Categories
Journalism

Pekerja Adat dan Pembaruan Kiri: Percakapan dengan Álvaro García Linera

Álvaro García Linera dilahirkan di Cochabamba, Bolivia pada tahun 1962.

Ia berkenalan dengan Marxisme dan perjuangan rakyat Aymara ketika masih berusia sangat muda. Pindah ke Meksiko, tempat ia lulus dalam matematika, pada awal 1980-an, ia dipengaruhi oleh gerakan gerilya Guatemala yang memperjuangkan kepentingan masyarakat adat. Setelah kembali ke Bolivia, Linera menjadi salah satu pendiri Pasukan Gerilya Túpac Katari, sebuah organisasi politik yang menggabungkan perjuangan kelas Marxis dengan prinsip-prinsip Kataris yang mempromosikan emansipasi masyarakat adat. Karena aktivitasnya ini, ia dipenjara dengan penjagaan keamanan maksimum antara tahun 1992 dan 1997. Keluar dari penjara ia kemudian mengajar sosiologi dan menjadi intelektual yang berpengaruh. Setelahnya ia bergabung dengan Movement for Socialism (MAS) pimpinan Evo Morales, dan sejak 2006 Linera wakil presiden Negara Plurinasional Bolivia. Dia adalah salah satu suara paling orisinal dari gerakan Kiri Amerika Latin, yang karya-karyanya meliputi Value Form dan Community Form (1995) dan Plebeain Power (2008). Percakapan kami dengannya berpusat pada situasi kekuatan-kekuatan progresif di Amerika Latin dan bagian dunia lainnya.

Marcello Musto: Komitmen politik Anda ditandai oleh kesadaran bahwa sebagian besar organisasi komunis Amerika Latin tidak mampu berbicara kepada kelas-kelas populer secara keseluruhan dan hanya menempati fungsi tidak lebih sebagai pengamat. Di Bolivia, misalnya, ketergantungan mereka pada Marxisme-Leninisme yang paling skematis dan ekonomistik menghalangi mereka untuk mengenali kekhasan masalah masyarakat adat dan menempatkannya di pusat kegiatan politik mereka. Mereka melihat penduduk asli sebagai massa tani “borjuis kecil” tanpa potensi revolusioner. Bagaimana Anda menyadari bahwa perlu membangun sesuatu yang secara radikal berbeda dari kaum Kiri yang ada pada saat itu?

Álvaro García Linera: Di Bolivia, makanan diproduksi oleh petani-petani lokal, bangunan-bangunan dan rumah-rumah dibangun oleh pekerja lokal, jalanan dibersihkan oleh penduduk lokal, dan kaum elite dan kelas menengah memercayakan perawatan anak-anak mereka kepada mereka-mereka ini. Namun kaum Kiri tradisional tampaknya buta akan hal ini dan hanya menyibukkan diri dengan para pekerja di industri skala besar, tanpa memperhatikan identitas etnis mereka. Meskipun, tentu saja, penting untuk mengorganisir para pekerja di pertambangan, namun jumlah mereka adalah minoritas jika dibandingkan dengan para pekerja lokal yang didiskriminasi dan bahkan lebih dieksploitasi. Sejak akhir 1970-an, populasi Aymara mengorganisir mobilisasi besar melawan kediktatoran serta pemerintahan demokratis yang muncul setelah kejatuhannya. Mereka melakukannya dengan bangga, dengan bahasa dan simbol-simbolnya sendiri, yang beroperasi melalui komunitas gabungan dari campesinos (para petani) dan memajukan kelahiran suatu bangsa di bawah kepemimpinan adat. Itu adalah momen penemuan sosial.

Bagaimana Anda merespons ini?

Ketika orang-orang Indian ini memberontak, saat itu saya masih berstatus sebagai siswa sekolah. Pemberontakan itu sangat mengesankan bagi saya. Tampak jelas bahwa wacana perjuangan sosial kaum Kiri klasik, yang hanya berpusat pada pekerja dan borjuis, adalah tidak memadai dan tidak berkelanjutan. Perjuangan itu harus memasukkan tema-tema adat dan untuk merefleksikan komunitas agraria, atau kepemilikan kolektif atas tanah, sebagai dasar untuk organisasi sosial. Selain itu, untuk memahami perempuan dan laki-laki yang merupakan penduduk mayoritas dan yang menuntut sejarah dan tempat yang berbeda di dunia ini, adalah perlu untuk masuk lebih dalam ke aspek etnis-nasional dari masalah rakyat tertindas ini. Dan untuk ini, skematisme buku-buku teks Marxis, bagi saya, tampaknya tidak memadai. Ini mendorong saya untuk mencari referensi-referensi lain, dari penyimpanan ide-ide Indianis ke Marx yang tulisannya tentang perjuangan-perjuangan antikolonial dan komune agraria di Rusia telah memperkaya analisisnya tentang bangsa-bangsa yang tertindas.

Dengan berlalunya waktu, kompleksitas subjek transformasi sosial – yang sangat penting dalam pemikiran dan aktivitas politik Anda – telah menjadi pertanyaan penting bagi semua kekuatan progresif. Ketika visi kaum proletar sebagai satu-satunya kekuatan yang mampu menggulingkan kapitalisme telah berkurang, dan ketika mitos pelopor revolusioner telah bubar, apa yang seharusnya menjadi titik awal baru bagi kaum Kiri?

Masalah dari kaum Kiri tradisional adalah bahwa mereka membingungkan konsep “kondisi proletar” dengan bentuk sejarah yang khusus dari kerja upahan. Yang pertama telah menyebar ke mana-mana dan menjadi kondisi material di seluruh dunia. Tidak benar bahwa dunia kerja menghilang – tidak pernah ada buruh sebanyak ini di dunia, di setiap negara. Tetapi pertumbuhan sangat besar tenaga kerja global ini terjadi pada saat semua serikat buruh dan struktur-struktur politik yang ada terpecah berantakan. Lebih dari kapan pun sejak awal abad ke-19, kondisi kelas pekerja, sekali lagi, merupakan kondisi dari dan untuk kapital. Tetapi saat ini, sedemikian rupa,  dunia pekerja menjadi lebih kompleks, terhibridisasi, nomaden, dan tercerabut dari tempat tinggalnya (deterritorial). Paradoksnya, di zaman ketika setiap aspek kehidupan manusia telah dikomodifikasi, semuanya tampak terjadi seolah-olah tidak ada lagi pekerja.

Apa karakter dari perjuangan sosial saat ini? Apakah kesulitan yang dihadapi organisasi-organisasi politik dan serikat pekerja dalam mengorganisir pekerja migran, tidak aman, dan tidak terampil sangat berbeda dengan yang ada pada masa produksi Fordist pada abad ke-20?

Kelas pekerja baru tidak disatukan terutama di seputar masalah perburuhan. Mereka belum memiliki kekuatan untuk melakukan ini, dan mungkin tidak akan memilikinya untuk waktu yang lama ke depan. Mobilisasi sosial tidak lagi terjadi melalui bentuk-bentuk klasik aksi kelas pekerja yang terpusat, melainkan melalui campuran berbagai serikat, isu-isu lintas-sektor, dan bentuk-bentuk yang fleksibel, lancar, dan dapat berubah. Kita berbicara tentang bentuk-bentuk baru aksi kolektif yang dilontarkan oleh para pekerja, bahkan jika, dalam banyak kasus, apa yang muncul kurang identitas buruhnya dibandingkan fitur-fitur pelengkap lainnya seperti konglomerat teritorial atau kelompok-kelompok yang menuntut hak atas perawatan kesehatan, pendidikan atau transportasi umum.

Alih-alih mencibir perjuangan ini karena bentuknya yang berbeda dari masa lalu, kaum Kiri harus memperhatikan hibriditas atau heterogenitas sosial ini – pertama-tama, untuk memahami perjuangan yang ada dan mengartikulasikannya dengan yang lain di tingkat lokal, nasional dan internasional. Subjek perubahan tetaplah “tenaga kerja hidup/living labour”: pekerja yang menjual tenaga kerjanya dalam berbagai cara. Tetapi bentuk-bentuk organisasi, wacana, dan identitas-identitasnya sangat berbeda dari yang kita kenal di abad kedua puluh.

Di tengah kompleksitas sosial zaman kita, menurut Anda apakah perlu kita memikirkan kembali konsep tentang kelas?

Kelas-kelas, identitas, dan kolektif yang dimobilisasi bukanlah abstraksi: mereka adalah bentuk pengalaman kolektif dunia yang dibangun dalam skala luas. Sama seperti mereka mengambil bentuk kontingen seratus tahun yang lalu, mereka melakukannya lagi melalui rute yang tidak terduga dan seringkali mengejutkan serta penyebab yang sangat berbeda dari yang ada di masa lalu. Kita tidak boleh membingungkan konsep kelas sosial – cara mengklasifikasikan orang secara statistik berdasarkan atas properti mereka, sumber daya, akses terhadap kekayaan, dll. – dengan cara aktual di mana mereka dikelompokkan bersama berdasarkan kedekatan elektif, tempat tinggal, masalah bersama dan karakteristik budaya. Ini adalah gerakan nyata dari konstruksi kelas yang dimobilisasi, yang hanya bertepatan dengan konvergensi yang ditunjukkan dalam data statistik.

Anda sering mengutip Antonio Gramsci. Seberapa pentingkah pemikirannya untuk pilihan politik Anda?

Gramsci sangat menentukan dalam pengembangan pemikiran saya. Saya mulai membacanya ketika masih sangat muda, saat tulisan-tulisannya beredar di antara satu kudeta ke kudeta lainnya. Sejak itu, tidak seperti begitu banyak teks yang mengandung analisis ekonomi atau formulasi filosofis yang lebih memusatkan pada estetika kata-kata ketimbang pada realitas, Gramsci telah membantu saya mengembangkan cara pandang yang berbeda. Dia berbicara tentang masalah-masalah seperti bahasa, sastra, pendidikan atau akal sehat yang, meskipun tampaknya sekunder, sebenarnya membentuk jaringan kehidupan sehari-hari bagi individu dan menentukan persepsi dan kecenderungan politik kolektif mereka.
Sejak masa-masa awal itu, saya secara teratur kembali membaca Gramsci, dan dia selalu mengungkapkan hal-hal baru kepada saya, khususnya berkaitan dengan pembentukan molekular negara. Saya yakin bahwa Gramsci adalah pemikir yang sangat diperlukan untuk pembaruan Marxisme di dunia saat ini.

Dari apa yang Anda katakan, jelas bahwa cara Anda berhubungan dengan Marx – yang sangat Anda kenal dan tentang siapa Anda banyak menulis – sangat berbeda dengan Marxisme Soviet. Apakah Anda berpikir bahwa peralihan ke Marx tentang pertanyaan dan keraguan, yang ditemukan dalam manuskrip yang belum selesai di tahun-tahun terakhirnya, hari ini mungkin lebih bermanfaat daripada pernyataan yang terkandung dalam pamflet dan buku yang diterbitkannya?

Buku teks Marxisme selalu tampak tidak memadai bagi saya. Jadi, saya mengambil inisiatif untuk menyelidiki penulis yang diilhami oleh ideologi indigenis, serta Marxis lain dan Marx lain yang berbicara kepada saya tentang identitas sosial hibrida. Dengan cara ini, saya menemukan seorang Marx yang mengajari saya tentang perjuangan kolonial, yang berbicara tentang komunitas agraris, yang terus berusaha menempatkan tema negara-negara tertindas di atas fondasi yang kuat – sebuah Marx di pinggiran, lebih plural dan lebih berlimpah dengan pertanyaan ketimbang dengan jawaban. Pertanyaan-pertanyaan inilah yang memungkinkan saya, selama bertahun-tahun, untuk membaca secara berbeda Grundrisse, Manuskrip tahun 1861-1863 dan Capital dan menemukan elemen-elemen logika genetika kapitalisme yang gagal dipahami oleh penulis lain, sebelum dan sesudah Marx.

Dalam empat tahun terakhir, hampir di mana-mana di Amerika Latin, pemerintah berkuasa yang mengambil isyarat dari ideologi reaksioner dan berupaya untuk menerapkan kembali agenda ekonomi neoliberal. Terpilihnya Jair Bolsonaro di Brasil adalah kasus yang paling mencolok. Apakah belokan tajam ini cenderung bertahan lama?

Saya pikir masalah besar bagi Kanan global adalah ia tidak memiliki narasi untuk masa depan. Negara-negara yang mendewakan liturgi pasar bebas sekarang membangun tembok melawan imigran dan barang-barang, seolah-olah presiden mereka adalah penguasa feodal zaman akhir. Mereka yang menyerukan privatisasi sekarang memohon kepada negara yang mereka gunakan untuk memfitnah, dengan harapan bahwa hal itu akan menyelamatkan mereka dari beban hutang. Dan mereka yang dulu menyukai globalisasi dan berbicara tentang dunia yang akhirnya akan menjadi dunia sekarang dengan dalih “keamanan benua”.

Kita hidup dalam planet yang serba kacau, di mana sulit untuk meramalkan seperti apa Kanan Amerika Latin yang baru di masa depan. Apakah mereka akan memilih globalisasi atau proteksionisme? Apakah mereka akan mengikuti kebijakan privatisasi atau intervensi negara? Mereka sendiri tidak tahu jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini, karena mereka berlayar dalam lautan kebingungan dan hanya bisa mengekspresikan pandangan-pandangan jangka pendek. Kekuatan-kekuatan Kanan ini tidak mewakili masa depan di mana masyarakat Amerika Latin dapat mempercayakan harapan jangka panjangnya. Sebaliknya: mereka makin meningkatkan ketidakadilan dan ketidaksetaraan. Satu-satunya masa depan nyata yang bisa mereka tawarkan kepada generasi baru adalah kegelisahan dan ketidakpastian.

Di banyak bagian dunia, penurunan tajam partai-partai politik tradisional seiring dengan bangkitnya kekuatan-kekuatan politik baru yang, dalam cara mereka yang berbeda, menantang globalisasi neoliberal dan tatanan yang ada. “Pasar bebas” tidak lagi dianggap identik dengan pembangunan dan demokrasi, seperti yang keliru diyakini setelah runtuhnya Tembok Berlin, dan perdebatan tentang alternatif untuk kapitalisme sekali lagi membangkitkan minat yang cukup besar. Apa yang harus dilakukan kaum Kiri Amerika Latin untuk membalikkan keadaan dan membuka siklus baru keterlibatan dan emansipasi politik?

Kondisi-kondisi yang ada bagi tahap pengembangan progresif baru akan melampaui apa yang dicapai dalam dekade terakhir. Dalam konteks ketidakpastian yang besar ini, ada ruang untuk proposal alternatif dan orientasi kolektif ke cakrawala baru, berdasarkan pada keterlibatan nyata orang-orang dan (secara ekologis berkelanjutan) untuk mengatasi ketidakadilan sosial.

Tugas terbesar kaum Kiri, dalam mengatasi batasan dan kesalahan-kesalahan sosialisme abad kedua puluh, adalah memetakan cakrawala baru yang menawarkan solusi untuk pertanyaan-pertanyaan aktual yang menyebabkan penderitaan bagi mayoritas penduduk. Ini akan melayani “prinsip harapan” baru – nama apa pun yang kita berikan – yang menyerukan kesetaraan, kebebasan sosial, hak-hak dan kapasitas-kapasitas universal sebagai dasar penentuan nasib sendiri secara kolektif.

Categories
Journalism

O trabalhador indígena e a renovação da esquerda: uma conversa com Álvaro Garcia Linera

Nascido em Cochabamba em 1962, Álvaro Garcia Linera era muito jovem quando se aproximou do marxismo e das lutas do povo Aymara.

