Categories
Journalism

Wajah Baru Marx Setelah Marx-Engels Gesamtausgabe (MEGA) (Bagian III)

I. Internasional Pertama
Begitu Kapital terbit, Marx melanjutkan aktivitas militannya dan berkomitmen penuh untuk Asosiasi Pekerja Internasional.
Dalam biografi politiknya, fase ini terdokumentasikan dalam Vol. I/21, “Karl Marx—Friedrich Engels, Werke, Artikel, Entwürfe. September 1867 bis März 1871”, yang mencakup lebih dari 150 teks dan dokumen dari periode 1867-1871, termasuk notulen 169 rapat Dewan Umum di London (dihapus dari semua edisi karya-karya Marx dan Engels sebelumnya) di mana Marx melakukan intervensi. Dengan demikian, ia menyediakan materi riset untuk tahun-tahun yang krusial bagi Internasional.
Sejak awal, pada 1864, ide-ide Proudhon sudah sangat hegemonik di Prancis, kawasan Swiss yang berbahasa Prancis, dan Belgia; dan kaum mutualis—istilah untuk menyebut para pengikutnya—adalah sayap paling moderat dari Internasional. Mereka—yang sepenuhnya menentang intervensi negara di bidang apapun—menolak sosialisasi tanah dan alat-alat produksi, serta penggunaan senjata. Teks-teks yang diterbitkan dalam volume ini menunjukkan bagaimana Marx memainkan peranan kunci dalam perjuangan panjang untuk mengurangi pengaruh Proudhon di Internasional. Teks-teks ini mencakup dokumen-dokumen yang terkait dengan persiapan kongres-kongres Brussels (1868) dan Basel (1869), ketika Internasional untuk pertama kalinya secara tegas menyuarakan sosialisasi alat-alat produksi oleh otoritas negara dan mendukung hak untuk menghapuskan kepemilikan individu atas tanah. Ini menandakan kemenangan penting bagi Marx dan kemunculan prinsip-prinsip sosialis dalam program politik organisasi utama kaum pekerja untuk pertama kalinya.
Di luar program politik Asosiasi Pekerja Internasional, akhir 1860-an dan awal 1870-an dipenuhi dengan konflik-konflik sosial. Banyak pekerja yang berpartisipasi dalam aksi-aksi protes memutuskan untuk menjalin kontak dengan Internasional yang reputasinya terus meluas. Para pekerja ini juga meminta Internasional untuk mendukung perjuangan-perjuangan mereka. Pada periode ini juga terjadi kelahiran beberapa kelompok pekerja Irlandia di Inggris. Marx mengkhawatirkan perpecahan yang diakibatkan oleh nasionalisme garis keras dalam barisan kaum proletar. Dalam sebuah dokumen yang dikenal sebagai “Komunikasi Konfidensial”, ia menekankan bahwa “kaum borjuis Inggris tidak hanya mengeksploitasi penderitaan orang-orang Irlandia untuk menundukkan kelas pekerja di Inggris lewat imigrasi paksa orang-orang miskin dari Irlandia”; mereka juga terbukti sanggup memisahkan kaum pekerja “ke dalam dua kubu yang saling bertentangan”. Dalam pandangannya, “suatu bangsa yang memperbudak bangsa lainnya sebenarnya menempa sendiri rantai yang membelenggunya” dan perjuangan kelas tidak dapat menghindar dari isu penting ini. Tema besar lainnya dalam volume tersebut—khususnya yang diulas dalam tulisan-tulisan Engels untuk The Pall Mall Gazette—adalah penolakan terhadap Perang Prancis-Prusia tahun 1870-1871.

II. Riset-Riset Marx Setelah Kapital
Kerja-kerja Marx untuk Asosiasi Pekerja Internasional berlangsung dari 1864 sampai 1872, dan volume baru IV/18, “Karl Marx—Friedrich Engels, Exzerpte und Notizen. Februar 1864 bis Oktober 1868, November 1869, März, April, Juni 1870, Dezember 1872” menyajikan bagian yang sebelumnya tak dikenal tentang studi-studi yang ia kerjakan selama tahun-tahun tersebut. Penelitian Marx dilakukan jelang dicetaknya Volume I Kapital atau setelah 1867 ketika ia mempersiapkan penerbitkan Volume II dan III untuk diterbitkan. Volume MEGA ini terdiri atas lima buku kumpulan kutipan dan empat buku catatan yang berisi rangkuman lebih dari seratus karya tulis, laporan-laporan debat-debat parlementer dan artikel-artikel jurnalistik. Bagian yang paling tebal dan penting secara teoretis dari materi-materi ini mencakup penelitian Marx tentang agrikultur, di mana minat utamanya di sini ialah tentang sewa tanah, ilmu-ilmu alam, kondisi tanah di negara-negara Eropa dan Amerika Serikat, Rusia, Jepang dan India, dan sistem penggunaan tanah dalam masyarakat-masyarakat pra-kapitalis.
Marx membaca secara cermat Chemistry and Its Application to Agriculture and Philosophy (1843), karya ilmuwan Jerman Justus von Liebig yang ia anggap penting karena turut mengubah pandangannya sebelumnya bahwa penemuan-penemuan ilmiah pertanian modern sukses mengatasi masalah pemulihan tanah. Sejak itu, ia mengembangkan minat pada apa yang kini kita sebut “ekologi”, khususnya masalah erosi tanah dan deforestasi. Di antara buku-buku yang amat berkesan bagi Marx dalam periode ini, ada tempat khusus untuk Introduction to the Constitutive History of the German Mark, Farm, Village, Town and Public Authority (1854) karya teoretikus politik dan sejarawan hukum Georg Ludwig von Mauer. Dalam sebuah surat kepada Engels, ia mengatakan bahwa buku-buku Mauer “amatlah signifikan”, karena dengan cara yang sangat berbeda meneropong “bukan hanya zaman primitif, tetapi juga perkembangan selanjutnya seperti tentang kota-kota merdeka, para pemilik lahan-lahan besar yang menikmati impunitas, pejabat publik, dan perjuangan kalangan petani merdeka dan hamba”. Marx juga memuji Maurer karena menunjukkan bahwa kepemilikan pribadi atas tanah adalah sesuatu yang terjadi dalam periode sejarah tertentu dan tidak bisa dianggap sebagai karakter alami dari peradaban manusia. Akhirnya, Marx mempelajari secara mendalam tiga karya berbahasa Jerman dari Karl Fraas: Climate and the Vegetable World throughout the Ages, a History of Both (1847), A History of Agriculture (1852) dan The Nature of Agriculture (1857). Ia mendapati bahwa yang pertama disebut di atas “amatlah menarik”, dan secara khusus mengapresiasi bagian saat Fraas menunjukkan bahwa “iklim dan flora berubah dalam sejarah”. Ia menyebut pengarangnya sebagai “seorang Darwinis sebelum Darwin”, yang mengakui bahwa “bahkan spesies pun berkembang dalam sejarah”. Marx juga dikejutkan oleh pertimbangan-pertimbangan ekologis Fraas dan keprihatinannya bahwa “pengolahan tanah—jika bersandar pada perkembangan alami dan bukannya secara sadar dikontrol (sebagai borjuis ia semestinya tidak mencapai pemahaman ini)—tidak akan menghasilkan padang gurun”. Marx dapat mendeteksi di sini “sebuah tendensi sosialis bawah sadar”.
Menyusul penerbitan Notebooks on Agriculture, kita bisa berargumen dengan tambahan bukti bahwa ekologi bakal memainkan peranan yang lebih besar dalam pemikiran Marx jika ia memiliki energi untuk menuntaskan dua volume terakhir Kapital. Tentu saja, kritik ekologis Marx bersifat anti-kapitalis, dan di luar harapan-harapannya akan kemajuan ilmu pengetahuan, mencakup pertanyaan tentang corak produksi secara keseluruhan.
Skala studi-studi Marx atas ilmu-ilmu alam telah menjadi nampak sepenuhnya sejak penerbitan Volume IV/26, “Karl Marx, Exzerpte und Notizen zur Geologie, Mineralogie und Agrikulturchemie. März bis September 1878”. Pada musim semi dan musim panas 1878, geologi, mineralogi, dan kimia pertanian menjadi lebih sentral dalam studi-studi Marx daripada ekonomi-politik. Ia mengumpulkan catatan dari berbagai buku, termasuk The Natural History of the Raw Materials of Commerce (1872) oleh John Yeats, The Book of Nature (1848) oleh ahli kimia Friedrich Schoedler, dan Elements of Agricultural Chemistry and Geology (1856) oleh ahli kimia dan mineral James Johnston. Antara Juni dan awal September, ia bergelut dengan Student’s Manual of Geology (1857) karya Joseph Jukes, yang darinya ia mengumpulkan banyak kutipan. Fokus utama dari semua pembelajaran ini adalah pertanyaan-pertanyaan tentang metodologi ilmiah, tahap-tahap perkembangan geologi sebagai disiplin ilmu, dan kegunaannya bagi produksi industrial dan agrikultural.
Pemahaman-pemahaman yang ia dapat melalui pembelajaran ini menyadarkan Marx tentang pentingnya mengembangkan lagi ide-idenya tentang profit, yang pernah membuatnya sibuk pada pertengahan 1860-an ketika menulis naskah tentang “Transformasi Profit-Surplus ke dalam Sewa Tanah“ dalam Kapital, Volume III. Beberapa rangkuman teks-teks ilmu alamnya memiliki tujuan untuk menerangi materi-materi yang sedang ia pelajari. Tetapi catatan-catatan lainnya, yang lebih condong pada aspek-aspek teoretisnya, dimaksudkan untuk digunakan dalam penyelesaian Volume III. Di kemudian hari Engels mengenang bahwa Marx “menyusuri (…) pra-sejarah, agronomi, kepemilikan tanah di Rusia dan Amerika, geologi, dll., secara khusus untuk mengembangkan hingga (…) yang belum pernah diupayakan, bagian tentang sewa tanah dalam Volume III Kapital”. Volume-volume MEGA ini semakin penting karena mereka akan mendiskreditkan mitos yang sering diulangi dalam biografi-biografi dan studi-studi tentang Marx, bahwa setelah Kapital ia telah memuaskan minat intelektualnya dan sepenuhnya meninggalkan studi-studi dan penelitian baru.

III. Kerja-Kerja Terakhir Engels
Akhirnya, tiga buku MEGA yang diterbitkan pada dekade terakhir berkaitan dengan Engels di masa tuanya. Volume I/30, “Friedrich Engels, Werke, Artikel, Entwürfe Mai 1883 bis September 1886” mencakup 43 teks yang ia tulis dalam tiga tahun setelah kematian Marx. Dari 29 teks terpenting dalam volume ini, terdapat 17 tulisan jurnalistik yang muncul di beberapa surat kabar utama kelas pekerja Eropa. Meski dalam periode ini perhatiannya banyak tersedot untuk mengedit naskah Kapital Marx yang belum tuntas, Engels tidak meninggalkan kesempatan untuk mengintervensi rangkaian isu-isu hangat di bidang politik dan teori. Ia juga menulis polemik yang ditujukan untuk menyerang kebangkitan kembali idealisme di lingkaran akademik Jerman, Ludwig Feuerbach and the End of Classical German Philosophy (1886). Empat belas teks lainnya, yang diterbitkan sebagai apendiks dalam volume MEGA ini, adalah beberapa terjemahan Engels dan rangkaian artikel dari penulis lain yang berkolaborasi dengannya.
MEGA juga menerbitkan kumpulan surat-surat Engels yang baru. Volume III/30, “Friedrich Engels, Briefwechsel Oktober 1889 bis November 1890” mencakup 406 surat yang masih terselamatkan dari total 500 atau lebih surat yang ia tulis antara Oktober 1889 dan November 1890. Lebih jauh lagi, disertakannya untuk pertama kali surat-surat dari koresponden lain memungkinkan kita untuk mengapresiasi secara lebih mendalam kontribusi yang Engels berikan bagi perkembangan partai-partai kelas pekerja di Jerman, Prancis, dan Inggris, mengenai beragam isu teoretik dan organisasi. Beberapa di antaranya ialah mengenai kelahiran Internasional Kedua dan perdebatan-perdebatan di dalamnya, yang kongres pendiriannya berlangsung pada tanggal 14 Juli 1889.
Akhirnya, Volume I/32, “Friedrich Engels, Werke, Artikel, Entwürfe März 1891 bis August 1895”, menyertakan tulisan-tulisan dari empat setengah tahun terakhir hidup Engels. Ada sejumlah tulisan-tulisan jurnalistik untuk koran-koran sosialis besar pada masa itu, termasuk Die Neue Zeit, Le Socialiste dan Critica Sociale, tetapi juga sejumlah kata pengantar dan penutup untuk berbagai edisi karya-karya Marx dan Engels, transkripsi pidato, wawancara dan sambutan dalam kongres-kongres partai, catatan percakapan, dokumen-dokumen yang Engels tulis dalam kolaborasi dengan orang lain, dan sejumlah terjemahan.
Tiga volume ini akan terbukti bermanfaat bagi studi yang lebih mendalam atas kontribusi teoretik dan politik Engels tua. Rangkaian publikasi dan konferensi internasional yang dijadwalkan pada perayaan dua abad kelahirannya (1820-2020) tentu tidak akan melewatkan masa dua belas tahun pasca kematian Marx ini, di mana Engels menghabiskan energinya untuk penyebaran Marxisme.

V. Marx yang Lain?
Marx yang seperti apakah yang lahir dari edisi historis-kritis baru atas karya-karyanya ini? Dalam beberapa hal, ia berbeda dari sosok pemikir yang selama ini digambarkan oleh para pengikut dan penentangnya—belum lagi jika kita berbicara tentang patung-patung dari batu yang ditemukan di ruang publik rezim-rezim Eropa Timur, yang menggambarkannya dengan postur menunjuk ke masa depan dengan keyakinan teguh. Di sisi lain, adalah keliru untuk menyebut—seperti mereka yang terlalu bersemangat merayakan penemuan sosok “Marx yang belum dikenal” setiap kali muncul teks yang baru—bahwa penelitian terkini telah memutarbalikkan semua yang sebelumnya diketahui mengenai dirinya. Apa yang disuguhkan oleh MEGA adalah landasan tekstual untuk memikirkan Marx yang berbeda: bukan berbeda karena perjuangan kelas disisihkan dari pemikirannya (seperti yang bakal diharapkan oleh para akademisi, dalam variasi nyanyian lama tentang “Marx sang ekonom” versus “Marx sang politisi” yang berupaya untuk menggambarkannya sebagai pemikir klasik yang ompong); tetapi secara radikal berbeda dengan pengarang yang secara dogmatis dijadikan fons et origo dari “sosialisme riil”, yang semata-mata mengarahkan perhatiannya pada pertentangan kelas.
Kemajuan-kemajuan baru yang dicapai dalam studi-studi Marxian menunjukkan bahwa eksegesis atas karya Marx lagi-lagi, seperti halnya di masa lalu, akan semakin dipertajam. Sejak dulu kaum Marxis mengedepankan tulisan-tulisan Marx muda—terutama Economic and Philosophic Manuscripts of 1844 dan The German Ideology—sementara Manifesto of the Communist Party tetap menjadi tulisannya yang paling banyak dibaca dan dikutip. Namun, dalam tulisan-tulisan masa mudanya tersebut, orang akan menemukan banyak gagasan yang kelak dilampaui dalam karya-karyanya yang belakangan. Sejak dulu, kesulitan untuk memeriksa penelitian Marx dalam dua dekade terakhir kehidupannya menghalangi pemahaman kita tentang pencapaian-pencapaian penting yang ia raih. Namun di atas segalanya itu, di dalam Kapital dan naskah-naskah persiapannya, dan juga dalam penelitian-penelitian di tahun-tahun terakhirnya, kita menemukan refleksi-refleksi yang paling berharga mengenai kritik masyarakat borjuis. Refleksi-refleksi ini merepresentasikan kesimpulan-kesimpulan terakhir, meskipun bukan yang definitif, yang Marx capai. Jika diperiksa secara kritis dalam terang perubahan-perubahan di dunia sejak kematiannya, mereka masih akan terbukti berguna untuk tugas teoretik, setelah kegagalan-kegagalan model sosial-ekonomi alternatif untuk kapitalisme di abad ke-20.
Edisi MEGA ini telah membuktikan kebohongan klaim bahwa segala hal tentang Marx telah ditulis dan dibicarakan. Masih ada banyak hal yang bisa dipelajari dari Marx. Kini menjadi mungkin untuk mempelajari bukan hanya apa yang ditulis Marx dalam karya-karyanya yang telah diterbitkan, tetapi juga pertanyaan dan keraguan yang terkandung dalam sederet naskah yang tak selesai.

 

Bagian I

Categories
Journalism

Wajah Baru Marx Setelah Marx-Engels Gesamtausgabe (MEGA) (Bagian II)

I. Pengasingan di London dan Kritik Ekonomi-Politik
Gerakan revolusioner yang bangkit di Eropa pada tahun 1848 ditaklukkan dalam tempo singkat dan pada 1849, setelah diusir dari Prusia dan Prancis, Marx tidak punya pilihan selain menyeberangi Selat Inggris.
Ia kemudian menetap di Inggris, sebagai orang buangan tak bernegara, selama sisa hidupnya. Namun, keadaan di Eropa menempatkan Marx di lokasi yang terbaik untuk menulis kritik ekonomi-politiknya. Pada saat itu, London adalah pusat ekonomi dan finansial termaju, ‘demiurgos kosmos borjuis’, dan karenanya merupakan lokasi yang paling mendukung untuk mengamati perkembangan ekonomi terkini dari masyarakat kapitalis. Ia juga menjadi penulis untuk New-York Tribune, surat kabar dengan sirkulasi terluas di Amerika Serikat.
Selama bertahun-tahun, Marx menantikan pecahnya krisis baru. Ketika hal ini termaterialisasikan pada tahun 1857, ia mengabdikan banyak waktunya untuk menganalisis karakter-karakternya. Volume I/16, “Karl Marx—Friedrich Engels, Artikel Oktober 1857 bis Dezember 1858”, mencakup 84 artikel yang ia terbitkan antara musim gugur 1857 dan akhir 1858 dalam New-York Tribune, termasuk artikel-artikel yang mengekspresikan reaksi-reaksi awalnya pada publik finansial pada 1857. Harian Amerika tersebut sering mencetak editorial-editorial tanpa nama pengarang, tetapi penelitian atas volume baru MEGA ini telah membuka kemungkinan untuk mengatributkan dua artikel lagi pada Marx, bersama dengan empat lainnya yang secara substansial diubah oleh para editor dan tiga lagi yang asal-muasalnya tetap belum jelas.
Didorong oleh kebutuhan mendesak untuk memperbaiki keadaan ekonominya, Marx juga bergabung dengan komite editorial The New American Cyclopædia dan setuju untuk menulis sejumlah artikel untuk proyek ini (volume I/16 mengandung 39 artikel jenis ini). Meski bayarannya $2 per halaman sangatlah rendah, ini tetap merupakan tambahan bagi kondisi keuangannya yang parah. Apalagi kebanyakan dari pekerjaan ini ia serahkan pada Engels, sehingga ia dapat lebih banyak mengabdikan waktu untuk tulisan-tulisan ekonominya.
Karya Marx dalam periode ini sungguh hebat dan luas cakupannya. Di samping komitmen jurnalistiknya, dari Agustus 1857 hingga Mei 1858 ia mengisi delapan buku catatan yang dikenal sebagai Grundrisse. Tetapi, ia juga menetapkan bagi dirinya tugas berat studi analitis tentang krisis ekonomi dunia yang pertama. Volume IV/14, “Karl Marx, Exzerpte, Zeitungsausschnitte und Notizen zur Weltwirtschaftskrise (Krisenhefte). November 1857 bis Februar 1858”, secara signifikan menambah pengetahuan kita tentang salah satu interval paling subur dalam produksi teoretis Marx. Dalam surat kepada Engels pada Desember 1857, Marx mendeskripsikan aktivitasnya yang gila-gilaan:
Aku bekerja dengan giat, umumnya hingga jam 4 pagi. Aku melibatkan diri dalam tugas ganda: 1. Menjelaskan skema [Grundrisse] ekonomi-politik. (mengupas masalah ini hingga tuntas demi kepentingan publik adalah sepenuhnya esensial, sama pentingnya dengan kebutuhan pribadiku untuk mengakhiri mimpi buruk ini). 2. Krisis di masa kini. Selain artikel-artikel untuk [New-York] Tribune, semua yang aku lakukan adalah mengumpulkan catatan-catatan mengenainya, yang sayangnya menghabiskan banyak waktu. Aku pikir kira-kira pada musim semi nanti kita harus menyusun sebuah pamflet bersama tentang isu tersebut sebagai pengingat kepada publik Jerman bahwa kita masih ada di sana dan selalu tetap sama.
Jadi, rencana Marx adalah mengerjakan pada saat yang bersamaan dua proyek: karya teoretis tentang kritik moda produksi kapitalis dan buku yang lebih tematis mengenai krisis yang tengah berlangsung. Inilah sebabnya mengapa dalam karyanya Notebooks on Crisis, tidak seperti volume-volume serupa sebelumnya, Marx tidak mengumpulkan bahan-bahan dari karya para ekonom lain, tetapi mengoleksi sejumlah laporan dari surat kabar tentang kolapsnya bank-bank besar, variasi harga pasar saham, perubahan pola-pola dagang, tingkat pengangguran dan hasil industri. Perhatian khusus yang ia berikan pada isu yang disebut terakhir membedakan analisisnya dari begitu banyak pengamat lain yang mengatributkan krisis-krisis ini secara eksklusif pada kesalahan penyaluran kredit dan peningkatan spekulasi. Marx membagi catatan-catatannya ke dalam beberapa buku catatan.
Pada buku catatan pertama sekaligus yang terpendek, yang berjudul “Prancis 1857”, ia mengoleksi data tentang situasi perdagangan di Prancis dan langkah-langkah yang diambil oleh Bank Prancis. Buku catatan kedua, “Buku tentang Krisis 1857”, panjangnya hampir dua kali lipat dan terutama berurusan dengan Inggris dan pasar uangnya. Tema-tema serupa dibahas dalam buku catatan ketiga yang sedikit lebih panjang, “Buku tentang Krisis Perdagangan”, di mana Marx mengomentari berita-berita dan data mengenai relasi-relasi industri, produksi bahan-bahan mentah dan pasar tenaga kerja.
Karya Marx seperti biasanya begitu cermat: ia menyusun secara kronologis bagian-bagian menarik dari sejumlah artikel dan informasi lain yang dapat ia gunakan untuk merangkum apa yang terjadi dari lusinan majalah dan surat kabar. Sumber utama yang ia gunakan adalah The Economist—mingguan yang darinya ia menyusun separuh catatannya—meski ia juga secara berkala memeriksa Morning Star, The Manchester Guardian, dan The Times. Semua bahan ini dikumpulkan dalam bahasa Inggris. Dalam catatan-catatan tersebut, Marx tidak membatasi dirinya pada berita-berita tentang Amerika Serikat dan Inggris. Ia juga melacak peristiwa-peristiwa paling signifikan di negara-negara Eropa lain—khususnya Prancis, Jerman, Austria, Italia, dan Spanyol—dan menunjukkan minat serius terhadap bagian-bagian lain dunia, khususnya India dan China, Timur Jauh, Mesir, dan bahkan Brazil serta Australia.
Setelah minggu-minggu tersebut berlalu, Marx meninggalkan ide menerbitkan buku tentang krisis dan mengkonsentrasikan seluruh energinya pada karya teoretisnya, kritik ekonomi-politik, yang menurut pandangannya tidak dapat ditunda lagi. Namun Notebooks on Crisis tetap berguna untuk membantah pandangan yang keliru tentang minat utama Marx selama periode ini. Dalam sepucuk surat pada awal 1858 untuk Engels, ia menulis bahwa ‘mengenai metode’ yang ia gunakan, ‘Logika Hegel sangatlah bermanfaat baginya’ dan menambahkan bahwa ia ingin untuk menyoroti ‘aspek rasionalnya’. Dengan dasar ini, beberapa penafsir karya Marx menyimpulkan bahwa ketika menulis Grundrisse, ia menghabiskan banyak waktunya untuk mempelajari filsafat Hegelian. Namun, penerbitan volume IV/4 menunjukkan jelas bahwa perhatian utamanya pada saat itu adalah analisis empiris atas peristiwa-peristiwa yang terkait dengan krisis ekonomi besar yang ia telah prediksikan jauh sebelumnya.

