Categories
Journalism

Kritik Marx Terhadap Sosial Demokrasi (Bagian I)

I. Melawan Penyimpangan sosial-demokratik
Pada akhir 1874, sebuah berita surat kabar diterima Marx yang mengabarkan bahwa Asosiasi Umum Buruh Jerman, yang didirikan oleh Ferdinand Lassalle, dan Partai Buruh Sosial Demokrat, yang terhubung dengan Marx, berniat untuk bersatu menjadi kekuatan politik tunggal.

Marx dan Engels tidak diajak berkonsultasi mengenai manfaat proyek tersebut, dan baru pada bulan Maret mereka menerima rancangan program partai baru itu. Engels kemudian menulis kepada August Bebel bahwa dia tidak bisa “memaafkannya karena tidak memberi tahu mereka sepatah kata pun tentang keseluruhan proyek politik ini “; dan dia memperingatkan bahwa dirinya dan Marx “tidak akan pernah bisa memberikan kesetiaan (mereka) kepada partai baru” yang didirikan atas dasar sosialisme negara Lassallean. Terlepas dari deklarasi yang tajam ini, para pemimpin yang telah aktif membangun apa yang akan menjadi Partai Pekerja Sosialis Jerman (SAPD) tidak mengubah posisi mereka.

Atas dasar itu, Marx merasa berkewajiban untuk menulis sebuah kritik panjang tentang rancangan program untuk kongres persatuan (unification congress) yang akan diadakan pada 22 Mei 1875 di kota Gotha.

II. Melawan Program Gotha
Dalam surat yang menyertai teksnya, Marx mengakui bahwa “setiap langkah gerakan nyata lebih penting daripada selusin program”. Tetapi dalam kasus “program-program yang prinsipil”, maka program-program itu harus ditulis dengan sangat hati-hati, karena mereka akan menetapkan “patokan bagi seluruh dunia untuk … mengukur seberapa jauh partai (telah) maju”. Dalam Critique of the Gotha Program (1875), Marx mengungkap berbagai ketidaktepatan dan kesalahan dalam manifesto baru yang dirancang di Jerman. Misalnya, dalam mengkritik konsep “distribusi yang adil/fair distribution“, ia bertanya secara polemik: “bukankah borjuis menyatakan bahwa distribusi saat ini adalah ‘adil’? Dan bukankah, pada kenyataannya, satu-satunya distribusi yang ‘adil’ adalah yang berdasarkan modus produksi saat ini?” Dalam pandangannya, tuntutan politik yang harus dimasukkan ke dalam program bukanlah programnya Lassalle “hasil kerja yang tidak berkurang” untuk setiap pekerja, tetapi transformasi dari modus produksi. Marx menjelaskan, dengan ketelitiannya yang luar biasa, bahwa Lassalle “tidak tahu apa itu upah”. Mengikuti para ekonom borjuis, ia “mengambil tampilan atau penampakkan luar ketimbang esensi dari masalah ini”. Marx menjelaskan:

Upah bukanlah seperti apa yang tampak, yaitu nilai, atau harga, dari tenaga kerja, tetapi hanya bentuk topeng untuk nilai, atau harga, dari tenaga kerja. Dengan demikian seluruh konsepsi borjuis tentang upah sampai sekarang, serta semua kritik yang sebelumnya diarahkan terhadap konsepsi ini, dilemparkan ke laut untuk selamanya dan diperjelas bahwa pekerja-upahan diijinkan untuk bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup subsistennya, yaitu untuk hidup hanya sejauh ia bekerja untuk waktu tertentu yang gratis bagi kapitalis (dan karenanya juga untuk konsumsi bersama nilai lebih); bahwa seluruh sistem produksi kapitalis mengaktifkan peningkatan tenaga kerja gratis ini dengan memperpanjang hari kerja atau dengan menggenjot produktivitas, yaitu, meningkatkan intensitas tenaga kerja, dll.; bahwa, konsekuensinya sistem kerja upahan adalah sebuah sistem perbudakan, dan, memang perbudakan ini menjadi lebih parah secara proporsional seiring dengan perkembangan tenaga kerja sosial produktif, tak peduli apakah buruh menerima pembayaran yang lebih baik atau lebih buruk.