Já no México, para onde se mudou e se formou em matemáticas no início dos anos 1980, foi influenciado pelos movimentos de guerrilha na Guatemala que lutavam pela causa da população indígena. Após regressar à Bolívia, tornou-se um dos fundadores do exército de guerrilha Túpac Katari, uma organização política que juntava a luta de classes marxista com os princípios Kataristas a favor da emancipação indígena. Esteve preso numa cadeia de segurança máxima entre 1992 e 1997 e foi ensinar sociologia, tornando-se um intelectual influente. Linera aderiu depois ao Movimento pelo Socialismo (MAS) de Evo Morales e é desde 2006 vice-presidente do Estado Plurinacional da Bolívia. Ele é uma das vozes mais originais da esquerda latino-americana, cujas obras incluem Forma Valor e Forma Comunidade (1995) e A Potência Plebeia (2008). A nossa conversa centrou-se na situação das forças progressistas nesta e noutras partes do mundo.

Marcello Musto: O seu compromisso político é marcado pela consciência de que a maioria das organizações comunistas da América Latina não foi capaz de dirigir o seu discurso para o conjunto das classes populares, acabando por ocupar pouco mais do que o lugar de observadores. Na Bolívia, por exemplo, essa dependência em relação ao marxismo-leninismo mais esquemático e economicista impediu-as de reconhecer a especificidade da questão indígena e colocá-la no centro da sua atividade política. Viam os povos nativos como uma massa indiscriminada de camponeses pequeno-burgueses com nenhum potencial revolucionário. Como é que chegou à conclusão de que era necessário construir algo radicalmente diferente da esquerda que existia naquela altura?

Álvaro Garcia Linera: Na Bolívia, a alimentação era produzida por agricultores indígenas, as casas e edifícios eram construídos por trabalhadores indígenas, as ruas eram limpas pela população indígena e a elite e as classes médias confiavam-lhes os cuidados das suas crianças. No entanto, a esquerda tradicional era cega em relação a isto e preocupava-se apenas com os trabalhadores da grande indústria, não prestando atenção à sua identidade étnica. Embora fossem importantes no trabalho nas minas, eram uma minoria em comparação com os trabalhadores indígenas, que eram discriminados e explorados com ainda maior severidade. A partir do final dos anos 1970, a população Aymara organizou grandes mobilizações contra a ditadura, bem como os governos democráticos que surgiram depois dela. Fê-lo orgulhosamente com a sua língua e simbologia própria, funcionando através de comunidades federadas de campesinos e acelerando o nascimento de uma nação sob liderança indígena. Foi um momento de descoberta social.

Como reagiu a isso?

Eu andava na escola nessa altura e essa insurgência índia causou em mim grande impacto. Parecia evidente que o discurso da luta social na esquerda clássica, centrado apenas nos trabalhadores e nos burgueses, era parcial e insustentável. Teria de incorporar os assuntos indígenas e refletir sobre a comunidade agrária e a propriedade coletiva da terra como a base para a organização social. Além disso, para percebermos os homens e mulheres que eram a maioria do país e exigiam uma história e um lugar diferente no mundo, era necessário aprofundar o aspeto étnico-nacional do problema dos povos oprimidos. E para isso o esquematismo das cartilhas marxistas parecia-me completamente inadequado. Isto levou-me a uma busca por novas referências, desde o catálogo de ideias Indianistas até Marx, cujos trabalhos sobre lutas anticoloniais e a comuna agrária na Rússia tinham enriquecido a sua análise das nações oprimidas.

Com o passar do tempo, a complexidade do tema da transformação social — que era tão importante no seu pensamento e atividade política — tornou-se uma questão essencial para todas as forças progressistas. Com o desvanecer da visão do proletariado enquanto única força capaz de derrubar o capitalismo, e com a dissolução do mito da vanguarda revolucionária, qual deve ser o novo ponto de partida para a esquerda?

O problema para a esquerda tradicional é que confundiu o conceito de “condição proletária” com uma forma histórica específica de trabalho assalariado. A primeira alastrou a todo o lado e tornou-se uma condição material generalizada. Não é verdade que o mundo do trabalho esteja a desaparecer — nunca houve tantos trabalhadores no mundo, em todos os países. Mas este crescimento gigantesco da força de trabalho mundial aconteceu numa altura em que as estruturas políticas e sindicais existentes entraram em rotura. Mais do que em qualquer outra altura desde o início do século XIX, a condição da classe trabalhadora é novamente uma condição do, e para, o capital. Mas agora numa forma em que o mundo dos trabalhadores se tornou mais complexo, híbridizado, nómada e desterritorializado. Paradoxalmente, numa época em que todos os aspetos da vida humana foram mercantilizados, tudo parece acontecer como se já não houvesse nenhum trabalhador

Qual é a natureza das lutas sociais hoje em dia? As dificuldades que enfrentam as organizações políticas e sindicais para organizar trabalhadores precários e migrantes são assim tão diferentes daquelas que existiam na altura da produção fordista do século XX?

A nova classe trabalhadora não está principalmente unificada em torno de temas laborais. Ainda não tem a força para o fazer, e talvez não a venha a ter ainda por muito tempo. As mobilizações sociais já não acontecem através das formas clássicas de ação centralizada da classe trabalhadora, mas sim através de misturas de diferentes setores, temas intersetoriais e formas flexíveis, fluidas e mutáveis. Estamos a falar de novas formas de ação coletiva lançadas pelos trabalhadores, mesmo que em muitos casos o que vem à superfície não é tanto uma identidade laboral, mas outros temas complementares como conglomerados territoriais ou grupos que reivindicam acesso à saúde, educação ou transportes públicos.

Em vez de reprovarmos essas lutas porque as suas formas se distinguem das do passado, a esquerda deve estar atenta a este hibridismo ou heterogeneidade — acima de tudo para entender as lutas existentes e articulá-las com outras à escala local, nacional e internacional. O tema da mudança ainda é o “trabalho vivo”: trabalhadores que vendem a sua força de trabalho de muitas maneiras. Mas as formas organizativas, os discursos e identidades são muito diferentes das que conhecemos no século XIX.

Por entre a complexidade social dos nossos tempos, acha que é necessário repensar o conceito de classe?

Classes, identidades, coletivos mobilizados não são abstrações: são formas de experiência coletiva no mundo, construídas em larga escala. Tal como assumiram formas pontuais há cem anos, fazem-no agora de novo através de caminhos e de causas imprevistas e por vezes surpreendentes e muito diferentes das do passado. Não devemos confundir o conceito de classe social — uma maneira de classificar estatisticamente a população com base na sua propriedade, recursos, acesso à riqueza, etc. — com as formas atuais como elas se juntam através de afinidades eletivas, locais de residência, problemas comuns e características culturais. Este é o verdadeiro movimento da construção mobilizada de classes, que apenas coincide excecionalmente com as convergências exibidas nos dados estatísticos.

Cita frequentemente Antonio Gramsci. Qual a importância que o pensamento dele teve nas suas escolhas políticas?

Gramsci foi decisivo para o desenvolvimento do meu próprio pensamento. Comecei a lê-lo quando era muito jovem e as suas obras circulavam entre um golpe de estado e outro. Desde então, ao contrário de tantos textos com análises economicistas ou formulações filosóficas centradas mais na estética das palavras do que na realidade, Gramsci ajudou-me a desenvolver uma maneira diferente de ver as coisas. Ele falava de temas como a linguagem, literatura, educação ou senso comum, que embora pareçam secundários formam de facto a rede da vida no dia-a-a-dia dos indivíduos e determinam as suas perceções e inclinações políticas coletivas.

Desde esses tempos de juventude tenho regressado frequentemente à leitura de Gramsci e ele tem sempre algo novo a revelar-me, em especial no que respeita à formação molecular do estado. Estou convencido que Gramsci é um pensador indispensável para a renovação do marxismo no mundo de hoje.

Das suas palavras parece óbvio que a maneira como se relaciona com Marx — que conhece bem e sobre o qual escreveu tanto — é muito diferente da do marxismo soviético. Acha que recorrer ao Marx das questões e dúvidas, que se encontra nos manuscritos inacabados dos seus últimos anos, pode ser hoje mais frutífero do que nas afirmações contidas nos seus livros e folhetos publicados?

A cartilha marxista sempre me pareceu desadequada. Por isso, tomei a iniciativa de examinar autores inspirados pela ideologia indigenista, bem como outros autores marxistas ou o outro Marx que me falava de identidades sociais híbridas. Desta maneira, descobri um Marx que me ensinou acerca das lutas coloniais, que falava das comunidades agrárias, que continuava a tentar encontrar fundamentos sólidos para o tema das nações oprimidas — um Marx à margem, mais plural e mais cheio de perguntas do que de respostas. Foram essas perguntas que me permitiram, ao longo dos anos, fazer uma leitura diferente dos Grundrisse, dos Manuscritos de 1861-1863 e do Capital, encontrando aqui elementos da lógica genética do capitalismo que outros autores, antes e depois de Marx, não conseguiram compreender.

Nos últimos quatro anos, em quase toda a América Latina, chegaram ao poder governos que se inspiraram em ideologias reacionárias e procuram voltar a impor uma agenda económica neoliberal. A eleição de Jair Bolsonaro no Brasil é o caso mais flagrante. Esta viragem à direita irá durar muito tempo?

Penso que o grande problema para a direita global é que não tem narrativa para o futuro. Os estados que pregavam a liturgia do mercado livre estão agora a construir muros contra os imigrantes e as mercadorias, como se os seus presidentes fossem os senhores feudais dos tempos modernos. Os que exigiam privatizações recorrem agora ao mesmo estado que vilipendiavam, na esperança de que os salve do fardo das dívidas. E os que defendiam a globalização e falavam de um mundo que seria por fim único agarram-se agora ao pretexto da “segurança continental”.

Vivemos numa sociedade de caos planetário, onde é difícil prever como se vão parecer no futuro as novas direitas latino-americanas. Irão optar pela globalização ou pelo protecionismo? Seguirão políticas de privatização ou intervenção estatal? Eles próprios não sabem as respostas a estas perguntas, uma vez que navegam num mar de confusão e apenas podem expressar visões de curto prazo. Essas forças da direita não representam um futuro no qual a sociedade latino-americana possa confiar as suas expetativas a longo prazo. Pelo contrário: elas trazem um aumento das injustiças e desigualdades. O único futuro tangível que conseguem oferecer às novas gerações é um futuro de ansiedade e incerteza.

Em muitas partes do mundo, a queda acentuada dos partidos políticos tradicionais vai a par do crescimento de novas forças políticas que, sob diversas formas, desafiam a globalização neoliberal e a ordem vigente. O “livre mercado” já não é visto como sinónimo de desenvolvimento e democracia, como era erradamente após a queda do Muro de Berlim, e o debate sobre alternativas ao capitalismo está de novo a despertar um grande interesse. O que é que a esquerda latino-americana deve fazer para mudar as coisas e abrir um novo ciclo de envolvimento político e emancipação?

Existem condições para o desenvolvimento de uma nova fase progressista que vá além do que foi conseguido na última década, Neste contexto de enorme incerteza, há espaço para propostas alternativas e um rumo coletivo para novos horizontes, fundados no envolvimento real das pessoas e na superação (ecologicamente sustentável) das injustiças sociais.

A grande tarefa para a esquerda conseguir ultrapassar os limites e os erros do socialismo do século XX é traçar um novo horizonte que dê soluções para as questões que hoje em dia causam sofrimento ao povo. Isso serviria um novo “princípio esperança” — qualquer que seja o nome que lhe dermos — que promulgue a igualdade, a liberdade social e os direitos e aptidões universais como base para a autodeterminação coletiva.

Categories
Journalism

کارگر بومی و تجدیدحیات چپ

گفت‌وگویی با آلوارو گارسیا لینرا

[اشاره]

آلوارو گارسیا لینرا، زاده‌ی کوچابامبا [1] در 1962، هنوز خیلی جوان بود که به مارکسیسم و مبارزات مردم آیمارا [2] نزدیک شد.در اوایل دهه‌ی 1980 به مکزیک رفت و در آنجا در رشته‌ی ریاضیات فارغ‌التحصیل شد؛ تحت‌تاثیر جنبش‌های چریکی گواتمالا قرار گرفت که برای آرمان جمعیت بومی مبارزه می‌کردند. پس از بازگشت به بولیوی، یکی از بنیانگذاران ارتش چریکی توپاک کاتاری شد، سازمانی سیاسی که مبارزه‌ی طبقاتی مارکسیستی را با اصول کاتاریستی[3] که پیشبرد رهایی بومیان را هدف خود قرار داده بود ترکیب کرده بود. بین سال‌های 1992 تا 1997 در یک زندان فوق‌امنیتی محبوس بود؛ پس از آزادی از زندان، جامعه‌شناسی درس می‌داد و به روشنفکری تاثیرگذار بدل شد. بعدها به جنبش برای سوسیالیسم (MAS) ِاوُ مورالس پیوست و از 2006 به بعد معاون رییس‌جمهور دولت چندقومیتی بولیوی شد. او یکی از اصیل‌ترین صاحب‌نظران در چپ آمریکای لاتین با آثاری مانند شکل ارزش و شکل جامعه (1995) و قدرت پلبین (2008) است. گفت‌وگوی ما با او پیرامون وضعیت نیروهای ترقی‌خواه در این بخش و بخش‌های دیگر جهان است.

[گفتگو]

مارچلو موستو: تعهد سیاسی شما با وقوف به اینکه اغلب سازمان‌های کمونیست آمریکای لاتین از سخن گفتن با توده‌های مردم در کل ناتوان هستند و چیزی بیش از عملکرد نظاره‌گران را ندارند، مشخص می‌شود. مثلاً در بولیوی اتکاء آن‌ها به کلی‌ترین و اکونومیستی‌ترین قرائت از مارکسیسم‌ـ لنینیسم مانع از آن شده تا ویژگی مسئله‌ی بومی را تشخیص دهند و آن را در مرکز فعالیت سیاسی خود قرار دهند. آنان بومیان را توده‌های دهقانی «خرده‌بورژوای» ضعیفی می‌دانند که از هیچ توانمندی انقلابی برخوردار نیستند. شما چگونه تشخیص دادید که باید چیزی کاملاً متفاوت با چپی بسازید که در آن زمان وجود داشت؟

آلوارو گارسیا لینرا: در بولیوی کشاورزان بومی خوراک تولید می‌کردند، کارگران بومی ساختمان‌ها و خانه‌ها را می‌ساختند، خیابان‌ها را بومیان نظافت می‌کردند، و نخبگان و طبقات متوسط برای مراقبت از فرزندان‌شان به آنها اعتماد داشتند. با این همه، به نظر می‌رسید چپ سنتی نسبت به این وضعیت نابیناست و ذهنش را فقط کارگران در صنایع بزرگ‌مقیاس اشغال کرده است و به هویت قومی‌شان هیچ توجهی نشان نمی‌دهد. با اینکه بی‌تردید کارگران صنعتی برای کار در معادن اهمیت دارند، در مقایسه با کارگران بومی در اقلیت بودند، کارگران بومی‌ای که در حق‌شان تبعیض اعمال می‌شد و حتی بیرحمانه‌تر استثمار می‌شدند. مردم آیمارا از اواخر دهه‌ی 1970 جنبش‌های بزرگی را علیه دیکتاتوری و دولت‌های دمکراتیک برخاسته از سقوط دیکتاتوری سازمان دادند. بومیان با افتخار این جنبش‌ها را با زبان و نمادهای خود برپا کردند و از طریق جماعت‌های متحد زارعان دهقان (Campesinos) دست به عمل ‌زدند و به زایش یک ملت تحت رهبری بومیان یاری رساندند. این لحظه‌ی کشف اجتماعی بود.

