Categories
Journalism

Mitos ‘Marx Muda’ dalam Penafsiran-Penafsiran atas Naskah-Naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844 (Bagian III)

Superioritas, Patahan, atau Kontinuitas?
APAPUN disiplin akademik ataupun afiliasi politik mereka, para penafsir Naskah-Naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844 dapat dibagi ke dalam tiga kelompok.

Yang pertama terdiri dari mereka semua yang, dengan mempertentangkan naskah-naskah Paris dengan Kapital, menekankan keutamaan teoretis karya yang lebih awal tersebut. Kelompok kedua secara umum menyepelekan signifikansi naskah-naskah tersebut, sementara kelompok ketiga condong pada tesis bahwa ada kesinambungan teoretis antara naskah-naskah tersebut dengan Kapital.

Mereka yang mengasumsikan pembelahan antara Marx ‘muda’ dan ‘dewasa’, dan berargumen tentang kekayaan teoretis yang lebih besar pada yang pertama, menampilkan Naskah-Naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844 sebagai tulisannya yang paling bernilai dan membedakannya secara tajam dengan karya-karyanya yang belakangan. Secara khusus, mereka cenderung untuk meminggirkan Kapital, seringkali tanpa mempelajarinya secara mendalam—buku dengan tuntutan yang lebih berat untuk dipelajari dibandingkan dengan sekitar dua puluh halaman pembahasan tentang kerja yang teralienasi dalam Naskah-Naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844, yang mengenainya hampir semua mengajukan perenungan-perenungan filosofis. Para perintis garis penafsiran ini adalah Landshut dan Meyer, kemudian segera disusul oleh Henri de Man. Dengan menyoroti pemikiran Marx sebagai ajaran etis-humanis, penulis-penulis ini mengejar tujuan politik mereka, yaitu melawan ortodoksi kaku Marxisme Soviet tahun 1930-an dan menantang hegemoninya dalam gerakan kelas pekerja. Serangan teoretis ini menghasilkan sesuatu yang sangat berbeda, dan cenderung untuk memperluas lahan potensial teori Marxis. Meski formulasi-formulasinya seringkali kabur dan bersifat umum, Marxisme tidak lagi melulu dianggap sebagai teori ekonomi yang determinis dan mulai mendorong ketertarikan yang lebih besar dari sejumlah besar intelektual dan anak-anak muda.

Pendekatan ini mulai mengalami kemajuan segera setelah penerbitan Naskah-Naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844 dan terus memenangkan pengikut-pengikut baru hingga akhir 1950-an, sebagian karena efek eksplosif dari sebuah teks baru yang begitu berbeda dengan kanon dominan Marxisme. Sponsor-sponsornya adalah beraneka ragam kelompok Marxis heterodoks, Kristen progresif dan para filsuf eksistensialis, yang menafsirkan tulisan-tulisan ekonomi Marx sebagai langkah mundur dari apa yang mereka lihat sebagai sentralitas pribadi manusia dalam teori-teori awalnya. Setelah Perang Dunia Kedua, figur-figur utamanya adalah Their, Poppitz dan Hommes di Jerman, dan—meski mereka tidak secara jelas mendukung klaim superioritas naskah-naskah 1844—Merleau-Ponty, Bigo, Calvez, serta Axelos di Prancis dan Fromm di Amerika Serikat. Raymond Aron, yang pada 1968 menentang mereka yang melihat naskah-naskah tersebut sebagai pusat gravitasi Marxisme, secara sempurna merangkum paradoks mereka yang paling menusuk: ‘Dua puluh tahun lalu, ortodoksi dari area Latin Quarter menganggap Naskah-Naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844 sebagai kata final dalam filsafat Marxis, bahkan sekalipun, jika seseorang setia pada teks tersebut, Marx sendiri menertawakan bahasa dan tipe analisis yang ia adopsi dalam karya-karya awalnya.’

Kelompok penafsir yang kedua, yang menganggap Naskah-Naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844 sebagai teks transisional tanpa signifikansi khusus dalam perkembangan pemikiran Marx. Sejak pengantar Adoratskii pada edisi MEGA tahun 1932, posisi ini adalah yang paling dibaca luas di Uni Soviet dan negara-negara satelitnya yang belakangan. Kegagalan naskah-naskah tersebut untuk menyebut ‘kediktatoran proletariat’, bersama dengan kehadiran tema-tema seperti keterasingan manusia dan eksploitasi buruh yang menyoroti kontradiksi-kontradiksi yang paling nyata dalam praktik sosialisme Uni Soviet, menuntun pada pengucilannya oleh kepemimpinan puncak partai-partai Komunis. Bukan kebetulan bahwa naskah-naskah tersebut dieksklusikan dari edisi-edisi karya Marx dan Engels di beberapa negara ‘blok sosialis’. Terlebih lagi, banyak penulis dari kelompok ini yang sepenuhnya mendukung definisi Lenin tentang tahapan-tahapan dalam perkembangan pemikiran Marx—pendekatan yang belakangan dikanonisasikan oleh Marxisme-Leninisme, yang, selain dalam banyak hal patut dipertanyakan secara teoretis dan politis, menjadikan pengakuan atas karya penting Marx yang baru terbit untuk pertama kalinya delapan tahun setelah kematian sang pemimpin Bolshevik menjadi sebuah kemustahilan.

Seiring dengan perkembangan pengaruh mazhab Althusserian di tahun 1960-an, pembacaan ini juga menjadi populer di Prancis dan bagian Eropa Barat lainnya. Tetapi, meski prinsip-prinsip mendasarnya biasanya diatributkan pada Althusser sendiri, benih-benihnya sudah ada pada Naville: yaitu keyakinan bahwa Marxisme adalah sains dan bahwa karya-karya awal Marx, yang masih dijiwai oleh bahasa dan perhatian Hegelianisme Kiri, menandai sebuah tahapan sebelum kelahiran ‘sains baru’ dalam Kapital. Bagi Althusser, seperti telah kita lihat, Naskah-Naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844 merepresentasikan Marx yang paling jauh dari Marxisme.

Pandangan yang mempertentangkan tulisan-tulisan Marx awal dengan kritik ekonomi-politiknya, yang secara filologis tidak berdasar, beredar di kalangan Marxis pembangkang dan ‘revisionis’ yang ingin memprioritaskan tulisan-tulisan awal tersebut, dan kelompok Komunis ortodoks yang berfokus pada Marx ‘dewasa’. Keduanya berkontribusi pada kesalahpahaman yang prinsipiil dalam sejarah Marxisme: mitos ‘Marx Muda’.

Kelompok penafsir Naskah-Naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844 yang ketiga dan terakhir terdiri dari mereka yang, dari posisi politik dan teoretis yang berbeda, menangkap kesinambungan substansi dalam karya Marx. Pendekatan ini bisa dilacak hingga Marcuse atau Lukács di Jerman dan Hyppolite atau Rubel di Prancis, dan menjadi hegemonik dalam dunia berbahasa Inggris lewat karya Tucker, McLellan, dan Ollman, lalu menyebar secara lebih luas ke hampir seluruh penjuru dunia sejak tahun 60-an, seperti disaksikan oleh tulisan-tulisan Fischer, Avineri, Mészáros, dan Schaff. Ide tentang kesinambungan hakiki Marxian ini, yang bertentangan dengan pandangan tentang patahan epistemologis tajam yang mendiskualifikasi tulisan-tulisan yang lebih awal, menginspirasi beberapa penafsiran terbaik atas Naskah-Naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844, seperti karya non-dogmatis Lefebvre dan Mandel yang mampu mengapresiasi nilainya, dengan segala kontradiksi dan ketidaklengkapan dalam naskah-naskah tersebut. Meski demikian, tetap ada kesalahan-kesalahan penafsiran—yang paling jelas dalam beberapa penulis adalah sikap meremehkan perkembangan-perkembangan pemikiran Marx pada tahun 1850-an dan 1860-an dalam bidang ekonomi-politik. Hal ini seiring dengan kecenderungan untuk merekonstruksi pemikiran Marx melalui koleksi kutipan, tanpa memperhatikan periode-periode penulisannya. Seringkali hasilnya adalah penyesuaian dengan visi partikular sang penafsir sendiri, lewat potongan-potongan yang dirangkai begitu saja dari Naskah-Naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844 dan Kapital, seolah-olah karya Marx merupakan teks yang ditulis secara bersamaan.

Keterbatasan-Keterbatasan Marx di tahun 1844
Menggarisbawahi pentingnya Naskah-Naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844 demi pemahaman yang lebih baik tentang perkembangan pemikiran Marx tidak berarti bersikap diam atas keterbatasan-keterbatasan dalam teks yang ditulisnya waktu muda ini. Dalam teks tersebut, Marx belum mulai menyerap konsep-konsep dasar ekonomi-politik, dan konsepsinya tentang komunisme tidaklah lebih daripada sintesis yang membingungkan dari studi-studi filsafat yang ia lakukan sebelumnya. Meski memikat, khususnya bagaimana ia mengombinasikan ide-ide filosofis Hegel dan Feuerbach dengan kritik teori ekonomi klasik dan dengan protes atas alienasi kelas pekerja, Naskah-Naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844 hanyalah eksperimentasi awal, sebagaimana nyata dalam kerancuan dan sifat eklektiknya. Naskah-naskah tersebut memperjelas jalur yang Marx ambil, tetapi jarak yang jauh tetap memisahkan mereka dari tema-tema dan argumen dari bukan hanya Volume 1 Kapital yang selesai tahun 1867, tetapi juga dari naskah-naskah persiapan Kapital, salah satunya diterbitkan, yang Marx siapkan sejak tahun 50-an.

Kontras dengan analisis-analisis yang entah memainkan keunikan ‘Marx Muda’ atau coba memaksakan patahan teoretis pada karyanya, pembacaan-pembacaan yang paling tajam atas Naskah-Naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844 tahu bagaimana memperlakukan naskah-naskah tersebut sebagai karya yang menarik, namun hanya mencerminkan tahapan awal dalam trayektori Marx. Seandainya ia tidak melanjutkan penelitiannya dan hanya berhenti pada konsep-konsep dalam naskah-naskah Paris, ia mungkin telah ditempatkan di samping Bauer dan Feuerbach dalam bagian-bagian manual filsafat bagi kelompok Hegelian Kiri. Sebaliknya, berdekade-dekade aktivitas politik, studi dan karya kritis yang terus-menerus atas ratusan volume ekonomi-politik, sejarah, dan disiplin-disiplin lain, mengubah intelektual tahun 1844 itu menjadi salah satu pemikir yang paling brilian dalam sejarah umat manusia. Sebagai hasilnya, tahapan-tahapan awal dari perkembangan teoretisnya, yang terutama nampak dalam Naskah-Naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844, meraih signifikansi yang akan memicu para pembaca dan peneliti lintas generasi.

Categories
Book chapter

La Marx-Engels-Gesamtausgabe (MEGA²) y el redescubrimiento de Marx

Introducción
Sobre mil socialistas, quizás uno solo haya leído una obra económica de Marx, sobre mil antimarxistas, ni siquiera uno ha leído a Marx [i].

Marx y el Marxismo: Inacabado versus Sistematización
Pocos hombres sacudieron el mundo como Karl Marx. A su desaparición, que pasó casi inobservada, le siguió, con una rapidez que en la historia tiene raros ejemplos con los cuales pueda ser confrontada, el eco de la fama. Muy pronto el nombre de Marx estuvo en las bocas de los trabajadores de Chicago y Detroit, así como en las de los primeros socialistas indios en Calcuta. Su imagen sirvió de fondo al congreso de los bolcheviques en Moscú después de la revolución. Su pensamiento inspiró programas y estatutos de todas las organizaciones políticas y sindicales del movimiento obrero, desde Europa entera hasta Shangai.

Sus ideas alteraron profundamente la filosofía, la historia, la economía. Sin embargo, no obstante la afirmación de sus teorías, que en el siglo XX se transformaron en la ideología dominante y la doctrina de Estado en una gran parte del género humano, y la enorme difusión de sus escritos, sigue sin tener, hasta hoy, una edición integral y científica de sus obras. Entre los más grandes autores de la humanidad, esta suerte le tocó exclusivamente a él.

La razón primaria de esta particularísima condición reside en el carácter en gran medida inacabado de su obra. Si se excluyen, en efecto, los artículos periodísticos publicados en los tres lustros que van desde 1848 hasta 1862, una gran parte de los cuales estaban destinados a la “New-York Tribune”, que en esa época era uno de los más importantes periódicos del mundo, los trabajos publicados fueron relativamente pocos si se los compara con los tantos realizados sólo parcialmente y la importante mole de las investigaciones que realizó [ii] . Emblemáticamente, cuando en 1881, en uno de sus últimos años de vida, Marx fue interrogado por Karl Kautsky sobre la oportunidad de una edición completa de sus obras, respondió “éstas, antes que nada, deberían ser escritas” [iii] .

Marx dejó, por consiguiente, muchos más manuscritos de los que mandó imprimir [iv] . Contrariamente a lo que por lo general se piensa, su obra fue fragmentaria y a veces contradictoria, aspectos que evidencian una de sus características peculiares: lo inacabado del trabajo. Su método sumamente riguroso y la autocrítica más despiadada, que determinaron la imposibilidad de terminar muchos de los trabajos emprendidos; las condiciones de profunda miseria y de mala salud permanente que lo persiguieron toda la vida, la inextinguible pasión cognoscitiva, jamás alterada, que le impulsó siempre hacia nuevos estudios; y, por último, la pesada conciencia adquirida con la plena madurez de la dificultad de encerrar la complejidad de la historia en un proyecto teórico, hicieron precisamente de lo inacabado el fiel compañero y la condena de toda la producción de Marx y de su misma existencia. El colosal plan de su obra no fue realizado sino en una parte exigua y sus incesantes esfuerzos intelectuales resultaron en un fracaso literario, aunque no por eso demostraron ser menos geniales y fecundas en consecuencias extraordinarias [v] .

Sin embargo, a pesar de la fragmentariedad del Nachlaß (legado literario) de Marx y de su firme oposición a erigir una ulterior doctrina social, su obra incompleta fue subvertida y pudo surgir un nuevo sistema, el “marxismo”. Después de la muerte de Marx en 1883, fue Friedrich Engels el primero que se dedicó a la dificilísima empresa, dadas la dispersión de los materiales, lo abstruso del lenguaje y la ilegibilidad de la grafía, de publicar el legado del amigo. El trabajo se concentró en la reconstrucción y la selección de los originales, en la publicación de los textos inéditos o incompletos y, contemporáneamente, en la reedición y traducción de los escritos más conocidos.

Aunque hubieron excepciones, como en el caso de las [Tesis sobre Feuerbach] [vi], editadas en 1888 como apéndice a su Ludwig Feuerbach y el fin de la filosofía clásica alemana, y de la [Crítica del Programa de Gotha], publicada en 1891, Engels privilegió casi exclusivamente el trabajo editorial de completar El capital, del cual había terminado solamente el libro primero. Esta tarea, que duró más de una década, fue realizada con la intención precisa de conseguir “una obra orgánica y lo más completa posible” [vii] . Tal elección, aunque respondía a exigencias comprensibles, produjo el paso de un texto parcial y provisorio, compuesto en muchas partes por “pensamientos escritos in statu nascendi” [viii] y por apuntes preliminares que Marx acostumbraba reservarse para elaboraciones ulteriores de los temas tratados, en otro unitario, que originaba la apariencia de una teoría económica sistemática y completa. De este modo, en el curso de su actividad de redacción, basada en la selección de los textos que se presentaban no como versiones finales sino, en cambio, como verdaderas variantes y en la necesidad de uniformar el conjunto de los materiales, Engels más que reconstruir la génesis y el desarrollo de los libros segundo y tercero de El Capital, que estaban bien lejos de su redacción definitiva, mandó imprimir volúmenes terminados [ix].

