan keheningan selektif di Jerman dan memungkinkan  para pembual semacam itu “kesempatan untuk membuat diri mereka didengar dengan jelas”.

III. Perjuangan Kelas vs  Sosialisme Asal Bunyi
Dalam sebuah laporan polisi Prancis dari London, seorang agen mengklaim bahwa, “setelah kematian Lassalle, Marx (telah menjadi) pemimpin revolusioner Jerman yang diakui. Jika para wakil sosialis di Jerman adalah pemimpin-pemimpin resmi, komandan divisi, Marx adalah kepala staf umum. Dia menyusun rencana pertempuran dan mengawasi apa dilakukan anak buahnya.” Kenyataannya, kritisisme Marx terhadap partai sering tidak dihiraukan, dan dari studinya di London ia mengamati “kedalaman ” dalam mana “para wakil di parlemen” telah “telah terbawa arus parlementarisme ”.

Fokus polemik lainnya adalah pertanyaan tentang siapa yang harus mengedit jurnal baru Partai Buruh Sosialis Jerman, Der Sozialdemokrat (Sosial Demokrat), terbitan yang dimulai di Zurich pada September 1879. Marx dan Engels, tidak setuju dengan sikap yang diusulkan di atas kertas, merasa berkewajiban untuk mengirim surat lain (dirancang oleh Engels) ke August Bebel, Karl Liebknecht dan Bracke. Dalam “Surat Edaran/Circular Letter” (1879), sebagaimana diketahui, mereka mengecam konsensus yang berkembang di partai yang mendukung posisi Karl Höchberg, yang merupakan penyandang dana utama dari jurnal tersebut. Höchberg belum lama berselang menerbitkan sebuah artikel di Jahrbuch für Sozialwissenschaft und Sozialpolitik (Catatan untuk Ilmu Sosial dan Kebijakan Sosial), sebuah jurnal reformis di bawah arahannya, di mana ia menyerukan agar kembali ke semangat Lassallean. Dalam pandangannya, kaum Lassallean telah melahirkan sebuah gerakan politik terbuka “tidak hanya (untuk) para pekerja tetapi semua demokrat yang jujur, di dalam gerbong yang (seharusnya) membawa perwakilan independen dari ilmu pengetahuan dan semua orang yang terinspirasi oleh cinta sejati terhadap umat manusia”.

Bagi Marx, semua ini adalah pandangan yang ia tolak dengan tegas sejak tahun-tahun awalnya dan yang termaktub dalam Manifesto Partai Komunis (1848). “Surat Edaran” menggarisbawahi bahaya salah satu pernyataan Höchberg: “Singkatnya, kelas pekerja tidak mampu membebaskan dirinya dengan usahanya sendiri. Untuk melakukannya, ia harus menempatkan dirinya di bawah arahan borjuis ‘terdidik dan bermilik’ yang secara sendirian memiliki ‘waktu dan kesempatan’ untuk menjadi paling mengerti tentang apa yang terbaik bagi para pekerja.” Dalam pandangan “perwakilan dari borjuis kecil” ini, kaum borjuis “tidak untuk diperangi –  sangat tidak – tetapi dimenangkan melalui propaganda sehebat-hebatnya”.

Bahkan keputusan untuk membela Komune Paris diduga untuk “menghalangi orang-orang yang cenderung ke arah” gerakan buruh. Sebagai kesimpulan, Engels dan Marx mencatat dengan khawatir bahwa tujuan Höchberg adalah untuk membuat “penggulingan tatanan kapitalis … menjadi mustahil” dan “sama sekali tidak relevan bagi praktik politik saat ini”. Oleh karena itu, seseorang dapat “berdamai, berkompromi, bersedekah dengan sepenuh hatinya. Hal yang sama juga berlaku pada perjuangan kelas antara proletariat dan borjuis.” Ketidaksetujuan itu tak bisa dikompromikan.

Oposisi Marx yang gigih terhadap apa yang disebutnya “kaum sosialis asal bunyi yang urakan” mirip dengan pandangannya tentang mereka yang membatasi diri pada retorika kosong, namun bersembunyi di balik kosakata yang radikal. Menyusul peluncuran jurnal Freiheit (Freedom), ia menjelaskan kepada Sorge bahwa ia telah mencela editornya bukan karena “terlalu revolusioner” tetapi karena “tidak memiliki konten revolusioner” dan “hanya menikmati jargon revolusioner”. Dalam pandangan Marx, kedua posisi ini, meskipun berasal dari kecenderungan politik yang sangat berbeda, tidak membahayakan sistem yang ada (kapitalisme) dan pada akhirnya membuat kelangsungan hidup sistem tersebut menjadi mungkin.

Categories
Journalism

Kritik Marx Terhadap Sosial Demokrasi (Bagian I)

I. Melawan Penyimpangan sosial-demokratik
Pada akhir 1874, sebuah berita surat kabar diterima Marx yang mengabarkan bahwa Asosiasi Umum Buruh Jerman, yang didirikan oleh Ferdinand Lassalle, dan Partai Buruh Sosial Demokrat, yang terhubung dengan Marx, berniat untuk bersatu menjadi kekuatan politik tunggal.

Marx dan Engels tidak diajak berkonsultasi mengenai manfaat proyek tersebut, dan baru pada bulan Maret mereka menerima rancangan program partai baru itu. Engels kemudian menulis kepada August Bebel bahwa dia tidak bisa “memaafkannya karena tidak memberi tahu mereka sepatah kata pun tentang keseluruhan proyek politik ini “; dan dia memperingatkan bahwa dirinya dan Marx “tidak akan pernah bisa memberikan kesetiaan (mereka) kepada partai baru” yang didirikan atas dasar sosialisme negara Lassallean. Terlepas dari deklarasi yang tajam ini, para pemimpin yang telah aktif membangun apa yang akan menjadi Partai Pekerja Sosialis Jerman (SAPD) tidak mengubah posisi mereka.

Atas dasar itu, Marx merasa berkewajiban untuk menulis sebuah kritik panjang tentang rancangan program untuk kongres persatuan (unification congress) yang akan diadakan pada 22 Mei 1875 di kota Gotha.

II. Melawan Program Gotha
Dalam surat yang menyertai teksnya, Marx mengakui bahwa “setiap langkah gerakan nyata lebih penting daripada selusin program”. Tetapi dalam kasus “program-program yang prinsipil”, maka program-program itu harus ditulis dengan sangat hati-hati, karena mereka akan menetapkan “patokan bagi seluruh dunia untuk … mengukur seberapa jauh partai (telah) maju”. Dalam Critique of the Gotha Program (1875), Marx mengungkap berbagai ketidaktepatan dan kesalahan dalam manifesto baru yang dirancang di Jerman. Misalnya, dalam mengkritik konsep “distribusi yang adil/fair distribution“, ia bertanya secara polemik: “bukankah borjuis menyatakan bahwa distribusi saat ini adalah ‘adil’? Dan bukankah, pada kenyataannya, satu-satunya distribusi yang ‘adil’ adalah yang berdasarkan modus produksi saat ini?” Dalam pandangannya, tuntutan politik yang harus dimasukkan ke dalam program bukanlah programnya Lassalle “hasil kerja yang tidak berkurang” untuk setiap pekerja, tetapi transformasi dari modus produksi. Marx menjelaskan, dengan ketelitiannya yang luar biasa, bahwa Lassalle “tidak tahu apa itu upah”. Mengikuti para ekonom borjuis, ia “mengambil tampilan atau penampakkan luar ketimbang esensi dari masalah ini”. Marx menjelaskan:

Upah bukanlah seperti apa yang tampak, yaitu nilai, atau harga, dari tenaga kerja, tetapi hanya bentuk topeng untuk nilai, atau harga, dari tenaga kerja. Dengan demikian seluruh konsepsi borjuis tentang upah sampai sekarang, serta semua kritik yang sebelumnya diarahkan terhadap konsepsi ini, dilemparkan ke laut untuk selamanya dan diperjelas bahwa pekerja-upahan diijinkan untuk bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup subsistennya, yaitu untuk hidup hanya sejauh ia bekerja untuk waktu tertentu yang gratis bagi kapitalis (dan karenanya juga untuk konsumsi bersama nilai lebih); bahwa seluruh sistem produksi kapitalis mengaktifkan peningkatan tenaga kerja gratis ini dengan memperpanjang hari kerja atau dengan menggenjot produktivitas, yaitu, meningkatkan intensitas tenaga kerja, dll.; bahwa, konsekuensinya sistem kerja upahan adalah sebuah sistem perbudakan, dan, memang perbudakan ini menjadi lebih parah secara proporsional seiring dengan perkembangan tenaga kerja sosial produktif, tak peduli apakah buruh menerima pembayaran yang lebih baik atau lebih buruk.

Poin kontroversial lain menyangkut peran negara. Marx berpendapat bahwa kapitalisme hanya dapat digulingkan melalui “transformasi revolusioner masyarakat”. Kaum Lassallean berpendapat bahwa “organisasi sosialis dari total tenaga kerja muncul dari bantuan negara, yang negara berikan kepada masyarakat koperasi produsen, dimana negara, bukan pekerja, sebagai aktornya.” Sementara bagi Marx, “masyarakat koperasi hanya memiliki nilai sejauh mereka adalah kreasi independen dari pekerja dan bukan anak didik baik dari pemerintah atau borjuis”; gagasan “bahwa dengan pinjaman negara seseorang dapat membangun masyarakat baru seperti halnya dengan kereta api baru ” adalah khas dari ketidakpastian teoritis Lassalle.

Secara keseluruhan, Marx mengamati bahwa manifesto politik untuk kongres fusi menunjukkan bahwa ide-ide sosialis mengalami kesulitan menembus organisasi pekerja Jerman. Sejalan dengan keyakinan awalnya, ia menekankan bahwa salah satu kesalahan mereka adalah memperlakukan “negara sebagai entitas independen yang memiliki basis intelektual, etika, dan libertariannya sendiri”, alih-alih “memperlakukan masyarakat yang ada sebagai … basis dari negara yang ada”.