م.م: واکنش شما به این رخداد چه بود؟

آ.گ.ل: من در آن زمان دانش‌آموز بودم و این شورش‌ بومیان تاثیر چشمگیری بر من گذاشت. به نظر روشن می‌رسید که گفتمان مبارزه‌ی اجتماعی در چپ کلاسیک که فقط بر کارگران و بورژواها متکی بود، یک‌سویه و ناپایدار است. این مبارزه می‌بایست درون‌مایه‌های بومی را در برمی‌گرفت و جامعه‌ی زراعی یا مالکیت جمعی بر زمین را به عنوان پایه‌ای برای سازمان اجتماعی بازتاب می‌داد. علاوه بر این، برای فهم زنان و مردانی که اکثریت جمعیت کشور را تشکیل می‌دادند و خواهان تاریخ و جایگاهی متفاوت در جهان بودند، لازم بود وجه قومی ـ ملی مسئله‌ی مردم تحت‌ستم به نحو عمیق‌تری ‌مورد توجه قرار گیرد. و برای این منظور طرح‌اندازی درس‌نامه‌های مارکسیستی کاملاً ناکافی به‌نظرم می‌رسید. این موضوع سبب شد تا به جست‌وجوی منابع دیگری از مخزن ایده‌های جنبش‌های بومیان سرخپوست تا مارکس که نوشته‌هایش درباره‌ی مبارزات ضداستعماری و کمون‌های روستایی در روسیه موجب غنای واکاوی‌اش درباره‌ی ملت‌های تحت‌ستم شده بود، بپردازم.

م.م: پیچیدگی سوژه‌ی دگرگونی اجتماعی ــ که در اندیشه و فعالیت سیاسی شما اهمیتی وافر دارد ــ با گذشت زمان، به مسئله‌ای اساسی برای همه‌ی نیروهای ترقی‌خواه بدل شده است. با علم به اینکه این دیدگاه رنگ باخته که پرولتاریا به عنوان یگانه نیرو قادر به سرنگونی سرمایه‌داری است و اسطوره‌ی پیشاهنگ انقلابی به پایان رسیده، چه چیزی باید آغازگاه جدید چپ باشد؟

آ.گ.ل: مشکل چپ سنتی این است که مفهوم «شرایط پرولتری» را با شکل تاریخی خاصی از کار مزدی خلط می‌کند. شرایط پرولتری در همه جا گسترده است و به یک شرایط مادی در سراسر جهان بدل شده. حقیقت ندارد که جهان کار در حال ناپدیدشدن است ــ هرگز این تعداد کارگر در همه‌ی کشورها نبوده است. اما رشد عظیم نیروی کار جهانی زمانی اتفاق افتاده که همه‌ی اتحادیه‌های کارگری و ساختارهای سیاسی موجود در هم شکسته شده است. شرایط طبقه‌ی کارگر، بیش از هر زمانی از اوایل سده‌ی نوزدهم، بار دیگر همان شرایط مطلوب سرمایه و به نفع سرمایه است، اما اکنون به طریقی که جهان کارگران پیچیده‌تر، در‌آمیخته‌تر، خانه‌به‌دوش‌تر و با وخامت بیشتری روبرو شده است. در عصری که هر جنبه از زندگی انسان کالا شده است، به نحو متناقضی به نظر می‌رسد که هر چیزی می‌تواند رخ ‌دهد، چنان‌که گویی دیگر هیچ کارگری وجود ندارد.

م.م: امروزه سرشت مبارزات اجتماعی چیست؟ آیا مشکلاتی که سازمان‌های سیاسی و اتحادیه‌های کارگری در ایجاد تشکل میان مهاجران، کارگران ناامن و ناماهر با آن دست به گریبان هستند، با مشکلاتی که در زمان تولید فوردیستی سده‌ی بیستم وجود داشت، خیلی فرق دارد؟

آ.گ.ل: طبقه کارگر جدید اساساً پیرامون موضوعات کارگری متحد نمی‌شود. هنوز قدرت انجام این کار را ندارد و شاید برای مدت‌های مدیدی چنین قدرتی نداشته باشد. بسیج‌های اجتماعی دیگر از طریق شکل‌های کلاسیک کنش متمرکز طبقه کارگر رخ نمی‌دهند بلکه از طریق آمیزه‌ای از کسب‌وکارهای متفاوت، موضوعات متقاطع و شکل‌های انعطاف‌پذیر، سیال و تغییرپذیر شکل می‌گیرند. ما از شکل‌های جدید کنش جمعی حرف می‌زنیم که کارگران با شتاب ایجاد می‌کنند، حتی اگر در بسیاری موارد آنچه پدیدار می‌شود از هویت کارگری کمتری در مقایسه با سایر ویژگی‌های مکمل دیگر برخوردار باشد، نظیر [هویت کارگری کنش‌های] کارگران بنگاه‌های هزار شاخه‌ی منطقه‌ای یا گروه‌هایی که خواهان حق سلامتی، آموزش و حمل و نقل عمومی هستند.

به جای سرزنش این مبارزات به دلیل اینکه شکل‌هایشان با شکل‌های مبارزات گذشته فرق دارد، چپ می‌بایست به پیوندخوردگی یا ناهمگنی توجه کند ــ پیش از هرچیز مبارزات موجود را درک کند و آن‌ها را با مبارزات دیگر در سطح محلی، ملی و بین‌المللی مفصل‌بندی کند. «کار زنده» هنوز موضوع تغییر است: کارگرانی که نیروی کارشان را به شیوه‌های گوناگونی فروخته‌اند. اما شکل‌های سازمانی، گفتمان‌ها و هویت‌ها بسیار متفاوت از شکل‌ها، گفتمان‌ها و هویت‌هایی است که در سده‌ی بیستم می‌شناختیم.

م.م: آیا شما فکر می‌کنید که در بحبوحه‌ی پیچیدگی اجتماعی این زمانه، اندیشیدن به مفهوم طبقه لازم است؟

آ.گ.ل: طبقات، هویت‌ها و جماعت‌های بسیج‌شده انتزاعات نیستند: آن‌ها شکل‌های تجربه‌ی جمعی جهان هستند که در مقیاسی گسترده برساخته می‌شوند. همان‌طور که صد سال پیش شکل‌های تصادفی را برمی‌گزیدند، اکنون بار دیگر از طریق مسیرها و علت‌های پیش‌بینی‌نشده و اغلب شگفت‌انگیزی که بسیار متفاوت با گذشته‌اند چنین می‌کنند. ما نباید مفهوم طبقه‌ی اجتماعی ــ راهی برای طبقه‌بندی آماری افراد براساس دارایی، منابع، دسترسی به ثروت و غیره ــ را با شیوه‌های بالفعلی که در آن برپایه‌ی همبستگی‌های گزیده، محل اقامت، مسائل مشترک و خصیصه‌های فرهنگی گروه‌بندی می‌شوند، مغشوش سازیم. این یک جنبش واقعی برساخت متحرک طبقات است که فقط از سر تصادف با تلاقی‌گاه‌های ارائه‌شده در داده‌های آماری منطبق‌اند.

م.م: شما اغلب از آنتونیو گرامشی نقل می‌کنید. اندیشه‌ی او برای انتخاب‌های سیاسی‌تان چقدر اهمیت داشته است؟

آ.گ.ل: گرامشی برای بسط اندیشه‌هایم تعیین‌کننده بوده است. وقتی خیلی جوان بودم، شروع به خواندن نوشته‌هایش کردم، آن‌هم زمانی‌که این نوشته‌ها در فاصله‌ی بین کودتاها انتشار می‌یافت. از آن زمان به بعد، برخلاف بسیاری متن‌ها که حاوی واکاوی اقتصادی یا صورت‌بندی‌های فلسفی بودند و تمرکزشان زیبایی‌شناسی واژه‌ها بود و نه واقعیت، گرامشی به من کمک کرد شیوه‌ی دیگری از نگریستن را در خودم رشد بدهم. او از مسائلی مانند زبان، ادبیات، آموزش یا عقل‌ سلیم سخن می‌گفت که با اینکه ظاهراً حاشیه‌ای به نظر می‌رسند، عملاً شبکه‌ی زندگی روزمره‌ی افراد را تشکیل می‌دهند و ادراکات و تمایلات سیاسی جمعی‌شان را تعیین می‌کنند.

از همان روزهای نخستین به‌طور منظم سراغ گرامشی می‌رفتم و او همیشه نکات جدیدی را برایم آشکار می‌کرد، به ویژه در زمینه‌ی تشکیل مولکولی دولت. معتقدم که گرامشی متفکری است اجتناب‌ناپذیر برای تجدیدحیات مارکسیسم در جهان امروز.

م.م: براساس آنچه می‌گویید، روشن است که شیوه‌ای که خودتان را به مارکس مرتبط می‌کنید ــ که شما بسیار خوب او را می‌شناسید و مطالب زیادی درباره‌ی آن نوشته‌اید ــ بسیار متفاوت از شیوه‌ی مارکسیسم روسی است. آیا فکر می‌کنید که چرخش به سوی مارکسِ سرشار از پرسش‌ها و تردیدها، که در دست‌نوشته‌های پایان‌نیافته‌ی واپسین سال‌های زندگیش یافت می‌شود، ممکن است سودمندتر از احکامی باشد که در جزوه‌ها و کتاب‌های انتشاریافته‌اش گنجیده است؟

آ.گ.ل: مارکسیسمِ درس‌نامه‌ای همیشه برایم ناکافی بود. بنابراین، دست به این ابتکار زدم که به کندوکاو درباره‌ی نویسندگانی بپردازم که از ایدئولوژی بومی‌گراها سرمشق می‌گرفتند و نیز به مارکسیست‌های دیگر و مارکسِ دیگری رجوع کردم که با من از هویت‌های اجتماعی تلفیقی سخن می‌گفت. به این طریق، مارکسی را کشف کردم که به من درباره‌ی مبارزات استعماری می‌آموخت، از جماعت‌های روستایی سخن می‌گفت و می‌کوشید درونمایه‌ی ملت‌های تحت‌ستم را بر بنیادی استوار قرار دهد ــ مارکسی که در خصوص حاشیه‌های سرمایه‌داری، دل‌مشغول پرسش‌هاست تا پاسخ‌ها. این سوالات بود که مرا در خلال سال‌ها قادر ساخت به نحو متفاوتی گروندریسه، دست‌نوشته‌های 1861ـ1863 و سرمایه را بخوانم و در آن عناصر منطق تکوینی سرمایه‌داری را بیابم که نویسندگان دیگر، قبل و بعد از مارکس، آن را نفهمیدند.

م.م: در چهار سال اخیر، تقریباً در همه جای آمریکای لاتین، دولت‌هایی به قدرت رسیده‌اند که ایدئولوژی‌های ارتجاعی را سرمشق خود قرار داده‌اند و می‌کوشند دوباره برنامه‌ی اقتصادی نولیبرالی را تحمیل کنند. انتخاب ژائیر بولسونارو در برزیل تکان‌دهنده‌ترین نمونه‌ی قابل‌اشاره است. آیا احتمال دارد این چرخشِ تند به راست مدت مدیدی ادامه داشته باشد؟

آ.گ.ل: من فکر می‌کنم معضل بزرگ راست جهانی این است که هیچ روایتی برای آینده ندارد. دولت‌هایی که موعظه‌گر بازار آزاد بودند، اکنون در مقابل مهاجران و کالاها دیوار می‌کشند، گویی روسای جمهوری‌شان اربابان فئودالی مدرن هستند. آنهایی که خواهان خصوصی‌سازی بودند اکنون به هر دولتی متوسل می‌شوند که سابقاً از آنها بدگویی می‌کردند، با این امید که آن‌ها را از بار بدهی‌ها خلاص کنند. و آنهایی که روزگاری طرفدار جهانی‌شدن بودند و از جهانی سخن می‌گفتند که سرانجام یکی خواهد شد، اکنون به دستاویز «امنیت قاره‌ای» چنگ انداخته‌اند.

ما در در وضعیت بی‌سروسامانی سیاره‌ای زندگی می‌کنیم که در آن به دشواری می‌توان پیش‌بینی کرد که راست‌های جدید آمریکای لاتین در آینده چه خواهند کرد. آیا جهانی‌شدن را انتخاب می‌کنند یا حمایت‌گرایی را؟ آیا سیاست‌های خصوصی‌سازی را دنبال خواهند کرد یا دخالت دولت را؟ خودشان هم پاسخ به این سوالات را نمی‌دانند زیرا در دریایی از اغتشاش قایق‌رانی می‌کنند و فقط می‌توانند چشم‌اندازهای محدود را بیان کنند. این نیروهای راست آینده‌ای را نمایندگی نمی‌کنند که جامعه‌ی آمریکای لاتین بتواند انتظارات درازمدت خود را به آنها واگذار کند. برعکس: آنها باعث صعود بی‌عدالتی و نابرابری خواهند شد. یگانه آینده‌ی ملموسی که آنها می‌توانند به نسل‌های جدید بدهند آینده‌ای است سرشار از اضطراب و عدم‌قطعیت.

م.م: در بسیاری از نقاط جهان، زوال شدید احزاب سیاسی سنتی پا به پای ظهور نیروهای سیاسی جدیدی بوده است که هر یک به سیاق متفاوت خویش جهانی‌شدن نولیبرالی و نظم موجود را به چالش می‌کشد. بازار آزاد دیگر مترادف با توسعه و دمکراسی قلمداد نمی‌شود، چنانکه به نادرست پس از سقوط دیوار برلین چنین تلقی می‌شد، و بحث درباره‌ی بدیل‌های سرمایه‌داری بار دیگر علاقه‌ی چشمگیری را برمی‌انگیزاند. چپ آمریکای لاتین چه می‌بایست بکند تا به این وضعیت رونقی بدهد و چرخه‌ی جدیدی از دخالت و رهایی سیاسی را آغاز کند؟

آ.گ.ل: شرایط برای ایجاد یک مرحله‌ی جدید ترقیخواه، فراتر از آنچه در دهه‌ی گذشته به دست آمده، مهیاست. در این مرحله از تزلزل و نابه‌سامانی بزرگ، فضایی برای پیشنهادات بدیل و جهت‌گیری جمعی به سوی افق‌های جدید وجود دارد که متکی است بر دخالت واقعی مردم و غلبه (پایدار از لحاظ زیست‌محیطی) بر بی‌عدالتی‌های اجتماعی.

وظیفه‌ی بزرگ چپ، در غلبه بر محدودیت‌ها و خطاهای سوسیالیسم سده‌ی بیستم، ترسیم افق جدیدی است که راه‌حل‌هایی را برای مسائل بالفعلی که باعث عذاب مردم است ارائه ‌دهد. این افق در خدمت «اصل امید» جدیدی است ــ هر نامی که دوست دارید به آن بدهید ــ که برابری، آزادی اجتماعی و حقوق و ظرفیت‌های جهان‌شمولی را به عنوان پایه‌ای برای خودتعینی جمعی اشاعه می‌دهد.

Categories
Journalism

Mitos ‘Marx Muda’ dalam Penafsiran-penafsiran atas Naskah-naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844 (Bagian I)

Dua edisi dari 1932
Naskah-naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844 (Economic-Philosophic Manuscripts of 1884) adalah salah satu di antara tulisan-tulisan paling terkenal Marx, dan yang paling banyak diterbitkan di seluruh dunia.
Tetapi meskipun buku ini telah memainkan peran utama dalam interpretasi keseluruhan pemikiran Marx, namun untuk waktu yang lama, buku ini tidak dikenal hingga kemudian terbit hampir seabad setelah penyusunannya.
Penerbitan naskah-naskah ini sama sekali bukan akhir dari cerita. Sebaliknya, penerbitannya telah memicu perselisihan yang panjang tentang karakter dari teks tersebut. Beberapa menganggapnya sebagai karya yang belum matang dibandingkan dengan kritik Marx selanjutnya tentang ekonomi politik. Yang lain menilainya sebagai landasan filosofis yang tak ternilai untuk pemikirannya, yang kehilangan intensitasnya selama bertahun-tahun saat ia mengerjakan penulisan Kapital. Oleh karena itu, bidang penelitian menyangkut hubungan antara teori-teori ‘muda’ dari Naskah-naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844  dan yang ‘matang’ dari Kapital bergantung pada pertanyaan-pertanyaan berikut: Dapatkah tulisan-tulisan ‘Marx Muda’ dianggap sebagai bagian integral dari ‘Marxisme’? Apakah ada kesatuan inspirasi dan realisasi organik di seluruh karya Marx? Atau haruskah dua Marx yang berbeda diidentifikasi di dalamnya?
Konflik penafsiran juga memiliki sisi politik. Para sarjana Marx di Uni Soviet setelah awal dekade tiga puluhan, juga sebagian besar peneliti yang dekat dengan partai-partai Komunis di dalam atau terkait dengan ‘blok sosialis’, menawarkan analisis reduksionis dari Naskah-naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844. Sedangkan mereka yang ada dalam tradisi kritis Marxisme, menetapkan nilai yang lebih tinggi pada teks-teks ini dan menemukan di dalamnya argumen yang paling kuat (terutama dalam kaitannya dengan konsep alienasi) untuk menghancurkan monopoli penafsiran yang dilakukan oleh Uni Soviet atas karya Marx. Dalam setiap kasus, pembacaan instrumentalis menjadi  contoh yang jelas tentang bagaimana konflik-konflik teoretis dan politik telah berulang kali mendistorsi karya Marx guna melayani tujuan yang tidak berkaitan dengannya.
Edisi lengkap pertama dari Naskah-naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844 diterbitkan pada tahun 1932, dalam bahasa Jerman. Bahkan, dua versi terbit pada tahun yang sama, dan ini menambah kebingungan tentang teks tersebut. Para sarjana Sosial Demokrat seperti Siegfried Landshut dan Jacob Peter Mayer, memasukkan naskah-naskah itu ke dalam koleksi dua jilid berjudul Historical Materialism: Early Writings. Versi kedua dari Naskah-naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844 yang muncul pada tahun 1932 adalah yang diedit oleh Institute Marx-Engels (IME) di Moskow dan diterbitkan dalam volume ketiga Bagian Satu dari karya-karya Marx dan Engels (Marx-Engels Gesamtausgabe). Ini adalah edisi ilmiah lengkap pertama, dan yang pertama-pertama menggunakan nama yang kemudian terkenal sebagai Naskah-naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844.