Por otra parte, anteriormente, había contribuido a generar un proceso de sistematización teórica ya directamente con sus propios escritos. El Anti Duhring, aparecido en 1878, que él definiera una “exposición más o menos unitaria del método dialéctico y de la visión comunista del mundo representados por Marx y por mí” [x] , se convirtió en el referente crucial en la formación el “marxismo” como sistema y en la diferenciación de éste del socialismo ecléctico, hasta entonces prevaleciente. Una incidencia aún mayor tuvo La evolución del socialismo utópico al científico, reelaboración, con fines divulgativos, de tres capítulos del escrito precedente que, publicado por primera vez en 1880, tuvo una fortuna análoga a la del Manifiesto del partido comunista. Si bien hubo una distinción neta entre este tipo de vulgarización, realizada en polémica abierta con los atajos simplicistas de las síntesis enciclopédicas, y la que tuvo como protagonista a la generación sucesiva de la socialdemocracia alemana, la utilización por Engels de las ciencias naturales abrió el camino a la concepción evolucionista que, poco tiempo después, se afirmaría incluso en el movimiento obrero.

El pensamiento de Marx, indiscutiblemente crítico y abierto, aunque a veces atravesado por tentaciones deterministas, cayó bajo los golpes del clima cultural de la Europa de fines del 1800, permeado, como nunca antes, por concepciones sistemáticas, y en primer lugar por el darwinismo. Para responder a ellas y a la necesidad de ideología que avanzaba incluso en las filas del movimiento de los trabajadores, el recién “marxismo”, que cada vez más dejaba de ser sólo una teoría científica para convertirse también en doctrina política – transformado precozmente en ortodoxia en las páginas de la revista “Die Neue Zeit” dirigida por Kautsky – asumió rápidamente la misma conformación sistémica. En este contexto, la difusa ignorancia y aversión en el seno del partido alemán hacia Hegel, un verdadero arcano impenetrable [xi], y hacia su dialéctica, considerada hasta “el elemento no confiable de la doctrina marxista, la insidia que traba cualquier consideración coherente de las cosas” [xii] , desempeñaron un papel decisivo.

En las modalidades que acompañaron su difusión se encuentran otros factores que contribuyeron a la transformación de la obra de Marx en un sistema. Como demuestra la tirada reducida de las ediciones de la época de sus textos, se les dio preferencia a los folletos de síntesis y a compendios sumamente parciales. Algunas de sus obras, además, sufrían los efectos de las instrumentalizaciones políticas. Aparecieron así, en efecto, las primeras ediciones modificadas por los responsables de la edición, práctica que, favorecida por las incertidumbres presentes en el legado marxiano, en lo sucesivo se impuso cada vez más junto con la censura de algunos escritos. La forma manualística, vehículo notable para la exportación del pensamiento de Marx por el mundo, representó seguramente un instrumento muy eficaz de propaganda, pero también la alteración fatal de la concepción inicial. La divulgación de su obra, incompleta y compleja, en el encuentro con el positivismo y para responder mejor a las exigencias prácticas del partido proletario, se tradujo, por último, en un empobrecimiento y vulgarización del patrimonio originario [xiii] , hasta hacerlo irreconocible al transformarlo de Kritik en Weltanschauung [xiv].

Del desarrollo de estos procesos fue tomando cuerpo una doctrina con una esquemática y elemental interpretación evolucionista, impregnada de determinismo económico: el “marxismo” del período de la Segunda Internacional (1889-1914). Guiada por una firme aunque ingenua convicción sobre la marcha automática de la historia y, por lo tanto, sobre la inevitabilidad de la sucesión del capitalismo por el socialismo, ella demostró ser incapaz de comprender el curso real del presente y, rompiendo el necesario lazo con la praxis revolucionaria, produjo un quietismo fatalista que se transformó en factor de estabilidad del orden existente [xv] . Se evidenciaba de este modo el profundo alejamiento de Marx, que ya en su primera obra había declarado “la historia no hace nada (…) no es la ‘historia’ la que se sirve del hombre como medio para realizar sus propios fines, como si ella fuese una persona particular; ella no es más que la actividad del hombre que persigue sus fines” [xvi].

La teoría sobre el derrumbe (Zussammenbruchstheorie), o sea la tesis sobre el fin próximo de la sociedad capitalista-burguesa, que en la crisis económica de la Gran Depresión, desplegada a lo largo del veintenio sucesivo a 1873, tuvo el contexto más favorable para expresarse, fue proclamada la esencia más íntima del socialismo científico. Las afirmaciones de Marx, destinadas a delinear los principios dinámicos del capitalismo y, más en general, a describir una tendencia de desarrollo [xvii] , fueron transformadas en leyes históricas universalmente válidas [xviii] , de las cuales se podían hacer descender, hasta los particulares, el curso de los acontecimientos.

La idea de un capitalismo agonizante, autónomamente destinado al ocaso, estuvo presente también en el sustento teórico de la primera plataforma enteramente “marxista” de un partido político, El programa de Erfurt de 1891, y en el comentario que del mismo hizo Kautsky, que enunciaba como “el incontenible desarrollo económico lleva a la bancarrota del modo de producción capitalista con necesidad de ley natural. La creación de una nueva forma de sociedad en lugar de la actual ya no es sólo algo deseable sino que se ha hecho inevitable” [xix] . Él fue la representación, más significativa y evidente, de los límites intrínsecos de la elaboración de la época, así como de la distancia abismal que se había producido de quien había sido el inspirador.

El mismo Eduard Bernstein, que al concebir el socialismo como posibilidad y no como inevitabilidad había marcado una discontinuidad con las interpretaciones dominantes en ese período, hizo una lectura de Marx igualmente deformada que no se separaba mínimamente de las de su tiempo y contribuyó a difundir, mediante la vasta resonancia que tuvo el Bernstein-Debatte, una imagen de aquélla igualmente alterada e instrumental.

El “marxismo ruso”, que en el curso del siglo XIX desempeñó un papel fundamental en la divulgación del pensamiento de Marx, siguió esta trayectoria de sistematización y vulgarización incluso con mayor rigidez. Para su pionero más importante, Gueorgui Plejánov, en efecto, “el marxismo es una completa concepción del mundo” [xx] , marcada por un monismo simplista según el cual las transformaciones superestructurales de la sociedad avanzan de manera simultánea con las modificaciones económicas. En Materialismo y empiriocriticismo, de 1909, Lenin define al materialismo como “el reconocimiento de la ley objetiva de la naturaleza y del reflejo aproximadamente fiel de esta ley en la cabeza del hombre” [xxi] . La voluntad y la conciencia del género humano deben “inevitable y necesariamente” [xxii] adecuarse a las necesidades de la naturaleza. Una vez más prevalece el planteo positivista.

Por consiguiente, y a pesar del áspero choque ideológico que se produjo durante estos años, muchos de los elementos teóricos característicos de la deformación producida por la Segunda Internacional se trasladaron a quienes habrían puesto su marca en la matriz cultural de la Tercera Internacional. Esta continuidad se manifestó, con aún mayor evidencia, en la Teoría del materialismo histórico, publicado en 1921 por Nikolai Bujarin, según el cual “tanto en la naturaleza como en la sociedad, los fenómenos son regulados por determinadas leyes. La primera tarea de la ciencia es descubrir esta regularidad” [xxiii] . Este determinismo social, totalmente centrado sobre el desarrollo de las fuerzas productivas, generó una doctrina según la cual “la multiplicidad de las causas que hacen sentir su acción en la sociedad no contradice de ningún modo la existencia de una ley única de la evolución social” [xxiv] .

La crítica de Antonio Gramsci, que se opuso a esa concepción para la cual “el planteo del problema como una investigación de leyes, de líneas constantes, regulares, uniformes está ligada a una exigencia, concebida de modo un poco pueril e ingenuo, de resolver perentoriamente el problema práctico de la previsibilidad de los acontecimientos históricos” [xxv] , reviste particular interés. Su neta negativa a restringir la filosofía de la praxis marxiana a una grosera sociología, a “reducir una concepción el mundo a un formulario mecánico que da la impresión de tener toda la historia en el bolsillo” [xxvi] , fue particularmente importante porque iba más allá de lo escrito por Bujarin y buscaba condenar la orientación bastante más general que después habría prevalecido, de modo indiscutido, en la Unión Soviética.

Con la consolidación del “marxismo leninismo”, el proceso de deformación del pensamiento de Marx conoció su manifestación definitiva. La teoría fue desplazada de la función de guía del actuar convirtiéndose, por el contrario, en su justificación a posteriori. El punto de no retorno fue alcanzado con el “Diamat” (Dialekticeskij materializm), “la concepción del mundo del partido marxista-leninista” [xxvii] . El folleto de Stalin de 1938, Sobre el materialismo dialéctico y el materialismo histórico, que tuvo una extraordinaria difusión, fijaba los rasgos esenciales: los fenómenos de la vida colectiva son regulados por las “leyes necesarias del desarrollo social”, “perfectamente cognoscibles”; “la historia de la sociedad se presenta como un desarrollo necesario de la sociedad, y el estudio de la historia de la sociedad se convierte en una ciencia”. Eso “quiere decir que la ciencia de la historia de la sociedad, a pesar de toda la complejidad de los fenómenos de la vida social, puede convertirse en una ciencia igualmente exacta, por ejemplo, que la biología, capaz de utilizar las leyes de desarrollo de la sociedad para utilizarlas en la práctica” [xxviii] y que, por consiguiente, es tarea del partido del proletariado fundamentar su actividad sobre la base de estas leyes. Es evidente cómo la confusión sobre los conceptos de “científico” y “ciencia” había llegado al máximo. La cientificidad del método marxiano, fundada sobre criterios teóricos escrupulosos y coherentes, fue reemplazada por el modo de proceder de las ciencias naturales que no contemplaba ninguna contradicción.

Junto a este catecismo ideológico, encontró terreno fértil el dogmatismo más rígido e intransigente. Completamente extraño y separado de la complejidad social, el mismo se sostenía, como siempre ocurre cuando se formula un planteo en un tan arrogante cuanto infundado conocimiento de la realidad. Acerca del inexistente lazo con Marx, basta recordar su sentencia preferida: de omnibus dubitandum [xxix].

La ortodoxia “marxista-leninista” impuso un monismo inflexible que produjo efectos perversos también en los escritos de Marx. Indiscutiblemente, con la Revolución Soviética el “marxismo” vivió un momento significativo de expansión y circulación en ámbitos geográficos y clases sociales de los cuales, hasta entonces, había sido excluido. Sin embargo, una vez más, la difusión de los textos, más que remitirse directamente a los de Marx, se concentraba en los manuales de partido, vademécum, antologías “marxistas” sobre muy diversos argumentos. Además, fue cada vez más común la censura de algunas obras, el desmembramiento y la manipulación de otras, así como la práctica de la extrapolación y del astuto montaje de las citas. A éstas, a las cuales se recurría con fines preordenados, se les dio el mismo trato que el bandido Procusto reservaba a sus víctimas: si eran demasiado largas, se las amputaba, si demasiado cortas, eran alargadas.

En conclusión, la relación entre la divulgación y la no esquematización de un pensamiento, con mayor razón el crítico y voluntariamente no sistémico de Marx, entre su popularización y la exigencia de no empobrecerlo, es sin duda una empresa difícil de realizar. De todos modos, a Marx no podría haberle ido peor.

Plegado de distintos lados en función de contingencias y necesidades políticas, fue asimilado a éstas y en su nombre fue vituperado. Su teoría, que era crítica, fue utilizada como las exégesis de los versículos bíblicos. Nacieron así las paradojas más impensables. Contrario a “prescribir recetas (…) para la hostería del futuro” [xxx] , fue transformado en el padre ilegítimo de un nuevo sistema social. Crítico rigurosísimo y siempre insatisfecho de sus resultados, se convirtió en la fuente del más obstinado doctrinarismo. Defensor incansable de la concepción materialista de la historia, fue sacado de su contexto histórico mucho más que cualquier otro autor. Seguro de “que la emancipación de la clase obrera debe ser obra de los trabajadores mismos” [xxxi] , fue enjaulado en una ideología en la que prevalecía, en cambio, la primacía de las vanguardias políticas y del partido en el papel de propulsor de la conciencia de clase y de guía de la revolución.

Propugnador de la idea de que la condición para la maduración de la capacidad humana era la reducción de la jornada de trabajo, fue asimilado al credo productivista del stajanovismo. Convencido promotor de la abolición del Estado, se encontró identificado como baluarte del mismo. Interesado como pocos otros pensadores por el libre desarrollo de las individualidades de los hombres, que afirmaba, contra el derecho burgués que esconde las desigualdades sociales detrás de una mera igualdad legal, que “el derecho, en vez de ser igual, debería ser desigual” [xxxii] , ha sido incorporado a una concepción que ha neutralizado la investigación de la dimensión colectiva en el indistinto de la homologación.

El originario carácter inacabado del gran trabajo crítico de Marx fue sometido a las presiones de la sistematización de los epígonos que produjeron, inexorablemente, la deformación de su pensamiento hasta borrarlo y anularlo y convertirlo en su negación manifiesta.

Un autor mal conocido
“¿Los escritos de Marx y Engels (…) fueron alguna vez leídos por entero por nadie que estuviese fuera de las filas de los amigos próximos y los adeptos y, por consiguiente, de los seguidores e intérpretes directos de los autores?”. Así se interrogaba Antonio Labriola, en 1897, sobre cuánto de la obra de aquéllos fuese hasta entonces conocido. Sus conclusiones fueron inequivocas: “leer todos los escritos de los fundadores del socialismo científico pareció hasta ahora un privilegio de iniciados”; el “materialismo histórico” había llegado a los pueblos de lenguas neolatinas “a través de una serie de equívocos, malentendidos, de alteraciones grotescas, de extraños disfraces y de invenciones gratuitas” [xxxiii].

Un “marxismo” imaginario. En efecto, como fue demostrado posteriormente por la investigación historiográfica, la convicción de que Marx y Engels fuesen verdaderamente leídos ha sido el fruto de una leyenda hagiográfica. Por el contrario, muchos de sus textos eran raros o imposibles de encontrar incluso en la lengua original y, por lo tanto, la invitación del estudioso italiano a dar vida a “una edición completa y crítica de todos los escritos de Marx y Engels” [xxxiv] , indicaba una ineludible necesidad general. En opinión de Labriola, no era necesario ni compilar antologías, ni redactar un testamentum juxta canonem receptum, sino “todo el trabajo científico y político, toda la producción literaria, aunque fuese ocasional, de los dos fundadores del socialismo crítico, debe ser puesta al alcance de los lectores (…) para que ellos hablen directamente a todos los que tengan ganas de leerlos” [xxxv] . Más de un siglo después de este deseo, este proyecto aún no ha sido realizado.

Junto a estas evaluaciones prevalentemente filológicas, Labriola planteaba otras de carácter teórico, de sorprendente previsión con respecto a la época en que vivió. Consideraba que todos los escritos y trabajos de Marx y de Engels no terminados eran “los fragmentos de una ciencia y de una política que está en continuo devenir”. Para evitar buscar en su interior “lo que no está y no debe estar”, o sea, “una especie de vulgata o de preceptos para la interpretación de cualquier tiempo y lugar”, ellos podían ser plenamente comprendidos sólo volviéndolos a colocar en el momento y el contexto de su génesis. De no ser así, los que “no entienden el pensar y el saber como trabajos que están en curso”, o sea “los doctrinarios y los presuntuosos de todo tipo que tienen necesidad de los ídolos de la mente, los hacedores de sistemas clásicos buenos para la eternidad, los compiladores de manuales y de enciclopedias, buscarán en el marxismo, al revés y al derecho, lo que éste jamás pretendió ofrecer a nadie” [xxxvi] : una solución sumaria y fideísta a las interrogaciones de la historia.

El ejecutor natural de la realización de la opera omnia no habría podido ser otro que el Sozialdemokratische Partei Deutschlands, detentor del Nachlaß y de las mayores competencias linguísticas y teóricas. Sin embargo, los conflictos políticos en el seno de la Socialdemocracia no sólo impidieron la publicación de la imponente e importante masa de trabajos inéditos de Marx, sino que produjeron también la dispersión de sus manuscritos, comprometiendo así cualquier hipótesis de edición sistemática [xxxvii].

