Categories
Reviews

Rossana Rossanda, Il Manifesto

Per un Marx al presente

Non credo che, nell’interessante rassegna degli studi su Marx apparsa sul manifesto, si possa rimproverare alla ricerca svolta da Marcello Musto un eccesso di attenzione per le peripezie della coppia Marx-Jenny von Westhfalen.

Non so se esse siano fin troppo note, ma sono quelle che danno a questa ricerca un carattere di molto più vicino umanamente e di comprensibile anche per lo sviluppo scientifico del pensatore di Treviri.

Se mai riterrei utile approfondire una ricerca sul presente. Considerato che Marx non ha mai rinunciato a ritenere la classe operaia industriale delle fabbriche come il soggetto «rivoluzionario» per eccellenza, sarebbe utile capire su quale strato o gruppo sociale sia passato questo protagonismo in una fase in cui l’industria è nettamente in calo.

Non sembra che si possa attribuire questo compito al crescente precariato giovanile. Né mi sembra decisivo il passaggio al lavoro di servizio alla persona da parte della maggior quantità di donne, tantomeno per il lavoro di cura su cui si è soffermata Alisa Del Re, ma che interessa gran parte del femminismo italiano. Non è semplice considerarlo lavoro produttivo di merci che si possono scambiare, alimentando la accumulazione capitalistica: in generale si tratta di «competenze» soprattutto di carattere affettivo o relazionale e di vendita del proprio «tempo disponibile».

Ne deriva una trasformazione permanente della figura del lavoro, specie femminile, ma non mi pare del meccanismo di produzione di merce vendibile, a meno che non si tratti di grandissimi aggregati di servizi direttamente o indirettamente alla persona, come si possono individuare ancora nella fenomenologia cinese o in certe produzioni, specialmente di carattere medico, americane o tedesche.

Altrettanto interessante mi sembra il discorso che ne deriva per le società dell’Est, soprattutto per quanto riguarda la libertà: in generale sembrerebbe di poter raccogliere attorno a quella fenomenologia la natura di società particolarmente chiuse e autoritarie; perfino la definizione di stato sempre intollerabile, propria di Bakunin, sembra potersi attribuire specialmente alle società dell’Est, più odiose addirittura delle nostre.

Di qui anche l’errore compiuto dai vari «marxismi-leninismi» di considerare come obiettivo principale unico la distribuzione di beni soprattutto materiali ai lavoratori, obiettivo fatto proprio anche dalla maggior parte dei partiti comunisti.

L’avere privilegiato esclusivamente i beni materiali di consumo – che appare tuttora la scelta della Repubblica popolare cinese – è stata rilevata anche dal lavoro di Ernesto Screpanti per lamanifestolibri, ed è al centro della ricerca di Rita Di Leo (L’età della moneta), trascurando (non a caso) la trasformazione dei rapporti fra uomini invece che fra cose, che ha caratterizzato anche il modello sovietico e ora sembra caratterizzare quello cinese.

Nella ricerca di Musto è interessante il rilievo dato al «plusvalore», cioè all’appropriazione da parte del padronato del tempo rubato gratuitamente agli operai, trascurando i loro bisogni di acculturazione e in genere di libertà nei rapporti sociali. C’è da chiedersi quanto, perfino nelle meno odiose tra le società occidentali, non siano stati visti i bisogni operai in crescita intellettuale e morale rispetto ai loro bisogni materiali, affidati essenzialmente alla distribuzione. Ne deriva l’ignoranza dei motivi ricorrenti di crisi nelle società dell’Est, mentre Marx riconduce esplicitamente ad una idea della «classe» come composta essenzialmente da individui necessariamente diversi l’uno dall’altro. Questo filone di ricerca mi sembra urgente.

Categories
Journalism

Militansi Politik Marx Di Masa Asosiasi Kelas Pekerja Internasional (Bagian II)

I. Pentingnya Partai Politik setelah Komune Paris

SETELAH kemenangan Jerman di Sedan dan penangkapan Bonaparte, rakyat Paris berbalik melawan Adolphe Thiers, dan pada 18 Maret 1871 memulai peristiwa politik besar pertama dalam kehidupan gerakan buruh: Komune Paris (Paris Commune).

Tetapi selama “minggu berdarah” (21-28 Mei 1871), sekitar sepuluh ribu Communard (para pendukung Komune Paris) terbunuh dalam pertempuran atau dieksekusi secara sewenang-wenang; sebuah pembantaian paling berdarah dalam sejarah Prancis. 43.000 lainnya atau lebih ditawan, 13.500 di antaranya kemudian dijatuhi hukuman mati, dipenjara, di pekerja paksakan atau di deportasi. Sejak saat itu, Internasional berada di ambang badai, dituding sebagai provokator untuk setiap tindakan melawan kekuasaan yang mapan. “Ketika kebakaran besar melanda Chicago,” Marx merenung dengan ironi yang pahit, “surat kawat (telegram) di seluruh dunia mengumumkannya sebagai perbuatan terkutuk Internasional; dan yang sungguh menakjubkan bahwa gerakan keji itu tidak dikaitkan dengan badai yang menghancurkan West Indies”.

Namun demikian, pemberontakan Paris semakin memperkuat gerakan buruh, mendorongnya untuk mengambil posisi yang lebih radikal dan mengintensifkan militansinya. Pengalaman menunjukkan bahwa revolusi adalah mungkin, bahwa tujuannya dapat dan harus membangun masyarakat yang benar-benar berbeda dari tatanan kapitalis, tetapi juga bahwa, untuk mencapai ini, para pekerja harus menciptakan bentuk-bentuk asosiasi politik yang tahan lama dan terorganisir dengan baik. Ide-ide ini kemudian diperkenalkan dalam undang-undang (statuta) organisasi di Konferensi London pada September 1871. Salah satu resolusi yang disahkan di sana menyatakan: “bahwa untuk melawan kekuatan kolektif dari kelas-kelas berpunya, kelas pekerja tidak dapat bertindak, sebagai kelas, kecuali dengan membentuk dirinya menjadi sebuah partai politik (…); bahwa pengolompokkan kelas buruh ke dalam sebuah partai politik sangat diperlukan untuk memastikan kemenangan revolusi sosial dan tujuan akhirnya – penghapusan kelas-kelas”. Kesimpulannya jelas: “gerakan ekonomi [kelas pekerja] dan aksi politiknya menyatu tidak terpisahkan”.