Satu atau dua Marx? Perselisihan tentang kesinambungan pemikiran Marx
Dua edisi tahun 1932 memunculkan banyak kontroversi karakter hermeneutik atau politik, di mana teks Marx sering terjepit di antara dua penafsran ekstrem. Yang pertama memahaminya sebagai ekspresi semata dari teori anak muda yang secara negatif diilhami oleh konsep-konsep dan terminologi filosofis, sementara yang lain menganggapnya sebagai ekspresi tertinggi humanisme Marx dan inti mendasar dari keseluruhan teori kritisnya. Dengan berlalunya waktu, para pendukung dari kedua posisi ini terlibat dalam debat yang hidup, menawarkan jawaban yang berbeda mengenai ‘kesinambungan’ dari pemikiran Marx. Apakah sebenarnya ada dua pemikir yang berbeda: Marx muda dan Marx tua? Atau apakah hanya ada satu Marx, yang keyakinannya tetap sama selama beberapa dekade?
Pertentangan antara kedua pandangan ini menjadi semakin tajam. Yang pertama, menyatukan ortodoksi Marxis-Leninis dengan orang-orang di Eropa Barat dan di tempat lain yang berbagi prinsip teoretis dan politiknya, meremehkan atau sama sekali mengabaikan pentingnya tulisan-tulisan awal Marx; mereka menyajikan karya-karya awal itu sebagai sepenuhnya dangkal dibandingkan dengan karya-karyanya kemudian dan, dengan demikian, mengembangkan konsepsi yang jelas anti-humanis dari pemikirannya. Pandangan kedua, yang diadvokasi oleh kelompok penulis yang lebih heterogen, memiliki isu bersama yakni penolakan terhadap dogmatisme Komunisme resmi dan korelasi yang ingin dibangun oleh para eksponennya antara pemikiran Marx dan politik Uni Soviet.
Kutipan dari dua protagonis utama di tahun 1960-an berikut ini memberikan contoh yang paling mendekati untuk menjelaskan pengertian dari perdebatan itu. Bagi Louis Althusser, sebagai proponen pendekatan pertama mengatakan:
Pertama-tama, setiap diskusi tentang Karya-karya Awal Marx adalah sebuah diskusi politik. Perlu kita ingatkan bahwa Karya-karya Awal Marx (…) yang ditemukan oleh Sosial-Demokrat dan
dieksploitasi oleh mereka dengan maksud menghancurkan Marxisme-Leninisme? (…) Inilah lokasi dari diskusi ini: Marx Muda. Hal yang benar-benar dipertaruhkan di dalamnya: Marxisme. Ketentuan diskusi: apakah Marx Muda sudah dan sepenuhnya Marx.
Iring Fetscher, di sisi lain, berpendapat:
Tulisan-tulisan awal Marx, intinya secara tegas  menyatakan pembebasan manusia dari segala bentuk eksploitasi, dominasi dan alienasi, sehingga pembaca Soviet harus memahami komentar-komentar ini sebagai kritik terhadap situasinya sendiri di bawah dominasi Stalinis. Karena alasan ini, tulisan-tulisan awal Marx tidak pernah diterbitkan dalam edisi besar dan murah dalam bahasa Rusia. Mereka dianggap sebagai karya yang relatif tidak signifikan dari Marx muda yang Hegelian yang belum mengembangkan Marxisme.
Kedua belah pihak yang berselisih ini telah mendistorsi teks Marx tersebut dengan berbagai cara. Kalangan ‘Ortodoks’ menyangkal pentingnya Naskah-naskah Ekonomi-Filsafat tahun 1844 (meskipun sangat diperlukan untuk memahami evolusi pemikiran Marx) dan dengan teguh memegang  keyakinan ini sehingga mereka mengeluarkan naskah-naskah tersebut dari edisi Rusia dan Jerman pada karya lengkap Marx dan Engels. Di sisi lain, banyak perwakilan dari apa yang disebut ‘Marxisme Barat’, serta sejumlah filsuf eksistensialis, mengambil sketsa yang belum selesai dari seorang mahasiswa muda yang tidak mahir dalam teori ekonomi dan melabelinya nilai yang lebih besar ketimbang Kapital, produk yang dihasilkan setelah melalui lebih dari dua puluh tahun penelitian.

Categories
Journalism

Kisah Program 1880 dari Partai Buruh Sosialis Prancis

Selama tahun 1880, Karl Marx secara khusus menaruh perhatian pada gerakan buruh Prancis, dan dengan berbagai cara yang mungkin dan tepat berkontribusi pada kemajuannya.

Pada bulan Oktober tahun sebelumnya, Federasi Partai Pekerja Sosialis Prancis (Federation of the French Socialist Workers’ Party), yang lahir dari perpaduan berbagai aliran sosialis, bertemu dalam kongres di Marseilles. Prosesnya ditandai oleh konflik antara kaum “Possibilis”, yang dipimpin oleh mantan anarkis Paul Brousse (1844-1912), dan arus lain yang lebih dekat dengan ide-ide Marx, dipimpin oleh Jules Guesde (1845-1922). Ketika yang terakhir memenangkan mayoritas, Marx berkomentar kepada kawannya Friedrich Adolph Sorge: “geng anti-komunis, yang terdiri dari elemen-elemen yang sangat heterogen, akhirnya dikalahkan di Kongres Marseilles.”

Guesde, dengan pemilu yang sebentar lagi digelar, harus menyusun program politik, kemudian meminta bantuan Marx, dan Paul Lafargue mengatur agar mereka bertemu di London pada Mei 1880. Inilah asal mula dari Program Elektoral Buruh Sosialis (Electoral Programme of the Socialist Workers), yang muncul di berbagai harian Prancis di musim semi dan diadopsi di Le Havre pada November pada kongres pendirian Partai Buruh Sosialis Prancis (French Socialist Workers’ Party). Kontribusi Marx dalam mengemukakan tuntutan utama kelas pekerja sangat menentukan. Engels mengungkapkan latar belakangnya dalam sepucuk surat kepada Eduard Bernstein: “Tema-temanya didiktekan kepadanya (Guesde) oleh Marx, di sini, di kamar saya ini, di hadapan Lafargue dan saya sendiri. … (Itu) adalah mahakarya penalaran yang meyakinkan, diperhitungkan untuk menjelaskan banyak hal kepada massa dalam beberapa kata. Saya jarang melihatnya seperti itu, dan bahkan dalam versi singkat ini, sungguh menakjubkan.”

Berawal dari poin bahwa buruh tidak akan pernah bisa bebas dalam sistem produksi yang berdasarkan pada buruh upahan (wage labour), Marx menyatakan bahwa emansipasi mereka akan tercapai hanya setelah “pengambilalihan politik dan ekonomi kelas kapitalis dan pengembalian semua alat-alat produksi kepada kepemilikan kolektif”. Kelas buruh, lanjutnya, harus memerangi segala jenis diskriminasi dan beroperasi sedemikian rupa untuk mengakhiri posisi penundukkan (subaltern) perempuan dalam kaitannya dengan laki-laki: “emansipasi kelas produktif seluruh manusia tanpa membedakan jenis kelamin atau ras. ”

Para pekerja harus mendukung suatu bentuk pemerintahan yang dapat menjamin partisipasi mereka seluas-luasnya. Mereka harus berjuang untuk “penghapusan hutang publik”, untuk “transformasi semua pajak langsung menjadi pajak progresif atas pendapatan”, dan untuk mengakhiri dukungan negara pada urusan-urusan keagamaan. Kelas pekerja juga harus menuntut hak atas pendidikan yang didanai publik untuk semua dan memperjuangkan “pembatalan semua kontrak yang telah mengalienasi properti publik (bank, kereta api, tambang, dll.)”. Pada saat yang sama, mereka harus memobilisasi agar “operasi semua tempat kerja milik negara dipercayakan kepada buruh pekerja yang bekerja di sana”. Organisasi politik proletariat, termasuk konstitusi “partai politik yang berbeda” yang bersaing dengan partai-partai demokratis dan berjuang melawan partai-partai borjuis, sangat penting untuk pencapaian tujuan-tujuan ini.

Dalam sebuah surat kepada Sorge, Marx menjelaskan bahwa “dengan pengecualian dari beberapa kebodohan seperti upah minimum yang ditetapkan oleh hukum” – dia khawatir bahwa tindakan seperti itu, jika diadopsi, akan, menurut hukum ekonomi, membuahkan hasil dari penetapan upah minimum itu menjadi maksimum – seksi ekonomi dari dokumen ini terdiri “semata-mata dari tuntutan yang, pada kenyataannya, muncul secara spontan dari gerakan buruh itu sendiri”. Bagi Marx, “membawa pekerja Prancis agar membumi dan meninggalkan pernyataan-pernyataan verbal mereka yang absurd (cloud-cuckoo land) adalah sebuah langkah maju yang luar biasa, dan karenanya membangkitkan kebencian di antara banyak intelektual Prancis yang penipu,  yang mencari nafkah sebagai ‘provokator’.” Dia juga menekankan bahwa, untuk pertama kalinya, program tersebut telah dibahas oleh para pekerja sendiri – “bukti bahwa ini (adalah) gerakan nyata kelas pekerja yang pertama di Prancis”. Marx dengan jelas membedakan fase ini dari fase yang terjadi sebelumnya, ketika “sekte-sekte di sana menerima slogan-slogan mereka dari para pendiri mereka, sementara sebagian besar proletariat mengikuti borjuis radikal atau pseudo-radikal dan berjuang untuk mereka ketika hari itu tiba, hanya untuk kemudian dibantai, dideportasi, dll., pada esok harinya oleh anak-anak muda yang mereka tempatkan di pucuk pimpinan. “Di antara “banyak kebodohan”, Marx memasukkan penghapusan atas warisan (Poin 12 dalam Program), sebuah tuntutan lama Saint-Simonian, menentang apa yang penah dia polemikkan dengan Mikhail Bakunin dalam Asosiasi Kelas Pekerja Internasional: “Jika kelas pekerja memiliki kekuatan yang cukup untuk menghapuskan hak waris, itu akan cukup kuat untuk dilanjutkan ke pengambilalihan, yang akan menjadi sebuah proses yang jauh lebih sederhana dan lebih efisien.”

***
Program Elektoral Pekerja Sosialis[1]

Jules Guesde, Paul Lafarge, Karl Marx

Pembukaan (Preambule)

Mengingat,
Bahwa pembebasan kelas produktif adalah pembebasan semua manusia tanpa membedakan jenis kelamin atau ras;
Bahwa produsen dapat bebas hanya ketika mereka memiliki alat-alat produksi;
Bahwa hanya ada dua bentuk di mana alat-alat produksi dapat menjadi milik mereka

1.    Bentuk individu, yang tidak pernah ada dalam keadaan umum dan yang semakin dihilangkan oleh kemajuan industrial;

2.    Bentuk kolektif, elemen-elemen material dan intelektual yang didasari oleh perkembangan masyarakat kapitalis;

Mengingat,
Bahwa perampasan kolektif ini hanya dapat timbul dari aksi revolusioner kelas produktif – atau proletariat – yang diorganisir dalam partai politik yang berbeda;
Bahwa organisasi semacam itu harus dicapai dengan segala cara yang dimiliki proletariat, termasuk hak pilih universal, yang dengan demikian akan diubah dari instrumen penipuan seperti yang berlangung  hingga kini menjadi instrumen bagi pembebasan;
Kaum buruh sosialis Prancis, dalam mengadopsi bentuk organisasi kepartaian sebagai tujuan bagi pengambilalihan politik dan ekonomi kelas kapitalis dan pengembalian semua alat-alat produksi kepada komunitas, telah memutuskan, sebagai alat organisas dan perjuangan, untuk mengikuti pemilihan umumdengan tuntutan-tuntutan langsung berikut:

A. Tuntutan Politik

Penghapusan semua undang-undang tentang pers, pertemuan, dan asosiasi, dan di atas semua itu, hukum yang menentang Asosiasi Pekerja Internasional. Penghapusan livret[2], kontrol administratif atas kelas pekerja, dan semua pasal dalam Code[3] yang menetapkan inferioritas pekerja dalam kaitannya dengan bos, dan perempuan dalam kaitannya dengan laki-laki;

1.    Penghapusan anggaran untuk urusan keagamaan dan pengembalian kepada negara ‘barang-barang yang dikatakan tak       berguna, bergerak dan tidak bergerak’ (diputuskan oleh Komune[4] 2 April 1871), termasuk semua laporan-laporan industrial dan komersial dari perusahaan-perusahaan terkait;
2.    Penghapusan hutang publik;
3.    Penghapusan tentara-tentara tetap dan mempersenjatai rakyat secara umum;
4.    Komune harus menjadi penguasa administrasi dan kepolisiannya.

B.    Tuntutan Ekonomi

1.    Satu hari istirahat setiap minggu atau larangan hukum terhadap majikan yang memaksakan hari kerja lebih dari enam hari dari tujuh hari. Pengurangan legal jam kerja untuk orang dewasa menjadi delapan jam setiap harinya. Larangan anak di bawah umur empat belas tahun bekerja di tempat kerja pribadi; dan, pengurangan jam kerja untuk anak yang berumur antara 14 dan 16 tahun dari delapan menjadi enam jam per hari[5];
2.    Supervisi protektif terhadap buruh magang oleh organisasi pekerja;
3.    Upah minimum resmi, ditentukan setiap tahun sesuai dengan harga makanan lokal oleh komisi statistik pekerja;
4.    Larangan hukum bagi para bos yang mempekerjakan pekerja asing dengan upah lebih rendah dari pekerja Prancis;
5.    Pembayaran yang sama untuk pekerjaan yang sama, untuk pekerja dari kedua jenis kelamin;
6.    Instruksi ilmiah dan profesional dari semua anak, dengan pemeliharaan mereka menjadi tanggung jawab masyarakat, diwakili oleh negara dan Komune;
7.    Tanggung jawab masyarakat untuk orang tua dan orang difabel;
8.    Larangan bagi campur tangan pengusaha dalam bentuk apapun terhadap administrasi masyarakat ramah pekerja, masyarakat hemat, dll., yang dikembalikan ke kontrol eksklusif pekerja[6];
9.    Tanggung jawab para bos dalam hal kecelakaan, dijamin oleh jaminan yang dibayarkan oleh majikan ke dana pekerja, sebanding dengan jumlah pekerja yang dipekerjakan dan bahaya yang disebabkan oleh industri;
10.    Intervensi oleh pekerja dalam peraturan khusus dari berbagai tempat kerja;diakhirinya hak yang direbut oleh para bos untuk menjatuhkan hukuman kepada pekerjanya dalam bentuk denda atau pemotongan upah (dekrit Komune 27 April 1871)
11.    Pembatalan semua kontrak yang telah mengasingkan properti publik (bank, kereta api, tambang, dll.), dan pengoperasian semua tempat kerja milik negara agar dipercayakan kepada pekerja yang bekerja di sana;
12.    Penghapusan semua pajak tidak langsung dan transformasi semua pajak langsung menjadi pajak progresif atas pendapatan lebih dari 3.000 franc. Penghapusan semua warisan pada garis keturunan tidak langsung (collateral line)[7] dan semua warisan langsung lebih dari 20.000 franc.