Sebaliknya, Wilhelm Liebknecht dan para pemimpin sosialis Jerman lainnya membela keputusan taktis mereka untuk berkompromi tentang program, dengan alasan bahwa ini diperlukan untuk mencapai sebuah partai yang bersatu. Sekali lagi, Marx harus menghadapi jarak yang sangat jauh antara pilihan yang dibuat di Berlin dan di London. Dia sudah berkomentar tentang hal itu sehubungan dengan minimnya keterlibatan organisasi Jerman dalam Asosiasi Kelas Pekerja Internasional (International Working Men’s Association).

III. Polemik dengan Eugen Dühring
Pada dekade 1870-an Marx mengikuti secara intensif pertempuran politik paling penting di tingkat internasional. Tapi  di saat bersamaan, ia tidak pernah kehilangan pengamatannya tentang perkembangan politik utama di Jerman. Setelah ketegangan besar seputar kongres Gotha berlalu, ia melanjutkan upayanya untuk mengarahkan Partai Pekerja Sosialis Jerman ke arah anti-kapitalis. Namun, kecenderungan lain berkembang yang berpeluang memunculkan potensi konflik baru.

Semenjak tahun 1874 Eugen Duhring, seorang profesor ekonomi di Universitas Berlin, mulai menerima perhatian yang signifikan dari para intelektual Partai. Artikel-artikel yang mendukung posisinya muncul di Der Volksstaat (Negara Rakyat), yang telah menjadi organ Partai Buruh Sosial-Demokrat Jerman. Oleh karena itu, setelah diminta oleh Liebknecht untuk terlibat, dan setelah mendengarkan pandangan Marx bahwa perlu “untuk mengkritik Duhring tanpa kompromi”, Engels memutuskan untuk menulis kritik lengkap tentang positivisme Jerman. Tugas ini, yang diperpanjang dari akhir 1876 hingga Juli 1878, berakhir dalam bentuk buku berjudul Anti-Duhring (1877-78), yang penerbitannya didahului oleh kutipan-kutipan di kolom Vorwärts (Maju), koran harian Partai Pekerja Sosialis di Jerman yang lahir dari kongres fusi Gotha.

Marx berperan aktif dalam proyek Anti-Duhring ini: di musim dingin 1877, ia menulis bab kunci “Tentang ‘Sejarah Kritis’”, baik atas nama Engels dan atas namanya sendiri, menganggapnya sebagai respons terhadap serangan yang terkandung dalam buku Duhring  Critical History of Political Economy and Socialism (1871). Marx menunjukkan bahwa “berdasarkan nilai, Herr Duhring memahami lima hal yang sangat berbeda dan secara langsung bertentangan, dan, karenanya,  gambaran yang tepat buatnya adalah, dirinya sendiri tidak tahu apa yang diinginkannya.” Lebih dari itu, dalam buku ekonom Jerman, “’hukum alam dari semua ilmu ekonomi’, diperkenalkan dengan pongah,  terbukti sekadar akrab secara universal, dan bahkan  seringkali tidak dipahami dengan baik, sehingga deskripsi terburuk oun tidak bisa menggambarkannya.” Satu-satunya penjelasan “yang ia berikan dari “fakta-fakta ekonomi” adalah bahwa “mereka adalah hasil dari ‘kekuatan’, sebuah istilah yang telah dimiliki oleh orang-orang picik (philistine) dari semua bangsa selama ribuan tahun untuk menghibur dirinya sendiri atas segala hal yang tidak menyenangkan yang terjadi padanya, dan yang membuat kita berada di tempat kita sekarang ini. ”Bagi Marx, Duhring tidak mencoba untuk “menyelidiki asal-usul dan dampak-dampak dari kekuatan ini”, dan, ketika dipaksa untuk menjelaskan eksploitasi kapitalis terhadap buruh, ia “pertama-tama menunjukkannya secara umum berdasarkan pajak dan biaya tambahan” à la Proudhon, kemudian “menjelaskannya secara terperinci melalui teori Marx tentang surplus-tenaga kerja”. Hasilnya benar-benar tidak masuk akal: “dua cara pandang yang benar-benar kontradiktif, … di salin mentah-mentah tanpa menarik napas.”

Categories
Journalism

Marx Tentang Kemerdekaan Polandia

Dalam surat saya sebelumnya, saya menceritakan bagaimana pada bagian pertama dekade 1860an, perhatian Marx utamanya tercurah pada peristiwa yang mengguncang Amerika Serikat.
Kali ini, saya akan bercerita tentang peristiwa yang juga diikuti Marx dengan ketertarikan yang sama, yakni perkembangan di Rusia dan Eropa Timur yang juga berlangsung pada dekade 1860an itu.
Dalam sebuah suratnya pada Lassalle di bulan  Juni 1860, Marx membuat beberapa poin terkait salah satu fokus politik utamanya: penentangannya terhadap Rusia dan sekutunya Henry Palmerston dan Louis Bonaparte. Dia mencoba meyakinkan Lassalle bahwa tidak ada yang tidak sah dalam konvergensi antara posisi “partai” mereka dan posisi David Urquhart, politisi Tory dengan pandangan romantis. Mengenai Urquhart – yang memiliki keberanian untuk menerbitkan kembali, untuk tujuan anti-Rusia dan anti-Liberal, artikel-artikel Marx melawan Palmerston yang telah muncul di organ resmi Chartist Inggris pada awal tahun 1850-an – ia menulis: “Ia … secara subjektif reaksioner … ini sama sekali tidak menghalangi gerakan dalam kebijakan luar negeri, di mana ia adalah pemimpin, dari keadaan yang secara objektif revolusioner. (… Itu) bagi saya masalah pengabaian total, sebagaimana dalam perang melawan Rusia, misalnya, itu akan menjadi masalah ketidakpedulian Anda apakah, dalam menembaki Rusia, motif teman Anda di garis tembak adalah hitam, merah dan emas (yaitu, nasionalis) atau revolusioner. “Marx melanjutkan:” Itu adalah sesuatu yang lumrah bahwa dalam kebijakan luar negeri, sangat sedikit yang bisa dicapai dengan menggunakan kata-kata kunci seperti ‘reaksioner’ dan ‘revolusioner’. “

Masalah Revolusi Polandia dan Peran Reaksioner Rusia
Senantiasa mencari tanda-tanda pemberontakan yang mungkin dapat membatasi peran reaksioner Rusia dalam perpolitikan Eropa, Marx menulis kepada Engels pada awal 1863 (segera setelah pemberontakan Januari Polandia dan tawaran langsung Bismarck untuk membantu menindas pemberontakan itu) bahwa “era revolusi sekarang cukup terbuka di Eropa sekali lagi”. Dan empat hari kemudian, ia menuliskan refleksinya, “Masalah Polandia dan intervensi Prusia tentu saja mencerminkan kombinasi yang mengharuskan kita untuk berbicara.”
Menyadari pentingnya peristiwa-peristiwa tersebut, Marx menganggap tidaklah cukup bagi mereka sekadar berbicara melalui artikel-artikel yang diterbitkan untuk harian Wina, Die Presse (koran tempat ia paling banyak menerbitkan tulisannya pada tahun 1862). Oleh karena itu ia menyarankan agar segera menerbitkan manifesto atas nama Asosiasi Pendidikan Pekerja Jerman di London, yang posisi politiknya dekat dengan posisinya. Ini akan memberinya perlindungan jika dia melanjutkan gagasan untuk mengajukan kewarganegaraan Jerman dan “kembali ke Jerman”. Engels seharusnya menulis “sedikit militer” dari teks kecil ini, dengan fokus pada “kepentingan militer dan politik Jerman dalam pemulihan Polandia”, sementara ia akan menulis “sedikit diplomasi”. Ketika, pada 18 Februari 1863, Prussian Chamber of Deputies mengutuk kebijakan pemerintah dan mengeluarkan resolusi yang mendukung netralitas, Marx menggebrak dengan antusias: “Kita akan segera melakukan revolusi.” Dalam pandangannya, masalah Polandia menawarkan “kesempatan lebih lanjut untuk membuktikan bahwa tidak mungkin untuk menuntut kepentingan Jerman selama negara Hohenzollerns sendiri terus ada.” Tawaran Bismarck untuk mendukung Tsar Alexander II, atau persetujuannya bagi “Prussia untuk memperlakukan wilayah [Polandia] sebagai Rusia”, memberi Marx motivasi politik lebih lanjut untuk menyelesaikan rencananya.
Pada periode inilah Marx memulai proyek penelitiannya yang menyeluruh. Dalam sebuah surat yang dikirimnya kepada Engels pada akhir Mei, dia melaporkan bahwa pada bulan-bulan sebelumnya – terlepas dari studi ekonomi politik – dia telah mempelajari aspek-aspek masalah Polandia; ini memungkinkannya untuk “mengisi kekosongan dalam pengetahuan (diplomatik, historis) (nya) hal-ikhwal masalah Rusia-Prusia-Polandia”. Maka, antara Februari dan Mei, ia kemudian menulis sebuah manuskrip berjudul “Polandia, Prusia dan Rusia” (1863), yang dengan baik mendokumentasikan penundukkan sejarah Berlin ke Moskow. Untuk Hohenzollerns, “kemajuan Rusia mewakili hukum perkembangan Prusia”; “Tidak ada Prusia tanpa Rusia”. Sebaliknya, bagi Marx, “pemulihan Polandia berarti pemusnahan Rusia kini, pembatalan tawarannya untuk hegemoni global”. Untuk alasan yang sama, “penghancuran Polandia, kepasrahannya bagi Rusia, (akan berarti) penurunan Jerman, runtuhnya satu-satunya bendungan yang menahan banjir Slav universal”.
Teks yang direncanakan tidak pernah terbit. Dalam keadaan sedemikian, tanggung jawab jelas berada di tangan Engels (yang seharusnya menulis bagian yang paling penting, pada aspek militer), sedangkan “sedikit diplomatik” Marx, yang ia “siap lakukan kapan saja”, adalah “hanya sebuah lampiran.” Namun pada Oktober, Marx berhasil menerbitkan“ Proklamasi Polandia oleh Masyarakat Pendidikan Pekerja Jerman di London ”(1863), yang membantu mengumpulkan dana bagi pejuang kemerdekaan Polandia. Proklamasi itu dimulai dengan pernyataan tegas: “Urusan Polandia adalah Urusan Jerman. Tanpa Polandia yang merdeka tidak akan ada Jerman yang merdeka dan bersatu, tidak ada emansipasi Jerman dari dominasi Rusia yang dimulai dengan pertama-tama pemisahan  Polandia.” Menurut Marx, sementara “borjuasi Jerman tampak diam, pasif dan acuh tak acuh, atas pembantaian terhadap bangsa yang heroik yang melindungi bangsa Jerman dari pendudukan orang-orang Moskow”, “kelas pekerja Inggris “akan terus berjuang bersama pemberontak Polandia.
Perjuangan ini, yang berlangsung selama lebih dari setahun, adalah yang terpanjang yang pernah dilancarkan melawan pendudukan Rusia. Ia berakhir pada April 1864, ketika Rusia, setelah mengeksekusi wakil-wakil pemerintah revolusioner, akhirnya menghancurkan pemberontakan tersebut. Pada bulan Mei, pasukan Rusia juga menyelesaikan aneksasi Kaukasus utara, mengakhiri perang yang dimulai pada tahun 1817. Sekali lagi, Marx menunjukkan wawasan yang luas, dan tidak seperti “Eropa lainnya” – yang “menyaksikan dengan ketidakpedulian idiot” – ia menganggap “penindasan terhadap pemberontakan Polandia dan aneksasi Kaukasus” sebagai “dua peristiwa paling penting yang telah terjadi di Eropa sejak 1815”.