Sorprendentemente el partido alemán no construyó ninguna y trató la herencia literaria de Marx y de Engels con la máxima negligencia [xxxviii] . Ninguno de sus teóricos se ocupó de hacer una lista del legado intelectual de los dos fundadores, que estaba compuesto por muchos manuscritos incompletos y por proyectos no llevados a término. Aún menos hubo quien se dedicase a recoger la correspondencia, voluminosa pero extremadamente diseminada, aunque ésta es utilísima como fuente de esclarecimiento, cuando no incluso de continuación, de sus escritos. La biblioteca, por último, que tenía los libros que ellos poseían con interesantes notas marginales y subrayados, fue ignorada, en parte dispersada y sólo posteriormente costosamente reconstruida y catalogada [xxxix].

La primera publicación de las obras completas, la Marx Engels Gesamtausgabe (MEGA) comenzó recién en los años veinte, por iniciativa de David Borisovich Riazanov, principal conocedor de Marx en el siglo diecinueve y director del Instituto Marx-Engels de Moscú. Sin embargo también esta empresa naufragó a causa de los tempestuosos acontecimientos que vivió el movimiento obrero internacional, los cuales muy a menudo pusieron trabas a la edición de sus textos en vez de favorecerla. Las depuraciones stalinistas en la Unión Soviética, que se abatieron también sobre los estudiosos que dirigían el proyecto, y el triunfo del nazismo en Alemania, condujeron a la precoz interrupción de la edición, tornando vano también este intento. Se produjo así la contradicción absoluta del nacimiento de una ideología inflexible que se inspiraba en un autor cuya gigantesca obra todavía permanecía en parte inexplorada. La afirmación del “marxismo” y su cristalización como corpus dogmático precedieron al conocimiento de los textos cuya lectura era indispensable para comprender la formación y la evolución del pensamiento de Marx [xl].

Los principales trabajos juveniles, en efecto, sólo fueron impresos con la MEGA:[ Sobre la crítica de la filosofía hegeliana del derecho público.] en 1927, los [ Manuscritos económico-filosóficos de 1844] y [La idelogía alemana] en 1932 – y, como ya había sucedido con los libros segundo y tercero de El capital, en ediciones en las que aparecían como obras terminadas, opción que posteriormente engendró muchos malentendidos interpretativos. Sucesivamente, y con tirajes que sólo pudieron asegurar una escasísima difusión, se publicaron algunos importantes trabajos preparatorios de El capital: en 1933 el[Capítulo VI inédito] y entre 1939 y 1941 los [Lineamientos fundamentales de la crítica de la economía política], más conocidos como Grundrisse. Estos inéditos, además, como los otros que siguieron, cuando no fueron escondidos por el temor de que pudiesen erosionar el canon ideológico dominante, estaban acompañados por una interpretación funcional a las exigencias políticas que, en el mejor de los casos, aportaba ajustes previsibles a dicha interpretación ya predeterminada y jamás se tradujeron en una seria rediscusión de conjunto de la obra.

El tortuoso proceso de difusión de los escritos de Marx y la carencia de una edición integral de los mismos, unidos a su carácter originario ya incompleto, al trabajo pésimo de los epígonos, a las lecturas tendenciosas y a las aún más numerosas no lecturas, son la causa fundamental de la gran paradoja: Karl Marx es un autor mal conocido, víctima de una profunda y reiterada incomprensión [xli] . Lo ha sido durante el período en el que el “marxismo” era política y culturalmente hegemónico, y todavía hoy sigue siéndolo.

Una obra para hoy
Liberada de la odiosa función de instrumentum regni, al que había sido destinada en el pasado, y de la falacia del “marxismo”, del cual fue definitivamente separada, la obra de Marx, todavía parcialmente inédita, reaparece en su aspecto original no acabado y es nuevamente presentada a los libres campos del saber. Una vez sustraída a sus autonombrados propietarios y a modos de empleo constrictivos [xlii] por fin se ha hecho posible el pleno despliegue de su preciosa e inmensa herencia teórica.

Con el auxilio de la filología encuentran una respuesta la ya ineludible exigencia del reconocimiento de las fuentes, durante tanto tiempo envueltas y mistificadas por la propaganda apologética, y la necesidad de disponer de un índice seguro y definitivo de todos los manuscritos de Marx. Ella se ofrece como medio imprescindible para aclarar el texto, restableciéndole el horizonte problemático y polimorfo originario y evidenciando la enorme distancia que existe entre él y muchas de las interpretaciones y de las experiencias políticas que, aunque hayan pretendido apoyarse en él, han transmitido del mismo una percepción sumamente reductiva.

Leer a Marx con la intención de reconstruir la génesis de sus escritos y el cuadro histórico en que nacieron, de poner en evidencia la importancia de la deuda intelectual en la elaboración, de considerar su carácter constantemente multidisciplinario [xliii] , tal es la complicada tarea que tiene ante sí la nueva Marx Forschung (investigación sobre Marx) y que necesita, para ser realizada, una orientación permanentemente crítica y alejada del condicionamiento engañoso de la ideología.

Sin embargo, la de Marx no es solamente una obra carente de una adecuada interpretación crítica que pueda hacerle justicia a su genio [xliv] , sino que es también una obra en una constante investigación por su autor. Las reflexiones de Marx están atravesadas por una diferencia irreducible, por un carácter absolutamente particular respecto a las de la mayor parte de los otros pensadores. Ellas están unidas por un lazo inescindible entre la teoría y la praxis y se dirigen persistentemente a un sujeto privilegiado y concreto: “el movimiento real que lleva a la abolición del estado de las cosas presente” ( die wirkliche Bewegung welche den jetzigen Zustand aufhebt) al cual se le confía “el derribamiento y la inversión práctica de las relaciones sociales existentes” (den praktischen Umsturz der realen gesellschftlichen Verhältnisse) [xlv] . Creer que se puede relegar el patrimonio teórico y político de Marx a un pasado que ya no tendría nada que decir a los conflictos actuales, y circunscribirlo a la función de clásico momificado con un interés inofensivo para los días de hoy o encerrarlo en especialismos meramente especulativos, sería algo tan erróneo como su anterior transformación en la esfinge del gris socialismo real del siglo pasado.

Su obra conserva confines y pretensiones mucho más amplios que los ámbitos de las disciplinas académicas. Sin el pensamiento de Marx faltarían los conceptos para comprender y describir el mundo contemporáneo, así como los instrumentos críticos para invertir la subalternidad al credo imperante que presume poder representar el presente con las semblanzas antihistóricas de la naturalidad y de la inmutabilidad. Sin Marx estaríamos condenados a una verdadera afasia crítica.

No debe engañarnos la aparente inactualidad y el dogma absoluto y unánime que decreta con certeza el olvido. Sus ideas podrán en cambio provocar nuevos entusiasmos, estimular fecundas reflexiones ulteriores y sufrir otras alteraciones. La causa de la emancipación humana todavía deberá ponerlo a su servicio.

Crítico sin igual del sistema de producción capitalista, Karl Marx será fundamental hasta la superación de aquél. Su “espectro” está destinado a recorrer el mundo y a hacer que la humanidad se agite todavía durante mucho tiempo.

Apéndice: Cronología de las obras de Marx [xlvi]

AÑO  TÍTULO DE LA OBRA INFORMACIÓN SOBRE LAS EDICIONES
1841 [Diferencia entre la filosofía de la naturaleza de Demócrito y la de Epicuro]

1902: en Aus dem literarischen Nachlass von Karl Marx, Friedrich Engels und Ferdinand Lassalle, compilada por Mehring (version parcial).

1927: en MEGA I/1.1, compilada por Riazanov.

1842-43 Artículos para la Gaceta Renana Periódico que se imprimía en Colonia
1844 [Sobre la crítica de la filosofía hegeliana del derecho público] 1927: en MEGA I/1.1, a cargo de Riazanov.
1844 Ensayos para los Anales Franco-Alemanes Incluidos en Sobre la cuestión judía y Para la crítica de la filosofía del derecho de Hegel. Introducción. Número único publicado en París. La mayor parte de los ejemplares fue confiscada por la policía.
1845 [Manuscritos económico-filosóficos de 1844] 1932: en Der historische Materialismus, a cargo de Landshut y Mayer y en MEGA I/3, a cargo de Adoratsky (las ediciones difieren en su contenido y en el orden de las partes). El texto fui excluido de los volúmenes numerados de la MEW y publicado por separado.
1845 La Sagrada Familia (con Engels) Publicado en Frankfort sobre el Mein.
1845 [Tesis sobre Feuerbach] 1888: en apéndice a la reimpresión de Ludwig Fuerbach y el fin de la filosofía clásica alemana de Engels.
1845-46 [La ideología alemana] (con Engels)

1903-1904: en Dokumente des Sozialismus, a cargo de Bernstein (versión parcial y manipulada).

1932: en Der historische Materialismus, a cargo de Landshut y Mayer, y en MEGA I/3, a cargo de Adoratsky (las ediciones difieren en su contenido y en el orden de las partes).

1847 Miseria de la filosofía Impreso en Bruselas y París. Texto en francés.
1848 Discurso sobre la cuestión del libre cambio Publicado en Bruselas. Texto en francés.
1848 Manifiesto del partido comunista (con Engels) Impreso en Londres. Conquistó cierta difusión a partir de los años setenta.
1848-49 Artículos para la Nueva Gaceta Renana Periódico de Colonia. Entre ellos figura Trabajo asalariado y capital.
1850 Artículos para la Nueva Gaceta Renana. Revista político-económica Fascículos mensuales impresos en Hamburgo y de exiguo tiraje. Comprenden Las luchas de clase en Francia desde 1848 a 1850.
1851-62 Artículos para el New-York Tribune Muchos artículos fueron redactados por Engels.
1852 El dieciocho Brumario de Luis Bonaparte Publicado en Nueva York en el primer fascículo de Die Revolution. La mayor parte de los ejemplares no pudo ser retirada de la imprenta por dificultades financieras. A Europa llegó solamente un número insignificante de copias. La segunda edición –reelaborada por Marx – apareció sólo en 1869.
1852 [Los grandes hombres del exilio] (con Engels) 1930: en “Archiv Marksa i Engel’sa” (edición rusa). El manuscrito había sido ocultado precedentemente por Bernstein.
1853 Revelaciones sobre el proceso contra los comunistas de Colonia Impreso como anónimo en Basilea (casi todos los dos mil ejemplares fueron secuestrados por la policía) y en Boston. En 1874 fue reimpreso en el Volksstaat y Marx aparece como autor; en 1875 versión en libro.
1854 El caballero de la noble conciencia Publicado en Nueva York como folleto.
1856-57 Revelaciones sobre la historia diplomática del siglo dieciocho Aunque había sido ya publicado por Marx, después fue omitido y sólo fue publicado en Europa oriental en 1986 en la MECW. Texto en inglés.
1857-58 [Introducción a los Lineamientos fundamentales de la crítica de la economía política] 1903: en Die Neue Zeit, a cargo de Kautsky, con notables discordancias con el original.
1859 Para la crítica de la economía política Impreso en Berlín en mil ejemplares.
1860 Herr Vogt Impreso en Londres con escasa resonancia.
1861-63 [Para la crítica de la economía política (Manuscrito 1861-1863)]

1905-1910: Teorías sobre la plusvalía; a cargo de Kautsky (versión manipulada). El texto fiel al original recién apareció en 1954 (edición rusa) y en 1956 (edición alemana).

1976-1982: publicación integral de todo el manuscrito en MEGA² II/3.1-3.6.

1863-64 [Sobre la cuestión polaca] 1961: Manuskripte über die polnische Frag, a cargo del IISG.
1863-67 [Manuscritos económicos 1863-67]
1894: El capital. Libro tercero. El proceso global de la producción capitalista, a cargo de Engels (basado también sobre manuscritos sucesivos, editados en MEGA² II/14 y en preparación en MEGA² II/4.3).

1933: Libro primero. Capítulo VI inédito, en “Archiv Marksa i Engel’sa” (edición rusa).

1988: publicación de manuscritos del Libro primero y del Libro segundo,en MEGA² II/4.1.

1992: publicación de manuscritos del Libro tercero, en MEGA² II/4.2.

1864-72 Discursos, resoluciones, circulares, manifiestos, programas, estatutos para la Asociación Internacional de los Trabajadores Incluyen el Mensaje inaugural de la Asociación internacional de los trabajadores, La guerra civil en Francia y Las llamadas escisiones en la Internacional (con Engels). Por lo general, textos en inglés.
1865 [Salario, precio y ganancia] 1898: a cargo de Eleanor Marx. Texto en inglés.
1867 El capital. Libro primero. El proceso de producción del capital Editado en mil ejemplares en Hamburgo. Segunda edición en 1873 de tres mil copias. Traducción rusa en 1872.
1870 [Manuscrito para el libro segundo de El capital] 1885: El capital. Libro segundo. El proceso de circulación del capital, a cargo de Engels (basado también sobre el manuscrito de 1880-1881 y sobre los otros más breves de 1867-1868 y de 1877-1878, en preparación en MEGA² II/11).
1872-75 El capital. Libro primero: El proceso de producción del capital (edición francesa) Texto reelaborado para la traducción francesa publicada en fascículos. Según Marx tiene “un valor científico independiente del original”.
1874-75 [Notas sobre “Estado y Anarquía” de Bakunin] 1928: en Letopisi marxisma, prefacio de Riazanov (edición rusa). Manuscritos con extractos en ruso y comentarios en alemán.
1875 [Crítica al Programa de Gotha] 1891: en Die Neue Zeit, a cargo de Engels, que modificó algunos trechos del original.
1875 [La relación entre la cuota de plusvalía y la cuota de ganancia desarrollada matemáticamente] 2003: en MEGA² II/14.
1877 Sobre la “Historia crítica” (capítulo del Anti-Dühring de Engels) Publicado parcialmente en el Vorwärts y después íntegramente en la edición como libro.
1879-80 [Anotaciones sobre “La propiedad común rural” de Kovalevsky] 1977: en Karl Marx über Formen vorkapitalischer Produktion, a cargo del IISG.
1880-81 [Extractos de “La sociedad antigua” de Morgan] 1972: en The Ethnological Notebooks of Karl Marx, a cargo del IISG. Manuscritos con extractos en inglés.
1881 [Glosas marginales al “Manual de economía política” de Wagner]

1932: en El Capital (versión parcial).

1933: en SOČ XV (edición rusa).

1881-82 [Extractos cronológicos desde el 90 a.C hasta el 1648 ca.]

1938-1939: en “Archiv Marksa i Engel’sa” (versión parcial, edición rusa).

1953: en Marx,Engels, Lenin, Stalin, Zur deutschen Geschichte (versión parcial).