[1] Marx adalah penulis utama dari Pembukaan (Preamble)
[2] Livret adalah sebuah sertifikat yang menunjukkan bahwa pekerja tidak lagi memiliki
hutang atau kewajiban kepada mantan majikannya. Tidak ada pekerja yang bisa diambil
tanpa menunjukkannya. Praktik ini baru dihapus pada tahun 1890.
[3] Merujuk pada Napoleonic Code yang ditetapkan pada 1804.
[4] Komune di sini adalah Komune Paris
[5] Tuntutan-tuntutan ini harus disituasikan dalam konteks abad ke-19.
[6] Tuntutan-tuntutan ini harus, tentu saja, dilihat dalam konteks akhir abad ke-19.
[7] Yaitu, mewariskan kepada selain keturunan langsung.

Categories
Journalism

‘Perjuangan!’: Sebuah Wawancara dengan Karl Marx pada 1880

Pada Agustus 1880, John Swinton, seorang jurnalis Amerika yang berpengaruh dengan pandangan progresifnya, sedang dalam perjalanan ke Eropa.

Ketika berada di sana, ia mengunjungi Ramsgate, sebuah kota kecil di pesisir Kent, yang terletak beberapa kilometer dari ujung tenggara Inggris. Perjalanan ini dibuat dengan tujuan melakukan sebuah wawancara untuk The Sun – surat kabar yang dia edit, yang pada saat itu adalah salah satu yang paling luas dibaca di Amerika Serikat. Pria yang akan diwawancara Swinton adalah figur yang telah menjadi salah satu perwakilan utama gerakan buruh internasional: Karl Marx.

Meskipun lahir di Jerman, Marx hidup tanpa kewarganegaraan (stateless), setelah diusir oleh pemerintah Prancis, Belgia dan Prusia ketika mereka meringkus gerakan-gerakan revolusioner yang muncul di negara mereka antara tahun 1848 dan 1849. Ketika Marx mengajukan permohonan naturalisasi di Inggris pada 1874, permintaannya ditolak karena laporan Scotland Yard (polisi Inggris) yang menyebutkan bahwa ia adalah ‘agitator Jerman yang terkenal dan pendukung prinsip-prinsip komunis’, yang ‘tidak loyal kepada Raja dan negaranya sendiri’.

Selama lebih dari satu dekade, Marx menjadi koresponden koran New York Tribune; pada tahun 1867 ia menerbitkan kritik besar terhadap corak produksi kapitalis yang berjudul Capital, dan selama delapan tahun, dimulai pada tahun 1864, ia menjadi tokoh panduan Asosiasi Pekerja Internasional. Pada tahun 1871, namanya ditampilkan di halaman-halaman surat kabar Eropa yang paling banyak dibaca, setelah membela Komune Paris dalam bukunya The Civil War in France. Pers reaksioner kemudian membaptisnya dengan julukan ‘red terror doctor’’.

Pada Musim Panas 1880, Marx berada di Ramsgate bersama keluarganya, di bawah perintah dokter untuk ‘menahan diri dari pekerjaan apa pun’ dan ‘untuk memulihkan sistem saraf(nya) dengan tidak melakukan aktivitas apapun’. Kesehatan istrinya lebih buruk lagi. Jenny von Westphalen menderita kanker dan kondisinya tiba-tiba memburuk hingga tingkat yang mengancam keselamatan jiwanya’. Inilah situasi di mana Swinton, yang telah menjadi pemimpin redaksi di New York Times sepanjang tahun 1860-an, mengenal Marx dan menulis gambaran yang simpatik, intens, dan akurat tentangnya.

Pada level personal, Swinton menggambarkan Marx sebagai ‘pria berkepala besar, murah hati, sopan, dan ramah di usia 60-an, dengan rambut lebat panjang keabu-abuan yang menyenangkan’, yang tahu ‘tidak kalah halus dari Victor Hugo (…) tentang seni menjadi seorang kakek’. Percakapannya, “sangat bebas, sangat luas, sangat kreatif, sangat tajam, sangat otentik”, mengingatkan Swinton pada Socrates “dengan sentuhan sinisnya, jejak-jejak humor, dan energi kegembiraan yang penuh antusiasme”. Dia juga mencatat ‘seorang pria yang tidak berhasrat untuk tampil atau tenar, tidak peduli dengan hiruk pikuk kehidupan atau klaim kekuasaan’.

Namun, ini bukan Marx yang akan digambarkan Swinton pada para pembacanya. Wawancara yang muncul di halaman depan The Sun, pada  6 September 1880, terutama menghadirkan wajah publik Marx: ‘salah satu pria paling hebat saat itu, yang telah memainkan bagian yang sukar dipahami tetapi sangat berpengaruh dalam politik revolusioner selama empat puluh tahun berselang’. Inilah kata Swinton tentang Marx:

[Dia] tanpa terburu-buru dan tanpa jeda, adalah seorang lelaki dengan pikiran yang kuat, luas, dan terangkat, penuh dengan proyek-proyek yang berjangkauan luas, metode-metode logis, dan tujuan-tujuan praktis, ia telah berdiri dan tetap berdiri dalam banyaknya gempa bumi politik yang telah mengguncang bangsa-bangsa dan menghancurkan takhta-takhta, dan kini tengah mengancam dan menakutkan para pimpinan kerajaan dan penipu-penipu mapan, dibandingkan dengan laki-laki mana pun di Eropa.
Diskusi dengan Marx meyakinkan jurnalis New York itu bahwa dia mendapati dirinya di hadapan seorang pria yang ‘terlibat sangat dalam di masanya’, yang tangannya menjulur ‘dari Neva ke Seine, dari Ural ke Pyrenees, sedang bekerja mempersiapkan jalan bagi […] munculnya ‘era baru’. Swinton sangat terkesan dengan Marx karena kemampuannya dalam “menganalisa dunia Eropa, negara demi negara, menunjukkan ciri-ciri dan perkembangannya serta tokoh-tokoh di permukaan dan di bawah permukaan.” Marx kemudian berbicara

tentang kekuatan-kekuatan politik dan gerakan rakyat dari berbagai negara di Eropa – luasnya arus semangat Rusia, pergerakan pemikiran Jerman, aksi Prancis, dan ketidakmampuan bergeraknya Inggris. Dia berbicara dengan penuh harap tentang Rusia, secara filosofis tentang Jerman, dengan keriangan tentang Prancis, dan dengan kesedihan tentang Inggris – merujuk dengan hina kepada ‘reformasi atomistik’ di mana kaum Liberal di  Parlemen Inggris menghabiskan waktu mereka.
Swinton juga terkejut dengan pengetahuan Marx tentang Amerika Serikat. Dia adalah seorang pengamat yang penuh perhatian dan “komentarnya tentang beberapa kekuatan formatif dan substantif tentang kehidupan Amerika penuh dengan ekspresi dan bernada saran”.

Hari itu berlalu dalam serangkaian diskusi yang hidup. Pada sore hari, Marx mengusulkan ‘jalan-jalan di sepanjang pantai’ untuk bertemu keluarganya, yang digambarkan Swinton sebagai ‘orang-orang yang menyenangkan – sekitar sepuluh orang’. Ketika malam tiba, menantu Marx, Charles Longuet (1839-1903) dan Paul Lafargue (1842-1911) terus menemani kedua pria itu; mereka berbicara ‘tentang dunia, tentang manusia, tentang waktu, dan tentang ide-ide, seiring dengan gelas-gelas kami yang bergemerincing di atas deru lautan.’ Pada satu dari momen-momen tersebut, pada sebuah momen yang hening, sang jurnalis Amerika, ‘atas renungan tentang perbincangan dan kerangka usia dan jaman’, larut dalam arus kedalaman ‘pembicaraan hari itu dan fragmen-fragmen sore saat itu’, mengajukan sebuah pertanyaan kritis kepada sang revolusioner dan filsuf yang ada di hadapannya tentang  ‘Apa sebetulnya hukum hidup itu?’

Swinton merasa bahwa pikiran Marx ‘terbalik ke dalam sesaat sembari memandangi laut yang menderu di depannya dan orang-orang yang hilir mudik tanpa jeda di pantai’. Akhirnya, Marx, dengan nada yang dalam dan khidmat, menjawab: ‘Perjuangan!

Categories
Journalism

Marx 201: Kembalinya Alternatif

Kembali ke Marx setelah krisis ekonomi 2008, berbeda dengan kepentingan pembaruan dalam kritiknya terhadap ekonomi.

Banyak penulis, baik di surat-surat kabar, jurnal-jurnal, buku-buku, dan teks-teks akademis, telah mengamati betapa analisis Marx terbukti tak tergantikan dalam memahami kontradiksi-kontradiksi dan mekanisme-mekanisme destruktif dari kapitalisme. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kita jumpai peninjauan kembali sosok Marx sebagai seorang tokoh politik dan teoritikus.

Publikasi naskah-naskah yang sebelumnya tidak dikenal dalam edisi Marx-Engels-Gesamtausgabe (MEGA) Jerman, bersamaan dengan penafsiran-pemafsiran inovatif atas karyanya, telah membuka cakrawala penelitian baru dan menunjukkan lebih jelas daripada di masa lalu kemampuan Marx untuk memeriksa kontradiksi-kontradiksi masyarakat kapitalis pada skala global dan dalam lingkup yang melampui konflik antara kapital dan buruh. Tidaklah berlebihan untuk mengatakan bahwa, dari pemikiran klasik politik, ekonomi dan filosofis yang hebat, Marx adalah sosok yang profilnya paling berubah dalam dekade-dekade awal abad ke-21.

Memikirkan Kembali Alternatif Dengan Marx
Penelitian baru-baru ini telah membantah berbagai pendekatan yang mereduksi konsepsi Marx tentang masyarakat komunis ke pengembangan superior dari kekuatan-kekuatan produktif. Secara khusus, penelitian itu menunjukkan betapa Marx sangat peduli dengan isu-isu ekologis: pada berbagai kesempatan, dia mengecam fakta bahwa ekspansi modus produksi kapitalis tidak hanya meningkatkan pencurian tenaga kerja buruh tetapi juga penjarahan sumberdaya-sumberdaya alam. Persoalan lain yang menjadi perhatian serius Marx adalah migrasi. Dia menunjukkan bahwa perpindahan paksa oleh buruh diciptakan kapitalisme sebagai komponen utama dari eksploitasi borjuis, Karena itu, menurutnya, kata kunci untuk memerangi migrasi ini adalah solidaritas kelas di antara pekerja, tanpa memandang asal-usul mereka atau perbedaan apapun antara tenaga kerja lokal dan tenaga kerja impor.

Marx juga masuk ke banyak masalah lain yang, meskipun sering diremehkan, atau bahkan diabaikan oleh para pengikutnya, menempati posisi yang sangat penting bagi agenda politik zaman kita. Di antaranya adalah kebebasan individu dalam bidang ekonomi dan politik, emansipasi jender, kritik  terhadap nasionalisme, dan bentuk-bentuk kepemilikan kolektif yang tidak dikontrol oleh negara.

Lebih jauh, Marx melakukan investigasi menyeluruh terhadap masyarakat-masyarakat di luar Eropa dan tanpa keraguan secara terbuka melawan kerusakan kolonialisme. Adalah sebuah  kesalahan untuk berpikir sebaliknya. Marx mengkritik para pemikir yang, sambil menyoroti konsekuensi destruktif dari kolonialisme, menggunakan kategori-kategori yang khusus untuk konteks Eropa dalam analisis mereka tentang wilayah-wilayah pinggiran di dunia. Berkali-kali dia mengingatkan mereka yang gagal mengamati pentingnya pembedaan-pembedaan antara fenomena, dan terutama setelah kemajuan teoretisnya pada dekade 1870-an, dia sangat berhati-hati dalam mentransfer kategori-kategori interpretatif melintasi bidang sejarah atau geografis yang sama sekali berbeda. Semua ini sekarang jelas, meskipun skeptisisme masih menjadi mode di lingkungan akademik tertentu.

Dengan demikian, tiga puluh tahun setelah runtuhnya tembok Berlin, menjadi mungkin untuk membaca Marx yang sangat berbeda dengan pembacaan teori-teori dogmatis, ekonomistik, dan Eurosentris yang diarak berkeliling begitu lama. Tentu saja, seseorang dapat menemukan dalam warisan keilmuan Marx yang masif, sejumlah pernyataan yang mengatakan bahwa perkembangan kekuatan-kekuatan produktif mengarah pada pembubaran modus produksi kapitalis. Tetapi akan salah untuk mengatributkan kepadanya ide bahwa kedatangan sosialisme adalah keniscayaan sejarah. Tanpa keraguan Marx mengatakan bahwa kemungkinan transformasi masyarakat bergantung pada kelas pekerja dan kapasitasnya, melalui perjuangan, untuk menghasilkan pergolakan sosial yang mengarah pada lahirnya sistem ekonomi dan politik alternatif.

Komunisme Sebagai Asosiasi Bebas
Berbeda dengan persamaan komunisme dengan “kediktatoran proletariat”, sebagaimana yang dianut banyak “real world socialisms” (merujuk pada Uni Soviet dan negara-negara Blok Timur) dalam propaganda mereka, adalah perlu untuk melihat kembali refleksi-refleksi Marx tentang masyarakat komunis. Dia pernah mendefinisikan komunisme sebagai “asosiasi manusia bebas”. Jika komunisme bertujuan untuk menjadi bentuk masyarakat yang lebih tinggi, maka komunisme harus mempromosikan kondisi-kondisi untuk “pengembangan penuh dan bebas setiap individu”.

Dalam Kapital, Marx mengungkapkan karakter hipokrit dari ideologi borjuis. Kapitalisme bukanlah organisasi masyarakat di mana manusia, yang dilindungi oleh norma-norma hukum yang tidak memihak, sanggup menjamin keadilan dan kesetaraan, menikmati kebebasan sejati dan hidup dalam demokrasi yang sempurna. Pada kenyataannya, dalam kapitalisme manusia terdegradasi menjadi objek belaka, yang fungsi utamanya adalah untuk menghasilkan komoditi dan keuntungan bagi orang lain.

Untuk membalikkan keadaan ini, tidaklah cukup melalui modifikasi distribusi barang-barang konsumsi. Yang diperlukan adalah perubahan radikal pada level aset-aset produktif masyarakat: “para produsen dapat bebas hanya ketika mereka memiliki alat-alat produksi”. Karena itu, menurut Marx, tujuan perjuangan buruh haruslah mengembalikan aset-aset itu kepada komunitas. Berkat potensi emansipatoris dari teknologi, adalah sangat mungkin untuk mencapai tujuan dasar komunisme: pengurangan waktu kerja yang diperlukan (necessary labour time) dan peningkatan kapasitas, bakat-bakat kreatif, dan aktivitas-aktivitas individual yang menyenangkan. Model sosialis yang ada dalam pikiran Marx, tidak mengijinkan terjadinya kemiskinan yang luas tetapi menghendaki pencapaian kekayaan kolektif dan kepuasan kebutuhan yang lebih besar.

