Categories
Journalism

Jalan Terjal Komune Paris (Bagian I)

Kaum borjuis Prancis telah lama meraih kemenangan. Sejak revolusi 1789, mereka adalah kelompok yang meraup kekayaan, sementara kelas pekerja secara terus-terusan harus menanggung beban krisis.

Namun, proklamasi Republik Ketiga membuka horison baru dan menawarkan kesempatan perubahan. Setelah mengalami kekalahan perang di Sedan, Napoleon III ditawan Prusia pada 4 September 1870. Januari tahun berikutnya, setelah empat bulan Paris dikepung, Prancis menyerah kepada Otto van Bismarck. Sang Kanselir Prusia memaksakan pokok-pokok kesepakatan yang memberatkan sebagai syarat gencatan senjata. Pemilihan umum digelar dan Adolphe Thiers terpilih sebagai pemangku kekuasaan eksekutif, dengan dukungan kelompok-kelompok besar seperti Legitimist dan Orleanist.

Paris memanas. Kelompok-kelompok republikan radikal dan sosialis menjamur. Pemerintahan sayap kanan yang akan memelihara ketidakadilan sosial menghantui negeri. Namun, naiknya pemerintahan yang hanya akan menambah beban perang pada kaum tak berpunya dan melucuti penduduk ibukota ini justru memicu revolusi baru pada 18 Maret. Thiers dan pasukannya terpaksa minggat ke Versailles.

Perjuangan dan Pemerintahan

Untuk mengamankan legitimasi demokratik, para pemberontak Paris segera mengadakan pemilihan umum. Pada 26 Maret, mayoritas penduduk Prancis (190.000 suara melawan 40.000) menyetujui tujuan-tujuan pemberontakan, dan 70 dari 85 perwakilan terpilih mendeklarasikan dukungan kepada revolusi. Sebanyak 15 anggota representatif moderat dari parti des maires, kelompok yang terdiri atas beberapa mantan kepala arrondissements, segera mengundurkan diri dan tidak bergabung dengan dewan Komune, disusul empat orang dari kubu Radikal. Sebanyak 66 sisanya—yang tidak mudah dibedakan karena afiliasi politik ganda—mewakili spektrum posisi yang luas. Di antara mereka ada sekitar 20 orang dari kelompok republikan neo-Jacobin (termasuk Charles Delescluze dan Félix Pyat yang tersohor), selusin pengikut Auguste Blanqui, 17 anggota Asosiasi Kaum Pekerja Internasional (baik pendukung Pierre-Joseph Proudhon maupun Karl Marx, yang seringkali saling bersitegang), dan beberapa kubu independen. Mayoritas pemimpin Komune adalah kaum buruh atau representasi kelas pekerja, 14 di antaranya berasal dari Garda Nasional. Faktanya, komite sentral Garda Nasional-lah yang mempercayakan kekuasaan di tangan Komune—awal dari rangkaian ketidaksepakatan dan konflik antara kedua lembaga.

Pada 28 Maret, sejumlah besar penduduk berkumpul di sekitar Hôtel de Ville untuk berpesta merayakan dewan perwakilan baru, yang kini secara resmi bernama Komune Paris. Meski berumur tak lebih dari 72 hari, Komune Paris merupakan peristiwa politik terpenting dalam sejarah gerakan buruh abad ke-19, memantik harapan rakyat yang sudah kelelahan digerus beban hidup selama berbulan-bulan. Komite-komite dan kelompok-kelompok baru bermunculan di berbagai pemukiman untuk memberikan dukungan kepada Komune. Tiap-tiap sudut ibukota menggulirkan berbagai inisiatif solidaritas dan merencanakan pembangunan dunia baru. Montmartre berubah menjadi “benteng kebebasan”. Salah satu sentimen yang menyebar luas adalah hasrat untuk berbagi dengan orang lain. Sosok-sosok militan seperti Louise Michel menjadi teladan bagi spirit  ini (Victor Hugo menulis Michel “melakukan apa yang telah dilakoni orang-orang hebat zaman lampau. […] Ia memuliakan mereka yang remuk dan terhempas”.

Namun, ruh Komune tidak datang dari sosok pemimpin atau figur-figur karismatik alih-alih dari sisi kolektivitas yang terang benderang. Perempuan dan laki-laki berkumpul secara sukarela untuk mengerjakan proyek pembebasan untuk semua. Pemerintahan mandiri tak lagi dianggap utopia belaka. Emansipasi diri dipandang sebagai tugas yang esensial.

Transformasi Kekuatan Politik

Dua dari dekrit darurat pertama untuk memangkas kemiskinan akut parah adalah pemberhentian sewa hunian (disebutkan bahwa “properti juga harus berkorban”) dan penjualan barang di bawah 20 franc di pegadaian. Sembilan komisi kolegial juga dibentuk untuk menggantikan kementerian perang, keuangan, keamanan umum, pendidikan, penghidupan, perburuhan dan perdagangan, hubungan internasional dan pelayanan publik. Tidak lama berselang, muncul delegasi yang dipilih untuk mengepalai masing-masing kementerian.

Pada 19 April, tiga hari setelah pemilihan umum lanjutan untuk mengisi 31 kursi kosong, Komune mengadopsi Deklarasi Rakyat Prancis yang menyatakan “jaminan mutlak bagi kebebasan individu, kemerdekaan berkeyakinan dan kemerdekaan kerja” dan juga “intervensi permanen warga dalam urusan-urusan komunal”. Konflik antara Paris dan Versailles dianggap “tidak dapat diselesaikan lewat kompromi-kompromi ilusif”; rakyat punya hak dan “kewajiban untuk melawan dan menang!” Yang lebih signifikan lagi daripada teks ini—yang sebenarnya merupakan sintesis ambigu untuk menghindari ketegangan-ketegangan antar berbagai tendensi politik—adalah aksi-aksi konkret yang melaluinya orang-orang Komune memperjuangkan transformasi total kekuasaan politik. Pembaharuan-pembaharuan yang bukan hanya menyasar cara kerja administrasi politik, tapi juga hakikatnya. Komune membuka kesempatan agar wakil-wakil terpilih bisa ditarik kembali. Komune juga memungkinkan agar tindakan para wakil rakyat ini dikontrol lewat mandat yang mengikat (meski hal ini tidak serta merta mengatasi permasalahan kompleks representasi politik). Para pejabat, yang juga tunduk pada kontrol permanen dan bisa ditarik dari jabatan, tidak asal ditunjuk seperti di masa lalu, tetapi dipilih lewat kontes terbuka atau pemungutan suara. Tujuannya adalah mencegah transformasi ruang publik menjadi domain para politisi profesional. Keputusan-keputusan terkait kebijakan yang diambil tidak diserahkan pada sekelompok kecil fungsionaris dan teknisi, tetapi harus diputuskan oleh rakyat. Tentara dan polisi tidak lagi menjadi institusi yang terpisah dari masyarakat. Pemisahan negara dengan gereja juga menjadi syarat mutlak.

Namun visi perubahan politik Komune tidak terbatas pada hal-hal tersebut: ia menyasar akar yang lebih dalam. Transfer kekuasaan ke tangan rakyat diperlukan untuk secara drastis mereduksi birokrasi. Ranah sosial harus diutamakan di atas ranah politik—sebagaimana diterapkan oleh Henri de Saint-Simon—sehingga politik tidak lagi menjadi suatu fungsi spesialis alih-alih semakin terintegrasi ke dalam aktivitas masyarakat sipil. Dengan demikian, ranah sosial mengambil kembali fungsi-fungsi yang sebelumnya dialihkan kepada negara. Menggulingkan sistem kekuasaan berbasis kelas tidaklah cukup; sistem itu sendiri haruslah diakhiri juga. Semua ini akan menggenapkan visi Komune tentang republik sebagai persekutuan orang-orang merdeka, asosiasi yang sejatinya demokratik dan mempromosikan emansipasi semua komponennya. Hasilnya adalah pemerintahan mandiri para produsen/pekerja.

Memprioritaskan Perubahan-Perubahan Sosial

Komune berpendirian bahwa perubahan-perubahan sosial lebih krusial daripada perubahan politik. Perubahan-perubahan sosial ini adalah alasan keberadaan Komune, tolok ukur kesetiaan Komune pada prinsip-prinsip pendiriannya, dan unsur kunci yang membedakannya dari revolusi-revolusi sebelumnya pada 1789 dan 1848. Komune menelurkan lebih dari satu kebijakan dengan implikasi kelas yang terang. Tenggat waktu pembayaran utang, misalnya, ditunda tiga tahun tanpa tambahan bunga. Penggusuran karena kegagalan membayar sewa ditunda. Sebuah dekrit mengizinkan tempat tinggal kosong agar digunakan oleh mereka yang tak punya tempat tinggal. Ada rencana-rencana untuk memperpendek jam kerja (dari yang tadinya 10 jam menjadi 8 jam nantinya), praktik yang menjamur seperti pemberlakuan denda pada buruh sebagai upaya memotong upah dilarang dan diancam dengan sanksi, dan upah minimum dipatok pada level yang terhormat. Sebisa mungkin pasokan makanan ditambah dan diberi harga yang rendah. Kerja malam di pabrik-pabrik roti dilarang, dan sejumlah toko daging dibuka di kota. Berbagai bentuk bantuan sosial ditambahkan pada lapisan-lapisan masyarakat yang rentan—misalnya, bank makanan bagi perempuan dan anak-anak terlantar. Ada pula diskusi-diskusi seputar cara mengakhiri diskriminasi antara anak yang sah secara hukum dan yang tidak.

Semua anggota Komune percaya bahwa pendidikan adalah unsur penting bagi emansipasi individu dan perubahan sosial-politik. Sekolah digratiskan dan diwajibkan bagi perempuan dan laki-laki. Pelajaran agama digantikan oleh pendidikan sekuler, rasional, dan ilmiah. Komisi-komisi khusus diangkat dan halaman-halaman koran menampilkan argumen-argumen kuat yang mendukung investasi untuk pendidikan perempuan. Agar sungguh-sungguh menjadi “layanan publik”, pendidikan harus menawarkan peluang setara bagi “anak-anak dari kedua jenis kelamin”. Selain itu, “pembedaan orang berdasarkan ras, kebangsaan, agama atau posisi sosial” harus dilarang. Beberapa inisiatif praktis di awal mengiringi kemajuan-kemajuan di atas kertas. Ribuan anak buruh dari berbagai arrondissement menghadiri sekolah untuk pertama kalinya dan menerima bahan ajar secara gratis.

Komune juga mengadopsi kebijakan-kebijakan berkarakter sosialis. Ia mengeluarkan dektrit bahwa bengkel-bengkel peninggalan para bos yang melarikan diri harus diserahkan pada asosiasi-asosiasi kooperatif para pekerja. Teater dan museum—dibuka untuk semua tanpa tarif—dikolektivisasi dan diletakkan di bawah manajemen Federasi Seniman Paris, yang dipimpin oleh pelukis dan sosok militan Gustave Courbet. Sekitar tiga ratus pemahat, arsitek, tukang cetak dan pelukis (di antaranya Édouard Manet) terlibat dalam kelompok ini—contoh yang diikuti oleh dunia opera dengan pendirian federasi serupa.

Semua aksi dan inisiatif ini dimulai dalam kurun waktu yang menakjubkan, hanya 54 hari di Paris yang masih oleng akibat efek perang dengan Prussia. Komune hanya mampu mengerjakan agendanya antara 29 Maret dan 21 Mei, di tengah perjuangan heroik melawan serangan-serangan dari Versailles yang juga banyak menyedot tenaga dan uang. Karena Komune tidak memiliki alat untuk memaksakan kebijakan-kebiajaknnya, banyak dari dekrit yang telah dirilis tidak diterapkan secara seragam di sekujur Paris. Namun demikian, dekrit-dekrit ini menunjukkan hasrat ambisius untuk menata kembali masyarakat dan menunjukkan jalan pada kemungkinan perubahan.

Categories
Journalism

Untuk Rosa Luxemburg, Untuk 150 Tahun Kelahirannya

Ketika diminta berbicara di Kongres Internasional Kedua di Zurich pada Agustus 1893, Rosa Luxemburg, salah satu dari sedikit perempuan yang hadir, berjalan melintasi kerumunan utusan dan aktivis yang memadati aula.

Wajahnya masih belia. Tubuhnya mungil. Masalah di pinggang membuat jalannya pincang sejak usia lima tahun.

Tapi, segala kesan ringkih itu lekas lenyap. Ia sengaja berdiri di atas kursi agar suaranya terdengar. Para hadirin tersihir, terpesona dengan kecakapan bernalar dan orisinalitas pendapat Rosa.

Isu Kebangsaan Polandia
Pada mulanya adalah Polandia.

Dalam pandangan Rosa, pembentukan negara Polandia merdeka tak perlu dijunjung sebagai cita-cita utama gerakan buruh Polandia. Tanah airnya itu masih dikuasai tiga pihak; dibagi oleh kekaisaran Jerman, Austro-Hongaria, dan Rusia. Penyatuan kembali muskil dicapai; sudah semestinya kaum buruh fokus pada agenda-agenda pendorong perjuangan praktis guna memenuhi kebutuhan-kebutuhan khusus.

Lewat corak argumen yang kelak dikembangkan beberapa tahun kemudian, Rosa menyerang siapapun yang menitikberatkan isu-isu kebangsaan. Ia mengingatkan betapa retorika patriotisme bisa digunakan untuk mengerdilkan perjuangan kelas dan mengalihkan perhatian dari isu-isu sosial yang ada. Tak usahlah menuntut proletariat agar “tunduk pada ide kebangsaan Polandia” di tengah berbagai penindasan lain yang mendera mereka—begitulah kira-kira pesannya. Untuk menghindari jebakan ini, Rosa bercita-cita mengembangkan pemerintahan lokal mandiri beserta penguatan otonomi di ranah budaya yang mampu meredam kebangkitan chauvinisme dan berbagai bentuk diskriminasi ketika corak produksi sosialis kelak ditegakkan. Inti dari seluruh refleksi Rosa ini perlunya membedakan isu kebangsaan dan isu negara-bangsa.

Melawan Arus
Argumen di Kongres Zurich adalah pintu masuk menuju kehidupan intelektual Rosa Luxemburg, seorang perempuan yang sudah sepantasnya dianggap salah satu eksponen terpenting sosialisme abad keduapuluh. Lahir 150 tahun silam, tepatnya pada 5 Maret 1871, di Zamość, bagian dari Polandia yang diokupasi Tsar, Rosa menjalani seluruh hidupnya di pinggiran, bergulat dengan begitu banyak situasi serba pelik dan selalu melawan arus. Lahir dari keluarga Yahudi, Rosa bergelut dengan keterbatasan fisik sepanjang hayatnya. Ia pindah ke Jerman pada usia 27 tahun dan menjadi warga negara Jerman lewat pernikahan yang tak didasari cinta. Sebagai seorang pasifis yang gigih selama Perang Dunia I, ia beberapa kali masuk bui karena pemikirannya. Ia sungguh-sungguh memusuhi imperialisme di tengah zaman baru ekspansi kolonial yang penuh kekerasan. Ia berjuang menghapus hukuman mati di tengah merajalelanya barbarisme.

Aspek lain yang tak kalah penting: ia seorang perempuan di lingkungan yang hampir seutuhnya dihuni laki-laki. Rosa seringkali menjadi satu-satunya perempuan, baik di Universitas Zurich—di mana ia meraih gelar doktor pada 1897 dengan tesis bertajuk Perkembangan Industri di Polandia—maupun di jajaran pimpinan Partai Demokrasi Sosial Jerman (SPD). Partai merekrut Rosa sebagai perempuan pengajar pertama di sekolah kader. Kerja itu diembannya sejak 1907 hingga 1914, ketika ia menerbitkan Akumulasi Kapital (1913) dan menggarap proyek yang tak selesai, Pengantar Ekonomi Politik (1925).

Tantangan-tantangan ini mengiringi jiwa Rosa yang merdeka dan mandiri—suatu keutamaan sikap yang tak jarang pula menciptakan masalah di partai-partai kiri. Dengan kecerdasan memikat, Rosa mampu mengembangkan gagasan-gagasan baru dan berani mempertahankannya  di hadapan August Bebel dan Karl Kautsky—dua orang yang mendapat kemewahan akses langsung ke Engels). Segala olah pikir dan debat tak ia lakukan untuk membeo Marx, alih-alih menafsirkannya secara historis dan mengembangkan gagasan-gagasan Marx lebih jauh ketika diperlukan. Bagi Rosa, kemerdekaan berpendapat dan mengambil posisi kritis di dalam partai adalah hak yang tidak dapat diganggu gugat. Partai wajib menjadi rumah bagi beragam pandangan, selama para penghuninya menyepakati prinsip-prinsip dasar yang sama.

Partai, aksi mogok, revolusi
Rosa Luxemburg sukses mengatasi banyak rintangan yang dihadapinya. Dalam perdebatan keras setelah Eduard Bernstein mengambil jalan reformis, nama Rosa kian besar di antara organisasi-organisasi terdepan gerakan buruh Eropa.

Dalam teks yang kini tersohor, Syarat-Syarat Sosialisme dan Tugas-Tugas Demokrasi Sosial (1897-99), Bernstein menyerukan agar partai meninggalkan masa lalu dan berubah menjadi kekuatan yang mampu mendorong perubahan secara gradual. Rosa mengambil posisi berlawanan. Dalam Reformasi Sosial atau Revolusi? (1898-99), ia menyatakan bahwa  dalam setiap periode sejarah “agenda-agenda reformis diterapkan hanya dengan arahan dari revolusi sebelumnya”. Ada perubahan-perubahan yang hanya dimungkinkan oleh perebutan kekuasaan dengan jalan revolusi. Namun, lanjutnya, beberapa orang malah mengais-ngais cita-cita perubahan itu di “kandang ayam parlementarisme borjuis”. Bagi Rosa, orang-orang ini tidak sedang memilih “jalan yang lebih tenang, pasti, dan perlahan menuju tujuan yang sama.” Mereka memilih “tujuan yang berbeda,” merangkul dunia borjuis beserta ideologinya.

Tentu, tujuan yang harus dikejar bukanlah memperbaiki tatanan sosial yang ada, tetapi membangun sesuatu yang sepenuhnya berbeda. Peran serikat buruh—yang hanya mampu menuntut kondisi kerja yang lebih baik tanpa meninggalkan corak produksi kapitalis—dan pecahnya Revolusi Rusia 1905 memicu beberapa gagasan seputar pelaku dan tindakan yang dapat mewujudkan perubahan radikal dalam masyarakat. Dalam Pemogokan Massal, Partai, dan Serikat Buruh (1906) yang menelaah peristiwa-peristiwa besar di Imperium Rusia, Luxemburg menyoroti peran kunci lapisan-lapisan terluas kaum proletar yang mayoritasnya tak terorganisir. Di mata Rosa, massa adalah aktor protagonis sejarah yang sesungguhnya. Di Rusia, “elemen spontanitas”—sebuah konsep yang membuat beberapa tokoh menuduh Rosa terlalu optimis menilai kesadaran kelas massa—senantiasa penting. Konsekuensinya, partai berperan bukan untuk menyiapkan aksi pemogokan massal, alih-alih  menempatkan diri “sebagai nakhkoda gerakan secara keseluruhan,”

Bagi Rosa, pemogokan massal adalah “denyut nadi revolusi” sekaligus “kemudi terkuatnya.” Pemogokan massal adalah “corak khas pergerakan massa proletar, bentuk fenomenal dari perjuangan proletar dalam revolusi.” Pemogokan massal bukan aksi tunggal yang terisolir, melainkan rangkuman dari periode panjang perjuangan kelas. Lebih jauh, kita tidak bisa mengabaikan bahwa “dalam badai zaman revolusi,” kaum proletar ditransformasikan sedemikian rupa sehingga “bahkan kehidupan terbaik—dengan kata lain, kesejahteraan materiil—bernilai kecil jika dibandingkan dengan cita-cita perjuangan tersebut.” Pada titik itu buruh meraih kesadaran dan kedewasaan. Aksi-aksi mogok massal di Rusia telah menunjukkan betapa dalam periode bergemuruh itu “perjuangan-perjuangan ekonomi dan politik saling berbalas tanpa henti” sampai-sampai sulit dikenali perbedaannya.

Komunisme adalah Kemerdekaan dan Demokrasi
Rosa Luxemburg sempat terlibat perdebatan sengit lainnya terkait bentuk organisasi dan peran partai—kali ini dengan Lenin. Dalam Selangkah Maju, Dua Langkah Mundur (1904), sang pemimpin Bolshevik mempertahankan posisi-posisi yang disepakati dalam Kongres Kedua Partai Buruh Demokrasi Sosial Rusia, yaitu konsep tentang partai sebagai organisasi inti yang ketat, yang terdiri atas kaum revolusioner profesional, sebuah organisasi garda depan yang bertugas memimpin massa. Rosa Luxemburg mengambil posisi sebaliknya. Dalam Hal-Ihwal Organisasi dalam Gerakan Demokrasi Sosial Rusia (1904), ia bersikukuh bahwa partai yang terpusat secara ekstrem sejatinya membuka jalan menuju dinamika yang berbahaya, yaitu “ketaatan buta pada otoritas pusat.” Bagi Rosa, partai tidak boleh menghalangi keterlibatan masyarakat, tapi justru harus mengembangkannya, demi mencapai “pembelajaran historis yang tepat mengenai bentuk-bentuk perjuangan.” Marx pernah menulis bahwa “setiap langkah dari gerakan yang riil jauh lebih penting daripada puluhan program.” Rosa Luxemburg menambahkannya: “Kesalahan-kesalahan yang pernah dibuat oleh gerakan buruh revolusioner secara historis jauh lebih bermanfaat ketimbang ketakbersalahan seluruh komite sentral terbaik yang mungkin ada”.

Cekcok ini bahkan semakin relevan setelah Revolusi 1917. Rosa mendukung revolusi Bolshevik  sepenuh hati. Namun, karena gelisah menyaksikan peristiwa-peristiwa yang bergulir di Rusia (dimulai dari cara-cara Bolshevik menangani reforma agraria), Rosa menjadi orang pertama di kubu komunis yang sadar bahwa “keadaan darurat yang diperpanjang” akan membawa “pengaruh buruk pada masyarakat.” Dalam karya anumertanya Revolusi Rusia (1922 [1918]), ia menekankah bahwa dengan merebut kekuasaan politik, kaum proletar menjalankan misi historis: “menciptakan tatanan demokrasi sosialis untuk menggantikan demokrasi borjuis—bukan menghabisi demokrasi.” Baginya, komunisme berarti “demokrasi tanpa batas, dengan partisipasi paling aktif dan tanpa batas dari massa rakyat.” Corak demokrasi seperti ini tak butuh panduan dari para pemimpin yang tak bisa salah. Sebuah cakrawala sosial dan politik yang sungguh berbeda hanya bisa disaksikan melalui proses rumit semacam ini, bukan dalam kondisi di mana kebebasan hanya diperuntukkan bagi “pendukung pemerintah, bagi para anggota satu-satunya partai.”