Dukungan Internasional untuk Perjuangan Polandia
Marx terus menyibukkan dirinya dengan masalah Polandia, yang muncul dalam beberapa kali perdebatana dalam Asosiasi Kelas Pekerja Internasional. Sebenarnya, pertemuan persiapan yang signifikan dari pendirian  Internasional terjadi pada Juli 1863, ketika sejumlah organisasi pekerja Perancis dan Inggris telah bertemu di London untuk menyatakan solidaritas dengan orang-orang Polandia terhadap pendudukan Tsar.
Kemudian, tiga bulan setelah pendirian Internasional, pada pertemuan Komite Tetap Dewan Umum yang diadakan pada Desember 1864, jurnalis Peter Fox berargumen dalam pidatonya di Polandia bahwa “Perancis (secara tradisional) lebih simpatik (terhadap orang Polandia) ketimbang orang Inggris ”. Marx tidak membantah hal ini, tetapi sebagaimana surat yang ditulisnya kepada Engels, dia kemudian “membuka gambaran tentang pengkhianatan Perancis yang terus menerus atas Polandia dari Louis XV ke Bonaparte III”. Dalam konteks inilah ia menyusun naskah baru, yang kemudian dikenal sebagai “Polandia dan Prancis” (1864). Ditulis dalam bahasa Inggris, itu mencakup rentang waktu dari Perdamaian Westphalia (1648) hingga 1812.
Satu tahun setelahnya, pada September 1865, menyusul Konferensi Internasional London, Marx mengusulkan rancangan agenda untuk kebijakan luar negeri gerakan buruh di Eropa. Ia menunjukkan di antara prioritas “kebutuhan untuk menghilangkan pengaruh Moskow di Eropa dengan menerapkan hak penentuan nasib sendiri bagi bangsa-bangsa, dan pembentukan kembali Polandia di atas basis sosial dan demokratis”. Butuh beberapa dekade untuk ini terwujud. Tetapi kasus Polandia menunjukkan bahwa Marx, ketika dihadapkan dengan peristiwa sejarah besar di berbagai tempat yang jauh, mampu memahami apa yang terjadi di dunia dan berkontribusi pada transformasinya. Dalam pandangan saya, perspektif internasionalis ini mendesak untuk dihidupkan kembali oleh gerakan Kiri di dunia saat ini.