Marx juga berkomentar bahwa, dalam modus produksi komunis, “kepemilikan pribadi atas planet ini oleh individu-individu sama absurdnya dengan kepemilikan satu manusia oleh manusia lainnya”. Dia mengarahkan kritiknya yang paling radikal terhadap jenis kepemilikan destruktif yang melekat dalam kapitalisme, menunjukkan bahwa masyarakat tidak memiliki lingkungan tetapi memiliki “tugas untuk mewariskan dunia dalam kondisi yang lebih baik kepada generasi mendatang”.

Hari ini, tentu saja, kaum Kiri tidak dapat dengan mudah mendefinisikan kembali politiknya seputar apa yang ditulis Marx lebih dari seabad yang lalu. Tetapi juga tidak seharusnya melakukan kesalahan dengan melupakan kejelasan analisisnya atau gagal menggunakan senjata kritis yang ia tawarkan untuk pemikiran yang lebih segar tentang sebuah masyarakat alternatif di luar kapitalisme.***

Marcello Musto(1976) adalah Professor bidang Teori Sosiologi di York University (Toronto). Ia telah menulis banyak buku dan artikel yang diterbitkan di lebih dari 20 bahasa. Di antaranya ia mengedit beberapa volume seperti Karl Marx’s ‘Grundrisse’: Foundations of the Critique of Political Economy 150 Years Later (Routledge, 2008); Marx for Today (Routledge, 2012); Workers Unite!: The International 150 Years Later (Bloomsbury, 2014). Ia juga menulis buku Another Marx: Early Manuscripts to the International (Bloomsbury, 2018) dan The Last Marx (1881-1883): An Intellectual Biography (forthcoming 2019). Tulisan-tulisannya tersedia di www.marcellomusto.org. Buku terbarunya dalam bahasa Indonesia berjudul, Marx Yang Lain, akan diterbitkan dalam waktu oleh penerbit Marjin Kiri.

Categories
Journalism

L’operaio indio. Viva la sinistra ibrida

Nato a Cochabamba, nel 1962, Álvaro García Linera si è avvicinato giovanissimo al marxismo e alle lotte della popolazione aymara.

Trasferitosi in Messico, dove si laureò in matematica, nei primi anni Ottanta fu influenzato dai movimenti guerriglieri guatemaltechi che si battevano a sostegno della causa indigena. Dopo il suo ritorno in Bolivia, fu tra i fondatori dell’Esercito Guerrigliero Túpac Katari, un’organizzazione politica che univa i principi marxisti della lotta di classe con quelli kataristi a favore dell’emancipazione delle comunità indigene. Dopo essere stato detenuto, dal 1992 al 1997, in un carcere di massima sicurezza, divenne docente di Sociologia e influente intellettuale. A seguito dell’adesione al Movimento al Socialismo di Evo Morales, dal 2006 Linera è Vicepresidente dello Stato Plurinazionale della Bolivia. Tra le sue tante opere figura La potenza plebea (2008).

1) Il suo impegno politico è contraddistinto dalla consapevolezza che la gran parte delle organizzazioni comuniste latino-americane, non essendo capaci di parlare alla maggioranza delle classi popolari, erano destinate a una mera funzione testimoniale. In Bolivia, ad esempio, il loro richiamarsi al marxismo-leninismo più schematico ed economicista, gli impedì di riconoscere – e di porre al centro del loro agire politico – la peculiarità della questione indigena. Le popolazioni native furono assimilate a una indistinta massa contadina “piccolo-borghese”, priva di potenziale rivoluzionario. Come ha capito che era necessario costruire una sinistra radicalmente differente da quella allora esistente?

In Bolivia, gli alimenti erano prodotti dai contadini indigeni, gli edifici e le case erano costruite dagli operai indigeni, le strade venivano pulite dagli indigeni e a essi l’elite e la classe media affidavano anche la cura dei loro bambini. Ciò nonostante, la sinistra tradizionale sembrava cieca e si occupava solo degli operai della grande industria, senza prestare neanche attenzione alla loro identità etnica. Questi erano certamente importanti per il lavoro nelle miniere, ma costituivano un settore minoritario al confronto dei lavoratori indigeni, discriminati per la loro identità e sfruttati ancor più dei primi. Dalla fine degli anni Settanta, però, la popolazione aymara organizzò delle grandi mobilitazioni sia contro la dittatura che contro i governi democratici nati dopo la sua caduta. Lo fecero orgogliosamente con la loro lingua e simbologia, in maniera autonoma – attraverso comunità confederate di campesinos – e proponendo la nascita di una nazione a guida indigena.

Fu un momento di rivelazione sociale. Io ero studente al liceo e fui colpito da questa insorgenza indigena collettiva. Mi parve chiaro che il discorso della sinistra classica sulle lotte sociali, incentrato soltanto su operai e borghesia, fosse parziale e insostenibile. Esso doveva incorporare la tematica indigena e compiere una riflessione sulla comunità agraria, ovvero sulla proprietà collettiva della terra come base dell’organizzazione sociale. Inoltre, per comprendere le donne e gli uomini che costituivano la maggioranza del paese, i quali rivendicavano una differente storia e collocazione nel mondo, era necessario approfondire la problematica etnico-nazionale delle popolazioni oppresse. Per fare ciò lo schematismo dei manuali marxisti mi parve del tutto insufficiente e mi misi a cercare altri riferimenti, dall’ideologia indianista al Marx che, attraverso gli scritti sulle lotte anticoloniali e sulla comune agraria in Russia, aveva arricchito la sua analisi sulle nazioni oppresse

2) Il tema della complessità del soggetto della trasformazione sociale che ha caratterizzato la sua riflessione e militanza politica è divenuto, con il passare del tempo, una discussione imprescindibile per tutte le forze progressiste. Tramontata la prospettiva del proletariato quale unica forza in grado di abbattere il capitalismo e dissoltosi il mito dell’avanguardia rivoluzionaria, da dove deve ripartire la sinistra?

Il problema della sinistra tradizionale è stato quello di avere confuso il concetto di “condizione operaia” con una specifica forma storica del lavoro salariato. La prima si è universalizzata ed è divenuta una condizione materiale planetaria. Non è vero che il mondo del lavoro stia scomparendo. In realtà, non ci sono mai stati tanti operai e operaie nel mondo e in ogni paese del globo. Tuttavia, questa gigantesca operaizzazione planetaria della forza lavoro è avvenuta mentre si dissolvevano tutte le strutture sindacali e politiche esistenti. Così, paradossalmente, in un’epoca nella quale è stato mercantilizzato ogni aspetto della vita umana, pare che tutto si svolga come se non vi siano più operai.

La nuova classe operaia non si riunifica prevalentemente attorno alla problematica lavorativa. Non ha ancora la forza organizzativa per poterlo fare e, forse, sarà così per molto tempo ancora. Le mobilitazioni sociali non avvengono più tramite le forme classiche dell’azione operaia centralizzata, ma mediante forme sociali anfibie, nelle quali si mescolano professioni diverse, tematiche trasversali e forme associative flessibili, fluide e mutevoli. Si tratta di nuove forme di azioni collettive poste in essere dai lavoratori, anche se, in molti casi, esse lasciano emergere più che l’identità lavorativa altre fisionomie complementari, come quella dei conglomerati territoriali, o dei gruppi nati per rivendicare il diritto alla salute, all’educazione, o ai trasporti.

La sinistra, invece di muovere rimproveri a queste lotte perché si sviluppano con modalità diverse dal passato, deve rivolgere attenzione a questa ibridazione, all’eterogeneità del sociale. Deve farlo, in primo luogo, per comprendere i conflitti e, poi, per rafforzarli e contribuire ad articolarli con altre lotte a livello locale, nazionale e internazionale. Il soggetto del cambiamento è ancora il “lavoro vivo”: i lavoratori che vendono la loro forza lavoro in modi molteplici. Le forme organizzative, i discorsi e le identità sono, però, molto differenti da quelle che abbiamo conosciuto nel XX secolo.

3) Lei cita spesso Antonio Gramsci. Quanto è stato importante questo pensatore per l’elaborazione delle sue scelte politiche?

Gramsci è stato un autore decisivo per lo sviluppo delle mie riflessioni. Ho iniziato a leggerlo che ero molto giovane, quando i suoi testi circolavano tra un colpo di Stato e un altro. Fin da allora, a differenza dei tanti scritti contenenti analisi economicistiche o formulazioni filosofiche incentrate più sull’estetica delle parole che non sulla realtà, Gramsci mi aiutava a maturare uno sguardo differente. Egli parlava di linguaggio, letteratura, educazione, senso comune, ovvero di temi apparentemente secondari, ma che, in realtà, formano la trama reale della quotidianità degli individui, quella che determina le loro percezioni e le inclinazioni politiche collettive.
Da quella prima volta, torno regolarmente a leggere Gramsci ed egli mi rivela sempre cose nuove, in particolare rispetto alla formazione molecolare dello Stato. Sono convinto che il rinnovamento del marxismo nel mondo abbia in Gramsci un pensatore indispensabile.

4) Negli ultimi quattro anni, in quasi tutto il Sud America sono andati al potere governi che si ispirano a ideologie reazionarie e ripropongono l’agenda economica neoliberale. L’elezione di Jair Bolsonaro in Brasile costituisce l’esempio più eclatante di questo fenomeno. Questa svolta a destra è destinata a durare a lungo?

Credo che il grande problema della destra mondiale sia quello di essere rimasta senza una narrazione del futuro. Gli Stati che propugnavano la liturgia del libero mercato costruiscono muri contro migranti e merci, come se i loro presidenti fossero moderni signori feudali. Quanti chiedevano privatizzazioni si appellano oggi a quello stesso Stato così tanto vilipeso, affinché li salvi dai loro debiti. Coloro che erano in favore della globalizzazione e parlavano di un mondo finalmente unificato, si appigliano, adesso, al pretesto della “sicurezza continentale”.

Viviamo in uno stato di caos planetario e, in questo scenario, è difficile prevedere quale profilo assumeranno le nuove destre latinoamericane. Saranno in favore della globalizzazione o protezioniste? Attueranno delle politiche di privatizzazione o misure stataliste? A queste domande non sanno rispondere neanche loro stessi, poiché navigano in un mare di confusione ed esprimono solo vedute di corto respiro. Le destre non rappresentano il futuro al quale la società latinoamericana può affidare le sue aspettative di lungo termine. Al contrario, causano l’aumento delle ingiustizie e delle diseguaglianze. L’unico futuro tangibile per le nuove generazioni consiste nell’angustia dell’incertezza.

5) Cosa deve fare la sinistra latinoamericana per invertire lo stato delle cose e aprire un nuovo ciclo di partecipazione politica e di emancipazione?

Ci sono le condizioni affinché si sviluppi una nuova stagione progressista che vada oltre quanto è già stato realizzato nello scorso decennio. In questo contesto di grande indefinitezza, c’è spazio per proposte alternative e per una predisposizione collettiva verso nuovi orizzonti, fondati sulla partecipazione reale delle persone e sul superamento, ecologicamente sostenibile, delle ingiustizie sociali.

Il grande compito della sinistra è quello di delineare, superando i limiti e gli errori del socialismo del XX secolo, un nuovo orizzonte fondato sulla soluzione delle questioni concrete che procurano sofferenza alle persone. Servirebbe un “nuovo principio speranza” – a prescindere dal nome che gli daremo – che inalberi l’uguaglianza, la libertà sociale, l’universalità dei diritti e delle capacità quali fondamento dell’autodeterminazione collettiva.

Categories
Journalism

El retorno al Marx político

El pasado 8-10 de mayo se ha celebrado en Pisa la conferencia internacional “Marx 201. Repensar la alternativa”, en la que han particupado un elenco impresionante de especialistas en la obra de Marx (incluso el Vicepresidente Linera), que han enfocado sus debates a la contribución política del autor de ‘El Capital’.

El organizador de la conferencia, nuestro colaborador Marcello Musto, explica el sentido de esta convocatoria.

El regreso a Marx, que se produjo después de la crisis económica de 2008, estuvo marcado por el redescubrimiento de sus críticas a la economía. Desde entonces, en numerosos periódicos, revistas, libros y volúmenes universitarios, se ha observado desde muchos sectores hasta qué punto el análisis de Marx seguía siendo indispensable para comprender las contradicciones del capitalismo y sus mecanismos destructivos.

En los últimos años, sin embargo, está surgiendo un nuevo fenómeno: la re-exploración del Marx político. La impresión, en la edición alemana MEGA², de manuscritos previamente desconocidos y la publicación de interpretaciones innovadoras de su trabajo han abierto nuevos horizontes de investigación. Los textos no publicados y los nuevos estudios teóricos resaltan, más claramente que en el pasado, hasta qué punto Marx fue un autor capaz de examinar las contradicciones de la sociedad capitalista a escala global y mucho más allá del conflicto entre capital y trabajo. No es arriesgado decir que, entre los grandes clásicos del pensamiento político, económico y filosófico, Marx es el que más ha cambiado su perfil a comienzos del siglo XXI.

Repensar la alternativa con Marx
Desmintiendo a quienes han asimilado la concepción marxiana de la sociedad comunista a un mero desarrollo de las fuerzas productivas, las investigaciones emprendidas han resaltado la importancia que Marx asignó a la cuestión ecológica. En repetidas ocasiones denunció que la expansión del modo de producción capitalista causaría no solo un aumento del robo del trabajo a los propios trabajadores, sino también de los recursos naturales. Marx también estaba interesado de manera amplia en las migraciones. Mostró cómo la migración forzada, generada por el capitalismo, constituía un elemento significativo de la explotación de la burguesía y que solo la solidaridad de clase entre los proletarios, independientemente de su origen, sin distinción entre mano de obra local e importada, era la clave para combatirlo

Marx trató ampliamente muchos otros temas, subestimados, cuando no ignorados, por muchos de sus estudiosos y que son de importancia crucial para la agenda política de nuestros días. Estos incluyen la libertad individual en la esfera económica y política, la emancipación de género, la crítica de los nacionalismos, las formas de propiedad colectiva no controladas por el estado.

Además, Marx llevó a cabo investigaciones exhaustivas sobre sociedades no europeas y se expresó de manera nítida contra el papel destructivo del colonialismo. Y está en un error quien escriba lo contrario. Marx criticó a los pensadores que, aunque culparon de las nefastas consecuencias que éste había generado, utilizaron las categorías interpretativas del contexto europeo en sus análisis de las periferias del mundo. Advirtió varias veces contra quienes homologaban fenómenos diferentes y mostró una gran desconfianza, especialmente después de los avances teóricos logrados en los años setenta, hacia la traducción de las mismas categorías interpretativas en contextos históricos y geográficos completamente diferentes. Todo esto ya ha sido constatado, a pesar del escepticismo que todavía está de moda en algunos círculos académicos.

Treinta años después de la caída del Muro de Berlín, hoy es posible leer un Marx muy diferente de aquel dogmático, economicista y eurocéntrico preconizado durante mucho tiempo. Ciertamente, en el impresionante legado de Marx es posible encontrar declaraciones en las que leemos que el desarrollo de las fuerzas productivas conduce a la disolución del modo de producción capitalista. Sin embargo, sería erróneo atribuirle la tesis de que el socialismo se realizaría como una forma de determinismo histórico. Para Marx, por el contrario, la posibilidad de transformación social dependía de la clase trabajadora y de su capacidad para determinar, a través de la lucha, los cambios sociales y el nacimiento de un sistema económico-político alternativo.

El comunismo como asociación libre
En señal de discontinuidad con la asimilación entre el comunismo y la «dictadura del proletariado», promocionada por muchos «socialismos reales», las reflexiones de Marx sobre la sociedad comunista también deberían volver a ser investigadas. Este tipo de sociedad fue definida por él como «una asociación de seres humanos libres». Si el comunismo aspira a ser una forma superior de organización social, debe posibilitar las condiciones para el «desarrollo pleno y libre de cada individuo».

En El capital, Marx desveló la mentira de la ideología burguesa. El capitalismo no es la organización social en la que los seres humanos, protegidos por normas jurídicas imparciales, capaces de garantizarles justicia y equidad, disfrutan de la verdadera libertad y viven en una democracia completa. En realidad, se degradan a simples objetos, cuya función principal es producir bienes y beneficio para otros.