Rosa Luxemburg meyakini betul bahwa secara hakiki “sosialisme  tidak dapat dipaksakan dari atas”; sosialisme harus memperluas demokrasi, bukan meredupkannya. Bagi Rosa, tindakan untuk “membongkar [tatanan lama]” bisa dilakukan lewat dektrit. Namun, tindakan positif seperti membangun [tatatan baru] tak bisa dilakukan melalui dekrit. Hanya “teritori baru” dan “pengalaman” semata yang akan “sanggup mengoreksi dan membuka pelbagai jalan baru.” Liga Spartakus, yang ia didirikan pada 1914 setelah  perpecahan dalam tubuh SPD dan belakangan menjadi Partai Komunis Jerman (KPD), secara eksplisit menyatakan tidak akan pernah mengambilalih kekuasaan negara “kecuali sebagai respons atas kehendak yang jelas dan bulat dari mayoritas kaum proletar seantero Jerman..

Meski berlawanan secara politik, baik kelompok Sosial-Demokrat maupun Bolshevik sama-sama keliru memahami demokrasi dan revolusi sebagai dua proses yang terpisah. Sebaliknya, bagi Rosa Luxemburg, demokrasi dan revolusi tak terpisahkan—dan itulah inti dari teori politik yang digagasnya. Kelak warisan Rosa pun dihimpit oleh kedua kubu. Kaum Sosial-Demokrat—yang punya peran dalam pembunuhan Luxemburg di tangan paramiliter sayap kanan—menyangkal Rosa selama bertahun-tahun dan menolak aspek revolusioner dari pemikirannya. Di sisi lain, kubu Stalinis tidak tak mau mempopulerkan ide-ide Rosa karena karakternya yang kritis dan berjiwa merdeka.

Melawan militerisme, perang dan imperialisme
Sumbu lain dalam iman politik dan aktivisme Rosa adalah perlawanannya terhadap perang dan militerisme. Di sini ia terbukti mampu memperbarui pendekatan teoritis kaum Kiri dan memenangkan dukungan untuk berbagai keputusan penting di kongres-kongres Internasional Kedua—dan sayangnya, karena itu pula Rosa dianggap duri dalam daging oleh para pendukung Perang Dunia I.

Dalam analisis Rosa, fungsi tentara, penambahan senjata, dan perang-perang baru yang terus meletus tak cukup dipahami lewat pemikiran politik abad ke-19. Perang dan militerisme berkaitan erat dengan kekuatan-kekuatan yang hendak merepresi perjuangan kaum buruh. Perang dan militerisme berfungsi sebagai alat bagi kepentingan kubu reaksioner untuk memecah-belah kelas pekerja. Perang dan militerisme berkaitan erat dengan agenda ekonomi di era itu: kapitalisme membutuhkan imperialisme dan perang bahkan di masa damai untuk menggenjot produksi, sekaligus merebut pasar-pasar baru di tanah jajahan di luar Eropa.

“Kekerasan politik,” tulis Rosa dalam Akumulasi Kapital, “adalah wahana bagi proses ekonomi.” Argumen ini ia dedah lagi dalam sebuah tesis paling kontroversial dalam Akumulasi Kapital: penambahan senjata tak tergantikan perannya bagi ekspansi kapitalisme.

Gambaran ini amat jauh dari skenario-skenario optimistik yang diusung kaum reformis. Luxemburg meringkasnya dalam slogan yang terus bergema sepanjang abad ke-20: “sosialisme atau barbarisme”. Barbarisme, menurut Rosa, bisa dihindari hanya dengan perjuangan massa yang sadar posisi. Karena perjuangan anti-militerisme menuntut kesadaran politik tingkat tinggi, Rosa menjadi salah satu pendukung terdepan aksi-aksi pemogokan massal guna melawan perang—strategi yang diremehkan oleh banyak tokoh, termasuk Marx. Rosa berpendapat bahwa jargon-jargon pertahanan nasional bahkan bisa dipakai untuk melawan skenario-skenario perang teranyar; bahwa slogan “Perang melawan perang!” harusnya menjadi “batu penjuru politik kelas pekerja.” Dalam Krisis Demokrasi Sosial (1916)—yang juga dikenal sebagai Pamflet Junius—ia menulis bahwa Internasional Kedua bubar karena gagal “menyepakati taktik dan aksi bersama kaum proletar di semua negara.” Dari situ, “tujuan utama” kaum proletar seharusnya diarahkan untuk “memerangi imperialisme dan mencegah perang, pada masa damai atau perang.”

Kelembutan Abadi
Rosa Luxemburg adalah seorang kosmopolit dari masa depan.  Ia mengaku kerasan “di seluruh pojok dunia, di mana pun ada awan dan burung dan air mata manusia.” Ia penggila botani dan sangat mencintai hewan. Surat-surat Rosa ditulis oleh seorang perempuan yang memiliki kepekaan luar biasa, dengan jati dirinya yang tetap utuh di tengah sederet pengalaman pahit. Bagi salah satu pendiri Liga Spartakus ini, perjuangan kelas bukan hanya soal kenaikan upah. Ia tak mau menjadi pembebek. Sosialismenya tidak pernah ekonomistik. Rosa yang bergumul dengan gejolak zaman berusaha memodernisasi Marxisme tanpa menggoyahkan fondasi-fondasinya. Dalam hal ini, kerja-kerja Rosa adalah memo yang senantiasa relevan bagi kaum Kiri bahwa mereka seharusnya tidak membatasi aktivitas politik pada upaya-upaya reformis, bahwa mereka tak seharusnya meninggalkan cita-cita untuk mengubah rupa dunia hari ini.

Hayat dan karya Rosa—yang berhasil mengawinkan agitasi dan telaah teoritis—menawarkan pelajaran yang tak lekang oleh waktu kepada generasi baru militan, kepada mereka yang sudah memilih untuk terlibat dengan segala pergumulan yang telah dilalui Rosa.

Categories
Journalism

Makan dari Rongsokan Logam: Refleksi tentang Wajah Lain Amerika

SEORANG pemuda tengah berjalan seorang diri di ruas jalan penghubung bandara dam pusat keramaian. Ia mengenakan baju olahraga—jenis yang biasanya bertuliskan nama tim basket atau berlambangkan bendera AS. Namun, baju yang satu ini menunjukkan satu kata dengan lima huruf: Black.

Saya menghampirinya untuk bercakap-cakap dan menanyakan di mana posisi saya tepatnya. Ia mengaku telah tinggal di sana sejak lahir. Pemandangan yang melatari percakapan kami tampak tidak biasa: saya belum pernah melihat yang seperti itu. Saya terus melihat ke sekeliling dan menyadari betapa semua yang telah saya baca tentang tempat ini sesuai kenyataan. Bangunan-bangunan kosong merentang panjang tanpa ujung. Pabrik-pabrik tua ditinggalkan lama selama puluhan tahun, dengan puing-puing raksasa yang tergerus oleh waktu. Bangunan-bangunan yang musnah, pecahan kaca, mesin-mesin yang diselimuti es dan salju. Tanah pembuangan yang hanya dihuni anjing liar, pecandu narkoba, tuna wisma, dan orang-orang pinggiran. Saya sedang berada di Detroit: kota hantu, salah satu contoh paling mengejutkan dari Amerika yang lain, yang tidak pernah ditayangkan dalam serial-serial televisi yang lokasi syutingnya berada di Manhattan atau film-film 3-D yang diproduksi di Hollywood.

Mereka Menyebutnya Motor City
Jika arkeologi industri menjadi bidang studi, Detroit jelas akan menjadi spesimen pertama yang akan dipelajari. Namun sejarahnya di masa lalu identik dengan pertumbuhan dan gemerlap kelimpahan. Baptised Motor City—yang juga jadi latar belakang nama Motown, perusahaan rekaman lagu-lagu soul-rhythm-blues—selama puluhan tahun merupakan pusat mobil di dunia. Pada 1902, kota ini menyambut kelahiran Cadillac, dan setahun berikutnya Henry Ford membuka pabrik yang pada 1908 akan melahirkan Model T, kendaraan pertama yang menjadi produk lini perakitan. Tak lama kemudian, General Motors didirikan pada tahun yang sama, diikuti Chrysler pada 1925. Pendeknya, segala serba-serbi industri mobil di AS berawal dari Detroit.

Kemajuan mengepakkan sayapnya lebar-lebar, demikian pula kota ini. Pada dekade kedua abad ke-20, populasi Detroit bertambah lebih dari dua kali lipat dan menjadikannya pusat penduduk terpadat nomor empat di AS. Proporsi terbesar pendatang berasal dari negara-negara bagian di Selatan – bagian dari rombongan Afro-Amerika (120.000 di Detroit saja) yang pergerakannya di kemudian hari dikenal sebagai ‘migrasi besar pertama’.

Ekspansi ini tidak hanya memengaruhi dunia roda-empat. Keterlibatan Amerika dalam Perang Dunia II mentransformasikan kota utama Michigan ini menjadi ‘gudang senjata demokrasi’, mengutip slogan Franklin Roosevelt. Sejumlah besar pekerja, baik laki-laki maupun perempuan, pindah ke Detroit yang saat itu tengah mengembangkan sektor persenjataan dan berkontribusi lebih dari kota-kota di AS lainnya bagi kerja-kerja dalam perang. Pertumbuhan ini berlanjut setelah 1945. Pada 1956 populasi Detroit mencapai puncak di angka 1.865.000. Para profesor ternama dan wartawan terhormat pada masa itu memuja-mujanya sebagai simbol akhir perjuangan kelas di Amerika, mengacu pada semakin banyak pekerja yang terangkat status ekonominya menjadi kelas menengah dan mulai menikmati kesenangan-kesenangan yang mengikutinya.

Berapa banyak air yang telah mengalir di kolong jembatan sejak itu! Kemerosotan dimulai pada 1960-an dan dipercepat setelah krisis minyak 1973 dan 1979. Hari ini Detroit berpenduduk kurang dari 700.000, angka terendah dalam kurun seratus tahun—dan kelihatannya akan terus turun. Dalam dekade pertama abad ke-21, kota ini kehilangan seperempat dari populasi totalnya. Setiap dua puluh menit ada keluarga yang mengumpulkan seluruh barang miliknya, mengirimkannya ke wilayah tujuan baru, dan mengucapkan selamat tinggal kepada Detroit.

Seratus Ribu Lahan Kosong
Selagi saya berjalan kaki di jalan-jalan kota tersebut, kesan tentang kota berhantu ini semakin kuat. Lebih dari seratus ribu lahan kosong dan rumah dicampakkan, mayoritasnya tinggal puing atau bangunan reyot yang tak aman. Sepuluh ribu di antaranya harus dirobohkan dalam empat tahun ke depan, namun dana operasinya tidak mencukupi. Ada kesan tentang kehancuran yang riil, karena seringkali hanya tersisa satu rumah berpenghuni dalam satu blok. Situasi yang sebelumnya sudah eksplosif menjadi makin dramatis berkat pandemi. Pengelola kota tengah mencoba untuk mengelompokkan penduduk di area-area tertentu dan mengubah sejumlah area lainnya menjadi lahan pertanian komersil. Namun, krisis yang sedang terjadi membuat gambarannya menjadi lebih muram daripada sebelumnya. Demi mengatasi kebangkrutan yang melilit, Detroit belakangan memotong layanan publik terakhirnya, termasuk bus (satu-satunya sarana transportasi bagi kelompok tak berpunya) dan penerangan malam hari di area-area terpencil.

Situasi sosial Detroit juga tidak kalah suram dari lingkungan sekitar. Di Detroit, satu dari tiga penduduknya hidup dalam kemiskinan, demikian pula lebih dari separuh kanak-kanak. Taraf segregasi rasial masih sangat tinggi: lebih dari 80 persen populasi adalah warga kulit hitam dan tinggal di pusat kota, sementara kelas pekerja ‘kulit putih’, atau sisa penduduk yang tidak bermigrasi, telah pindah ke pinggiran atau daerah sekitar pertokoan-pertokoan besar. Ini menunjukkan bahwa meskipun zaman telah berubah, rasisme yang menjadikan Detroit zona perang pada Juli 1967—ketika  Lyndon Johnson mengirimkan mobil-mobil berlapis baja yang menyebabkan 43 orang tewas, 7.200 manusia ditangkap, dan 2.000 bangunan dilumat habis—belum sepenuhnya dihapuskan. Tingkat kejahatan Detroit adalah salah satu yang tertinggi di seantero negeri. Ironisnya, ongkos asuransi kendaraan di tempat lahirnya industri mobil ini adalah yang paling mahal. Angka pengangguran mencapai 50 persen dan uang yang diinvestasikan di kasino raksasa di jalan utama hanya menghasilkan satu perubahan: jiwa-jiwa yang putus asa dan pahit, yang setiap malam antre untuk menghabiskan helai-helai terakhir dolar mereka, dan harapan terakhir mereka, di dahapan deretan panjang mesin judi.

Rongsokan Logam untuk Cina
Pada 2009, menindaklanjuti krisis, General Motors dan Chrysler mengajukan petisi kebangkrutan. Ford juga babak-belur terkena dampak krisis. Bantuan yang diterima oleh ketiga perusahaan besar pada akhir dekade lalu, baik dari pemerintahan Bush maupun Obama, mencapai 80 milyar dolar. ‘Restrukturisasi’ paralelnya—yang meliputi pemecatan, pemotongan gaji, dan kontrak kerja yang lebih rentan—mengikuti model yang direpresentasikan oleh American Axle & Manufacturing, yang didirikan pada 1994 untuk menyuplai komponen-komponen mobil yang lebih murah ke General Motors dan Chrysler. Faktanya, banyak karyawan perusahaan yang sejak awal sudah bekerja dengan kontrak per jam telah dipecat pada 2008, meski profit yang didulangnya sangat berlimpah. Dan mengikuti aksi mogok melawan pemotongan gaji dari 28 ke 14 dolar per jam, pabrik lain di Detroit memecat semua pekerjanya dan menutup pintu. Dengan nada filantrofis, salah satu bos pabrik menjelaskan bahwa, sama seperti pabrik-pabrik Axle & Manufacturing dibuka beberapa tahun sebelumnya di Meksiko, Brazil, dan Polandia, ‘prioritas utama kita adalah membangun Asia’. Bab berikutnya akan ditulis di Cina, dan benar bahwa perusahaan tersebut telah beroperasi di sana sejak 2009 dengan dua pabrik baru.

Bagaimanapun juga, Detroit tak hanya berbicara tentang abad keduapuluh; ia juga bersaksi tentang perubahan-perubahan yang terjadi hari ini dan menanti di masa depan. Ia menggarisbawahi sejauh mana kemiskinan dan pengangguran adalah hasil dari hubungan-hubungan ekonomi yang mencegah perkembangan teknologi dari pemanfaatannya untuk kemaslahatan orang banyak. Detroit menunjukkan bahwa pabrik-pabrik kosong melompong bukan karena tidak ada lagi kerja, tetapi karena produksi telah dialihkan ke tempat-tempat yang upah buruhnya lebih murah dan perjuangan untuk hak-hak sosialnya masih lemah.

Langit lekas gelap di Detroit pada musim dingin. Beberapa orang mengemis di dekat jalur keluar jalan tol. Dari kejauhan, tampak nyala api di lokasi yang dulunya adalah jantung kawasan industri. Sekelompok anak muda menyalakan api di reruntuhan pabrik, sembari berharap menemukan potongan logam yang akan dikirim ke Timur melalui laut. Potongan-potongan logam yang bernilai dua setengah dolar per ons ini adalah satu-satunya barang berharga yang tersisa untuk bertahan hidup. Potongan-potongan logam ini adalah salah satu barang ekspor utama AS ke Cina. Detroit memilikinya dalam jumlah terbesar dibanding seluruh kota lain di dunia. Di tempat lain, logam-logam rongsokan itu digunakan untuk membangun apa yang dulunya pernah ada di sini, untuk menciptakan infrastruktur yang memungkinkan para bos meraup laba yang lebih tinggi. Dalam kosakata dari masa yang lain: ‘Eksploitasi yang dihasilkan melalui tingkatan nilai-lebih yang lebih tinggi’

Tapi jangan salah: pelbagai konflik dan harapan baru akan muncul seiring munculnya pabrik-pabrik baru.

Categories
Interviews

Di Farmasi Marx: Wawancara dengan Marcello Musto

Ada ungkapan yang sering dilontarkan selama pandemi COVID-19: “Semuanya tidak akan pernah sama lagi seperti dulu”.

Kemudian muncul kesadaran bahwa sementara perubahan-perubahan yang sedang berlangsung terbilang banyak dan besar, hal-hal yang berjalan seperti biasanya juga tidak sedikit. Hari ini orang cenderung mengatakan bahwa pandemi menunjukkan—bahkan—mempercepat, proses-proses yang telah berlangsung sebelumnya. Salah satunya adalah tumbuhnya ketimpangan-ketimpangan sosial. Apakah Marx tetap diperlukan untuk memahami faktor-faktor di balik ketimpangan, bentuk-bentuk dan kemungkinan melawannya? Kami membahas soal-soal ini dengan Marcello Musto, seorang profesor sosiologi di York University, Toronto dan sosok otoritatif dari kebangkitan studi Marxis belakangan ini. Kontribusinya mencakup serangkaian monograf brilian dan sukses, yaitu Another Marx: Early Manuscripts to the International (Bloomsbury, 2018) dan The Last Years of Karl Marx: An Intellectual Biography (Stanford, 2020). Ia juga menyunting berbagai bunga rampai, termasuk Marx’s Capital after 150 Years: Critique and Alternative to Capitalism (Routledge, 2019), The Marx’s Revival: Key Concepts and New Interpretations (Cambridge University Press, 2020). Tulisan-tulisannya bisa dilihat di www.marcellomusto.org.

 

Giulio Azzolini: Profesor Musto, apa yang dapat kita pelajari dari Marx untuk krisis pandemi ini?

Marcello Musto: Setelah bertahun-tahun dicekoki mantra-mantra neoliberal, saya pikir pertama-tama adalah bahwa dimensi kooperatif dari manusia tak tergantikan perannya bagi kelangsungan hidup individu, tak kalah pentingnya dari kebebasan individu bagi keberlangsungan masyarakat. Kooperasi dan kemerdekaan harus dianggap sebagai dua unsur hakiki dalam “farmasi Marx”. Saya juga menambahkan tiga anjuran dalam penawar yang ia resepkan bagi penyakit-penyakit masyarakat modern: transfer kekuasaan dalam pengambilan keputusan dari ranah ekonomi ke ranah politik; pendayagunaan sains dan teknologi demi kesejahteraan semua orang alih-alih profit segelintir elit; dan peran sentral pendidikan, termasuk dukungan besar dari sumber daya negara.

 

Pandemi ini telah memanaskan konflik antara Amerika Serikat dan Cina, dan dalam Uni Eropa di antara berbagai negara anggotanya. Apakah ini merupakan konflik antar kapitalisme?

Ini merupakan kecenderungan yang kelihatannya akan berlanjut. Bukan kebetulan juga jika dua negara yang paling terdampak oleh COVID-19, Amerika Serikat dan Inggris, adalah negara-negara yang telah mendorong privatisasi. Model kapitalisme mereka menghambat perkembangan negara sosial atau malahan mereka secara aktif telah menghancurkannya. Namun, di balik fenomena permukaan ini, ada konflik yang bahkan lebih penting soal redistribusi kekayaan yang telah dimenangkan kapital beberapa dekade terakhir ini.

Marx tidak memprediksi pemiskinan kaum proletar, melainkan peningkatan ketimpangan antara kelas-kelas yang ada. Mengenai hal ini, sejarah kelihatannya telah membuktikan bahwa dia benar.

Ya – dan akan semakin jelas ketika kita memikirkan jurang besar yang memisahkan penduduk dunia, bukan hanya secara ekonomi. Marx memahami bahwa kolonialisme Inggris di India melibatkan perampokan sumber daya alam dan bentuk-bentuk baru perbudakan, ketimbang kemajuan stabil sebagaimana dikisahkan oleh para pembelanya. Di sisi lain, ia keliru mengenai peran revolusioner kelas pekerja Eropa. Ia mulai menyadari hal ini dalam tahun-tahun terakhir kehidupannya, ketika ia menulis dalam kekecewaan bahwa kelas pekerja Inggris memilih untuk “mengekor di belakang tuan-tuan mereka.”

 

Dampak ekonomi pandemi ini cukup beragam. Banyak perusahaan telah mengalami kemerosotan. Namun, tidak demikian halnya dengan bisnis-bisnis raksasa. Mereka yang tidak memiliki pekerjaan terjamin kini menganggur, tetapi tidak demikian dengan mereka yang posisinya aman. Beberapa toko kecil tutup, tetapi ada juga yang tidak. Dapatkan Marx menolong kita menafsirkan kenyataan yang menjadi semakin kompleks dan kacau?

Analisis Marx tentang kelas-kelas sosial perlu diperbarui dan teorinya tentang krisis (yang memang belum ia tuntaskan) adalah produk dari zaman yang berbeda. Marx tidak dapat memberikan jawaban pada banyak problem kekinian, tetapi ia mengarahkan telunjuknya pada pertanyaan-pertanyaan yang esensial. Bagi saya, inilah yang menjadi kontribusi utama Marx hari ini: ia membantu kita untuk mengajukan pertanyaan yang tepat, mengidentifikasi kontradiksi-kontradiksi pokok. Bukan kontribusi yang kecil, menurut saya.

 

Krisis yang ada sekarang telah membuka kembali pertanyaan tentang ketidaksetaraan gender. Apakah ada pemikiran Marx mengenai hal ini yang dapat menjadi pelajaran bagi kita?

Saya pikir Marx akan mencoba untuk lebih banyak mempelajarinya hari ini, khususnya dari gerakan feminis baru di Amerika Latin, yang telah memainkan peranan penting dalam mobilisasi sosial berskala besar. Dalam beberapa studi yang ia kerjakan sebelum kematiannya, ia berkutat persis mengenai pentingnya kesetaraan gender, dan materi yang ia ajukan untuk program-program politik menekankan lebih dari sekali bahwa emansipasi kelas pekerja adalah bagi “semua manusia, tanpa pandang jenis kelamin dan etnis mereka”. Ia telah belajar dari para perempuan-perempuan muda, dari buku-buku kaum sosialis Prancis awal, bahwa level umum emansipasi dalam suatu masyarakat bergantung pada tingkat emansipasi perempuan.