References
i. Boris Nikolaevsky, Otto Maenchen Helfen, Karl Marx. La vita e l’ opera, Einaudi, Turín, 1969, p.7
ii. El testimonio más significativo del ciclópico trabajo de Marx son los compendios y apuntes de estudios que nos legó. En efecto, desde el período universitario Marx adoptó el hábito, que conservó toda la vida, de compilar cuadernos de extractos de los libros que leía, intercalando a menudo las reflexiones que ellos le sugerían. El Nachlaß de Marx contiene doscientos veinte cuadernos y libretas de resúmenes, esenciales para el conocimiento y la comprensión de la génesis de su teoría y de las partes de ella que no pudo desarrollar como habría deseado. Sus extractos conservados, que abarcan el largo arco de tiempo que va desde 1838 hasta 1882, están escritos en ocho lenguas – griego antiguo, latín, alemán, francés, inglés, italiano, español y ruso – y cubren las más variadas disciplinas. Fueron tomados de textos de filosofía, arte, religión, política, derecho, literatura, historia, economía política, relaciones internacionales, técnica, matemática, fisiología, geología, mineralogía, agronomía, etnología, química y física, además que de artículos de cotidianos y revistas, actas parlamentarias, estadísticas, informes y publicaciones de oficinas gubernamentales – tal es el caso de los famosos Blue Books, en particular de los Reports of the inspectors of factories, investigaciones que tuvieron gran importancia para sus estudios. Esta inmensa mina de saber, en gran parte aún inédita, fue la cantera de donde Marx extrajo su teoría crítica. La cuarta sección de la MEGA², Exzerpts, Notizen, Marginalien, concebida en treintaidós volúmenes, cuando esté completa, permitirá el acceso a la misma.
iii. Benedikt Kautsky (coordinador de), Friedrich Engels’Briefwechsel mit Karl Kautsky, Danubia Verlag, Viena 1955, p. 32
iv. Véase al respecto la cronología de sus obras, en el Apéndice.
v. Cons. Maximilien Rubel, Marx critique du marxisme, Payot, París, 2000 (1974), pp. 439-440.
vi. En el presente ensayo los manuscritos incompletos de Marx publicados por editores sucesivos, se insertan entre corchetes.
vii. Friedrich Engels Vorwort a Karl Marx, Das Kapital, Zweiter Band. Marx Engels Werke, Band 24, Dietz Verlag, Berlín, 1963, p. 7 OJO: PONER LAS EDICIONES EN CASTELLANO
viii. Friedrich Engels Vorwort a Karl Marx Das Kapital, Dritter Band, MEGA² II/15, Akademie Verlag, Berlín 2004, p. 7. OJO: PONER LAS EDICIONES EN CASTELLANO
ix. Las adquisiciones filológicas más recientes calculan que las intervenciones de Engels, durante su trabajo de editor, sobre los manuscritos de los libros segundo y tercero de El Capital, ascienden a casi cinco mil. Una cantidad muy superior a la que hasta hoy se calculaba. Las modificaciones consiste en agregados y cancelaciones de pasajes, substituciones de conceptos, transformaciones de algunas formulaciones de Marx o traducciones de palabras que éste había utilizado en otras lenguas, estarán disponibles, todas ellas, con la conclusión, ya próxima, de la segunda sección de la MEGA², Das Capital und Vorarbeiten. La misma comprenderá la publicación integral de todas las ediciones autorizadas de El Capital (incluidas las traducciones) y de todos sus manuscritos preparatorios, a partir de los de 1857-1858. La terminación de esta empresa consentirá, por último, una evaluación crítica cierta sobre el estado de los originales dejados por Marx y sobre el papel desempeñado por Engels en calidad de editor.
x. Friedrich Engels, Vorworte zu den drei Auflagen de Herrn Eugen Dührings Umwälzung der Wissenschaft, MEGA² I/27, Dietz Verlag, Berlín, 1988, p. 492 (OJO. PONER EDICION CASTELLANA)
xi. Cons. Hans Josef Steinberg, Il socialismo tedesco da Bebel a Kautsky, Editori Riuniti, Roma, 1979, pp. 72-77.
xii. Eduard Bernstein, I presupposti del socialismo e i compiti della socialdemocrazia, Laterza, Bari, 1868, p. 58 (CREO QUE HAY UNA EDICION ESPAÑOLA, ALGO ASÍ COMO :LAS BASES DEL SOCIALISMO Y LAS TAREAS DE LA SOCIALDEMOCRACIA)
xiii. Cons. Franco Andreucci, La diffusione e la volgarizzazione del marxismo, en Aa.Vv., Storia del marxismo, vol. segundo, Einaudi, Turín, p. 15.
xiv. De crítica a concepción de vida y del mundo (N. del T.)
xv. Cons. Erich Matthias, Kautsky e il kautskismo, De Donato, Bari 1971, p.124.
xvi. Friedrich Engels, Karl Marx, Die heilige Familie, Marx Engels Werke, Band 2, Dietz Verlag, Berlín, 1962, p. 98. trad. Española OJO: PONER LA EDICION DE LA SAGRADA FAMILIA
xvii. Cons. Paul Sweezy, La teoria dello sviluppo capitalistico, Boringhieri, Turín, 1970, p. 225 .OJO: PONER LA TRAD. CASTELLANA DE LA TEORIA DEL DESARROLLO CAPITALISTA
xviii. Cons. Hans Josef Steinberg, Il partito e la formazione dell’ortodossia marxista, en Aa. Vv, Storia del marxismo, vol. segundo, Einaudi, Turín, 1979, p.190.
xix. Karl Kautsky, Il programa de Erfurt, Samonà e Savelli, Roma 1971, p. 123. OJO. PONER EDICION CASTELLANA
xx. Giogui Plejanov, Las cuestiones fundamentales del marxismo (PONER EDICION CSTELLANA)
xxi. Vladimir Ilich Lenin, Materialismo ed empiriocriticismo, en Vladimir Ilich Lenin, Opere complete, vol.XIV, Editori Riuniti, Roma, 1963, p.152. OJO PONER LA TRAD. CASTELLANA
xxii. Id., p. 185.
xxiii. Nikolai I. Bujarin, Teoría del materialismo storico, La Nuova Italia, Florencia, 1977, p. 16. OJO. PONER VERSION CASTELLANA
xxiv. Idem., p. 252.
xxv. Antonio Gramsci, Quaderni del carcere, (editados por Valentino Gerratana), Einaudi, Turín, 1975, p. 1403. OJO. PONER LA EDICION CASTELLANA
xxvi. Idem, p. 1428.
xxvii. Josef Stalin, Del materialismo dialettico e del materialismo storico, Edizioni Movimento Studentesco, Milán 1973, p. 919. OJO: COLOCAR LA VERSION CASTELLANA
xxviii. Idem, pp. 926-927.
xxix. Cons. Izumi Omura, Valery Fomichev, Rolf Hecker, Shun-Ichi Kubo (coordinador), Familie Marx privat, Akademie Verlag, Berlín 2005, p.235.
xxx. Karl Marx, Nachwort a Das Capital, Erster Band, MEGA² II/6, Dietz Verlag, Berlín 1987, p. 704 OJO. PONER LA TRADUCCION CASTELLANA DEL POSTFACIO A LA SEGUNDA EDICION DE “EL CAPITAL”, LIBRO PRIMERO)
xxxi. Karl Marx, Provisional Rules of the internacional Working Men’s Association, MEGA I/20, Akademie Verlag, Berlín, 2003 (1992), p. 13. trad. española Estatutos provisorios de la Asociación Internacional de los Trabajadores OJO: PONER TITULO DE LA EDICION CASTELLANA DONDE FIGURAN Y PAGINA
xxxii. Karl Marx, Kritik des Gothaer Programms, Marx Engels Werke, Band 19, Dietz Verlag, Berlín, 1962, p. 21; trad. española OJO. PONER TITULO DE LA EDICION CASTELLANA DE LA CRITICA DEL PROGRAMA DE GOTHA.
xxxiii. Antonio Labriola, Discorrendo di socialismo e filosofia. Scritti filosofici e politici, (editados por Franco Sbarbieri), Einmaudi, Turín, 1973, pp. 667-669. VER SI HAY EDICION CASTELLANA DE LOS Escritos filosóficos y políticos de Labriola
xxxiv. En su texto Labriola trazaba un esquema preciso de los caracteres de la ediciónm, que habría debido se “acompañada, caso por caso, por prefacios declarativois, índices de referencias, notas y referencias (…) A los escritos ya publicados como libros o folletos convendría agregarles los artículos para los periódicos, los manifiestos, las circulares, los programas, y todas las cartas que, por ser de interés público y general, aunque fuesen dirigidas a personas privadas, tienen importancia política o científica” Id. p. 671.
xxxv. Id., p. 672.
xxxvi. Id., pp. 673-677.
xxxvii. Cons. Maximilien Rubel, Bibliographie des oeuvres de Karl Marx, Rivière, París. 1956, p. 27.
xxxviii. Cons. David Riazanov, Neuste Mitteilungen über den literarischen Nachlasß von Karl Marx und Friedrich Engels, in “Archiv für die Geschichte des Sozialismus und der Arbeiterbewegung”, Hirschfeld, Leipzig, 1925, en particular pp. 385-386.
xxxix. Al respecto remitirse al Einführung del volumen MEGA² IV/32, Die Bibliotheken von Karl Marx und Fridrich Engels, Akademie Verlag, Berlín 1999, pp. 7-97.
xl. Cons. Maximilien Rubel, Marx critique du marxisme, op.cit., p. 81 (VER SI HAY TRAD. CASTELLANA). La infatigable campaña de denuncia de la investigación marxológica de Maximilien Rubel, sobre la profunda diferencia existente entre Marx y el “marxismo”, llegó a considerar a este último como “el mayor, si no el más trágico, malentendido del siglo”.
xli. Junto al desconocimiento “marxista” que hasta aquí hemos querido esbozar habría que considerar también el “antimarxista” de origen liberal y conservador, que es igualmente profundo porque está cargado de prevención y hostilidad. Como aquí no es posible evaluarlo, será objeto de sucesivas profundizaciones.
xlii. Cons. Daniel Bensaid, Passion Karl Marx, Textuel, París 2001, p. 181.
xliii. Véase al respecto Bruno Buongiovanni, Leggere Marx dopo il marxismo, en “Belfagor” nº 5 (1995), p. 590.
xliv. Cons. Maximilien Rubel, Karl Marx, Colibrì, Milán, 2001, p. 18.
xlv. Karl Marx, Friedrich Engels, Joseph Weydemeyer, Die deutsche Ideologie. Artikel, Druckvorlagen, Entwürfe, Rienschriftenfragmente und Notizen zu “I.Feurbach” und II.Sankt Bruno”en “Marx-Engels-Jarbuch 2003”, Akademie Verlag, Berlín 2004, pp. 21 y 29. (PONER LA TRADUCCION ESPAÑOLA DE LA IDEOLOGIA ALEMANA).
xlvi. Tomando en consideración la mole de la producción intelectual de Marx, la cronología no fue redactada sobre la base del criterio de la totalidad sino que se refiere exclusivamente a las obras más significativas. Intentamos así hacer evidente el carácter incompleto de tantos escritos de Marx y las vicisitudes relativas a su publicación. Para responder al primer propósito, los títulos de los manuscritos que él no mandó a la imprenta están insertados entre corchetes, diferenciándolos así de los volúmenes y de los artículos que en cambio fueron terminados. De este modo aparece cómo la parte incompleta prevalece sobre la concluida. Para destacar el segundo objetivo, en cambio, una columna con informaciones sobre las ediciones de los trabajos que aparecieron con carácter póstumo especifica el año de la primera publicación, la referencia bibliográfica y, cuando sea pertinente, quién estuvo a cargo de la misma. Se señalan eventuales modificaciones del original. También se dan breves noticias sobre las obras mandadas imprimir por el autor. Además, cuando el texto o el manuscrito de Marx no fue redactado en alemán, se indica la lengua en que fue escrito. Abreviaciones utilizadas: MEGA (Marx-Engels-Gesamtausgabe, 1927-1935); SOČ K. Marks i Engel’sa Sočinenjia, 1928-1946); MEW ( Marx-Engels-Werke, 1956-1968; MECW (Marx-Engels-Collected-Works, 1975-2004); MEGA² (Marx-Engels-Gesamtausgabe, 1975…); IISG (Internationaal Instituut voor Sociale Geschiedenis de Amsterdam).

Categories
Reviews

Nicolás Boris Esguerra Pardo, Revista Colombiana de Sociología

Los sustanciosos y aún bastante desconocidos Grundrisse de Karl Marx

Los manuscritos económicos de 1857-1858 de Marx —ocho cuadernos elaborados en el lapso de diez meses— fueron publicados por primera vez en alemán, su lengua original, bajo el título Grundrisse der Kritik der politischen Ökonomie (Rohentwurf) 1857-1858. Anhang 1850-1859 [Lineamientos fundamentales para la crítica de la economía política (borrador) 1857-1858. Anexo 1850-1859)].

Categories
Reviews

Nicolás Armando Herrera Farfán, Herramienta. Revista de Debate y Crítica Marxista

Los últimos años del doctor del terror rojo – O velho Marx. Uma biografía de seus últimos anos (1881-1883) -Marcello Musto- Ed. Boitempo, 2018

Por Nicolás Armando Herrera Farfán

¿Cuál es [la ley del ser?]. Por un instante, tuve la sensación

de que la mente de Marx “se revolvía (…), mientras escuchaba el bramido del mar

y observaba la inquieta muchedumbre en la playa.

“¿Cuál es [la ley]?”, se preguntaba. Con un tono profundo y solemne,

[Marx] responde: “¡La lucha!”

Del Preludio

El libro O velho Marx. Uma biografía de seus últimos anos (1881-1883) escrito por el italiano Marcello Musto y editado en portugués por la brasileña Boitempo en 2018 da cuenta de los últimos años de vida de Karl Marx, Moro, Viejo Nick [Viejo diablo], o, como también lo llamaban, el doctor del terror rojo.

Lo primero que salta a la vista es el cuidado de su edición, estéticamente agradable y con una tipografía y tamaño de letra adecuados para hacer la lectura más tranquila, como corresponde a las publicaciones de esta editorial.

Por otro lado, la escritura de su autor demuestra, al mismo tiempo, su amplio conocimiento de la vida y obra de Marx y su capacidad de transmitir interés y entusiasmo a todos los lectores y lectoras. En este sentido, también tiene mérito su traductor Rubens Enderle. Musto consigue mostrar la pasión de Moro por el estudio complejo de la realidad mundial con el objetivo de “proporcionar al movimiento obrero las bases teóricas para destruir el modo de producción capitalista” (p. 19) y también evidencia las situaciones difíciles que vivió el matrimonio Marx Westphalen[1].

Una de las cosas que más gozamos del primer capítulo es la descripción que se hace del método de trabajo de Marx, “riguroso e inflexiblemente crítico” (p. 20), quien leía en todas las lenguas europeas y que trataba a los libros como instrumentos de trabajo y no como bjetos de lujo. Su yerno Paul Lafargue recordaba que los maltrataba “sin recelo”, doblando las puntas de sus páginas y cubría sus márgenes de subrayados; gracias a su método de subrayar “conseguía reencontrar con mayor facilidad el pasaje buscado en un libro” (p. 22).

Esta “máquina condenada a devorar libros” (p. 22), como él mismo se definía, tenía una biblioteca de cerca de 2 mil volúmenes de diversos temas (textos académicos, literarios, históricos, filosóficos y científicos, incluidas las matemáticas) y en diversas lenguas (ruso, alemán, español, italiano y otras); sin embargo, “no era tan imponente como la de los intelectuales burgueses de su calibre, sin duda mejor equipados que él” (p. 20). La biblioteca la complementaban paquetes, decenas de cuadernos de anotaciones y manuscritos inacabados, periódicos (burgueses y obreros de Alemania y Francia) y abundante correspondencia sostenida con líderes obreros, dirigentes políticos e intelectuales.

La vastedad de su biblioteca y la combinación del método de estudio hacían que Marx fuera muy exigente con sus propios textos, por lo cual no publicaba algo que no hubiera reelaborado varias veces hasta encontrar su forma adecuada y señalando que “prefería quemar sus manuscritos a publicarlos incompletos” (p. 23). Esta rigurosidad hizo que desarrollara un “estilo literario”, como lo advierte el marxista venezolano Ludovico Silva (2011).

En aquellos años su salud y la de Jenny estaban desmejoradas. No obstante, seguía manteniendo una personalidad jovial y llena de vida, evitando criticar a las personas y aceptando las bromas que, cuando eran buenas, lo hacía llorar de risa. Por otro lado, su aspecto físico distaba de Engels, siempre bien vestido, y se asemejaba a “un conspirador salido de una escena de teatro” (p. 26).

La enfermedad de Jenny limitó su potencialidad de trabajo, aunque pudo avanzó en el estudio de las matemáticas y la antropología, produciendo lo que se conoce como “cuadernos matemáticos” y “cuadernos etnográficos”. En paralelo a estos estudios, siguió leyendo los periódicos obreros y burgueses de Alemania y Francia y continuó la correspondencia con sus interlocutores.

Aun cuando, su primera relación con las matemáticas fue instrumental, en función de sus estudios de economía política (en 1858), con el paso de los años, esta ciencia se convirtió “en fuente de interés cultural en sí misma, asumiendo un carácter muy especial en el ámbito de sus actividades intelectuales” (p. 41), principalmente las obras de Newton y Leibniz. Las matemáticas le representaron “un estímulo intelectual útil a su búsqueda de un método de análisis social, particularmente en lo que respecta a la dialéctica y la representación de ‘totalidad’” y llegaron a convertirse en un espacio lúdico y un refugio en momentos de gran dificultad, “casi en un lugar físico” (p. 44).