II. Awal 1860-an
Upaya-upaya tanpa kenal lelah dari Marx untuk menuntaskan ‘kritik ekonomi-politik’-nya juga menjadi tema utama dari volume III/2, “Karl Marx—Friedrich Engels, Briefwechsel Januar 1862 bis September 1864”, yang mencakup korespondensinya sejak awal1862 hingga pendirian Asosiasi Kelas Pekerja Internasional. Dari 425 surat yang tersisa, 112 adalah antara Engels dan Marx, sementara 35 ditulis kepada, dan 278 diterima dari, pihak ketiga (227 dari kumpulan ini baru diterbitkan untuk pertama kalinya). Disertakannya kumpulan terakhir ini—yang memiliki perbedaan paling signifikan dari seluruh edisi sebelumnya—menyuguhkan harta karun bagi pembaca yang berminat serta menyediakan kekayaan informasi baru tentang peristiwa-peristiwa dan teori-teori yang Marx dan Engels pelajari dari perempuan dan laki-laki yang dengannya mereka berbagi komitmen politik.
Di antara poin-poin diskusi dalam korespondensi Marx sejak awal 1860-an adalah Perang Saudara Amerika, revolusi Polandia melawan pendudukan Rusia, kelahiran Partai Sosial Demokratik Jerman yang terinspirasi oleh prinsip-prinsip Ferdinand Lassalle. Namun, tema yang secara konstan berulang adalah perjuangannya untuk meraih kemajuan dalam penulisan Kapital.
Selama periode ini, Marx meluncur pada area riset yang baru: Teori-Teori Nilai Surplus. Sepanjang sepuluh buku catatan, ia membedah pendekatan ekonom-ekonom besar sebelumnya, dengan pandangan dasar bahwa “semua ekonom sama-sama keliru dalam mengevaluasi nilai-lebih tidak pada bentuk murninya, melainkan dalam bentuk-bentuk khusus laba dan sewa”. Sementara itu, keadaan ekonomi Marx terus memburuk. Pada Juni 1862 ia menulis pada Engels: “Setiap hari istriku mengatakan ia berharap dirinya dan anak-anak kami aman di kuburan mereka, dan aku sungguh tidak dapat menyalahkannya, karena rasa malu, siksaan, dan peringatan yang seseorang harus lalui dalam keadaan demikian sungguh sulit dideskripsikan”. Situasinya begitu ekstrem sehingga Jenny memutuskan untuk menjual beberapa buku dari perpustakaan pribadi suaminya—meski ia tidak dapat menemukan orang yang mau membelinya. Di tengah keadaan demikian, Marx mampu ‘bekerja keras’ dan mengekspresikan kepuasan pada Engels: “aneh tapi nyata, otakku berfungsi lebih baik di tengah kemiskinan ini dibanding tahun-tahun sebelumnya”. Di bulan September, Marx menulis pada Engels bahwa ia mungkin akan mendapat pekerjaan “di kantor kereta api” pada tahun yang baru. Pada bulan Desember, ia mengulangi ucapannya pada temannya, Ludwig Kugelmann, bahwa keadaan telah menjadi sangat memprihatinkan sehingga ia “memutuskan untuk menjadi ‘orang praktis’; namun, ide ini tidak terwujud juga. Marx melaporkan dengan sarkasme khasnya: “Untungnya—atau mungkin aku harus bilang tidak beruntung?—aku tidak mendapatkan posisi tersebut karena tulisan tanganku jelek.”

III. Kritik yang Belum Tuntas dalam Kapital
Bersama dengan tekanan-tekanan finansial, Marx juga banyak menderita masalah kesehatan. Namun dari musim panas 1863 hingga Desember 1865 ia menyunting kembali bagian-bagian yang ia putuskan akan membentuk Kapital. Pada akhirnya, ia menyusun: naskah pertama Volume Satu; naskah satu-satunya dari Volume Tiga, di mana ia menunjukkan catatan satu-satunya yang ia buat tentang proses lengkap produksi kapitalis; dan versi awal Volume Dua, yang mencakup presentasi umum pertama tentang proses sirkulasi kapital.
Volume II/11 dari MEGA, “Karl Marx, Manuskripte zum zweiten Buch des ‘Kapitals’ 1868 bis 1881”, mengandung seluruh naskah untuk Volume Dua Kapital yang Marx susun antara 1868 hingga 1881. Sembilan dari sepuluh naskah ini belum diterbitkan sebelumnya. Pada bulan Oktober 1867, Marx kembali mengerjakan Kapital, Volume Kedua, namun beragam masalah kesehatan memaksa interupsi mendadak. Beberapa bulan kemudian, ketika ia mampu melanjutkan pengerjaan naskah, hampir tiga tahun telah berlalu sejak versi terakhir yang ia tulis. Marx menuntaskan dua bab pertama selama musim semi 1868, selain sekelompok naskah awal lainnya—mengenai hubungan antara nilai lebih dan tingkat laba, hukum tingkat laba, dan metamorfosis kapital—yang menyibukkannya hingga akhir tahun. Versi baru dari bab ketiga diselesaikannya dalam dua tahun berikutnya. Volume II/1 berakhir dengan sejumlah teks pendek yang Marx tulis antara Februari 1877 dan musim semi 1881.
Naskah-naskah awal Kapital, Volume Dua, yang tak pernah dituntaskannya, menampilkan sejumlah problem teoretis. Namun versi akhir dari Volume II diterbitkan oleh Engels pada tahun 1885 dan sekarang muncul dalam volume II/13 MEGA yang berjudul “Karl Marx, Das Kapital. Kritik der politischen Ökonomie. Zweiter Band. Herausgegeben von Friedrich Engels. Hamburg 1885”.
Yang terakhir, volume II/4.3, ‘Karl Marx, Ökonomische Manuskripte 1863-1868. Teil 3’, melengkapi bagian kedua dari MEGA. Volume ini, yang mengikuti seri II/4.1 dan II/4.2, mengandung 15 naskah yang tidak diterbitkan sejak musim gugur 1867 hingga akhir 1868. Tujuh darinya adalah potongan-potongan naskah awal Kapital, Volume III; mereka memiliki karakter yang amat fragmentaris dan Marx tidak pernah mampu memperbarui naskah tersebut dengan cara yang merefleksikan kemajuan penelitiannya. Tiga naskah lainnya terkait dengan Volume Dua, sementara lima sisanya berurusan dengan isu-isu mengenai kesalingbergantungan volume Dua dan Tiga dan mencakup komentar-komentar terhadap karya Adam Smith dan Thomas Malthus. Yang terakhir disebut ini menarik bagi ekonom-ekonom yang berminat pada teori Marx tentang tingkat laba dan ide-idenya tentang teori harga. Studi-studi filologis yang terkait dengan persiapan volume ini juga menunjukkan bahwa naskah asli Kapital, Volume Satu (di mana ‘Bab Enam. Hasil-Hasil Proses Produksi Langsung’ biasa dianggap sebagai satu-satunya bagian yang tertinggal) sebenarnya disusun pada periode 1863-1864, dan bahwa Marx menggunakannya untuk naskah yang diterbitkannya.
Dengan penerbitan MEGA volume II/4.3, seluruh teks pembantu yang terkait dengan Kapital telah tersedia: mulai dari ‘Pengantar’ yang terkenal itu, yang ditulis pada Juli 1857 selama krisis terbesar dalam sejarah kapitalisme, hingga fragmen-fragmen terakhir yang ditulis pada musim semi 1881. Kita berbicara tentang 15 volume plus banyak lagi catatan-catatan yang menyusun aparatus kritis bagi teks utama. Mereka mencakup seluruh naskah sejak akhir 1850-an dan awal 1860-an, versi pertama Kapital yang diterbitkan pada 1867 (yang bagian-bagiannya akan diubah dalam edisi-edisi berikutnya), terjemahan Prancis yang ditinjau kembali oleh Marx yang muncul antara 1872 dan 1875, dan seluruh perubahan yang dibuat Engels pada naskah-naskah Volume Dua dan Tiga. Dibanding ini semua, ketiga volume Kapital akan terlihat kecil. Tidak berlebihan jika kita mengatakan bahwa sekarang kita benar-benar bisa memahami keunggulan, keterbatasan, serta ketidaktuntasan magnum opus Marx.
Kerja editorial yang dilakukan Engels setelah kematian kawannya untuk mempersiapkan bagian-bagian yang belum tuntas dari Kapital untuk diterbitkan sesungguhnya amatlah kompleks. Aneka naskah dan fragmen dari volume II dan III, yang ditulis antara 1864 dan 1881, mencapai kira-kira 2350 halaman MEGA. Engels berhasil menerbitkan Volume II pada 1885 dan Volume III pada 1894. Namun, kita harus mengingat bahwa kedua volume ini muncul dari rekonstruksi teks yang tak tuntas dan seringkali mencakup materi yang beragam. Mereka semua ditulis selama lebih dari satu periode dan karena itu mencakup versi-versi yang berbeda dan bahkan berkontradiksi dari Marx.

 

Bagian III

Categories
Journalism

Wajah Baru Marx Setelah Marx-Engels Gesamtausgabe (MEGA) (Bagian I)

I. Kebangkitan Marx
SELAMA lebih dari satu dekade terakhir, jurnal-jurnal dan surat kabar bergengsi dengan pembaca luas telah mendeskripsikan Karl Marx sebagai teoretikus dengan pandangan jauh ke depan yang relevansinya terus memperoleh konfirmasi.
Banyak pengarang dengan pandangan progresif mempertahankan pendapat mereka bahwa ide-idenya tetap tak tergantikan bagi siapapun yang meyakini pentingnya membangun alternatif terhadap kapitalisme. Hampir di manapun juga, ia kini menjadi tema dalam mata kuliah di universitas dan konferensi-konferensi internasional. Tulisan-tulisannya yang dicetak kembali ataupun disusun dalam edisi-edisi baru telah muncul lagi di rak-rak toko buku, dan studi atas karyanya, setelah diabaikan selama dua puluh tahun lebih, telah mendapatkan momentum yang terus meningkat. Tahun 2017 dan 2018 menyaksikan intensitas yang lebih jauh lagi dari “kebangkitan Marx” ini, berkat banyak inisiatif dari berbagai penjuru dunia terkait dengan peringatan 150 tahun penerbitan Kapital dan dua abad kelahiran Marx.
Ide-ide Marx telah mengubah dunia. Namun meski teori-teorinya telah diafirmasi, bahkan menjadi ideologi dominan dan ajaran negara di banyak tempat pada abad ke-20, belum ada edisi lengkap dari seluruh karya dan manuskripnya. Alasannya terletak pada sifat karya-karya Marx yang tidak lengkap; tulisan-tulisan yang ia terbitkan terhitung jauh lebih sedikit daripada tulisan-tulisan yang tidak ia selesaikan, belum lagi catatan-catatan Nachlass yang menggunung terkait dengan penelitian-penelitiannya yang tidak ada habisnya. Marx meninggalkan lebih banyak naskah daripada yang ia kirim ke percetakan. Ketidaklengkapan adalah bagian tak terpisahkan dari hidup Marx: kemiskinan yang acapkali mewarnai hidupnya, kondisi tubuhnya yang sakit-sakitan, ditambah kecemasan-kecemasan harian; metodenya yang ketat dan otokritik tanpa ampun semakin menambah kesulitan hidupnya. Lebih-lebih, hasratnya akan pengetahuan tak pernah surut dan mengantarkannya pada studi-studi baru. Namun, kerja tanpa hentinya membawa konsekuensi-konsekuensi teoretis yang luar biasa bagi masa depan.
Materi yang sangat berharga untuk mengevaluasi kembali pencapaian Marx adalah lanjutan penerbitan Marx-Engels Gesamtausgabe (MEGA) pada tahun 1998, yaitu edisi historis-kritis karya lengkap Marx dan Friedrich Engels. Lebih dari dua puluh delapan volume telah muncul (empat puluh lainnya telah diterbitkan antara 1975 dan 1989), dan volume-volume lainnya sedang dipersiapkan (untuk lebih detilnya lihat artikel saya “Kembalinya Sang Raksasa”, IndoProgress, 3 September 2018). MEGA disusun dalam empat bagian: (1) seluruh karya, artikel, dan naskah awal yang ditulis oleh Marx dan Engels (dengan perkecualian Kapital); (2) Kapital dan seluruh materi persiapannya; (3) korespondensi—terdiri atas 4.000 surat dari Marx dan Engels dan 10.000 yang ditujukan pada mereka, yang banyak di antaranya baru diterbitkan untuk pertama kalinya dalam MEGA; dan (4) catatan-catatan kecil. Bagian keempat ini menjadi saksi atas kerja-kerja Marx yang sangat ensiklopedik: sejak berkuliah di universitas, ia telah mengembangkan kebiasaan mengkoleksi catatan dari buku-buku yang ia baca, dan seringkali membubuhinya dengan refleksi-refleksi atas bacaan tersebut. Koleksi Marx ini mencakup dua ratus buku catatan. Koleksi ini esensial perannya untuk memahami asal-mula teorinya dan elemen-elemen yang tidak mampu ia kembangkan seturut rencana awal. Catatan-catatan yang tertinggal, dari 1838 hingga 1882, ditulis dalam delapan bahasa (Jerman, Yunani kuno, Latin, Prancis, Inggris, Italia, Spanyol, dan Rusia), dan merujuk pada disiplin-disiplin yang sangat beragam, seperti filsafat, sejarah seni, agama, politik, hukum, sastra, sejarah, ekonomi-politik, hubungan internasional, teknologi, matematika, fisiologi, geologi, mineralogi, agronomi, antropologi, kimia, dan fisika—mencakup bukan hanya buku-buku, surat kabar, dan artikel-artikel jurnal, tetapi juga catatan sidang parlemen dan laporan-laporan statistik pemerintah. Simpanan pengetahuan yang luar biasa ini, banyak di antaranya terbit beberapa tahun terakhir atau masih menunggu penerbitan, adalah situs pembangunan teori kritis Marx, dan MEGA telah membuka akses padanya untuk pertama kali.