Sementara Kongres Jenewa tahun 1866 menetapkan pentingnya serikat pekerja, Konferensi London 1871 menggeser fokus ke instrumen kunci lain dari gerakan buruh modern: partai politik. Bagi Marx, emansipasi diri kelas pekerja membutuhkan proses yang panjang dan sulit – kebalikan dari teori dan praktik dari Catechism of a Revolutionary-nya Sergei Nechaev yang dianjurkan oleh perkumpulan rahasia yang dikutuk oleh para delegasi di London, tetapi didukung dengan sangat antusias oleh Mikhail Bakunin.

Untuk semua klaim manfaat yang menyertainya, kejadian London dilihat oleh banyak orang sebagai campur tangan yang kasar. Tidak hanya kelompok-kelompok yang terkait dengan Bakunin tetapi hampir semua federasi dan seksi-seksi lokal menganggap prinsip otonomi dan menghormati realitas yang beragam telah menjadikan Internasional sebagai salah satu pilarnya. Kesalahan perhitungan dari Marx ini kemudian mempercepat krisis organisasi.

Pertarungan terakhir antara kelompok ‘sentralis’ dan kelompok ‘otonomis’ terjadi di Kongres Den Haag, pada September 1872. Menyadari pentingnya Kongres ini, Marx, dengan ditemani Engels, memutuskan untuk hadir secara pribadi. Inilah satu-satunya kongres Internasional yang dihadirinya. Seluruh sesi kongres ditandai dengan antagonisme dimana kedua kubu gagal mencapai kata sepakat, dan persetujuan atas resolusi dimungkinkan hanya karena komposisi yang terdistorsi. Bagaimanapun, setelah momen ini, partai dianggap penting untuk perjuangan proletariat: partai harus independen dari semua kekuatan politik yang ada dan akan dibangun, baik secara program maupun organisasi, berdasarkan konteks nasional.

II. Sumbangan Internasional kepada Marx

Hasil dari Konferensi London dan Kongres Den Haag secara signifikan memperburuk krisis internal, dengan tidak memperhitungkan suasana yang berlaku atau untuk menampilkan pandangan ke depan yang diperlukan guna menghindari menguatnya pengaruh Bakunin dan kelompoknya. Ini membuktikan kemenangan yang menghancurkan (Pyrrhic victory) buat Marx – yang, dalam upaya menyelesaikan konflik internal, akhirnya menonjolkan mereka. Namun demikian, tetap saja bahwa keputusan yang diambil di London hanya mempercepat proses yang sudah berjalan dan tidak mungkin dibalik.

Di samping seluruh pertimbangan-pertimbangan sejarah dan organisasional ini, terdapat juga pertimbangan lain yang tidak kalah pentingnya terkait penyebab utama krisis Internasional. Sebagaimana telah diingatkan Marx kepada para delegasi di suatu sesi Konferensi London tahun 1871, “pekerjaan Dewan telah menjadi sangat besar, yang diwajibkan untuk menangani masalah-masalah umum dan masalah nasional”. Internasional kini bukan lagi organisasi yang kecil seperti pada 1864, yang kakinya hanya ada di Inggris dan Prancis; ia kini telah berdiri di seluruh negara Eropa, dengan masalah-masalah dan karakter-karakternya yang khusus. Tidak hanya organisasi di mana-mana dirundung konflik internal, tetapi kedatangan para pendukung Komune yang mengungsi di London, dengan gangguan-ganguan baru dan muatan ide-ide yang beraneka ragam, menyebabkan tugas Dewan Umum untuk melaksanakan kerja-kerja penyatuan politik kian bertambah sulit.

Selama delapan tahun, Marx dengan sangat bersemangat aktif dalam Internasional. Sadar bahwa kekuatan buruh sedang mengalami kemunduran menyusul kekalahan Komune Paris – fakta paling penting saat itu baginya – ia kemudian mengabdikan sisa hidupnya untuk menyelesaikan Capital. Ketika ia menyeberangi Laut Utara menuju Belanda, ia merasakan bahwa pertempuran yang sedang menunggunya merupakan aktivitasnya yang terakhir sebagai seorang pelaku langsung aktivitas revolusioner itu.

Dari seorang sosok yang semula diremehkan pada pertemuan pertama di St. Martin Hall pada 1864, Marx kemudian diakui sebagai pemimpin Internasional, tidak hanya oleh para peserta kongres dan Dewan Umum, tapi juga oleh publik luas. Jadi, walaupun Internasional tentu berutang banyak hal pada Marx, Internasional juga telah mengubah hidupnya. Sebelum berdirinya Internasional, ia hanya dikenal di lingkaran kecil aktivis politik. Kemudian, dan di atas segalanya setelah Komune Paris – juga, tentu saja, publikasi karya besarnya pada 1867 – ketenaranya menyebar di kalangan revolusioner di banyak negara Eropa, keadaan dimana media menjulukinya sebagai “red terror doctor.” Dengan tanggung jawab yang melekat atas perannya di Internasional – yang memungkinkannya untuk mengalami langsung dari dekat begitu banyak perjuangan ekonomi dan politik – kemudian mendorongnya untuk melakukan refleksi yang mendalam akan komunisme dan memperkaya keseluruhan teori anti kapitalisnya.***

Categories
Reviews

Noemi Ghetti, Left

Il filosofo di Treviri e la diffusione del suo pensiero in Italia e in Russia. Una storia tutta da ristudiare

Il nostro Marx. Sotto questo titolo del Il Grido del Popolo nel primo centenario della sua nascita Antonio Gramsci affermava: «Marx non ha scritto una dottrinetta, non è un messia che abbia lasciato una filza di parabole gravide di imperativi categorici, di norme indiscutibili, assolute, fuori delle categorie di tempo e di spazio […] Marx si pianta nella storia con la solida quadratura di un gigante: non è un mistico né un metafisico positivista; è uno storico, è un interprete dei documenti del passato, di tutti i documenti, non solo di una parte di essi […] Ma è inutile l’avverbio ‘marxisticamente’, e anzi esso può dare luogo ad equivoci e ad inondazioni fatue e parolaie. Marxisti, marxisticamente… aggettivo e avverbio logori come monete passate per troppe mani».
Karl Marx, questo sconosciuto. Icona delle rivoluzioni del novecento, nella crisi mondiale delle sinistre torna alla ribalta il filosofo che, un anno prima della morte, disse di odiare l’appellativo di marxista. Un altro secolo è trascorso e gran parte dei suoi manoscritti rimane inedita, mentre si moltiplicano gli studi che gettano luce su aspetti poco noti della sua ricerca, e sulle vicissitudini della diffusione degli scritti. Con l’intenzione di andare oltre la vulgata del “socialismo reale” che, nell’urgenza della lotta e per scopi di propaganda politica, a lungo ne ha ridotto il pensiero in schemi rigidi fino al dogmatismo, appiattendone il profilo su quello del sodale Friedrich Engels.