Categories
Journalism

Marx Tentang Perjuangan Melawan Perbudakan di Amerika Serikat

Pada musim semi 1861, politik dunia diguncang oleh pecahnya Perang Saudara di  Amerika Serikat
Perang itu meletus tak lama setelah Abraham Lincoln terpilih sebagai Presiden AS. Tujuh negara pemilik budak menyatakan pemisahan diri mereka dari Amerika Serikat: Carolina Selatan, Mississippi, Florida, Alabama, Georgia, Louisiana, dan Texas. Tak lama kemudian bergabung Virginia, Arkansas, Tennessee, Carolina Utara, lalu Missouri dan Kentucky (meskipun dua yang terakhir tidak secara resmi menyatakan pemisahan diri). Konflik berdarah yang terjadi kemudian merenggut sekitar 750.000 jiwa di antara Konfederasi/Confederation (yang lebih memilih mempertahankan dan memperluas perbudakan) dan Persatuan/Union (Amerika yang setia pada Lincoln, meskipun dalam beberapa kasus mempertimbangkan perbudakan legal).
Peristiwa itu segera memicu Karl Marx untuk mulai mempelajari situasi tersebut dan, pada awal Juli, menulis kepada kawannya Friedrich Engels: “Konflik antara Selatan dan Utara … akhirnya sampai ke pikiran (jika kita mengabaikan tuntutan baru ‘para pemberani’) oleh bobot perkembangan luar biasa dari Negara-Negara Barat-Utara yang semakin meningkat skalanya. “Dalam pandangan Marx, tidak ada komponen dari gerakan separatis yang memiliki legitimasi; mereka harus dilihat sebagai masalah “perebutan kekuasaan”, karena “tidak mengijinkan  orang banyak untuk memilih”. Bagaimanapun, apa yang dipermasalahkan tidak hanya “pemisahan diri dari Utara, tetapi juga mengonsolidasikan dan mengintensifkan oligarki dari 300.000 tuan budak (slave lords) di Selatan”. Beberapa hari kemudian, Marx mengamati bahwa “Tindakan pemisahan diri [telah] diwakili secara keliru di koran-koran Inggris”, karena di mana-mana, dengan perkecualian Carolina Selatan, “terdapat oposisi yang kuat melawan pemisahan diri ini”. Selain itu, di tempat-tempat di mana konsultasi pemilihan diizinkan – “hanya beberapa” dari Negara-negara di Teluk Meksiko mengadakan “pemungutan suara rakyat yang layak” – terjadi dalam kondisi tercela. Di Virginia, misalnya, “massa besar pasukan Konfederasi tiba-tiba diterjunkan ke wilayah itu” dan “di bawah perlindungan mereka (ini benar-benar Bonapartis), massa memilih pemisahan diri” – namun ada “50.000 suara” untuk Persatuan/Union,” terlepas dari terorisme sistematis”. Texas, yang, “setelah Carolina Selatan, [memiliki] barisan budak dan terorisme terbesar”, masih mencatat “11.000 suara untuk Union”. Di Alabama, “tidak ada pemilihan suara baik untuk pemisahan diri atau Konstitusi baru”, dan mayoritas 61-39 delegasi konvensi yang mendukung pemisahan diri hanya karena fakta bahwa di bawah Konstitusi “setiap pemilik budak juga memilih 3/5 budaknya”. Sedangkan untuk Louisiana, lebih banyak suara untuk Union ketimbang suara untuk pemisahan diri yang diberikan kepada “pemilihan delegasi untuk konvensi”, tetapi cukup banyak delegasi yang membelot untuk mengubah keseimbangan.
Pertimbangan-pertimbangan semacam itu, dalam surat-surat Marx kepada Engels, dilengkapi dengan argumen yang bahkan lebih penting dalam karya jurnalistiknya. Selain kontribusi sporadis ke koran New-York Tribune, Marx sejak Oktober 1861 juga menulis untuk harian liberal Wina Die Presse, yang jumlah pelanggannya mencapai 30.000. Wina Die Presse adalah koran yang paling banyak dibaca di Austria dan salah satu yang paling populer di negara-negara berbahasa Jerman. Tema utama artikel-artikel ini – yang juga termasuk laporan tentang invasi Prancis kedua ke Meksiko – adalah dampak ekonomi dari perang Amerika terhadap Inggris. Secara khusus, Marx fokus pada perkembangan perdagangan dan situasi keuangan, serta menilai kecenderungan-kecenderungan dalam opini publik. Dengan demikian, dalam “A London Workers ‘Meeting” (1862), ia menyatakan senang dengan demonstrasi yang dilakukan oleh kaum buruh Inggris, yang, meskipun “tidak diwakili di Parlemen”, sukses membawa “pengaruh politik” mereka untuk menanggung dan mencegah intervensi militer Inggris melawan Union.
Demikian pula, Marx menulis sebuah artikel yang berapi-api untuk New-York Tribune setelah Trent Affair, ketika Angkatan Laut AS secara ilegal menangkap dua diplomat Konfederasi di atas kapal Inggris. Amerika Serikat, tulisnya, tidak boleh melupakan “bahwa setidaknya kelas pekerja Inggris [tidak pernah] meninggalkan” kapal itu. Bagi kelas pekerja Inggris sikap itu dilakukan “meskipun stimulan beracun setiap hari di publikasi oleh pers yang kejam dan sembrono, tidak ada satu pun pertemuan publik untuk perang yang dapat diadakan di Inggris selama semua periode yang damai diguncang dalam keseimbangan”. “Sikap kelas pekerja Inggris” semakin dihargai ketika diletakkan berdampingan dengan “perilaku munafik, bodoh, dan pengecut John Bull yang resmi dan baik-baik saja”; keberanian dan konsistensi di satu sisi, inkoherensi dan kontradiksi-diri di sisi lain. Dalam sebuah suratnya kepada Ferdinand Lassalle pada Mei 1861, ia berkomentar: “Seluruh pers resmi di Inggris, tentu saja, mendukung para pemilik budak. Mereka adalah orang yang sama yang membuat dunia bosan dengan filantropi perdagangan anti perbudakan. Tapi kapas, kapas!”
Ketertarikan Marx pada Perang Sipil jauh melampaui konsekuensi-konsekuensinya bagi Inggris; dia ingin, di atas segalanya, menjelaskan sifat dari konflik tersebut. Artikel yang ditulisnya untuk New-York Tribune beberapa bulan setelah konflik pecah adalah contoh yang baik tentang ini: “Orang-orang Eropa tahu bahwa perjuangan untuk kelanjutan Union adalah perjuangan melawan kelanjutan slaveocracy (demokrasi-perbudakan) – yang dalam kontes ini adalah bentuk tertinggi dari pemerintahan sendiri oleh rakyat yang terealisasi dalam wujud perlawanan terhadap bentuk perbudakan manusia paling kejam dan tak tahu malu yang terekam dalam catatan sejarah.”
Dalam beberapa artikel untuk Die Presse, Marx menganalisis secara lebih mendalam argumen kedua pihak yang berseberangan. Dia memulai dengan menunjukkan kemunafikan kaum Liberal dan Konservatif Inggris. Dalam “Perang Sipil Amerika Utara” (25 Oktober 1861), ia mencemooh “penemuan brilian” The Times, harian Inggris terkemuka ketika itu, bahwa perang tersebut hanyalah “perang tarif belaka, perang antara sistem proteksionis dan sistem perdagangan bebas”, dan kesimpulannya bahwa Inggris tidak punya pilihan selain menyatakan dukungannya pada “perdagangan bebas” yang diwakili oleh Konfederasi Selatan. Beberapa mingguan, termasuk The Economist dan The Saturday Review, melangkah lebih jauh dan bersikeras bahwa “masalah perbudakan … sama sekali tidak ada hubungannya dengan perang ini”.
Melawan penafsiran-penafsiran ini, Marx memperhatikan motif-motif politik di balik konflik itu. Pada pemilik budak di Selatan, ia mengatakan bahwa tujuan utama mereka adalah untuk mempertahankan kontrol terhadap Senat dan karenanya “kontrol politik Amerika Serikat”. Untuk itu, adalah perlu menaklukkan daerah baru (seperti yang terjadi pada tahun 1845 dengan aneksasi Texas) atau mengubah wilayah-wilayah yang ada di AS menjadi “negara budak”. Para pendukung utama perbudakan di Amerika adalah “oligarki sempit yang [berhadapan] dengan berjuta-juta orang kulit putih miskin, yang jumlahnya terus meningkat melalui konsentrasi kepemilikan tanah dan yang kondisinya hanya bisa dibandingkan dengan masyarakat rendahan (plebeian) Romawi pada periode kemerosotan ekstrim Roma ”. Oleh karena itu, “akuisisi dan prospek akuisisi wilayah-wilayah baru” adalah satu-satunya cara yang mungkin untuk menyamakan kepentingan orang miskin dengan kepentingan para pemilik budak, “untuk memberikan kepada mereka yang haus akan tindakan sebuah arah yang tidak berbahaya dan menjinakkan mereka dengan harapan bahwa suatu hari kelak mereka bisa menjadi pemilik budak”. Di sisi lain, Lincoln mengejar tujuan “membatasi dengan ketat perbudakan di daerah lamanya”, yang “terikat pada hukum ekonomi untuk mengarah pada kepunahan bertahap” dan karenanya untuk melenyapkan “hegemoni” politik  dari “negara-negara budak”.
Marx menggunakan artikelnya untuk membantah yang sebaliknya: “Seluruh gerakan didasarkan dan, seperti yang kita lihat, pada masalah budak. Bukan dalam pengertian apakah budak di dalam negara budak yang ada harus dibebaskan secara langsung atau tidak, tetapi apakah 20 juta manusia bebas di Utara harus tunduk lebih lama lagi kepada oligarki 300 ribu pemilik budak. ”Apa yang dipertaruhkan – dan Marx mendasarkan ini pada wawasannya tentang mekanisme ekspansionis dari bentuk ekonomi – adalah “apakah Wilayah republik yang luas harus menjadi pembibitan bagi negara-negara bebas atau untuk perbudakan; [dan] apakah kebijakan nasional dari Union adalah penggunaan kekuatan bersenjata untuk menyebarkan perbudakan ke Meksiko, Amerika Tengah dan Selatan”.
Penilaian ini menyoroti jurang yang memisahkan Marx dari Giuseppe Garibaldi, yang telah menolak tawaran pos komando angkatan darat di Utara dengan alasan bahwa tawaran itu hanya soal perebutan kekuasaan yang tidak ada urusannya dengan emansipasi para  budak. Mengenai posisi Garibaldi dan upayanya yang gagal untuk memulihkan perdamaian antara kedua belah pihak, Marx berkomentar kepada Engels: “Garibaldi, si brengsek itu, telah membodohi dirinya sendiri dengan suratnya kepada Yankees yang mempromosikan kerukunan.” Sementara Garibaldi gagal memahami tujuan sebenarnya atau opsi-opsi dalam proses yang sedang berjalan, Marx – sebagai seorang non-maksimalis bersikap hati-hati dengan perkembangan sejarah yang mungkin – segera merasa bahwa hasil dari Perang Sipil Amerika akan menentukan pada skala dunia dan menetapkan jarum jam sejarah bergerak baik di lintasan perbudakan atau emansipasi.
Pada November 1864, dihadapkan dengan peristiwa yang berlangsung cepat dan dramatis, Marx meminta pamannya Philips untuk merefleksikan “bagaimana pada saat pemilihan Lincoln [pada tahun 1860] itu hanya masalah tidak membuat konsesi lebih lanjut kepada pemilik budak, sementara tujuan yang kini diakuinya, yang sebagian telah disadari, adalah penghapusan perbudakan”. Dan Marx menambahkan: “Kita harus mengakui bahwa revolusi besar tidak pernah terjadi dengan kecepatan yang sedemikian cepat. Revolusi ini akan memiliki pengaruh yang sangat bermanfaat bagi seluruh dunia.”
Pemilihan kembali Lincoln pada November 1864 memberikan kesempatan kepada Marx untuk mengekspresikan, atas nama Asosiasi Pekerja Internasional, ucapan selamat dengan signifikansi politik yang jelas: “Jika perlawanan terhadap Penguasa Budak adalah semboyan yang disediakan untuk pemilihan pertama Anda, maka kemenangan dari pemilihan ulang Anda adalah seruan Kematian untuk Perbudakan”.
Beberapa perwakilan dari kelas penguasa Selatan telah menyatakan bahwa “perbudakan [adalah] lembaga yang bermanfaat”, dan bahkan berkhotbah bahwa itu adalah “satu-satunya solusi dari masalah besar ‘hubungan buruh dengan kapital’.” Itulah kenapa Mars bersikeras meluruskannya:
Kelas-kelas pekerja Eropa mengerti seketika itu juga, bahkan sebelum keberpihakan fanatik kelas-kelas atas untuk bangsawan Konfederasi telah memberikan peringatan yang suram, bahwa pemberontakan para pemilik budak adalah lonceng peringatan bagi sebuah perang suci melawan pekerja, dan bahwa bagi para pekerja, dengan harapan mereka untuk masa depan, bahkan penaklukan-penaklukan di masa lalu mereka dipertaruhkan dalam konflik besar di sisi lain Atlantik tersebut.
Marx kemudian membahas masalah yang tidak kalah pentingnya:
Sementara kelas pekerja, kekuatan politik sejati di Utara, mengijinkan perbudakan untuk mengotori republik mereka sendiri; sementara di depan orang-orang Negro, yang dikuasai dan dijual tanpa persetujuannya, mereka (pekerja kulit putih ini) menyombongkan hak prerogatif tertinggi dari pekerja kulit putih untuk menjual dirinya sendiri dan memilih tuannya sendiri; mereka (para pekerja kulit putih ini) tidak akan bisa mencapai kebebasan kerja yang sejati atau mendukung saudara-saudara mereka di Eropa dalam perjuangannya untuk pembebasan.
Hal yang sangat mirip dikemukakan Marx dalam Capital Volume I, di mana ia dengan tegas menggarisbawahi bahwa “di Amerika Serikat, setiap gerakan buruh independen dilumpuhkan selagi perbudakan merusak sebagian dari republik. Buruh di dalam kulit  yang putih tidak bisa membebaskan dirinya sendiri ketika itu dilabeli di dalam kulit yang hitam.” Tetapi, “sebuah kehidupan baru segera muncul dari kematian perbudakan. Buah pertama dari Perang Saudara Amerika ini adalah agitasi” untuk delapan jam kerja sehari.
Marx sangat menyadari posisi politik Abraham Lincoln yang moderat, juga tidak menutupi prasangka rasial dari beberapa sekutunya. Tetapi dia selalu dengan jelas menekankan, tanpa sektarianisme, perbedaan antara sistem budak di Selatan dan sistem yang didasarkan pada upah buruh di Utara. Dia mengerti bahwa, di Amerika Serikat, kondisi-kondisinya sedang berkembang untuk menghancurkan salah satu institusi paling terkenal di dunia. Akhir dari perbudakan dan penindasan ras akan memungkinkan gerakan pekerja global untuk beroperasi dalam kerangka kerja yang lebih menguntungkan untuk pembangunan masyarakat tanpa kelas dan modus produksi komunis.
Dengan mengingat hal ini, Marx menyusun “Pidato dari Asosiasi Kelas Pekerja Internasional kepada Presiden Johnson”, yang menggantikan Lincoln setelah pembunuhannya pada 14 April 1865. Marx ingin mengingatkan Andrew Johnson bahwa, dengan jabatan presidennya, ia telah menerima “tugas untuk mencabut dengan hukum apa yang telah ditebas oleh pedang”: yaitu,” untuk memimpin pekerjaan rekonstruksi politik dan regenerasi sosial yang sulit …; untuk memulai era baru emansipasi buruh.”

Categories
Journalism

Militansi Politik Marx Di Masa Asosiasi Kelas Pekerja Internasional (Bagian II)

I. Pentingnya Partai Politik setelah Komune Paris

SETELAH kemenangan Jerman di Sedan dan penangkapan Bonaparte, rakyat Paris berbalik melawan Adolphe Thiers, dan pada 18 Maret 1871 memulai peristiwa politik besar pertama dalam kehidupan gerakan buruh: Komune Paris (Paris Commune).