II. Penemuan-Penemuan Baru tentang Asal-Mula Konsepsi Materialis atas Sejarah
Pada Februari 1845, setelah 15 bulan yang intensif di Paris yang krusial bagi formasi politiknya, Marx terpaksa pindah ke Brussels. Di sana ia diizinkan tinggal dengan syarat “tidak menerbitkan tulisan apapun tentang politik kekinian”. Selama tiga tahun yang dihabiskan di ibukota Belgia, ia terus mengejar studinya tentang ekonomi-politik dan berpikir untuk menulis, bersama Engels, Joseph Weydemeyer dan Moses Hess, suatu “kritik atas filsafat Jerman modern sebagaimana digambarkan oleh Ludwig Feuerbach, Bruno Bauer, dan Max Stirner, dan atas sosialisme Jerman sebagaimana dinyatakan oleh nabi-nabinya”. Hasilnya, yang kemudian diterbitkan dengan judul Ideologi Jerman, memiliki tujuan ganda: memerangi bentuk-bentuk mutakhir neo-Hegelianisme di Jerman, dan kemudian, seperti yang dinyatakan dalam surat Marx kepada penerbit Carl Wilhelm Julius Leske, “menyiapkan publik untuk memahami perspektif dalam karya saya tentang ekonomi, yang sangat bertentangan dengan keilmuan Jerman pada masa lalu dan sekarang”. Naskah ini yang ia kerjakan hingga Juni 1846 ini tak pernah tuntas, namun mampu membantunya memperoleh kejelasan yang lebih lagi—meski belum mencapai bentuk definitifnya—tentang apa didefinisikan Engels di hadapan publik luas empat puluh tahun kelak sebagai “konsepsi materialis tentang sejarah”.
Edisi pertama Ideologi Jerman (terbit pada 1932) dan juga versi-versi mutakhirnya yang hanya menyertakan sedikit perubahan dikirimkan kepada percetakan seperti sebuah buku yang telah tuntas ditulis. Secara khusus, para editor naskah yang sebenarnya belum selesai pekerjaannya ini menciptakan kesan keliru bahwa Ideologi Jerman mencakup bab pembuka tentang Feuerbach yang esensial perannya, di mana Marx dan Engels secara lengkap meletakkan hukum-hukum “materialisme historis” (istilah yang tak pernah digunakan oleh Marx). Menurut Althusser, ini adalah momen di mana mereka mengkonseptualisasikan “patahan epistemologis yang signifikan” dari tulisan-tulisan mereka sebelumnya. Ideologi Jerman segera menjadi salah satu teks filosofis terpenting di abad keduapuluh. Menurut Henri Lefebvre, buku tersebut meletakkan “tesis-tesis fundamental materialisme historis”. Maximilien Rubel berpendapat bahwa “naskah ini mengandung pernyataan yang paling jelas tentang konsep sejarah yang kritis dan materialis”. David McLellan juga berujar bahwa naskah ini “mengandung penjelasan paling detil dari Marx tentang konsepsi sejarah materialisnya”.
Karena volume I/5 dari MEGA, “Karl Marx – Friedrich Engels, Deutsche Ideologie. Manuskripte und Drucke (1845-1847)”, klaim-klaim seperti di atas kini bisa diredam dan Ideologi Jerman kembali dilihat sebagai karya yang tidak lengkap. Edisi ini—yang mencakup 17 naskah dengan total 700 halaman plus 1.200 halaman catatan kritis yang menyediakan banyak ragam dan koreksi dari pengarang, serta menunjukkan kesalingtergantungan bagian-bagiannya—menegaskan secara utuh karakter fragmentatif dari Ideologi Jerman. Kesalahan “komunisme ilmiah” pada abad ke-20 dan seluruh instrumentalisasi Ideologi Jerman mendorong kita untuk mencari sebuah frasa dalam teks itu sendiri. Sebab, kritik tajam atas filsafat Jerman di zaman ketika Marx masih hidup juga memberikan peringatan serius terhadap tren-tren eksegetikal di masa depan: “Bukan hanya dalam jawaban-jawabannya, bahkan dalam pernyataan-pernyataannya pun terdapat suatu mistifikasi”.
Dalam periode yang sama, sang revolusioner muda asal Trier itu melanjutkan studi-studi yang telah ia mulai di Paris. Ia menghabiskan bulan Juli dan Agustus 1945 di Manchester, menenggelamkan diri dalam lautan bacaan ekonomi berbahasa Inggris dan mengumpulkan catatan sebanyak sembilan buku (yang kelak disebut sebagai “Catatan-Catatan Manchester”), kebanyakan buku panduan ekonomi-politik dan sejarah ekonomi. Volume IV/4 MEGA yang terbit pada 1988 mengandung lima buku pertama dari catatan-catatan ini, bersama dengan tiga buku dari catatan-catatan Engels pada saat yang sama di Manchester. Volume IV/5, “Karl Marx – Friedrich Engels, Exzerpte und Notizen Juli 1845 bis Dezember 1850”, melengkapi serial teks ini dan membuat bagian-bagian sebelumnya yang belum terbit tersedia pada para peneliti. Ini mencakup buku-buku catatan 6, 7, 8, dan 9, yang mengandung catatan-catatan Marx dari 16 karya ekonomi-politik. Catatan terbanyak dibuatnya dari buku John Francis Bray, Labour’s Wrongs and Labour’s Remedy (1839) dan empat teks Robert Owen, khususnya Book of the New Moral World (1840-1844), yang semuanya menunjukkan minat Marx yang besar pada saat itu terhadap sosialisme Inggris dan rasa hormatnya kepada Owen, penulis yang diabaikan dan terburu-buru dicap “utopis” oleh kaum Marxis. Volume tersebut diakhiri dengan dua puluh atau lebih halaman yang ditulis Marx antara 1846 dan 1850, plus beberapa catatan studi Engels dari periode yang sama.
Studi-studi teori sosialis dan ekonomi-politik ini tidak menghalangi keterlibatan politik Marx dan Engels. Sebanyak 800 halaman lebih volume I/7 yang baru saja terbit, “Karl Marx – Friedrich Engels, Werke, Artikel, Entwürfe. Februar bis Oktober 1848”, memungkinkan kita mengapresiasi besaran aspek ini pada 1848: salah satu tahun yang paling padat dengan aktivitas politik dan jurnalisme para penulis Manifesto Komunis. Setelah gerakan revolusioner yang cakupan dan intensitasnya hingga masa itu tak tertandingi sukses mendorong tatanan sosial dan politik Eropa kepada krisis, pemerintahan-pemerintahan yang ada mengupayakan segala langkah-langkah tandingan untuk mengakhiri pemberontakan. Marx sendiri menanggung konsekuensi-konsekuensinya dan diusir dari Belgia pada Maret. Namun, sebuah republik baru saja diproklamirkan di Prancis, dan Ferdinand Flocon, pejabat pemerintahan sementara, mengundang Marx untuk kembali ke Paris: “Marx yang pemberani dan terkasih, (…) tirani telah mengusirmu, tetapi Prancis yang merdeka akan membuka kembali pintunya untukmu”. Marx segera mengesampingkan studi-studi ekonomi-politiknya dan melakukan aktivitas jurnalistik guna mendukung revolusi tersebut, turut mengarahkan orientasi politik sesuai kemauannya. Setelah menjalani periode singkat di Paris, pada April ia pindah ke Rhineland dan dua bulan kemudian mulai menyunting Neue Rheinische Zeitung yang didirikan di Cologne. Kampanye yang intens dalam kolom-kolomnya memberi bobot dukungan yang kuat kepada para pemberontak dan mendorong kaum proletar untuk menyokong “revolusi sosial dan republikan”.
Hampir seluruh artikel dalam Neue Rheinische Zeitung diterbitkan secara anonim. Salah satu keunggulan volume ini adalah koreksinya atas kepengarangan 36 teks pada Marx atau Engels, sementara koleksi-koleksi sebelumnya membuat kita bingung mengenai siapa yang menulis teks yang mana. Dari total 275 teks, 125 secara lengkap dicetak di sini untuk pertama kalinya dalam edisi karya Marx dan Engels. Bagian Apendiks juga menampilkan 16 dokumen menarik yang mengandung catatan-catatan tentang intervensi-intervensi mereka dalam rapat-rapat Liga Komunis, agregat Masyarakat Demokratik Cologne, dan Serikat Vienna. Di sini, mereka yang tertarik pada aktivitas politik dan jurnalistik Marx selama ‘tahun revolusi’ 1848 akan menemukan banyaknya bahan tak ternilai untuk memperdalam pengetahuan.

 

Bagian II

Categories
Journalism

Konsepsi Marx tentang Komunisme (Bagian III)

I. Kepemilikan Bersama dan Waktu Luang
MODEL kepemilikan yang berbeda atas alat-alat produksi juga akan mengubah secara radikal penghayatan tentang waktu dalam masyarakat.

Dalam Kapital, Volume I, Marx mengungkapkan dengan begitu jelasnya alasan-alasan mengapa dalam kapitalisme ‘pemendekan hari kerja adalah […] sama sekali bukan tujuan yang hendak dicapai dalam produksi kapitalis, di mana kerja manusia dijadikan laba dengan meningkatkan produktivitasnya’. Waktu yang sebenarnya tersedia bagi para individu berkat kemajuan sains dan teknologi, pada kenyataannya langsung dikonversikan menjadi nilai-lebih. Sasaran kelas yang berkuasa hanyalah ‘pemendekan waktu kerja yang diperlukan untuk memproduksi sejumlah tertentu komoditas’. Tujuan satu-satunya dari pengembangan kekuatan produksi adalah ‘pemendekan bagian dari hari kerja di mana buruh harus bekerja untuk dirinya sendiri, dan penambahan […] bagian lainnya […] di mana ia dapat bekerja tanpa upah untuk si kapitalis’. Sistem ini berbeda dengan kerja paksa atau corvées pada tuan feodal, karena ‘kerja lebih dan kerja yang diperlukan bercampur aduk’ dan menjadikan kenyataan eksploitasi lebih sulit untuk ditangkap.

Dalam Grundrisse, Marx menunjukkan bahwa ‘waktu luang bagi sebagian orang’ hanyalah dimungkinkan karena adanya kerja lebih dari banyak orang. Kelas borjuis dapat mengamankan perkembangan kapabilitas material dan kulturalnya hanya karena adanya pembatasan dalam hal tersebut bagi kaum proletar. Hal yang sama terjadi di negara-negara kapitalis yang paling maju dengan mengorbankan mereka yang berada di pinggiran sistem. Dalam Manuskrip-Manuskrip 1861-1863, Marx menekankan bahwa ‘perkembangan bebas’ dari kelas yang berkuasa ‘didasarkan pada pembatasan perkembangan kelas pekerja’; ‘kerja lebih para buruh’ adalah ‘basis alami dari perkembangan sosial kelompok lainnya’. Waktu kerja lebih para pekerja bukan hanya merupakan pilar yang menyokong ‘kondisi-kondisi material bagi kehidupan’ bagi kaum borjuis; ia juga menciptakan kondisi-kondisi bagi ‘waktu luangnya, ruang bagi perkembangan[-nya]’. Marx mengekspresikan dengan sangat baik: ‘waktu luang suatu kelompok berkorespondensi dengan beban kerja bagi kelompok lain’.

Sebaliknya, masyarakat komunis akan dicirikan oleh pengurangan waktu kerja secara umum. Dalam ‘Instruksi-Instruksi bagi Delegasi Dewan Umum Sementara’, yang ditulisnya pada bulan Agustus 1866, Marx menulis dengan tepat: ‘Syarat awal, yang tanpanya seluruh upaya perbaikan dan emansipasi pasti terbukti gagal, adalah pembatasan hari kerja’. Ia dibutuhkan bukan hanya ‘untuk memulihkan kesehatan dan energi fisik kelas pekerja’, tetapi juga ‘memastikan bagi mereka kemungkinan perkembangan intelektual, interaksi sosial, tindakan sosial dan politik’. Mirip dengan itu, dalam Kapital, Volume I, sewaktu mencatat bahwa ‘waktu para pekerja untuk pendidikan, perkembangan intelektual, pemenuhan fungsi sosial, interaksi sosial, pendayagunaan kekuatan-kekuatan vital tubuh dan pikirannya’ terhitung sebagai ‘kebodohan’ di mata kelas kapitalis, Marx mengimplikasikan bahwa hal-hal ini akan menjadi elemen-elemen dasar dari masyarakat yang baru. Sebagaimana ia tuliskan dalam Grundrisse, pengurangan waktu yang diabdikan untuk bekerja – dan bukan hanya kerja untuk menciptakan nilai-lebih bagi kelas kapitalis – akan menolong ‘perkembangan artistik, saintifik, dll. orang per orang, yang dimungkinkan lewat waktu luang dan sarana-sarana yang diproduksi bagi mereka semua’.

Dengan dasar keyakinan-keyakinan ini Marx mengidentifikasi ‘ekonomi waktu [dan] distribusi waktu kerja yang terencana atas cabang-cabang produksi’ sebagai ‘hukum ekonomi produksi yang pertama’. Dalam Teori-Teori Nilai Lebih (1862-63) ia menjelaskan lebih jauh lagi bahwa ‘kekayaan sesungguhnya’ tidak lain adalah ‘waktu luang’. Dalam masyarakat komunis, pengelolaan mandiri para pekerja akan memastikan bahwa ‘jumlah waktu yang lebih banyak’ tidaklah ‘dihisap dalam kerja produktif langsung, melainkan […] tersedia untuk rekreasi, bersenang-senang, sehingga memungkinkan aktivitas dan perkembangan yang luas’. Dalam teks ini, dan juga dalam Grundrisse, Marx mengutip pamflet pendek anonim berjudul Sumber dan Solusi Kesulitan-Kesulitan Nasional, Dideduksikan dari Prinsip-Prinsip Ekonomi Politik, dalam Surat pada Tuan John Russell (1821). Pamflet itu memuat definisi tentang keadaan yang ia amini: yaitu bahwa, ‘Suatu bangsa adalah betul-betul kaya jika waktu kerjanya hanyalah enam jam, bukan dua belas. Kekayaan bukanlah penguasaan atas waktu kerja lebih’ (kekayaan sejati) ‘tetapi waktu luang, di luar waktu yang diabdikan untuk produksi, bagi setiap individu dan seluruh masyarakat’. Di bagian lain Grundrisse, ia melontarkan pertanyaan retoris: ‘Apakah kekayaan itu jika bukan universalitas kebutuhan, kapasitas, kesenangan, dan kekuatan produksi individu? […] Apakah ia jika bukan penyingkapan absolut kemampuan-kemampuan kreatif manusia?’ Dengan demikian terbukti bahwa model sosialis dalam pemikiran Marx bukanlah tentang keadaan miskin bersama, tetapi justru pencapaian kekayaan bersama.

II. Peran Negara, Hak Individu, dan Kebebasan
Dalam masyarakat komunis, bersamaan dengan perubahan-perubahan transformatif dalam ekonomi, peran negara dan fungsi politik juga akan didefinisikan kembali. Dalam Perang Saudara di Prancis, Marx berusaha untuk menjelaskan bahwa setelah perebutan kekuasaan, kelas pekerja harus berjuang untuk ‘membongkar landasan-landasan ekonomi yang di atasnya terbangun keberadaan kelas-kelas, dan karenanya dominasi kelas’. Ketika ‘buruh telah teremansipasi, setiap manusia akan menjadi pekerja, dan kerja produktif [akan] berhenti menjadi ciri suatu kelas’. Pernyataan terkenalnya bahwa ‘kelas pekerja tidak dapat begitu saja mengambil alih mesin-mesin negara dan menjalankannya untuk tujuan-tujuannya sendiri’ dimaksudkan untuk merujuk pada, sebagaimana diklarifikasi oleh Marx dan Engels dalam buklet Perpecahan Fiktif dalam Internasional, kenyataan bahwa ‘fungsi-fungsi pemerintahan beralih menjadi fungsi-fungsi administratif yang sederhana’. Dan dalam formulasi padat di Risalah tentang Statisme dan Anarki Bakunin, Marx menekankan bahwa ‘distribusi fungsi-fungsi umum [harus] menjadi urusan rutin yang tidak berdampak pada dominasi’. Proses ini akan menghindarkan bahaya bahwa pemberlakuan tugas-tugas politik akan menciptakan dinamika dominasi dan penundukan yang baru.

Marx percaya bahwa seiring perkembangan masyarakat modern, ‘kekuatan negara [telah] berangsur-angsur mengembangkan karakter kekuatan nasional kapital atas buruh, kekuatan publik yang terorganisir bagi perbudakan sosial, dan mesin penindasan kelas’. Sebaliknya, dalam komunisme, para pekerja akan harus mencegah negara menjadi penghalang bagi emansipasi seutuhnya. Akan menjadi penting untuk ‘mengamputasi’ organ-organ represif dari kekuatan pemerintahan lama, [bertarung melawan] fungsi-fungsi legalnya sebagai otoritas yang utama atas masyarakat dan mengembalikannya sebagai agen-agen masyarakat yang bertanggung jawab’. Dalam Kritik Program Gotha, Marx mengamati bahwa ‘kemerdekaan bergantung pada perubahan negara dari organ yang dipaksakan pada masyarakat menjadi sesuatu yang sepenuhnya tunduk padanya’, dan secara tajam menambahkan bahwa ‘bentuk-bentuk negara adalah lebih merdeka atau kurang merdeka dilihat dari sejauh mana mereka membatasi ‘kemerdekaan negara tersebut’”.

Dalam teks yang sama, Marx menggarisbawahi tuntutan bahwa dalam masyarakat komunis, kebijakan-kebijakan publik harus memprioritaskan ‘kepuasan kolektif atas kebutuhan-kebutuhan’. Pengeluaran anggaran untuk sekolah-sekolah, layanan kesehatan, dan barang-barang kebutuhan bersama akan ‘bertambah jika dibandingkan dengan masyarakat yang ada sekarang ketika masyarakat yang baru berkembang’. Pendidikan akan menempati posisi penting, dan — sebagaimana ia sebutkan dalam Perang Saudara di Prancis, merujuk pada model yang diadopsi oleh para pejuang Komune pada 1871 — ‘seluruh institusi pendidikan akan dibuka secara gratis dan […] dilepaskan dari campur tangan Gereja dan Negara’. Hanya dengan jalan inilah kebudayaan akan ‘dapat diakses semua orang’ dan ‘ilmu pengetahuan akan dibebaskan dari belenggu yang dipaksakan oleh prasangka kelas dan kuasa pemerintah’.

Tidak seperti masyarakat liberal, di mana ‘kesetaraan hak’ membiarkan ketimpangan sosial tetap terjaga, dalam masyarakat komunis ‘hak akan lebih menjadi tidak setara daripada setara’. Perubahan dalam arahan ini akan mengakui, dan melindungi, individu-individu berdasarkan kebutuhan-kebutuhan spesifik mereka dan kesulitan-kesulitan keadaan mereka, karena ‘mereka tidak akan menjadi individu yang berbeda jika mereka setara’. Lebih jauh lagi, akan menjadi mungkin untuk menetapkan bagian tugas dan kekayaan tiap individu secara adil. Masyarakat yang bertujuan untuk mengikuti prinsip ‘Dari setiap anggota menurut kemampuannya, bagi semua menurut kebutuhan mereka’ akan menghadapi jalan yang penuh kesulitan. Namun, hasil akhirnya tidak dijamin oleh ‘takdir progresif yang luar biasa’ (dalam ucapan Leopardi), dan bukan berarti kemajuannya tidak bisa dibalik.

Marx menempelkan nilai mendasar pada kebebasan individu, dan komunismenya secara radikal berbeda dengan penghapusan kelas-kelas yang dibayangkan oleh para pendahulu atau sebagian pengikutnya. Namun dalam Urtext, ia merujuk pada ‘kebodohan kaum sosialis (khususnya sosialis Prancis)’ yang menganggap ‘sosialisme sebagai realisasi ideal-ideal [borjuis], […] secara keliru menunjukkan bahwa pertukaran dan nilai tukar, dll., mulanya adalah […] sistem yang bebas dan setara bagi semua, tetapi [kemudian] dibelokkan oleh uang [dan] kapital’. Dalam Grundrisse, ia menyebut sebagai ‘absurditas’ anggapan bahwa ‘persaingan bebas adalah perkembangan puncak dari kebebasan manusia’; seperti juga kepercayaan bahwa ‘pemerintahan borjuis adalah titik akhir sejarah dunia’, yang ia olok-olok sebagai ‘pemikiran yang sesuai bagi pemegang kuasa baru dari masa lalu’.

Dengan cara yang sama, Marx menantang ideologi liberal yang memandang bahwa ‘negasi atas persaingan bebas [adalah] sama dengan negasi kebebasan individu dan produksi sosial yang didasarkan atas kebebasan individu’. Dalam masyarakat borjuis, ‘perkembangan bebas’ yang dimungkinkan hanya ‘ada dalam batasan dominasi kapital’. Namun ‘tipe kebebasan individu’ tersebut pada saat yang sama adalah ‘penghapusan seluruh kebebasan individu dan penundukan total individualitas pada kondisi-kondisi sosial yang mengambil bentuk kekuatan-kekuatan objektif, yaitu objek-objek berkuasa […] yang independen dari relasi individu satu dengan yang lain’.

III. Emansipasi Diri: Peran Kepemimpinan Pekerja
Alternatif dari keterasingan karena kapitalisme dapat dicapai hanya jika kelas tertindas menjadi sadar akan kondisi mereka sebagai budak-budak baru dan merintis perjuangan yang secara radikal mentransformasi dunia di mana mereka dieksploitasi. Namun mobilisasi dan partisipasi aktif mereka dalam proses ini tidak dapat berhenti pada hari setelah perebutan kekuasaan. Ia harus terus berlanjut, demi mencegah belokan pada sosialisme negara yang Marx selalu tentang dengan gigih dan penuh keyakinan.

Pada 1868, dalam surat pentingnya pada presiden Asosiasi Umum Pekerja Jerman, Marx menjelaskan bahwa di Jerman, ‘di mana pekerja diregulasi secara birokratis sejak kecil, di mana ia percaya pada otoritas, pada mereka yang posisinya di atas, hal yang penting adalah mengajarkannya untuk berjalan mandiri’. Ia tidak mengubah keyakinan ini selama hidupnya dan bukanlah suatu kebetulan jika poin pertama dari naskah aturan Asosiasi Pekerja Internasional berbunyi: ‘Emansipasi kelas pekerja harus dikuasai oleh kelas pekerja sendiri’. Ia lalu segera menambahkan bahwa perjuangan emansipasi kelas pekerja ‘tidak berarti perjuangan bagi privilese dan monopoli kelas, tetapi untuk hak dan tanggung jawab yang setara’.

Banyak partai politik dan rezim yang berdiri mengatasnamakan Marx menggunakan konsep ‘kediktatoran proletariat’ secara instrumental, menyelewengkan pemikiran Marx dan menyimpang dari arahan yang ia berikan. Bukan berarti kita ditakdirkan untuk mengulangi kesalahan tersebut.

Categories
Journalism

Konsepsi Marx tentang Komunisme (Bagian II)

I. Komunisme sebagai Perserikatan Merdeka
DALAM Kapital, Volume I, Marx berargumen bahwa kapitalisme adalah suatu moda produksi sosial yang ‘terdeterminasi secara historis’, di mana produk kerja ditransformasikan menjadi komoditas, dengan akibat bahwa individu-individu hanya dinilai sebagai produsen, dan keberadaan manusia ditundukkan pada kegiatan ‘produksi komoditas’.