Tenace quanto marginale, l’indagine sul vero volto di Marx viene da lontano. Dalla svolta staliniana del 1930 per molti decenni pochi intellettuali eretici si volsero a studiare i suoi scritti giovanili, alla ricerca delle radici di una catastrofe sempre più evidente. A partire da Gramsci, che nella solitudine della cella traduceva dal tedesco quelli che riteneva più importanti, procedendo a ritroso nel tempo. Fino alla lettera al padre del 10 novembre 1837 in cui, accantonato lo studio di Hegel, lo studente diciannovenne, come evidenziato da Massimo Fagioli nel 1981, raccontava di essersi proposto una ricerca scientifica e artistica sulla realtà psichica umana, la perla delle perle sempre ignorata.
Esclusi dall’edizione critica Einaudi del 1975, i Quaderni di traduzioni rimasero inediti fino alla pubblicazione del 2007 nell’Edizione Nazionale degli scritti gramsciani. Tutt’altro che esercizi distensivi, le traduzioni rispondono, scrive Giuseppe Cospito, a un preciso programma di reinterpretazione della filosofia della prassi terzinternazionalista, offrendo una lettura decisamente alternativa rispetto a quella della vulgata che culminerà nel materialismo dialettico staliniano. Su questa linea di ricerca il recente saggio Marxismo e filosofia della praxis (Viella) di Marcello Mustè, docente di Filosofia teoretica alla Sapienza, ricostruisce il peculiare contributo del pensiero italiano allo sviluppo del marxismo europeo da Labriola, attraverso Croce, Gentile e Mondolfo, fino all’originale elaborazione di Gramsci, a cui è dedicata la preziosa seconda parte del libro.

Dagli scritti giovanili, l’interesse si è recentemente spostato su quelli della maturità del filosofo, come il saggio del 2016 di Marcello Musto L’ultimo Marx, 1881-1883 (Donzelli), che tra quaderni antropologici e lettere inedite presenta lo studio sulle società precapitaliste, che Marx ebbe modo di sviluppare durante il soggiorno per ragioni di salute ad Algeri, e sulle trasformazioni determinatesi in Russia in seguito all’abolizione della schiavitù. Dello stesso Musto, docente di Sociologia teorica alla York University di Toronto, arriva ora in libreria Karl Marx. Biografia intellettuale e politica 1857-1883 (Einaudi). Con precisi riferimenti alle movimentate vicende della sua vita e al contesto sociale in cui si svolse, attraverso scritti poco conosciuti il libro presenta il ritratto di un rivoluzionario tutt’altro che eurocentrico, economicista e assorbito dal solo conflitto di classe. Un pensatore a tutto tondo, animato fino all’ultimo da un profondo interesse per la realtà umana e per l’ambiente, e da uno sguardo globale sul mondo, dall’America alla Russia.
Contemporaneamente in Inghilterra James D. White, docente emerito dell’università di Glasgow, con il suo Marx and Russia. The fate of a doctrine (Bloomsbury) presenta uno studio innovativo, sintesi del lavoro di una vita sul pensiero di Marx e sulle vicende della sua ricezione in Russia, in stretta connessione con i movimenti rivoluzionari russi ed europei e la rivoluzione d’Ottobre. Un’eredità precocemente tradita a partire dallo stesso 1883, anno della morte del pensatore. Leggiamo così che Engels, nel sistemare il II e il III capitolo del Capitale per la pubblicazione, avvenuta l’anno dopo, intenzionalmente decise di ignorare l’ultimo decennio di studi di Marx sulla Russia, e sulla possibilità che dalla comune agricola (obščina) dell’impero degli zar si potesse attuare la transizione al socialismo senza la mediazione del capitalismo. Decisione motivata dall’insofferenza per le «finezze teoretiche» del materiale russo marxiano, che Engels «avrebbe dato volentieri alle fiamme», ovvero dalla mancata comprensione della direzione degli studi di Marx, che progressivamente si era allontanato dall’astratto schema del metodo hegeliano. I due libri del Capitale, a cui Marx aveva continuato a lavorare, apparvero nella forma in cui erano stati abbozzati nel 1860.
Già nell’Anti-Düring, con un tentativo mai riconosciuto da Marx, Engels aveva voluto dimostrare che la dialettica di Hegel poteva essere applicata alla natura, adattandola alle nuove scoperte scientifiche (la teoria dell’evoluzione di Darwin e la legge della conservazione dell’energia). L’operazione fu sistematizzata nel 1883 con La dialettica della natura. Un ulteriore allontanamento da Marx si registra nel saggio Ludvig Feuerbach che, con le ‘Tesi su Feuerbach’ di Marx riportate in appendice nel 1888, esercitò una grande influenza all’origine delle dottrine marxiste.
Scelte fatali, cristallizzate in Russia da Georgij Plekhanov nella dialettica come teoria e metodo della conoscenza, e infine codificate nel materialismo dialettico di Lenin. Alla brutale politica culturale del capo bolscevico, e alla critica costruttiva da parte di Aleksandr Bogdanov nei confronti del ‘marxismo assoluto’, nuova religione dogmatica e autoritaria, il libro di White dedica un’analisi illuminante, approfondita nel recentissimo Red Hamlet (Brill), prima biografia intellettuale del poliedrico ‘bolscevico di sinistra’.
In una una scena rivelatrice del recente film di Raoul Peck Il giovane Karl Marx, Engels sollecita l’amico ad abbandonare la ricerca sull’alienazione religiosa, e a dedicarsi all’economia politica. Caduto con il muro di Berlino il determinismo economico prevalso nel marxismo-leninismo, al di là della falsa alternativa tra idealismo e materialismo riemerge l’umanesimo di Marx. Un evergreen, offerto ai giovani lettori che ancora non conoscono i suoi scritti.

Categories
Reviews

Benedetto Vecchi, Il Manifesto

Karl Marx impigliato nel futuro

Due secoli separano il presente dall’anno di nascita di Karl Marx.

In termini di anni (duecento), l’immagine evocata è quella di un uomo e di un’opera di altri tempi, ottocentesca. Eppure la sua critica all’economia politica, la sua antropologia filosofica, la sua militanza politica hanno condizionato gran parte del Novecento.