De outro lado, los estudios etnográficos[2] le permitieron comprender las estructuras de las sociedades antiguas en las cuales vislumbró el advenimiento de un “tipo de sociedad mayor” que se basaba en una nueva forma de producción y un nuevo modo de consumo, sin que deseara un retorno liso y llano al pasado. No obstante, este “tipo de sociedad” sólo surgiría mediante la lucha consciente de la clase trabajadora y nunca mediante “una evolución mecánica de la historia” (p. 37).

El segundo capítulo del libro se detiene en los estudios de Marx sobre las colonias del modelo capitalista: Irlanda, pero sobre todo la experiencia rusa de la comuna rural (la obschina), estudiando el cirílico ruso a partir de los años 1870. Así pues, la carta de la militante populista rusa Vera Zasulitch de febrero de 1881, “lo estimuló a analizar concretamente un caso histórico de gran actualidad, estrechamente ligado a las cuestiones que, en aquel momento, él abordaba en el plano teórico”. (p. 62)

En su respuesta, es evidente el cambio de perspectiva en relación con las misiones civilizatorias de las metrópolis del capitalismo como pensaba en el caso de la India en 1853. Comenzó a considerar de manera distinta la posible transición “del capitalismo a las formas comunitarias del pasado” (p. 74), y advirtió que la obschina tenía dos posibilidades: o prevalece el “elemento de la propiedad privada” sobre el “elemento colectivo”, o sucede lo contrario. Todo dependerá del contexto y ambiente sociohistórico; sin embargo, no excluyó “la posibilidad de un desarrollo socialista de la obschina”. (p. 75).

Tomando como punto de partida los estudios de Lewin Morgan, y pensando en la obschina, Marx consideraba que podrían existir formas para eliminar el capitalismo y retornar a formas superiores “de tipo ‘arcaico’ de propiedad y de producción colectiva” (de hecho, la obschina era “la forma ‘más moderna de tipo arcaico’ de propiedad comunista”). (p. 76). Sin embargo, al criticar su aislamiento ponía luz sobre un tema fundamental: con una revolución en Rusia la comuna podría desarrollarse “como un elemento regenerador de la sociedad rusa y como un elemento de superioridad frente a los países sometidos al régimen capitalista” (p. 79), pero sin una revolución en Rusia la comuna rural estaría condenada al fracaso.

A lo largo de su obra, Marx se abstuvo de indicar fórmulas o un modelo universal de sociedad socialista, dijo que no había un recorrido inevitable de etapas prestablecidas para las sociedades y dejó en claro que muchos de sus análisis sólo eran exclusivos apenas para la Europa occidental. Por eso, pudo decir que si Rusia continuaba el camino que tomó en 1861m “perdería la más bella ocasión que la historia haya ofrecido a un pueblo y, en vez de eso, sufriría todos los infortunios fatales del régimen capitalista”. (p. 69) Su contacto con los populistas rusos le permitió madurar una convicción en 1881: la historia debía evaluarse con más elasticidad, considerando “la irrupción de los eventos revolucionarios y las subjetividades que los determinan”; de esta manera, llegaba “a un verdadero internacionalismo en escala global, no sólo europea”. (p. 83)

Las dificultades de la vida cotidiana del matrimonio Marx Westphalen aparecen en el intimista tercer capítulo, en el cual, podemos ver la vida cotidiana, las enfermedades y los tormentos de los viejos, incluido el verdadero impacto de la publicación de El Capital, que en sus orígenes tuvo poquísima difusión y la muerte de Jenny Von Westphalen, su compañera de camino desde 1836, se sumó a las dolencias corporales y los sufrimientos espirituales, afectando grandemente su trabajo e impidiéndole continuar tranquilamente con su rutina. El 2 de diciembre de 1881 perdió “su mayor tesoro”. (p. 103)

El capítulo cuarto da cuenta de la estancia de 72 días de Marx en Argel, su último viaje y la única estadía lejos de Europa. En este tiempo vivió el duelo de la pérdida de Jenny, revelándole a su amigo Engels que tenía “profundos ataques de melancolía, parecidos a los del gran Don Quijote” y que su pensamiento estaba “preponderantemente absorbido por el recuerdo de mi mujer, ¡que es la parte más grande de la mejor parte de mi vida!”. (p. 113) Sin embargo, incómodo con la “estúpida profesión de inválido”, porque se sentía “próximo de la imbecilidad” (p. 114), intentó retomar su trabajo, interesándose, desde el punto de vista de las colonias, por la cuestión de la tierra en Argel durante la dominación francesa, al mismo tiempo que hacía observaciones sociales y políticas, y en sus cartas incluyó relatos y costumbres, bromas y comentarios propios de su habitual sarcasmo.

Como su salud no mejoró en su estancia argelina, viajó a la Costa Azul francesa en búsqueda de mejor suerte. Sin embargo, el tiempo le jugó en contra y sufrió una bronquitis que le exigía seguir instrucciones médicas estrictas en el comer, beber y distraerse. Entonces, no pudo evitar su comentario: “Siguiendo esas ‘instrucciones’ estoy bien en el camino de la imbecilidad y me libré del catarro bronquítico”. (p. 122) Después de eso, regresó a Londres, donde la inestabilidad de su salud y la crisis de salud de su hija Jenny contribuyeron para que terminara en condiciones desesperadas. Finalmente, el 11 de enero de 1883, antes de cumplir los 39 años, Jenny falleció de cáncer de vejiga. Esta noticia “arrasó con un hombre ya gravemente enfermo y marcado por una vida de adversidades”. (p. 131) Y, de manera paradójica, Marx encontró alivio en un dolor de cabeza. “El dolor físico es el único ‘letargo’ del dolor mental”, escribió.

En el epílogo, Musto comparte los últimos y difíciles meses de Marx. Agravado por las dolencias corporales y los vacíos espirituales, su salud empeoró con un absceso pulmonar. Su cuerpo sólo soportó hasta las 14.45 horas del 14 de marzo de 1883. Engels recordó que “vivir con todos aquellos trabajos incompletos delante de sí, deseando terminarlos, pero sin poder hacerlo, como Tántalo, debió ser mil veces más amargo que la dulce muerte que lo sorprendió”. (p. 135)

El libro concluye con un apéndice que recorre el “Programa electoral de los trabajadores socialistas” (escrito por Jules Guesde, Paul Lafargue y Karl Marx), y a este sigue una breve cronología de aquellos años.

Consideramos que este trabajo de Musto da un buen tratamiento a un período poco explorado de la vida de Marx, dando pistas, sobre todo de un hombre que va cambiando sus perspectivas, refinando su marco teórico y aproximándose a nuestras realidades del tercer mundo, de las periferias. Es un tiempo de reelaboración, reformulación y reinvención del materialismo histórico, muy útil para nuestras luchas actuales.

Nicolás Armando Herrera Farfán pertenece a IEALC-UBA / Colectivo Frente Unido-Investigación Independiente

nherreraf@gmail.com

Referencias

Armas Fonseca, P. (1989). Moro: el gran aguafiestas. La Habana, Cuba: Editorial Pablo de la Torriente.

Gabriel, M. (2014). Amor y capital. Karl y Jenny Marx y el nacimiento de una revolución. Barcelona, Catalunya: El viejo topo.

Heinrich, M. (2018). Karl Marx e o nascimento da sociedade moderna: biografia e desenvolvimento de sua obra, volume I: 1818-1841. São Paulo, Brasil: Boitempo.

Marx, K. (2018). Comunidad, nacionalismos y capital. Textos inéditos (Á. García Linera, Ed.). La Paz, Bolivia: Vicepresidencia del estado plurinacional de Bolivia.

Silva, L. (2011). El estilo literario de Marx. Caracas, Venezuela: Fundación para la cultura y las artes.

[1] Sobre el apodo “Moro” y las vicisitudes de Karl y Jenny pueden verse, entre otros, los trabajos de Mary Gabriel (2014), Michael Heinrich (2018) y Paquita Armas Fonseca (1989).

[2] Los comentarios y manuscritos de estos estudios etnográficos, junto a los apuntes de la crítica a List, fueron publicados recientemente en español (Marx, 2018).

Categories
Reviews

Leonardo Octavio Belinelli de Brito, Varia Historia

Outro olhar sobre Marx

No ano em que são comemorados duzentos anos do nascimento de Karl Marx, é compreensível que a efeméride agite debates políticos e teóricos que envolvam seu legado, bem como o mercado editorial local.

Entre seus resultados, está a publicação de O velho Marx, de Marcello Musto, autor ligado à fase mais recente do ambicioso projeto editorial das obras completas de Marx e Friedrich Engels, conhecido como MEGA (Marx-Engels-Gesamtausgabe), cuja história é longa e cheia de percalços indissociáveis das desventuras sofridas pelo uso soviético dos pensamentos dos filósofos alemães (Marxhausen, 2014).

Munido pelo aparato documental mobilizado nesse projeto editorial, no qual se destacam os manuscritos/rascunhos e as cartas, frequentemente muito reveladoras, trocadas por Marx com seus correspondentes, o curto livro tem um objetivo restrito, mas nem por isso menor: realizar uma apresentação dos principais acontecimentos da vida pessoal e intelectual de Marx no triênio 1881-1883. Seu principal alvo é a interpretação, rotineira entre seus seguidores, como entre seus críticos, de que os últimos anos do filósofo alemão foram marcados pela confusão de propósitos, fragilidade física e emocional e insegurança teórica. Musto quer nos mostrar justamente o contrário: como Marx, ainda que em condições de saúde frágeis, possuía energia e disposição para perseguir obsessivamente os temas de seu interesse.

Estruturado sob um movimento sempre dúplice, o qual envolve momentos alternados ligados à biografia de Marx com análises da própria evolução de seu pensamento, o livro de Musto conta com quatro capítulos: o primeiro apresenta o estado no qual se encontrava Marx em 1881, ano em que o livro começa sua narrativa; o segundo analisa o debate sobre o destino das comunas agrárias russas e sua relação com o socialismo e a posição de Marx a seu respeito; o terceiro foca na recepção europeia de O capital e o complicado momento familiar pelo qual a família do filósofo alemão passava no segundo semestre de 1881; e o último capítulo expõe a viagem de Marx à Argélia, único momento de sua vida em que saiu do continente europeu, e suas reflexões sobre a situação dos países árabes.

Como se vê, o primeiro mérito do livro de Musto é apresentar os acontecimentos da vida de seu biografado que mesmo o público acadêmico desconhece, como exemplifica o caso da viagem de Marx à Argélia. Nesse plano, vale destacar duas questões delicadas, decisivas para o sucesso do livro, com as quais Musto parece ter se debatido: em primeiro lugar, como selecionar os fatos narrados e articulá-los com uma interpretação a respeito de seus sentidos? Em segundo lugar: como conferir uma narrativa vívida de Marx sem cair numa abordagem excessivamente engrandecedora de sua figura, como se as dificuldades da vida fossem questão menor para espírito tão altivo e brilhante?

No caso da primeira pergunta, Musto teve a ideia inteligente de destacar que o fio vermelho que conecta os empreendimentos intelectuais tardios de Marx – entre os quais se sobressaem, sem dúvida, seu contato com a antropologia por meio da obra de Lewis Morgan e o seu estudo sobre a situação sociopolítica russa – é a recusa do pensamento dogmático, no que Marx contrariava os determinismos variados então em voga. Ao descrever a fusão de Marx com seu gabinete e sua devoção à pesquisa, Musto parece atingir o segundo alvo de seu livro: a noção restrita de “marxismo”, como um conjunto de fórmulas axiomáticas que teve seu primeiro momento de formulação na pena de Karl Kautstky, ele mesmo um tributário das formas de pensar deterministas vigentes no fin de siécle (Haupt, 1979). Com isso, Musto coloca em xeque a construção ideológica mais poderosa das esquerdas do século XX.

E aqui passamos à segunda questão. Em contraste com o procedimento ideológico que alça a figura de Marx à dimensão sobre-humana, o Marx que emerge do livro de Musto não é a figura monolítica, supra-histórica, que os regimes nascidos sob a sua suposta influência pintaram ao longo do século XX. Além de demonstrar como seus pensamentos foram alterados pelas descobertas que realizava, O velho Marx destaca a inserção do filósofo alemão numa rede de militantes e familiares com os quais dividia angústias e alegrias, embora sempre orientado pelas suas preocupações teórico-práticas. Nesse sentido, o esforço do biógrafo não é demonstrar como a dimensão pública das atividades de Marx se sobrepunha à sua vida privada, mas, ao contrário, frisar como sua vida privada e pública se fundiam em uma só – a vida do sujeito Marx – e que, como não poderia deixar de ser, era carregada de contradições, dilemas e escolhas.

Por razões compreensíveis, um livro sintético sobre tema tão complexo traz o risco de algumas limitações. Embora muito bem sucedido, talvez houvesse necessidade de explorar um pouco mais a fundo as descobertas/reformulações teóricas de Marx no período delimitado pela pesquisa. Em que pese observação do autor sobre o fato de esse ser um livro de “biografia intelectual” e indicar a preparação de outro “exclusivamente teórico” (Musto, 2018, p.10), isso não altera a fato de que poderia ter havido discussões teóricas mais profundas no livro atual, especialmente porque, como o próprio autor demonstrou, a biografia de Marx não é separada de suas formulações teóricas.

Pelo seu assunto e pela sua forma expositiva – clara, concisa e livre de jargões -, o livro de Musto certamente interessará aos pesquisadores brasileiros do pensamento de Marx, bem como ao público não acadêmico, mas interessado em discussões políticas. É possível, inclusive, que incomode aqueles que se identifiquem com o “mito Marx” que transcorreu o século XX. Se o fizer, o livro terá cumprido seu objetivo (Musto, 2018, p.11). É que Musto apresenta um caminho para outro Marx, talvez um Marx do século XXI, mais aberto, mais plural e, quem sabe, ainda mais poderoso. Um Marx, portanto, em construção.

REFERÊNCIAS BIBLIOGRÁFICAS

HAPUT, George. Marx e o marxismo. In: HOBSBAWN, Eric (org). História do marxismo (vol.1 – O marxismo no tempo de Marx). Rio de Janeiro: Paz e Terra, 1979. [ Links ]

MARXHAUSEN, Thomas. História crítica das Obras completas de Marx e Engels (MEGA). Crítica Marxista, Campinas, n.39, p.95-124, 2014. [ Links ]

MUSTO, Marcello. O velho Marx – uma biografia de seus últimos anos de vida (1881-1883). São Paulo: Boitempo, 2018. [ Links ]

Categories
Reviews

Matt Vidal, Contemporary Sociology. A journal of reviews

Since Karl Marx’s death in 1883, his work has profoundly and continuously influenced generations of scholars across the social sciences and humanities, while inspiring political organizations, parties, and revolutions across the globe.