Karenanya, ‘proses produksi’ telah ‘menguasai manusia, bukannya dikontrol olehnya’. Kapital ‘tidak peduli sama sekali pada panjangnya kehidupan buruh’ dan tidak menganggap penting peningkatan kondisi kehidupan kaum proletar. Kapital ‘mencapai tujuan ini dengan memperpendek usia buruh, seperti halnya petani yang serakah mengambil lebih banyak hasil panen dari tanah dengan mencuri kesuburannya’.

Dalam Grundrisse, Marx menyebut bahwa dalam kapitalisme, ‘karena tujuan kerja bukanlah untuk menghasilkan produk tertentu [dalam hubungan dengan] kebutuhan-kebutuhan spesifik individu, melainkan untuk mendapatkan uang […], kerja keras individu tidak ada batasannya’. Dalam masyarakat yang demikian, ‘seluruh waktu seseorang menjadi waktu kerja, dan konsekuensinya ia dijadikan sebagai buruh, ditundukkan untuk bekerja’. Namun ideologi borjuis mempresentasikan kenyataan ini seolah-olah individu-individu yang ada menikmati kebebasan lebih dan dilindungi oleh norma-norma legal yang bersifat adil dan sanggup untuk menjamin keadilan dan kesetaraan. Secara paradoks, meski faktanya perekonomian telah berkembang hingga level tertentu dan memampukan masyarakat untuk hidup dalam kondisi yang lebih baik dibanding sebelumnya, ‘mesin paling canggih ini sekarang memaksa buruh untuk bekerja lebih lama, dibanding ketika ia masih menggunakan peralatan-peralatan sederhana’.

Sebagai kontras, visi Marx tentang komunisme adalah ‘perserikatan individu-individu merdeka, yang bekerja dengan menggunakan alat-alat produksi yang dimiliki bersama, dan mengerahkan tenaga kerjanya dengan kesadaran penuh sebagai satu kekuatan kerja sosial’. Definisi-definisi serupa juga muncul dalam banyak tulisan Marx. Dalam Grundrisse, ia menulis bahwa masyarakat pasca-kapitalis akan dibangun atas ‘produksi kolektif’.

Dalam Manuskrip-Manuskrip Ekonomi tahun 1863-1867, ia berbicara tentang ‘transisi dari moda produksi kapitalis menuju moda produksi perserikatan buruh’. Dan dalam Kritik Program Gotha, ia mendefinisikan organisasi sosial yang ‘berdasarkan pada kepemilikan bersama alat-alat produksi’ sebagai ‘masyarakat kooperatif’.

Dalam Kapital, Volume I, Marx menjelaskan bahwa ‘prinsip utama’ dari ‘bentuk masyarakat yang lebih tinggi’ ini adalah ‘perkembangan penuh dan merdeka dari setiap individu’. Dalam Perang Saudara di Perancis, ia mengekspresikan persetujuannya atas langkah-langkah yang diambil oleh pada anggota komune, yang ‘menunjukkan tendensi pemerintahan dari rakyat dan oleh rakyat’. Lebih tepatnya, dalam evaluasi Marx tentang reformasi politiknya Komune Paris, ia menegaskan bahwa ‘pemerintahan terpusatnya tatanan lama pun juga harus membuka jalan bagi pemerintahan mandiri para produsen di provinsi-provinsi’. Ekspresi ini terulang dalam ‘Diskusi tentang Statism and Anarchy karya Bakunin’, di mana ia mengatakan bahwa perubahan sosial yang radikal akan ‘dimulai dengan pemerintahan mandiri komunitas-komunitas’. Ide Marx tentang masyarakat, karenanya, adalah antitesis dari sistem-sistem totaliter yang lahir atas namanya pada abad keduapuluh. Tulisan-tulisannya bermanfaat untuk memahami bukan hanya bagaimana kapitalisme bekerja, tetapi juga kegagalan eksperimen-eksperimen sosialis hingga hari ini.

II. Kebohongan-Kebohongan Pasar
Dengan mengacu pada apa yang disebut persaingan bebas, atau posisi pekerja dengan kapitalis yang kelihatannya setara dalam pasar masyarakat borjuis, Marx menyebut bahwa kenyataan yang ada sangatlah berkebalikan dengan apa yang digambarkan oleh para pembela kapitalisme sebagai kebebasan manusia. Sistem ini menjadi penghalang besar bagi demokrasi, dan ia menunjukkan dengan lebih baik daripada siapapun juga bahwa para pekerja tidak menerima upah setara dengan apa yang mereka hasilkan. Dalam Grundrisse, ia menjelaskan bahwa apa yang dipresentasikan sebagai ‘pertukaran setara’ sesungguhnya adalah apropriasi ‘waktu kerja tanpa pertukaran’; hubungan pertukaran ‘sepenuhnya lenyap’, atau menjadi ‘penampakan semata’. Hubungan antara orang per orang ‘hanyalah dimotivasikan oleh kepentingan diri’. ‘Konflik antar individu’ ini telah diabaikan dan dianggap sebagai ‘bentuk absolut kebebasan individu dalam ranah produksi dan pertukaran’. Tetapi bagi Marx, ‘tidak ada yang lebih jauh dari kebenaran’, karena ‘dalam kompetisi bebas, kapital-lah yang dibebaskan, bukan individu-individu’. Dalam Manuskrip-Manuskrip Ekonomi tahun 1863-1867, ia mengutuk fakta bahwa ‘kerja lebih itu dikantongi, atas nama masyarakat, oleh kapitalis’ – kerja lebih yang adalah ‘basis dari waktu bebas masyarakat’, dan karenanya, ‘basis material dari seluruh perkembangan dan peradabannya secara umum’. Dan dalam Kapital, Volume I, ia menunjukkan bahwa kekayaan kaum borjuis hanyalah dimungkinkan ‘dengan mengkonversikan seluruh waktu hidup massa rakyat menjadi waktu kerja’.

Dalam Grundrisse, Marx mengamati bahwa dalam kapitalisme, ‘individu-individu ditundukkan pada produksi sosial’, yang ‘hadir di luar diri mereka dan menjadi nasib bagi mereka’. Ini terjadi hanya melalui penyematan nilai-tukar pada hasil produksi, yang pembelian dan penjualannya terjadi setelah proses tersebut (post festum). Lebih jauh lagi, ‘seluruh kekuatan sosial produksi’ – termasuk penemuan-penemuan saintifik, yang nampak ‘asing dan eksternal’ bagi pekerja – diposisikan oleh kapital. Perserikatan para pekerja, dalam tempat-tempat dan kegiatan produksi, ‘dioperasikan oleh kapital’ dan karenanya ‘hanya bersifat formal’. Penggunaan barang-barang yang diciptakan oleh para pekerja ‘tidak dimediasi oleh pertukaran antara pekerja-pekerja independen atau produk-produk buruh’, melainkan ‘oleh keadaan-keadaan produksi sosial di mana individu menjalankan aktivitasnya’. Marx menjelaskan bagaimana aktivitas produksi di pabrik ‘berurusan dengan produk buruh semata, bukan para buruh sendiri’, karena ia ‘dibatasi pada tempat kerja umum di bawah pengarahan pengawas, kontrol ketat, disiplin, konsistensi, dan kebergantungan pada kapital dalam produksi itu sendiri’.

Dalam masyarakat komunis, secara kontras, produksi akan ‘langsung menjadi sosial’, ‘buah dari perserikatan yang mendistribusikan kerjanya secara internal’. Ia akan dikelola oleh individu-individu sebagai ‘kekayaan bersama’. ‘Karakter sosial produksi’ akan ‘sedari awal menjadikan produknya komunal dan umum’; karakter perserikatannya akan ‘menjadi dasar’ dan ‘kerja individu […] akan menjadi kerja sosial’. Sebagaimana ditekankan oleh Marx dalam Kritik Program Gotha, dalam masyarakat pasca-kapitalis, ‘kerja individu bukan lagi secara tidak langsung menjadi komponen dari kerja secara keseluruhan, melainkan secara langsung’. Sebagai tambahan, para pekerja akan mampu menciptakan kondisi-kondisi yang pada akhirnya akan melenyapkan ‘penundukan yang memperbudak atas individu pada pembagian kerja’.

III. Produksi Sosialis dan Pertanyaan Ekologis
Dalam Kapital, Volume I, Marx menekankan bahwa dalam masyarakat borjuis ‘buruh ada untuk proses produksi, bukan proses produksi untuk buruh’. Lebih-lebih, paralel dengan eksploitasi buruh, berkembang pula eksploitasi lingkungan. Kontras dengan penafsiran-penafsiran yang mereduksi konsepsi Marx tentang masyarakat komunis pada perkembangan kekuatan produksi belaka, ia menunjukkan minat besar pada apa yang kita kini sebut sebagai pertanyaan ekologis. Ia secara berulang kali mengutuk fakta bahwa ‘semua kemajuan dalam pertanian kapitalis adalah kemajuan dalam seni untuk bukan hanya merampok pekerja, tetapi juga merampok tanah’.

Dalam komunisme, kondisi-kondisi akan tercipta untuk pembentukan ‘kooperasi terencana’, yang melaluinya pekerja ‘melucuti belenggu individualitasnya dan mengembangkan kapabilitas spesiesnya’. Dalam Kapital, Volume II, Marx menunjukkan bahwa masyarakat kemudian akan berada dalam posisi untuk ‘mengenali di muka berapa banyak kerja, alat produksi, dan sarana mencukupi kebutuhan hidup yang dapat dikeluarkan, tanpa berdampak pada dislokasi’, tidak seperti dalam kapitalisme ‘di mana rasionalitas sosial hanya menegaskan diri belakangan (post festum)’ dan ‘gangguan-gangguan besar dapat dan harus terjadi secara konstan’. Dalam beberapa bagian Kapital, Volume III, Marx juga mengklarifikasi perbedaan-perbedaan antara moda produksi sosialis dengan moda produksi berbasis pasar, mengantisipasi kelahiran masyarakat ‘yang diorganisir sebagai perserikatan yang sadar’. Ia juga menambahkan: ‘hanya di mana produksi berlangsung di bawah kontrol dan penentuan masyarakatlah, masyarakat itu sendiri menetapkan hubungan antara jumlah waktu kerja sosial yang diaplikasikan untuk menghasilkan produksi dalam jumlah tertentu, dengan jumlah kebutuhan sosial yang hendak dipuaskan’.

Akhirnya, dalam catatan kecilnya tentang Traktat tentang Ekonomi Politik dari Adolf Wagner, Marx menjelaskan bahwa dalam masyarakat komunis ‘volume produksi’ akan ‘diregulasi secara rasional’. Ini memungkinkan dihapuskannya pemborosan karena ‘sistem kompetisi yang anarkis’, yang lewat krisis-krisis strukturalnya yang berulang, bukan hanya melibatkan ‘pemborosan luar biasa tenaga kerja dan sarana produksi sosial’, tetapi juga tak mampu menyelesaikan kontradiksi-kontradiksi yang pada dasarnya berakar dari ‘penggunaan mesin ala kapitalis’.

Berlawanan dengan pandangan banyak pemikir sosialis di masa Marx, redistribusi barang konsumsi tidaklah cukup untuk membalikkan keadaan ini. Perubahan pada akar dan batang dari aset-aset produktif masyarakat haruslah dilakukan. Maka dalam Grundrisse, Marx mencatat bahwa ‘membiarkan sistem upah dan pada saat yang sama menghapuskan kapital [adalah] tuntutan yang kontradiktif dan menegasikan dirinya sendiri’. Apa yang diperlukan adalah ‘penghapusan moda produksi ini dan bentuk masyarakat yang didasarkan pada nilai tukar’. Dalam pesannya yang diterbitkan dalam Nilai, Harga dan Profit, ia memanggil para pekerja untuk tidak ‘menuliskan pada bendera’ mereka ‘motto konservatif: ‘Upah harian yang layak untuk kerja harian yang layak!’ [tetapi] slogan revolusioner: ‘Penghapusan sistem perupahan!’

Lebih jauh lagi, Kritik Program Gotha dengan tepat menunjukkan bahwa dalam moda produksi kapitalis, ‘kondisi-kondisi material produksi ada di tangan non-pekerja dalam bentuk kapital dan kepemilikan tanah, sementara massa rakyat hanyalah pemilik syarat produksi yang personal, yakni tenaga kerja’. Karenanya, adalah esensial untuk menjungkirbalikkan relasi kepemilikan yang mendasari moda produksi borjuis. Dalam Grundrisse, Marx menyebut bahwa ‘hukum-hukum kepemilikan pribadi – kemerdekaan, kesetaraan, kepemilikan – kepemilikan atas kerja sendiri dan kemampuan untuk menyerahkannya secara bebas – dibalik menjadi ketakbermilikan pekerja dan alienasi kerjanya, relasi dengan hasil kerjanya sebagai properti asing dan sebaliknya’. Dan pada tahun 1989, dalam laporan pada Dewan Umum Perserikatan Pekerja Internasional, ia menegaskan bahwa ‘kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi’ memberikan pada kelas borjuis ‘kekuatan untuk hidup tanpa bekerja, dari kerja orang lain’. Ia mengulangi poin ini dalam tulisan politik pendek lainnya, ‘Pendahuluan untuk Program Partai Pekerja Perancis’, dengan menambahkan bahwa ‘para produsen tidak mungkin merdeka kecuali mereka memiliki alat-alat produksi’ dan bahwa tujuan perjuangan proletar haruslah ‘mengembalikan seluruh alat produksi ke dalam kepemilikan kolektif’.

Dalam Kapital, Volume III, Marx mengamati bahwa ketika para pekerja telah menegakkan moda produksi komunis ‘kepemilikan pribadi atas bumi oleh individu-individu tunggal [akan] tampak sama absurdnya seperti halnya kepemilikan pribadi satu orang oleh orang lain’. Ia mengarahkan kritiknya yang paling radikal terhadap kepemilikan paling destruktif yang inheren dalam kapitalisme, dengan menekankan bahwa ‘bahkan seluruh masyarakat, bangsa, atau bahkan seluruh masyarakat yang ada yang digabungkan secara simultan, bukanlah pemilik bumi’. Bagi Marx, manusia ‘hanyalah penghuninya, penggunanya, dan mereka harus meninggalkannya [planet bumi] dalam keadaan yang lebih baik untuk generasi-generasi selanjutnya, seperti kepala keluarga yang baik’.

Categories
Journalism

Konsepsi Marx tentang Komunisme (Bagian I)

I. Di mana dan Mengapa Marx Menulis tentang Komunisme
Marx menetapkan bagi dirinya sendiri tugas yang sepenuhnya berbeda dengan kaum sosialis sebelumnya; prioritas mutlaknya adalah ‘menyingkapkan hukum gerak ekonomi masyarakat modern’.

Tujuannya ialah mengembangkan kritik menyeluruh atas moda produksi kapitalis, yang akan mendukung kaum proletar, subjek revolusioner yang utama, dalam menggulingkan sistem sosial-ekonomi yang ada sekarang.

Selain itu, karena ia sama sekali tak berharap untuk menciptakan agama baru, Marx menahan diri untuk tidak mempromosikan gagasan yang menurutnya secara teoretis tidak berfaedah dan secara politis kontra-produktif: model universal masyarakat komunis. Karena alasan inilah, dalam ‘Penutup Edisi Kedua’ (1873) dari Kapital, Volume I (1867), ia menjelaskan bahwa dirinya tidak punya minat untuk ‘menulis resep-resep bagi toko-toko masakan di masa depan’. Ia juga menerangkan maksud pernyataan terkenal ini dalam ‘Catatan-Catatan Kecil untuk Wagner’ (1879-80), di mana sebagai respon atas kritik dari ekonom Jerman Adolph Wagner (1835-1917), ia menegaskan bahwa dirinya tak pernah ‘menegakkan suatu ‘sistem sosialis’.

Marx melontarkan deklarasi serupa dalam tulisan-tulisan politiknya. Dalam Perang Saudara di Prancis (1871), ia menulis tentang Komune Paris, perebutan kekuasaan pertama oleh kelas bawah: ‘Kelas pekerja tidak mengharapkan mujizat dari Komune. Mereka tidak memiliki bekal utopia siap-saji yang tinggal diperkenalkan lewat dekrit rakyat’. Sebaliknya, emansipasi kaum proletar harus ‘melalui perjuangan panjang, rangkaian proses sejarah, yang mengubah keadaan dan manusia’. Poinnya bukanlah ‘merealisasikan hal-hal ideal’, melainkan ‘membebaskan elemen-elemen baru dari masyarakat baru yang tengah dikandung oleh masyarakat borjuis yang telah menua dan mendekati keruntuhannya’.

Akhirnya, Marx mengatakan banyak hal serupa dalam korespondensinya dengan pemimpin-pemimpin gerakan buruh Eropa. Pada tahun 1881, misalnya, ketika Ferdinand Nieuwenhuis (1846-1919), perwakilan utama Liga Sosial-Demokrat di Belanda, menanyakan kepadanya tentang hal-hal apa yang pemerintahan revolusioner harus lakukan untuk menegakkan masyarakat sosialis setelah merebut kekuasaan, Marx menjawab bahwa ia selalu menganggap pertanyaan-pertanyaan semacam itu ‘keliru’, dan berargumen bahwa ‘apa yang harus dilakukan … pada suatu momen tertentu tentu bergantung sepenuhnya pada situasi-situasi aktual sejarah di mana tindakan tersebut hendak diterapkan’. Ia meyakini bahwa adalah mustahil untuk ‘menyelesaikan suatu persamaan matematika yang tidak mengandung elemen-elemen solusinya’; ‘antisipasi doktriner dan fantastis tentang program aksi revolusi di masa depan hanya akan mengalihkan perhatian dari perjuangan di masa kini’.

Namun demikian, tak seperti klaim para komentator yang keliru memahami, Marx telah mengembangkan, baik dalam terbitan maupun bukan, sejumlah diskusi tentang masyarakat komunis yang muncul di tiga jenis teks. Pertama, teks-teks di mana Marx mengkritik ide-ide yang ia anggap salah secara teoritis dan beresiko untuk menyesatkan kaum sosialis di masanya. Beberapa bagian dari Manuskrip-Manuskrip Ekonomi dan Filsafat tahun 1844 dan Ideologi Jerman; bab tentang ‘Literatur Sosialis dan Komunis’ dalam Manifesto Komunis, kritik atas Pierre-Joseph Proudhon dalam Grundrisse, Urtext, dan Kontribusi pada Kritik Ekonomi-Politik; teks-teks dari awal tahun 1870-an yang diarahkan pada anarkisme; dan tesis-tesis yang mengkritik Ferdinand Lassalle (1825-1864) dalam Kritik Program Gotha (1875) tergolong dalam kategori ini. Sebagai tambahan, catatan-catatan kritis Marx atas Proudhon, Lassalle, dan komponen anarkis dari Asosiasi Pekerja Internasional yang tersebar dalam surat-suratnya juga dapat digolongkan dalam bagian ini.

Golongan kedua ialah tulisan-tulisan militan dan propaganda politik yang ditulis untuk organisasi-organisasi kelas pekerja. Di dalamnya, Marx mencoba untuk menyuguhkan indikasi-indikasi yang lebih konkret tentang masyarakat yang mereka perjuangkan dan instrumen-instrumen yang diperlukan untuk membangunnya. Yang termasuk dalam grup ini adalah Manifesto Komunis, resolusi, laporan, dan pesan untuk Asosiasi Pekerja Internasional—termasuk Nilai, Harga, dan Profit dan Perang Saudara di Prancis—serta beragam artikel-artikel jurnalistik, ceramah publik, pidato, surat untuk kelompok militan, dan dokumen-dokumen pendek seperti Program Minimum Partai Pekerja Prancis.

Golongan ketiga dan terakhir adalah teks-teks tentang kapitalisme, yang mengandung diskusi-diskusi terpanjang dan paling mendetil dari Marx tentang karakteristik masyarakat komunis. Bab-bab penting Kapital dan manuskrip-manuskrip persiapan, khususnya teks penting seperti Grundrisse, mengandung beberapa gagasan utamanya tentang sosialisme. Pengamatan-pengamatan kritisnya mengenai aspek-aspek moda produksi yang dominanlah, persisnya, yang merangsang refleksi-refleksi tentang masyarakat komunis, dan bukanlah suatu kebetulan bahwa dalam beberapa kasus, halaman-halaman karyanya secara berurutan dan bergantian membahas dua tema ini.

Pembelajaran yang teliti atas diskusi-diskusi Marx tentang komunisme akan menolong kita untuk membedakan konsepsi Marx sendiri dengan konsepsi rezim-rezim abad keduapuluh, yang meski mengklaim diri bertindak atas namanya, melakukan rangkaian kejahatan dan kekejaman. Lewat pembedaan ini, menjadi mungkin bagi kita untuk menempatkan kembali proyek politik Marxian dalam horison yang sesuai: perjuangan untuk emansipasi mereka yang disebut Saint-Simon ‘kelas termiskin dan terbanyak’.