 

Di tengah krisis kesehatan, pertarungan untuk kesetaraan etnis juga telah meledak di Amerika Serikat. Apakah ini hanya suatu kebetulan?

Ya, tetapi kebetulan yang menyumbangkan informasi penting, karena menunjukkan luka yang mendalam di negeri tersebut. Black Lives Matter bukanlah fenomena sambil lalu, melainkan sebuah gerakan yang akan tetap bertarung melawan rasisme dan kekerasan di institusi-institusi Amerika.

 

Mari kita sekarang beralih pada hubungan antara perjuangan kelas dan perjuangan lingkungan. Apakah keduanya merupakan isu yang berbeda atau bersifat komplementer? Apakah mereka terstruktur dalam sebuah hierarki?

Dua-duanya saling melengkapi; masing-masing membutuhkan yang lainnya. Kritik atas eksploitasi pekerja dan kritik atas penghancuran lingkungan saat ini tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Perjuangan apapun yang mengabaikan salah satu dari kedua isu ini tidak akan lengkap atau menjadi kurang efektif. Saya membayangkan posisi produktivis dari gerakan buruh dari abad ke-19 dan gerakan-gerakan ekologis yang seringkali mengabaikan persoalan “corak produksi”. Isu-isu yang mengemuka, bagaimana mereka muncul dan untuk siapa, adalah pertanyaan-pertanyaan yang terkait erat dengan kepemilikan sarana-sarana produksi.

 

Marx adalah filsufnya revolusi komunis, namun ia juga merupakan politisi yang mewariskan sebuah organisasi internasional bagi gerakan buruh. Apakah ini merupakan pelajaran juga untuk masa kini?

Tanpa gagasan ini gerakan buruh akan menuju kekalahan, khususnya dalam periode kebangkitan nasionalisme. Bagi Marx, yang melihat perpecahan-perpecahan di antara kelas pekerja sebagai sesuatu yang penting bagi kekuasaan kaum borjuis, internasionalisme juga berarti solidaritas antara kaum pekerja lokal dan imigran. Internasionalisme harus kembali menjadi salah satu batu penjuru gerakan Kiri jika ia hendak memasuki pertarungan ide dalam jangka panjang alih-alih merespons situasi mendesak semata.

 

Pada tahun 2018, Cina merayakan dua abad kelahiran Marx. Di Barat, apakah sang filsuf ditakdirkan untuk bertahan sebagai objek studi, atau apakah ia masih dapat menggerakkan massa?

Cina menggunakan wajah Marx, sembari mengabaikan peringatan-peringatannya yang paling penting. Stalin juga melakukan hal yang sama. Ketika pada masa-masa Gulag, ia sendiri berfoto dengan wajah penuh keyakinan di bawah potret Marx. Di Barat, Marx telah tampil kembali di aula-aula universitas, tetapi tidak akan meraih kembali pengaruh politik yang pernah ia miliki pada era partai-partai “Marxis”. Namun demikian, siapapun yang hendak mencoba untuk memikirkan kembali sebuah masyarakat alternatif tidak akan dapat mengabaikan teori-teorinya.

 

Apakah kelompok Kiri Italia kini merugi karena membela Marxisme setelah dianggap kedaluwarsa, ataukah karena ia meninggalkan Marxisme?

Kaum kiri Italia tengah membayar harga dari kedua kesalahan tersebut. Pertama, mereka sangat terlambat mengidentifikasi pelbagai perubahan yang diperlukan untuk berkonfrontasi dengan metamorfosis-metamorfosis kapitalisme dan untuk merespons tuntutan-tuntutan gerakan-gerakan sosial yang baru. Mereka juga  berpikir pendek ketika meninggalkan Marxisme alih-alih secara kritis meninjau kembali dan memodernisasi teori yang masih valid untuk memahami masyarakat hari ini. Lihat saja bagaimana Gramsci disimpan rapi di loteng justru ketika secara global orang kembali giat menggali pemikirannya. Memang untuk sekian lama kontradiksi-kontradiksi yang diciptakan oleh kapitalisme tidak sedramatis dan sejelas hari ini. Sejarah gerakan Kiri masih belum berakhir.

Categories
Journalism

200 Tahun Engels: Kontribusi dan Keterbatasan Sang “Biola Kedua”

I. Sebelum Marx
Friedrich Engels lebih dulu paham soal pentingnya kritik ekonomi-politik ketimbang Karl Marx.

Waktu keduanya berkenalan, Engels telah menerbitkan lebih banyak artikel tentang ekonomi-politik—meski sang kariblah yang ditakdirkan tersohor di bidang ini.

Lahir di Jerman 200 tahun yang lalu, November 28, 1820, di Barmen (yang hari ini masuk pinggiran kota Wuppertal), Engels dulunya adalah anak muda yang menjanjikan, yang dilarang oleh ayahnya—seorang pemilik pabrik tekstil—untuk berkuliah di universitas. Ia diarahkan untuk bekerja di perusahaan sang ayah. Engels, yang kelak menjadi ateis, adalah seorang otodidak yang luar biasa haus pengetahuan. Ia juga menggunakan nama pena untuk menghindari konflik dengan keluarganya yang sangat konservatif dan saleh.

Dua tahun yang ia habiskan di Inggris—tempat di mana ia diutus pada usia 22 tahun untuk bekerja di kantor Ermen & Engels, Manchester—adalah masa yang krusial bagi pendewasaan keyakinan politiknya. Pada masa itulah ia menyaksikan langsung dampak-dampak eksploitasi kapitalis terhadap proletariat, kepemilikan pribadi, dan kompetisi antar individu. Engels mengadakan kontak dengan gerakan buruh Chartist dan jatuh cinta pada pekerja perempuan asal Irlandia, Mary Burns, yang kelak memainkan peranan kunci dalam perkembangan dirinya.

Engels adalah jurnalis yang brilian. Ia menerbitkan catatan-catatannya di Jerman tentang pergolakan-pergolakan sosial di Inggris. Ia juga menulis untuk pers berbahasa Inggris tentang aneka perkembangan sosial yang terjadi di Eropa. Artikel “Outlines of a Critique of Political Economy” yang terbit dalam Franco-German Yearbooks (1844) memantik minat Marx yang saat itu telah memutuskan akan mengabdikan seluruh energinya untuk menggeluti topik yang sama. Kedua sahabat lalu merintis kolaborasi teoretis dan politik yang bertahan hingga akhir hayat.

Satu tahun kemudian, Engels menerbitkan buku pertamanya dalam bahasa Jerman, The Condition of the Working Class in England. Subjudul buku ini menegaskan bahwa Condition of the Working Class didasarkan “pada pengamatan langsung dan sumber-sumber otentik”. Di bagian pendahuluan, Engels menulis bahwa pengetahuan sejati tentang kondisi kerja dan kehidupan kaum proletar “mutlak dibutuhkan untuk memberikan landasan solid bagi teori-teori sosialis”. Keyakinan ini diekspresikan kembali oleh Engels di berbagai kesempatan lain. Dalam tulisan “To the Working Class of England”, misalnya, Engels menyatakan bahwa studinya “dalam bidang ini” telah memberinya “pengetahuan tentang kehidupan nyata para pekerja” yang bersifat langsung alih-alih abstrak. Ia tidak pernah merasa didiskriminasi atau “diperlakukan sebagai orang asing”, dan ia senang ketika mendapati bahwa mereka kaum pekerja adalah orang-orang yang merdeka dari “kutukan nasionalisme sempit nan arogan”.

II. Revolusi dan Kontra-Revolusi
Pada 1845, ketika pemerintah Prancis mengusir Marx karena aktivitas-aktivitas komunisnya, Engels mengikuti sahabatnya itu ke Brussels. Mereka menerbitkan The Holy Family, or the Critique of Critical Criticism: Against Bruno Bauer and Company (buku pertama yang ditulis Engels bersama Marx). Keduanya juga menelurkan manuskrip yang tidak diterbitkan—The German Ideology—yang ditinggalkan pada “kritisisme tikus”. Dalam periode ini, Engels bepergian ke Inggris bersama Marx dan menunjukkan kepadanya moda produksi kapitalis yang sebagaimana yang ia pernah saksikan dan alami di tanah Britania. Marx akhirnya meninggalkan kritik filosofis pasca-Hegelian dan memulai perjalanan panjang yang membawanya—20 tahun kemudian—pada volume pertama Capital 20 tahun kemudian. Keduanya pun menulis Manifesto of the Communist Party (1848) dan berpartisipasi di kawah pergolakan politik yang mengguncang Eropa pada 1848.

Pada 1849, setelah kekalahan revolusi, Marx dipaksa pindah ke Inggris. Engels pun menyusulnya. Marx tinggal di London, sementara Engels mengelola bisnis keluarga di Manchester, sekitar 300 km dari London. Ia mengaku menjadi “biola kedua”. Demi mencari nafkah dan membantu Marx (yang seringkali tak berpenghasilan), Engels mengelola pabrik ayahnya di Manchester hingga 1870.

Selama dua dekade ini, ketika Engels pensiun dari bisnis keluarga dan akhirnya bergabung kembali dengan Marx di London, kedua sahabat menjalani periode yang paling intens dalam hidup. Beberapa kali dalam seminggu, Marx dan Engels membandingkan catatan-catatan mereka mengenai peristiwa-peristiwa penting terkait ekonomi dan politik utama pada masa itu. Sebagian besar dari 2.500 korespondensi antara keduanya berasal dari dua dekade ini. Selama dua dasawarsa itu pula mereka mengirimkan 1.500 surat kepada aktivis dan intelektual di hampir 20 negara. Angka ini belum termasuk 10.000 surat yang ditujukan kepada Engels dan Marx dari pihak ketiga, dan 6.000 surat lain yang sudah tidak dapat dilacak namun jelas pernah ada. Kumpulan surat ini adalah harta karun tak ternilai berisi berbagai macam gagasan yang dalam beberapa kasus tidak dikembangkan secara penuh dalam tulisan-tulisan Marx dan Engels.

Jarang kita temukan korespondensi dari abad ke-19 yang penuh rujukan cerdas sebagaimana dapat dijumpai dalam surat-surat dua dedengkot komunis revolusioner ini. Marx bisa membaca dalam sembilan bahasa dan Engels menguasai dua belas bahasa. Betapa mengagumkannya surat-surat mereka, yang kerap berpindah dari satu bahasa ke bahasa lainnya dan dipadati kutipan terpelajar, termasuk dalam bahasa Latin dan Yunani kuno. Kedua pemikir humanis ini juga pecinta sastra. Marx menguasai petikan-petikan dari Shakespeare, Aeschylus, Dante, dan Balzac, sementara Engels lama menjabat sebagai ketua Schiller Institute di Manchester. Ia juga penggemar berat karya-karya Aristoteles, Goethe dan Lessing. Di samping diskusi tentang peristiwa-peristiwa global dan prospek revolusi, topik-topik bahasan Marx dan Engels juga mencakup perkembangan-perkembangan besar dalam teknologi, geologi, kimia, fisika, matematika, dan antropologi. Marx selalu menganggap Engels sebagai mitra diskusi yang tak tergantikan. Ia selalu mengkonsultasikan pendapat-pendapat kritisnya kepada Engels tiap kali harus mengambil posisi terkait isu-isu kontroversial.

Hubungan keduanya bahkan lebih luar dahsyat lagi di luar urusan intelektual. Marx sering curhat kepada Engels tentang masalah-masalah pribadinya kepada Engels, mulai dari kesulitan materiil hingga problem-problem kesehatan yang menyiksanya selama puluhan tahun. Engels betul-betul berkorban untuk membantu Marx dan keluarganya. Ia selalu melakukan apapun yang bisa dilakukannya untuk memastikan keberlangsungan hidup Marx dan keluarga serta memfasilitasi penuntasan Capital. Marx selalu mensyukuri bantuan finansial Engels, sebagaimana bisa kita lihat dalam tulisannya pada suatu malam di bulan Agustus 1867, beberapa menit setelah ia selesai mengoreksi naskah volume pertama Capital: “Karena hutangku padamu sajalah [karya] ini menjadi mungkin”.

Namun, bahkan selama dua puluh tahun tersebut Engels tidak pernah berhenti menulis. Pada 1850 ia menerbitkan The Peasant War in Germany, sebuah catatan sejarah revolusi 1524-1525 yang berupaya menunjukkan kemiripan watak kelas menengah pada era itu dengan karakter borjuis kecil pada revolusi 1848-1849—serta betapa bertanggungjawabnya mereka atas kekalahan yang terjadi. Agar Marx bisa menghabiskan lebih banyak waktu untuk menuntaskan studi ekonominya, Engels juga menulis hampir separuh dari lima ratus artikel dikirim Marx ke New-York Tribune (surat kabar dengan sirkulasi terluas di Amerika Serikat) antara 1851 hingga 1862. Kepada publik Amerika, Engels melaporkan arah dan kemungkinan hasil dari perang-perang yang terjadi di Eropa. Tak jarang Engels terbukti mampu memprediksi perkembangan yang kelak terjadi dan mengantisipasi strategi-strategi militer di berbagai front. Walhasil, kamerad-kameradnya menjuluk Engels “sang Jenderal”. Aktivitas jurnalistik Engels berlanjut lama, dan pada 1870-1871 ia menerbitkan Notes on the Franco-Prussian War, sebuah rangkaian tematis berisi enam puluh buah tulisan untuk surat kabar Inggris Pall Mall Gazette. Dalam tulisan-tulisan itu Engels menganalisis peristiwa-peristiwa militer yang mendahului Paris Commune. Tulisan-tulisan ini mendapatkan banyak apresiasi dan membuktikan penguasaan Engels atas topik-topik kemiliteran.

III. Sumbangsih Besar dalam Teori
Selama lima belas tahun berikutnya, Engels menghasilkan kontribusi teori utamanya lewat tulisan-tulisan yang menggugat posisi lawan-lawan politik dalam gerakan buruh. Lewat karya-karya ini pula ia berusaha mengklarifikasi sejumlah isu kontroversial. Antara 1872 dan 1873 ia menulis tiga artikel berseri untuk Volksstaat yang juga terbit sebagai pamflet dengan judul The Housing Question. Maksud Engels adalah melawan penyebaran ide-ide Pierre-Joseph Proudhon di Jerman dan menjelaskan kepada kaum buruh bahwa kebijakan-kebijakan reformis tidak dapat menggantikan revolusi proletar.

Anti-Dühring, yang terbit pada 1878 dan digambarkan Engels sebagai “eksposisi metode dialektis yang terhubung dengan pandangan dunia komunis”, menjadi rujukan penting bagi pembentukan ajaran Marxis. Meskipun kita perlu membedakan antara karya-karya Engels yang bersifat populer—dalam polemik terbuka dengan lawan-lawannya — dengan vulgarisasi yang kelak dikembangkan oleh generasi baru gerakan sosial-demokrasi di Jerman, palingan Engels ke ilmu-ilmu alam membuka jalan bagi konsepsi evolusioner tentang fenomena sosial yang malah mengaburkan analisis-analis Marx yang lebih kaya nuansa. Socialism: Utopian and Scientific (1880), sebuah pengembangan dari tiga bab Anti-Dühring untuk tujuan pendidikan, memiliki dampak yang bahkan lebih besar daripada sumber aslinya. Namun di balik kontribusi dan fakta bahwa tulisan tersebut beredar hampir seluas Manifesto of the Communist Party, definisi Engels tentang “sains” dan “sosialisme ilmiah” dapat dipandang sebagai contoh otoritarianisme epistemologis, yang kemudian digunakan oleh diskursus Marxis-Leninis untuk menyingkirkan diskusi kritis tentang tesis-tesis para “pendiri komunisme”. The Dialectics of Nature, fragmen-fragmen dari proyek yang dikerjakan Engels tanpa henti antara 1873 hingga 1883, kini menjadi sumber kontroversi besar. Sejumlah pengamat memandang Dialectics of Nature sebagai tonggak penting Marxisme, sementara beberapa pengamat lain menganggapnya sebagai cikal-bakal dogmatisme Soviet. Sudah semestinya jika Dialectics of Nature dibaca sebagai karya yang belum tuntas, yang menunjukkan keterbatasan Engels, namun juga potensi yang terkandung dalam kritik ekologinya. Sementara penggunaan Engels atas dialektika jelas mereduksi kompleksitas teoretik dan metodologis pemikiran Marx, tidaklah tepat—seperti yang dilakukan beberapa orang di masa lalu—untuk menganggapnya bertanggung jawab atas apapun yang tidak mereka tidak sukai dalam tulisan-tulisan Marx dan untuk mengkambinghitamkan Engels atas kesalahan-kesalahan teoretik atau bahkan kekalahan-kekalahan di tataran praktis.

Pada 1884, Engels menerbitkan Origins of the Family, Private Property and the State, sebuah analisis tentang studi antropologi yang dilakukan oleh ilmuwan Amerika bernama Lewis Morgan. Bagi Morgan, relasi matriarkal secara historis mendahului relasi patriarkal. Bagi Engels, temuan Morgan merupakan penemuan asal-usul manusia yang sama pentingnya dengan “teori Darwin bagi biologi dan teori Marx tentang nilai-lebih bagi kajian ekonomi-politik”. Keluarga pada dasarnya mengandung antagonisme yang kelak berkembang dalam masyarakat dan negara. Penindasan kelas pertama dalam sejarah manusia “beriringan dengan penindasan perempuan oleh laki-laki”. Dalam hal kesetaraan gender dan juga perjuangan anti-kolonialis Engels tidak pernah ragu untuk membela—dan menjelaskan dengan penuh keyakinan—cita-cita emansipasi. Akhirnya, pada 1886, Engels menelurkan karya polemik Ludwig Feuerbach and the End of Classical German Philosophy (1886) yang menyasar kebangkitan kembali idealisme di lingkaran akademik Jerman.

IV. Penyebaran Marxisme
Selama dua belas tahun pasca-kematian Marx, Engels mengabdikan hidupnya untuk gerakan buruh internasional dan membereskan tulisan-tulisan sang karib. Beberapa tulisan jurnalistik untuk koran-koran sosialis besar pada masa itu, termasuk Die Neue Zeit, Le Socialiste dan Critica Sociale, sambutan dalam kongres-kongres partai, dan juga ratusan surat yang  ditulisnya selama periode ini memungkinkan kita untuk memberikan apresiasi lebih besar terhadap sumbangsih Engels bagi pertumbuhan partai-partai buruh di Jerman, Prancis, dan Inggris, serta dalam sejumlah isu-isu terkait teorietis dan organisasi. Beberapa isu di antaranya berhubungan dengan kelahiran Internasional Kedua—yang kongres pendiriannya terlaksana pada 14 Juli 1889 — beserta perdebatan-perdebatan di dalamnya.

Yang bahkan lebih penting lagi adalah Engels mendedikasikan hidupnya untuk penyebaran Marxisme. Pertama-tama, ia mengemban tugas teramat sulit untuk menyiapkan penerbitan naskah volume dua dan tiga Capital yang tak sempat dituntaskan Marx. Ia juga memeriksa edisi-edisi baru dari karya-karya yang sudah diterbitkan, sejumlah terjemahan, serta menulis kata pengantar dan epilog untuk berbagai edisi cetak ulang karya-karya Marx dan tulisan-tulisannya sendiri. Dalam pengantar baru untuk Class Struggles in France (1850) yang ditulis beberapa bulan sebelum kematian Marx, Engels menjelaskan sebuah teori revolusi yang mencoba beradaptasi dengan wajah anyar politik di Eropa. Ia berargumen bahwa kaum proletar telah menjadi mayoritas, dan prospek pengambilalihan kekuasaan melalui sarana-sarana elektoral, melalui pemberlakuan hak pilih secara universal, membuka kemungkinan untuk mempertahankan revolusi dan status legal perjuangan buruh sekaligus. Namun ini tidak berarti—sebagaimana yang dilakukan oleh kelompok sosial-demokrat Jerman dengan memanipulasi tulisan Engels dalam kerangka legalistik-reformis—bahwa “perjuangan di jalanan” tidak lagi berguna. Maksud Engels adalah bahwa revolusi tidak bisa lahir tanpa partisipasi aktif massa, dan ini memerlukan “kerja panjang penuh kesabaran”.

Ketika membaca Engels hari ini, seraya menyadari kenyataan kapitalisme kontemporer di depan mata, terpaculah hasrat kita untuk kembali berjuang dengan mengikuti jalan setapaknya.

Categories
Journalism

Wajah Baru Marx Setelah Marx-Engels Gesamtausgabe (MEGA) (Bagian III)

I. Internasional Pertama
Begitu Kapital terbit, Marx melanjutkan aktivitas militannya dan berkomitmen penuh untuk Asosiasi Pekerja Internasional.
Dalam biografi politiknya, fase ini terdokumentasikan dalam Vol. I/21, “Karl Marx—Friedrich Engels, Werke, Artikel, Entwürfe. September 1867 bis März 1871”, yang mencakup lebih dari 150 teks dan dokumen dari periode 1867-1871, termasuk notulen 169 rapat Dewan Umum di London (dihapus dari semua edisi karya-karya Marx dan Engels sebelumnya) di mana Marx melakukan intervensi. Dengan demikian, ia menyediakan materi riset untuk tahun-tahun yang krusial bagi Internasional.
Sejak awal, pada 1864, ide-ide Proudhon sudah sangat hegemonik di Prancis, kawasan Swiss yang berbahasa Prancis, dan Belgia; dan kaum mutualis—istilah untuk menyebut para pengikutnya—adalah sayap paling moderat dari Internasional. Mereka—yang sepenuhnya menentang intervensi negara di bidang apapun—menolak sosialisasi tanah dan alat-alat produksi, serta penggunaan senjata. Teks-teks yang diterbitkan dalam volume ini menunjukkan bagaimana Marx memainkan peranan kunci dalam perjuangan panjang untuk mengurangi pengaruh Proudhon di Internasional. Teks-teks ini mencakup dokumen-dokumen yang terkait dengan persiapan kongres-kongres Brussels (1868) dan Basel (1869), ketika Internasional untuk pertama kalinya secara tegas menyuarakan sosialisasi alat-alat produksi oleh otoritas negara dan mendukung hak untuk menghapuskan kepemilikan individu atas tanah. Ini menandakan kemenangan penting bagi Marx dan kemunculan prinsip-prinsip sosialis dalam program politik organisasi utama kaum pekerja untuk pertama kalinya.
Di luar program politik Asosiasi Pekerja Internasional, akhir 1860-an dan awal 1870-an dipenuhi dengan konflik-konflik sosial. Banyak pekerja yang berpartisipasi dalam aksi-aksi protes memutuskan untuk menjalin kontak dengan Internasional yang reputasinya terus meluas. Para pekerja ini juga meminta Internasional untuk mendukung perjuangan-perjuangan mereka. Pada periode ini juga terjadi kelahiran beberapa kelompok pekerja Irlandia di Inggris. Marx mengkhawatirkan perpecahan yang diakibatkan oleh nasionalisme garis keras dalam barisan kaum proletar. Dalam sebuah dokumen yang dikenal sebagai “Komunikasi Konfidensial”, ia menekankan bahwa “kaum borjuis Inggris tidak hanya mengeksploitasi penderitaan orang-orang Irlandia untuk menundukkan kelas pekerja di Inggris lewat imigrasi paksa orang-orang miskin dari Irlandia”; mereka juga terbukti sanggup memisahkan kaum pekerja “ke dalam dua kubu yang saling bertentangan”. Dalam pandangannya, “suatu bangsa yang memperbudak bangsa lainnya sebenarnya menempa sendiri rantai yang membelenggunya” dan perjuangan kelas tidak dapat menghindar dari isu penting ini. Tema besar lainnya dalam volume tersebut—khususnya yang diulas dalam tulisan-tulisan Engels untuk The Pall Mall Gazette—adalah penolakan terhadap Perang Prancis-Prusia tahun 1870-1871.