Era quindi prevedibile che studiosi – marxisti e non solo – facessero i conti con la sua eredità teorica. Molte sono state le pubblicazioni dedicate al Moro. Difficile individuarne contorni netti, tuttavia. Ne esce semmai una costellazione tematica, talvolta sfuggente. In primo luogo, emergono quelli che David Harvey ha chiamato i «punti di stress» dell’opera marxiana. La teoria del valore lavoro, la distinzione tra lavoro produttivo e improduttivo, la definizione della necessità di una organizzazione politica che valorizzasse l’autonomia della classe operaia. La polarità tra una tendenza globale del capitale (la formazione di un mercato mondiale, o per usare una espressione di Etienne Balibar di «capitalismo assoluto») e una «nazionalizzazione» della base economica del capitalismo stesso. Marx, va da sé, nazionalista mai lo è stato. Negli scritti indirizzati all’Associazione internazionale dei lavoratori o nei pamphlet «politici» ha infatti sempre criticato ferocemente ogni cedimento nazionale dei gruppi militanti. Trovarlo descritto, come ormai spesso accade, sia a destra che a sinistra, come un «sovranista» restituisce solo la miseria della filosofia politica contemporanea.
CHI SI PROPONE di gettare un po’ di luce su questa costellazione è Roberto Finelli in Karl Marx. Uno e bino (Jaca Book, pp. 287, euro 25), che con una felice idea scandisce la riflessione, interrompendo la linea che dal passato porta al futuro, invertendo cioè il ritmo: c’è prima il futuro, poi il presente (lo stato dell’arte della critica marxista al capitalismo) per infine chiudere sul passato (il marxismo storico). Il futuro di Finelli è la dichiarazione di un percorso di ricerca in divenire, ma del quale alcune tappe sono state comunque segnate. Il filosofo dell’astrazione reale segnala in primo luogo la irrinunciabile necessità di rompere lo schema evoluzionista, determinista di una filosofia della storia marxista che fa del comunismo una sorta di approdo obbligato, dettato da leggi di movimento oggettive che cancellerebbero la tensione a una libertà radicale per la quale serve mettere al lavoro la coppia filosofica «individuazione e riconoscimento di sé». Individuazione significa fare i conti con l’antropologia della povertà e dello sfruttamento nel capitalismo, mentre il riconoscimento del sé significa un esercizio della differenza che tiene aperta, appunto, la possibilità di una libertà radicale. Da qui l’evocazione della psicoanalisi come elaborazione «altra», propedeutica alla produzione di soggettività politiche adeguate al presente.
IL BANDOLO DELLA MATASSA ha però fili e fila da tirare, come quello della biografia di Marx. Paolo Ferrero e Bruno Morandi si inoltrano così su quel tornante, facendo leva su una evidente attitudine pedagogica rispetto le sue opere (Grundrisse e Capitale), convinti i due autori che la desertificazione politica di questi anni abbia quasi azzerato la conoscenza dell’opera marxiana. Il loro libro Marx. Oltre i luoghi comuni (DeriveApprodi, pp. 240, euro 14) passa in rassegna la perigliosa e romantica vita del Moro, ma anche la teoria del valore lavoro, il ruolo della finanza, dello stato. Di tutt’altro spirito, ma con evidenti punti di contatto metodologici con questo volume è poi l’ambiziosa monografia di Marcello Musto su Karl Marx (Einaudi, pp. 326, euro 30). Sono anni che Marcello Musto svolge un lavoro certosino sulle fonti del pensiero marxista. In questo libro ci sono pagine dedicate ai pamphlet incendiari come il Manifesto del partito comunista, La critica al programma di Gotha, le vicende e gli scontri feroci che videro Marx e Engels battagliare contro anarchici, repubblicani (Giuseppe Mazzini era disprezzato dal Moro), socialisti utopisti. Un libro che smentisce l’immagine di un Marx autoritario e settario, restituendo invece la profonda convinzione che la liberazione della classe operaia potesse venire solo dalla classe operaia stessa e non da qualche dirigente illuminato o da un gruppo selezionato di giacobini, per quanto comunisti fossero.
I TANTI LIBRI USCITI segnalano, tuttavia, un certo prosciugamento del bacino di lavoro intellettuale su Marx. Conferisce evidenza a questa difficoltà il tono un po’ mesto di molti interventi presenti nel volume curato da Stefano Petrucciani Il pensiero di Karl Marx (Carocci editore, pp. 381, euro 35), dove compaiono autori che si ritrovano anche in quello curato da Chiara Giorgi per manifestolibri (Rileggere il capitale, pp. 245, euro 20). Il libro si caratterizza per un tentativo di rompere lo schema da una certa scolastica marxista. Stefano Petrucciani, ad esempio, affronta il tema della libertà, all’interno di un disegno nel quale le proposte politiche di Marx vengono qualificate come una anticipazione – tesi molto azzardata – del welfare statenovecentesco. Il diritto borghese diseguale individuato dall’autore è funzionale alla lunga transizione che dovrebbe portare all’operatività, ma solo alla fine, della massima «a ciascuno secondo i suoi bisogni, da ciascuno a secondo la sua capacità». Fino ad allora, il diritto non può che essere contraddittoriamente diseguale.
COSA FARNE ALLORA dell’eredità marxiana? Con una mossa a sorpresa, felicemente inaspettata, Sandro Mezzadra e Mario Espinoza Pino invitano a aprire laboratori marxiani facendo tesoro degli scritti giornalistici, legati alla contingenza, di Marx. Il giornalismo, quello sulle lotte di classe in Francia, sulla Comune, sulle corrispondenze per lo statunitense New York Tribune è interpretato come un laboratorio dove il Moro ha messo a fuoco i problemi da sciogliere nella sede adeguata – i tempi lunghi della riflessione – ma alla luce delle necessarie messe di dati, fondamentali per lo sviluppo delle sue categorie. I due autori segnalano inoltre che sono scritti giornalistici che rompono la gabbia dell’accusa di eurocentrismo rivolta Marx, giungendo ad abbozzare – in base a quanto stava accadendo in Cina, Russia, India, Africa – una vision «multilineare» dello sviluppo capitalistico. In questa direzione va il saggio di Etienne Balibar contenuto nel libro curato da Chiara Giorgi (Rileggere il capitale). Il filosofo francese prova a individuare i punti di stress della teoria marxiana per poi sviluppare una concezione del «capitale assoluto» e del «debito ecologico». Un vento lieto lo portano infine altri due testi, Quelli di Alisa Del Re e Giso Amendola. La prima introduce i temi del lavoro di riproduzione, di cura, relazionale, del lavoro semplice e gratuito.
UNA PROSPETTIVA femminista che entra in rotta di collisione con l’economicismo di molto marxismo ortodosso. Aria fresca, specialmente quando la filosofa italiana dice che la ricchezza degli anni Settanta non sta solo nell’immaginare e praticare altre relazioni sociali, ma nel saper tenere insieme diritti civili e sociali, spezzando cioè la gabbia che separa individuale e collettivo. Le singolarità e la loro irriducibilità a sintesi governate dall’alto. Il partito politico di massa, tanto nelle sue varianti socialdemocratiche che leniniste, non è stato messo in scacco solo dal perfido capitale ma è stato sottoposto alla critica roditrice del conflitto di classe. Pensare di ricostruirlo come se niente fosse accaduto, consegna chi lo propone a risibili risultati elettorali e politici da prefisso telefonico.
LIBERTÀ INDIVIDUALE e libertà collettiva, dunque. Da inventare, praticare. È quello che fa lo «stato di agitazione permanente» delle donne di questi ultimi anni, che sgombera il campo da polarità tra i muscoli esibiti in qualche riot metropolitano scandito da gilet gialli e l’autodeterminazione di chi pensa che il proprio «lavoro elementare» (di cura, riproduttivo) con la ricchezza abbia molto a che fare. E sulla tensione tra produzione di soggettività e astrazione insiste Giso Amendola, mettendo in rapporto Marx e Foucault, stabilendo assonanze e dissonanze, foriere di inediti e proficui sviluppi. Sono due testi che chiariscono molte delle dinamiche sociali, culturali, politiche dentro questo vischioso presente. Hanno inoltre il pregio di sgomberare il terreno dalle sciocchezze sui «conflitti di identità», la retorica delle «guerre culturali», invitando a immaginare e prendere in considerazione che la singolarità e frammentazione del lavoro vivo dentro il conflitto del capitale non necessariamente fa suo il lessico della rivendicazione economica, ma indugia – e quindi valorizza – su quello delle forme di vita, della relazionalità in divenire.
IL NODO, all’interno questo scenario, resta quindi quale organizzazione politica darsi. Il modello reticolare è una opzione, certo, senza però chiudere gli occhi: quella che sembra costituire una soluzione può rivelarsi, come accaduto nei movimenti globali di queste due decadi del nuovo millennio, un problema aggiuntivo.