Tetapi selama “minggu berdarah” (21-28 Mei 1871), sekitar sepuluh ribu Communard (para pendukung Komune Paris) terbunuh dalam pertempuran atau dieksekusi secara sewenang-wenang; sebuah pembantaian paling berdarah dalam sejarah Prancis. 43.000 lainnya atau lebih ditawan, 13.500 di antaranya kemudian dijatuhi hukuman mati, dipenjara, di pekerja paksakan atau di deportasi. Sejak saat itu, Internasional berada di ambang badai, dituding sebagai provokator untuk setiap tindakan melawan kekuasaan yang mapan. “Ketika kebakaran besar melanda Chicago,” Marx merenung dengan ironi yang pahit, “surat kawat (telegram) di seluruh dunia mengumumkannya sebagai perbuatan terkutuk Internasional; dan yang sungguh menakjubkan bahwa gerakan keji itu tidak dikaitkan dengan badai yang menghancurkan West Indies”.

Namun demikian, pemberontakan Paris semakin memperkuat gerakan buruh, mendorongnya untuk mengambil posisi yang lebih radikal dan mengintensifkan militansinya. Pengalaman menunjukkan bahwa revolusi adalah mungkin, bahwa tujuannya dapat dan harus membangun masyarakat yang benar-benar berbeda dari tatanan kapitalis, tetapi juga bahwa, untuk mencapai ini, para pekerja harus menciptakan bentuk-bentuk asosiasi politik yang tahan lama dan terorganisir dengan baik. Ide-ide ini kemudian diperkenalkan dalam undang-undang (statuta) organisasi di Konferensi London pada September 1871. Salah satu resolusi yang disahkan di sana menyatakan: “bahwa untuk melawan kekuatan kolektif dari kelas-kelas berpunya, kelas pekerja tidak dapat bertindak, sebagai kelas, kecuali dengan membentuk dirinya menjadi sebuah partai politik (…); bahwa pengolompokkan kelas buruh ke dalam sebuah partai politik sangat diperlukan untuk memastikan kemenangan revolusi sosial dan tujuan akhirnya – penghapusan kelas-kelas”. Kesimpulannya jelas: “gerakan ekonomi [kelas pekerja] dan aksi politiknya menyatu tidak terpisahkan”.

Sementara Kongres Jenewa tahun 1866 menetapkan pentingnya serikat pekerja, Konferensi London 1871 menggeser fokus ke instrumen kunci lain dari gerakan buruh modern: partai politik. Bagi Marx, emansipasi diri kelas pekerja membutuhkan proses yang panjang dan sulit – kebalikan dari teori dan praktik dari Catechism of a Revolutionary-nya Sergei Nechaev yang dianjurkan oleh perkumpulan rahasia yang dikutuk oleh para delegasi di London, tetapi didukung dengan sangat antusias oleh Mikhail Bakunin.

Untuk semua klaim manfaat yang menyertainya, kejadian London dilihat oleh banyak orang sebagai campur tangan yang kasar. Tidak hanya kelompok-kelompok yang terkait dengan Bakunin tetapi hampir semua federasi dan seksi-seksi lokal menganggap prinsip otonomi dan menghormati realitas yang beragam telah menjadikan Internasional sebagai salah satu pilarnya. Kesalahan perhitungan dari Marx ini kemudian mempercepat krisis organisasi.

Pertarungan terakhir antara kelompok ‘sentralis’ dan kelompok ‘otonomis’ terjadi di Kongres Den Haag, pada September 1872. Menyadari pentingnya Kongres ini, Marx, dengan ditemani Engels, memutuskan untuk hadir secara pribadi. Inilah satu-satunya kongres Internasional yang dihadirinya. Seluruh sesi kongres ditandai dengan antagonisme dimana kedua kubu gagal mencapai kata sepakat, dan persetujuan atas resolusi dimungkinkan hanya karena komposisi yang terdistorsi. Bagaimanapun, setelah momen ini, partai dianggap penting untuk perjuangan proletariat: partai harus independen dari semua kekuatan politik yang ada dan akan dibangun, baik secara program maupun organisasi, berdasarkan konteks nasional.

II. Sumbangan Internasional kepada Marx

Hasil dari Konferensi London dan Kongres Den Haag secara signifikan memperburuk krisis internal, dengan tidak memperhitungkan suasana yang berlaku atau untuk menampilkan pandangan ke depan yang diperlukan guna menghindari menguatnya pengaruh Bakunin dan kelompoknya. Ini membuktikan kemenangan yang menghancurkan (Pyrrhic victory) buat Marx – yang, dalam upaya menyelesaikan konflik internal, akhirnya menonjolkan mereka. Namun demikian, tetap saja bahwa keputusan yang diambil di London hanya mempercepat proses yang sudah berjalan dan tidak mungkin dibalik.

Di samping seluruh pertimbangan-pertimbangan sejarah dan organisasional ini, terdapat juga pertimbangan lain yang tidak kalah pentingnya terkait penyebab utama krisis Internasional. Sebagaimana telah diingatkan Marx kepada para delegasi di suatu sesi Konferensi London tahun 1871, “pekerjaan Dewan telah menjadi sangat besar, yang diwajibkan untuk menangani masalah-masalah umum dan masalah nasional”. Internasional kini bukan lagi organisasi yang kecil seperti pada 1864, yang kakinya hanya ada di Inggris dan Prancis; ia kini telah berdiri di seluruh negara Eropa, dengan masalah-masalah dan karakter-karakternya yang khusus. Tidak hanya organisasi di mana-mana dirundung konflik internal, tetapi kedatangan para pendukung Komune yang mengungsi di London, dengan gangguan-ganguan baru dan muatan ide-ide yang beraneka ragam, menyebabkan tugas Dewan Umum untuk melaksanakan kerja-kerja penyatuan politik kian bertambah sulit.

Selama delapan tahun, Marx dengan sangat bersemangat aktif dalam Internasional. Sadar bahwa kekuatan buruh sedang mengalami kemunduran menyusul kekalahan Komune Paris – fakta paling penting saat itu baginya – ia kemudian mengabdikan sisa hidupnya untuk menyelesaikan Capital. Ketika ia menyeberangi Laut Utara menuju Belanda, ia merasakan bahwa pertempuran yang sedang menunggunya merupakan aktivitasnya yang terakhir sebagai seorang pelaku langsung aktivitas revolusioner itu.

Dari seorang sosok yang semula diremehkan pada pertemuan pertama di St. Martin Hall pada 1864, Marx kemudian diakui sebagai pemimpin Internasional, tidak hanya oleh para peserta kongres dan Dewan Umum, tapi juga oleh publik luas. Jadi, walaupun Internasional tentu berutang banyak hal pada Marx, Internasional juga telah mengubah hidupnya. Sebelum berdirinya Internasional, ia hanya dikenal di lingkaran kecil aktivis politik. Kemudian, dan di atas segalanya setelah Komune Paris – juga, tentu saja, publikasi karya besarnya pada 1867 – ketenaranya menyebar di kalangan revolusioner di banyak negara Eropa, keadaan dimana media menjulukinya sebagai “red terror doctor.” Dengan tanggung jawab yang melekat atas perannya di Internasional – yang memungkinkannya untuk mengalami langsung dari dekat begitu banyak perjuangan ekonomi dan politik – kemudian mendorongnya untuk melakukan refleksi yang mendalam akan komunisme dan memperkaya keseluruhan teori anti kapitalisnya.***

Categories
Journalism

Militansi Politik Marx Di Masa Asosiasi Kelas Pekerja Internasional (Bagian I)

I. Sumbangan Marx pada Internasional

ASOSIASI Kelas Pekerja Internasional (The International Working Men’s Association) – didirikan pada 28 September 1864, adalah sebuah organisasi tempat dimana berbagai aliran politik yang berbeda mampu hidup berdampingan satu sama lain.

Serikat buruh reformis dari Inggris, kaum mutualis Prancis yang terinspirasi oleh teori-teori Pierre-Joseph Proudhon, kalangan antikapitalis, dan berbagai kelompok lain, termasuk mereka yang dipengaruhi oleh ide-ide kaum sosialis ‘utopian’, berpartisipasi selama delapan tahun yang intens untuk mengembangkan pengalaman pertama dari politik transnasional gerakan buruh.
Untuk memastikan kebersamaan semua aliran dalam sebuah organisasi yang sama, dengan program yang sangat berbeda dari pendekatan semula dari masing-masing partisipan, merupakan sebuah prestasi gemilang seorang Karl Marx. Kecerdasan politiknya membuatnya sanggup merekonsiliasikan sesuatu yang tampaknya mustahildirekonsiliasikan, memastikan Internasional tidak secara tergesa-gesa mengikuti jalan buntu dari banyak asosiasi-asosiasi buruh yang telah ada sebelumnya. Adalah Marx yang memberikan tujuan jelas kepada Internasional, dan Marx juga yang mencapai pendekatan non-eksklusif, namun tegas berbasiskan kelas, memenangkan program politik yang berkarakter massa, yang melampaui seluruh sektarianisme. Roh politik dari Dewan Umum (General Council) selalu adalah Marx: dialah yang menulis rancangan dari seluruh resolusi-resolusi utama dan mempersiapkan seluruh laporan-laporan kongres.
Marx jugalah yang menulis Pidato Pembukaan (Inaugural Address) dan Statuta Sementara (Provisional Statutes) dari Internasional. Dalam dua teks fundamental ini, sebagaimana yang diikuti banyak orang, Marx merangkai gagasan-gagasan terbaik dari berbagai kompomen dari Internasional. Dia memastikan bahwa antara perjuangan ekonomi dan perjuangan politik terhubung satu sama lain, dan menjadikan pemikiran dan aksi internasional sebagai pilihan yang tidak bisa diganggu-gugat. Berkat kemampuan Marx lah Internasional mampu mengembangkan fungsi sintesis politiknya, menyatukan berbagai konteks nasional dalam proyek perjuangan bersama sembari mengakui signifikansi otonomi mereka, tetapi bukan independensi total, dari arahan pusat. Mengelola persatuan ini, sungguh meletihkan, khususnya anti-kapitalisme Marx tidak pernah menempati posisi politik dominan dalam organisasi. Namun demikian, dari waktu ke waktu, khususnya melalui keuletannya, atau melalui perpecahan yang kadang terjadi, pemikiran Marx kemudian menjadi doktrin yang hegemonik. Bukan hal yang mudah memang, namun upaya elaborasi politik tersebut sangat diuntungkan dari perjuangan selama tahun-tahun itu. Karakter dari mobilisasi buruh, tantangan anti-sistemik dari Komune Paris, tugas yang belum pernah ada sebelumnya dalam menyatukan organisasi besar dan rumit seperti itu, polemik berkelanjutan dengan tendensi-tendensi lain dalam gerakan buruh tentang berbagai isu-isu teoritik dan politik: kesemuanya ini mendorong Marx melampaui batas-batas ekonomi politik semata, yang menyerap begitu banyak perhatiannya sejak kekalahan revolusi 1848 dan surutnya kekuatan yang paling progresif.
Dia juga terangsang untuk mengembangkan dan kadang-kadang merevisi gagasannya, menempatkan keyakinan-keyakinan lama untuk didiskusikan kembali dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan baru kepada dirinya sendiri, dan secara khusus mempertajam kritiknya atas kapitalisme melalui penggambaran garis-garis besar masyarakat komunis. Pandangan ortodoks lama tentang peran Marx dalam Internasional, yang mengatakan bahwa ia secara mekanis menerapkan sebuah teori politik yang telah ia tempa dalam batas-batas ruang kerjanya ke dalam sebuah tahapan sejarah, dengan demikian secara keseluruhan telah menceraikannya dari kenyataan
Dalam salah satu dokumen kunci organisasi-politik Internasional, Marx meringkas fungsi-fungsi organisasi sebagai berikut: “merupakan urusan Asosiasi Pekerja Internasional untuk menggabungkan dan menyelaraskan gerakan spontan kelas pekerja, tetapi tidak mendikte atau memaksakan doktrin dari sistem apapun”. Meskipun otonomi luas diberikan kepada federasi-federasi dan sekdi-seksi lokal, Internasional selalu mempertahankan inti kepemimpinan politik. Dewan Umum adalah badan
yang menyusun sintesa pemersatu mengenai isu-isu luas, seperti: kondisi-kondisi kerja, efek-efek dari mesin baru, dukungan untuk pemogokan, peran dan pentingnya serikat-serikat buruh, masalah Irlandia, berbagai kebijakan luar negeri yang penting, dan, tentu saja, bagaimana membangun masyarakat masa depan.