II. Riset-Riset Marx Setelah Kapital
Kerja-kerja Marx untuk Asosiasi Pekerja Internasional berlangsung dari 1864 sampai 1872, dan volume baru IV/18, “Karl Marx—Friedrich Engels, Exzerpte und Notizen. Februar 1864 bis Oktober 1868, November 1869, März, April, Juni 1870, Dezember 1872” menyajikan bagian yang sebelumnya tak dikenal tentang studi-studi yang ia kerjakan selama tahun-tahun tersebut. Penelitian Marx dilakukan jelang dicetaknya Volume I Kapital atau setelah 1867 ketika ia mempersiapkan penerbitkan Volume II dan III untuk diterbitkan. Volume MEGA ini terdiri atas lima buku kumpulan kutipan dan empat buku catatan yang berisi rangkuman lebih dari seratus karya tulis, laporan-laporan debat-debat parlementer dan artikel-artikel jurnalistik. Bagian yang paling tebal dan penting secara teoretis dari materi-materi ini mencakup penelitian Marx tentang agrikultur, di mana minat utamanya di sini ialah tentang sewa tanah, ilmu-ilmu alam, kondisi tanah di negara-negara Eropa dan Amerika Serikat, Rusia, Jepang dan India, dan sistem penggunaan tanah dalam masyarakat-masyarakat pra-kapitalis.
Marx membaca secara cermat Chemistry and Its Application to Agriculture and Philosophy (1843), karya ilmuwan Jerman Justus von Liebig yang ia anggap penting karena turut mengubah pandangannya sebelumnya bahwa penemuan-penemuan ilmiah pertanian modern sukses mengatasi masalah pemulihan tanah. Sejak itu, ia mengembangkan minat pada apa yang kini kita sebut “ekologi”, khususnya masalah erosi tanah dan deforestasi. Di antara buku-buku yang amat berkesan bagi Marx dalam periode ini, ada tempat khusus untuk Introduction to the Constitutive History of the German Mark, Farm, Village, Town and Public Authority (1854) karya teoretikus politik dan sejarawan hukum Georg Ludwig von Mauer. Dalam sebuah surat kepada Engels, ia mengatakan bahwa buku-buku Mauer “amatlah signifikan”, karena dengan cara yang sangat berbeda meneropong “bukan hanya zaman primitif, tetapi juga perkembangan selanjutnya seperti tentang kota-kota merdeka, para pemilik lahan-lahan besar yang menikmati impunitas, pejabat publik, dan perjuangan kalangan petani merdeka dan hamba”. Marx juga memuji Maurer karena menunjukkan bahwa kepemilikan pribadi atas tanah adalah sesuatu yang terjadi dalam periode sejarah tertentu dan tidak bisa dianggap sebagai karakter alami dari peradaban manusia. Akhirnya, Marx mempelajari secara mendalam tiga karya berbahasa Jerman dari Karl Fraas: Climate and the Vegetable World throughout the Ages, a History of Both (1847), A History of Agriculture (1852) dan The Nature of Agriculture (1857). Ia mendapati bahwa yang pertama disebut di atas “amatlah menarik”, dan secara khusus mengapresiasi bagian saat Fraas menunjukkan bahwa “iklim dan flora berubah dalam sejarah”. Ia menyebut pengarangnya sebagai “seorang Darwinis sebelum Darwin”, yang mengakui bahwa “bahkan spesies pun berkembang dalam sejarah”. Marx juga dikejutkan oleh pertimbangan-pertimbangan ekologis Fraas dan keprihatinannya bahwa “pengolahan tanah—jika bersandar pada perkembangan alami dan bukannya secara sadar dikontrol (sebagai borjuis ia semestinya tidak mencapai pemahaman ini)—tidak akan menghasilkan padang gurun”. Marx dapat mendeteksi di sini “sebuah tendensi sosialis bawah sadar”.
Menyusul penerbitan Notebooks on Agriculture, kita bisa berargumen dengan tambahan bukti bahwa ekologi bakal memainkan peranan yang lebih besar dalam pemikiran Marx jika ia memiliki energi untuk menuntaskan dua volume terakhir Kapital. Tentu saja, kritik ekologis Marx bersifat anti-kapitalis, dan di luar harapan-harapannya akan kemajuan ilmu pengetahuan, mencakup pertanyaan tentang corak produksi secara keseluruhan.
Skala studi-studi Marx atas ilmu-ilmu alam telah menjadi nampak sepenuhnya sejak penerbitan Volume IV/26, “Karl Marx, Exzerpte und Notizen zur Geologie, Mineralogie und Agrikulturchemie. März bis September 1878”. Pada musim semi dan musim panas 1878, geologi, mineralogi, dan kimia pertanian menjadi lebih sentral dalam studi-studi Marx daripada ekonomi-politik. Ia mengumpulkan catatan dari berbagai buku, termasuk The Natural History of the Raw Materials of Commerce (1872) oleh John Yeats, The Book of Nature (1848) oleh ahli kimia Friedrich Schoedler, dan Elements of Agricultural Chemistry and Geology (1856) oleh ahli kimia dan mineral James Johnston. Antara Juni dan awal September, ia bergelut dengan Student’s Manual of Geology (1857) karya Joseph Jukes, yang darinya ia mengumpulkan banyak kutipan. Fokus utama dari semua pembelajaran ini adalah pertanyaan-pertanyaan tentang metodologi ilmiah, tahap-tahap perkembangan geologi sebagai disiplin ilmu, dan kegunaannya bagi produksi industrial dan agrikultural.
Pemahaman-pemahaman yang ia dapat melalui pembelajaran ini menyadarkan Marx tentang pentingnya mengembangkan lagi ide-idenya tentang profit, yang pernah membuatnya sibuk pada pertengahan 1860-an ketika menulis naskah tentang “Transformasi Profit-Surplus ke dalam Sewa Tanah“ dalam Kapital, Volume III. Beberapa rangkuman teks-teks ilmu alamnya memiliki tujuan untuk menerangi materi-materi yang sedang ia pelajari. Tetapi catatan-catatan lainnya, yang lebih condong pada aspek-aspek teoretisnya, dimaksudkan untuk digunakan dalam penyelesaian Volume III. Di kemudian hari Engels mengenang bahwa Marx “menyusuri (…) pra-sejarah, agronomi, kepemilikan tanah di Rusia dan Amerika, geologi, dll., secara khusus untuk mengembangkan hingga (…) yang belum pernah diupayakan, bagian tentang sewa tanah dalam Volume III Kapital”. Volume-volume MEGA ini semakin penting karena mereka akan mendiskreditkan mitos yang sering diulangi dalam biografi-biografi dan studi-studi tentang Marx, bahwa setelah Kapital ia telah memuaskan minat intelektualnya dan sepenuhnya meninggalkan studi-studi dan penelitian baru.

III. Kerja-Kerja Terakhir Engels
Akhirnya, tiga buku MEGA yang diterbitkan pada dekade terakhir berkaitan dengan Engels di masa tuanya. Volume I/30, “Friedrich Engels, Werke, Artikel, Entwürfe Mai 1883 bis September 1886” mencakup 43 teks yang ia tulis dalam tiga tahun setelah kematian Marx. Dari 29 teks terpenting dalam volume ini, terdapat 17 tulisan jurnalistik yang muncul di beberapa surat kabar utama kelas pekerja Eropa. Meski dalam periode ini perhatiannya banyak tersedot untuk mengedit naskah Kapital Marx yang belum tuntas, Engels tidak meninggalkan kesempatan untuk mengintervensi rangkaian isu-isu hangat di bidang politik dan teori. Ia juga menulis polemik yang ditujukan untuk menyerang kebangkitan kembali idealisme di lingkaran akademik Jerman, Ludwig Feuerbach and the End of Classical German Philosophy (1886). Empat belas teks lainnya, yang diterbitkan sebagai apendiks dalam volume MEGA ini, adalah beberapa terjemahan Engels dan rangkaian artikel dari penulis lain yang berkolaborasi dengannya.
MEGA juga menerbitkan kumpulan surat-surat Engels yang baru. Volume III/30, “Friedrich Engels, Briefwechsel Oktober 1889 bis November 1890” mencakup 406 surat yang masih terselamatkan dari total 500 atau lebih surat yang ia tulis antara Oktober 1889 dan November 1890. Lebih jauh lagi, disertakannya untuk pertama kali surat-surat dari koresponden lain memungkinkan kita untuk mengapresiasi secara lebih mendalam kontribusi yang Engels berikan bagi perkembangan partai-partai kelas pekerja di Jerman, Prancis, dan Inggris, mengenai beragam isu teoretik dan organisasi. Beberapa di antaranya ialah mengenai kelahiran Internasional Kedua dan perdebatan-perdebatan di dalamnya, yang kongres pendiriannya berlangsung pada tanggal 14 Juli 1889.
Akhirnya, Volume I/32, “Friedrich Engels, Werke, Artikel, Entwürfe März 1891 bis August 1895”, menyertakan tulisan-tulisan dari empat setengah tahun terakhir hidup Engels. Ada sejumlah tulisan-tulisan jurnalistik untuk koran-koran sosialis besar pada masa itu, termasuk Die Neue Zeit, Le Socialiste dan Critica Sociale, tetapi juga sejumlah kata pengantar dan penutup untuk berbagai edisi karya-karya Marx dan Engels, transkripsi pidato, wawancara dan sambutan dalam kongres-kongres partai, catatan percakapan, dokumen-dokumen yang Engels tulis dalam kolaborasi dengan orang lain, dan sejumlah terjemahan.
Tiga volume ini akan terbukti bermanfaat bagi studi yang lebih mendalam atas kontribusi teoretik dan politik Engels tua. Rangkaian publikasi dan konferensi internasional yang dijadwalkan pada perayaan dua abad kelahirannya (1820-2020) tentu tidak akan melewatkan masa dua belas tahun pasca kematian Marx ini, di mana Engels menghabiskan energinya untuk penyebaran Marxisme.

V. Marx yang Lain?
Marx yang seperti apakah yang lahir dari edisi historis-kritis baru atas karya-karyanya ini? Dalam beberapa hal, ia berbeda dari sosok pemikir yang selama ini digambarkan oleh para pengikut dan penentangnya—belum lagi jika kita berbicara tentang patung-patung dari batu yang ditemukan di ruang publik rezim-rezim Eropa Timur, yang menggambarkannya dengan postur menunjuk ke masa depan dengan keyakinan teguh. Di sisi lain, adalah keliru untuk menyebut—seperti mereka yang terlalu bersemangat merayakan penemuan sosok “Marx yang belum dikenal” setiap kali muncul teks yang baru—bahwa penelitian terkini telah memutarbalikkan semua yang sebelumnya diketahui mengenai dirinya. Apa yang disuguhkan oleh MEGA adalah landasan tekstual untuk memikirkan Marx yang berbeda: bukan berbeda karena perjuangan kelas disisihkan dari pemikirannya (seperti yang bakal diharapkan oleh para akademisi, dalam variasi nyanyian lama tentang “Marx sang ekonom” versus “Marx sang politisi” yang berupaya untuk menggambarkannya sebagai pemikir klasik yang ompong); tetapi secara radikal berbeda dengan pengarang yang secara dogmatis dijadikan fons et origo dari “sosialisme riil”, yang semata-mata mengarahkan perhatiannya pada pertentangan kelas.
Kemajuan-kemajuan baru yang dicapai dalam studi-studi Marxian menunjukkan bahwa eksegesis atas karya Marx lagi-lagi, seperti halnya di masa lalu, akan semakin dipertajam. Sejak dulu kaum Marxis mengedepankan tulisan-tulisan Marx muda—terutama Economic and Philosophic Manuscripts of 1844 dan The German Ideology—sementara Manifesto of the Communist Party tetap menjadi tulisannya yang paling banyak dibaca dan dikutip. Namun, dalam tulisan-tulisan masa mudanya tersebut, orang akan menemukan banyak gagasan yang kelak dilampaui dalam karya-karyanya yang belakangan. Sejak dulu, kesulitan untuk memeriksa penelitian Marx dalam dua dekade terakhir kehidupannya menghalangi pemahaman kita tentang pencapaian-pencapaian penting yang ia raih. Namun di atas segalanya itu, di dalam Kapital dan naskah-naskah persiapannya, dan juga dalam penelitian-penelitian di tahun-tahun terakhirnya, kita menemukan refleksi-refleksi yang paling berharga mengenai kritik masyarakat borjuis. Refleksi-refleksi ini merepresentasikan kesimpulan-kesimpulan terakhir, meskipun bukan yang definitif, yang Marx capai. Jika diperiksa secara kritis dalam terang perubahan-perubahan di dunia sejak kematiannya, mereka masih akan terbukti berguna untuk tugas teoretik, setelah kegagalan-kegagalan model sosial-ekonomi alternatif untuk kapitalisme di abad ke-20.
Edisi MEGA ini telah membuktikan kebohongan klaim bahwa segala hal tentang Marx telah ditulis dan dibicarakan. Masih ada banyak hal yang bisa dipelajari dari Marx. Kini menjadi mungkin untuk mempelajari bukan hanya apa yang ditulis Marx dalam karya-karyanya yang telah diterbitkan, tetapi juga pertanyaan dan keraguan yang terkandung dalam sederet naskah yang tak selesai.

 

Bagian I

Categories
Journalism

Wajah Baru Marx Setelah Marx-Engels Gesamtausgabe (MEGA) (Bagian II)

I. Pengasingan di London dan Kritik Ekonomi-Politik
Gerakan revolusioner yang bangkit di Eropa pada tahun 1848 ditaklukkan dalam tempo singkat dan pada 1849, setelah diusir dari Prusia dan Prancis, Marx tidak punya pilihan selain menyeberangi Selat Inggris.
Ia kemudian menetap di Inggris, sebagai orang buangan tak bernegara, selama sisa hidupnya. Namun, keadaan di Eropa menempatkan Marx di lokasi yang terbaik untuk menulis kritik ekonomi-politiknya. Pada saat itu, London adalah pusat ekonomi dan finansial termaju, ‘demiurgos kosmos borjuis’, dan karenanya merupakan lokasi yang paling mendukung untuk mengamati perkembangan ekonomi terkini dari masyarakat kapitalis. Ia juga menjadi penulis untuk New-York Tribune, surat kabar dengan sirkulasi terluas di Amerika Serikat.
Selama bertahun-tahun, Marx menantikan pecahnya krisis baru. Ketika hal ini termaterialisasikan pada tahun 1857, ia mengabdikan banyak waktunya untuk menganalisis karakter-karakternya. Volume I/16, “Karl Marx—Friedrich Engels, Artikel Oktober 1857 bis Dezember 1858”, mencakup 84 artikel yang ia terbitkan antara musim gugur 1857 dan akhir 1858 dalam New-York Tribune, termasuk artikel-artikel yang mengekspresikan reaksi-reaksi awalnya pada publik finansial pada 1857. Harian Amerika tersebut sering mencetak editorial-editorial tanpa nama pengarang, tetapi penelitian atas volume baru MEGA ini telah membuka kemungkinan untuk mengatributkan dua artikel lagi pada Marx, bersama dengan empat lainnya yang secara substansial diubah oleh para editor dan tiga lagi yang asal-muasalnya tetap belum jelas.
Didorong oleh kebutuhan mendesak untuk memperbaiki keadaan ekonominya, Marx juga bergabung dengan komite editorial The New American Cyclopædia dan setuju untuk menulis sejumlah artikel untuk proyek ini (volume I/16 mengandung 39 artikel jenis ini). Meski bayarannya $2 per halaman sangatlah rendah, ini tetap merupakan tambahan bagi kondisi keuangannya yang parah. Apalagi kebanyakan dari pekerjaan ini ia serahkan pada Engels, sehingga ia dapat lebih banyak mengabdikan waktu untuk tulisan-tulisan ekonominya.
Karya Marx dalam periode ini sungguh hebat dan luas cakupannya. Di samping komitmen jurnalistiknya, dari Agustus 1857 hingga Mei 1858 ia mengisi delapan buku catatan yang dikenal sebagai Grundrisse. Tetapi, ia juga menetapkan bagi dirinya tugas berat studi analitis tentang krisis ekonomi dunia yang pertama. Volume IV/14, “Karl Marx, Exzerpte, Zeitungsausschnitte und Notizen zur Weltwirtschaftskrise (Krisenhefte). November 1857 bis Februar 1858”, secara signifikan menambah pengetahuan kita tentang salah satu interval paling subur dalam produksi teoretis Marx. Dalam surat kepada Engels pada Desember 1857, Marx mendeskripsikan aktivitasnya yang gila-gilaan:
Aku bekerja dengan giat, umumnya hingga jam 4 pagi. Aku melibatkan diri dalam tugas ganda: 1. Menjelaskan skema [Grundrisse] ekonomi-politik. (mengupas masalah ini hingga tuntas demi kepentingan publik adalah sepenuhnya esensial, sama pentingnya dengan kebutuhan pribadiku untuk mengakhiri mimpi buruk ini). 2. Krisis di masa kini. Selain artikel-artikel untuk [New-York] Tribune, semua yang aku lakukan adalah mengumpulkan catatan-catatan mengenainya, yang sayangnya menghabiskan banyak waktu. Aku pikir kira-kira pada musim semi nanti kita harus menyusun sebuah pamflet bersama tentang isu tersebut sebagai pengingat kepada publik Jerman bahwa kita masih ada di sana dan selalu tetap sama.
Jadi, rencana Marx adalah mengerjakan pada saat yang bersamaan dua proyek: karya teoretis tentang kritik moda produksi kapitalis dan buku yang lebih tematis mengenai krisis yang tengah berlangsung. Inilah sebabnya mengapa dalam karyanya Notebooks on Crisis, tidak seperti volume-volume serupa sebelumnya, Marx tidak mengumpulkan bahan-bahan dari karya para ekonom lain, tetapi mengoleksi sejumlah laporan dari surat kabar tentang kolapsnya bank-bank besar, variasi harga pasar saham, perubahan pola-pola dagang, tingkat pengangguran dan hasil industri. Perhatian khusus yang ia berikan pada isu yang disebut terakhir membedakan analisisnya dari begitu banyak pengamat lain yang mengatributkan krisis-krisis ini secara eksklusif pada kesalahan penyaluran kredit dan peningkatan spekulasi. Marx membagi catatan-catatannya ke dalam beberapa buku catatan.
Pada buku catatan pertama sekaligus yang terpendek, yang berjudul “Prancis 1857”, ia mengoleksi data tentang situasi perdagangan di Prancis dan langkah-langkah yang diambil oleh Bank Prancis. Buku catatan kedua, “Buku tentang Krisis 1857”, panjangnya hampir dua kali lipat dan terutama berurusan dengan Inggris dan pasar uangnya. Tema-tema serupa dibahas dalam buku catatan ketiga yang sedikit lebih panjang, “Buku tentang Krisis Perdagangan”, di mana Marx mengomentari berita-berita dan data mengenai relasi-relasi industri, produksi bahan-bahan mentah dan pasar tenaga kerja.
Karya Marx seperti biasanya begitu cermat: ia menyusun secara kronologis bagian-bagian menarik dari sejumlah artikel dan informasi lain yang dapat ia gunakan untuk merangkum apa yang terjadi dari lusinan majalah dan surat kabar. Sumber utama yang ia gunakan adalah The Economist—mingguan yang darinya ia menyusun separuh catatannya—meski ia juga secara berkala memeriksa Morning Star, The Manchester Guardian, dan The Times. Semua bahan ini dikumpulkan dalam bahasa Inggris. Dalam catatan-catatan tersebut, Marx tidak membatasi dirinya pada berita-berita tentang Amerika Serikat dan Inggris. Ia juga melacak peristiwa-peristiwa paling signifikan di negara-negara Eropa lain—khususnya Prancis, Jerman, Austria, Italia, dan Spanyol—dan menunjukkan minat serius terhadap bagian-bagian lain dunia, khususnya India dan China, Timur Jauh, Mesir, dan bahkan Brazil serta Australia.
Setelah minggu-minggu tersebut berlalu, Marx meninggalkan ide menerbitkan buku tentang krisis dan mengkonsentrasikan seluruh energinya pada karya teoretisnya, kritik ekonomi-politik, yang menurut pandangannya tidak dapat ditunda lagi. Namun Notebooks on Crisis tetap berguna untuk membantah pandangan yang keliru tentang minat utama Marx selama periode ini. Dalam sepucuk surat pada awal 1858 untuk Engels, ia menulis bahwa ‘mengenai metode’ yang ia gunakan, ‘Logika Hegel sangatlah bermanfaat baginya’ dan menambahkan bahwa ia ingin untuk menyoroti ‘aspek rasionalnya’. Dengan dasar ini, beberapa penafsir karya Marx menyimpulkan bahwa ketika menulis Grundrisse, ia menghabiskan banyak waktunya untuk mempelajari filsafat Hegelian. Namun, penerbitan volume IV/4 menunjukkan jelas bahwa perhatian utamanya pada saat itu adalah analisis empiris atas peristiwa-peristiwa yang terkait dengan krisis ekonomi besar yang ia telah prediksikan jauh sebelumnya.