Poin kontroversial lain menyangkut peran negara. Marx berpendapat bahwa kapitalisme hanya dapat digulingkan melalui “transformasi revolusioner masyarakat”. Kaum Lassallean berpendapat bahwa “organisasi sosialis dari total tenaga kerja muncul dari bantuan negara, yang negara berikan kepada masyarakat koperasi produsen, dimana negara, bukan pekerja, sebagai aktornya.” Sementara bagi Marx, “masyarakat koperasi hanya memiliki nilai sejauh mereka adalah kreasi independen dari pekerja dan bukan anak didik baik dari pemerintah atau borjuis”; gagasan “bahwa dengan pinjaman negara seseorang dapat membangun masyarakat baru seperti halnya dengan kereta api baru ” adalah khas dari ketidakpastian teoritis Lassalle.

Secara keseluruhan, Marx mengamati bahwa manifesto politik untuk kongres fusi menunjukkan bahwa ide-ide sosialis mengalami kesulitan menembus organisasi pekerja Jerman. Sejalan dengan keyakinan awalnya, ia menekankan bahwa salah satu kesalahan mereka adalah memperlakukan “negara sebagai entitas independen yang memiliki basis intelektual, etika, dan libertariannya sendiri”, alih-alih “memperlakukan masyarakat yang ada sebagai … basis dari negara yang ada”.

Sebaliknya, Wilhelm Liebknecht dan para pemimpin sosialis Jerman lainnya membela keputusan taktis mereka untuk berkompromi tentang program, dengan alasan bahwa ini diperlukan untuk mencapai sebuah partai yang bersatu. Sekali lagi, Marx harus menghadapi jarak yang sangat jauh antara pilihan yang dibuat di Berlin dan di London. Dia sudah berkomentar tentang hal itu sehubungan dengan minimnya keterlibatan organisasi Jerman dalam Asosiasi Kelas Pekerja Internasional (International Working Men’s Association).

III. Polemik dengan Eugen Dühring
Pada dekade 1870-an Marx mengikuti secara intensif pertempuran politik paling penting di tingkat internasional. Tapi  di saat bersamaan, ia tidak pernah kehilangan pengamatannya tentang perkembangan politik utama di Jerman. Setelah ketegangan besar seputar kongres Gotha berlalu, ia melanjutkan upayanya untuk mengarahkan Partai Pekerja Sosialis Jerman ke arah anti-kapitalis. Namun, kecenderungan lain berkembang yang berpeluang memunculkan potensi konflik baru.

Semenjak tahun 1874 Eugen Duhring, seorang profesor ekonomi di Universitas Berlin, mulai menerima perhatian yang signifikan dari para intelektual Partai. Artikel-artikel yang mendukung posisinya muncul di Der Volksstaat (Negara Rakyat), yang telah menjadi organ Partai Buruh Sosial-Demokrat Jerman. Oleh karena itu, setelah diminta oleh Liebknecht untuk terlibat, dan setelah mendengarkan pandangan Marx bahwa perlu “untuk mengkritik Duhring tanpa kompromi”, Engels memutuskan untuk menulis kritik lengkap tentang positivisme Jerman. Tugas ini, yang diperpanjang dari akhir 1876 hingga Juli 1878, berakhir dalam bentuk buku berjudul Anti-Duhring (1877-78), yang penerbitannya didahului oleh kutipan-kutipan di kolom Vorwärts (Maju), koran harian Partai Pekerja Sosialis di Jerman yang lahir dari kongres fusi Gotha.

Marx berperan aktif dalam proyek Anti-Duhring ini: di musim dingin 1877, ia menulis bab kunci “Tentang ‘Sejarah Kritis’”, baik atas nama Engels dan atas namanya sendiri, menganggapnya sebagai respons terhadap serangan yang terkandung dalam buku Duhring  Critical History of Political Economy and Socialism (1871). Marx menunjukkan bahwa “berdasarkan nilai, Herr Duhring memahami lima hal yang sangat berbeda dan secara langsung bertentangan, dan, karenanya,  gambaran yang tepat buatnya adalah, dirinya sendiri tidak tahu apa yang diinginkannya.” Lebih dari itu, dalam buku ekonom Jerman, “’hukum alam dari semua ilmu ekonomi’, diperkenalkan dengan pongah,  terbukti sekadar akrab secara universal, dan bahkan  seringkali tidak dipahami dengan baik, sehingga deskripsi terburuk oun tidak bisa menggambarkannya.” Satu-satunya penjelasan “yang ia berikan dari “fakta-fakta ekonomi” adalah bahwa “mereka adalah hasil dari ‘kekuatan’, sebuah istilah yang telah dimiliki oleh orang-orang picik (philistine) dari semua bangsa selama ribuan tahun untuk menghibur dirinya sendiri atas segala hal yang tidak menyenangkan yang terjadi padanya, dan yang membuat kita berada di tempat kita sekarang ini. ”Bagi Marx, Duhring tidak mencoba untuk “menyelidiki asal-usul dan dampak-dampak dari kekuatan ini”, dan, ketika dipaksa untuk menjelaskan eksploitasi kapitalis terhadap buruh, ia “pertama-tama menunjukkannya secara umum berdasarkan pajak dan biaya tambahan” à la Proudhon, kemudian “menjelaskannya secara terperinci melalui teori Marx tentang surplus-tenaga kerja”. Hasilnya benar-benar tidak masuk akal: “dua cara pandang yang benar-benar kontradiktif, … di salin mentah-mentah tanpa menarik napas.”