Catatan-catatan Marx tentang komunisme tidak boleh dianggap sebagai model yang harus diikuti secara dogmatis, tidak juga sebagai solusi yang secara pukul rata bisa diterapkan di segala tempat dan kesempatan. Namun sketsa-sketsa ini tetap merupakan harta karun teoritis yang tak ternilai, yang masih bermanfaat pada hari ini untuk mengkritik kapitalisme.

II. Keterbatasan-keterbatasan Formulasi-formulasi Awal
Tidak seperti klaim-klaim yang disusun oleh propaganda Marxis-Leninis tertentu, teori-teori Marx bukanlah hasil dari kebijaksanaan yang sifatnya bawaan lahir, melainkan hasil dari proses penyempurnaan konseptual dan politik yang panjang. Studi intensif atas ilmu ekonomi dan disiplin-disiplin ilmu lainnya, bersama dengan observasi tentang peristiwa-peristiwa sejarah yang aktual, khususnya Komune Paris, sangatlah penting bagi perkembangan pemikirannya tentang masyarakat komunis.

Beberapa tulisan awal Marx—banyak di antaranya tidak ia selesaikan atau terbitkan—secara mengejutkan sering dianggap sebagai sintesis dari ide-idenya yang paling signifikan. Tetapi faktanya, mereka semua menunjukkan keterbatasan-keterbatasan dari konsepsi-konsepsi awalnya tentang masyarakat pasca-kapitalis.

Dalam Manuskrip-Manuskrip Ekonomi dan Filsafat tahun 1844, Marx menulis tentang persoalan-persoalan ini dengan sangat abstrak, karena ia belum sanggup memperluas studi-studi ekonominya dan baru memperoleh pengalaman politik yang minim pada saat itu. Pada kesempatan tertentu, ia mendeskripsikan ‘komunisme’ sebagai ‘negasi atas negasi’, sebagai ‘momen dialektika Hegelian’: ‘ekspresi positif dari penghapusan kepemilikan pribadi’. Namun pada kesempatan lain, terinspirasi dari Ludwig Feuerbach (1804-1872), ia menulis bahwa:

komunisme, sebagai perkembangan penuh dari naturalisme, sama dengan humanisme, dan sebagai perkembangan penuh dari humanisme sama dengan naturalisme; ia merupakan resolusi sejati atas konflik manusia dengan alam dan antara manusia dengan manusia—resolusi tulen atas ketegangan eksistensi dengan esensi, antara objektivikasi dan konfirmasi diri, antara kebebasan dan keniscayaan, antara individu dan spesiesnya.

Beberapa bagian dari Manuskrip-Manuskrip Ekonomi dan Filsafat tahun 1844 dipengaruhi oleh matriks teologis filsafat sejarah Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831): misalnya, argumen bahwa ‘seluruh pergerakan sejarah [telah] membidani kelahiran komunisme’; atau bahwa komunisme adalah ‘teka-teki sejarah yang terpecahkan’, yang ‘sadar bahwa dirinya adalah solusi’.

Ideologi Jerman,yang ditulis oleh Marx bersama dengan Engels dan tadinya dimaksudkan untuk menyertakan teks dari pengarang lain, juga mengandung kutipan terkenal yang telah menimbulkan kebingungan di antara para penafsir karya Marx. Dalam sebuah halaman yang tak dituntaskan, kita membaca bahwa sementara dalam masyarakat kapitalis, dengan pembagian kerjanya, setiap manusia ‘memiliki area beraktivitas yang partikular dan eksklusif’, dalam masyarakat komunis:

masyarakat mengatur produksi umum dan karenanya memungkinkan saya untuk mengerjakan satu hal hari ini dan hal lain keesokannya, berburu di pagi hari, memancing di siang hari, menggiring ternak di sore hari, melakukan kritik setelah makan malam, karena saya mampu berpikir, tanpa secara khusus menjadi pemburu, pemancing, gembala, ataupun kritikus.

Banyak pengarang, baik Marxis maupun anti-Marxis, percaya bahwa ini merupakan karakteristik utama masyarakat komunis bagi Marx—pandangan yang dapat mereka pegang karena kurang akrab dengan Kapital dan teks-teks politik penting lainnya. Meski ada banyak analisis dan diskusi tentang manuskrip 1845-46, mereka tidak sadar bahwa kutipan ini merupakan formulasi kembali ide tua—dan terkenal—dari Charles Fourier, yang diadopsi oleh Engels namun ditolak oleh Marx.

Di tengah keterbatasan-keterbatasan ini, Ideologi Jerman merepresentasikan kemajuan yang nyata dibanding dengan Manuskrip-Manuskrip Ekonomi dan Filsafat tahun 1844. Sementara yang terakhir ini dipengaruhi oleh idealisme Hegelian Kiri—kelompok yang diikuti Marx hingga 1842—dan minim diskusi politik konkret, Ideologi Jerman menegaskan bahwa ‘adalah mungkin untuk mencapai pembebasan yang riil hanya dalam dunia yang riil dan dengan perangkat-perangkat yang riil’. Komunisme, karenanya, seharusnya tidak dianggap sebagai ‘keadaan yang hendak ditegakkan, angan-angan ideal yang kepadanya kenyataan harus menyesuaikan diri, [tetapi sebagai] gerakan riil yang menghapuskan keadaan yang sekarang’.

Dalam Ideologi Jerman, Marx juga menggambarkan sketsa ekonomi masyarakat masa depan. Sementara revolusi-revolusi sebelumnya hanya menghasilkan ‘pembagian kerja yang baru pada orang-orang lain’,

Komunisme berbeda dengan semua gerakan di masa lalu karena ia menjungkirbalikkan basis dari semua relasi produksi sebelumnya, dan untuk pertama kalinya secara sadar memperlakukan segala premis yang dianggap natural sebagai ciptaan manusia, melucuti mereka dari status alami dan menundukkan mereka pada kekuatan individu-individu yang bersatu. Pengorganisasiannya karena itu secara esensial adalah ekonomik, yaitu produksi material dari syarat-syarat persatuan ini.

Marx juga menyatakan bahwa ‘secara empiris, komunisme hanya mungkin terjadi lewat tindakan rakyat yang berkuasa “secara kompak” dan simultan’. Dalam pandangannya, hal ini mengasumsikan ‘perkembangan universal dari kekuatan-kekuatan produksi’ dan ‘keterhubungan dunia yang menyertainya’. Lebih jauh lagi, untuk pertama kalinya Marx menghadapi tema politik yang fundamental, yang akan ia angkat lagi di masa depan: kelahiran komunisme sebagai akhir dari tirani kelas. Karena revolusi akan ‘menghapuskan kekuasaan semua kelas bersama dengan keberadaan kelas-kelas itu sendiri, karena ia dilaksanakan oleh kelas yang tak lagi terhitung sebagai kelas dalam masyarakat, yang tidak diakui sebagai kelas, dan yang pada dirinya sendiri adalah ekspresi dari peleburan semua kelas dan kebangsaan’.

III. Pengamatan-pengamatan Manifesto Komunis
Marx melanjutkan, bersama Engels, pengembangan refleksi-refleksinya tentang masyarakat pasca-kapitalis dalam Manifesto Komunis. Dalam teks ini, yang lewat analisis mendalamnya tentang perubahan-perubahan yang diakibatkan oleh kapitalisme, berhasil melampaui literatur sosialis yang ada pada masa itu, poin yang paling menarik tentang komunisme ialah mengenai relasi kepemilikan. Marx mengamati bahwa transformasi radikal dari relasi ini ‘sama sekali bukan merupakan karakter unik komunisme’, karena moda-moda produksi baru yang lain dalam sejarah juga membawa perubahan serupa. Bagi Marx, sebagai bantahan kepada klaim-klaim propaganda bahwa kaum komunis akan menghalangi perolehan personal atas hasil kerja, ‘karakter unik komunisme’ bukanlah ‘penghapusan kepemilikan secara umum, melainkan penghapusan kepemilikan borjuis’, penghapusan ‘kekuatan untuk mengambil produk-produk masyarakat […] untuk menundukkan kerja orang lain’. Di matanya, ‘teori kaum komunis’ dapat diringkas dalam satu kalimat: ‘penghapusan kepemilikan pribadi’.

Dalam Manifesto Komunis, Marx juga mengusulkan sepuluh tolok ukur awal yang harus dicapai dalam ekonomi paling maju, menyusul perebutan kekuasaan. Mereka mencakup ‘penghapusan kepemilikan tanah dan penggunaan seluruh biaya sewa tanah untuk kepentingan publik’; sentralisasi kredit di tangan negara, lewat bank nasional […]; sentralisasi sarana komunikasi dan transportasi di tangan negara […]; pendidikan gratis untuk semua anak di sekolah-sekolah publik’, dan juga ‘penghapusan hak warisan’, tolok ukur dari Saint-Simon yang belakangan ia tolak secara tegas.

Seperti halnya dengan manuskrip-manuskrip yang ditulis antara 1844 hingga 1846, adalah sebuah kesalahan jika tolok ukur yang didaftar Marx dalam Manifesto Komunis tersebut—ditulis ketika Marx baru berusia tiga puluh tahun—dianggap sebagai pandangan finalnya tentang masyarakat pasca-kapitalis. Pendewasaan penuh pemikirannya bakal menuntut tahun-tahun pembelajaran serta pengalaman politik yang panjang.

Categories
Journalism

Mitos ‘Marx Muda’ dalam Penafsiran-Penafsiran atas Naskah-Naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844 (Bagian III)

Superioritas, Patahan, atau Kontinuitas?
APAPUN disiplin akademik ataupun afiliasi politik mereka, para penafsir Naskah-Naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844 dapat dibagi ke dalam tiga kelompok.

Yang pertama terdiri dari mereka semua yang, dengan mempertentangkan naskah-naskah Paris dengan Kapital, menekankan keutamaan teoretis karya yang lebih awal tersebut. Kelompok kedua secara umum menyepelekan signifikansi naskah-naskah tersebut, sementara kelompok ketiga condong pada tesis bahwa ada kesinambungan teoretis antara naskah-naskah tersebut dengan Kapital.

Mereka yang mengasumsikan pembelahan antara Marx ‘muda’ dan ‘dewasa’, dan berargumen tentang kekayaan teoretis yang lebih besar pada yang pertama, menampilkan Naskah-Naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844 sebagai tulisannya yang paling bernilai dan membedakannya secara tajam dengan karya-karyanya yang belakangan. Secara khusus, mereka cenderung untuk meminggirkan Kapital, seringkali tanpa mempelajarinya secara mendalam—buku dengan tuntutan yang lebih berat untuk dipelajari dibandingkan dengan sekitar dua puluh halaman pembahasan tentang kerja yang teralienasi dalam Naskah-Naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844, yang mengenainya hampir semua mengajukan perenungan-perenungan filosofis. Para perintis garis penafsiran ini adalah Landshut dan Meyer, kemudian segera disusul oleh Henri de Man. Dengan menyoroti pemikiran Marx sebagai ajaran etis-humanis, penulis-penulis ini mengejar tujuan politik mereka, yaitu melawan ortodoksi kaku Marxisme Soviet tahun 1930-an dan menantang hegemoninya dalam gerakan kelas pekerja. Serangan teoretis ini menghasilkan sesuatu yang sangat berbeda, dan cenderung untuk memperluas lahan potensial teori Marxis. Meski formulasi-formulasinya seringkali kabur dan bersifat umum, Marxisme tidak lagi melulu dianggap sebagai teori ekonomi yang determinis dan mulai mendorong ketertarikan yang lebih besar dari sejumlah besar intelektual dan anak-anak muda.

Pendekatan ini mulai mengalami kemajuan segera setelah penerbitan Naskah-Naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844 dan terus memenangkan pengikut-pengikut baru hingga akhir 1950-an, sebagian karena efek eksplosif dari sebuah teks baru yang begitu berbeda dengan kanon dominan Marxisme. Sponsor-sponsornya adalah beraneka ragam kelompok Marxis heterodoks, Kristen progresif dan para filsuf eksistensialis, yang menafsirkan tulisan-tulisan ekonomi Marx sebagai langkah mundur dari apa yang mereka lihat sebagai sentralitas pribadi manusia dalam teori-teori awalnya. Setelah Perang Dunia Kedua, figur-figur utamanya adalah Their, Poppitz dan Hommes di Jerman, dan—meski mereka tidak secara jelas mendukung klaim superioritas naskah-naskah 1844—Merleau-Ponty, Bigo, Calvez, serta Axelos di Prancis dan Fromm di Amerika Serikat. Raymond Aron, yang pada 1968 menentang mereka yang melihat naskah-naskah tersebut sebagai pusat gravitasi Marxisme, secara sempurna merangkum paradoks mereka yang paling menusuk: ‘Dua puluh tahun lalu, ortodoksi dari area Latin Quarter menganggap Naskah-Naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844 sebagai kata final dalam filsafat Marxis, bahkan sekalipun, jika seseorang setia pada teks tersebut, Marx sendiri menertawakan bahasa dan tipe analisis yang ia adopsi dalam karya-karya awalnya.’

Kelompok penafsir yang kedua, yang menganggap Naskah-Naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844 sebagai teks transisional tanpa signifikansi khusus dalam perkembangan pemikiran Marx. Sejak pengantar Adoratskii pada edisi MEGA tahun 1932, posisi ini adalah yang paling dibaca luas di Uni Soviet dan negara-negara satelitnya yang belakangan. Kegagalan naskah-naskah tersebut untuk menyebut ‘kediktatoran proletariat’, bersama dengan kehadiran tema-tema seperti keterasingan manusia dan eksploitasi buruh yang menyoroti kontradiksi-kontradiksi yang paling nyata dalam praktik sosialisme Uni Soviet, menuntun pada pengucilannya oleh kepemimpinan puncak partai-partai Komunis. Bukan kebetulan bahwa naskah-naskah tersebut dieksklusikan dari edisi-edisi karya Marx dan Engels di beberapa negara ‘blok sosialis’. Terlebih lagi, banyak penulis dari kelompok ini yang sepenuhnya mendukung definisi Lenin tentang tahapan-tahapan dalam perkembangan pemikiran Marx—pendekatan yang belakangan dikanonisasikan oleh Marxisme-Leninisme, yang, selain dalam banyak hal patut dipertanyakan secara teoretis dan politis, menjadikan pengakuan atas karya penting Marx yang baru terbit untuk pertama kalinya delapan tahun setelah kematian sang pemimpin Bolshevik menjadi sebuah kemustahilan.

Seiring dengan perkembangan pengaruh mazhab Althusserian di tahun 1960-an, pembacaan ini juga menjadi populer di Prancis dan bagian Eropa Barat lainnya. Tetapi, meski prinsip-prinsip mendasarnya biasanya diatributkan pada Althusser sendiri, benih-benihnya sudah ada pada Naville: yaitu keyakinan bahwa Marxisme adalah sains dan bahwa karya-karya awal Marx, yang masih dijiwai oleh bahasa dan perhatian Hegelianisme Kiri, menandai sebuah tahapan sebelum kelahiran ‘sains baru’ dalam Kapital. Bagi Althusser, seperti telah kita lihat, Naskah-Naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844 merepresentasikan Marx yang paling jauh dari Marxisme.

Pandangan yang mempertentangkan tulisan-tulisan Marx awal dengan kritik ekonomi-politiknya, yang secara filologis tidak berdasar, beredar di kalangan Marxis pembangkang dan ‘revisionis’ yang ingin memprioritaskan tulisan-tulisan awal tersebut, dan kelompok Komunis ortodoks yang berfokus pada Marx ‘dewasa’. Keduanya berkontribusi pada kesalahpahaman yang prinsipiil dalam sejarah Marxisme: mitos ‘Marx Muda’.

Kelompok penafsir Naskah-Naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844 yang ketiga dan terakhir terdiri dari mereka yang, dari posisi politik dan teoretis yang berbeda, menangkap kesinambungan substansi dalam karya Marx. Pendekatan ini bisa dilacak hingga Marcuse atau Lukács di Jerman dan Hyppolite atau Rubel di Prancis, dan menjadi hegemonik dalam dunia berbahasa Inggris lewat karya Tucker, McLellan, dan Ollman, lalu menyebar secara lebih luas ke hampir seluruh penjuru dunia sejak tahun 60-an, seperti disaksikan oleh tulisan-tulisan Fischer, Avineri, Mészáros, dan Schaff. Ide tentang kesinambungan hakiki Marxian ini, yang bertentangan dengan pandangan tentang patahan epistemologis tajam yang mendiskualifikasi tulisan-tulisan yang lebih awal, menginspirasi beberapa penafsiran terbaik atas Naskah-Naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844, seperti karya non-dogmatis Lefebvre dan Mandel yang mampu mengapresiasi nilainya, dengan segala kontradiksi dan ketidaklengkapan dalam naskah-naskah tersebut. Meski demikian, tetap ada kesalahan-kesalahan penafsiran—yang paling jelas dalam beberapa penulis adalah sikap meremehkan perkembangan-perkembangan pemikiran Marx pada tahun 1850-an dan 1860-an dalam bidang ekonomi-politik. Hal ini seiring dengan kecenderungan untuk merekonstruksi pemikiran Marx melalui koleksi kutipan, tanpa memperhatikan periode-periode penulisannya. Seringkali hasilnya adalah penyesuaian dengan visi partikular sang penafsir sendiri, lewat potongan-potongan yang dirangkai begitu saja dari Naskah-Naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844 dan Kapital, seolah-olah karya Marx merupakan teks yang ditulis secara bersamaan.

Keterbatasan-Keterbatasan Marx di tahun 1844
Menggarisbawahi pentingnya Naskah-Naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844 demi pemahaman yang lebih baik tentang perkembangan pemikiran Marx tidak berarti bersikap diam atas keterbatasan-keterbatasan dalam teks yang ditulisnya waktu muda ini. Dalam teks tersebut, Marx belum mulai menyerap konsep-konsep dasar ekonomi-politik, dan konsepsinya tentang komunisme tidaklah lebih daripada sintesis yang membingungkan dari studi-studi filsafat yang ia lakukan sebelumnya. Meski memikat, khususnya bagaimana ia mengombinasikan ide-ide filosofis Hegel dan Feuerbach dengan kritik teori ekonomi klasik dan dengan protes atas alienasi kelas pekerja, Naskah-Naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844 hanyalah eksperimentasi awal, sebagaimana nyata dalam kerancuan dan sifat eklektiknya. Naskah-naskah tersebut memperjelas jalur yang Marx ambil, tetapi jarak yang jauh tetap memisahkan mereka dari tema-tema dan argumen dari bukan hanya Volume 1 Kapital yang selesai tahun 1867, tetapi juga dari naskah-naskah persiapan Kapital, salah satunya diterbitkan, yang Marx siapkan sejak tahun 50-an.

Kontras dengan analisis-analisis yang entah memainkan keunikan ‘Marx Muda’ atau coba memaksakan patahan teoretis pada karyanya, pembacaan-pembacaan yang paling tajam atas Naskah-Naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844 tahu bagaimana memperlakukan naskah-naskah tersebut sebagai karya yang menarik, namun hanya mencerminkan tahapan awal dalam trayektori Marx. Seandainya ia tidak melanjutkan penelitiannya dan hanya berhenti pada konsep-konsep dalam naskah-naskah Paris, ia mungkin telah ditempatkan di samping Bauer dan Feuerbach dalam bagian-bagian manual filsafat bagi kelompok Hegelian Kiri. Sebaliknya, berdekade-dekade aktivitas politik, studi dan karya kritis yang terus-menerus atas ratusan volume ekonomi-politik, sejarah, dan disiplin-disiplin lain, mengubah intelektual tahun 1844 itu menjadi salah satu pemikir yang paling brilian dalam sejarah umat manusia. Sebagai hasilnya, tahapan-tahapan awal dari perkembangan teoretisnya, yang terutama nampak dalam Naskah-Naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844, meraih signifikansi yang akan memicu para pembaca dan peneliti lintas generasi.