II. Awal 1860-an
Upaya-upaya tanpa kenal lelah dari Marx untuk menuntaskan ‘kritik ekonomi-politik’-nya juga menjadi tema utama dari volume III/2, “Karl Marx—Friedrich Engels, Briefwechsel Januar 1862 bis September 1864”, yang mencakup korespondensinya sejak awal1862 hingga pendirian Asosiasi Kelas Pekerja Internasional. Dari 425 surat yang tersisa, 112 adalah antara Engels dan Marx, sementara 35 ditulis kepada, dan 278 diterima dari, pihak ketiga (227 dari kumpulan ini baru diterbitkan untuk pertama kalinya). Disertakannya kumpulan terakhir ini—yang memiliki perbedaan paling signifikan dari seluruh edisi sebelumnya—menyuguhkan harta karun bagi pembaca yang berminat serta menyediakan kekayaan informasi baru tentang peristiwa-peristiwa dan teori-teori yang Marx dan Engels pelajari dari perempuan dan laki-laki yang dengannya mereka berbagi komitmen politik.
Di antara poin-poin diskusi dalam korespondensi Marx sejak awal 1860-an adalah Perang Saudara Amerika, revolusi Polandia melawan pendudukan Rusia, kelahiran Partai Sosial Demokratik Jerman yang terinspirasi oleh prinsip-prinsip Ferdinand Lassalle. Namun, tema yang secara konstan berulang adalah perjuangannya untuk meraih kemajuan dalam penulisan Kapital.
Selama periode ini, Marx meluncur pada area riset yang baru: Teori-Teori Nilai Surplus. Sepanjang sepuluh buku catatan, ia membedah pendekatan ekonom-ekonom besar sebelumnya, dengan pandangan dasar bahwa “semua ekonom sama-sama keliru dalam mengevaluasi nilai-lebih tidak pada bentuk murninya, melainkan dalam bentuk-bentuk khusus laba dan sewa”. Sementara itu, keadaan ekonomi Marx terus memburuk. Pada Juni 1862 ia menulis pada Engels: “Setiap hari istriku mengatakan ia berharap dirinya dan anak-anak kami aman di kuburan mereka, dan aku sungguh tidak dapat menyalahkannya, karena rasa malu, siksaan, dan peringatan yang seseorang harus lalui dalam keadaan demikian sungguh sulit dideskripsikan”. Situasinya begitu ekstrem sehingga Jenny memutuskan untuk menjual beberapa buku dari perpustakaan pribadi suaminya—meski ia tidak dapat menemukan orang yang mau membelinya. Di tengah keadaan demikian, Marx mampu ‘bekerja keras’ dan mengekspresikan kepuasan pada Engels: “aneh tapi nyata, otakku berfungsi lebih baik di tengah kemiskinan ini dibanding tahun-tahun sebelumnya”. Di bulan September, Marx menulis pada Engels bahwa ia mungkin akan mendapat pekerjaan “di kantor kereta api” pada tahun yang baru. Pada bulan Desember, ia mengulangi ucapannya pada temannya, Ludwig Kugelmann, bahwa keadaan telah menjadi sangat memprihatinkan sehingga ia “memutuskan untuk menjadi ‘orang praktis’; namun, ide ini tidak terwujud juga. Marx melaporkan dengan sarkasme khasnya: “Untungnya—atau mungkin aku harus bilang tidak beruntung?—aku tidak mendapatkan posisi tersebut karena tulisan tanganku jelek.”

III. Kritik yang Belum Tuntas dalam Kapital
Bersama dengan tekanan-tekanan finansial, Marx juga banyak menderita masalah kesehatan. Namun dari musim panas 1863 hingga Desember 1865 ia menyunting kembali bagian-bagian yang ia putuskan akan membentuk Kapital. Pada akhirnya, ia menyusun: naskah pertama Volume Satu; naskah satu-satunya dari Volume Tiga, di mana ia menunjukkan catatan satu-satunya yang ia buat tentang proses lengkap produksi kapitalis; dan versi awal Volume Dua, yang mencakup presentasi umum pertama tentang proses sirkulasi kapital.
Volume II/11 dari MEGA, “Karl Marx, Manuskripte zum zweiten Buch des ‘Kapitals’ 1868 bis 1881”, mengandung seluruh naskah untuk Volume Dua Kapital yang Marx susun antara 1868 hingga 1881. Sembilan dari sepuluh naskah ini belum diterbitkan sebelumnya. Pada bulan Oktober 1867, Marx kembali mengerjakan Kapital, Volume Kedua, namun beragam masalah kesehatan memaksa interupsi mendadak. Beberapa bulan kemudian, ketika ia mampu melanjutkan pengerjaan naskah, hampir tiga tahun telah berlalu sejak versi terakhir yang ia tulis. Marx menuntaskan dua bab pertama selama musim semi 1868, selain sekelompok naskah awal lainnya—mengenai hubungan antara nilai lebih dan tingkat laba, hukum tingkat laba, dan metamorfosis kapital—yang menyibukkannya hingga akhir tahun. Versi baru dari bab ketiga diselesaikannya dalam dua tahun berikutnya. Volume II/1 berakhir dengan sejumlah teks pendek yang Marx tulis antara Februari 1877 dan musim semi 1881.
Naskah-naskah awal Kapital, Volume Dua, yang tak pernah dituntaskannya, menampilkan sejumlah problem teoretis. Namun versi akhir dari Volume II diterbitkan oleh Engels pada tahun 1885 dan sekarang muncul dalam volume II/13 MEGA yang berjudul “Karl Marx, Das Kapital. Kritik der politischen Ökonomie. Zweiter Band. Herausgegeben von Friedrich Engels. Hamburg 1885”.
Yang terakhir, volume II/4.3, ‘Karl Marx, Ökonomische Manuskripte 1863-1868. Teil 3’, melengkapi bagian kedua dari MEGA. Volume ini, yang mengikuti seri II/4.1 dan II/4.2, mengandung 15 naskah yang tidak diterbitkan sejak musim gugur 1867 hingga akhir 1868. Tujuh darinya adalah potongan-potongan naskah awal Kapital, Volume III; mereka memiliki karakter yang amat fragmentaris dan Marx tidak pernah mampu memperbarui naskah tersebut dengan cara yang merefleksikan kemajuan penelitiannya. Tiga naskah lainnya terkait dengan Volume Dua, sementara lima sisanya berurusan dengan isu-isu mengenai kesalingbergantungan volume Dua dan Tiga dan mencakup komentar-komentar terhadap karya Adam Smith dan Thomas Malthus. Yang terakhir disebut ini menarik bagi ekonom-ekonom yang berminat pada teori Marx tentang tingkat laba dan ide-idenya tentang teori harga. Studi-studi filologis yang terkait dengan persiapan volume ini juga menunjukkan bahwa naskah asli Kapital, Volume Satu (di mana ‘Bab Enam. Hasil-Hasil Proses Produksi Langsung’ biasa dianggap sebagai satu-satunya bagian yang tertinggal) sebenarnya disusun pada periode 1863-1864, dan bahwa Marx menggunakannya untuk naskah yang diterbitkannya.
Dengan penerbitan MEGA volume II/4.3, seluruh teks pembantu yang terkait dengan Kapital telah tersedia: mulai dari ‘Pengantar’ yang terkenal itu, yang ditulis pada Juli 1857 selama krisis terbesar dalam sejarah kapitalisme, hingga fragmen-fragmen terakhir yang ditulis pada musim semi 1881. Kita berbicara tentang 15 volume plus banyak lagi catatan-catatan yang menyusun aparatus kritis bagi teks utama. Mereka mencakup seluruh naskah sejak akhir 1850-an dan awal 1860-an, versi pertama Kapital yang diterbitkan pada 1867 (yang bagian-bagiannya akan diubah dalam edisi-edisi berikutnya), terjemahan Prancis yang ditinjau kembali oleh Marx yang muncul antara 1872 dan 1875, dan seluruh perubahan yang dibuat Engels pada naskah-naskah Volume Dua dan Tiga. Dibanding ini semua, ketiga volume Kapital akan terlihat kecil. Tidak berlebihan jika kita mengatakan bahwa sekarang kita benar-benar bisa memahami keunggulan, keterbatasan, serta ketidaktuntasan magnum opus Marx.
Kerja editorial yang dilakukan Engels setelah kematian kawannya untuk mempersiapkan bagian-bagian yang belum tuntas dari Kapital untuk diterbitkan sesungguhnya amatlah kompleks. Aneka naskah dan fragmen dari volume II dan III, yang ditulis antara 1864 dan 1881, mencapai kira-kira 2350 halaman MEGA. Engels berhasil menerbitkan Volume II pada 1885 dan Volume III pada 1894. Namun, kita harus mengingat bahwa kedua volume ini muncul dari rekonstruksi teks yang tak tuntas dan seringkali mencakup materi yang beragam. Mereka semua ditulis selama lebih dari satu periode dan karena itu mencakup versi-versi yang berbeda dan bahkan berkontradiksi dari Marx.

 

Bagian III

Categories
Journalism

Wajah Baru Marx Setelah Marx-Engels Gesamtausgabe (MEGA) (Bagian I)

I. Kebangkitan Marx
SELAMA lebih dari satu dekade terakhir, jurnal-jurnal dan surat kabar bergengsi dengan pembaca luas telah mendeskripsikan Karl Marx sebagai teoretikus dengan pandangan jauh ke depan yang relevansinya terus memperoleh konfirmasi.
Banyak pengarang dengan pandangan progresif mempertahankan pendapat mereka bahwa ide-idenya tetap tak tergantikan bagi siapapun yang meyakini pentingnya membangun alternatif terhadap kapitalisme. Hampir di manapun juga, ia kini menjadi tema dalam mata kuliah di universitas dan konferensi-konferensi internasional. Tulisan-tulisannya yang dicetak kembali ataupun disusun dalam edisi-edisi baru telah muncul lagi di rak-rak toko buku, dan studi atas karyanya, setelah diabaikan selama dua puluh tahun lebih, telah mendapatkan momentum yang terus meningkat. Tahun 2017 dan 2018 menyaksikan intensitas yang lebih jauh lagi dari “kebangkitan Marx” ini, berkat banyak inisiatif dari berbagai penjuru dunia terkait dengan peringatan 150 tahun penerbitan Kapital dan dua abad kelahiran Marx.
Ide-ide Marx telah mengubah dunia. Namun meski teori-teorinya telah diafirmasi, bahkan menjadi ideologi dominan dan ajaran negara di banyak tempat pada abad ke-20, belum ada edisi lengkap dari seluruh karya dan manuskripnya. Alasannya terletak pada sifat karya-karya Marx yang tidak lengkap; tulisan-tulisan yang ia terbitkan terhitung jauh lebih sedikit daripada tulisan-tulisan yang tidak ia selesaikan, belum lagi catatan-catatan Nachlass yang menggunung terkait dengan penelitian-penelitiannya yang tidak ada habisnya. Marx meninggalkan lebih banyak naskah daripada yang ia kirim ke percetakan. Ketidaklengkapan adalah bagian tak terpisahkan dari hidup Marx: kemiskinan yang acapkali mewarnai hidupnya, kondisi tubuhnya yang sakit-sakitan, ditambah kecemasan-kecemasan harian; metodenya yang ketat dan otokritik tanpa ampun semakin menambah kesulitan hidupnya. Lebih-lebih, hasratnya akan pengetahuan tak pernah surut dan mengantarkannya pada studi-studi baru. Namun, kerja tanpa hentinya membawa konsekuensi-konsekuensi teoretis yang luar biasa bagi masa depan.
Materi yang sangat berharga untuk mengevaluasi kembali pencapaian Marx adalah lanjutan penerbitan Marx-Engels Gesamtausgabe (MEGA) pada tahun 1998, yaitu edisi historis-kritis karya lengkap Marx dan Friedrich Engels. Lebih dari dua puluh delapan volume telah muncul (empat puluh lainnya telah diterbitkan antara 1975 dan 1989), dan volume-volume lainnya sedang dipersiapkan (untuk lebih detilnya lihat artikel saya “Kembalinya Sang Raksasa”, IndoProgress, 3 September 2018). MEGA disusun dalam empat bagian: (1) seluruh karya, artikel, dan naskah awal yang ditulis oleh Marx dan Engels (dengan perkecualian Kapital); (2) Kapital dan seluruh materi persiapannya; (3) korespondensi—terdiri atas 4.000 surat dari Marx dan Engels dan 10.000 yang ditujukan pada mereka, yang banyak di antaranya baru diterbitkan untuk pertama kalinya dalam MEGA; dan (4) catatan-catatan kecil. Bagian keempat ini menjadi saksi atas kerja-kerja Marx yang sangat ensiklopedik: sejak berkuliah di universitas, ia telah mengembangkan kebiasaan mengkoleksi catatan dari buku-buku yang ia baca, dan seringkali membubuhinya dengan refleksi-refleksi atas bacaan tersebut. Koleksi Marx ini mencakup dua ratus buku catatan. Koleksi ini esensial perannya untuk memahami asal-mula teorinya dan elemen-elemen yang tidak mampu ia kembangkan seturut rencana awal. Catatan-catatan yang tertinggal, dari 1838 hingga 1882, ditulis dalam delapan bahasa (Jerman, Yunani kuno, Latin, Prancis, Inggris, Italia, Spanyol, dan Rusia), dan merujuk pada disiplin-disiplin yang sangat beragam, seperti filsafat, sejarah seni, agama, politik, hukum, sastra, sejarah, ekonomi-politik, hubungan internasional, teknologi, matematika, fisiologi, geologi, mineralogi, agronomi, antropologi, kimia, dan fisika—mencakup bukan hanya buku-buku, surat kabar, dan artikel-artikel jurnal, tetapi juga catatan sidang parlemen dan laporan-laporan statistik pemerintah. Simpanan pengetahuan yang luar biasa ini, banyak di antaranya terbit beberapa tahun terakhir atau masih menunggu penerbitan, adalah situs pembangunan teori kritis Marx, dan MEGA telah membuka akses padanya untuk pertama kali.

II. Penemuan-Penemuan Baru tentang Asal-Mula Konsepsi Materialis atas Sejarah
Pada Februari 1845, setelah 15 bulan yang intensif di Paris yang krusial bagi formasi politiknya, Marx terpaksa pindah ke Brussels. Di sana ia diizinkan tinggal dengan syarat “tidak menerbitkan tulisan apapun tentang politik kekinian”. Selama tiga tahun yang dihabiskan di ibukota Belgia, ia terus mengejar studinya tentang ekonomi-politik dan berpikir untuk menulis, bersama Engels, Joseph Weydemeyer dan Moses Hess, suatu “kritik atas filsafat Jerman modern sebagaimana digambarkan oleh Ludwig Feuerbach, Bruno Bauer, dan Max Stirner, dan atas sosialisme Jerman sebagaimana dinyatakan oleh nabi-nabinya”. Hasilnya, yang kemudian diterbitkan dengan judul Ideologi Jerman, memiliki tujuan ganda: memerangi bentuk-bentuk mutakhir neo-Hegelianisme di Jerman, dan kemudian, seperti yang dinyatakan dalam surat Marx kepada penerbit Carl Wilhelm Julius Leske, “menyiapkan publik untuk memahami perspektif dalam karya saya tentang ekonomi, yang sangat bertentangan dengan keilmuan Jerman pada masa lalu dan sekarang”. Naskah ini yang ia kerjakan hingga Juni 1846 ini tak pernah tuntas, namun mampu membantunya memperoleh kejelasan yang lebih lagi—meski belum mencapai bentuk definitifnya—tentang apa didefinisikan Engels di hadapan publik luas empat puluh tahun kelak sebagai “konsepsi materialis tentang sejarah”.
Edisi pertama Ideologi Jerman (terbit pada 1932) dan juga versi-versi mutakhirnya yang hanya menyertakan sedikit perubahan dikirimkan kepada percetakan seperti sebuah buku yang telah tuntas ditulis. Secara khusus, para editor naskah yang sebenarnya belum selesai pekerjaannya ini menciptakan kesan keliru bahwa Ideologi Jerman mencakup bab pembuka tentang Feuerbach yang esensial perannya, di mana Marx dan Engels secara lengkap meletakkan hukum-hukum “materialisme historis” (istilah yang tak pernah digunakan oleh Marx). Menurut Althusser, ini adalah momen di mana mereka mengkonseptualisasikan “patahan epistemologis yang signifikan” dari tulisan-tulisan mereka sebelumnya. Ideologi Jerman segera menjadi salah satu teks filosofis terpenting di abad keduapuluh. Menurut Henri Lefebvre, buku tersebut meletakkan “tesis-tesis fundamental materialisme historis”. Maximilien Rubel berpendapat bahwa “naskah ini mengandung pernyataan yang paling jelas tentang konsep sejarah yang kritis dan materialis”. David McLellan juga berujar bahwa naskah ini “mengandung penjelasan paling detil dari Marx tentang konsepsi sejarah materialisnya”.
Karena volume I/5 dari MEGA, “Karl Marx – Friedrich Engels, Deutsche Ideologie. Manuskripte und Drucke (1845-1847)”, klaim-klaim seperti di atas kini bisa diredam dan Ideologi Jerman kembali dilihat sebagai karya yang tidak lengkap. Edisi ini—yang mencakup 17 naskah dengan total 700 halaman plus 1.200 halaman catatan kritis yang menyediakan banyak ragam dan koreksi dari pengarang, serta menunjukkan kesalingtergantungan bagian-bagiannya—menegaskan secara utuh karakter fragmentatif dari Ideologi Jerman. Kesalahan “komunisme ilmiah” pada abad ke-20 dan seluruh instrumentalisasi Ideologi Jerman mendorong kita untuk mencari sebuah frasa dalam teks itu sendiri. Sebab, kritik tajam atas filsafat Jerman di zaman ketika Marx masih hidup juga memberikan peringatan serius terhadap tren-tren eksegetikal di masa depan: “Bukan hanya dalam jawaban-jawabannya, bahkan dalam pernyataan-pernyataannya pun terdapat suatu mistifikasi”.
Dalam periode yang sama, sang revolusioner muda asal Trier itu melanjutkan studi-studi yang telah ia mulai di Paris. Ia menghabiskan bulan Juli dan Agustus 1945 di Manchester, menenggelamkan diri dalam lautan bacaan ekonomi berbahasa Inggris dan mengumpulkan catatan sebanyak sembilan buku (yang kelak disebut sebagai “Catatan-Catatan Manchester”), kebanyakan buku panduan ekonomi-politik dan sejarah ekonomi. Volume IV/4 MEGA yang terbit pada 1988 mengandung lima buku pertama dari catatan-catatan ini, bersama dengan tiga buku dari catatan-catatan Engels pada saat yang sama di Manchester. Volume IV/5, “Karl Marx – Friedrich Engels, Exzerpte und Notizen Juli 1845 bis Dezember 1850”, melengkapi serial teks ini dan membuat bagian-bagian sebelumnya yang belum terbit tersedia pada para peneliti. Ini mencakup buku-buku catatan 6, 7, 8, dan 9, yang mengandung catatan-catatan Marx dari 16 karya ekonomi-politik. Catatan terbanyak dibuatnya dari buku John Francis Bray, Labour’s Wrongs and Labour’s Remedy (1839) dan empat teks Robert Owen, khususnya Book of the New Moral World (1840-1844), yang semuanya menunjukkan minat Marx yang besar pada saat itu terhadap sosialisme Inggris dan rasa hormatnya kepada Owen, penulis yang diabaikan dan terburu-buru dicap “utopis” oleh kaum Marxis. Volume tersebut diakhiri dengan dua puluh atau lebih halaman yang ditulis Marx antara 1846 dan 1850, plus beberapa catatan studi Engels dari periode yang sama.
Studi-studi teori sosialis dan ekonomi-politik ini tidak menghalangi keterlibatan politik Marx dan Engels. Sebanyak 800 halaman lebih volume I/7 yang baru saja terbit, “Karl Marx – Friedrich Engels, Werke, Artikel, Entwürfe. Februar bis Oktober 1848”, memungkinkan kita mengapresiasi besaran aspek ini pada 1848: salah satu tahun yang paling padat dengan aktivitas politik dan jurnalisme para penulis Manifesto Komunis. Setelah gerakan revolusioner yang cakupan dan intensitasnya hingga masa itu tak tertandingi sukses mendorong tatanan sosial dan politik Eropa kepada krisis, pemerintahan-pemerintahan yang ada mengupayakan segala langkah-langkah tandingan untuk mengakhiri pemberontakan. Marx sendiri menanggung konsekuensi-konsekuensinya dan diusir dari Belgia pada Maret. Namun, sebuah republik baru saja diproklamirkan di Prancis, dan Ferdinand Flocon, pejabat pemerintahan sementara, mengundang Marx untuk kembali ke Paris: “Marx yang pemberani dan terkasih, (…) tirani telah mengusirmu, tetapi Prancis yang merdeka akan membuka kembali pintunya untukmu”. Marx segera mengesampingkan studi-studi ekonomi-politiknya dan melakukan aktivitas jurnalistik guna mendukung revolusi tersebut, turut mengarahkan orientasi politik sesuai kemauannya. Setelah menjalani periode singkat di Paris, pada April ia pindah ke Rhineland dan dua bulan kemudian mulai menyunting Neue Rheinische Zeitung yang didirikan di Cologne. Kampanye yang intens dalam kolom-kolomnya memberi bobot dukungan yang kuat kepada para pemberontak dan mendorong kaum proletar untuk menyokong “revolusi sosial dan republikan”.
Hampir seluruh artikel dalam Neue Rheinische Zeitung diterbitkan secara anonim. Salah satu keunggulan volume ini adalah koreksinya atas kepengarangan 36 teks pada Marx atau Engels, sementara koleksi-koleksi sebelumnya membuat kita bingung mengenai siapa yang menulis teks yang mana. Dari total 275 teks, 125 secara lengkap dicetak di sini untuk pertama kalinya dalam edisi karya Marx dan Engels. Bagian Apendiks juga menampilkan 16 dokumen menarik yang mengandung catatan-catatan tentang intervensi-intervensi mereka dalam rapat-rapat Liga Komunis, agregat Masyarakat Demokratik Cologne, dan Serikat Vienna. Di sini, mereka yang tertarik pada aktivitas politik dan jurnalistik Marx selama ‘tahun revolusi’ 1848 akan menemukan banyaknya bahan tak ternilai untuk memperdalam pengetahuan.

 

Bagian II

Categories
Journalism

Konsepsi Marx tentang Komunisme (Bagian III)

I. Kepemilikan Bersama dan Waktu Luang
MODEL kepemilikan yang berbeda atas alat-alat produksi juga akan mengubah secara radikal penghayatan tentang waktu dalam masyarakat.