Categories
Journalism

Marx Tentang Kemerdekaan Polandia

Dalam surat saya sebelumnya, saya menceritakan bagaimana pada bagian pertama dekade 1860an, perhatian Marx utamanya tercurah pada peristiwa yang mengguncang Amerika Serikat.
Kali ini, saya akan bercerita tentang peristiwa yang juga diikuti Marx dengan ketertarikan yang sama, yakni perkembangan di Rusia dan Eropa Timur yang juga berlangsung pada dekade 1860an itu.
Dalam sebuah suratnya pada Lassalle di bulan  Juni 1860, Marx membuat beberapa poin terkait salah satu fokus politik utamanya: penentangannya terhadap Rusia dan sekutunya Henry Palmerston dan Louis Bonaparte. Dia mencoba meyakinkan Lassalle bahwa tidak ada yang tidak sah dalam konvergensi antara posisi “partai” mereka dan posisi David Urquhart, politisi Tory dengan pandangan romantis. Mengenai Urquhart – yang memiliki keberanian untuk menerbitkan kembali, untuk tujuan anti-Rusia dan anti-Liberal, artikel-artikel Marx melawan Palmerston yang telah muncul di organ resmi Chartist Inggris pada awal tahun 1850-an – ia menulis: “Ia … secara subjektif reaksioner … ini sama sekali tidak menghalangi gerakan dalam kebijakan luar negeri, di mana ia adalah pemimpin, dari keadaan yang secara objektif revolusioner. (… Itu) bagi saya masalah pengabaian total, sebagaimana dalam perang melawan Rusia, misalnya, itu akan menjadi masalah ketidakpedulian Anda apakah, dalam menembaki Rusia, motif teman Anda di garis tembak adalah hitam, merah dan emas (yaitu, nasionalis) atau revolusioner. “Marx melanjutkan:” Itu adalah sesuatu yang lumrah bahwa dalam kebijakan luar negeri, sangat sedikit yang bisa dicapai dengan menggunakan kata-kata kunci seperti ‘reaksioner’ dan ‘revolusioner’. “