At least 23 states were formerly run by regimes that claimed to be Marxist, and today four states—China, Cuba, Laos, and Vietnam— continue to claim his mantle.
Of course, such wide-ranging, real-world influence has been met with vigorous—and often hostile—criticism of Marx and his ideas. An influential line of criticism paints Marx as a rigid, dogmatic thinker, whose most important predictions have been proven wrong by history, thus invalidating his broader theories of history and of capitalism. It is not just hostile critics, however, who have distorted Marx’s thought. Many Marxist traditions—orthodox, Stalinist, Maoist, and others—have turned Marx’s flexible theoretical framework and working hypotheses into rigid ideology and doctrine.
The central thesis of Marcello Musto’s Another Marx: Early Manuscripts to the International is that this image of Marx is a gross caricature based on a limited reading of a small portion of the latter’s gargantuan output. In fact, Marx was a highly flexible thinker who eschewed dogmatism, explicitly warned against his writings being considered doctrine, and periodically revised his theories—up until his last days—in light of continuous research and study. Marx explicitly resisted “writing recipes . . . for the cook-shops of the future” (p. 5, from Marx’s “Afterword to the Second German Edition” of Capital, Vol. I). He ensured that the official policy of the International Working Men’s Association was “not to dictate or impose any doctrinary system whatever” (p. 179, from Marx’s “Resolutions of the Geneva Congress”).
To make his case, Musto draws from the entire corpus of Marx’s writings—published and unpublished. In the 1920s there was an attempt within the Soviet Union to publish the complete works of Marx and Engels as the Marx-Engels-Gesamtausgabe (MEGA). This project was abandoned during the Stalinist purges of the 1930s. The second attempt (the MEGA-2) began in East Berlin in 1975 and resumed in 1990 by the Internationale Marx-Engels-Stiftung in Amsterdam.
The MEGA has published 55 volumes of a planned total of 114 volumes, including roughly 200 notebooks plus Marx’s extensive correspondence. Musto convincingly argues that these workbooks constitute Marx’s “critical theoretical workshop,” which provides a basis for a reevaluation of his thought (p. 4). Musto presents an intellectual biography of Marx, arguing that although his thought went through many key transformations—his turn from law to philosophy to political economy, his break with Hegel and the left Hegelians, his realization of the importance of the economic factor, his discovery of the proletariat, and hence of class—there was also a remarkable consistency across this evolution.
Take The Paris Manuscripts of 1844. Interpreters such as Louis Althusser argue that these demonstrate an early, humanist Marx, which contrasts with a mature, scientific Marx. By contrast, others have seen in The Paris Manuscripts a Marx whose later ideas are fully foreshadowed, as if the prophet’s ideas came fully formed via some preternatural inspiration. In contrast to both interpretations, Musto shows that The Paris Manuscriptsconsist of a heterogeneous mix of elements that are not closely connected and are “an evident expression of a position in movement” (p. 43).
In 1845 Marx was expelled from Paris to Brussels, where he wrote The Brussels Notebooks and The German Ideology (with Engels), and where he published The Poverty of Philosophy (1847). In 1848 he published The Communist Manifesto (with Engels) and was expelled from Brussels to London, where he wrote The London Notebooks (1850–1853). Over 1857 and 1858 he wrote The Grundrisse—eight notebooks that were the outline of his critique of political economy. Between 1861 and 1863, he filled 23 additional notebooks.
Musto convincingly argues that his unpublished notebooks are key parts of his oeuvre. They demonstrate his intellectual process of devouring every written work relevant to his current subject and painstakingly taking notes with critical commentary. Literally any subject: notebooks XII and XIII of the The London Notebooks are on agrarian chemistry (relevant to his concerns that capitalist production was becoming ecologically unsustainable).
His publications were delayed by a combination of his exhaustive intellectual process, a perfectionist tendency, destitute poverty, and ongoing struggles with ill health. His main income, from his gig as the European correspondent for the New York Tribune (from 1851 to 1862), was scarcely sufficient to support his family. In a letter to a comrade, he lamented that in addition to the “hackwork” (journalism), he has the “quirk” of “finding fault with anything I have written and not looked at for a month, so that I have to revise it completely” (p. 140).
In 1863 Marx began writing what would eventually become the three volumes of Capital. Volume I was published in 1867. In 1869 he decided to learn Russian so he could closely follow events there. In 1871 he prepared a new version of Volume I, modifying the structure of the book and completely rewriting Chapter One. He continued working on the other two volumes until his death in 1883. Volumes II and III were subsequently edited and published from Marx’s notes by Engels.
The last years of Marx’s life were ones of intense political activism. The International Working Men’s Association emerged in 1864 as a heterogeneous collection of reformist British unionists, Proudhonist mutualists from French-speaking countries (who advocated cooperativism but rejected strikes and politics), and communists. Marx took a leading role and, remarkably, united these disparate elements under a common anti-capitalist program. During this period of political organizing, Marx “was stimulated to develop and sometimes revise his ideas, to put old certainties up for discussion and ask himself new questions” (p. 177).
His political struggles profoundly enriched his theoretical understanding. In the International, Marx argued that unions must turn from immediate struggles to wider political organization, that reformist demands were indispensable, and that workers must form a party and engage electoral politics. He convinced the International to adopt socialization of the means of production as a key demand. And although workers must take control of the state, Marx insisted that there could be no blueprint or predetermined plan: the course of the revolution has to be worked out in the movement, and the details and institutions of the socialist system would have to be worked out in the process as well.
Musto’s book is an important contribution to Marxist theory. While it does not substantively advance any particular theory, it provides a sorely needed antidote to the tendency of critics and even many Marxists to seize on a particular writing of Marx—often a single quotation—and use it to discredit Marx’s larger theories. It demonstrates that particular formulations and working hypotheses need to be considered as part of a much larger, evolving body of theory. Marx’s theory provides a framework—asserting the importance of class and class struggle, of the relation between economics and politics, and lying between the material and the ideal—for developing hypotheses and providing an interpretative lens, without being reduced to any particular hypothesis.
Musto kept his authorial voice restrained. This allows for a smooth intellectual biography, but it means a lack of substantive engagement with the ideas—something one could legitimately expect from a book by a sociologist. The book does not have a concluding chapter. Such a chapter could have provided space for Musto to reflect on and provide a critical analysis of where Marx’s theory stood at the end of his life and its relevance for the twenty-first century.

Categories
Reviews

வினவு செய்திப் பிரிவு, Vinavu

நூல் அறிமுகம் : கார்ல் மார்க்ஸ் : அறிவுப் பயணத்தில் புதிய திசைகள்

 

ஆங்கிலம், ஜெர்மன், இத்தாலியம், பிரெஞ்சு, ஸ்பானியம், போர்ச்சுகீசியம் ஆகிய மொழிகளில் புலமை பெற்றுள்ள மார்செல்லோ முஸ்ட்டோ (1972-இல் இத்தாலியில் பிறந்தவர்), தற்போது கனடாவின் டொரோன்டோ நகரிலுள்ள யோர்க் பல்கலைக் கழகத்தில் சமூகவியல் தத்துவம் கற்பித்து வருகிறார்.

கார்ல் மார்க்ஸின் சிந்தனையையும் அதன் இன்றைய பொருத்தப்பாட்டையும் மையப்படுத்தி எழுதிவரும் அவரது நூல்களும், கட்டுரைகளும், நேர்காணல்களும் உலகம் முழுவதிலும் இதுவரை 20 மொழிகளில் வெளிவந்துள்ளன.

The Last marx (1881-1883) : An Intellecutal Biography என்னும் அவரது நூல் 2016-இல் முதன் முதலில் இத்தாலிய மொழியில் வெளியிடப் பட்டு, அண்மையில் மூன்றாவது பதிப்பைக் கண்டுள்ளது. மார்க்ஸின் இருநூறாவது பிறந்த நாளையொட்டி தமிழ், சீன, ஜப்பானிய, கொரிய, ஜெர்மன், போர்ச்சுகீசிய மொழிகளில் வெளிவரும் இந்த நூல், சற்று விரிவுபடுத்தப்பட்ட வடிவத்தில் அடுத்த சில மாதங்களில் ஆங்கில, பிரெஞ்சு மொழிகளிலும் வெளியிடப்படும். (நூலாசிரியர் பற்றிய குறிப்பிலிருந்து …)

2008-இல் முதலாளியம் மிக அண்மைய நெருக்கடியைச் சந்தித்ததிலிருந்து, கார்ல் மார்க்ஸ் புதுப் பொலிவுடன் திரும்பி வந்துள்ளார். பெர்லின் சுவர் தகர்க்கப்பட்டதற்குப் பிறகு இடைவிடாமல் பறக்கணிக்கப்பட்டு வந்தார். அந்தத் தகர்வுக்குப் பிறகு சொல்லப் பட்டு வந்த ஆரூடங்களுக்கு நேர்மாறாக, மார்க்ஸின் கருத்துகள் மீண்டும் பகுப்பாய்வுக்கும் வளர்த்தெடுத்தலுக்கும் விவாதத்துக்குமான பொருளாகியுள்ளது. ‘நடைமுறையில் நிலவிக் கொண்டிருக்கின்ற சோசலிசத்துடன் அடிக்கடித் தவறாக அடையாளப்படுத்தப்பட்டு வந்தவரும் 1989-க்குப் பிறகு உதறியெறியப்பட்டவருமான ஒரு சிந்தனையாளரைப் பற்றிப் பலரும் புதிய கேள்விகளை எழுப்பத் தொடங்கியுள்ளனர்.

பரந்து விரிந்த வாசகர்களைக் கொண்டுள்ள செல்வாக்கு மிக்க செய்திப் பத்திரிகைகளும் ஏடுகளும் இக்காலத்துக்கு மிகவும் பொருத்தப்பாடுடைய, தொலை நோக்குடைய கோட்பாட்டாளர் என்று அவரைச் சித்திரித்துள்ளன. கிட்டத்தட்ட உலகின் எல்லா இடங்களிலுமே அவர் இப்போது பல்கலைக்கழகப் பாடங்களில் கற்பிக்கப்படுகிறார்; சர்வதேச மாநாடுகளில் விவாதிக்கப்படுகிறார்; மறு அச்சாக்கம் செய்யப்பட்டுள்ள அல்லது புதிய பதிப்புகளில் கொண்டு வரப் பட்டுள்ள அவரது எழுத்துகள் புத்தக விற்பனை நிலைய அலமாரிகளில் மீண்டும் காட்சியளிக்கின்றன; அவரது படைப்புகளைப் பற்றிய ஆய்வு, இருபது அல்லது அதற்கும் கூடுதலான ஆண்டுகளாகப் புறக்கணிக்கப் பட்டு வந்த நிலை மாறி, இப்போது அது மிகப் பெருமளவுக்கு வலுப் பெற்று வருவதுடன், பிற ஆய்வுகளுக்கு முன்னோடியாக அமைகின்ற முக்கியமான விளைவுகளைச் சில சமயம் உருவாக்கி வருகின்றது.

… மாறிய அரசியல் நிலைமைகளோடு சேர்ந்து ஆராய்ச்சியிலும் முன்னேற்றம் ஏற்பட்டுள்ளதால் மார்க்ஸின் சிந்தனையைப் பற்றிய விளக்கம் புதுப்பிக்கப்பட்டு வருவது தவிர்க்க முடியாதபடி தொடர்ந்து நீடிக்கத்தான் செய்யும். மார்க்ஸின் சிந்தனை மீதான இந்த அக்கறை அவரின் கடைசிக் காலத்தில் கோட்பாடுகள் தொடர்பாக அவர் மேற்கொண்ட விளக்கங்கள், விரிவாக்கங்கள் ஆகியன மீது குவியும் என்பதை நாம் எதிர்பார்க்கலாம்.

மார்க்ஸின் அறிவு வளர்ச்சி பற்றிய ஆய்வாக எழுதப்பட்டுள்ள இந்த நூலை அடுத்தும் இதனை முழுமைப்படுத்தும் விதமாகவும் மார்க்ஸின் சிந்தனையைப் பற்றிய கோட்பாட்டு ஆய்வைப் பிரத்யேகமாகச் செய்யும் நூலொன்றும் வெளிவரவுள்ளது.

மார்க்ஸின் கடைசி ஆண்டுகளில் அறிவைத் தேடும் அவரது ஆர்வம் ஓய்ந்து விட்டது என்றும், அவர் எழுதுவதை நிறுத்திவிட்டார் என்றும் சொல்லும் கட்டுக்கதையை அந்த ஆண்டுகளில் அவர் எழுதிய கையெழுத்துப்படிகள் தகர்த்தெறிகின்றன. உண்மையில், அவர் தொடர்ந்து தமது ஆராய்ச்சியை மேற்கொண்டிருந்ததுடன் அதனை புதிய அறிவுத் துறைகளுக்கும் விரிவுபடுத்தியிருந்தார்.

மானுடவியலில் கிடைக்கப்பெற்ற புதிய கண்டு பிடிப்புகள், முதலாளியத்துக்கு முந்திய சமுதாயங்களில் இருந்த கூட்டு உடைமை வடிவங்கள், ரஷியாவில் பண்ணையடிமை முறை ஒழிக்கப்பட்ட பிறகு அங்கு ஏற்பட்ட மாற்றங்கள், நவீன அரசின் பிறப்பு ஆகியன பற்றிய ஆழமான ஆய்வினை 1881, 1882 -ம் ஆண்டுகளில் மார்க்ஸ் செய்தார். அயர்லாந்து விடுதலைப் போராட்டத்துக்கான அவரது உறுதியான ஆதரவு, இந்தியா, எகிப்து, அல்ஜீரியா ஆகியவற்றில் இருந்த காலனிய ஒடுக்குமுறைக்கு எதிராக அவர் காட்டிய உறுதியான எதிர்ப்பு ஆகியவற்றை அவரது கடிதங்களிலிருந்து அறிய முடிவதுடன் சர்வதேச அரசியலில் ஏற்பட்டு வந்த முக்கிய நிகழ்வுகளை அவர் உன்னிப்பாக அவதானித்து வந்தார் என்பதும் தெரிய வருகிறது. ஐரோப்பிய வரலாற்றுப் போக்குகளை மையப்படுத்தி மட்டும் அவர் பார்த்தார் என்றோ, பொருளாதார அடித்தளம்தான் அனைத்தையும் நிர்ணயிக்கிறது என்ற கருத்தைக் கொண்டிருந்தார் என்றோ, வர்க்கப் போராட்டம் என்பதைக் குறித்து மட்டுமே அக்கறை கொண்டிருந்தார் என்றோ கூறுவதற்கு எந்த முகாந்திரமும் இல்லை என்பது கண்கூடு.

புதிய அரசியல் முரண்பாடுகள், புதிய விஷயங்கள், புதிய புவிப் பிரதேசங்கள் ஆகியன பற்றிய ஆய்வு முதலாளிய அமைப்பைப் பற்றி தாம் தொடர்ந்து மேற்கொண்டு வந்த விமர்சனப் பகுப்பாய்வுக்கு அடிப்படையானது என்று மார்க்ஸ் கருதினார். இது பல்வேறு நாடுகளிலும் அவற்றுக்கே உரிய தனித்தன்மையைப் பார்க்கவும், சோசலிசத்தை அடைவது பற்றி அவர் முன்பு வளர்த்தெடுத்திருந்த அணுகுமுறையிலிருந்து வேறுபட்ட அணுகுமுறைக்கான சாத்தியப் பாட்டைப் பரிசீலிக்கவும் உதவியது. (நூலிலிருந்து பக்.7-9)

தமது படைப்புகளில் மார்க்ஸ், உலகமனைத்திற்கும் பொருந்தக் கூடியது என்று சோசலிச சமுதாய முன்மாதிரி எதனையும் ஆலோசனை பார்க்க கூறக்கூடிய விதிமுறைகளைச் சொல்வதை எச்சரிக்கையுடன்  தவிர்த்தார். அவை பயனற்றவை என்றும், விரும்பக்கூடிய விளைவுக்கு நேர் எதிரானதை உருவாக்குபவை என்றும் கருதினார். அதனால்தான் மூலதனம் நூலின் இரண்டாவது ஜெர்மன் பதிப்புக்கு எழுதிய பின்னுரையில் ‘வருங்கால உணவகங்களுக்கு சமையல் குறிப்புகள் எழுதிவைப்பது தமது அக்கறைகளிலொன்றல்ல என்று கூறினார்.  ஜெர்மன் பொருளாதாரவாதி அடோல்ஃப் வேக்னர் (Adolph Wagner [1835-1917]) செய்த விமர்சனங்களுக்குப் பதில் கூறும் முகமாக ஆணித்தரமாகக் கூறினார்:  ‘சோசலிச அமைப்பு எதனையும் நான் ஒருபோதும் நிறுவியதில்லை ‘.