Categories
Journalism

Mitos ‘Marx Muda’ dalam Penafsiran-penafsiran atas Naskah-naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844 (Bagian II)

Penafsiran awal dari (Naskah-naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844)
KETIKA pertama kali terbit pada tahun 1932, Manuskrip Ekonomi-Filsafat tahun 1844 menjadi salah satu materi utama pertentangan antara ‘Marxisme Soviet’ dan ‘Marxisme Barat’.
Pengantar yang menyertai publikasi keduanya menghasilkan perbedaan pendekatan yang tajam. Viktor Adoratskii, direktur MEGA yang menggantikan David Ryazanov pada tahun 1931, setelah pembersihan Institut Marx-Engels (baru-baru ini berganti nama menjadi Marx-Engels-Lenin Institute), mempresentasikan tema manuskrip sebagai sebuah ‘analisis tentang uang, upah, bunga modal, dan sewa tanah’. Sebaliknya, Landshut dan Meyer berbicara tentang sebuah karya yang ‘pada intinya sudah mengantisipasi Capital‘, karena ‘tidak ada ide baru yang fundamental’ yang nantinya muncul dalam oeuvre (karya-karya substansial) Marx. Manuskrip Ekonomi-Filsafat tahun 1844, tulis mereka, sebenarnya adalah karya utama Marx. Terlepas dari karakter yang jelas-jelas dipaksa dari klaim mereka bahwa manuskrip tahun 1844 adalah inti dari perkembangan pemikiran Marx, interpretasi ini segera mencapai kesuksesan besar dan bisa dilihat sebagai sumber asli dari mitos ‘Marx Muda/Young Marx’.
Herbert Marcuse juga menyatakan bahwa Manuskrip Ekonomi-Filsafat tahun 1844 memaparkan premis filosofis dari kritik Marx terhadap ekonomi politik. Dalam sebuah esai bertajuk ‘The Foundation of Historical Materialism’, yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1932 di Die Gesellschaft, Marcuse berpendapat bahwa ‘penerbitan Manuskrip Ekonomi dan Filsafat yang ditulis Marx pada tahun 1844 (ditakdirkan) menjadi peristiwa penting dalam sejarah studi-studi Marxis.’, karena menempatkan ‘diskusi tentang asal dan makna asli materialisme sejarah (…) pada pijakan baru’. Manuskrip 1844 telah menunjukkan kepalsuan pandangan yang diajukan oleh para eksponen Komunisme Soviet dan  Internasional Kedua, bahwa dalam Marx terdapat ‘ sederhananya (…) transformasi dari filsafat ke basis ekonomi dan selanjutnya filsafat bentuk (ekonomi) telah diatasi dan “diselesaikan” sekali dan selamanya’. Sejak penerbitan Manuskrip, adalah mustahil menganggap Marxisme secara esensial adalah sebuah doktrin ekonomi.
Beberapa tahun kemudian, minat pada ‘Marx Muda’ mengarah untuk mempelajari hubungannya dengan Hegel – sebuah lintasan penelitian yang didorong oleh publikasi baru-baru ini dari manuskrip filsuf Jerman tersebut dari masa-masanya di Jena. Georg Lukács, dalam karyanya 1938 The Young Hegel: Studies in the Relations between Dialectics and Economics, adalah salah satu ahli teori Marxis utama yang membandingkan dua set tulisan awal ini – termasuk Marx tentang filsafat dan Hegel tentang ekonomi – dan untuk menggambar apa dilihatnya sebagai analogi tertentu di antara mereka.

Popularitas ‘Marx Muda’ di Prancis Pascaperang
Ketika Perang Dunia Kedua memberi jalan kepada rasa kesedihan mendalam yang dihasilkan dari kebiadaban Nazisme dan fasisme, tema kondisi dan nasib individu dalam masyarakat memperoleh keunggulan besar. Minat filosofis yang berkembang pada Marx tampak jelas di mana-mana di Eropa, terutama di Prancis, di mana studi mengenai tulisan-tulisan awalnya adalah yang paling luas dilakukan. Seperti dikatakan filsuf-cum sosiolog Henri Lefebvre, asimilasi mereka adalah ‘peristiwa filosofis yang menentukan dari periode itu’. Dalam proses yang beraneka ragam ini hingga tahun 60-an, sejumlah penulis dari latar belakang budaya dan politik yang berbeda berusaha untuk menyelesaikan sintesis filosofis dari Marxisme, Hegelianisme, eksistensialisme dan pemikiran Kristen. Perdebatan tersebut menghasilkan banyak tulisan yang buruk dan, lebih dari itu, mendistorsi teks-teks Marx agar sesuai dengan keyakinan ideologis dari mereka yang mengambil bagian dalam perdebatan itu.
Dalam sebuah karya tahun 1948 berjudul Sense and Non-sense, Maurice Merleau-Ponty menyatakan bahwa pemikiran awal Marx lebih bercorak ‘eksistensialis’. Setelah membaca Manuskrip Ekonomi-Filsafat 1844, dan di bawah pengaruh filsuf Alexandre Kojève, ia menjadi yakin bahwa Marxisme sejati adalah humanisme radikal yang sama sekali berbeda dengan ekonomisme Soviet yang dogmatis, dan bahwa adalah mungkin untuk merekonstruksi bangunan dasarnya dari tulisan-tulisan Marx pada awal tahun 1840-an. Sejumlah filsuf eksistensialis terlibat dalam pembacaan yang sama, membatasi diri mereka pada bagian kecil (dan tidak pernah selesai) dari hasil intelektual Marx dan seringkali menghilangkan hampir seluruhnya studi tentang Capital.
Raymond Aron mengembangkan kritik pedas terhadap kecenderungan semacam itu. Dalam bukunya Imaginary Marxisms yang diterbitkan pada tahun 1969, ia menulis tentang ‘imam-imam jesuit’ dan ‘para-Marxis Paris’ yang, di tengah keberhasilan filsafat fenomenologis-eksistensial, ‘menafsirkan karya-karya (Marx) dewasa dalam terang utopianisme filosofis (awal)’ dan bahkan ‘mensubordinasikan Capital di hadapan tulisan-tulisan masa mudanya (terutama Naskah Ekonomi-Filsafat 1844), yang ketidakjelasan, ketidaklengkapan, dan kadang-kadang karakter yang bertentangan menjadi sumber daya tariknya.’ Apa yang gagal dipahami penulis seperti itu adalah bahwa ‘Jika Marx tidak memiliki harapan dan niat untuk membumikan kedatangan komunisme dengan ketelitian ilmiah, dia tidak perlu bekerja selama tiga puluh tahun untuk Capital (juga tidak sempat menyelesaikannya). Beberapa minggu dan beberapa halaman sudah cukup.’
Penulis yang bersikeras, lebih dari yang lain, pada ‘diskontinuitas absolut’ dalam karya Marx adalah Louis Althusser. Kumpulan esainya For Marx, memicu banyak reaksi dan polemik setelah diterbitkan pada tahun 1965, dan menjadi teks yang paling banyak dibahas terkait tulisan-tulisan awal Marx. Posisi Althusser adalah bahwa Tesis tentang Feuerbach dan The German Ideology menandai ‘jeda epistemologis’ yang jelas, ‘kritik terhadap (Marx) yang sebelumnya merupakan hati nurani filosofis (ideologis)’, dan bahwa karyanya dapat dibagi menjadi ‘dua periode penting yang panjang: sebelum tahun 1845 adalah periode ‘ideologis’, dan sesudahnya adalah periode ilmiah’.
Althusser menganggap Manuskrip Ekonomi-Filsafat tahun 1844 secara paradoksikal sebagai “teks terjauh yang dihapus pada hari ketika akan terbit”:
Marx yang paling jauh dari Marx adalah Marx ini, Marx berada di tepi jurang, di ambang pintu, di perbatasan – seolah-olah, sebelum jeda, untuk mencapainya, ia harus memberikan filsafat setiap kesempatan, untuk terakhir kalinya, kekuasaan absolut atas kebalikannya, kemenangan teoretis tanpa batas, yaitu kekalahannya.
Kesimpulan Althusser yang aneh adalah bahwa ‘kita tidak dapat mengatakan secara mutlak bahwa “Marx muda adalah bagian dari Marxisme”’. Aliran Althusserian menjadikan ini sebagai salah satu poin utama dari interpretasinya terhadap Marx.
Di Prancis, kemudian, eksistensialis memperlakukan Naskah Ekonomi-Filsafat 1844 sebagai teks yang sangat merangsang, sementara Jesuit mengangkatnya sebagai spanduk humanisme; yang lain mencelanya sebagai sisa filosofis muda atau melewatinya sebagai bagian yang diragukan dari ‘Marxisme’; dan yang lain lagi masih menyatakannya sebagai teks kunci yang berisi premis filosofis karya ekonomi Marx selanjutnya. Apa yang tidak diragukan adalah bahwa mereka berhasil menarik perhatian besar, tidak hanya di kalangan Marxis, dan di antara karya-karya filosofis yang paling banyak dijual selama lebih dari dua dekade. Pada periode pascaperang, mereka menginformasikan debat teoretis Prancis dan membantu memastikan bahwa Marx bisa dilihat dengan cara yang baru. Tentu saja, dengan demikian, ia menjadi kurang tajam dalam fitur-fiturnya dan lebih moralistik dalam nada, tetapi ia juga muncul sebagai penulis yang lebih waspada terhadap kegelisahan dari individu terkucil yang dihasilkan oleh konteks sosial. Semua ini memungkinkannya untuk berbicara kepada audiens yang lebih luas.

Naskah Ekonomi-Filsafat 1844 di ‘Blok Sosialis’ dan Negara-Negara Berbahasa Inggris
Selama bertahun-tahun, kaum Marxis yang paling terakreditasi di Uni Soviet dan Eropa Timur atau di partai-partai Komunis ortodoks mengabaikan Manuskrip Ekonomi-Filsafat 1844 atau memberikan interpretasi yang dangkal dan terbatas padanya. Ideologi Stalinis, dengan Stakhanovisme sebagai salah satu spanduknya, tetap sangat bermusuhan dengan konsep alienasi yang sangat menonjol dalam (Manuskrip Ekonomi-Filsafat Ekonomi 1844), dan tulisan-tulisan awal Marx, yang justru mendapatkan perhatian sangat besar di ‘Marxisme Barat’ sejak 1930-an. Butuh waktu sangat lama bagi manuskrip untuk mendapatkan tempat di negara-negara blok sosialis.
Banyak komentator atas teks ini menampilkan campuran yang meremehkan dan mengandung kebencian pada dekade 1940 dan 1950an. Tetapi  perlahan-lahan segala sesuatunya mulai berubah. Namun, pendirian banyak penulis dalam koleksi itu agak bermasalah. Berbeda dengan interpretasi dalam periode yang sama di Perancis, yang berusaha memikirkan kembali konsep-konsep Capital melalui kategori-kategori karya awal, para peneliti Soviet umumnya membuat kesalahan sebaliknya: mereka menganalisis karya-karya awal berdasarkan perkembangan teoritik Marx kemudian.
Sementara Naskah Ekonomi-Filsafat 1844 membuat kemajuan lambat dalam kanon materialisme dialektik (‘Diamat’ dalam bahasa Soviet), dan hanya setelah menghadapi banyak perlawanan ideologis dan politik, penerimaannya di negara-negara berbahasa Inggris mengalami keterlambatan yang sama. Bahkan, terjemahan pertama yang membangkitkan minat yang tersembunyi baru muncul pada 1961 di Amerika Serikat, karena iklim budaya dan politik pada masa itu yang masih ditandai oleh gelombang MacCarthyism yang menindas.
Alienation karya Bertell Ollman, yang diterbitkan pada tahun 1971 dan ditakdirkan sebagai salah satu karya paling berpengaruh dalam debat ‘Marx Muda’, juga mengadopsi sikap yang menguntungkan terhadap (Manuskrip Ekonomi-Filsafat Ekonomi 1844). Dia menulis: ‘Saya tidak menekankan perubahan dalam pemikiran Marx karena saya tidak melihat banyak di sana, terutama bila dibandingkan dengan kesatuan esensial dalam Marxisme sejak tahun 1844 dan seterusnya. (…) Bahkan dalam versi Capital yang diterbitkan, ada lebih banyak ide dan konsep “awal” Marx ketimbang yang secara umum diakui.’ Tesis ini menjadi sangat diterima di mana-mana, kecuali di kalangan yang berada di bawah hegemoni pemikiran Althusserian.

Categories
Journalism

Pekerja Adat dan Pembaruan Kiri: Percakapan dengan Álvaro García Linera

Álvaro García Linera dilahirkan di Cochabamba, Bolivia pada tahun 1962.

Ia berkenalan dengan Marxisme dan perjuangan rakyat Aymara ketika masih berusia sangat muda. Pindah ke Meksiko, tempat ia lulus dalam matematika, pada awal 1980-an, ia dipengaruhi oleh gerakan gerilya Guatemala yang memperjuangkan kepentingan masyarakat adat. Setelah kembali ke Bolivia, Linera menjadi salah satu pendiri Pasukan Gerilya Túpac Katari, sebuah organisasi politik yang menggabungkan perjuangan kelas Marxis dengan prinsip-prinsip Kataris yang mempromosikan emansipasi masyarakat adat. Karena aktivitasnya ini, ia dipenjara dengan penjagaan keamanan maksimum antara tahun 1992 dan 1997. Keluar dari penjara ia kemudian mengajar sosiologi dan menjadi intelektual yang berpengaruh. Setelahnya ia bergabung dengan Movement for Socialism (MAS) pimpinan Evo Morales, dan sejak 2006 Linera wakil presiden Negara Plurinasional Bolivia. Dia adalah salah satu suara paling orisinal dari gerakan Kiri Amerika Latin, yang karya-karyanya meliputi Value Form dan Community Form (1995) dan Plebeain Power (2008). Percakapan kami dengannya berpusat pada situasi kekuatan-kekuatan progresif di Amerika Latin dan bagian dunia lainnya.

Marcello Musto: Komitmen politik Anda ditandai oleh kesadaran bahwa sebagian besar organisasi komunis Amerika Latin tidak mampu berbicara kepada kelas-kelas populer secara keseluruhan dan hanya menempati fungsi tidak lebih sebagai pengamat. Di Bolivia, misalnya, ketergantungan mereka pada Marxisme-Leninisme yang paling skematis dan ekonomistik menghalangi mereka untuk mengenali kekhasan masalah masyarakat adat dan menempatkannya di pusat kegiatan politik mereka. Mereka melihat penduduk asli sebagai massa tani “borjuis kecil” tanpa potensi revolusioner. Bagaimana Anda menyadari bahwa perlu membangun sesuatu yang secara radikal berbeda dari kaum Kiri yang ada pada saat itu?

Álvaro García Linera: Di Bolivia, makanan diproduksi oleh petani-petani lokal, bangunan-bangunan dan rumah-rumah dibangun oleh pekerja lokal, jalanan dibersihkan oleh penduduk lokal, dan kaum elite dan kelas menengah memercayakan perawatan anak-anak mereka kepada mereka-mereka ini. Namun kaum Kiri tradisional tampaknya buta akan hal ini dan hanya menyibukkan diri dengan para pekerja di industri skala besar, tanpa memperhatikan identitas etnis mereka. Meskipun, tentu saja, penting untuk mengorganisir para pekerja di pertambangan, namun jumlah mereka adalah minoritas jika dibandingkan dengan para pekerja lokal yang didiskriminasi dan bahkan lebih dieksploitasi. Sejak akhir 1970-an, populasi Aymara mengorganisir mobilisasi besar melawan kediktatoran serta pemerintahan demokratis yang muncul setelah kejatuhannya. Mereka melakukannya dengan bangga, dengan bahasa dan simbol-simbolnya sendiri, yang beroperasi melalui komunitas gabungan dari campesinos (para petani) dan memajukan kelahiran suatu bangsa di bawah kepemimpinan adat. Itu adalah momen penemuan sosial.

Bagaimana Anda merespons ini?

Ketika orang-orang Indian ini memberontak, saat itu saya masih berstatus sebagai siswa sekolah. Pemberontakan itu sangat mengesankan bagi saya. Tampak jelas bahwa wacana perjuangan sosial kaum Kiri klasik, yang hanya berpusat pada pekerja dan borjuis, adalah tidak memadai dan tidak berkelanjutan. Perjuangan itu harus memasukkan tema-tema adat dan untuk merefleksikan komunitas agraria, atau kepemilikan kolektif atas tanah, sebagai dasar untuk organisasi sosial. Selain itu, untuk memahami perempuan dan laki-laki yang merupakan penduduk mayoritas dan yang menuntut sejarah dan tempat yang berbeda di dunia ini, adalah perlu untuk masuk lebih dalam ke aspek etnis-nasional dari masalah rakyat tertindas ini. Dan untuk ini, skematisme buku-buku teks Marxis, bagi saya, tampaknya tidak memadai. Ini mendorong saya untuk mencari referensi-referensi lain, dari penyimpanan ide-ide Indianis ke Marx yang tulisannya tentang perjuangan-perjuangan antikolonial dan komune agraria di Rusia telah memperkaya analisisnya tentang bangsa-bangsa yang tertindas.

Dengan berlalunya waktu, kompleksitas subjek transformasi sosial – yang sangat penting dalam pemikiran dan aktivitas politik Anda – telah menjadi pertanyaan penting bagi semua kekuatan progresif. Ketika visi kaum proletar sebagai satu-satunya kekuatan yang mampu menggulingkan kapitalisme telah berkurang, dan ketika mitos pelopor revolusioner telah bubar, apa yang seharusnya menjadi titik awal baru bagi kaum Kiri?

Masalah dari kaum Kiri tradisional adalah bahwa mereka membingungkan konsep “kondisi proletar” dengan bentuk sejarah yang khusus dari kerja upahan. Yang pertama telah menyebar ke mana-mana dan menjadi kondisi material di seluruh dunia. Tidak benar bahwa dunia kerja menghilang – tidak pernah ada buruh sebanyak ini di dunia, di setiap negara. Tetapi pertumbuhan sangat besar tenaga kerja global ini terjadi pada saat semua serikat buruh dan struktur-struktur politik yang ada terpecah berantakan. Lebih dari kapan pun sejak awal abad ke-19, kondisi kelas pekerja, sekali lagi, merupakan kondisi dari dan untuk kapital. Tetapi saat ini, sedemikian rupa,  dunia pekerja menjadi lebih kompleks, terhibridisasi, nomaden, dan tercerabut dari tempat tinggalnya (deterritorial). Paradoksnya, di zaman ketika setiap aspek kehidupan manusia telah dikomodifikasi, semuanya tampak terjadi seolah-olah tidak ada lagi pekerja.

Apa karakter dari perjuangan sosial saat ini? Apakah kesulitan yang dihadapi organisasi-organisasi politik dan serikat pekerja dalam mengorganisir pekerja migran, tidak aman, dan tidak terampil sangat berbeda dengan yang ada pada masa produksi Fordist pada abad ke-20?

Kelas pekerja baru tidak disatukan terutama di seputar masalah perburuhan. Mereka belum memiliki kekuatan untuk melakukan ini, dan mungkin tidak akan memilikinya untuk waktu yang lama ke depan. Mobilisasi sosial tidak lagi terjadi melalui bentuk-bentuk klasik aksi kelas pekerja yang terpusat, melainkan melalui campuran berbagai serikat, isu-isu lintas-sektor, dan bentuk-bentuk yang fleksibel, lancar, dan dapat berubah. Kita berbicara tentang bentuk-bentuk baru aksi kolektif yang dilontarkan oleh para pekerja, bahkan jika, dalam banyak kasus, apa yang muncul kurang identitas buruhnya dibandingkan fitur-fitur pelengkap lainnya seperti konglomerat teritorial atau kelompok-kelompok yang menuntut hak atas perawatan kesehatan, pendidikan atau transportasi umum.

Alih-alih mencibir perjuangan ini karena bentuknya yang berbeda dari masa lalu, kaum Kiri harus memperhatikan hibriditas atau heterogenitas sosial ini – pertama-tama, untuk memahami perjuangan yang ada dan mengartikulasikannya dengan yang lain di tingkat lokal, nasional dan internasional. Subjek perubahan tetaplah “tenaga kerja hidup/living labour”: pekerja yang menjual tenaga kerjanya dalam berbagai cara. Tetapi bentuk-bentuk organisasi, wacana, dan identitas-identitasnya sangat berbeda dari yang kita kenal di abad kedua puluh.

Di tengah kompleksitas sosial zaman kita, menurut Anda apakah perlu kita memikirkan kembali konsep tentang kelas?

Kelas-kelas, identitas, dan kolektif yang dimobilisasi bukanlah abstraksi: mereka adalah bentuk pengalaman kolektif dunia yang dibangun dalam skala luas. Sama seperti mereka mengambil bentuk kontingen seratus tahun yang lalu, mereka melakukannya lagi melalui rute yang tidak terduga dan seringkali mengejutkan serta penyebab yang sangat berbeda dari yang ada di masa lalu. Kita tidak boleh membingungkan konsep kelas sosial – cara mengklasifikasikan orang secara statistik berdasarkan atas properti mereka, sumber daya, akses terhadap kekayaan, dll. – dengan cara aktual di mana mereka dikelompokkan bersama berdasarkan kedekatan elektif, tempat tinggal, masalah bersama dan karakteristik budaya. Ini adalah gerakan nyata dari konstruksi kelas yang dimobilisasi, yang hanya bertepatan dengan konvergensi yang ditunjukkan dalam data statistik.