Masalah Revolusi Polandia dan Peran Reaksioner Rusia
Senantiasa mencari tanda-tanda pemberontakan yang mungkin dapat membatasi peran reaksioner Rusia dalam perpolitikan Eropa, Marx menulis kepada Engels pada awal 1863 (segera setelah pemberontakan Januari Polandia dan tawaran langsung Bismarck untuk membantu menindas pemberontakan itu) bahwa “era revolusi sekarang cukup terbuka di Eropa sekali lagi”. Dan empat hari kemudian, ia menuliskan refleksinya, “Masalah Polandia dan intervensi Prusia tentu saja mencerminkan kombinasi yang mengharuskan kita untuk berbicara.”
Menyadari pentingnya peristiwa-peristiwa tersebut, Marx menganggap tidaklah cukup bagi mereka sekadar berbicara melalui artikel-artikel yang diterbitkan untuk harian Wina, Die Presse (koran tempat ia paling banyak menerbitkan tulisannya pada tahun 1862). Oleh karena itu ia menyarankan agar segera menerbitkan manifesto atas nama Asosiasi Pendidikan Pekerja Jerman di London, yang posisi politiknya dekat dengan posisinya. Ini akan memberinya perlindungan jika dia melanjutkan gagasan untuk mengajukan kewarganegaraan Jerman dan “kembali ke Jerman”. Engels seharusnya menulis “sedikit militer” dari teks kecil ini, dengan fokus pada “kepentingan militer dan politik Jerman dalam pemulihan Polandia”, sementara ia akan menulis “sedikit diplomasi”. Ketika, pada 18 Februari 1863, Prussian Chamber of Deputies mengutuk kebijakan pemerintah dan mengeluarkan resolusi yang mendukung netralitas, Marx menggebrak dengan antusias: “Kita akan segera melakukan revolusi.” Dalam pandangannya, masalah Polandia menawarkan “kesempatan lebih lanjut untuk membuktikan bahwa tidak mungkin untuk menuntut kepentingan Jerman selama negara Hohenzollerns sendiri terus ada.” Tawaran Bismarck untuk mendukung Tsar Alexander II, atau persetujuannya bagi “Prussia untuk memperlakukan wilayah [Polandia] sebagai Rusia”, memberi Marx motivasi politik lebih lanjut untuk menyelesaikan rencananya.
Pada periode inilah Marx memulai proyek penelitiannya yang menyeluruh. Dalam sebuah surat yang dikirimnya kepada Engels pada akhir Mei, dia melaporkan bahwa pada bulan-bulan sebelumnya – terlepas dari studi ekonomi politik – dia telah mempelajari aspek-aspek masalah Polandia; ini memungkinkannya untuk “mengisi kekosongan dalam pengetahuan (diplomatik, historis) (nya) hal-ikhwal masalah Rusia-Prusia-Polandia”. Maka, antara Februari dan Mei, ia kemudian menulis sebuah manuskrip berjudul “Polandia, Prusia dan Rusia” (1863), yang dengan baik mendokumentasikan penundukkan sejarah Berlin ke Moskow. Untuk Hohenzollerns, “kemajuan Rusia mewakili hukum perkembangan Prusia”; “Tidak ada Prusia tanpa Rusia”. Sebaliknya, bagi Marx, “pemulihan Polandia berarti pemusnahan Rusia kini, pembatalan tawarannya untuk hegemoni global”. Untuk alasan yang sama, “penghancuran Polandia, kepasrahannya bagi Rusia, (akan berarti) penurunan Jerman, runtuhnya satu-satunya bendungan yang menahan banjir Slav universal”.
Teks yang direncanakan tidak pernah terbit. Dalam keadaan sedemikian, tanggung jawab jelas berada di tangan Engels (yang seharusnya menulis bagian yang paling penting, pada aspek militer), sedangkan “sedikit diplomatik” Marx, yang ia “siap lakukan kapan saja”, adalah “hanya sebuah lampiran.” Namun pada Oktober, Marx berhasil menerbitkan“ Proklamasi Polandia oleh Masyarakat Pendidikan Pekerja Jerman di London ”(1863), yang membantu mengumpulkan dana bagi pejuang kemerdekaan Polandia. Proklamasi itu dimulai dengan pernyataan tegas: “Urusan Polandia adalah Urusan Jerman. Tanpa Polandia yang merdeka tidak akan ada Jerman yang merdeka dan bersatu, tidak ada emansipasi Jerman dari dominasi Rusia yang dimulai dengan pertama-tama pemisahan  Polandia.” Menurut Marx, sementara “borjuasi Jerman tampak diam, pasif dan acuh tak acuh, atas pembantaian terhadap bangsa yang heroik yang melindungi bangsa Jerman dari pendudukan orang-orang Moskow”, “kelas pekerja Inggris “akan terus berjuang bersama pemberontak Polandia.
Perjuangan ini, yang berlangsung selama lebih dari setahun, adalah yang terpanjang yang pernah dilancarkan melawan pendudukan Rusia. Ia berakhir pada April 1864, ketika Rusia, setelah mengeksekusi wakil-wakil pemerintah revolusioner, akhirnya menghancurkan pemberontakan tersebut. Pada bulan Mei, pasukan Rusia juga menyelesaikan aneksasi Kaukasus utara, mengakhiri perang yang dimulai pada tahun 1817. Sekali lagi, Marx menunjukkan wawasan yang luas, dan tidak seperti “Eropa lainnya” – yang “menyaksikan dengan ketidakpedulian idiot” – ia menganggap “penindasan terhadap pemberontakan Polandia dan aneksasi Kaukasus” sebagai “dua peristiwa paling penting yang telah terjadi di Eropa sejak 1815”.