Categories
Reviews

Marcelo Godoy, O Estado de S.Paulo

O ‘velho’ Karl Marx

Exilado na Inglaterra desde 1849, o filósofo Karl Marx era em 1881 uma personalidade cujas intenções e ideias eram vistas com desconfiança pelos governos da Europa.

Ele era para a Scotland Yard o “famigerado agitador alemão, propugnador de princípios comunistas que não havia sido leal nem a seu rei nem a seu país”. Era na imprensa chamado de “doutor do terror vermelho.” Os dois últimos anos da vida do pensador são o objeto da obra O Velho Marx, do filósofo italiano Marcello Musto, que também se vale do material inédito da Mega-2, as obras completas de Marx e Engels, para surpreender um Marx às voltas com a antropologia, a matemática, os povos coloniais e as possibilidades do movimento revolucionário na Rússia.
Debruçado sobre o cálculo diferencial e a função derivada, Marx se distraía de outras tarefas. A atenção multidisciplinar o levava à uma série de estudos, como as investigações antropológicas de Lewis Henry Morgan sobre estruturas sociais de populações primitivas. É neste Marx distante da ortodoxia que caracterizou muitos de seus seguidores no século 20 que Musto joga luz. Um Marx que, ao tratar da terra comunal na Rússia, surpreende ao mostrar as possibilidades de a revolução chegar àquele país sem que os efeitos do capitalismo se impusessem à propriedade no campo.
Seu último ano foi dedicado a superar as tragédias familiares – a perda da mulher e da filha mais velha – em meio à luta contra a doença. É este o contexto de sua viagem à Argélia. Por fim, Marx nunca se preocupou em responder aos detratores, dentro e fora do movimento socialista. “Se fosse responder a tudo o que foi dito e escrito sobre mim teria de contratar 20 secretárias.” Musto mostra que ele precisaria de muito mais para se defender dos áulicos. Diante de escritos dos que tentavam bajulá-lo sem conhecer suas ideias, Marx escreveu: “Tudo o que sei é que não sou marxista”.

Categories
Past talks

Marx 2018 Duex Siècles D’actualité

Categories
Past talks

8º Conferencia Latinoamericana y Caribeña de Ciencias Sociales

Categories
Journalism

Militansi Politik Marx Di Masa Asosiasi Kelas Pekerja Internasional (Bagian I)

I. Sumbangan Marx pada Internasional

ASOSIASI Kelas Pekerja Internasional (The International Working Men’s Association) – didirikan pada 28 September 1864, adalah sebuah organisasi tempat dimana berbagai aliran politik yang berbeda mampu hidup berdampingan satu sama lain.