Dalam Kapital, Volume I, Marx mengungkapkan dengan begitu jelasnya alasan-alasan mengapa dalam kapitalisme ‘pemendekan hari kerja adalah […] sama sekali bukan tujuan yang hendak dicapai dalam produksi kapitalis, di mana kerja manusia dijadikan laba dengan meningkatkan produktivitasnya’. Waktu yang sebenarnya tersedia bagi para individu berkat kemajuan sains dan teknologi, pada kenyataannya langsung dikonversikan menjadi nilai-lebih. Sasaran kelas yang berkuasa hanyalah ‘pemendekan waktu kerja yang diperlukan untuk memproduksi sejumlah tertentu komoditas’. Tujuan satu-satunya dari pengembangan kekuatan produksi adalah ‘pemendekan bagian dari hari kerja di mana buruh harus bekerja untuk dirinya sendiri, dan penambahan […] bagian lainnya […] di mana ia dapat bekerja tanpa upah untuk si kapitalis’. Sistem ini berbeda dengan kerja paksa atau corvées pada tuan feodal, karena ‘kerja lebih dan kerja yang diperlukan bercampur aduk’ dan menjadikan kenyataan eksploitasi lebih sulit untuk ditangkap.

Dalam Grundrisse, Marx menunjukkan bahwa ‘waktu luang bagi sebagian orang’ hanyalah dimungkinkan karena adanya kerja lebih dari banyak orang. Kelas borjuis dapat mengamankan perkembangan kapabilitas material dan kulturalnya hanya karena adanya pembatasan dalam hal tersebut bagi kaum proletar. Hal yang sama terjadi di negara-negara kapitalis yang paling maju dengan mengorbankan mereka yang berada di pinggiran sistem. Dalam Manuskrip-Manuskrip 1861-1863, Marx menekankan bahwa ‘perkembangan bebas’ dari kelas yang berkuasa ‘didasarkan pada pembatasan perkembangan kelas pekerja’; ‘kerja lebih para buruh’ adalah ‘basis alami dari perkembangan sosial kelompok lainnya’. Waktu kerja lebih para pekerja bukan hanya merupakan pilar yang menyokong ‘kondisi-kondisi material bagi kehidupan’ bagi kaum borjuis; ia juga menciptakan kondisi-kondisi bagi ‘waktu luangnya, ruang bagi perkembangan[-nya]’. Marx mengekspresikan dengan sangat baik: ‘waktu luang suatu kelompok berkorespondensi dengan beban kerja bagi kelompok lain’.

Sebaliknya, masyarakat komunis akan dicirikan oleh pengurangan waktu kerja secara umum. Dalam ‘Instruksi-Instruksi bagi Delegasi Dewan Umum Sementara’, yang ditulisnya pada bulan Agustus 1866, Marx menulis dengan tepat: ‘Syarat awal, yang tanpanya seluruh upaya perbaikan dan emansipasi pasti terbukti gagal, adalah pembatasan hari kerja’. Ia dibutuhkan bukan hanya ‘untuk memulihkan kesehatan dan energi fisik kelas pekerja’, tetapi juga ‘memastikan bagi mereka kemungkinan perkembangan intelektual, interaksi sosial, tindakan sosial dan politik’. Mirip dengan itu, dalam Kapital, Volume I, sewaktu mencatat bahwa ‘waktu para pekerja untuk pendidikan, perkembangan intelektual, pemenuhan fungsi sosial, interaksi sosial, pendayagunaan kekuatan-kekuatan vital tubuh dan pikirannya’ terhitung sebagai ‘kebodohan’ di mata kelas kapitalis, Marx mengimplikasikan bahwa hal-hal ini akan menjadi elemen-elemen dasar dari masyarakat yang baru. Sebagaimana ia tuliskan dalam Grundrisse, pengurangan waktu yang diabdikan untuk bekerja – dan bukan hanya kerja untuk menciptakan nilai-lebih bagi kelas kapitalis – akan menolong ‘perkembangan artistik, saintifik, dll. orang per orang, yang dimungkinkan lewat waktu luang dan sarana-sarana yang diproduksi bagi mereka semua’.

Dengan dasar keyakinan-keyakinan ini Marx mengidentifikasi ‘ekonomi waktu [dan] distribusi waktu kerja yang terencana atas cabang-cabang produksi’ sebagai ‘hukum ekonomi produksi yang pertama’. Dalam Teori-Teori Nilai Lebih (1862-63) ia menjelaskan lebih jauh lagi bahwa ‘kekayaan sesungguhnya’ tidak lain adalah ‘waktu luang’. Dalam masyarakat komunis, pengelolaan mandiri para pekerja akan memastikan bahwa ‘jumlah waktu yang lebih banyak’ tidaklah ‘dihisap dalam kerja produktif langsung, melainkan […] tersedia untuk rekreasi, bersenang-senang, sehingga memungkinkan aktivitas dan perkembangan yang luas’. Dalam teks ini, dan juga dalam Grundrisse, Marx mengutip pamflet pendek anonim berjudul Sumber dan Solusi Kesulitan-Kesulitan Nasional, Dideduksikan dari Prinsip-Prinsip Ekonomi Politik, dalam Surat pada Tuan John Russell (1821). Pamflet itu memuat definisi tentang keadaan yang ia amini: yaitu bahwa, ‘Suatu bangsa adalah betul-betul kaya jika waktu kerjanya hanyalah enam jam, bukan dua belas. Kekayaan bukanlah penguasaan atas waktu kerja lebih’ (kekayaan sejati) ‘tetapi waktu luang, di luar waktu yang diabdikan untuk produksi, bagi setiap individu dan seluruh masyarakat’. Di bagian lain Grundrisse, ia melontarkan pertanyaan retoris: ‘Apakah kekayaan itu jika bukan universalitas kebutuhan, kapasitas, kesenangan, dan kekuatan produksi individu? […] Apakah ia jika bukan penyingkapan absolut kemampuan-kemampuan kreatif manusia?’ Dengan demikian terbukti bahwa model sosialis dalam pemikiran Marx bukanlah tentang keadaan miskin bersama, tetapi justru pencapaian kekayaan bersama.

II. Peran Negara, Hak Individu, dan Kebebasan
Dalam masyarakat komunis, bersamaan dengan perubahan-perubahan transformatif dalam ekonomi, peran negara dan fungsi politik juga akan didefinisikan kembali. Dalam Perang Saudara di Prancis, Marx berusaha untuk menjelaskan bahwa setelah perebutan kekuasaan, kelas pekerja harus berjuang untuk ‘membongkar landasan-landasan ekonomi yang di atasnya terbangun keberadaan kelas-kelas, dan karenanya dominasi kelas’. Ketika ‘buruh telah teremansipasi, setiap manusia akan menjadi pekerja, dan kerja produktif [akan] berhenti menjadi ciri suatu kelas’. Pernyataan terkenalnya bahwa ‘kelas pekerja tidak dapat begitu saja mengambil alih mesin-mesin negara dan menjalankannya untuk tujuan-tujuannya sendiri’ dimaksudkan untuk merujuk pada, sebagaimana diklarifikasi oleh Marx dan Engels dalam buklet Perpecahan Fiktif dalam Internasional, kenyataan bahwa ‘fungsi-fungsi pemerintahan beralih menjadi fungsi-fungsi administratif yang sederhana’. Dan dalam formulasi padat di Risalah tentang Statisme dan Anarki Bakunin, Marx menekankan bahwa ‘distribusi fungsi-fungsi umum [harus] menjadi urusan rutin yang tidak berdampak pada dominasi’. Proses ini akan menghindarkan bahaya bahwa pemberlakuan tugas-tugas politik akan menciptakan dinamika dominasi dan penundukan yang baru.

Marx percaya bahwa seiring perkembangan masyarakat modern, ‘kekuatan negara [telah] berangsur-angsur mengembangkan karakter kekuatan nasional kapital atas buruh, kekuatan publik yang terorganisir bagi perbudakan sosial, dan mesin penindasan kelas’. Sebaliknya, dalam komunisme, para pekerja akan harus mencegah negara menjadi penghalang bagi emansipasi seutuhnya. Akan menjadi penting untuk ‘mengamputasi’ organ-organ represif dari kekuatan pemerintahan lama, [bertarung melawan] fungsi-fungsi legalnya sebagai otoritas yang utama atas masyarakat dan mengembalikannya sebagai agen-agen masyarakat yang bertanggung jawab’. Dalam Kritik Program Gotha, Marx mengamati bahwa ‘kemerdekaan bergantung pada perubahan negara dari organ yang dipaksakan pada masyarakat menjadi sesuatu yang sepenuhnya tunduk padanya’, dan secara tajam menambahkan bahwa ‘bentuk-bentuk negara adalah lebih merdeka atau kurang merdeka dilihat dari sejauh mana mereka membatasi ‘kemerdekaan negara tersebut’”.

Dalam teks yang sama, Marx menggarisbawahi tuntutan bahwa dalam masyarakat komunis, kebijakan-kebijakan publik harus memprioritaskan ‘kepuasan kolektif atas kebutuhan-kebutuhan’. Pengeluaran anggaran untuk sekolah-sekolah, layanan kesehatan, dan barang-barang kebutuhan bersama akan ‘bertambah jika dibandingkan dengan masyarakat yang ada sekarang ketika masyarakat yang baru berkembang’. Pendidikan akan menempati posisi penting, dan — sebagaimana ia sebutkan dalam Perang Saudara di Prancis, merujuk pada model yang diadopsi oleh para pejuang Komune pada 1871 — ‘seluruh institusi pendidikan akan dibuka secara gratis dan […] dilepaskan dari campur tangan Gereja dan Negara’. Hanya dengan jalan inilah kebudayaan akan ‘dapat diakses semua orang’ dan ‘ilmu pengetahuan akan dibebaskan dari belenggu yang dipaksakan oleh prasangka kelas dan kuasa pemerintah’.

Tidak seperti masyarakat liberal, di mana ‘kesetaraan hak’ membiarkan ketimpangan sosial tetap terjaga, dalam masyarakat komunis ‘hak akan lebih menjadi tidak setara daripada setara’. Perubahan dalam arahan ini akan mengakui, dan melindungi, individu-individu berdasarkan kebutuhan-kebutuhan spesifik mereka dan kesulitan-kesulitan keadaan mereka, karena ‘mereka tidak akan menjadi individu yang berbeda jika mereka setara’. Lebih jauh lagi, akan menjadi mungkin untuk menetapkan bagian tugas dan kekayaan tiap individu secara adil. Masyarakat yang bertujuan untuk mengikuti prinsip ‘Dari setiap anggota menurut kemampuannya, bagi semua menurut kebutuhan mereka’ akan menghadapi jalan yang penuh kesulitan. Namun, hasil akhirnya tidak dijamin oleh ‘takdir progresif yang luar biasa’ (dalam ucapan Leopardi), dan bukan berarti kemajuannya tidak bisa dibalik.

Marx menempelkan nilai mendasar pada kebebasan individu, dan komunismenya secara radikal berbeda dengan penghapusan kelas-kelas yang dibayangkan oleh para pendahulu atau sebagian pengikutnya. Namun dalam Urtext, ia merujuk pada ‘kebodohan kaum sosialis (khususnya sosialis Prancis)’ yang menganggap ‘sosialisme sebagai realisasi ideal-ideal [borjuis], […] secara keliru menunjukkan bahwa pertukaran dan nilai tukar, dll., mulanya adalah […] sistem yang bebas dan setara bagi semua, tetapi [kemudian] dibelokkan oleh uang [dan] kapital’. Dalam Grundrisse, ia menyebut sebagai ‘absurditas’ anggapan bahwa ‘persaingan bebas adalah perkembangan puncak dari kebebasan manusia’; seperti juga kepercayaan bahwa ‘pemerintahan borjuis adalah titik akhir sejarah dunia’, yang ia olok-olok sebagai ‘pemikiran yang sesuai bagi pemegang kuasa baru dari masa lalu’.

Dengan cara yang sama, Marx menantang ideologi liberal yang memandang bahwa ‘negasi atas persaingan bebas [adalah] sama dengan negasi kebebasan individu dan produksi sosial yang didasarkan atas kebebasan individu’. Dalam masyarakat borjuis, ‘perkembangan bebas’ yang dimungkinkan hanya ‘ada dalam batasan dominasi kapital’. Namun ‘tipe kebebasan individu’ tersebut pada saat yang sama adalah ‘penghapusan seluruh kebebasan individu dan penundukan total individualitas pada kondisi-kondisi sosial yang mengambil bentuk kekuatan-kekuatan objektif, yaitu objek-objek berkuasa […] yang independen dari relasi individu satu dengan yang lain’.

III. Emansipasi Diri: Peran Kepemimpinan Pekerja
Alternatif dari keterasingan karena kapitalisme dapat dicapai hanya jika kelas tertindas menjadi sadar akan kondisi mereka sebagai budak-budak baru dan merintis perjuangan yang secara radikal mentransformasi dunia di mana mereka dieksploitasi. Namun mobilisasi dan partisipasi aktif mereka dalam proses ini tidak dapat berhenti pada hari setelah perebutan kekuasaan. Ia harus terus berlanjut, demi mencegah belokan pada sosialisme negara yang Marx selalu tentang dengan gigih dan penuh keyakinan.

Pada 1868, dalam surat pentingnya pada presiden Asosiasi Umum Pekerja Jerman, Marx menjelaskan bahwa di Jerman, ‘di mana pekerja diregulasi secara birokratis sejak kecil, di mana ia percaya pada otoritas, pada mereka yang posisinya di atas, hal yang penting adalah mengajarkannya untuk berjalan mandiri’. Ia tidak mengubah keyakinan ini selama hidupnya dan bukanlah suatu kebetulan jika poin pertama dari naskah aturan Asosiasi Pekerja Internasional berbunyi: ‘Emansipasi kelas pekerja harus dikuasai oleh kelas pekerja sendiri’. Ia lalu segera menambahkan bahwa perjuangan emansipasi kelas pekerja ‘tidak berarti perjuangan bagi privilese dan monopoli kelas, tetapi untuk hak dan tanggung jawab yang setara’.

Banyak partai politik dan rezim yang berdiri mengatasnamakan Marx menggunakan konsep ‘kediktatoran proletariat’ secara instrumental, menyelewengkan pemikiran Marx dan menyimpang dari arahan yang ia berikan. Bukan berarti kita ditakdirkan untuk mengulangi kesalahan tersebut.

Categories
Journalism

Konsepsi Marx tentang Komunisme (Bagian II)

I. Komunisme sebagai Perserikatan Merdeka
DALAM Kapital, Volume I, Marx berargumen bahwa kapitalisme adalah suatu moda produksi sosial yang ‘terdeterminasi secara historis’, di mana produk kerja ditransformasikan menjadi komoditas, dengan akibat bahwa individu-individu hanya dinilai sebagai produsen, dan keberadaan manusia ditundukkan pada kegiatan ‘produksi komoditas’.

Karenanya, ‘proses produksi’ telah ‘menguasai manusia, bukannya dikontrol olehnya’. Kapital ‘tidak peduli sama sekali pada panjangnya kehidupan buruh’ dan tidak menganggap penting peningkatan kondisi kehidupan kaum proletar. Kapital ‘mencapai tujuan ini dengan memperpendek usia buruh, seperti halnya petani yang serakah mengambil lebih banyak hasil panen dari tanah dengan mencuri kesuburannya’.

Dalam Grundrisse, Marx menyebut bahwa dalam kapitalisme, ‘karena tujuan kerja bukanlah untuk menghasilkan produk tertentu [dalam hubungan dengan] kebutuhan-kebutuhan spesifik individu, melainkan untuk mendapatkan uang […], kerja keras individu tidak ada batasannya’. Dalam masyarakat yang demikian, ‘seluruh waktu seseorang menjadi waktu kerja, dan konsekuensinya ia dijadikan sebagai buruh, ditundukkan untuk bekerja’. Namun ideologi borjuis mempresentasikan kenyataan ini seolah-olah individu-individu yang ada menikmati kebebasan lebih dan dilindungi oleh norma-norma legal yang bersifat adil dan sanggup untuk menjamin keadilan dan kesetaraan. Secara paradoks, meski faktanya perekonomian telah berkembang hingga level tertentu dan memampukan masyarakat untuk hidup dalam kondisi yang lebih baik dibanding sebelumnya, ‘mesin paling canggih ini sekarang memaksa buruh untuk bekerja lebih lama, dibanding ketika ia masih menggunakan peralatan-peralatan sederhana’.

Sebagai kontras, visi Marx tentang komunisme adalah ‘perserikatan individu-individu merdeka, yang bekerja dengan menggunakan alat-alat produksi yang dimiliki bersama, dan mengerahkan tenaga kerjanya dengan kesadaran penuh sebagai satu kekuatan kerja sosial’. Definisi-definisi serupa juga muncul dalam banyak tulisan Marx. Dalam Grundrisse, ia menulis bahwa masyarakat pasca-kapitalis akan dibangun atas ‘produksi kolektif’.

Dalam Manuskrip-Manuskrip Ekonomi tahun 1863-1867, ia berbicara tentang ‘transisi dari moda produksi kapitalis menuju moda produksi perserikatan buruh’. Dan dalam Kritik Program Gotha, ia mendefinisikan organisasi sosial yang ‘berdasarkan pada kepemilikan bersama alat-alat produksi’ sebagai ‘masyarakat kooperatif’.

Dalam Kapital, Volume I, Marx menjelaskan bahwa ‘prinsip utama’ dari ‘bentuk masyarakat yang lebih tinggi’ ini adalah ‘perkembangan penuh dan merdeka dari setiap individu’. Dalam Perang Saudara di Perancis, ia mengekspresikan persetujuannya atas langkah-langkah yang diambil oleh pada anggota komune, yang ‘menunjukkan tendensi pemerintahan dari rakyat dan oleh rakyat’. Lebih tepatnya, dalam evaluasi Marx tentang reformasi politiknya Komune Paris, ia menegaskan bahwa ‘pemerintahan terpusatnya tatanan lama pun juga harus membuka jalan bagi pemerintahan mandiri para produsen di provinsi-provinsi’. Ekspresi ini terulang dalam ‘Diskusi tentang Statism and Anarchy karya Bakunin’, di mana ia mengatakan bahwa perubahan sosial yang radikal akan ‘dimulai dengan pemerintahan mandiri komunitas-komunitas’. Ide Marx tentang masyarakat, karenanya, adalah antitesis dari sistem-sistem totaliter yang lahir atas namanya pada abad keduapuluh. Tulisan-tulisannya bermanfaat untuk memahami bukan hanya bagaimana kapitalisme bekerja, tetapi juga kegagalan eksperimen-eksperimen sosialis hingga hari ini.

II. Kebohongan-Kebohongan Pasar
Dengan mengacu pada apa yang disebut persaingan bebas, atau posisi pekerja dengan kapitalis yang kelihatannya setara dalam pasar masyarakat borjuis, Marx menyebut bahwa kenyataan yang ada sangatlah berkebalikan dengan apa yang digambarkan oleh para pembela kapitalisme sebagai kebebasan manusia. Sistem ini menjadi penghalang besar bagi demokrasi, dan ia menunjukkan dengan lebih baik daripada siapapun juga bahwa para pekerja tidak menerima upah setara dengan apa yang mereka hasilkan. Dalam Grundrisse, ia menjelaskan bahwa apa yang dipresentasikan sebagai ‘pertukaran setara’ sesungguhnya adalah apropriasi ‘waktu kerja tanpa pertukaran’; hubungan pertukaran ‘sepenuhnya lenyap’, atau menjadi ‘penampakan semata’. Hubungan antara orang per orang ‘hanyalah dimotivasikan oleh kepentingan diri’. ‘Konflik antar individu’ ini telah diabaikan dan dianggap sebagai ‘bentuk absolut kebebasan individu dalam ranah produksi dan pertukaran’. Tetapi bagi Marx, ‘tidak ada yang lebih jauh dari kebenaran’, karena ‘dalam kompetisi bebas, kapital-lah yang dibebaskan, bukan individu-individu’. Dalam Manuskrip-Manuskrip Ekonomi tahun 1863-1867, ia mengutuk fakta bahwa ‘kerja lebih itu dikantongi, atas nama masyarakat, oleh kapitalis’ – kerja lebih yang adalah ‘basis dari waktu bebas masyarakat’, dan karenanya, ‘basis material dari seluruh perkembangan dan peradabannya secara umum’. Dan dalam Kapital, Volume I, ia menunjukkan bahwa kekayaan kaum borjuis hanyalah dimungkinkan ‘dengan mengkonversikan seluruh waktu hidup massa rakyat menjadi waktu kerja’.

Dalam Grundrisse, Marx mengamati bahwa dalam kapitalisme, ‘individu-individu ditundukkan pada produksi sosial’, yang ‘hadir di luar diri mereka dan menjadi nasib bagi mereka’. Ini terjadi hanya melalui penyematan nilai-tukar pada hasil produksi, yang pembelian dan penjualannya terjadi setelah proses tersebut (post festum). Lebih jauh lagi, ‘seluruh kekuatan sosial produksi’ – termasuk penemuan-penemuan saintifik, yang nampak ‘asing dan eksternal’ bagi pekerja – diposisikan oleh kapital. Perserikatan para pekerja, dalam tempat-tempat dan kegiatan produksi, ‘dioperasikan oleh kapital’ dan karenanya ‘hanya bersifat formal’. Penggunaan barang-barang yang diciptakan oleh para pekerja ‘tidak dimediasi oleh pertukaran antara pekerja-pekerja independen atau produk-produk buruh’, melainkan ‘oleh keadaan-keadaan produksi sosial di mana individu menjalankan aktivitasnya’. Marx menjelaskan bagaimana aktivitas produksi di pabrik ‘berurusan dengan produk buruh semata, bukan para buruh sendiri’, karena ia ‘dibatasi pada tempat kerja umum di bawah pengarahan pengawas, kontrol ketat, disiplin, konsistensi, dan kebergantungan pada kapital dalam produksi itu sendiri’.

Dalam masyarakat komunis, secara kontras, produksi akan ‘langsung menjadi sosial’, ‘buah dari perserikatan yang mendistribusikan kerjanya secara internal’. Ia akan dikelola oleh individu-individu sebagai ‘kekayaan bersama’. ‘Karakter sosial produksi’ akan ‘sedari awal menjadikan produknya komunal dan umum’; karakter perserikatannya akan ‘menjadi dasar’ dan ‘kerja individu […] akan menjadi kerja sosial’. Sebagaimana ditekankan oleh Marx dalam Kritik Program Gotha, dalam masyarakat pasca-kapitalis, ‘kerja individu bukan lagi secara tidak langsung menjadi komponen dari kerja secara keseluruhan, melainkan secara langsung’. Sebagai tambahan, para pekerja akan mampu menciptakan kondisi-kondisi yang pada akhirnya akan melenyapkan ‘penundukan yang memperbudak atas individu pada pembagian kerja’.