II. Kemenangan Atas Kaum Mutualis
Pada bulan September 1866, kota Jenewa menjadi tuan rumah kongres pertama Internasional. Mereka yang terlibat dalam kongres secara mendasar terbelah dalam dua blok. Blok pertama terdiri atas delegasi dari Inggris, beberapa orang Jerman dan mayoritas orang-orang Swiss. Blok ini mengikuti arahan Dewan Umum yang disusun oleh Marx (yang tidak hadir di Jenewa). Blok kedua terdiri dari delegasi Prancis dan beberapa dari Swiss berbahasa Prancis, yang dibentuk oleh kelompok mutualis. Ketika itu, dalam kenyataannya, posisi moderat merupakan hal yang lazim dalam Internasional dan para mutualis membayangkan suatu masyarakat di mana pekerja sekaligus merupakan produser, kapitalis dan konsumen. Mereka menganggap pemberian kredit gratis sebagai tindakan yang menentukan untuk mentransformasikan masyarakat; menganggap pekerja perempuan tidak dapat diterima baik dari sudut pandang etika maupun sosial; dan menentang setiap campur tangan negara dalam hubungan kerja (termasuk undang-undang untuk mengurangi jam kerja menjadi delapan jam) dengan alasan bahwa itu akan mengancam hubungan pribadi antara pekerja dan pengusaha dan memperkuat sistem yang saat ini berlaku.
Dengan mendasarkan diri pada resolusi-resolusi yang disiapkan oleh Marx, para pemimpin Dewan Umum sukses meminggirkan kelompok mutualis dalam kongres, dan meraih dukungan suara berkaitan dengan campur tangan negara. Mengenai isu selanjutnya, dalam Petunjuk untuk Para Delegasi Dewan Umum Sementara (Instructions for Delegates of the Provisional General Council), Marx telah mengeja semuanya dengan jelas: “ini hanya dapat dilakukan dengan mengubah nalar sosial (social reason) menjadi kekuatan sosial (social force), dan dalam keadaan tertentu, tidak ada metode lain yang eksis dalam melakukannya,kecuali melalui hukum-hukum umum (general laws), yang ditegakkan oleh kekuatan negara. Dalam menegakkan undang-undang tersebut (reformasi sosial), kelas pekerja tidak membela kekuasaan pemerintah. Sebaliknya, mereka mentransformasikan kekuasaan tersebut, yang kini digunakan untuk melawan mereka (kelas buruh), menjadi agen untuk kepentingan mereka sendiri. Kelas buruh akan punya pengaruh ketika bertindak bersama-sama dan sebaliknya menjadi sia-sia ketika mereka bertindak sebagai gerombolan individu yang terisolasi”.
Selain itu, instruksi yang ditulis Marx untuk kongres Jenewa menggarisbawahi fungsi dasar serikat pekerja, yang tidak hanya melawan para mutualis tetapi juga pengikut-pengikut setia Robert Owen di Inggris dan Ferdinand Lassalle di Jerman untuk mengambil sikap: ” Aktivitas serikat buruh-serikat buruh ini tidak hanya absah, juga dibutuhkan. Ia tidak bisa ditiadakan sejauh sistem produksi saat ini tetap berlangsung. Sebaliknya, itu harus diselaraskan melalui pembentukan dan persatuan serikat buruh-serikat buruh di seluruh negara”.
Dalam dokumen yang sama, Marx tidak segan-segan mengritik serikat-serikat yang ada karena “terlalu eksklusif terikat pada perjuangan-perjuangan lokal dan langsung dengan kapital (dan tidak) sepenuhnya memahami kekuatan mereka dalam bertindak melawan sistem perbudakan upah itu sendiri. Oleh karena itu mereka terasing dari gerakan-gerakan sosial dan politik pada umumnya”.
Singkatnya, dengan semua kesulitan yang terkait dengan keragaman kebangsaan, bahasa, dan budaya politik, Internasional sukses mencapai persatuan dan koordinasi dari beragam organisasi yang luas jangkauannya dan perjuangan-perjuangan yang spontan. Manfaat terbesarnya adalah untuk menunjukkan mutlaknya kebutuhan akan olidaritas kelas dan kerja sama internasional, bergerak secara meyakinkan melampaui karakter parsial dari tujuan-tujuan dan strategi-strategi semula. Dari tahun 1867, diperkuat oleh keberhasilan dalam mencapai tujuan-tujuan ini, dengan peningkatan keanggotaan dan organisasi yang lebih efisien, Internasional membuat perkembangan pesat di seluruh Benua Eropa.

III. Sosialisasi Alat-alat Produksi
Selama empat tahun, kaum mutualis merupakan sayap penting dalam Internasional. Marx tidak diragukan lagi memainkan peran kunci dalam perjuangan panjang untuk meminimalisir pengaruh Proudhon di Internasional. Ide-ide Marx sangat penting bagi perkembangan teoretis para pemimpinnya, dan ia menunjukkan kapasitas yang menakjubkan untuk meyakinkan mereka dalam memenangkan seluruh konflik-konflik besar di dalam organisasi.. Berkenaan dengan kerja sama (salah satu poin kunci Proudhon), misalnya, dalam Instructions for the Delegates of the Provisional General Council, The Different Question, 1866, ia merekomendasikan kepada para pekerja “untuk memulai produksi koperasi ketimbang toko koperasi. Yang terakhir ini hanya menyentuh permukaan sistem ekonomi yang ada, sementara yang pertama menyerang dasar-dasar dari sistem ini”.
Dua tahun kemudian, yakni pada September 1868, dilangsungkan Kongres Brussel, yang akhirnya memotong sayap kaum mutualis. Poin terpentingnya adalah ketika dewan menyetujui proposal César De Paepe’s mengenai sosialisasi alat-alat produksi – sebuah langkah maju yang menentukan dalam mendefinisikan basis ekonomi dari sosialisme, tidak lagi sekadar muncul dalam tulisan-tulisan dari para intelektual tertentu tetapi sebagai program dari sebuah organisasi transnasional yang besar. Mengenai kepemilikan tanah, disepakati: “bahwa pembangunan ekonomi masyarakat modern akan menciptakan kebutuhan sosial untuk mengubah lahan subur menjadi kepemilikan bersama masyarakat, dan membiarkan tanah atas nama negara kepada perusahaan pertanian di bawah kondisis yang sama seperti yang ada di pertambangan dan dan kereta api”.
Akhirnya, beberapa poin menarik dibuat tentang lingkungan: “Menimbang bahwa pengabaian hutan kepada individu-individu privat menyebabkan rusaknya hutan yang diperlukan bagi konservasi mata air, dan, tentu saja, kualitas tanah yang baik, serta kesehatan dan kehidupan masyarakat, Kongres berpikir bahwa hutan harus tetap menjadi milik masyarakat”.
Di Brussels inilah, kemudian Internasional membuat pernyataan pertamanya yang jelas tentang sosialisasi alat-alat produksi oleh otoritas negara. Ini menandai kemenangan penting bagi Dewan Umum dan kemunculan, untuk pertama kalinya, prinsip-prinsip sosialis dalam program politik organisasi pekerja utama. Resolusi-resolusi dari Kongres Brussels tentang kepemilikan tanah ditegaskan kembali pada Kongres Basel yang diadakan pada bulan September 1869. Sebelas orang Perancis bahkan menyetujui sebuah teks baru yang menyatakan bahwa masyarakat memiliki hak untuk menghapus kepemilikan individual atas tanah dan menjadikannya bagian dari komunitas. Setelah Basel, tidak ada lagi mutualis di Prancis Internasional.

Categories
Journalism

Perjuangan di Balik Penulisan Kapital

Ceritanya saya mulai dengan sebuah statemen bahwa Kapital, melebihi buku lainnya dalam sumbangannya untuk mengubah dunia dalam 150 tahun terakhir, memakan waktu yang lama dan sulit dalam proses penulisannya.