Serikat buruh reformis dari Inggris, kaum mutualis Prancis yang terinspirasi oleh teori-teori Pierre-Joseph Proudhon, kalangan antikapitalis, dan berbagai kelompok lain, termasuk mereka yang dipengaruhi oleh ide-ide kaum sosialis ‘utopian’, berpartisipasi selama delapan tahun yang intens untuk mengembangkan pengalaman pertama dari politik transnasional gerakan buruh.
Untuk memastikan kebersamaan semua aliran dalam sebuah organisasi yang sama, dengan program yang sangat berbeda dari pendekatan semula dari masing-masing partisipan, merupakan sebuah prestasi gemilang seorang Karl Marx. Kecerdasan politiknya membuatnya sanggup merekonsiliasikan sesuatu yang tampaknya mustahildirekonsiliasikan, memastikan Internasional tidak secara tergesa-gesa mengikuti jalan buntu dari banyak asosiasi-asosiasi buruh yang telah ada sebelumnya. Adalah Marx yang memberikan tujuan jelas kepada Internasional, dan Marx juga yang mencapai pendekatan non-eksklusif, namun tegas berbasiskan kelas, memenangkan program politik yang berkarakter massa, yang melampaui seluruh sektarianisme. Roh politik dari Dewan Umum (General Council) selalu adalah Marx: dialah yang menulis rancangan dari seluruh resolusi-resolusi utama dan mempersiapkan seluruh laporan-laporan kongres.
Marx jugalah yang menulis Pidato Pembukaan (Inaugural Address) dan Statuta Sementara (Provisional Statutes) dari Internasional. Dalam dua teks fundamental ini, sebagaimana yang diikuti banyak orang, Marx merangkai gagasan-gagasan terbaik dari berbagai kompomen dari Internasional. Dia memastikan bahwa antara perjuangan ekonomi dan perjuangan politik terhubung satu sama lain, dan menjadikan pemikiran dan aksi internasional sebagai pilihan yang tidak bisa diganggu-gugat. Berkat kemampuan Marx lah Internasional mampu mengembangkan fungsi sintesis politiknya, menyatukan berbagai konteks nasional dalam proyek perjuangan bersama sembari mengakui signifikansi otonomi mereka, tetapi bukan independensi total, dari arahan pusat. Mengelola persatuan ini, sungguh meletihkan, khususnya anti-kapitalisme Marx tidak pernah menempati posisi politik dominan dalam organisasi. Namun demikian, dari waktu ke waktu, khususnya melalui keuletannya, atau melalui perpecahan yang kadang terjadi, pemikiran Marx kemudian menjadi doktrin yang hegemonik. Bukan hal yang mudah memang, namun upaya elaborasi politik tersebut sangat diuntungkan dari perjuangan selama tahun-tahun itu. Karakter dari mobilisasi buruh, tantangan anti-sistemik dari Komune Paris, tugas yang belum pernah ada sebelumnya dalam menyatukan organisasi besar dan rumit seperti itu, polemik berkelanjutan dengan tendensi-tendensi lain dalam gerakan buruh tentang berbagai isu-isu teoritik dan politik: kesemuanya ini mendorong Marx melampaui batas-batas ekonomi politik semata, yang menyerap begitu banyak perhatiannya sejak kekalahan revolusi 1848 dan surutnya kekuatan yang paling progresif.
Dia juga terangsang untuk mengembangkan dan kadang-kadang merevisi gagasannya, menempatkan keyakinan-keyakinan lama untuk didiskusikan kembali dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan baru kepada dirinya sendiri, dan secara khusus mempertajam kritiknya atas kapitalisme melalui penggambaran garis-garis besar masyarakat komunis. Pandangan ortodoks lama tentang peran Marx dalam Internasional, yang mengatakan bahwa ia secara mekanis menerapkan sebuah teori politik yang telah ia tempa dalam batas-batas ruang kerjanya ke dalam sebuah tahapan sejarah, dengan demikian secara keseluruhan telah menceraikannya dari kenyataan
Dalam salah satu dokumen kunci organisasi-politik Internasional, Marx meringkas fungsi-fungsi organisasi sebagai berikut: “merupakan urusan Asosiasi Pekerja Internasional untuk menggabungkan dan menyelaraskan gerakan spontan kelas pekerja, tetapi tidak mendikte atau memaksakan doktrin dari sistem apapun”. Meskipun otonomi luas diberikan kepada federasi-federasi dan sekdi-seksi lokal, Internasional selalu mempertahankan inti kepemimpinan politik. Dewan Umum adalah badan
yang menyusun sintesa pemersatu mengenai isu-isu luas, seperti: kondisi-kondisi kerja, efek-efek dari mesin baru, dukungan untuk pemogokan, peran dan pentingnya serikat-serikat buruh, masalah Irlandia, berbagai kebijakan luar negeri yang penting, dan, tentu saja, bagaimana membangun masyarakat masa depan.

II. Kemenangan Atas Kaum Mutualis
Pada bulan September 1866, kota Jenewa menjadi tuan rumah kongres pertama Internasional. Mereka yang terlibat dalam kongres secara mendasar terbelah dalam dua blok. Blok pertama terdiri atas delegasi dari Inggris, beberapa orang Jerman dan mayoritas orang-orang Swiss. Blok ini mengikuti arahan Dewan Umum yang disusun oleh Marx (yang tidak hadir di Jenewa). Blok kedua terdiri dari delegasi Prancis dan beberapa dari Swiss berbahasa Prancis, yang dibentuk oleh kelompok mutualis. Ketika itu, dalam kenyataannya, posisi moderat merupakan hal yang lazim dalam Internasional dan para mutualis membayangkan suatu masyarakat di mana pekerja sekaligus merupakan produser, kapitalis dan konsumen. Mereka menganggap pemberian kredit gratis sebagai tindakan yang menentukan untuk mentransformasikan masyarakat; menganggap pekerja perempuan tidak dapat diterima baik dari sudut pandang etika maupun sosial; dan menentang setiap campur tangan negara dalam hubungan kerja (termasuk undang-undang untuk mengurangi jam kerja menjadi delapan jam) dengan alasan bahwa itu akan mengancam hubungan pribadi antara pekerja dan pengusaha dan memperkuat sistem yang saat ini berlaku.
Dengan mendasarkan diri pada resolusi-resolusi yang disiapkan oleh Marx, para pemimpin Dewan Umum sukses meminggirkan kelompok mutualis dalam kongres, dan meraih dukungan suara berkaitan dengan campur tangan negara. Mengenai isu selanjutnya, dalam Petunjuk untuk Para Delegasi Dewan Umum Sementara (Instructions for Delegates of the Provisional General Council), Marx telah mengeja semuanya dengan jelas: “ini hanya dapat dilakukan dengan mengubah nalar sosial (social reason) menjadi kekuatan sosial (social force), dan dalam keadaan tertentu, tidak ada metode lain yang eksis dalam melakukannya,kecuali melalui hukum-hukum umum (general laws), yang ditegakkan oleh kekuatan negara. Dalam menegakkan undang-undang tersebut (reformasi sosial), kelas pekerja tidak membela kekuasaan pemerintah. Sebaliknya, mereka mentransformasikan kekuasaan tersebut, yang kini digunakan untuk melawan mereka (kelas buruh), menjadi agen untuk kepentingan mereka sendiri. Kelas buruh akan punya pengaruh ketika bertindak bersama-sama dan sebaliknya menjadi sia-sia ketika mereka bertindak sebagai gerombolan individu yang terisolasi”.
Selain itu, instruksi yang ditulis Marx untuk kongres Jenewa menggarisbawahi fungsi dasar serikat pekerja, yang tidak hanya melawan para mutualis tetapi juga pengikut-pengikut setia Robert Owen di Inggris dan Ferdinand Lassalle di Jerman untuk mengambil sikap: ” Aktivitas serikat buruh-serikat buruh ini tidak hanya absah, juga dibutuhkan. Ia tidak bisa ditiadakan sejauh sistem produksi saat ini tetap berlangsung. Sebaliknya, itu harus diselaraskan melalui pembentukan dan persatuan serikat buruh-serikat buruh di seluruh negara”.
Dalam dokumen yang sama, Marx tidak segan-segan mengritik serikat-serikat yang ada karena “terlalu eksklusif terikat pada perjuangan-perjuangan lokal dan langsung dengan kapital (dan tidak) sepenuhnya memahami kekuatan mereka dalam bertindak melawan sistem perbudakan upah itu sendiri. Oleh karena itu mereka terasing dari gerakan-gerakan sosial dan politik pada umumnya”.
Singkatnya, dengan semua kesulitan yang terkait dengan keragaman kebangsaan, bahasa, dan budaya politik, Internasional sukses mencapai persatuan dan koordinasi dari beragam organisasi yang luas jangkauannya dan perjuangan-perjuangan yang spontan. Manfaat terbesarnya adalah untuk menunjukkan mutlaknya kebutuhan akan olidaritas kelas dan kerja sama internasional, bergerak secara meyakinkan melampaui karakter parsial dari tujuan-tujuan dan strategi-strategi semula. Dari tahun 1867, diperkuat oleh keberhasilan dalam mencapai tujuan-tujuan ini, dengan peningkatan keanggotaan dan organisasi yang lebih efisien, Internasional membuat perkembangan pesat di seluruh Benua Eropa.