III. Produksi Sosialis dan Pertanyaan Ekologis
Dalam Kapital, Volume I, Marx menekankan bahwa dalam masyarakat borjuis ‘buruh ada untuk proses produksi, bukan proses produksi untuk buruh’. Lebih-lebih, paralel dengan eksploitasi buruh, berkembang pula eksploitasi lingkungan. Kontras dengan penafsiran-penafsiran yang mereduksi konsepsi Marx tentang masyarakat komunis pada perkembangan kekuatan produksi belaka, ia menunjukkan minat besar pada apa yang kita kini sebut sebagai pertanyaan ekologis. Ia secara berulang kali mengutuk fakta bahwa ‘semua kemajuan dalam pertanian kapitalis adalah kemajuan dalam seni untuk bukan hanya merampok pekerja, tetapi juga merampok tanah’.

Dalam komunisme, kondisi-kondisi akan tercipta untuk pembentukan ‘kooperasi terencana’, yang melaluinya pekerja ‘melucuti belenggu individualitasnya dan mengembangkan kapabilitas spesiesnya’. Dalam Kapital, Volume II, Marx menunjukkan bahwa masyarakat kemudian akan berada dalam posisi untuk ‘mengenali di muka berapa banyak kerja, alat produksi, dan sarana mencukupi kebutuhan hidup yang dapat dikeluarkan, tanpa berdampak pada dislokasi’, tidak seperti dalam kapitalisme ‘di mana rasionalitas sosial hanya menegaskan diri belakangan (post festum)’ dan ‘gangguan-gangguan besar dapat dan harus terjadi secara konstan’. Dalam beberapa bagian Kapital, Volume III, Marx juga mengklarifikasi perbedaan-perbedaan antara moda produksi sosialis dengan moda produksi berbasis pasar, mengantisipasi kelahiran masyarakat ‘yang diorganisir sebagai perserikatan yang sadar’. Ia juga menambahkan: ‘hanya di mana produksi berlangsung di bawah kontrol dan penentuan masyarakatlah, masyarakat itu sendiri menetapkan hubungan antara jumlah waktu kerja sosial yang diaplikasikan untuk menghasilkan produksi dalam jumlah tertentu, dengan jumlah kebutuhan sosial yang hendak dipuaskan’.

Akhirnya, dalam catatan kecilnya tentang Traktat tentang Ekonomi Politik dari Adolf Wagner, Marx menjelaskan bahwa dalam masyarakat komunis ‘volume produksi’ akan ‘diregulasi secara rasional’. Ini memungkinkan dihapuskannya pemborosan karena ‘sistem kompetisi yang anarkis’, yang lewat krisis-krisis strukturalnya yang berulang, bukan hanya melibatkan ‘pemborosan luar biasa tenaga kerja dan sarana produksi sosial’, tetapi juga tak mampu menyelesaikan kontradiksi-kontradiksi yang pada dasarnya berakar dari ‘penggunaan mesin ala kapitalis’.

Berlawanan dengan pandangan banyak pemikir sosialis di masa Marx, redistribusi barang konsumsi tidaklah cukup untuk membalikkan keadaan ini. Perubahan pada akar dan batang dari aset-aset produktif masyarakat haruslah dilakukan. Maka dalam Grundrisse, Marx mencatat bahwa ‘membiarkan sistem upah dan pada saat yang sama menghapuskan kapital [adalah] tuntutan yang kontradiktif dan menegasikan dirinya sendiri’. Apa yang diperlukan adalah ‘penghapusan moda produksi ini dan bentuk masyarakat yang didasarkan pada nilai tukar’. Dalam pesannya yang diterbitkan dalam Nilai, Harga dan Profit, ia memanggil para pekerja untuk tidak ‘menuliskan pada bendera’ mereka ‘motto konservatif: ‘Upah harian yang layak untuk kerja harian yang layak!’ [tetapi] slogan revolusioner: ‘Penghapusan sistem perupahan!’

Lebih jauh lagi, Kritik Program Gotha dengan tepat menunjukkan bahwa dalam moda produksi kapitalis, ‘kondisi-kondisi material produksi ada di tangan non-pekerja dalam bentuk kapital dan kepemilikan tanah, sementara massa rakyat hanyalah pemilik syarat produksi yang personal, yakni tenaga kerja’. Karenanya, adalah esensial untuk menjungkirbalikkan relasi kepemilikan yang mendasari moda produksi borjuis. Dalam Grundrisse, Marx menyebut bahwa ‘hukum-hukum kepemilikan pribadi – kemerdekaan, kesetaraan, kepemilikan – kepemilikan atas kerja sendiri dan kemampuan untuk menyerahkannya secara bebas – dibalik menjadi ketakbermilikan pekerja dan alienasi kerjanya, relasi dengan hasil kerjanya sebagai properti asing dan sebaliknya’. Dan pada tahun 1989, dalam laporan pada Dewan Umum Perserikatan Pekerja Internasional, ia menegaskan bahwa ‘kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi’ memberikan pada kelas borjuis ‘kekuatan untuk hidup tanpa bekerja, dari kerja orang lain’. Ia mengulangi poin ini dalam tulisan politik pendek lainnya, ‘Pendahuluan untuk Program Partai Pekerja Perancis’, dengan menambahkan bahwa ‘para produsen tidak mungkin merdeka kecuali mereka memiliki alat-alat produksi’ dan bahwa tujuan perjuangan proletar haruslah ‘mengembalikan seluruh alat produksi ke dalam kepemilikan kolektif’.

Dalam Kapital, Volume III, Marx mengamati bahwa ketika para pekerja telah menegakkan moda produksi komunis ‘kepemilikan pribadi atas bumi oleh individu-individu tunggal [akan] tampak sama absurdnya seperti halnya kepemilikan pribadi satu orang oleh orang lain’. Ia mengarahkan kritiknya yang paling radikal terhadap kepemilikan paling destruktif yang inheren dalam kapitalisme, dengan menekankan bahwa ‘bahkan seluruh masyarakat, bangsa, atau bahkan seluruh masyarakat yang ada yang digabungkan secara simultan, bukanlah pemilik bumi’. Bagi Marx, manusia ‘hanyalah penghuninya, penggunanya, dan mereka harus meninggalkannya [planet bumi] dalam keadaan yang lebih baik untuk generasi-generasi selanjutnya, seperti kepala keluarga yang baik’.

Categories
Journalism

Konsepsi Marx tentang Komunisme (Bagian I)

I. Di mana dan Mengapa Marx Menulis tentang Komunisme
Marx menetapkan bagi dirinya sendiri tugas yang sepenuhnya berbeda dengan kaum sosialis sebelumnya; prioritas mutlaknya adalah ‘menyingkapkan hukum gerak ekonomi masyarakat modern’.

Tujuannya ialah mengembangkan kritik menyeluruh atas moda produksi kapitalis, yang akan mendukung kaum proletar, subjek revolusioner yang utama, dalam menggulingkan sistem sosial-ekonomi yang ada sekarang.

Selain itu, karena ia sama sekali tak berharap untuk menciptakan agama baru, Marx menahan diri untuk tidak mempromosikan gagasan yang menurutnya secara teoretis tidak berfaedah dan secara politis kontra-produktif: model universal masyarakat komunis. Karena alasan inilah, dalam ‘Penutup Edisi Kedua’ (1873) dari Kapital, Volume I (1867), ia menjelaskan bahwa dirinya tidak punya minat untuk ‘menulis resep-resep bagi toko-toko masakan di masa depan’. Ia juga menerangkan maksud pernyataan terkenal ini dalam ‘Catatan-Catatan Kecil untuk Wagner’ (1879-80), di mana sebagai respon atas kritik dari ekonom Jerman Adolph Wagner (1835-1917), ia menegaskan bahwa dirinya tak pernah ‘menegakkan suatu ‘sistem sosialis’.

Marx melontarkan deklarasi serupa dalam tulisan-tulisan politiknya. Dalam Perang Saudara di Prancis (1871), ia menulis tentang Komune Paris, perebutan kekuasaan pertama oleh kelas bawah: ‘Kelas pekerja tidak mengharapkan mujizat dari Komune. Mereka tidak memiliki bekal utopia siap-saji yang tinggal diperkenalkan lewat dekrit rakyat’. Sebaliknya, emansipasi kaum proletar harus ‘melalui perjuangan panjang, rangkaian proses sejarah, yang mengubah keadaan dan manusia’. Poinnya bukanlah ‘merealisasikan hal-hal ideal’, melainkan ‘membebaskan elemen-elemen baru dari masyarakat baru yang tengah dikandung oleh masyarakat borjuis yang telah menua dan mendekati keruntuhannya’.

Akhirnya, Marx mengatakan banyak hal serupa dalam korespondensinya dengan pemimpin-pemimpin gerakan buruh Eropa. Pada tahun 1881, misalnya, ketika Ferdinand Nieuwenhuis (1846-1919), perwakilan utama Liga Sosial-Demokrat di Belanda, menanyakan kepadanya tentang hal-hal apa yang pemerintahan revolusioner harus lakukan untuk menegakkan masyarakat sosialis setelah merebut kekuasaan, Marx menjawab bahwa ia selalu menganggap pertanyaan-pertanyaan semacam itu ‘keliru’, dan berargumen bahwa ‘apa yang harus dilakukan … pada suatu momen tertentu tentu bergantung sepenuhnya pada situasi-situasi aktual sejarah di mana tindakan tersebut hendak diterapkan’. Ia meyakini bahwa adalah mustahil untuk ‘menyelesaikan suatu persamaan matematika yang tidak mengandung elemen-elemen solusinya’; ‘antisipasi doktriner dan fantastis tentang program aksi revolusi di masa depan hanya akan mengalihkan perhatian dari perjuangan di masa kini’.

Namun demikian, tak seperti klaim para komentator yang keliru memahami, Marx telah mengembangkan, baik dalam terbitan maupun bukan, sejumlah diskusi tentang masyarakat komunis yang muncul di tiga jenis teks. Pertama, teks-teks di mana Marx mengkritik ide-ide yang ia anggap salah secara teoritis dan beresiko untuk menyesatkan kaum sosialis di masanya. Beberapa bagian dari Manuskrip-Manuskrip Ekonomi dan Filsafat tahun 1844 dan Ideologi Jerman; bab tentang ‘Literatur Sosialis dan Komunis’ dalam Manifesto Komunis, kritik atas Pierre-Joseph Proudhon dalam Grundrisse, Urtext, dan Kontribusi pada Kritik Ekonomi-Politik; teks-teks dari awal tahun 1870-an yang diarahkan pada anarkisme; dan tesis-tesis yang mengkritik Ferdinand Lassalle (1825-1864) dalam Kritik Program Gotha (1875) tergolong dalam kategori ini. Sebagai tambahan, catatan-catatan kritis Marx atas Proudhon, Lassalle, dan komponen anarkis dari Asosiasi Pekerja Internasional yang tersebar dalam surat-suratnya juga dapat digolongkan dalam bagian ini.

Golongan kedua ialah tulisan-tulisan militan dan propaganda politik yang ditulis untuk organisasi-organisasi kelas pekerja. Di dalamnya, Marx mencoba untuk menyuguhkan indikasi-indikasi yang lebih konkret tentang masyarakat yang mereka perjuangkan dan instrumen-instrumen yang diperlukan untuk membangunnya. Yang termasuk dalam grup ini adalah Manifesto Komunis, resolusi, laporan, dan pesan untuk Asosiasi Pekerja Internasional—termasuk Nilai, Harga, dan Profit dan Perang Saudara di Prancis—serta beragam artikel-artikel jurnalistik, ceramah publik, pidato, surat untuk kelompok militan, dan dokumen-dokumen pendek seperti Program Minimum Partai Pekerja Prancis.

Golongan ketiga dan terakhir adalah teks-teks tentang kapitalisme, yang mengandung diskusi-diskusi terpanjang dan paling mendetil dari Marx tentang karakteristik masyarakat komunis. Bab-bab penting Kapital dan manuskrip-manuskrip persiapan, khususnya teks penting seperti Grundrisse, mengandung beberapa gagasan utamanya tentang sosialisme. Pengamatan-pengamatan kritisnya mengenai aspek-aspek moda produksi yang dominanlah, persisnya, yang merangsang refleksi-refleksi tentang masyarakat komunis, dan bukanlah suatu kebetulan bahwa dalam beberapa kasus, halaman-halaman karyanya secara berurutan dan bergantian membahas dua tema ini.

Pembelajaran yang teliti atas diskusi-diskusi Marx tentang komunisme akan menolong kita untuk membedakan konsepsi Marx sendiri dengan konsepsi rezim-rezim abad keduapuluh, yang meski mengklaim diri bertindak atas namanya, melakukan rangkaian kejahatan dan kekejaman. Lewat pembedaan ini, menjadi mungkin bagi kita untuk menempatkan kembali proyek politik Marxian dalam horison yang sesuai: perjuangan untuk emansipasi mereka yang disebut Saint-Simon ‘kelas termiskin dan terbanyak’.

Catatan-catatan Marx tentang komunisme tidak boleh dianggap sebagai model yang harus diikuti secara dogmatis, tidak juga sebagai solusi yang secara pukul rata bisa diterapkan di segala tempat dan kesempatan. Namun sketsa-sketsa ini tetap merupakan harta karun teoritis yang tak ternilai, yang masih bermanfaat pada hari ini untuk mengkritik kapitalisme.

II. Keterbatasan-keterbatasan Formulasi-formulasi Awal
Tidak seperti klaim-klaim yang disusun oleh propaganda Marxis-Leninis tertentu, teori-teori Marx bukanlah hasil dari kebijaksanaan yang sifatnya bawaan lahir, melainkan hasil dari proses penyempurnaan konseptual dan politik yang panjang. Studi intensif atas ilmu ekonomi dan disiplin-disiplin ilmu lainnya, bersama dengan observasi tentang peristiwa-peristiwa sejarah yang aktual, khususnya Komune Paris, sangatlah penting bagi perkembangan pemikirannya tentang masyarakat komunis.

Beberapa tulisan awal Marx—banyak di antaranya tidak ia selesaikan atau terbitkan—secara mengejutkan sering dianggap sebagai sintesis dari ide-idenya yang paling signifikan. Tetapi faktanya, mereka semua menunjukkan keterbatasan-keterbatasan dari konsepsi-konsepsi awalnya tentang masyarakat pasca-kapitalis.

Dalam Manuskrip-Manuskrip Ekonomi dan Filsafat tahun 1844, Marx menulis tentang persoalan-persoalan ini dengan sangat abstrak, karena ia belum sanggup memperluas studi-studi ekonominya dan baru memperoleh pengalaman politik yang minim pada saat itu. Pada kesempatan tertentu, ia mendeskripsikan ‘komunisme’ sebagai ‘negasi atas negasi’, sebagai ‘momen dialektika Hegelian’: ‘ekspresi positif dari penghapusan kepemilikan pribadi’. Namun pada kesempatan lain, terinspirasi dari Ludwig Feuerbach (1804-1872), ia menulis bahwa:

komunisme, sebagai perkembangan penuh dari naturalisme, sama dengan humanisme, dan sebagai perkembangan penuh dari humanisme sama dengan naturalisme; ia merupakan resolusi sejati atas konflik manusia dengan alam dan antara manusia dengan manusia—resolusi tulen atas ketegangan eksistensi dengan esensi, antara objektivikasi dan konfirmasi diri, antara kebebasan dan keniscayaan, antara individu dan spesiesnya.

Beberapa bagian dari Manuskrip-Manuskrip Ekonomi dan Filsafat tahun 1844 dipengaruhi oleh matriks teologis filsafat sejarah Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831): misalnya, argumen bahwa ‘seluruh pergerakan sejarah [telah] membidani kelahiran komunisme’; atau bahwa komunisme adalah ‘teka-teki sejarah yang terpecahkan’, yang ‘sadar bahwa dirinya adalah solusi’.

Ideologi Jerman,yang ditulis oleh Marx bersama dengan Engels dan tadinya dimaksudkan untuk menyertakan teks dari pengarang lain, juga mengandung kutipan terkenal yang telah menimbulkan kebingungan di antara para penafsir karya Marx. Dalam sebuah halaman yang tak dituntaskan, kita membaca bahwa sementara dalam masyarakat kapitalis, dengan pembagian kerjanya, setiap manusia ‘memiliki area beraktivitas yang partikular dan eksklusif’, dalam masyarakat komunis:

masyarakat mengatur produksi umum dan karenanya memungkinkan saya untuk mengerjakan satu hal hari ini dan hal lain keesokannya, berburu di pagi hari, memancing di siang hari, menggiring ternak di sore hari, melakukan kritik setelah makan malam, karena saya mampu berpikir, tanpa secara khusus menjadi pemburu, pemancing, gembala, ataupun kritikus.

Banyak pengarang, baik Marxis maupun anti-Marxis, percaya bahwa ini merupakan karakteristik utama masyarakat komunis bagi Marx—pandangan yang dapat mereka pegang karena kurang akrab dengan Kapital dan teks-teks politik penting lainnya. Meski ada banyak analisis dan diskusi tentang manuskrip 1845-46, mereka tidak sadar bahwa kutipan ini merupakan formulasi kembali ide tua—dan terkenal—dari Charles Fourier, yang diadopsi oleh Engels namun ditolak oleh Marx.

Di tengah keterbatasan-keterbatasan ini, Ideologi Jerman merepresentasikan kemajuan yang nyata dibanding dengan Manuskrip-Manuskrip Ekonomi dan Filsafat tahun 1844. Sementara yang terakhir ini dipengaruhi oleh idealisme Hegelian Kiri—kelompok yang diikuti Marx hingga 1842—dan minim diskusi politik konkret, Ideologi Jerman menegaskan bahwa ‘adalah mungkin untuk mencapai pembebasan yang riil hanya dalam dunia yang riil dan dengan perangkat-perangkat yang riil’. Komunisme, karenanya, seharusnya tidak dianggap sebagai ‘keadaan yang hendak ditegakkan, angan-angan ideal yang kepadanya kenyataan harus menyesuaikan diri, [tetapi sebagai] gerakan riil yang menghapuskan keadaan yang sekarang’.

Dalam Ideologi Jerman, Marx juga menggambarkan sketsa ekonomi masyarakat masa depan. Sementara revolusi-revolusi sebelumnya hanya menghasilkan ‘pembagian kerja yang baru pada orang-orang lain’,

Komunisme berbeda dengan semua gerakan di masa lalu karena ia menjungkirbalikkan basis dari semua relasi produksi sebelumnya, dan untuk pertama kalinya secara sadar memperlakukan segala premis yang dianggap natural sebagai ciptaan manusia, melucuti mereka dari status alami dan menundukkan mereka pada kekuatan individu-individu yang bersatu. Pengorganisasiannya karena itu secara esensial adalah ekonomik, yaitu produksi material dari syarat-syarat persatuan ini.

Marx juga menyatakan bahwa ‘secara empiris, komunisme hanya mungkin terjadi lewat tindakan rakyat yang berkuasa “secara kompak” dan simultan’. Dalam pandangannya, hal ini mengasumsikan ‘perkembangan universal dari kekuatan-kekuatan produksi’ dan ‘keterhubungan dunia yang menyertainya’. Lebih jauh lagi, untuk pertama kalinya Marx menghadapi tema politik yang fundamental, yang akan ia angkat lagi di masa depan: kelahiran komunisme sebagai akhir dari tirani kelas. Karena revolusi akan ‘menghapuskan kekuasaan semua kelas bersama dengan keberadaan kelas-kelas itu sendiri, karena ia dilaksanakan oleh kelas yang tak lagi terhitung sebagai kelas dalam masyarakat, yang tidak diakui sebagai kelas, dan yang pada dirinya sendiri adalah ekspresi dari peleburan semua kelas dan kebangsaan’.

III. Pengamatan-pengamatan Manifesto Komunis
Marx melanjutkan, bersama Engels, pengembangan refleksi-refleksinya tentang masyarakat pasca-kapitalis dalam Manifesto Komunis. Dalam teks ini, yang lewat analisis mendalamnya tentang perubahan-perubahan yang diakibatkan oleh kapitalisme, berhasil melampaui literatur sosialis yang ada pada masa itu, poin yang paling menarik tentang komunisme ialah mengenai relasi kepemilikan. Marx mengamati bahwa transformasi radikal dari relasi ini ‘sama sekali bukan merupakan karakter unik komunisme’, karena moda-moda produksi baru yang lain dalam sejarah juga membawa perubahan serupa. Bagi Marx, sebagai bantahan kepada klaim-klaim propaganda bahwa kaum komunis akan menghalangi perolehan personal atas hasil kerja, ‘karakter unik komunisme’ bukanlah ‘penghapusan kepemilikan secara umum, melainkan penghapusan kepemilikan borjuis’, penghapusan ‘kekuatan untuk mengambil produk-produk masyarakat […] untuk menundukkan kerja orang lain’. Di matanya, ‘teori kaum komunis’ dapat diringkas dalam satu kalimat: ‘penghapusan kepemilikan pribadi’.

Dalam Manifesto Komunis, Marx juga mengusulkan sepuluh tolok ukur awal yang harus dicapai dalam ekonomi paling maju, menyusul perebutan kekuasaan. Mereka mencakup ‘penghapusan kepemilikan tanah dan penggunaan seluruh biaya sewa tanah untuk kepentingan publik’; sentralisasi kredit di tangan negara, lewat bank nasional […]; sentralisasi sarana komunikasi dan transportasi di tangan negara […]; pendidikan gratis untuk semua anak di sekolah-sekolah publik’, dan juga ‘penghapusan hak warisan’, tolok ukur dari Saint-Simon yang belakangan ia tolak secara tegas.

Seperti halnya dengan manuskrip-manuskrip yang ditulis antara 1844 hingga 1846, adalah sebuah kesalahan jika tolok ukur yang didaftar Marx dalam Manifesto Komunis tersebut—ditulis ketika Marx baru berusia tiga puluh tahun—dianggap sebagai pandangan finalnya tentang masyarakat pasca-kapitalis. Pendewasaan penuh pemikirannya bakal menuntut tahun-tahun pembelajaran serta pengalaman politik yang panjang.

Categories
Journalism

Mitos ‘Marx Muda’ dalam Penafsiran-Penafsiran atas Naskah-Naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844 (Bagian III)

Superioritas, Patahan, atau Kontinuitas?
APAPUN disiplin akademik ataupun afiliasi politik mereka, para penafsir Naskah-Naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844 dapat dibagi ke dalam tiga kelompok.