Marx mulai menulis Kapital hanya beberapa tahun setelah dia memulai studinya tentang ekonomi politik. Meskipun dia telah mengembangkan kritiknya tentang kepemilikan pribadi (private property) dan gagasan keterasingan (alienation) pada 1844, adalah krisis keuangan tahun 1857 – yang dimulai di Amerika Serikat dan menyebar ke seluruh Eropa – yang akhirnya mendorongnya untuk menggerakkan pena ke atas kertas dan mulai menulis apa yang awalnya disebutnya “Ekonomi”.

Krisis, Grundrisse dan Kemiskinan
Dengan merebaknya krisis keuangan, Marx meramalkan lahirnya sebuah tahapan baru pergolakan sosial yang dia yakini dapat mengarah pada gerakan revolusioner yang mampu menghancurkan kapitalisme. Dia percaya bahwa kaum proletar sangat membutuhkan kritik terhadap modus produksi kapitalis. Dari sini lahirlah Grundrisse, sejumlah delapan volume di mana, di antara tema-tema lain, Marx meneliti pembentukan ekonomi pra-kapitalis dan menguraikan beberapa karakteristik penting dari masyarakat komunis, seperti pentingnya kebebasan dan perkembangan intelektual individu.

Namun, gerakan revolusioner yang diyakini Marx akan muncul dari krisis keuangan tetap menjadi ilusi. Marx, yang kemudian sangat sadar akan kekurangan teoritis dari karyanya, tidak mempublikasikan naskah-naskah ini. Satu-satunya bagian dari Grundrisse yang dicetak, dan hanya setelah revisi mendalam, adalah “Bab tentang Uang”. Diterbitkan pada 1859 dengan judul A Contribution to the Critique of Political Economy, teks ini hanya diulas oleh satu orang: Engels. Rencana Marx untuk sisa Grundrisse adalah membagi manuskrip-manuskrip itu ke dalam enam buku. Dia percaya bahwa ini akan memungkinkannya untuk mendedikasikan setiap volume untuk subjek yang terpisah: kapital, kepemilikan properti, negara, buruh upahan, perdagangan luar negeri dan pasar global.

Pada 1862, karena Perang Sipil di Amerika Serikat, harian New-York Tribune memecatnya dari pekerjaannya sebagai koresponden Eropa. Akibatnya, Marx – yang telah bekerja untuk harian itu selama lebih dari satu dekade – dan keluarganya terjerumus ke jurang kemelaratan seperti yang mereka alami di tahun-tahun awal kehidupan mereka di London. Marx hanya mendapat bantuan dari Engels, kepada siapa dia menulis, “Setiap hari istri saya mengatakan ia ingin dirinya dan anak-anak aman di kuburan mereka, dan saya benar-benar tidak bisa menyalahkannya. Penghinaan, siksaan dan tuan rumah yang datang menagih sewa rumah merupakan situasi yang harus dilaluinya dan sungguh tidak bisa dilukiskan”. Kondisinya sangat menyedihkan sehingga, dalam minggu-minggu terburuknya, ia pergi tanpa persediaan makanan untuk anak-anaknya dan kertas untuk ditulis. Dia melamar kerja di kantor kereta api Inggris, namun ditolak karena tulisan tangannya yang buruk. Konsekuensinya, dalam keadaan terhina seperti itu, karya Marx tak kunjung selesai karena lama tertunda.

Nilai Lebih dan Bisul
Terlepas dari rintangan berat ini, Marx melakukan pemeriksaan yang ketat terhadap teori ekonomi selama periode itu. Dalam naskah ekstensif berjudul Theories of Surplus Value, ia berpendapat bahwa banyak para ahli teori ekonomi saat itu telah secara keliru memahami nilai lebih sebagai laba (profit) atau pendapatan (income). Marx, sebaliknya, berpendapat bahwa nilai lebih harus dipahami sebagai bentuk spesifik di mana melaluinya eksploitasi kapitalisme menjadi nyata. Ini karena para pekerja menyerahkan sebagian dari hari kerja mereka secara gratis kepada kapitalis yang kemudian menghasilkan nilai lebih melalui kelebihan kerja (surplus labour) ini: “tidaklah cukup bagi pekerja untuk memproduksi saja secara umum, kini dia juga harus menghasilkan nilai lebih”. Pencurian hanya beberapa menit dari makan siang atau waktu istirahat dari setiap pekerja diterjemahkan ke dalam pergeseran kekayaan yang luar biasa besar ke dalam kantong pemilik. Perkembangan intelektual, kewajiban sosial dan liburan di mata kapital “hanyalah pemborosan”. Pemilik pabrik akan menentang undang-undang tenaga kerja atas nama “kebebasan untuk bekerja”.

Tetapi bagi Marx, motto pemikiran kapitalistik yang mengatur semua aspek kehidupan – termasuk pertimbangan masalah-masalah lingkungan (sebuah topik yang jarang, jika pernah, ditangani oleh orang-orang sezamannya) – bukanlah kebebasan tetapi kekacauan (Après moi le déluge!”). Dia percaya bahwa pengurangan hari kerja, bersama penambahan kelebihan kerja, merupakan medan pertama di mana perjuangan kelas akan diperangi. Pada 1862, Marx memilih judul untuk bukunya: “Kapital“. Dia pikir dia kini siap untuk menyusun versi terakhir.

Perkiraannya meleset karena kesulitan keuangan yang luar biasa, dia juga kini menderita masalah kesehatan yang parah. Dijuluki sebagai “penyakit mengerikan”, oleh istrinya, Jenny, tahun-tahun sisa kehidupan Marx tak sepi dari gangguan kesehatan yang buruk. Di tubuhnya keluar banyak bisul, infeksi mengerikan yang berwujud borok, bisul dan kulit melepuh yang membuat seluruh tubuhnya lemah lunglai. Karena bisul parah yang diikuti oleh munculnya borok besar, Marx menjalani operasi dan “untuk beberapa waktu hidupnya berada dalam keadaan bahaya”.

Keluarganya kini, lebih dari sebelumnya, berada di tepi jurang kehancuran. Terlepas dari kemalangan ini, ‘Moor’ (nama panggilannya) pulih dan, pada akhir Desember 1865, ia menyelesaikan draf pertama dari apa yang kelak menjadi karya terbesarnya (magnum opus). Selanjutnya, pada musim gugur 1864, ia dengan antusias berpartisipasi dalam Asosiasi Kelas Pekerja Internasional (International Working Men’s Association), menyusun, selama delapan tahun yang intens, seluruh dokumen-dokumen politik utamanya. Belajar hari demi hari di perpustakaan untuk memastikan kelayakan penemuannya dan mengerjakan manuskripnya di malam hari, Marx kemudian menyerahkan dirinya pada rutinitas sehari-hari yang melelahkan ini sampai tubuhnya menyerah kalah.

Keseluruhan yang terintegrasi
Pada momen seperti itu, Marx kemudian mengurangi rencana proyek penulisan awalnya dari enam volume menjadi tiga volume tentang kapital, sembari tetap berharap untuk bisa menerbitkannya secara bersamaan. Kenyataannya, dia menulis kepada Engels: “Saya tidak dapat memaksa diri untuk mengirim apa pun sampai saya memiliki semuanya di depan saya. Kekurangan apa pun yang mungkin mereka miliki, keuntungan dari tulisan saya adalah bahwa mereka secara menyeluruh artistik, dan ini hanya dapat dicapai melalui praktik. Saya tidak akan pernah mencetak sesuatu sampai semuanya terpampang di depan saya secara menyeluruh”. Dilema Marx untuk “menyalin sebagian dari naskah dan mengirimkannya kepada penerbit, atau menuliskan semuanya dulu”, secara tak terduga dipecahkan oleh bisul. Marx diserang penyakit lain, kali ini lebih parah dari yang dideritanya sebelumnya, dan mendapati dirinya begitu dekat dengan kematian. Dia kemudian memberi tahu Engels bahwa itu adalah masa di mana ia “nyaris mati”; dokter mengatakan kepadanya bahwa alasan nyaris matinya itu adalah bekerja terlalu berlebihan, terutama pada saat begadang sampai larut malam.

Setelah kejadian yang mengkhawatirkan ini, Marx memutuskan untuk berkonsentrasi hanya pada buku pertamanya, “Proses Produksi Kapital”. Namun demikian, bisul-bisul itu terus menyiksanya dan selama berminggu-minggu, Marx tidak bisa duduk. Dalam keadaan yang membuatnya putus asa ini, dia bahkan mencoba mengoperasi dirinya sendiri menggunakan pisau cukur yang diasah tajam-tajam. Dia kemudian memberi tahu Engels bahwa dia bisa menyembuhkan penyakitnya sendiri. Marx banyak kecewa karena penyelesaian karyanya tertunda bukan karena “pertimbangan teoritis” tetapi karena “alasan fisik dan borjuis”.

Ketika pada bulan April 1867, naskah akhirnya selesai dan Marx siap untuk pergi ke Jerman untuk menerbitkan buku, dia meminta seorang teman dari Manchester – yang telah membantunya secara konstan selama 20 tahun – untuk mengiriminya uang sehingga dia bisa menebus “pakaian dan arloji dari tempat tinggal mereka di pegadaian”. Marx bertahan hidup hanya dengan hal-hal penting yang tanpanya dia tidak dapat pergi ke Jerman, di mana manuskripnya akan diterbitkan. Koreksi atas draft tulisannya dikerjakan di sisa musim panas dan ketika Engels mengamati bahwa eksposisi ide bentuk-Nilai terlalu abstrak dan memiliki “tanda-tanda dari bisul yang tampak jelas jadi cap di atasnya”, Marx menjawab: “Saya harap borjuasi akan mengingat bisulku sampai hari kematian mereka”.