III. Sosialisasi Alat-alat Produksi
Selama empat tahun, kaum mutualis merupakan sayap penting dalam Internasional. Marx tidak diragukan lagi memainkan peran kunci dalam perjuangan panjang untuk meminimalisir pengaruh Proudhon di Internasional. Ide-ide Marx sangat penting bagi perkembangan teoretis para pemimpinnya, dan ia menunjukkan kapasitas yang menakjubkan untuk meyakinkan mereka dalam memenangkan seluruh konflik-konflik besar di dalam organisasi.. Berkenaan dengan kerja sama (salah satu poin kunci Proudhon), misalnya, dalam Instructions for the Delegates of the Provisional General Council, The Different Question, 1866, ia merekomendasikan kepada para pekerja “untuk memulai produksi koperasi ketimbang toko koperasi. Yang terakhir ini hanya menyentuh permukaan sistem ekonomi yang ada, sementara yang pertama menyerang dasar-dasar dari sistem ini”.
Dua tahun kemudian, yakni pada September 1868, dilangsungkan Kongres Brussel, yang akhirnya memotong sayap kaum mutualis. Poin terpentingnya adalah ketika dewan menyetujui proposal César De Paepe’s mengenai sosialisasi alat-alat produksi – sebuah langkah maju yang menentukan dalam mendefinisikan basis ekonomi dari sosialisme, tidak lagi sekadar muncul dalam tulisan-tulisan dari para intelektual tertentu tetapi sebagai program dari sebuah organisasi transnasional yang besar. Mengenai kepemilikan tanah, disepakati: “bahwa pembangunan ekonomi masyarakat modern akan menciptakan kebutuhan sosial untuk mengubah lahan subur menjadi kepemilikan bersama masyarakat, dan membiarkan tanah atas nama negara kepada perusahaan pertanian di bawah kondisis yang sama seperti yang ada di pertambangan dan dan kereta api”.
Akhirnya, beberapa poin menarik dibuat tentang lingkungan: “Menimbang bahwa pengabaian hutan kepada individu-individu privat menyebabkan rusaknya hutan yang diperlukan bagi konservasi mata air, dan, tentu saja, kualitas tanah yang baik, serta kesehatan dan kehidupan masyarakat, Kongres berpikir bahwa hutan harus tetap menjadi milik masyarakat”.
Di Brussels inilah, kemudian Internasional membuat pernyataan pertamanya yang jelas tentang sosialisasi alat-alat produksi oleh otoritas negara. Ini menandai kemenangan penting bagi Dewan Umum dan kemunculan, untuk pertama kalinya, prinsip-prinsip sosialis dalam program politik organisasi pekerja utama. Resolusi-resolusi dari Kongres Brussels tentang kepemilikan tanah ditegaskan kembali pada Kongres Basel yang diadakan pada bulan September 1869. Sebelas orang Perancis bahkan menyetujui sebuah teks baru yang menyatakan bahwa masyarakat memiliki hak untuk menghapus kepemilikan individual atas tanah dan menjadikannya bagian dari komunitas. Setelah Basel, tidak ada lagi mutualis di Prancis Internasional.

Categories
Reviews

Paolo Missiroli, Pandora. Rivista di teoria e politica

“Scritti sull’alienazione” di Karl Marx

Esattamente duecento anni or sono, in una non enorme casa nel centro di Treviri, una non grande città nell’allora non esteso Regno di Prussia, nasceva Karl Marx.

Non eccessivamente ricca la sua famiglia, non troppo noto il suo cognome, non incredibilmente colti i suoi genitori. Tutte le caratteristiche per descrivere l’inizio di una vita nella media, si direbbe. Invece, come tutti sanno ancora oggi, infinita sarebbe stata la sua fortuna. Di Marx appena ventiquattrenne si diceva: “Immaginati Rousseau, Voltaire, d’Holbach, Lessing, Heine e Hegel fusi in una sola persona. Ecco il dottor Marx.” Questo ragazzo di Treviri avrebbe ridisegnato i confini del mondo e dell’analisi di esso.

Ma forse, ancora più dell’Ottocento, è il Novecento il secolo di Marx. Dopo quel secolo (breve o lungo che sia stato), cosa possiamo farcene di Marx? Perché continuiamo a parlare di lui? Come è possibile che molti, leggendo le sue pagine oggi, rimangano ancora folgorati dalla realtà di cui parla, che essi percepiscono come la loro realtà, la nostra realtà? In fondo, spesso lo si sente dire, Marx è morto nel 1883. Tutto quello di cui parla non è forse (ammesso che fosse vero il suo dire) finito, terminato? Per andare avanti, non bisogna forse, dimenticare Marx?

È curioso come, al contrario di questi discorsi, lo spirito di Marx soffi più forte, oggi, nel 2018, che poco più di una decina di anni fa. Marx scorre potente nel pensiero contemporaneo, per alcuni non abbastanza, certo, ma ha di nuovo un peso. Chi non considera per nulla Marx parlando del mondo contemporaneo, oggi, non è impossibile venga criticato per questo. Forse, già il fatto che così tanti ancora oggi percepiscano l’esigenza di liquidare l’interezza della sua prestazione concettuale, è il sintomo di un permanere di Marx.