Categories
Journalism

Mitos ‘Marx Muda’ dalam Penafsiran-penafsiran atas Naskah-naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844 (Bagian II)

Penafsiran awal dari (Naskah-naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844)
KETIKA pertama kali terbit pada tahun 1932, Manuskrip Ekonomi-Filsafat tahun 1844 menjadi salah satu materi utama pertentangan antara ‘Marxisme Soviet’ dan ‘Marxisme Barat’.
Pengantar yang menyertai publikasi keduanya menghasilkan perbedaan pendekatan yang tajam. Viktor Adoratskii, direktur MEGA yang menggantikan David Ryazanov pada tahun 1931, setelah pembersihan Institut Marx-Engels (baru-baru ini berganti nama menjadi Marx-Engels-Lenin Institute), mempresentasikan tema manuskrip sebagai sebuah ‘analisis tentang uang, upah, bunga modal, dan sewa tanah’. Sebaliknya, Landshut dan Meyer berbicara tentang sebuah karya yang ‘pada intinya sudah mengantisipasi Capital‘, karena ‘tidak ada ide baru yang fundamental’ yang nantinya muncul dalam oeuvre (karya-karya substansial) Marx. Manuskrip Ekonomi-Filsafat tahun 1844, tulis mereka, sebenarnya adalah karya utama Marx. Terlepas dari karakter yang jelas-jelas dipaksa dari klaim mereka bahwa manuskrip tahun 1844 adalah inti dari perkembangan pemikiran Marx, interpretasi ini segera mencapai kesuksesan besar dan bisa dilihat sebagai sumber asli dari mitos ‘Marx Muda/Young Marx’.
Herbert Marcuse juga menyatakan bahwa Manuskrip Ekonomi-Filsafat tahun 1844 memaparkan premis filosofis dari kritik Marx terhadap ekonomi politik. Dalam sebuah esai bertajuk ‘The Foundation of Historical Materialism’, yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1932 di Die Gesellschaft, Marcuse berpendapat bahwa ‘penerbitan Manuskrip Ekonomi dan Filsafat yang ditulis Marx pada tahun 1844 (ditakdirkan) menjadi peristiwa penting dalam sejarah studi-studi Marxis.’, karena menempatkan ‘diskusi tentang asal dan makna asli materialisme sejarah (…) pada pijakan baru’. Manuskrip 1844 telah menunjukkan kepalsuan pandangan yang diajukan oleh para eksponen Komunisme Soviet dan  Internasional Kedua, bahwa dalam Marx terdapat ‘ sederhananya (…) transformasi dari filsafat ke basis ekonomi dan selanjutnya filsafat bentuk (ekonomi) telah diatasi dan “diselesaikan” sekali dan selamanya’. Sejak penerbitan Manuskrip, adalah mustahil menganggap Marxisme secara esensial adalah sebuah doktrin ekonomi.
Beberapa tahun kemudian, minat pada ‘Marx Muda’ mengarah untuk mempelajari hubungannya dengan Hegel – sebuah lintasan penelitian yang didorong oleh publikasi baru-baru ini dari manuskrip filsuf Jerman tersebut dari masa-masanya di Jena. Georg Lukács, dalam karyanya 1938 The Young Hegel: Studies in the Relations between Dialectics and Economics, adalah salah satu ahli teori Marxis utama yang membandingkan dua set tulisan awal ini – termasuk Marx tentang filsafat dan Hegel tentang ekonomi – dan untuk menggambar apa dilihatnya sebagai analogi tertentu di antara mereka.

Popularitas ‘Marx Muda’ di Prancis Pascaperang
Ketika Perang Dunia Kedua memberi jalan kepada rasa kesedihan mendalam yang dihasilkan dari kebiadaban Nazisme dan fasisme, tema kondisi dan nasib individu dalam masyarakat memperoleh keunggulan besar. Minat filosofis yang berkembang pada Marx tampak jelas di mana-mana di Eropa, terutama di Prancis, di mana studi mengenai tulisan-tulisan awalnya adalah yang paling luas dilakukan. Seperti dikatakan filsuf-cum sosiolog Henri Lefebvre, asimilasi mereka adalah ‘peristiwa filosofis yang menentukan dari periode itu’. Dalam proses yang beraneka ragam ini hingga tahun 60-an, sejumlah penulis dari latar belakang budaya dan politik yang berbeda berusaha untuk menyelesaikan sintesis filosofis dari Marxisme, Hegelianisme, eksistensialisme dan pemikiran Kristen. Perdebatan tersebut menghasilkan banyak tulisan yang buruk dan, lebih dari itu, mendistorsi teks-teks Marx agar sesuai dengan keyakinan ideologis dari mereka yang mengambil bagian dalam perdebatan itu.
Dalam sebuah karya tahun 1948 berjudul Sense and Non-sense, Maurice Merleau-Ponty menyatakan bahwa pemikiran awal Marx lebih bercorak ‘eksistensialis’. Setelah membaca Manuskrip Ekonomi-Filsafat 1844, dan di bawah pengaruh filsuf Alexandre Kojève, ia menjadi yakin bahwa Marxisme sejati adalah humanisme radikal yang sama sekali berbeda dengan ekonomisme Soviet yang dogmatis, dan bahwa adalah mungkin untuk merekonstruksi bangunan dasarnya dari tulisan-tulisan Marx pada awal tahun 1840-an. Sejumlah filsuf eksistensialis terlibat dalam pembacaan yang sama, membatasi diri mereka pada bagian kecil (dan tidak pernah selesai) dari hasil intelektual Marx dan seringkali menghilangkan hampir seluruhnya studi tentang Capital.
Raymond Aron mengembangkan kritik pedas terhadap kecenderungan semacam itu. Dalam bukunya Imaginary Marxisms yang diterbitkan pada tahun 1969, ia menulis tentang ‘imam-imam jesuit’ dan ‘para-Marxis Paris’ yang, di tengah keberhasilan filsafat fenomenologis-eksistensial, ‘menafsirkan karya-karya (Marx) dewasa dalam terang utopianisme filosofis (awal)’ dan bahkan ‘mensubordinasikan Capital di hadapan tulisan-tulisan masa mudanya (terutama Naskah Ekonomi-Filsafat 1844), yang ketidakjelasan, ketidaklengkapan, dan kadang-kadang karakter yang bertentangan menjadi sumber daya tariknya.’ Apa yang gagal dipahami penulis seperti itu adalah bahwa ‘Jika Marx tidak memiliki harapan dan niat untuk membumikan kedatangan komunisme dengan ketelitian ilmiah, dia tidak perlu bekerja selama tiga puluh tahun untuk Capital (juga tidak sempat menyelesaikannya). Beberapa minggu dan beberapa halaman sudah cukup.’
Penulis yang bersikeras, lebih dari yang lain, pada ‘diskontinuitas absolut’ dalam karya Marx adalah Louis Althusser. Kumpulan esainya For Marx, memicu banyak reaksi dan polemik setelah diterbitkan pada tahun 1965, dan menjadi teks yang paling banyak dibahas terkait tulisan-tulisan awal Marx. Posisi Althusser adalah bahwa Tesis tentang Feuerbach dan The German Ideology menandai ‘jeda epistemologis’ yang jelas, ‘kritik terhadap (Marx) yang sebelumnya merupakan hati nurani filosofis (ideologis)’, dan bahwa karyanya dapat dibagi menjadi ‘dua periode penting yang panjang: sebelum tahun 1845 adalah periode ‘ideologis’, dan sesudahnya adalah periode ilmiah’.
Althusser menganggap Manuskrip Ekonomi-Filsafat tahun 1844 secara paradoksikal sebagai “teks terjauh yang dihapus pada hari ketika akan terbit”:
Marx yang paling jauh dari Marx adalah Marx ini, Marx berada di tepi jurang, di ambang pintu, di perbatasan – seolah-olah, sebelum jeda, untuk mencapainya, ia harus memberikan filsafat setiap kesempatan, untuk terakhir kalinya, kekuasaan absolut atas kebalikannya, kemenangan teoretis tanpa batas, yaitu kekalahannya.
Kesimpulan Althusser yang aneh adalah bahwa ‘kita tidak dapat mengatakan secara mutlak bahwa “Marx muda adalah bagian dari Marxisme”’. Aliran Althusserian menjadikan ini sebagai salah satu poin utama dari interpretasinya terhadap Marx.
Di Prancis, kemudian, eksistensialis memperlakukan Naskah Ekonomi-Filsafat 1844 sebagai teks yang sangat merangsang, sementara Jesuit mengangkatnya sebagai spanduk humanisme; yang lain mencelanya sebagai sisa filosofis muda atau melewatinya sebagai bagian yang diragukan dari ‘Marxisme’; dan yang lain lagi masih menyatakannya sebagai teks kunci yang berisi premis filosofis karya ekonomi Marx selanjutnya. Apa yang tidak diragukan adalah bahwa mereka berhasil menarik perhatian besar, tidak hanya di kalangan Marxis, dan di antara karya-karya filosofis yang paling banyak dijual selama lebih dari dua dekade. Pada periode pascaperang, mereka menginformasikan debat teoretis Prancis dan membantu memastikan bahwa Marx bisa dilihat dengan cara yang baru. Tentu saja, dengan demikian, ia menjadi kurang tajam dalam fitur-fiturnya dan lebih moralistik dalam nada, tetapi ia juga muncul sebagai penulis yang lebih waspada terhadap kegelisahan dari individu terkucil yang dihasilkan oleh konteks sosial. Semua ini memungkinkannya untuk berbicara kepada audiens yang lebih luas.

Naskah Ekonomi-Filsafat 1844 di ‘Blok Sosialis’ dan Negara-Negara Berbahasa Inggris
Selama bertahun-tahun, kaum Marxis yang paling terakreditasi di Uni Soviet dan Eropa Timur atau di partai-partai Komunis ortodoks mengabaikan Manuskrip Ekonomi-Filsafat 1844 atau memberikan interpretasi yang dangkal dan terbatas padanya. Ideologi Stalinis, dengan Stakhanovisme sebagai salah satu spanduknya, tetap sangat bermusuhan dengan konsep alienasi yang sangat menonjol dalam (Manuskrip Ekonomi-Filsafat Ekonomi 1844), dan tulisan-tulisan awal Marx, yang justru mendapatkan perhatian sangat besar di ‘Marxisme Barat’ sejak 1930-an. Butuh waktu sangat lama bagi manuskrip untuk mendapatkan tempat di negara-negara blok sosialis.
Banyak komentator atas teks ini menampilkan campuran yang meremehkan dan mengandung kebencian pada dekade 1940 dan 1950an. Tetapi  perlahan-lahan segala sesuatunya mulai berubah. Namun, pendirian banyak penulis dalam koleksi itu agak bermasalah. Berbeda dengan interpretasi dalam periode yang sama di Perancis, yang berusaha memikirkan kembali konsep-konsep Capital melalui kategori-kategori karya awal, para peneliti Soviet umumnya membuat kesalahan sebaliknya: mereka menganalisis karya-karya awal berdasarkan perkembangan teoritik Marx kemudian.
Sementara Naskah Ekonomi-Filsafat 1844 membuat kemajuan lambat dalam kanon materialisme dialektik (‘Diamat’ dalam bahasa Soviet), dan hanya setelah menghadapi banyak perlawanan ideologis dan politik, penerimaannya di negara-negara berbahasa Inggris mengalami keterlambatan yang sama. Bahkan, terjemahan pertama yang membangkitkan minat yang tersembunyi baru muncul pada 1961 di Amerika Serikat, karena iklim budaya dan politik pada masa itu yang masih ditandai oleh gelombang MacCarthyism yang menindas.
Alienation karya Bertell Ollman, yang diterbitkan pada tahun 1971 dan ditakdirkan sebagai salah satu karya paling berpengaruh dalam debat ‘Marx Muda’, juga mengadopsi sikap yang menguntungkan terhadap (Manuskrip Ekonomi-Filsafat Ekonomi 1844). Dia menulis: ‘Saya tidak menekankan perubahan dalam pemikiran Marx karena saya tidak melihat banyak di sana, terutama bila dibandingkan dengan kesatuan esensial dalam Marxisme sejak tahun 1844 dan seterusnya. (…) Bahkan dalam versi Capital yang diterbitkan, ada lebih banyak ide dan konsep “awal” Marx ketimbang yang secara umum diakui.’ Tesis ini menjadi sangat diterima di mana-mana, kecuali di kalangan yang berada di bawah hegemoni pemikiran Althusserian.

Categories
Reviews

Stefano Petrucciani, Il Manifesto

C’è nell’aria un grande ritorno di Marx? Tra coloro che sono disposti a scommetterci è in prima fila Marcello Musto studioso italiano che insegna a Toronto e che al pensatore di Treviri ha dedicato moltissimi lavori.

Categories
Reviews

Giuseppe Bedschi, Il foglio

Eccesso di devozione

L’editore Donzelli ha pubblicato un grosso volume intitolato Marx Revival. Concetti essenziali e nuove letture, a cura di Marcello Musto (professore di Sociologia alla York University di Toronto). Si tratta di una raccolta di saggi su aspetti centrali dell’opera di Marx, scritti da studiosi del marxismo europei, americani e asiatici. L’obiettivo del volume non è solo quello di illustrare l’opera, poderosa, del pensatore di Treviri, al fine di comprenderla meglio, ma, ben più, di asserirne la “attualità” e la “validità”, per capire a fondo il mondo contemporaneo. Scrive infatti il curatore del volume, Musto, nella prefazione: “In seguito alla crisi economica del 2008, Karl Marx è ritornato di moda. Da allora, in numerosi quotidiani, riviste e libri accademici è stato costantemente osservato che il suo pensiero risulta ancora indispensabile per comprendere le contraddizioni del capitalismo e i suoi meccanismi distruttivi”.

Nessun dubbio che Marx sia un classico del pensiero occidentale e che, dopo Marx, non sia più possibile pensare come si pensava prima di Marx. Come osservò un eminente critico italiano, Benedetto Croce (nei suoi saggi sul materialismo storico scritti alla fine dell’Ottocento), il pensatore di Treviri ha inaugurato un nuovo modo di guardare la storia. Sono infatti, diceva Croce, “feconde scoperte, per intendere la vita e la storia, l’affermazione della dipendenza di tutte le parti della vita tra loro, e della genesi di esse dal sottosuolo economico, in modo che si può dire che di storia ce n’è una sola; il ritrovamento delle forze reali dello stato (quale esso si presenta in certi suoi aspetti empirici) col considerarlo istituto di difesa della classe dominante; la stabilita dipendenza delle ideologie dagli interessi di classe; la coincidenza dei grandi periodi storici coi grandi periodi economici; e le tante altre osservazioni ond’è ricca la scuola del materialismo storico”.
Marx, dunque, è un “classico”. Ma questo non significa che dobbiamo farne un Vangelo, e avallare ogni sua analisi e ogni sua affermazione. Noi dobbiamo studiare e meditare tutti i “classici”, da Platone e Aristotele a Kant, da FIegel a Weber: ma studiare e meditare vuol dire ripensare e valutare criticamente, cioè individuare in ogni pensatore ciò che è vivo e ciò che è morto, ciò che serve alla comprensione del mondo in cui viviamo, e ciò che non serve più, perché ormai superato e obsoleto.
Senonché, l’atteggiamento di Musto e dei coautori del volume di cui discorriamo, è tutt’altro: è una sorta di sacralizzazione di Marx. C’è una cosa, infatti, che colpisce subito nel volume donzelliano: tutti i grandi critici di Marx (Boehm-Bawerk, Bernstein, Pareto, Kelsen) non figurano affatto, non hanno spazio alcuno. E’ evidente che questo è un modo sbagliato di fare i conti con un pensatore: sarebbe come studiare Kant prescindendo completamente dagli studi che gli sono stati dedicati nel corso di due secoli.
Prendiamo il formidabile attacco che Eduard Bernstein (il più stretto collaboratore di Engels) sferrò all’opera di Marx alla fine dell’Ottocento. Bernstein rifiutava in primo luogo la previsione formulata da Marx secondo cui la società capitalistica altamente sviluppata avrebbe determinato la scomparsa delle classi intermedie e si sarebbe divisa in due soli campi nemici: uno (relativamente ristretto) di capitalisti, e uno (largamente maggioritario) di proletari. I tratti dello sviluppo capitalistico sui quali Bernstein più insisteva erano essenzialmente tre: in primo luogo, la grandissima estensione della forma della società per azioni, che permetteva un vasto frazionamento (dal punto di vista della proprietà) di capitali già concentrati e la creazione di un numero crescente di azionisti piccoli e medi; in secondo luogo, il fatto che in tutta mia serie di branche industriali la grande azienda non assorbiva continuamente le piccole e medie aziende (le quali mostravano una indubbia vitalità), sicché era illusorio attendersi la loro scomparsa o la loro riduzione a un residuo insignificante; in terzo luogo un notevole sviluppo delle classi intermedie, reso possibile dal grande aumento della produttività del lavoro e dal sempre crescente sovraprodotto creato dagli operai dell’industria. Da tutto ciò Bernstein ricavava che: “Ben lungi dall’essersi semplificata rispetto a quella precedente, la struttura della società si è in larga misura graduata e differenziata, sia per quanto concerne il livello dei redditi sia per quanto concerne le attività professionali”.
Un altro problema ancora: Marx ha elaborato una dottrina dello stato? Se lo chiedeva Norberto Bobbio alla metà degli anni Settanta del secolo scorso, e rispondeva negativamente. Parlando del saggio marxiano su La guerra civile in Francia (dedicato alla esperienza della Comune parigina), e delle indicazioni qui date sulle istituzioni della Comune (la quale, diceva Marx, non era solo un organismo parlamentare, bensì legislativo ed esecutivo al tempo stesso, e tutti i funzionari pubblici potevano essere revocati in qualunque momento), Bobbio sottolineava l’esiguità di tale dottrina, soprattutto se paragonata alla ricca tradizione del pensiero liberale, che conta opere come quelle di Locke e di Kant, di Constant e di Tocqueville. E soprattutto Bobbio rilevava che in Marx il problema del buon governo non si risolveva con la sostituzione di una forma “buona” a una forma “cattiva”, ma con l’eliminazione di ogni forma di governo politico, cioè con l’estinzione dello stato e della politica: ma questa era una prospettiva gravemente irreali stica.
Questi sono solo alcuni dei grandi problemi che la lettura degli scritti di Marx solleva: problemi dei quali nel volume donzelliano non c’è traccia. Ma per meditare Marx bisogna misurarsi anche con questi problemi. Assumere invece un atteggiamento da sacrestani in costante adorazione del Maestro. non è un buon servigio reso a Marx, cioè al ripensamento della sua vasta, complessa, e certo poderosa opera.