Yang pertama terdiri dari mereka semua yang, dengan mempertentangkan naskah-naskah Paris dengan Kapital, menekankan keutamaan teoretis karya yang lebih awal tersebut. Kelompok kedua secara umum menyepelekan signifikansi naskah-naskah tersebut, sementara kelompok ketiga condong pada tesis bahwa ada kesinambungan teoretis antara naskah-naskah tersebut dengan Kapital.

Mereka yang mengasumsikan pembelahan antara Marx ‘muda’ dan ‘dewasa’, dan berargumen tentang kekayaan teoretis yang lebih besar pada yang pertama, menampilkan Naskah-Naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844 sebagai tulisannya yang paling bernilai dan membedakannya secara tajam dengan karya-karyanya yang belakangan. Secara khusus, mereka cenderung untuk meminggirkan Kapital, seringkali tanpa mempelajarinya secara mendalam—buku dengan tuntutan yang lebih berat untuk dipelajari dibandingkan dengan sekitar dua puluh halaman pembahasan tentang kerja yang teralienasi dalam Naskah-Naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844, yang mengenainya hampir semua mengajukan perenungan-perenungan filosofis. Para perintis garis penafsiran ini adalah Landshut dan Meyer, kemudian segera disusul oleh Henri de Man. Dengan menyoroti pemikiran Marx sebagai ajaran etis-humanis, penulis-penulis ini mengejar tujuan politik mereka, yaitu melawan ortodoksi kaku Marxisme Soviet tahun 1930-an dan menantang hegemoninya dalam gerakan kelas pekerja. Serangan teoretis ini menghasilkan sesuatu yang sangat berbeda, dan cenderung untuk memperluas lahan potensial teori Marxis. Meski formulasi-formulasinya seringkali kabur dan bersifat umum, Marxisme tidak lagi melulu dianggap sebagai teori ekonomi yang determinis dan mulai mendorong ketertarikan yang lebih besar dari sejumlah besar intelektual dan anak-anak muda.

Pendekatan ini mulai mengalami kemajuan segera setelah penerbitan Naskah-Naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844 dan terus memenangkan pengikut-pengikut baru hingga akhir 1950-an, sebagian karena efek eksplosif dari sebuah teks baru yang begitu berbeda dengan kanon dominan Marxisme. Sponsor-sponsornya adalah beraneka ragam kelompok Marxis heterodoks, Kristen progresif dan para filsuf eksistensialis, yang menafsirkan tulisan-tulisan ekonomi Marx sebagai langkah mundur dari apa yang mereka lihat sebagai sentralitas pribadi manusia dalam teori-teori awalnya. Setelah Perang Dunia Kedua, figur-figur utamanya adalah Their, Poppitz dan Hommes di Jerman, dan—meski mereka tidak secara jelas mendukung klaim superioritas naskah-naskah 1844—Merleau-Ponty, Bigo, Calvez, serta Axelos di Prancis dan Fromm di Amerika Serikat. Raymond Aron, yang pada 1968 menentang mereka yang melihat naskah-naskah tersebut sebagai pusat gravitasi Marxisme, secara sempurna merangkum paradoks mereka yang paling menusuk: ‘Dua puluh tahun lalu, ortodoksi dari area Latin Quarter menganggap Naskah-Naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844 sebagai kata final dalam filsafat Marxis, bahkan sekalipun, jika seseorang setia pada teks tersebut, Marx sendiri menertawakan bahasa dan tipe analisis yang ia adopsi dalam karya-karya awalnya.’

Kelompok penafsir yang kedua, yang menganggap Naskah-Naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844 sebagai teks transisional tanpa signifikansi khusus dalam perkembangan pemikiran Marx. Sejak pengantar Adoratskii pada edisi MEGA tahun 1932, posisi ini adalah yang paling dibaca luas di Uni Soviet dan negara-negara satelitnya yang belakangan. Kegagalan naskah-naskah tersebut untuk menyebut ‘kediktatoran proletariat’, bersama dengan kehadiran tema-tema seperti keterasingan manusia dan eksploitasi buruh yang menyoroti kontradiksi-kontradiksi yang paling nyata dalam praktik sosialisme Uni Soviet, menuntun pada pengucilannya oleh kepemimpinan puncak partai-partai Komunis. Bukan kebetulan bahwa naskah-naskah tersebut dieksklusikan dari edisi-edisi karya Marx dan Engels di beberapa negara ‘blok sosialis’. Terlebih lagi, banyak penulis dari kelompok ini yang sepenuhnya mendukung definisi Lenin tentang tahapan-tahapan dalam perkembangan pemikiran Marx—pendekatan yang belakangan dikanonisasikan oleh Marxisme-Leninisme, yang, selain dalam banyak hal patut dipertanyakan secara teoretis dan politis, menjadikan pengakuan atas karya penting Marx yang baru terbit untuk pertama kalinya delapan tahun setelah kematian sang pemimpin Bolshevik menjadi sebuah kemustahilan.

Seiring dengan perkembangan pengaruh mazhab Althusserian di tahun 1960-an, pembacaan ini juga menjadi populer di Prancis dan bagian Eropa Barat lainnya. Tetapi, meski prinsip-prinsip mendasarnya biasanya diatributkan pada Althusser sendiri, benih-benihnya sudah ada pada Naville: yaitu keyakinan bahwa Marxisme adalah sains dan bahwa karya-karya awal Marx, yang masih dijiwai oleh bahasa dan perhatian Hegelianisme Kiri, menandai sebuah tahapan sebelum kelahiran ‘sains baru’ dalam Kapital. Bagi Althusser, seperti telah kita lihat, Naskah-Naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844 merepresentasikan Marx yang paling jauh dari Marxisme.

Pandangan yang mempertentangkan tulisan-tulisan Marx awal dengan kritik ekonomi-politiknya, yang secara filologis tidak berdasar, beredar di kalangan Marxis pembangkang dan ‘revisionis’ yang ingin memprioritaskan tulisan-tulisan awal tersebut, dan kelompok Komunis ortodoks yang berfokus pada Marx ‘dewasa’. Keduanya berkontribusi pada kesalahpahaman yang prinsipiil dalam sejarah Marxisme: mitos ‘Marx Muda’.

Kelompok penafsir Naskah-Naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844 yang ketiga dan terakhir terdiri dari mereka yang, dari posisi politik dan teoretis yang berbeda, menangkap kesinambungan substansi dalam karya Marx. Pendekatan ini bisa dilacak hingga Marcuse atau Lukács di Jerman dan Hyppolite atau Rubel di Prancis, dan menjadi hegemonik dalam dunia berbahasa Inggris lewat karya Tucker, McLellan, dan Ollman, lalu menyebar secara lebih luas ke hampir seluruh penjuru dunia sejak tahun 60-an, seperti disaksikan oleh tulisan-tulisan Fischer, Avineri, Mészáros, dan Schaff. Ide tentang kesinambungan hakiki Marxian ini, yang bertentangan dengan pandangan tentang patahan epistemologis tajam yang mendiskualifikasi tulisan-tulisan yang lebih awal, menginspirasi beberapa penafsiran terbaik atas Naskah-Naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844, seperti karya non-dogmatis Lefebvre dan Mandel yang mampu mengapresiasi nilainya, dengan segala kontradiksi dan ketidaklengkapan dalam naskah-naskah tersebut. Meski demikian, tetap ada kesalahan-kesalahan penafsiran—yang paling jelas dalam beberapa penulis adalah sikap meremehkan perkembangan-perkembangan pemikiran Marx pada tahun 1850-an dan 1860-an dalam bidang ekonomi-politik. Hal ini seiring dengan kecenderungan untuk merekonstruksi pemikiran Marx melalui koleksi kutipan, tanpa memperhatikan periode-periode penulisannya. Seringkali hasilnya adalah penyesuaian dengan visi partikular sang penafsir sendiri, lewat potongan-potongan yang dirangkai begitu saja dari Naskah-Naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844 dan Kapital, seolah-olah karya Marx merupakan teks yang ditulis secara bersamaan.

Keterbatasan-Keterbatasan Marx di tahun 1844
Menggarisbawahi pentingnya Naskah-Naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844 demi pemahaman yang lebih baik tentang perkembangan pemikiran Marx tidak berarti bersikap diam atas keterbatasan-keterbatasan dalam teks yang ditulisnya waktu muda ini. Dalam teks tersebut, Marx belum mulai menyerap konsep-konsep dasar ekonomi-politik, dan konsepsinya tentang komunisme tidaklah lebih daripada sintesis yang membingungkan dari studi-studi filsafat yang ia lakukan sebelumnya. Meski memikat, khususnya bagaimana ia mengombinasikan ide-ide filosofis Hegel dan Feuerbach dengan kritik teori ekonomi klasik dan dengan protes atas alienasi kelas pekerja, Naskah-Naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844 hanyalah eksperimentasi awal, sebagaimana nyata dalam kerancuan dan sifat eklektiknya. Naskah-naskah tersebut memperjelas jalur yang Marx ambil, tetapi jarak yang jauh tetap memisahkan mereka dari tema-tema dan argumen dari bukan hanya Volume 1 Kapital yang selesai tahun 1867, tetapi juga dari naskah-naskah persiapan Kapital, salah satunya diterbitkan, yang Marx siapkan sejak tahun 50-an.

Kontras dengan analisis-analisis yang entah memainkan keunikan ‘Marx Muda’ atau coba memaksakan patahan teoretis pada karyanya, pembacaan-pembacaan yang paling tajam atas Naskah-Naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844 tahu bagaimana memperlakukan naskah-naskah tersebut sebagai karya yang menarik, namun hanya mencerminkan tahapan awal dalam trayektori Marx. Seandainya ia tidak melanjutkan penelitiannya dan hanya berhenti pada konsep-konsep dalam naskah-naskah Paris, ia mungkin telah ditempatkan di samping Bauer dan Feuerbach dalam bagian-bagian manual filsafat bagi kelompok Hegelian Kiri. Sebaliknya, berdekade-dekade aktivitas politik, studi dan karya kritis yang terus-menerus atas ratusan volume ekonomi-politik, sejarah, dan disiplin-disiplin lain, mengubah intelektual tahun 1844 itu menjadi salah satu pemikir yang paling brilian dalam sejarah umat manusia. Sebagai hasilnya, tahapan-tahapan awal dari perkembangan teoretisnya, yang terutama nampak dalam Naskah-Naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844, meraih signifikansi yang akan memicu para pembaca dan peneliti lintas generasi.

Categories
Journalism

Mitos ‘Marx Muda’ dalam Penafsiran-penafsiran atas Naskah-naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844 (Bagian II)

Penafsiran awal dari (Naskah-naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844)
KETIKA pertama kali terbit pada tahun 1932, Manuskrip Ekonomi-Filsafat tahun 1844 menjadi salah satu materi utama pertentangan antara ‘Marxisme Soviet’ dan ‘Marxisme Barat’.
Pengantar yang menyertai publikasi keduanya menghasilkan perbedaan pendekatan yang tajam. Viktor Adoratskii, direktur MEGA yang menggantikan David Ryazanov pada tahun 1931, setelah pembersihan Institut Marx-Engels (baru-baru ini berganti nama menjadi Marx-Engels-Lenin Institute), mempresentasikan tema manuskrip sebagai sebuah ‘analisis tentang uang, upah, bunga modal, dan sewa tanah’. Sebaliknya, Landshut dan Meyer berbicara tentang sebuah karya yang ‘pada intinya sudah mengantisipasi Capital‘, karena ‘tidak ada ide baru yang fundamental’ yang nantinya muncul dalam oeuvre (karya-karya substansial) Marx. Manuskrip Ekonomi-Filsafat tahun 1844, tulis mereka, sebenarnya adalah karya utama Marx. Terlepas dari karakter yang jelas-jelas dipaksa dari klaim mereka bahwa manuskrip tahun 1844 adalah inti dari perkembangan pemikiran Marx, interpretasi ini segera mencapai kesuksesan besar dan bisa dilihat sebagai sumber asli dari mitos ‘Marx Muda/Young Marx’.
Herbert Marcuse juga menyatakan bahwa Manuskrip Ekonomi-Filsafat tahun 1844 memaparkan premis filosofis dari kritik Marx terhadap ekonomi politik. Dalam sebuah esai bertajuk ‘The Foundation of Historical Materialism’, yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1932 di Die Gesellschaft, Marcuse berpendapat bahwa ‘penerbitan Manuskrip Ekonomi dan Filsafat yang ditulis Marx pada tahun 1844 (ditakdirkan) menjadi peristiwa penting dalam sejarah studi-studi Marxis.’, karena menempatkan ‘diskusi tentang asal dan makna asli materialisme sejarah (…) pada pijakan baru’. Manuskrip 1844 telah menunjukkan kepalsuan pandangan yang diajukan oleh para eksponen Komunisme Soviet dan  Internasional Kedua, bahwa dalam Marx terdapat ‘ sederhananya (…) transformasi dari filsafat ke basis ekonomi dan selanjutnya filsafat bentuk (ekonomi) telah diatasi dan “diselesaikan” sekali dan selamanya’. Sejak penerbitan Manuskrip, adalah mustahil menganggap Marxisme secara esensial adalah sebuah doktrin ekonomi.
Beberapa tahun kemudian, minat pada ‘Marx Muda’ mengarah untuk mempelajari hubungannya dengan Hegel – sebuah lintasan penelitian yang didorong oleh publikasi baru-baru ini dari manuskrip filsuf Jerman tersebut dari masa-masanya di Jena. Georg Lukács, dalam karyanya 1938 The Young Hegel: Studies in the Relations between Dialectics and Economics, adalah salah satu ahli teori Marxis utama yang membandingkan dua set tulisan awal ini – termasuk Marx tentang filsafat dan Hegel tentang ekonomi – dan untuk menggambar apa dilihatnya sebagai analogi tertentu di antara mereka.

Popularitas ‘Marx Muda’ di Prancis Pascaperang
Ketika Perang Dunia Kedua memberi jalan kepada rasa kesedihan mendalam yang dihasilkan dari kebiadaban Nazisme dan fasisme, tema kondisi dan nasib individu dalam masyarakat memperoleh keunggulan besar. Minat filosofis yang berkembang pada Marx tampak jelas di mana-mana di Eropa, terutama di Prancis, di mana studi mengenai tulisan-tulisan awalnya adalah yang paling luas dilakukan. Seperti dikatakan filsuf-cum sosiolog Henri Lefebvre, asimilasi mereka adalah ‘peristiwa filosofis yang menentukan dari periode itu’. Dalam proses yang beraneka ragam ini hingga tahun 60-an, sejumlah penulis dari latar belakang budaya dan politik yang berbeda berusaha untuk menyelesaikan sintesis filosofis dari Marxisme, Hegelianisme, eksistensialisme dan pemikiran Kristen. Perdebatan tersebut menghasilkan banyak tulisan yang buruk dan, lebih dari itu, mendistorsi teks-teks Marx agar sesuai dengan keyakinan ideologis dari mereka yang mengambil bagian dalam perdebatan itu.
Dalam sebuah karya tahun 1948 berjudul Sense and Non-sense, Maurice Merleau-Ponty menyatakan bahwa pemikiran awal Marx lebih bercorak ‘eksistensialis’. Setelah membaca Manuskrip Ekonomi-Filsafat 1844, dan di bawah pengaruh filsuf Alexandre Kojève, ia menjadi yakin bahwa Marxisme sejati adalah humanisme radikal yang sama sekali berbeda dengan ekonomisme Soviet yang dogmatis, dan bahwa adalah mungkin untuk merekonstruksi bangunan dasarnya dari tulisan-tulisan Marx pada awal tahun 1840-an. Sejumlah filsuf eksistensialis terlibat dalam pembacaan yang sama, membatasi diri mereka pada bagian kecil (dan tidak pernah selesai) dari hasil intelektual Marx dan seringkali menghilangkan hampir seluruhnya studi tentang Capital.
Raymond Aron mengembangkan kritik pedas terhadap kecenderungan semacam itu. Dalam bukunya Imaginary Marxisms yang diterbitkan pada tahun 1969, ia menulis tentang ‘imam-imam jesuit’ dan ‘para-Marxis Paris’ yang, di tengah keberhasilan filsafat fenomenologis-eksistensial, ‘menafsirkan karya-karya (Marx) dewasa dalam terang utopianisme filosofis (awal)’ dan bahkan ‘mensubordinasikan Capital di hadapan tulisan-tulisan masa mudanya (terutama Naskah Ekonomi-Filsafat 1844), yang ketidakjelasan, ketidaklengkapan, dan kadang-kadang karakter yang bertentangan menjadi sumber daya tariknya.’ Apa yang gagal dipahami penulis seperti itu adalah bahwa ‘Jika Marx tidak memiliki harapan dan niat untuk membumikan kedatangan komunisme dengan ketelitian ilmiah, dia tidak perlu bekerja selama tiga puluh tahun untuk Capital (juga tidak sempat menyelesaikannya). Beberapa minggu dan beberapa halaman sudah cukup.’
Penulis yang bersikeras, lebih dari yang lain, pada ‘diskontinuitas absolut’ dalam karya Marx adalah Louis Althusser. Kumpulan esainya For Marx, memicu banyak reaksi dan polemik setelah diterbitkan pada tahun 1965, dan menjadi teks yang paling banyak dibahas terkait tulisan-tulisan awal Marx. Posisi Althusser adalah bahwa Tesis tentang Feuerbach dan The German Ideology menandai ‘jeda epistemologis’ yang jelas, ‘kritik terhadap (Marx) yang sebelumnya merupakan hati nurani filosofis (ideologis)’, dan bahwa karyanya dapat dibagi menjadi ‘dua periode penting yang panjang: sebelum tahun 1845 adalah periode ‘ideologis’, dan sesudahnya adalah periode ilmiah’.
Althusser menganggap Manuskrip Ekonomi-Filsafat tahun 1844 secara paradoksikal sebagai “teks terjauh yang dihapus pada hari ketika akan terbit”:
Marx yang paling jauh dari Marx adalah Marx ini, Marx berada di tepi jurang, di ambang pintu, di perbatasan – seolah-olah, sebelum jeda, untuk mencapainya, ia harus memberikan filsafat setiap kesempatan, untuk terakhir kalinya, kekuasaan absolut atas kebalikannya, kemenangan teoretis tanpa batas, yaitu kekalahannya.
Kesimpulan Althusser yang aneh adalah bahwa ‘kita tidak dapat mengatakan secara mutlak bahwa “Marx muda adalah bagian dari Marxisme”’. Aliran Althusserian menjadikan ini sebagai salah satu poin utama dari interpretasinya terhadap Marx.
Di Prancis, kemudian, eksistensialis memperlakukan Naskah Ekonomi-Filsafat 1844 sebagai teks yang sangat merangsang, sementara Jesuit mengangkatnya sebagai spanduk humanisme; yang lain mencelanya sebagai sisa filosofis muda atau melewatinya sebagai bagian yang diragukan dari ‘Marxisme’; dan yang lain lagi masih menyatakannya sebagai teks kunci yang berisi premis filosofis karya ekonomi Marx selanjutnya. Apa yang tidak diragukan adalah bahwa mereka berhasil menarik perhatian besar, tidak hanya di kalangan Marxis, dan di antara karya-karya filosofis yang paling banyak dijual selama lebih dari dua dekade. Pada periode pascaperang, mereka menginformasikan debat teoretis Prancis dan membantu memastikan bahwa Marx bisa dilihat dengan cara yang baru. Tentu saja, dengan demikian, ia menjadi kurang tajam dalam fitur-fiturnya dan lebih moralistik dalam nada, tetapi ia juga muncul sebagai penulis yang lebih waspada terhadap kegelisahan dari individu terkucil yang dihasilkan oleh konteks sosial. Semua ini memungkinkannya untuk berbicara kepada audiens yang lebih luas.

Naskah Ekonomi-Filsafat 1844 di ‘Blok Sosialis’ dan Negara-Negara Berbahasa Inggris
Selama bertahun-tahun, kaum Marxis yang paling terakreditasi di Uni Soviet dan Eropa Timur atau di partai-partai Komunis ortodoks mengabaikan Manuskrip Ekonomi-Filsafat 1844 atau memberikan interpretasi yang dangkal dan terbatas padanya. Ideologi Stalinis, dengan Stakhanovisme sebagai salah satu spanduknya, tetap sangat bermusuhan dengan konsep alienasi yang sangat menonjol dalam (Manuskrip Ekonomi-Filsafat Ekonomi 1844), dan tulisan-tulisan awal Marx, yang justru mendapatkan perhatian sangat besar di ‘Marxisme Barat’ sejak 1930-an. Butuh waktu sangat lama bagi manuskrip untuk mendapatkan tempat di negara-negara blok sosialis.
Banyak komentator atas teks ini menampilkan campuran yang meremehkan dan mengandung kebencian pada dekade 1940 dan 1950an. Tetapi  perlahan-lahan segala sesuatunya mulai berubah. Namun, pendirian banyak penulis dalam koleksi itu agak bermasalah. Berbeda dengan interpretasi dalam periode yang sama di Perancis, yang berusaha memikirkan kembali konsep-konsep Capital melalui kategori-kategori karya awal, para peneliti Soviet umumnya membuat kesalahan sebaliknya: mereka menganalisis karya-karya awal berdasarkan perkembangan teoritik Marx kemudian.
Sementara Naskah Ekonomi-Filsafat 1844 membuat kemajuan lambat dalam kanon materialisme dialektik (‘Diamat’ dalam bahasa Soviet), dan hanya setelah menghadapi banyak perlawanan ideologis dan politik, penerimaannya di negara-negara berbahasa Inggris mengalami keterlambatan yang sama. Bahkan, terjemahan pertama yang membangkitkan minat yang tersembunyi baru muncul pada 1961 di Amerika Serikat, karena iklim budaya dan politik pada masa itu yang masih ditandai oleh gelombang MacCarthyism yang menindas.
Alienation karya Bertell Ollman, yang diterbitkan pada tahun 1971 dan ditakdirkan sebagai salah satu karya paling berpengaruh dalam debat ‘Marx Muda’, juga mengadopsi sikap yang menguntungkan terhadap (Manuskrip Ekonomi-Filsafat Ekonomi 1844). Dia menulis: ‘Saya tidak menekankan perubahan dalam pemikiran Marx karena saya tidak melihat banyak di sana, terutama bila dibandingkan dengan kesatuan esensial dalam Marxisme sejak tahun 1844 dan seterusnya. (…) Bahkan dalam versi Capital yang diterbitkan, ada lebih banyak ide dan konsep “awal” Marx ketimbang yang secara umum diakui.’ Tesis ini menjadi sangat diterima di mana-mana, kecuali di kalangan yang berada di bawah hegemoni pemikiran Althusserian.