Para revertir este estado de cosas no basta con cambiar la redistribución de los bienes de consumo. Es necesario cambiar las estructuras productivas de la sociedad desde la raíz: «los productores solo pueden ser libres cuando tienen los medios de producción». Por lo tanto, según Marx, el objetivo de la lucha proletaria debe ser devolver estos a la comunidad. Esto permitiría, también gracias al potencial emancipador de la tecnología, la realización de un propósito fundamental del comunismo: la reducción de los tiempos de trabajo y el consiguiente aumento de todo tipo de capacidades, así como de los dones creativos y del disfrute de los individuos. El modelo socialista al que miraba Marx no era un estado de miseria generalizada, sino el logro de una mayor riqueza colectiva y la satisfacción de las necesidades.

Marx también observó que, en el modo de producción comunista, «la propiedad privada de la tierra por parte de individuos particulares habría sido tan absurda como la de un ser humano por otro». Expresó su crítica más radical a la idea de posesión destructiva inherente al capitalismo, recordando que la sociedad no es propietaria del medio ambiente. La propuesta consistía en que tiene «el deber de transmitir el mundo en mejores condiciones a las generaciones posteriores».

Hoy, la izquierda no podría, por supuesto, redefinir su política de acuerdo con lo que Marx escribió hace más de un siglo. Sin embargo, no debe cometer el error de olvidar la claridad de sus análisis y dejar de usar las armas críticas que nos ofrecen para repensar, de manera renovada, cómo construir una sociedad alternativa al capitalismo.

Marcello Musto es profesor asociado de Teoría Sociológica de la Universidad de York, Canadá. Autor y editor de varios libros sobre Marx, entre ellos hay: Los Grundrisse de Karl Marx. Fundamentos de la crítica de la economía política 150 años después (Fondo de Cultura Economica, 2018) y Another Marx: Early Manuscripts to the International (Bloomsbury, 2018).

Categories
Journalism

Return of Alternatives

The return to Marx following the economic crisis of 2008 has been distinct from the renewed interest in his critique of economics.

Many authors, in a whole series of newspapers, journals, books and academic volumes, have observed how indispensable Marx’s analysis has proved to be for an understanding of the contradictions and destructive mechanisms of capitalism. In the last few years, however, there has also been a reconsideration of Marx as a political figure and theorist.

The publication of previously unknown manuscripts in the German MEGA2 edition, along with innovative interpretations of his work, have opened up new research horizons and demonstrated more clearly than in the past his capacity to examine the contradictions of capitalist society on a global scale and in spheres beyond the conflict between capital and labour. It is no exaggeration to say that, of the great classics of political, economic and philosophical thought, Marx is the one whose profile has changed the most in the opening decades of the twenty-first century.

Rethinking the alternative with Marx
Recent research has refuted the various approaches that reduce Marx’s conception of communist society to superior development of the productive forces. In particular, it has shown the importance he attached to the ecological question: on repeated occasions, he denounced the fact that expansion of the capitalist mode of production increases not only the theft of workers’ labour but also the pillage of natural resources. Another question in which Marx took a close interest was migration. He showed that the forced movement of labour generated by capitalism was a major component of bourgeois exploitation and that the key to fighting this was class solidarity among workers, regardless of their origins or any distinction between local and imported labour.

Marx went deeply into many other issues which, though often underestimated, or even ignored, by students of his work, are acquiring crucial importance for the political agenda of our times. Among these are individual freedom in the economic and political sphere, gender emancipation, the critique of nationalism, and forms of collective ownership not controlled by the state.

Furthermore, Marx undertook thorough investigations of societies outside Europe and expressed himself unambiguously against the ravages of colonialism. It is a mistake to suggest otherwise. Marx criticized thinkers who, while highlighting the destructive consequences of colonialism, used categories peculiar to the European context in their analysis of peripheral areas of the globe. He warned a number of times against those who failed to observe the necessary distinctions between phenomena, and especially after his theoretical advances in the 1870s he was highly wary of transferring interpretive categories across completely different historical or geographical fields. All this is now clear, despite the scepticism still fashionable in certain academic quarters.

Thus, thirty years after the fall of the Berlin wall, it has become possible to read a Marx very unlike the dogmatic, economistic and Eurocentric theorist who was paraded around for so long. Of course, one can find in Marx’s massive literary bequest a number of statements suggesting that the development of the productive forces is leading to dissolution of the capitalist mode of production. But it would be wrong to attribute to him any idea that the advent of socialism is a historical inevitability. Indeed, for Marx the possibility of transforming society depended on the working class and its capacity, through struggle, to bring about social upheavals that led to the birth of an alternative economic and political system.

Communism as free association
In contrast to the equation of communism with “dictatorship of the proletariat”, which many of the “real world socialisms” espoused in their propaganda, it is necessary to look again at Marx’s reflections on communist society. He once defined it as “an association of free human beings”. If communism aims to be a higher form of society, it must promote the conditions for “the full and free development of each individual”.
In Capital, Marx revealed the mendacious character of bourgeois ideology. Capitalism is not an organization of society in which human beings, protected by impartial legal norms capable of guaranteeing justice and equity, enjoy true freedom and live in accomplished democracy. In reality, they are degraded into mere objects, whose primary function is to produce commodities and profit for others.

To overturn this state of affairs, it is not enough to modify the distribution of consumption goods. What is needed is radical change at the level of the productive assets of society: “the producers can be free only when they are in possession of the means of production”.  Therefore, according to Marx, the objective of the workers’ struggle should be to restore those assets to the community. Thanks to the emancipatory potential of technology, this would make it possible to achieve a basic aim of communism: the reduction of necessary labour time and a resulting increase in the capacities, creative talents and pleasurable activities of individuals. The socialist model that Marx had in mind did not allow for a state of general poverty but looked to the achievement of greater collective wealth and greater satisfaction of needs.

Marx also remarked that, in the communist mode of production, “private ownership of the planet by individuals will appear as absurd as the ownership of one human being by another”. He directed his most radical criticism against the kind of destructive possession inherent in capitalism, pointing out that society does not own the environment but has “a duty to pass on the world in better conditions to future generations”.

Today, of course, the Left cannot simply redefine its politics around what Marx wrote more than a century ago. But nor should it commit the error of forgetting the clarity of his analyses or fail to use the critical weapons he offered for fresh thinking about an alternative society to capitalism.

Categories
Journalism

Marx 201. El retorno al Marx político

El pasado 8-10 de mayo se ha celebrado en Pisa la conferencia internacional “Marx 201. Repensar la alternativa”, en la que han particupado un elenco impresionante de especialistas en la obra de Marx, que han enfocado sus debates a la contribución política del autor de El Capital.

Uno de los organizadores de la conferencia, nuestro amigo y colaborador Marcello Musto explica el sentido de esta convocatoria. SP

El regreso a Marx, que se produjo después de la crisis económica de 2008, estuvo marcado por el redescubrimiento de sus críticas a la economía. Desde entonces, en numerosos periódicos, revistas, libros y volúmenes universitarios, se ha observado desde muchos sectores hasta qué punto el análisis de Marx seguía siendo indispensable para comprender las contradicciones del capitalismo y sus mecanismos destructivos.

En los últimos años, sin embargo, está surgiendo un nuevo fenómeno: la re-exploración del Marx político. La impresión, en la edición alemana MEGA², de manuscritos previamente desconocidos y la publicación de interpretaciones innovadoras de su trabajo han abierto nuevos horizontes de investigación. Los textos no publicados y los nuevos estudios teóricos resaltan, más claramente que en el pasado, hasta qué punto Marx fue un autor capaz de examinar las contradicciones de la sociedad capitalista a escala global y mucho más allá del conflicto entre capital y trabajo. No es arriesgado decir que, entre los grandes clásicos del pensamiento político, económico y filosófico, Marx es el que más ha cambiado su perfil a comienzos del siglo XXI.

Repensar la alternativa con Marx
Desmintiendo a quienes han asimilado la concepción marxiana de la sociedad comunista a un mero desarrollo de las fuerzas productivas, las investigaciones emprendidas han resaltado la importancia que Marx asignó a la cuestión ecológica. En repetidas ocasiones denunció que la expansión del modo de producción capitalista causaría no solo un aumento del robo del trabajo a los propios trabajadores, sino también de los recursos naturales. Marx también estaba interesado de manera amplia en las migraciones. Mostró cómo la migración forzada, generada por el capitalismo, constituía un elemento significativo de la explotación de la burguesía y que solo la solidaridad de clase entre los proletarios, independientemente de su origen, sin distinción entre mano de obra local e importada, era la clave para combatirlo

Marx trató ampliamente muchos otros temas, subestimados, cuando no ignorados, por muchos de sus estudiosos y que son de importancia crucial para la agenda política de nuestros días. Estos incluyen la libertad individual en la esfera económica y política, la emancipación de género, la crítica de los nacionalismos, las formas de propiedad colectiva no controladas por el estado.

Además, Marx llevó a cabo investigaciones exhaustivas sobre sociedades no europeas y se expresó de manera nítida contra el papel destructivo del colonialismo. Y está en un error quien escriba lo contrario. Marx criticó a los pensadores que, aunque culparon de las nefastas consecuencias que éste había generado, utilizaron las categorías interpretativas del contexto europeo en sus análisis de las periferias del mundo. Advirtió varias veces contra quienes homologaban fenómenos diferentes y mostró una gran desconfianza, especialmente después de los avances teóricos logrados en los años setenta, hacia la traducción de las mismas categorías interpretativas en contextos históricos y geográficos completamente diferentes. Todo esto ya ha sido constatado, a pesar del escepticismo que todavía está de moda en algunos círculos académicos.

Treinta años después de la caída del Muro de Berlín, hoy es posible leer un Marx muy diferente de aquel dogmático, economicista y eurocéntrico preconizado durante mucho tiempo. Ciertamente, en el impresionante legado de Marx es posible encontrar declaraciones en las que leemos que el desarrollo de las fuerzas productivas conduce a la disolución del modo de producción capitalista. Sin embargo, sería erróneo atribuirle la tesis de que el socialismo se realizaría como una forma de determinismo histórico. Para Marx, por el contrario, la posibilidad de transformación social dependía de la clase trabajadora y de su capacidad para determinar, a través de la lucha, los cambios sociales y el nacimiento de un sistema económico-político alternativo.

El comunismo como asociación libre
En señal de discontinuidad con la asimilación entre el comunismo y la «dictadura del proletariado», promocionada por muchos «socialismos reales», las reflexiones de Marx sobre la sociedad comunista también deberían volver a ser investigadas. Este tipo de sociedad fue definida por él como «una asociación de seres humanos libres». Si el comunismo aspira a ser una forma superior de organización social, debe posibilitar las condiciones para el «desarrollo pleno y libre de cada individuo».

En El capital, Marx desveló la mentira de la ideología burguesa. El capitalismo no es la organización social en la que los seres humanos, protegidos por normas jurídicas imparciales, capaces de garantizarles justicia y equidad, disfrutan de la verdadera libertad y viven en una democracia completa. En realidad, se degradan a simples objetos, cuya función principal es producir bienes y beneficio para otros.

Para revertir este estado de cosas no basta con cambiar la redistribución de los bienes de consumo. Es necesario cambiar las estructuras productivas de la sociedad desde la raíz: «los productores solo pueden ser libres cuando tienen los medios de producción». Por lo tanto, según Marx, el objetivo de la lucha proletaria debe ser devolver estos a la comunidad. Esto permitiría, también gracias al potencial emancipador de la tecnología, la realización de un propósito fundamental del comunismo: la reducción de los tiempos de trabajo y el consiguiente aumento de todo tipo de capacidades, así como de los dones creativos y del disfrute de los individuos. El modelo socialista al que miraba Marx no era un estado de miseria generalizada, sino el logro de una mayor riqueza colectiva y la satisfacción de las necesidades.

Marx también observó que, en el modo de producción comunista, «la propiedad privada de la tierra por parte de individuos particulares habría sido tan absurda como la de un ser humano por otro». Expresó su crítica más radical a la idea de posesión destructiva inherente al capitalismo, recordando que la sociedad no es propietaria del medio ambiente. La propuesta consistía en que tiene «el deber de transmitir el mundo en mejores condiciones a las generaciones posteriores».

Hoy, la izquierda no podría, por supuesto, redefinir su política de acuerdo con lo que Marx escribió hace más de un siglo. Sin embargo, no debe cometer el error de olvidar la claridad de sus análisis y dejar de usar las armas críticas que nos ofrecen para repensar, de manera renovada, cómo construir una sociedad alternativa al capitalismo.

Categories
Journalism

Le contraddizioni della società in una riflessione evergreen

Il ritorno a Marx, verificatosi dopo la crisi economica del 2008, è stato contraddistinto dalla riscoperta della sua critica dell’economia.

Da allora in poi, in numerosi quotidiani, riviste, libri e volumi universitari, è stato da più parti osservato quanto l’analisi di Marx risultasse ancora indispensabile per comprendere le contraddizioni del capitalismo e i suoi meccanismi distruttivi.

Negli ultimi anni, però, sta emergendo un nuovo fenomeno: la riesplorazione del Marx politico. La stampa, nell’edizione tedesca MEGA², di manoscritti precedentemente sconosciuti e la pubblicazione di innovative interpretazioni della sua opera hanno aperto nuovi orizzonti di ricerca. Testi inediti e nuovi studi teorici pongono in risalto, con maggiore evidenza rispetto al passato, quanto Marx sia stato un autore capace di esaminare le contraddizioni della società capitalista su scala globale e ben oltre il conflitto tra capitale e lavoro. Non è azzardato affermare che, tra i grandi classici del pensiero politico, economico e filosofico, Marx sia quello il cui profilo è maggiormente mutato nel volgere del XXI secolo.

Ripensare l’alternativa con Marx
Smentendo quanti hanno assimilato la concezione marxiana della società comunista al mero sviluppo delle forze produttive, le ricerche intraprese hanno evidenziato la rilevanza che Marx assegnò alla questione ecologica. Egli denunciò, ripetutamente, che l’espansione del modo di produzione capitalistico avrebbe causato non solo un aumento della rapina del lavoro degli operai, ma anche delle risorse naturali. Marx si interessò diffusamente anche di migrazione. Dimostrò come le migrazioni forzate, generate dal capitalismo, costituissero un elemento rilevante dello sfruttamento della borghesia e che soltanto la solidarietà di classe tra proletari, indipendentemente dalla loro provenienza, senza alcuna distinzione tra la mano d’opera locale e quella importata, fosse la chiave per combatterlo.
Marx si occupò in modo approfondito di molte altre tematiche, sottovalutate, quando non ignorate, da molti dei suoi studiosi e che rivestono cruciale importanza per l’agenda politica dei nostri giorni. Tra queste figurano la libertà individuale nella sfera economica e politica, l’emancipazione di genere, la critica dei nazionalismi, le forme di proprietà collettive non controllate dallo Stato.

Inoltre, Marx intraprese accurate indagini sulle società extra-europee e si espresse con nettezza contro il ruolo distruttivo del colonialismo. È in errore chi scrive il contrario. Marx criticò i pensatori che, sebbene biasimassero le nefaste conseguenze generate dal colonialismo, nelle loro analisi sulle periferie del mondo utilizzarono le categorie interpretative proprie del contesto europeo. Mise più volte in guardia contro quanti omologavano fenomeni tra loro distinti e manifestò una forte diffidenza, soprattutto in seguito agli avanzamenti teorici conseguiti negli anni Settanta, verso la traslazione di medesime categorie interpretative in ambiti storici e geografici del tutto differenti. Tutto ciò è stato ormai comprovato, nonostante lo scetticismo ancora in voga in alcuni ambienti accademici.

A 30 anni dalla caduta del Muro di Berlino, oggi diventa, dunque, possibile leggere un Marx molto diverso da quello dogmatico, economicista ed eurocentrico a lungo sbandierato. Certo, nell’imponente lascito di Marx è possibile rinvenire affermazioni nelle quali si legge che lo sviluppo delle forze produttive conduce alla dissoluzione del modo di produzione capitalistico. Tuttavia, sarebbe errato attribuirgli la tesi che il socialismo si sarebbe realizzato come fatalità storica. Per Marx, al contrario, la possibilità della trasformazione sociale dipendeva dalla classe lavoratrice e dalla sua capacità di determinare, attraverso la lotta, rivolgimenti sociali e la nascita di un sistema economico-politico alternativo.