Categories
Reviews

Antonio Carioti, Corriere della Sera (La Lettura)

Il Lato Verde di mal « Era un po’ nascosto

Al di là di un certo punto, lo sviluppo delle forze produttive diventa un ostacolo per il capitale», scrive Karl Marx.

Ma non pare che quel punto sia vicino: oggi la crescita economica non mette certo in crisi il potere finanziario, semmai crea soprattutto problemi all’ambiente. Ed è questo uno dei nodi più ardui da sciogliere per chi, come gli autori dei saggi contenuti nel ricco volume Marx Revival, a cura di Marcello Musto (Donzelli, pp. 464, €30, si propone di valorizzare il contributo del pensatore tedesco alla conoscenza e alla trasformazione del mondo attuale. Michael R. Krätke giudica «molto improbabile» che Marx «avrebbe mai sostenuto una qualsivoglia critica del capitalismo» incentrata sui temi più in voga adesso, compresa la «crescita senza limiti», mentre John Bellamy Foster considera del tutto «in linea con la visione classica di Marx» la prospettiva ecosocialista e Michael Löwy propone di estendere la tradizionale visione rivoluzionaria, privilegiando la lotta al riscaldamento globale. L’operazione è ancor più difficile sul terreno dell’odierna questione migratoria: Pietro Basso evoca l’appello di Marx alla classe operaia inglese perché solidarizzasse con i proletari irlandesi e la lotta di liberazione della loro isola. Ma quell’invito rimase inascoltato.

Categories
Reviews

Alfonso Berardinelli, Il Foglio

Va bene riscoprire il “Capitale” di Marx. Ma guai a ridiventare marxisti

Se è vero che Marx è un classico da rileggere, da studiare e da capire di nuovo, ormai al di là dei vari marxismi del secolo scorso, ci sarà un bel lavoro da fare per gli studiosi di oggi e del futuro prossimo.

Le scienze sociali e politiche si troveranno ancora di fronte il venerato gigante ottocentesco, le implicazioni teoriche e pratiche del cui pensiero non sono state ancora rivelate come dovrebbero. E’ questa l’idea trasmessa dal volume a più…

Categories
Journalism

El treballador indígena i la reforma de l’Esquerra: Una conversa amb Álvaro García Linera

Nascut a Cochabamba el 1962, Álvaro García Linera era molt jove quan es va apropar al Marxisme i als conflictes del poble Aimara per primera vegada.

Va mudar-se a Mèxic, on es va graduar en Matemàtiques a principi dels vuitanta, i es va deixar influir pels moviments de la guerrilla de Guatemala, que lluitaven pels drets de la població indígena. Després de tornar a Bolívia, va convertir-se en un dels fundadors de l’Exèrcit Guerriller Túpac Katarí, una organització política que combinava la lluita de classes marxista amb els principis kataristes d’empancipació indígena. Reu en una presó de màxima seguretat durant els anys 1992 i 1997, va ensenyar sociologia i va convertir-se en un intel·lectual de renom. Més endavant, va formar part del Movimiento al Socialismo (MAS) d’Evo Morales, que l’ha portat a ser, des de 2006, Vicepresident de l’Estat Plurinacional de Bolívia. És una de les principals veus de l’esquerra llatinoamericana, i entre les seves obres trobem Forma valor y forma comunidad de los procesos de trabajo (1995) i La potencia plebeya (2008). La nostra conversa amb ell se centra en la situació de les forces progressistes a Bolívia i altres parts del món.

Marcello Musto: El teu compromís polític ve marcat pel fet de saber que la majoria d’organitzacions comunistes llatinoamericanes eren incapaces d’arribar a totes les classes populars i que jugaven un paper de mers espectadors. A Bolívia, per exemple, la confiança que tenien en un esquemàtic i economista Marxisme-Leninisme va evitar que reconeguessin l’especificitat de la qüestió indígena i la col·loquessin al centre de la seva activitat política. Veien els pobles indígenes com a un grup de petits burgesos camperols que no tenien potencial revolucionari. Com vas adonar-te que era necessari construir alguna cosa radicalment diferent de l’esquerra que existia aleshores?

Álvaro García Linera: A Bolívia, el menjar el produïen grangers indígenes, les cases i els edificis els construïen obrers indígenes, els carrers els netejaven els indígenes, i l’elit i les classes mitjanes els tenien confiança perquè cuidessin els seus fills. Tot i això, l’esquerra tradicional semblava encegada i només s’ocupava dels treballadors de les grans indústries, sense tenir en compte la seva identitat ètnica.

Tot i que eren molt importants a les mines, eren una minoria en comparació amb els obrers indígenes, que eren discriminats i durament explotats. Des de finals dels setanta, la població Aimara va organitzar grans mobilitzacions en contra de la dictadura i els governs democràtics posteriors. Ho van fer orgullosos de la seva llengua i els seus símbols, organitzant-se a través de comunitats federades de camperols i impulsant el naixement d’una nació amb lideratge indígena. Va ser un moment de descoberta social.

Com hi vas reaccionar?

Anava a escola en aquell moment i aquella insurgència índia em va impressionar molt. Semblava clar que el discurs de l’esquerra tradicional sobre la lluita de classes, centrat només en obrers i burgesos, era unilateral i insostenible. Havia d’incloure temes indígenes i tractar de la comunitat agrícola, o de la propietat col·lectiva de la terra com a base de l’organització social. A més a més, per tal d’entendre les dones i els homes que formen la major part del país i que demanen una història i un lloc diferents al món, era necessari aprofundir més en l’aspecte etniconacional del problema dels pobles oprimits. I per això, l’esquematisme dels llibres de text marxistes semblava totalment inadequat. Això em va dur a cercar altres referències, des d’una col·lecció d’idees indianistes a les de Marx, els escrits del qual sobre la lluita anticolonial i la comunitat agrícola russa han enriquit la seva anàlisi sobre les nacions oprimides.

Amb el temps, la complexitat del tema de la transformació social, que és molt important en la teva activitat i pensament polítics, s’ha convertit en una qüestió essencial per a totes les forces progressistes. Com que la visió del proletariat com a única força capaç de derrocar el capitalisme s’ha debilitat, i el mite de l’avantguarda revolucionària s’ha dissolt, quin hauria de ser el nou punt de partida de l’esquerra?

El problema de l’esquerra tradicional és que ha confós el tema de «la condició del proletariat» amb un tipus històric específic de treball assalariat que s’ha estès pertot i s’ha convertit en una condició material arreu. No és cert que el món del treball estigui desapareixent, mai no hi ha hagut tants treballadors al món, a cada país. Però aquest gran creixement del treball global ha arribat en un moment en què tots els sindicats i estructures polítiques s’estan separant. Ara més que en qualsevol moment de principis del segle XIX, la condició de la classe obrera és una condició del i pel capital. El món dels treballadors, però, s’ha tornat més complex, híbrid, nòmada i desterritorialitzat. Paradoxalment, en una època en què tots els aspectes de la vida humana s’han mercantilitzat, tot sembla que passi com si ja no hi hagués treballadors.

Quin és el caràcter dels conflictes socials avui dia? Les dificultats que les organitzacions polítiques i sindicals troben a l’hora d’organitzar treballadors immigrants, insegurs i poc preparats, són gaire diferents de les que existien al segle XX, durant l’època del fordisme?

La nova classe obrera no està unificada pel que fa a temes laborals. No té la força encara per a fer-ho, i potser encara falta molt perquè la tingui. Les mobilitzacions socials ja no es fan centrades en l’acció de la classe obrera, sinó barrejant diversos sindicats, sectors, temes i de maneres flexibles, fluïdes i que van canviant. Estem parlant de noves accions col·lectives que han originat els treballadors, encara que, en moltes ocasions, el que en surt siguin altres temes, com ara conglomerats socials o grups demanant drets a la salut pública, l’educació o el transport públic, en lloc de parlar sobre identitat laboral.

En lloc de reprovar aquestes lluites perquè les formes són diferents a les del passat, l’esquerra hauria de fer cas a aquesta societat híbrida i heterogènia, sobretot per entendre les lluites actuals i posar-les al costat d’altres en un nivell local, nacional i internacional. El tema del canvi segueix el treball viu: treballadors que venen de diverses maneres el seu poder laboral. Però els mètodes, discursos i identitats són molt diferents dels que coneixíem al segle XX.

Amb tota la complexitat social d’avui dia, creus que cal repensar el concepte de classe?

Les classes, identitats, col·lectius mobilitzats no són abstraccions: són formes d’experiència col·lectiva sobre el món que s’han construït a gran escala. Tal com van agafar formes contingents ara fa cent anys, ho tornen a fer ara amb mètodes mai vistos i rutes sorprenents, amb causes que són molt diverses de les del passat. No hauríem de confondre el concepte de classe social, una manera de classificar la gent estadísticament basant-nos en la seva propietat, recursos, accés a la riquesa, entre d’altres, amb les maneres reals d’agrupar-se junts basant-se en afinitats comunes, llocs de residència, problemes compartits i característiques culturals. Aquest és el moviment real de la mobilitzada construcció de classes, que només coincideix excepcionalment amb les convergències exhibides en dades estadístiques.

Sovint cites Antonio Gramsci. Com d’important han estat els seus pensaments envers les teves decisions polítiques?

Gramsci ha estat imprescindible per al desenvolupament del meu propi pensament. El vaig començar a llegir quan era molt jove, quan els seus escrits circulaven entre un cop d’estat i un altre. D’aleshores ençà, a diferència d’altres textos que inclouen anàlisis econòmiques o formulacions filosòfiques més centrades en l’estètica del llenguatge que en la realitat, Gramsci m’ha ajudat a desenvolupar una nova perspectiva. Parlava de temes com la llengua, la literatura, l’ensenyament o el sentit comú, que, tot i que semblin temes secundaris, són els que realment teixeixen la vida quotidiana dels individus i determinen les seves percepcions i inclinacions polítiques col·lectives.

Des de llavors, he rellegit Gramsci i sempre m’ha ensenyat coses noves, sobretot referents a la formació molecular de l’estat. Estic convençut que Gramsci és un pensador indispensable per la renovació del Marxisme avui dia.

Pel que dius, és obvi que la manera de relacionar-te amb Marx – que coneixes molt bé i sobre qui has escrit molt – és molt diferent de la del Marxisme soviètic. Creus que un nou gir al Marx de les preguntes i dubtes, que s’ha trobat als seus últims manuscrits inacabats, podria ser més profitós que les afirmacions que apareixen als seus llibres i pamflets publicats?

El Marxisme dels llibres de text sempre m’ha semblat inadequat. Així doncs, vaig prendre la iniciativa d’indagar també en autors inspirats per la ideologia indigenista, així com altres marxistes i un altre Marx que em parlava d’identitats socials híbrides. Així vaig descobrir el Marx que em va ensenyar sobre la lluita colonial, que parlava de comunitats agrícoles, que intentava assentar el tema de les nacions oprimides amb fonaments sòlids – el Marx menys conegut, més plural i que es feia més preguntes que no pas respostes tenia. Van ser aquestes preguntes que em van permetre, amb els anys, llegir de manera diferent la Grundrisse, els manuscrits de 1861-1863 i El capital i trobar-hi elements de la lògica genètica del capitalisme, que altres autors d’abans i després de Marx no van saber entendre.

En els últims quatre anys, gairebé a tota Llatinoamèrica, els governs que han arribat al poder prenen exemple de les ideologies reaccionàries i intenten reimposar un sistema econòmic neoliberal. L’elecció de Jair Bolsonaro al Brasil és el cas més alarmant. Aquest gir tan brusc durarà gaire?

Crec que el problema més gran per a la dreta global és que no té escrit el seu futur. Els estats que predicaven la litúrgia del mercat lliure ara construeixen ara murs contra els immigrants i els bens, com si els seus presidents fossin senyors feudals moderns. Aquells que demanaven privatitzacions ara volen l’atenció dels països que havien denigrat, esperant que els salvin de la càrrega de deutes. I aquells que van donar suport a la globalització i van parlar d’un món que al final seria un de sol s’aferren ara al pretext de la «seguretat continental».

Vivim en un estat de caos planetari, on és difícil preveure com seran els drets llatinoamericans en un futur. Optaran per la globalització o el proteccionisme? Seguiran polítiques de privatització o d’intervenció? Ni tan sols ells tenen la resposta a aquestes preguntes, atès que naveguen per un mar de confusió i només poden expressar el que veuen a curt termini. Aquestes forces de la dreta no representen un futur en el qual la societat llatinoamericana pugui confiar-li les seves expectatives a llarg termini. Ans al contrari: ens porten un augment d’injustícies i desigualtats. L’únic futur tangible que poden oferir a les noves generacions és un futur d’ansietat i incertesa.

En moltes parts del món, la forta davallada dels partits polítics tradicionals ha anat de la mà del naixement de noves forces polítiques que, de maneres diferents, desafien la globalització neoliberal i l’ordre existent. El «mercat lliure» ja no es veu com a sinònim de desenvolupament i democràcia, com es veia equivocadament després de la caiguda del món de Berlín, i el debat sobre alternatives al capitalisme està generant, un cop més, un interès considerable. Què hauria de fer l’esquerra llatinoamericana per donar la volta a les coses i obrir un nou cicle de participació i emancipació política?

Hi ha les condicions per al desenvolupament d’un nou escenari progressista que va més enllà del que s’havia aconseguit la dècada passada. En aquest context de gran incertesa, hi ha espai per propostes alternatives i una orientació col·lectiva cap a nous horitzons, basada en la participació real de la gent i la superació (ecològicament sostenible) de les injustícies socials.

La gran feina de l’esquerra, per tal de superar els límits i els errors del socialisme del segle XX, és trobar un nou horitzó que ofereixi solucions a les preguntes reals que preocupen la gent. Donaria un nou «principi d’esperança» – o el nom que li vulguem donar – que promouria la igualtat, la llibertat social i els drets i el poder universals així com la base per a l’autodeterminació col·lectiva.