Non è possibile, qui, rispondere a tutte queste domande. Con quanto detto si può però provare a dare un prima contestualizzazione al fatto che, oggi, venga pubblicata una raccolta di scritti marxiani (peraltro in testi tutti già tradotti in italiano da molti decenni). È quello che ha fatto Marcello Musto, già noto in Italia e nel mondo per i suoi studi su Marx e sul marxismo. Scritti sull’alienazione. Per la critica della società capitalistica, può sembrare, a primissima vista, un libro utile solo per i testi di commento che Musto appone. Se però si leggono questi stessi testi, si capisce che non è così, e che riportare un percorso in Marx dal 1844 al 1875 (cioè dai Manoscritti economico filosofici al Terzo libro del Capitale) ha un significato intrinseco, legato alla comprensione del concetto di alienazione, uno dei più fortunati ma anche dei più discussi dell’opera marxiana.

Nello spazio di una recensione di un libro del genere, che ha l’ambizione di riportare i luoghi in cui direttamente Marx tratta del concetto, bisogna a questo punto fare una scelta. Come è noto, il pensiero di Marx è dibattutissimo e nel Novecento una vera e propria linea di demarcazione è stata tracciata tra i suoi interpreti intorno alla permanenza di questo concetto di alienazione nel pensiero di Marx, ed al suo statuto. La scelta che deve fare il recensore di un libro come quello curato da Musto è quindi questa: leggere il libro alla luce di tale dibattito, o provare a farne a meno? Non bisogna pensare di poter leggere Marx senza filtri. Si tratta di un autore troppo pregno della nostra storia per essere letto senza occhiali. Si tratta di scegliere quali adottare. Musto stesso sceglie di non discutere (se non per qualche riga) il tema dell’alienazione a partire dal dibattito interno al marxismo nel Novecento.

Conviene quindi seguire la sua pista, provando ad adottare le lenti del nostro presente e dei nostri problemi, più che quelle della discussione interna al marxismo. Sarebbe possibile seguire anche questa seconda pista: solo, non è quella che segue Musto. Forse anche in questo sta l’interesse del testo: cercare di comprendere il testo di Marx a partire da Marx, per dare gli strumenti adatti a pensare Marx oggi.

Categories
Journalism

La tecnica a Marx non faceva paura

Tra i numerosi scritti pubblicati in occasione del bicentenario marxiano, il volumetto Marx Eretico (il Mulino, 164 pp., € 13), di Carlo Galli, ha il pregio di separare le riflessioni del rivoluzionario comunista dal marxismo economicistico del Novecento.

Il testo è diviso in cinque capitoli – Spettri, Certezze, Scienza, Politica, Speranza –, ma l’obiettivo di Galli non è quello di indicare cosa abbia detto il “vero Marx” in proposito. Piuttosto, egli offre utili suggerimenti interpretativi in merito alle teorie più rilevanti – e, per molti versi, ancora indispensabili per comprendere il presente – dell’autore del Capitale. Tra queste vi è la capacità di aver inteso il carattere ambivalente del capitalismo e, dunque, la possibilità di adoperare le trasformazioni produttive da esso generate, una volta eliminata la logica di sfruttamento che le contraddistingue. La classe lavoratrice non deve temere la tecnologia, ma il suo uso capitalistico. Il dominio del capitale è assoluto, ma anche insostenibile.
La ricchezza dell’analisi di Marx si manifesta anche rispetto alla critica della politica, tanto più se paragonata alle teorie oggi ritornate in voga a sinistra. Diversamente da quanti si appellano all’indistinta sofferenza degli ultimi, o utilizzano il confuso concetto di “popolo” (incluso lo slogan “noi siamo il 99%”), Marx ritenne imprescindibile esaminare a fondo le contraddizioni di classe. La questione nazionale fu per lui rivoluzionaria solo quando fu anche questione sociale. Individuò nel proletariato il soggetto principale dell’emancipazione collettiva perché comprese la posizione centrale che aveva nel capitalismo del suo tempo.

Categories
Reviews

Alfonso Berardinelli, Avvenire

Un po’ di Marx aiuta a uscire dall’alienazione

Di fronte allo strapotere globalizzato della tecnologia capitalistica, che ipnotizza le società di massa e non affronta problemi macroscopici come la fame in Africa e la distruzione planetaria dell’ambiente, il problema di che cosa sia oggi “alienazione” torna, merita di tornare, in primo piano. Siamo come davanti e dentro una Grande Macchina economica e tecnica che funziona per automatismi di calcolo e ignora il destino del genere umano che, pur avendola prodotta, non riesce più né a conoscerla né a dominarla. La robotica e la finanza penetrano nelle nostre vite e ci chiedono, ci impongono di ubbidire per il nostro bene, anzi per la nostra comodità e felicità. A proposito di Grande Macchina, uno dei maggiori sociologi americani, Lewis Mumford, scrisse nel 1967 che «la minoranza dominante creerà una struttura uniforme, onnicomprensiva e superplanetaria in condizione di operare autonomamente. Anziché funzionare attivamente come personalità autonoma, l’essere umano diverrà un animale passivo, privo di scopi e condizionato dalla macchina […] a beneficio di organismi collettivi spersonalizzati». E più avanti: «se l’abilità tecnica bastasse da sola a identificare e a esprimere l’intelligenza, il genere umano sarebbe rimasto per molto tempo assai più indietro di tante altre specie» (Il mito della macchina, il Saggiatore, 2011). Oggi, dopo mezzo secolo, la “megamacchina” del capitalismo informatico, digitale, telematico, funziona tenendo in connessione ininterrotta e inarrestabile tutti e tutto nel tempo di lavoro e nel tempo libero, sequestrando le facoltà comunicative, emotive e cognitive di ognuno e modellandole secondo i suoi tempi, le sue forme, i suoi contenuti e i suoi scopi. Le tecnologie che crediamo ancora ingenuamente di dominare e di usare, ci usano e ci dominano. Questo è esattamente alienazione. L’editore Donzelli pubblica con tempestività l’antologia Scritti sull’alienazione di Karl Marx (pagine 160, euro 18,00) a cura di Marcello Musto, docente alla York University di Toronto. L’antologia spiega come non vadano distinti due Marx, quello umanistico giovanile e quello economico della maturità. Il marxismo che sembrò giustificare un secolo di mostruosi comunismi totalitari di Stato, andrebbe di nuovo usato come critica economico-filosofica, morale e sociale, del capitalismo informatico di oggi, che non sembra più avere nel mondo né alternative né avversari, se non in sparuti gruppi di ecologisti. Le tecnologie, le macchine, sono merci capitalistiche prodotte per “alienare” e asservire chi le produce e le usa. La loro distruttività sulla mente umana e sul pianeta non si fermerà finché non ne avremo piena coscienza.

Categories
Past talks

The Post 1989 Radical Left in Europe

Categories
Past talks

MARX 200 (1818-2018): Central and Eastern European Perspectives