Comunismo come libera associazione
In discontinuità con l’assimilazione tra comunismo e “dittatura del proletariato”, propagandata da molti “socialismi reali”, andrebbero reindagate anche le riflessioni di Marx sulla società comunista. Questa fu da lui definita come “un’associazione di liberi esseri umani”. Se il comunismo ambisce a essere una forma superiore di società, deve rendere possibili le condizioni per il “pieno e libero sviluppo di ogni individuo”.

Nel Capitale, Marx disvelò la menzogna dell’ideologia borghese. Il capitalismo non è l’organizzazione sociale nella quale gli esseri umani, protetti da norme giuridiche imparziali, in grado di garantire loro giustizia ed equità, godono di vera libertà e vivono in una compiuta democrazia. In realtà, essi sono degradati a meri oggetti, aventi la funzione primaria di produrre merci e il profitto altrui.

Per ribaltare questo stato di cose non basta modificare la redistribuzione dei beni di consumo. Occorre mutare alla radice gli assetti produttivi della società: “i produttori possono essere liberi solo quando sono in possesso dei mezzi di produzione”. Pertanto, secondo Marx, l’obiettivo della lotta del proletariato deve essere la restituzione di questi alla comunità. Ciò consentirebbe, anche grazie alle potenzialità emancipatrici della tecnologia, la realizzazione di uno scopo fondamentale del comunismo: la diminuzione dei tempi di lavoro e il conseguente innalzamento delle capacità, delle doti creative e del godimento degli individui. Il modello socialista al quale guardava Marx non contemperava uno stato di miseria generalizzata, ma il conseguimento di maggiore ricchezza collettiva e soddisfacimento dei bisogni.

Marx osservò anche che, nel modo di produzione comunista, “la proprietà privata del globo terrestre da parte di singoli individui sarebbe apparsa così assurda quanto quella di un essere umano da parte di un altro”. Egli espresse la sua critica più radicale verso l’idea di possesso distruttivo insita nel capitalismo, ricordando che la società non è proprietaria dell’ambiente. Essa ha “il dovere di tramandare il mondo in condizioni migliori alle generazioni successive”.

Oggi la sinistra non potrebbe, naturalmente, ridefinire la sua politica in funzione di quanto scritto, oltre un secolo fa, da Marx. Non deve, però, commettere l’errore di dimenticare la chiarezza delle sue analisi e non utilizzare le armi critiche che esse ci offrono per ripensare, in modo rinnovato, a come costruire una società alternativa al capitalismo.

Categories
Journalism

Kritik Marx Terhadap Sosial Demokrasi (Bagian II)

Kritik Terhadap Sosialisme Borjuis Kecil
DALAM pemilihan umum bulan Januari 1877, Partai Buruh Sosialis Jerman (the Socialist Workers’ Party of Germany) memenangkan hampir setengah juta suara, meningkat di atas 9 persen.

Namun terlepas dari keberhasilan ini, keadaan partai terus mengganggu Marx. Menulis kepada seorang dokter Jerman Ferdinand Fleckles, ia menertawakan “pamflet pendek” berjudul The Quintessence of Socialism (1879) dari sosiolog Albert Schäffle sebagai “fantastis, benar-benar Swabian … gambaran dari sosialis milenium  masa depan sebagai … kerajaan datang dari borjuis kecil Anda yang nyaman”. Dalam konteks ini, ketika diminta oleh jurnalis Franz Wiede untuk mengambil peran penting dalam menulis ulasan baru, Marx berkomentar kepada Engels: “Tentu akan sangat menyenangkan jika sebuah majalah berkala sosialis yang benar-benar ilmiah muncul. Ini akan memberikan peluang bagi kritisisme dan kontra-kritisisme di mana poin-poin teoretis dapat kita diskusikan dan ketidaktahuan total para profesor dan dosen-dosen universitas menjadi terpapar luas, sehingga dengan demikian secara bersamaan mencerahkan pikiran masyarakat umum.” Namun, pada akhirnya, ia harus menerima bahwa kelemahan dari para kontributor ini akan menghalangi “persyaratan utama dalam semua kritsisme”: yaitu, “tanpa ampun/ruthlessness”. Marx juga memberi komentar tajam terhadap Zukunft (Masa Depan), mencemooh “upayanya untuk menggantikan frase-frase ideologis seperti ‘keadilan’, dll., dengan pengetahuan materialis (dan …) untuk menjajakan fantasi dari struktur masa depan masyarakat”.

Pada bulan Oktober, Marx mengeluh kepada Friedrich Adolph Sorge tentang “roh korup” yang menyebar di partai, “tidak begitu banyak di kalangan massa seperti di kalangan para pemimpin”. Perjanjian dengan kaum  Lassallean telah “menyebabkan kompromi lebih lanjut dengan para penentu lainnya”. Secara khusus, Marx tidak memiliki waktu untuk “segerombolan sarjana muda yang belum matang dan lulusan yang terlalu bijak yang ingin (ed) memberi sosialisme orientasi ‘lebih tinggi, idealis’”. Mereka pikir mereka bisa menggantikan “basis materialis” (yang “menyerukan dilakukannya studi serius dan objektif jika seseorang ingin beroperasi di atasnya”) dengan sebuah  “mitologi modern tentang dewi Keadilan, Kebebasan, Kesetaraan, dan Persaudaraan”.

Apa yang ada di balik kritik-kritik ini bukanlah perasaan cemburu atau persaingan. Marx menulis kepada jurnalis dan anggota parlemen Wilhelm Blos bahwa dia tidak “peduli akan popularitas”, mengingatkan dia “akan kebenciannya pada kultus pribadi, yang pada saat Internasional, ketika diganggu oleh banyak gerakan… untuk memberikan (kepadanya) kehormatan publik, (dia) tidak pernah mengizinkan siapapun dari mereka untuk memasuki domain publisitas”, atau “tidak pernah membalas (kepada) mereka, kecuali sesekali gertakan”. Sikap ini telah menopangnya sejak ia berkomitmen pada politik di masa mudanya, sehingga ketika Liga Komunis lahir pada 1847, ia dan Engels bersedia bergabung “hanya dengan syarat bahwa segala sesuatu yang kondusif bagi muncul dan berkembangnya kepercayaan takhayul terhadap otoritas dihilangkan dari Aturan-aturan”. Satu-satunya kekhawatirannya adalah, dan terus terjadi, bahwa organisasi buruh yang baru lahir ini seharusnya tidak mengaburkan sifat anti-kapitalisme mereka dan – dengan perilaku gerakan buruh Inggris – mengadopsi garis moderat, pro-borjuis.

II. Masalah Kekerasan
Pada akhir 1870-an, terjadi sebuah peristiwa besar yakni percobaan pembunuhan terhadap Kaisar Wilhelm I oleh seorang anarkis bernama Karl Nobiling pada Juni 1878. Reaksi Marx kemudian dicatat oleh Maksim Kovalevsky: “Saya kebetulan berada di perpustakaan Marx ketika ia mendapat berita percobaan pembunuhan yang gagal itu …. Reaksi (nya) adalah mengutuk aksi teroris tersebut, menjelaskan bahwa hanya ada satu hal yang dapat diharapkan dari upaya (pembunuhan) itu yakni mempercepat persekusi baru terhadap kaum sosialis.” Itulah yang terjadi kemudian, ketika Otto von Bismarck menjadikan aksi percobaan pembunuhan itu sebagai dalih  untuk memperkenalkan Undang-undang Anti-Sosialis (the Anti-Socialist Laws) dan memaksa Reichstag (Parlemen Jerman) untuk mengadopsinya pada bulan Oktober. Marx berkomentar kepada Engels: “Pelarangan, sejak dahulu kala, menjadi sarana yang sempurna untuk membuat gerakan anti-pemerintah ‘ilegal’ dan melindungi pemerintah dari hukum – ‘memiliki kewenangan hukum untuk membunuh kita’.”

Debat di parlemen terjadi di pertengahan September, dan Wilhelm  Bracke mengirim Marx catatan stenografi dari sesi Reichstag dan salinan rancangan undang-undang. Marx berencana untuk menulis artikel kritis untuk pers Inggris dan mulai mengumpulkan petikan-petikan dan catatan-catatam untuk tujuan itu. Dalam beberapa halaman, ia menjabarkan perbedaan antara massa Partai Pekerja Sosialis Jerman dan kaum anarkis: yang pertama merupakan “gerakan historis sejati dari kelas pekerja; yang lain … sebuah hantu pemuda buntu yang berniat membuat sejarah, (yang) hanya menunjukkan bagaimana ide-ide sosialisme Prancis dikarikaturasikan kepada orang-orang kelas atas yang turun kelas.” Dalam membantah argumen menteri dalam negeri Prusia, Agustus Eulenburg, bahwa tujuan para pekerja adalah membuat kekerasan, Marx dia menyatakan posisinya dengan sangat jelas:

Tujuannya adalah untuk pembebasan kelas pekerja dan revolusi (transformasi) masyarakat adalah implisit di dalamnya. Perkembangan historis dapat tetap “damai” hanya selama kemajuannya tidak dihalangi secara paksa oleh mereka yang menggunakan kekuatan sosial pada saat itu. Jika di Inggris, misalnya, atau Amerika Serikat, kelas pekerja akan mendapatkan posisi mayoritas di Parlemen atau Kongres, mereka dapat, dengan cara yang sah, melepaskan dirinya dari jeratan hukum dan lembaga yang menghambat perkembangan mereka. (…) Namun, gerakan “damai” mungkin ditransformasikan menjadi gerakan “paksa” karena adanya perlawanan dari pihak yang berkepentingan untuk memulihkan keadaan sebelumnya; jika (seperti dalam kasus Perang Sipil Amerika dan Revolusi Perancis) mereka dijatuhkan dengan paksa, sebab itu adalah pemberontakan melawan kekuatan “yang sah secara hukum”.
Bagi Marx, kemudian, pemerintah “akan berusaha menekan dengan paksa suatu perkembangan yang tidak disukainya tetapi tidak dapat menyerang secara sah”. Itu, tentu saja, adalah “awal dari revolusi kekerasan” – “sebuah cerita lama yang masih tetap benar selamanya”, tambahnya, mengutip Heinrich Heine (1797-1856).

Dalam sepucuk surat kepada Sorge dari September 1879, Marx menggambarkan kecenderungan-kecenderungan baru yang muncul dalam partai Jerman. Dia menekankan bahwa orang-orang seperti penerbit Karl Höchberg, “seseorang yang bukan apa-apa dalam soal teori dan tidak tahu-menahu soal praktik”, senantiasa “berusaha untuk mencabut gigi sosialisme (yang telah mereka lakukan berulang-kali sesuai dengan formula akademik) dan Partai khususnya”. Tujuan mereka adalah “untuk mencerahkan para pekerja, … untuk memberi mereka, dari pengetahuan mereka yang membingungkan dan dangkal, dengan unsur-unsur edukatif” dan, di atas semua itu, “untuk membuat partai menjadi ‘terhormat’ di mata orang-orang kebanyakan (philistines)”. Mereka ini, Marx menyimpulkan, “hanyalah pembual (windbags) kontra revolusioner yang buruk”. Dengan humor yang halus, ia mengatakan bahwa Bismarck telah “melakukan banyak hal baik yang bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk kita”, dengan memaksakan keheningan selektif di Jerman dan memungkinkan  para pembual semacam itu “kesempatan untuk membuat diri mereka didengar dengan jelas”.

III. Perjuangan Kelas vs  Sosialisme Asal Bunyi
Dalam sebuah laporan polisi Prancis dari London, seorang agen mengklaim bahwa, “setelah kematian Lassalle, Marx (telah menjadi) pemimpin revolusioner Jerman yang diakui. Jika para wakil sosialis di Jerman adalah pemimpin-pemimpin resmi, komandan divisi, Marx adalah kepala staf umum. Dia menyusun rencana pertempuran dan mengawasi apa dilakukan anak buahnya.” Kenyataannya, kritisisme Marx terhadap partai sering tidak dihiraukan, dan dari studinya di London ia mengamati “kedalaman ” dalam mana “para wakil di parlemen” telah “telah terbawa arus parlementarisme ”.

Fokus polemik lainnya adalah pertanyaan tentang siapa yang harus mengedit jurnal baru Partai Buruh Sosialis Jerman, Der Sozialdemokrat (Sosial Demokrat), terbitan yang dimulai di Zurich pada September 1879. Marx dan Engels, tidak setuju dengan sikap yang diusulkan di atas kertas, merasa berkewajiban untuk mengirim surat lain (dirancang oleh Engels) ke August Bebel, Karl Liebknecht dan Bracke. Dalam “Surat Edaran/Circular Letter” (1879), sebagaimana diketahui, mereka mengecam konsensus yang berkembang di partai yang mendukung posisi Karl Höchberg, yang merupakan penyandang dana utama dari jurnal tersebut. Höchberg belum lama berselang menerbitkan sebuah artikel di Jahrbuch für Sozialwissenschaft und Sozialpolitik (Catatan untuk Ilmu Sosial dan Kebijakan Sosial), sebuah jurnal reformis di bawah arahannya, di mana ia menyerukan agar kembali ke semangat Lassallean. Dalam pandangannya, kaum Lassallean telah melahirkan sebuah gerakan politik terbuka “tidak hanya (untuk) para pekerja tetapi semua demokrat yang jujur, di dalam gerbong yang (seharusnya) membawa perwakilan independen dari ilmu pengetahuan dan semua orang yang terinspirasi oleh cinta sejati terhadap umat manusia”.

Bagi Marx, semua ini adalah pandangan yang ia tolak dengan tegas sejak tahun-tahun awalnya dan yang termaktub dalam Manifesto Partai Komunis (1848). “Surat Edaran” menggarisbawahi bahaya salah satu pernyataan Höchberg: “Singkatnya, kelas pekerja tidak mampu membebaskan dirinya dengan usahanya sendiri. Untuk melakukannya, ia harus menempatkan dirinya di bawah arahan borjuis ‘terdidik dan bermilik’ yang secara sendirian memiliki ‘waktu dan kesempatan’ untuk menjadi paling mengerti tentang apa yang terbaik bagi para pekerja.” Dalam pandangan “perwakilan dari borjuis kecil” ini, kaum borjuis “tidak untuk diperangi –  sangat tidak – tetapi dimenangkan melalui propaganda sehebat-hebatnya”.

Bahkan keputusan untuk membela Komune Paris diduga untuk “menghalangi orang-orang yang cenderung ke arah” gerakan buruh. Sebagai kesimpulan, Engels dan Marx mencatat dengan khawatir bahwa tujuan Höchberg adalah untuk membuat “penggulingan tatanan kapitalis … menjadi mustahil” dan “sama sekali tidak relevan bagi praktik politik saat ini”. Oleh karena itu, seseorang dapat “berdamai, berkompromi, bersedekah dengan sepenuh hatinya. Hal yang sama juga berlaku pada perjuangan kelas antara proletariat dan borjuis.” Ketidaksetujuan itu tak bisa dikompromikan.

Oposisi Marx yang gigih terhadap apa yang disebutnya “kaum sosialis asal bunyi yang urakan” mirip dengan pandangannya tentang mereka yang membatasi diri pada retorika kosong, namun bersembunyi di balik kosakata yang radikal. Menyusul peluncuran jurnal Freiheit (Freedom), ia menjelaskan kepada Sorge bahwa ia telah mencela editornya bukan karena “terlalu revolusioner” tetapi karena “tidak memiliki konten revolusioner” dan “hanya menikmati jargon revolusioner”. Dalam pandangan Marx, kedua posisi ini, meskipun berasal dari kecenderungan politik yang sangat berbeda, tidak membahayakan sistem yang ada (kapitalisme) dan pada akhirnya membuat kelangsungan hidup sistem tersebut menjadi mungkin.