Anda sering mengutip Antonio Gramsci. Seberapa pentingkah pemikirannya untuk pilihan politik Anda?

Gramsci sangat menentukan dalam pengembangan pemikiran saya. Saya mulai membacanya ketika masih sangat muda, saat tulisan-tulisannya beredar di antara satu kudeta ke kudeta lainnya. Sejak itu, tidak seperti begitu banyak teks yang mengandung analisis ekonomi atau formulasi filosofis yang lebih memusatkan pada estetika kata-kata ketimbang pada realitas, Gramsci telah membantu saya mengembangkan cara pandang yang berbeda. Dia berbicara tentang masalah-masalah seperti bahasa, sastra, pendidikan atau akal sehat yang, meskipun tampaknya sekunder, sebenarnya membentuk jaringan kehidupan sehari-hari bagi individu dan menentukan persepsi dan kecenderungan politik kolektif mereka.
Sejak masa-masa awal itu, saya secara teratur kembali membaca Gramsci, dan dia selalu mengungkapkan hal-hal baru kepada saya, khususnya berkaitan dengan pembentukan molekular negara. Saya yakin bahwa Gramsci adalah pemikir yang sangat diperlukan untuk pembaruan Marxisme di dunia saat ini.

Dari apa yang Anda katakan, jelas bahwa cara Anda berhubungan dengan Marx – yang sangat Anda kenal dan tentang siapa Anda banyak menulis – sangat berbeda dengan Marxisme Soviet. Apakah Anda berpikir bahwa peralihan ke Marx tentang pertanyaan dan keraguan, yang ditemukan dalam manuskrip yang belum selesai di tahun-tahun terakhirnya, hari ini mungkin lebih bermanfaat daripada pernyataan yang terkandung dalam pamflet dan buku yang diterbitkannya?

Buku teks Marxisme selalu tampak tidak memadai bagi saya. Jadi, saya mengambil inisiatif untuk menyelidiki penulis yang diilhami oleh ideologi indigenis, serta Marxis lain dan Marx lain yang berbicara kepada saya tentang identitas sosial hibrida. Dengan cara ini, saya menemukan seorang Marx yang mengajari saya tentang perjuangan kolonial, yang berbicara tentang komunitas agraris, yang terus berusaha menempatkan tema negara-negara tertindas di atas fondasi yang kuat – sebuah Marx di pinggiran, lebih plural dan lebih berlimpah dengan pertanyaan ketimbang dengan jawaban. Pertanyaan-pertanyaan inilah yang memungkinkan saya, selama bertahun-tahun, untuk membaca secara berbeda Grundrisse, Manuskrip tahun 1861-1863 dan Capital dan menemukan elemen-elemen logika genetika kapitalisme yang gagal dipahami oleh penulis lain, sebelum dan sesudah Marx.

Dalam empat tahun terakhir, hampir di mana-mana di Amerika Latin, pemerintah berkuasa yang mengambil isyarat dari ideologi reaksioner dan berupaya untuk menerapkan kembali agenda ekonomi neoliberal. Terpilihnya Jair Bolsonaro di Brasil adalah kasus yang paling mencolok. Apakah belokan tajam ini cenderung bertahan lama?

Saya pikir masalah besar bagi Kanan global adalah ia tidak memiliki narasi untuk masa depan. Negara-negara yang mendewakan liturgi pasar bebas sekarang membangun tembok melawan imigran dan barang-barang, seolah-olah presiden mereka adalah penguasa feodal zaman akhir. Mereka yang menyerukan privatisasi sekarang memohon kepada negara yang mereka gunakan untuk memfitnah, dengan harapan bahwa hal itu akan menyelamatkan mereka dari beban hutang. Dan mereka yang dulu menyukai globalisasi dan berbicara tentang dunia yang akhirnya akan menjadi dunia sekarang dengan dalih “keamanan benua”.

Kita hidup dalam planet yang serba kacau, di mana sulit untuk meramalkan seperti apa Kanan Amerika Latin yang baru di masa depan. Apakah mereka akan memilih globalisasi atau proteksionisme? Apakah mereka akan mengikuti kebijakan privatisasi atau intervensi negara? Mereka sendiri tidak tahu jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini, karena mereka berlayar dalam lautan kebingungan dan hanya bisa mengekspresikan pandangan-pandangan jangka pendek. Kekuatan-kekuatan Kanan ini tidak mewakili masa depan di mana masyarakat Amerika Latin dapat mempercayakan harapan jangka panjangnya. Sebaliknya: mereka makin meningkatkan ketidakadilan dan ketidaksetaraan. Satu-satunya masa depan nyata yang bisa mereka tawarkan kepada generasi baru adalah kegelisahan dan ketidakpastian.

Di banyak bagian dunia, penurunan tajam partai-partai politik tradisional seiring dengan bangkitnya kekuatan-kekuatan politik baru yang, dalam cara mereka yang berbeda, menantang globalisasi neoliberal dan tatanan yang ada. “Pasar bebas” tidak lagi dianggap identik dengan pembangunan dan demokrasi, seperti yang keliru diyakini setelah runtuhnya Tembok Berlin, dan perdebatan tentang alternatif untuk kapitalisme sekali lagi membangkitkan minat yang cukup besar. Apa yang harus dilakukan kaum Kiri Amerika Latin untuk membalikkan keadaan dan membuka siklus baru keterlibatan dan emansipasi politik?

Kondisi-kondisi yang ada bagi tahap pengembangan progresif baru akan melampaui apa yang dicapai dalam dekade terakhir. Dalam konteks ketidakpastian yang besar ini, ada ruang untuk proposal alternatif dan orientasi kolektif ke cakrawala baru, berdasarkan pada keterlibatan nyata orang-orang dan (secara ekologis berkelanjutan) untuk mengatasi ketidakadilan sosial.

Tugas terbesar kaum Kiri, dalam mengatasi batasan dan kesalahan-kesalahan sosialisme abad kedua puluh, adalah memetakan cakrawala baru yang menawarkan solusi untuk pertanyaan-pertanyaan aktual yang menyebabkan penderitaan bagi mayoritas penduduk. Ini akan melayani “prinsip harapan” baru – nama apa pun yang kita berikan – yang menyerukan kesetaraan, kebebasan sosial, hak-hak dan kapasitas-kapasitas universal sebagai dasar penentuan nasib sendiri secara kolektif.

Categories
Journalism

Mitos ‘Marx Muda’ dalam Penafsiran Naskah-naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844 (Bagian I)

Dua edisi dari 1932
Naskah-naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844 (Economic-Philosophic Manuscripts of 1884) adalah salah satu di antara tulisan-tulisan paling terkenal Marx, dan yang paling banyak diterbitkan di seluruh dunia.
Tetapi meskipun buku ini telah memainkan peran utama dalam interpretasi keseluruhan pemikiran Marx, namun untuk waktu yang lama, buku ini tidak dikenal hingga kemudian terbit hampir seabad setelah penyusunannya.
Penerbitan naskah-naskah ini sama sekali bukan akhir dari cerita. Sebaliknya, penerbitannya telah memicu perselisihan yang panjang tentang karakter dari teks tersebut. Beberapa menganggapnya sebagai karya yang belum matang dibandingkan dengan kritik Marx selanjutnya tentang ekonomi politik. Yang lain menilainya sebagai landasan filosofis yang tak ternilai untuk pemikirannya, yang kehilangan intensitasnya selama bertahun-tahun saat ia mengerjakan penulisan Kapital. Oleh karena itu, bidang penelitian menyangkut hubungan antara teori-teori ‘muda’ dari Naskah-naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844  dan yang ‘matang’ dari Kapital bergantung pada pertanyaan-pertanyaan berikut: Dapatkah tulisan-tulisan ‘Marx Muda’ dianggap sebagai bagian integral dari ‘Marxisme’? Apakah ada kesatuan inspirasi dan realisasi organik di seluruh karya Marx? Atau haruskah dua Marx yang berbeda diidentifikasi di dalamnya?
Konflik penafsiran juga memiliki sisi politik. Para sarjana Marx di Uni Soviet setelah awal dekade tiga puluhan, juga sebagian besar peneliti yang dekat dengan partai-partai Komunis di dalam atau terkait dengan ‘blok sosialis’, menawarkan analisis reduksionis dari Naskah-naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844. Sedangkan mereka yang ada dalam tradisi kritis Marxisme, menetapkan nilai yang lebih tinggi pada teks-teks ini dan menemukan di dalamnya argumen yang paling kuat (terutama dalam kaitannya dengan konsep alienasi) untuk menghancurkan monopoli penafsiran yang dilakukan oleh Uni Soviet atas karya Marx. Dalam setiap kasus, pembacaan instrumentalis menjadi  contoh yang jelas tentang bagaimana konflik-konflik teoretis dan politik telah berulang kali mendistorsi karya Marx guna melayani tujuan yang tidak berkaitan dengannya.
Edisi lengkap pertama dari Naskah-naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844 diterbitkan pada tahun 1932, dalam bahasa Jerman. Bahkan, dua versi terbit pada tahun yang sama, dan ini menambah kebingungan tentang teks tersebut. Para sarjana Sosial Demokrat seperti Siegfried Landshut dan Jacob Peter Mayer, memasukkan naskah-naskah itu ke dalam koleksi dua jilid berjudul Historical Materialism: Early Writings. Versi kedua dari Naskah-naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844 yang muncul pada tahun 1932 adalah yang diedit oleh Institute Marx-Engels (IME) di Moskow dan diterbitkan dalam volume ketiga Bagian Satu dari karya-karya Marx dan Engels (Marx-Engels Gesamtausgabe). Ini adalah edisi ilmiah lengkap pertama, dan yang pertama-pertama menggunakan nama yang kemudian terkenal sebagai Naskah-naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844.

Satu atau dua Marx? Perselisihan tentang kesinambungan pemikiran Marx
Dua edisi tahun 1932 memunculkan banyak kontroversi karakter hermeneutik atau politik, di mana teks Marx sering terjepit di antara dua penafsran ekstrem. Yang pertama memahaminya sebagai ekspresi semata dari teori anak muda yang secara negatif diilhami oleh konsep-konsep dan terminologi filosofis, sementara yang lain menganggapnya sebagai ekspresi tertinggi humanisme Marx dan inti mendasar dari keseluruhan teori kritisnya. Dengan berlalunya waktu, para pendukung dari kedua posisi ini terlibat dalam debat yang hidup, menawarkan jawaban yang berbeda mengenai ‘kesinambungan’ dari pemikiran Marx. Apakah sebenarnya ada dua pemikir yang berbeda: Marx muda dan Marx tua? Atau apakah hanya ada satu Marx, yang keyakinannya tetap sama selama beberapa dekade?
Pertentangan antara kedua pandangan ini menjadi semakin tajam. Yang pertama, menyatukan ortodoksi Marxis-Leninis dengan orang-orang di Eropa Barat dan di tempat lain yang berbagi prinsip teoretis dan politiknya, meremehkan atau sama sekali mengabaikan pentingnya tulisan-tulisan awal Marx; mereka menyajikan karya-karya awal itu sebagai sepenuhnya dangkal dibandingkan dengan karya-karyanya kemudian dan, dengan demikian, mengembangkan konsepsi yang jelas anti-humanis dari pemikirannya. Pandangan kedua, yang diadvokasi oleh kelompok penulis yang lebih heterogen, memiliki isu bersama yakni penolakan terhadap dogmatisme Komunisme resmi dan korelasi yang ingin dibangun oleh para eksponennya antara pemikiran Marx dan politik Uni Soviet.
Kutipan dari dua protagonis utama di tahun 1960-an berikut ini memberikan contoh yang paling mendekati untuk menjelaskan pengertian dari perdebatan itu. Bagi Louis Althusser, sebagai proponen pendekatan pertama mengatakan:
Pertama-tama, setiap diskusi tentang Karya-karya Awal Marx adalah sebuah diskusi politik. Perlu kita ingatkan bahwa Karya-karya Awal Marx (…) yang ditemukan oleh Sosial-Demokrat dan
dieksploitasi oleh mereka dengan maksud menghancurkan Marxisme-Leninisme? (…) Inilah lokasi dari diskusi ini: Marx Muda. Hal yang benar-benar dipertaruhkan di dalamnya: Marxisme. Ketentuan diskusi: apakah Marx Muda sudah dan sepenuhnya Marx.
Iring Fetscher, di sisi lain, berpendapat:
Tulisan-tulisan awal Marx, intinya secara tegas  menyatakan pembebasan manusia dari segala bentuk eksploitasi, dominasi dan alienasi, sehingga pembaca Soviet harus memahami komentar-komentar ini sebagai kritik terhadap situasinya sendiri di bawah dominasi Stalinis. Karena alasan ini, tulisan-tulisan awal Marx tidak pernah diterbitkan dalam edisi besar dan murah dalam bahasa Rusia. Mereka dianggap sebagai karya yang relatif tidak signifikan dari Marx muda yang Hegelian yang belum mengembangkan Marxisme.
Kedua belah pihak yang berselisih ini telah mendistorsi teks Marx tersebut dengan berbagai cara. Kalangan ‘Ortodoks’ menyangkal pentingnya Naskah-naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844 (meskipun sangat diperlukan untuk memahami evolusi pemikiran Marx) dan dengan teguh memegang  keyakinan ini sehingga mereka mengeluarkan naskah-naskah tersebut dari edisi Rusia dan Jerman pada karya lengkap Marx dan Engels. Di sisi lain, banyak perwakilan dari apa yang disebut ‘Marxisme Barat’, serta sejumlah filsuf eksistensialis, mengambil sketsa yang belum selesai dari seorang mahasiswa muda yang tidak mahir dalam teori ekonomi dan melabelinya nilai yang lebih besar ketimbang Kapital, produk yang dihasilkan setelah melalui lebih dari dua puluh tahun penelitian.

Categories
Journalism

Kisah Program 1880 dari Partai Buruh Sosialis Prancis

Selama tahun 1880, Karl Marx secara khusus menaruh perhatian pada gerakan buruh Prancis, dan dengan berbagai cara yang mungkin dan tepat berkontribusi pada kemajuannya.

Pada bulan Oktober tahun sebelumnya, Federasi Partai Pekerja Sosialis Prancis (Federation of the French Socialist Workers’ Party), yang lahir dari perpaduan berbagai aliran sosialis, bertemu dalam kongres di Marseilles. Prosesnya ditandai oleh konflik antara kaum “Possibilis”, yang dipimpin oleh mantan anarkis Paul Brousse (1844-1912), dan arus lain yang lebih dekat dengan ide-ide Marx, dipimpin oleh Jules Guesde (1845-1922). Ketika yang terakhir memenangkan mayoritas, Marx berkomentar kepada kawannya Friedrich Adolph Sorge: “geng anti-komunis, yang terdiri dari elemen-elemen yang sangat heterogen, akhirnya dikalahkan di Kongres Marseilles.”

Guesde, dengan pemilu yang sebentar lagi digelar, harus menyusun program politik, kemudian meminta bantuan Marx, dan Paul Lafargue mengatur agar mereka bertemu di London pada Mei 1880. Inilah asal mula dari Program Elektoral Buruh Sosialis (Electoral Programme of the Socialist Workers), yang muncul di berbagai harian Prancis di musim semi dan diadopsi di Le Havre pada November pada kongres pendirian Partai Buruh Sosialis Prancis (French Socialist Workers’ Party). Kontribusi Marx dalam mengemukakan tuntutan utama kelas pekerja sangat menentukan. Engels mengungkapkan latar belakangnya dalam sepucuk surat kepada Eduard Bernstein: “Tema-temanya didiktekan kepadanya (Guesde) oleh Marx, di sini, di kamar saya ini, di hadapan Lafargue dan saya sendiri. … (Itu) adalah mahakarya penalaran yang meyakinkan, diperhitungkan untuk menjelaskan banyak hal kepada massa dalam beberapa kata. Saya jarang melihatnya seperti itu, dan bahkan dalam versi singkat ini, sungguh menakjubkan.”

Berawal dari poin bahwa buruh tidak akan pernah bisa bebas dalam sistem produksi yang berdasarkan pada buruh upahan (wage labour), Marx menyatakan bahwa emansipasi mereka akan tercapai hanya setelah “pengambilalihan politik dan ekonomi kelas kapitalis dan pengembalian semua alat-alat produksi kepada kepemilikan kolektif”. Kelas buruh, lanjutnya, harus memerangi segala jenis diskriminasi dan beroperasi sedemikian rupa untuk mengakhiri posisi penundukkan (subaltern) perempuan dalam kaitannya dengan laki-laki: “emansipasi kelas produktif seluruh manusia tanpa membedakan jenis kelamin atau ras. ”

Para pekerja harus mendukung suatu bentuk pemerintahan yang dapat menjamin partisipasi mereka seluas-luasnya. Mereka harus berjuang untuk “penghapusan hutang publik”, untuk “transformasi semua pajak langsung menjadi pajak progresif atas pendapatan”, dan untuk mengakhiri dukungan negara pada urusan-urusan keagamaan. Kelas pekerja juga harus menuntut hak atas pendidikan yang didanai publik untuk semua dan memperjuangkan “pembatalan semua kontrak yang telah mengalienasi properti publik (bank, kereta api, tambang, dll.)”. Pada saat yang sama, mereka harus memobilisasi agar “operasi semua tempat kerja milik negara dipercayakan kepada buruh pekerja yang bekerja di sana”. Organisasi politik proletariat, termasuk konstitusi “partai politik yang berbeda” yang bersaing dengan partai-partai demokratis dan berjuang melawan partai-partai borjuis, sangat penting untuk pencapaian tujuan-tujuan ini.

Dalam sebuah surat kepada Sorge, Marx menjelaskan bahwa “dengan pengecualian dari beberapa kebodohan seperti upah minimum yang ditetapkan oleh hukum” – dia khawatir bahwa tindakan seperti itu, jika diadopsi, akan, menurut hukum ekonomi, membuahkan hasil dari penetapan upah minimum itu menjadi maksimum – seksi ekonomi dari dokumen ini terdiri “semata-mata dari tuntutan yang, pada kenyataannya, muncul secara spontan dari gerakan buruh itu sendiri”. Bagi Marx, “membawa pekerja Prancis agar membumi dan meninggalkan pernyataan-pernyataan verbal mereka yang absurd (cloud-cuckoo land) adalah sebuah langkah maju yang luar biasa, dan karenanya membangkitkan kebencian di antara banyak intelektual Prancis yang penipu,  yang mencari nafkah sebagai ‘provokator’.” Dia juga menekankan bahwa, untuk pertama kalinya, program tersebut telah dibahas oleh para pekerja sendiri – “bukti bahwa ini (adalah) gerakan nyata kelas pekerja yang pertama di Prancis”. Marx dengan jelas membedakan fase ini dari fase yang terjadi sebelumnya, ketika “sekte-sekte di sana menerima slogan-slogan mereka dari para pendiri mereka, sementara sebagian besar proletariat mengikuti borjuis radikal atau pseudo-radikal dan berjuang untuk mereka ketika hari itu tiba, hanya untuk kemudian dibantai, dideportasi, dll., pada esok harinya oleh anak-anak muda yang mereka tempatkan di pucuk pimpinan. “Di antara “banyak kebodohan”, Marx memasukkan penghapusan atas warisan (Poin 12 dalam Program), sebuah tuntutan lama Saint-Simonian, menentang apa yang penah dia polemikkan dengan Mikhail Bakunin dalam Asosiasi Kelas Pekerja Internasional: “Jika kelas pekerja memiliki kekuatan yang cukup untuk menghapuskan hak waris, itu akan cukup kuat untuk dilanjutkan ke pengambilalihan, yang akan menjadi sebuah proses yang jauh lebih sederhana dan lebih efisien.”