Kapital mulai dijual pada 14 September 1867. Satu setengah abad setelah penerbitannya, karyanya ini telah menjadi salah satu karya yang paling banyak diterjemahkan, dijual, dan didiskusikan dalam sejarah manusia. Bagi mereka yang ingin memahami kapitalisme, dan juga mengapa para pekerja harus berjuang untuk “bentuk unggul masyarakat yang prinsip dasarnya adalah pengembangan penuh dan bebas dari setiap individu”, Kapital Marx, kini lebih daripada sebelumnya, adalah sebuah karya yang tak tergantikan.

Categories
Journalism

Kembalinya Sang Raksasa

Dalam surat kali ini, saya masih akan bercerita tentang Karl Marx.

Menurut saya, jika kemudaan abadi seorang penulis ditandai dengan kemampuannya untuk terus merangsang munculnya ide-ide baru, maka tanpa ragu bisa dikatakan Karl Marx adalah seorang penulis yang selalu muda

Menyusul ambruknya Tembok Berlin, kaum konservatif dan progresif, kaum liberal dan sosial demokrat hampir sepakat mendeklarasikan tamatnya Marx. Deklarasi itu kemudian terbukti prematur, ketika teori-teori Marx sekali lagi kembali hangat diperbincangkan – dengan kecepatan yang dalam banyak hal mengejutkan. Sejak 2008, akibat krisis ekonomi yang tak kunjung pulih dan kontradiksi-kontradiksi mendalam yang merobek-robek masyarakat kapitalis, telah membangkitkan minat baru pada Marx yang secara tergesa-gesa dipinggirkan pasca 1989. Ratusan surat kabar, majalah dan stasiun TV atau stasiun-stasiun radio memajang analisis-analisis Marx dalam Kapital dan juga artikel-artikel yang ditulisnya untuk harian New-York Tribune, yang mana saat itu sedang mengamati kepanikan 1857, yaitu krisis keuangan internasional pertama dalam sejarah.

Setelah dua puluh tahun tenggelam, orang-orang di banyak negara kembali menulis dan membicarakan Marx. Di dunia berbahasa Inggris, konferensi dan kursus-kursus di universitas tentang pemikiran-pemikirannya kembali mengemuka. Kapital sekali lagi menjadi buku terlaris di Jerman, sementara versi manga/komiknya telah diterbitkan di Jepang. Di Cina, edisi baru yang sangat tebal dari kumpulan karya-karyanya sedang akan diterbitkan (dengan terjemahan dari bahasa Jerman dan tidak seperti di masa lalu, dari bahasa Rusia). Di Amerika Latin, permintaan baru akan Marx sangat terasa di kalangan mereka yang aktif dalam politik.

Penemuan kembali ini juga berlangsung di front akademik dengan dilanjutkannya proyek edisi historis-kritis Jerman yang baru dari karya-karya lengkap Marx dan Engels, MEGA (Marx-Engels-Gesamtausgabe). Edisi Jerman yang baru ini dibagi dalam empat bagian: (1) karya tulis dan artikel-artikel; (2) Kapital dan seluruh naskah-naskah persiapannya; (3) korespondensi atau surat-menyurat; dan (4) buku catatan tentang nukilan-nukilan. Dari 114 volume yang direncanakan, sejauh ini 66 telah diterbitkan (26 di antara adalah kelanjutan dari proyek di tahun 1998). Proyek ini masih menerbitkan banyak karya-karya yang belum selesai dari Marx sebagaimana adanya, bukan dengan intervensi editorial seperti yang menjadi kebiasaan di masa lalu.

Berkat inovasi penting ini serta publikasi untuk pertama kalinya dari berbagai buku catatan tersebut, Marx yang muncul kemudian, dalam banyak hal, berbeda dari yang disajikan oleh sekian banyak lawan dan mereka yang diduga menjadi pengikutnya. Patung berwajah dingin si penunjuk jalan ke masa depan dengan kepastian dogmatis di alun-alun Moskow dan Beijing, telah berganti rupa menjadi sosok pemikir kritis yang merasakan pentingnya mencurahkan energi untuk studi mendalam dan mengecek argumen-argumennya sendiri, meninggalkan sebagian besar pekerjaan semasa hidupnya yang belum selesai.

Berbagai penafsiran yang mapan atas karya Marx kemudian dibuka kembali untuk diskusi lebih lanjut. Contohnya, seratus halaman pertama dari Ideologi Jerman – sebuah teks yang banyak diperdebatkan di abad ke-20 tetapi hampir selalu dianggap sebagai sebuah karya utuh– sekarang telah diterbitkan dalam urutan kronologis dan di dalam bentuk aslinya terdiri dari tujuh fragmen terpisah. Telah ditemukan bahwa ini semua adalah peninggalan dari bagian-bagian lain dari buku ini atas dua pengarang Hegelian-Kiri, Bruno Bauer dan Max Stirner. Edisi pertama yang terbit di Moskow pada 1932, tetapi sebagaimana banyak versi setelahnya, dengan hanya sedikit modifikasi, telah menciptakan kesan keliru dari pembukaan ‘Bab tentang Feuerbach’ bahwa Marx dan Engels telah secara komprehensif menetapkan hukum-hukum materialisme historis (sebuah istilah yang tidak pernah digunakan Marx) atau – sebagaimana Marxis Prancis Louis Althusser simpulkan – dikonseptualisasikan sebagai ‘patahan epistemologis yang pasti’.

Aspek menarik lainnya dari edisi ini adalah perbedaan yang lebih jelas antara bagian-bagian dari manuskrip yang ditulis oleh Marx dan yang ditulis oleh Engels. Ini menghasilkan sebuah pembacaan yang sangat berbeda dari bagian-bagian tertentu yang tadinya dianggap sebagai keseluruhan yang terintegrasi. Ambil contoh kalimat dimana banyak penulis, baik dalam semangat kritik yang tajam maupun sebagai pertahanan ideologis, telah memperlakukannya sebagai deskripsi utama Marx atas masyarakat pasca-kapitalis: ‘masyarakat mengatur produksi umum dan dengan demikian memungkinkan bagi saya untuk melakukan satu hal hari ini dan hal lain besok, berburu di pagi hari, memancing di sore hari, beternak di malam hari, dan mengkritik setelah makan malam … ‘. Sekarang kita tahu (juga berkat versi Ideologi Jerman yang diterbitkan di tahun 1974 oleh sarjana Jepang Wataru Hiromatsu) bahwa kalimat itu berasal dari pena Engels (pada saat itu masih di bawah pengaruh kaum sosialis utopis Prancis) dan sama sekali tidak cocok dengan pandangan sahabat karibnya itu.

Perbaikan gramatikal juga adalah salah satu yang penting atas karya besar (magnum opus) Marx. Empat volume baru MEGA yang diterbitkan dalam sepuluh tahun terakhir, yang mencakup semua naskah-naskah persiapan (draft) yang hilang dari Volume Dua dan Tiga di Kapital (dibiarkan tidak lengkap oleh Marx), memungkinkan kita untuk merekonstruksi seluruh proses seleksi, komposisi dan koreksi yang dilakukan Engels dalam pengeditan manuskrip-manuskrip Marx. Dengan demikian kita bisa melihat mana dari beberapa ribu perubahannya (sebuah angka yang tidak terpikirkan hingga baru-baru ini) yang dianggap paling signifikan dalam periode panjang penulisannya antara tahun 1883 dan 1894, dan memastikan di mana ia tetap menggunakan teks asli Marx – yang, bahkan dalam kasus hukum terkenal tentang kecenderungan turunnya tingkat laba, jelas-jelas tidak dimaksudkan untuk mewakili hasil akhir dari penelitiannya.

Menempatkan Marx pada posisi tak tersentuh dan hanya cocok untuk penelitian akademis khusus, adalah sebuah kesalahan yang setara dengan mentransformasikannya menjadi sumber doktrinal ’sosialisme yang benar-benar ada/actually existing socialism’. Karena pada kenyataannya, analisisnya lebih bersifat topikal ketimbang sebelumnya. Ketika Marx menulis Kapital, modus produksi kapitalis masih dalam periode yang relatif awal perkembangannya. Hari ini, setelah runtuhnya Uni Soviet dan penyebaran kapitalisme ke wilayah-wilayah baru di planet (pertama dan terutama adalah Cina), kapitalisme telah menjadi sebuah sistem global yang komplet yang menjajah dan membentuk semua aspek (bukan hanya ekonomi) dari keberadaan manusia. Dalam kondisi ini, ide-ide Marx terbukti lebih subur dibandingkan saat ia masih hidup.

Selain itu, ekonomi saat ini tidak hanya mendominasi politik, menetapkan agenda dan membentuk keputusan-keputusannya, tetapi keberlakuannya di luar yurisdiksi dan kontrol demokratis. Dalam tiga dasawarsa terakhir, kekuatan pengambilan keputusan telah diwariskan tanpa tedeng aling-aling dari dunia politik ke ekonomi. Pilihan-pilihan kebijakan tertentu telah ditransformasikan menjadi kebijakan ekonomi. Pengerdilan dari bagian-bagian politik ini ke dalam ekonomi, sebagai domain terpisah yang tidak dapat ditembus oleh perubahan, merupakan ancaman yang sangat mematikan untuk demokrasi di zaman kita. Parlemen-parlemen nasional mendapati kekuasaanya telah dipreteli dan ditransfer ke pasar. Peringkat Standard & Poor’s dan indeks Wall Street – nabi-nabi masyarakat modern masa kini – membawa bobot yang tak terbandingkan dengan kehendak rakyat. Hal terbaik yang bisa dilakukan pemerintah adalah ‘mengintervensi’ ekonomi (ketika diperlukan untuk mengurangi anarki kapitalisme yang destruktif dan krisis kekerasannya), tetapi mereka tidak dapat mempertanyakan aturan-aturan dan pilihan-pilihan dasarnya.

Setelah dua puluh tahun lagu puja-puji untuk masyarakat pasar dilantunkan bertemu dengan berbagai macam kekososngan postmodernisme, kemampuan baru untuk mensurvei cakrawala dari bahu raksasa seperti Marx merupakan sebuah perkembangan yang positif, tidak hanya bagi semua akademisi yang tertarik untuk memahami secara serius masyarakat kontemporer kita, tetapi juga bagi siapa saja yang terlibat dalam pencarian teoritis maupun politik untuk sebuah alternatif sosalis terhadap kapitalisme.