***
Program Elektoral Pekerja Sosialis[1]

Jules Guesde, Paul Lafarge, Karl Marx

Pembukaan (Preambule)

Mengingat,
Bahwa pembebasan kelas produktif adalah pembebasan semua manusia tanpa membedakan jenis kelamin atau ras;
Bahwa produsen dapat bebas hanya ketika mereka memiliki alat-alat produksi;
Bahwa hanya ada dua bentuk di mana alat-alat produksi dapat menjadi milik mereka

1.    Bentuk individu, yang tidak pernah ada dalam keadaan umum dan yang semakin dihilangkan oleh kemajuan industrial;

2.    Bentuk kolektif, elemen-elemen material dan intelektual yang didasari oleh perkembangan masyarakat kapitalis;

Mengingat,
Bahwa perampasan kolektif ini hanya dapat timbul dari aksi revolusioner kelas produktif – atau proletariat – yang diorganisir dalam partai politik yang berbeda;
Bahwa organisasi semacam itu harus dicapai dengan segala cara yang dimiliki proletariat, termasuk hak pilih universal, yang dengan demikian akan diubah dari instrumen penipuan seperti yang berlangung  hingga kini menjadi instrumen bagi pembebasan;
Kaum buruh sosialis Prancis, dalam mengadopsi bentuk organisasi kepartaian sebagai tujuan bagi pengambilalihan politik dan ekonomi kelas kapitalis dan pengembalian semua alat-alat produksi kepada komunitas, telah memutuskan, sebagai alat organisas dan perjuangan, untuk mengikuti pemilihan umumdengan tuntutan-tuntutan langsung berikut:

A. Tuntutan Politik

Penghapusan semua undang-undang tentang pers, pertemuan, dan asosiasi, dan di atas semua itu, hukum yang menentang Asosiasi Pekerja Internasional. Penghapusan livret[2], kontrol administratif atas kelas pekerja, dan semua pasal dalam Code[3] yang menetapkan inferioritas pekerja dalam kaitannya dengan bos, dan perempuan dalam kaitannya dengan laki-laki;

1.    Penghapusan anggaran untuk urusan keagamaan dan pengembalian kepada negara ‘barang-barang yang dikatakan tak       berguna, bergerak dan tidak bergerak’ (diputuskan oleh Komune[4] 2 April 1871), termasuk semua laporan-laporan industrial dan komersial dari perusahaan-perusahaan terkait;
2.    Penghapusan hutang publik;
3.    Penghapusan tentara-tentara tetap dan mempersenjatai rakyat secara umum;
4.    Komune harus menjadi penguasa administrasi dan kepolisiannya.

B.    Tuntutan Ekonomi

1.    Satu hari istirahat setiap minggu atau larangan hukum terhadap majikan yang memaksakan hari kerja lebih dari enam hari dari tujuh hari. Pengurangan legal jam kerja untuk orang dewasa menjadi delapan jam setiap harinya. Larangan anak di bawah umur empat belas tahun bekerja di tempat kerja pribadi; dan, pengurangan jam kerja untuk anak yang berumur antara 14 dan 16 tahun dari delapan menjadi enam jam per hari[5];
2.    Supervisi protektif terhadap buruh magang oleh organisasi pekerja;
3.    Upah minimum resmi, ditentukan setiap tahun sesuai dengan harga makanan lokal oleh komisi statistik pekerja;
4.    Larangan hukum bagi para bos yang mempekerjakan pekerja asing dengan upah lebih rendah dari pekerja Prancis;
5.    Pembayaran yang sama untuk pekerjaan yang sama, untuk pekerja dari kedua jenis kelamin;
6.    Instruksi ilmiah dan profesional dari semua anak, dengan pemeliharaan mereka menjadi tanggung jawab masyarakat, diwakili oleh negara dan Komune;
7.    Tanggung jawab masyarakat untuk orang tua dan orang difabel;
8.    Larangan bagi campur tangan pengusaha dalam bentuk apapun terhadap administrasi masyarakat ramah pekerja, masyarakat hemat, dll., yang dikembalikan ke kontrol eksklusif pekerja[6];
9.    Tanggung jawab para bos dalam hal kecelakaan, dijamin oleh jaminan yang dibayarkan oleh majikan ke dana pekerja, sebanding dengan jumlah pekerja yang dipekerjakan dan bahaya yang disebabkan oleh industri;
10.    Intervensi oleh pekerja dalam peraturan khusus dari berbagai tempat kerja;diakhirinya hak yang direbut oleh para bos untuk menjatuhkan hukuman kepada pekerjanya dalam bentuk denda atau pemotongan upah (dekrit Komune 27 April 1871)
11.    Pembatalan semua kontrak yang telah mengasingkan properti publik (bank, kereta api, tambang, dll.), dan pengoperasian semua tempat kerja milik negara agar dipercayakan kepada pekerja yang bekerja di sana;
12.    Penghapusan semua pajak tidak langsung dan transformasi semua pajak langsung menjadi pajak progresif atas pendapatan lebih dari 3.000 franc. Penghapusan semua warisan pada garis keturunan tidak langsung (collateral line)[7] dan semua warisan langsung lebih dari 20.000 franc.

[1] Marx adalah penulis utama dari Pembukaan (Preamble)
[2] Livret adalah sebuah sertifikat yang menunjukkan bahwa pekerja tidak lagi memiliki
hutang atau kewajiban kepada mantan majikannya. Tidak ada pekerja yang bisa diambil
tanpa menunjukkannya. Praktik ini baru dihapus pada tahun 1890.
[3] Merujuk pada Napoleonic Code yang ditetapkan pada 1804.
[4] Komune di sini adalah Komune Paris
[5] Tuntutan-tuntutan ini harus disituasikan dalam konteks abad ke-19.
[6] Tuntutan-tuntutan ini harus, tentu saja, dilihat dalam konteks akhir abad ke-19.
[7] Yaitu, mewariskan kepada selain keturunan langsung.

Categories
Journalism

‘Perjuangan!’: Sebuah Wawancara dengan Karl Marx pada 1880

Pada Agustus 1880, John Swinton, seorang jurnalis Amerika yang berpengaruh dengan pandangan progresifnya, sedang dalam perjalanan ke Eropa.

Ketika berada di sana, ia mengunjungi Ramsgate, sebuah kota kecil di pesisir Kent, yang terletak beberapa kilometer dari ujung tenggara Inggris. Perjalanan ini dibuat dengan tujuan melakukan sebuah wawancara untuk The Sun – surat kabar yang dia edit, yang pada saat itu adalah salah satu yang paling luas dibaca di Amerika Serikat. Pria yang akan diwawancara Swinton adalah figur yang telah menjadi salah satu perwakilan utama gerakan buruh internasional: Karl Marx.

Meskipun lahir di Jerman, Marx hidup tanpa kewarganegaraan (stateless), setelah diusir oleh pemerintah Prancis, Belgia dan Prusia ketika mereka meringkus gerakan-gerakan revolusioner yang muncul di negara mereka antara tahun 1848 dan 1849. Ketika Marx mengajukan permohonan naturalisasi di Inggris pada 1874, permintaannya ditolak karena laporan Scotland Yard (polisi Inggris) yang menyebutkan bahwa ia adalah ‘agitator Jerman yang terkenal dan pendukung prinsip-prinsip komunis’, yang ‘tidak loyal kepada Raja dan negaranya sendiri’.

Selama lebih dari satu dekade, Marx menjadi koresponden koran New York Tribune; pada tahun 1867 ia menerbitkan kritik besar terhadap corak produksi kapitalis yang berjudul Capital, dan selama delapan tahun, dimulai pada tahun 1864, ia menjadi tokoh panduan Asosiasi Pekerja Internasional. Pada tahun 1871, namanya ditampilkan di halaman-halaman surat kabar Eropa yang paling banyak dibaca, setelah membela Komune Paris dalam bukunya The Civil War in France. Pers reaksioner kemudian membaptisnya dengan julukan ‘red terror doctor’’.

Pada Musim Panas 1880, Marx berada di Ramsgate bersama keluarganya, di bawah perintah dokter untuk ‘menahan diri dari pekerjaan apa pun’ dan ‘untuk memulihkan sistem saraf(nya) dengan tidak melakukan aktivitas apapun’. Kesehatan istrinya lebih buruk lagi. Jenny von Westphalen menderita kanker dan kondisinya tiba-tiba memburuk hingga tingkat yang mengancam keselamatan jiwanya’. Inilah situasi di mana Swinton, yang telah menjadi pemimpin redaksi di New York Times sepanjang tahun 1860-an, mengenal Marx dan menulis gambaran yang simpatik, intens, dan akurat tentangnya.

Pada level personal, Swinton menggambarkan Marx sebagai ‘pria berkepala besar, murah hati, sopan, dan ramah di usia 60-an, dengan rambut lebat panjang keabu-abuan yang menyenangkan’, yang tahu ‘tidak kalah halus dari Victor Hugo (…) tentang seni menjadi seorang kakek’. Percakapannya, “sangat bebas, sangat luas, sangat kreatif, sangat tajam, sangat otentik”, mengingatkan Swinton pada Socrates “dengan sentuhan sinisnya, jejak-jejak humor, dan energi kegembiraan yang penuh antusiasme”. Dia juga mencatat ‘seorang pria yang tidak berhasrat untuk tampil atau tenar, tidak peduli dengan hiruk pikuk kehidupan atau klaim kekuasaan’.

Namun, ini bukan Marx yang akan digambarkan Swinton pada para pembacanya. Wawancara yang muncul di halaman depan The Sun, pada  6 September 1880, terutama menghadirkan wajah publik Marx: ‘salah satu pria paling hebat saat itu, yang telah memainkan bagian yang sukar dipahami tetapi sangat berpengaruh dalam politik revolusioner selama empat puluh tahun berselang’. Inilah kata Swinton tentang Marx:

[Dia] tanpa terburu-buru dan tanpa jeda, adalah seorang lelaki dengan pikiran yang kuat, luas, dan terangkat, penuh dengan proyek-proyek yang berjangkauan luas, metode-metode logis, dan tujuan-tujuan praktis, ia telah berdiri dan tetap berdiri dalam banyaknya gempa bumi politik yang telah mengguncang bangsa-bangsa dan menghancurkan takhta-takhta, dan kini tengah mengancam dan menakutkan para pimpinan kerajaan dan penipu-penipu mapan, dibandingkan dengan laki-laki mana pun di Eropa.
Diskusi dengan Marx meyakinkan jurnalis New York itu bahwa dia mendapati dirinya di hadapan seorang pria yang ‘terlibat sangat dalam di masanya’, yang tangannya menjulur ‘dari Neva ke Seine, dari Ural ke Pyrenees, sedang bekerja mempersiapkan jalan bagi […] munculnya ‘era baru’. Swinton sangat terkesan dengan Marx karena kemampuannya dalam “menganalisa dunia Eropa, negara demi negara, menunjukkan ciri-ciri dan perkembangannya serta tokoh-tokoh di permukaan dan di bawah permukaan.” Marx kemudian berbicara

tentang kekuatan-kekuatan politik dan gerakan rakyat dari berbagai negara di Eropa – luasnya arus semangat Rusia, pergerakan pemikiran Jerman, aksi Prancis, dan ketidakmampuan bergeraknya Inggris. Dia berbicara dengan penuh harap tentang Rusia, secara filosofis tentang Jerman, dengan keriangan tentang Prancis, dan dengan kesedihan tentang Inggris – merujuk dengan hina kepada ‘reformasi atomistik’ di mana kaum Liberal di  Parlemen Inggris menghabiskan waktu mereka.
Swinton juga terkejut dengan pengetahuan Marx tentang Amerika Serikat. Dia adalah seorang pengamat yang penuh perhatian dan “komentarnya tentang beberapa kekuatan formatif dan substantif tentang kehidupan Amerika penuh dengan ekspresi dan bernada saran”.

Hari itu berlalu dalam serangkaian diskusi yang hidup. Pada sore hari, Marx mengusulkan ‘jalan-jalan di sepanjang pantai’ untuk bertemu keluarganya, yang digambarkan Swinton sebagai ‘orang-orang yang menyenangkan – sekitar sepuluh orang’. Ketika malam tiba, menantu Marx, Charles Longuet (1839-1903) dan Paul Lafargue (1842-1911) terus menemani kedua pria itu; mereka berbicara ‘tentang dunia, tentang manusia, tentang waktu, dan tentang ide-ide, seiring dengan gelas-gelas kami yang bergemerincing di atas deru lautan.’ Pada satu dari momen-momen tersebut, pada sebuah momen yang hening, sang jurnalis Amerika, ‘atas renungan tentang perbincangan dan kerangka usia dan jaman’, larut dalam arus kedalaman ‘pembicaraan hari itu dan fragmen-fragmen sore saat itu’, mengajukan sebuah pertanyaan kritis kepada sang revolusioner dan filsuf yang ada di hadapannya tentang  ‘Apa sebetulnya hukum hidup itu?’

Swinton merasa bahwa pikiran Marx ‘terbalik ke dalam sesaat sembari memandangi laut yang menderu di depannya dan orang-orang yang hilir mudik tanpa jeda di pantai’. Akhirnya, Marx, dengan nada yang dalam dan khidmat, menjawab: ‘Perjuangan!

Categories
Journalism

Marx 201: Kembalinya Alternatif

Kembali ke Marx setelah krisis ekonomi 2008, berbeda dengan kepentingan pembaruan dalam kritiknya terhadap ekonomi.

Banyak penulis, baik di surat-surat kabar, jurnal-jurnal, buku-buku, dan teks-teks akademis, telah mengamati betapa analisis Marx terbukti tak tergantikan dalam memahami kontradiksi-kontradiksi dan mekanisme-mekanisme destruktif dari kapitalisme. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kita jumpai peninjauan kembali sosok Marx sebagai seorang tokoh politik dan teoritikus.

Publikasi naskah-naskah yang sebelumnya tidak dikenal dalam edisi Marx-Engels-Gesamtausgabe (MEGA) Jerman, bersamaan dengan penafsiran-pemafsiran inovatif atas karyanya, telah membuka cakrawala penelitian baru dan menunjukkan lebih jelas daripada di masa lalu kemampuan Marx untuk memeriksa kontradiksi-kontradiksi masyarakat kapitalis pada skala global dan dalam lingkup yang melampui konflik antara kapital dan buruh. Tidaklah berlebihan untuk mengatakan bahwa, dari pemikiran klasik politik, ekonomi dan filosofis yang hebat, Marx adalah sosok yang profilnya paling berubah dalam dekade-dekade awal abad ke-21.

Memikirkan Kembali Alternatif Dengan Marx
Penelitian baru-baru ini telah membantah berbagai pendekatan yang mereduksi konsepsi Marx tentang masyarakat komunis ke pengembangan superior dari kekuatan-kekuatan produktif. Secara khusus, penelitian itu menunjukkan betapa Marx sangat peduli dengan isu-isu ekologis: pada berbagai kesempatan, dia mengecam fakta bahwa ekspansi modus produksi kapitalis tidak hanya meningkatkan pencurian tenaga kerja buruh tetapi juga penjarahan sumberdaya-sumberdaya alam. Persoalan lain yang menjadi perhatian serius Marx adalah migrasi. Dia menunjukkan bahwa perpindahan paksa oleh buruh diciptakan kapitalisme sebagai komponen utama dari eksploitasi borjuis, Karena itu, menurutnya, kata kunci untuk memerangi migrasi ini adalah solidaritas kelas di antara pekerja, tanpa memandang asal-usul mereka atau perbedaan apapun antara tenaga kerja lokal dan tenaga kerja impor.

Marx juga masuk ke banyak masalah lain yang, meskipun sering diremehkan, atau bahkan diabaikan oleh para pengikutnya, menempati posisi yang sangat penting bagi agenda politik zaman kita. Di antaranya adalah kebebasan individu dalam bidang ekonomi dan politik, emansipasi jender, kritik  terhadap nasionalisme, dan bentuk-bentuk kepemilikan kolektif yang tidak dikontrol oleh negara.

Lebih jauh, Marx melakukan investigasi menyeluruh terhadap masyarakat-masyarakat di luar Eropa dan tanpa keraguan secara terbuka melawan kerusakan kolonialisme. Adalah sebuah  kesalahan untuk berpikir sebaliknya. Marx mengkritik para pemikir yang, sambil menyoroti konsekuensi destruktif dari kolonialisme, menggunakan kategori-kategori yang khusus untuk konteks Eropa dalam analisis mereka tentang wilayah-wilayah pinggiran di dunia. Berkali-kali dia mengingatkan mereka yang gagal mengamati pentingnya pembedaan-pembedaan antara fenomena, dan terutama setelah kemajuan teoretisnya pada dekade 1870-an, dia sangat berhati-hati dalam mentransfer kategori-kategori interpretatif melintasi bidang sejarah atau geografis yang sama sekali berbeda. Semua ini sekarang jelas, meskipun skeptisisme masih menjadi mode di lingkungan akademik tertentu.

Dengan demikian, tiga puluh tahun setelah runtuhnya tembok Berlin, menjadi mungkin untuk membaca Marx yang sangat berbeda dengan pembacaan teori-teori dogmatis, ekonomistik, dan Eurosentris yang diarak berkeliling begitu lama. Tentu saja, seseorang dapat menemukan dalam warisan keilmuan Marx yang masif, sejumlah pernyataan yang mengatakan bahwa perkembangan kekuatan-kekuatan produktif mengarah pada pembubaran modus produksi kapitalis. Tetapi akan salah untuk mengatributkan kepadanya ide bahwa kedatangan sosialisme adalah keniscayaan sejarah. Tanpa keraguan Marx mengatakan bahwa kemungkinan transformasi masyarakat bergantung pada kelas pekerja dan kapasitasnya, melalui perjuangan, untuk menghasilkan pergolakan sosial yang mengarah pada lahirnya sistem ekonomi dan politik alternatif.

Komunisme Sebagai Asosiasi Bebas
Berbeda dengan persamaan komunisme dengan “kediktatoran proletariat”, sebagaimana yang dianut banyak “real world socialisms” (merujuk pada Uni Soviet dan negara-negara Blok Timur) dalam propaganda mereka, adalah perlu untuk melihat kembali refleksi-refleksi Marx tentang masyarakat komunis. Dia pernah mendefinisikan komunisme sebagai “asosiasi manusia bebas”. Jika komunisme bertujuan untuk menjadi bentuk masyarakat yang lebih tinggi, maka komunisme harus mempromosikan kondisi-kondisi untuk “pengembangan penuh dan bebas setiap individu”.

Dalam Kapital, Marx mengungkapkan karakter hipokrit dari ideologi borjuis. Kapitalisme bukanlah organisasi masyarakat di mana manusia, yang dilindungi oleh norma-norma hukum yang tidak memihak, sanggup menjamin keadilan dan kesetaraan, menikmati kebebasan sejati dan hidup dalam demokrasi yang sempurna. Pada kenyataannya, dalam kapitalisme manusia terdegradasi menjadi objek belaka, yang fungsi utamanya adalah untuk menghasilkan komoditi dan keuntungan bagi orang lain.

Untuk membalikkan keadaan ini, tidaklah cukup melalui modifikasi distribusi barang-barang konsumsi. Yang diperlukan adalah perubahan radikal pada level aset-aset produktif masyarakat: “para produsen dapat bebas hanya ketika mereka memiliki alat-alat produksi”. Karena itu, menurut Marx, tujuan perjuangan buruh haruslah mengembalikan aset-aset itu kepada komunitas. Berkat potensi emansipatoris dari teknologi, adalah sangat mungkin untuk mencapai tujuan dasar komunisme: pengurangan waktu kerja yang diperlukan (necessary labour time) dan peningkatan kapasitas, bakat-bakat kreatif, dan aktivitas-aktivitas individual yang menyenangkan. Model sosialis yang ada dalam pikiran Marx, tidak mengijinkan terjadinya kemiskinan yang luas tetapi menghendaki pencapaian kekayaan kolektif dan kepuasan kebutuhan yang lebih besar.

Marx juga berkomentar bahwa, dalam modus produksi komunis, “kepemilikan pribadi atas planet ini oleh individu-individu sama absurdnya dengan kepemilikan satu manusia oleh manusia lainnya”. Dia mengarahkan kritiknya yang paling radikal terhadap jenis kepemilikan destruktif yang melekat dalam kapitalisme, menunjukkan bahwa masyarakat tidak memiliki lingkungan tetapi memiliki “tugas untuk mewariskan dunia dalam kondisi yang lebih baik kepada generasi mendatang”.

Hari ini, tentu saja, kaum Kiri tidak dapat dengan mudah mendefinisikan kembali politiknya seputar apa yang ditulis Marx lebih dari seabad yang lalu. Tetapi juga tidak seharusnya melakukan kesalahan dengan melupakan kejelasan analisisnya atau gagal menggunakan senjata kritis yang ia tawarkan untuk pemikiran yang lebih segar tentang sebuah masyarakat alternatif di luar kapitalisme.***

Marcello Musto(1976) adalah Professor bidang Teori Sosiologi di York University (Toronto). Ia telah menulis banyak buku dan artikel yang diterbitkan di lebih dari 20 bahasa. Di antaranya ia mengedit beberapa volume seperti Karl Marx’s ‘Grundrisse’: Foundations of the Critique of Political Economy 150 Years Later (Routledge, 2008); Marx for Today (Routledge, 2012); Workers Unite!: The International 150 Years Later (Bloomsbury, 2014). Ia juga menulis buku Another Marx: Early Manuscripts to the International (Bloomsbury, 2018) dan The Last Marx (1881-1883): An Intellectual Biography (forthcoming 2019). Tulisan-tulisannya tersedia di www.marcellomusto.org. Buku terbarunya dalam bahasa Indonesia berjudul, Marx Yang Lain, akan diterbitkan dalam waktu oleh penerbit Marjin Kiri.