Dukungan Internasional untuk Perjuangan Polandia
Marx terus menyibukkan dirinya dengan masalah Polandia, yang muncul dalam beberapa kali perdebatana dalam Asosiasi Kelas Pekerja Internasional. Sebenarnya, pertemuan persiapan yang signifikan dari pendirian  Internasional terjadi pada Juli 1863, ketika sejumlah organisasi pekerja Perancis dan Inggris telah bertemu di London untuk menyatakan solidaritas dengan orang-orang Polandia terhadap pendudukan Tsar.
Kemudian, tiga bulan setelah pendirian Internasional, pada pertemuan Komite Tetap Dewan Umum yang diadakan pada Desember 1864, jurnalis Peter Fox berargumen dalam pidatonya di Polandia bahwa “Perancis (secara tradisional) lebih simpatik (terhadap orang Polandia) ketimbang orang Inggris ”. Marx tidak membantah hal ini, tetapi sebagaimana surat yang ditulisnya kepada Engels, dia kemudian “membuka gambaran tentang pengkhianatan Perancis yang terus menerus atas Polandia dari Louis XV ke Bonaparte III”. Dalam konteks inilah ia menyusun naskah baru, yang kemudian dikenal sebagai “Polandia dan Prancis” (1864). Ditulis dalam bahasa Inggris, itu mencakup rentang waktu dari Perdamaian Westphalia (1648) hingga 1812.
Satu tahun setelahnya, pada September 1865, menyusul Konferensi Internasional London, Marx mengusulkan rancangan agenda untuk kebijakan luar negeri gerakan buruh di Eropa. Ia menunjukkan di antara prioritas “kebutuhan untuk menghilangkan pengaruh Moskow di Eropa dengan menerapkan hak penentuan nasib sendiri bagi bangsa-bangsa, dan pembentukan kembali Polandia di atas basis sosial dan demokratis”. Butuh beberapa dekade untuk ini terwujud. Tetapi kasus Polandia menunjukkan bahwa Marx, ketika dihadapkan dengan peristiwa sejarah besar di berbagai tempat yang jauh, mampu memahami apa yang terjadi di dunia dan berkontribusi pada transformasinya. Dalam pandangan saya, perspektif internasionalis ini mendesak untuk dihidupkan kembali oleh gerakan Kiri di dunia saat ini.

Categories
Journalism

Marx Tentang Perjuangan Melawan Perbudakan di Amerika Serikat

Pada musim semi 1861, politik dunia diguncang oleh pecahnya Perang Saudara di  Amerika Serikat
Perang itu meletus tak lama setelah Abraham Lincoln terpilih sebagai Presiden AS. Tujuh negara pemilik budak menyatakan pemisahan diri mereka dari Amerika Serikat: Carolina Selatan, Mississippi, Florida, Alabama, Georgia, Louisiana, dan Texas. Tak lama kemudian bergabung Virginia, Arkansas, Tennessee, Carolina Utara, lalu Missouri dan Kentucky (meskipun dua yang terakhir tidak secara resmi menyatakan pemisahan diri). Konflik berdarah yang terjadi kemudian merenggut sekitar 750.000 jiwa di antara Konfederasi/Confederation (yang lebih memilih mempertahankan dan memperluas perbudakan) dan Persatuan/Union (Amerika yang setia pada Lincoln, meskipun dalam beberapa kasus mempertimbangkan perbudakan legal).
Peristiwa itu segera memicu Karl Marx untuk mulai mempelajari situasi tersebut dan, pada awal Juli, menulis kepada kawannya Friedrich Engels: “Konflik antara Selatan dan Utara … akhirnya sampai ke pikiran (jika kita mengabaikan tuntutan baru ‘para pemberani’) oleh bobot perkembangan luar biasa dari Negara-Negara Barat-Utara yang semakin meningkat skalanya. “Dalam pandangan Marx, tidak ada komponen dari gerakan separatis yang memiliki legitimasi; mereka harus dilihat sebagai masalah “perebutan kekuasaan”, karena “tidak mengijinkan  orang banyak untuk memilih”. Bagaimanapun, apa yang dipermasalahkan tidak hanya “pemisahan diri dari Utara, tetapi juga mengonsolidasikan dan mengintensifkan oligarki dari 300.000 tuan budak (slave lords) di Selatan”. Beberapa hari kemudian, Marx mengamati bahwa “Tindakan pemisahan diri [telah] diwakili secara keliru di koran-koran Inggris”, karena di mana-mana, dengan perkecualian Carolina Selatan, “terdapat oposisi yang kuat melawan pemisahan diri ini”. Selain itu, di tempat-tempat di mana konsultasi pemilihan diizinkan – “hanya beberapa” dari Negara-negara di Teluk Meksiko mengadakan “pemungutan suara rakyat yang layak” – terjadi dalam kondisi tercela. Di Virginia, misalnya, “massa besar pasukan Konfederasi tiba-tiba diterjunkan ke wilayah itu” dan “di bawah perlindungan mereka (ini benar-benar Bonapartis), massa memilih pemisahan diri” – namun ada “50.000 suara” untuk Persatuan/Union,” terlepas dari terorisme sistematis”. Texas, yang, “setelah Carolina Selatan, [memiliki] barisan budak dan terorisme terbesar”, masih mencatat “11.000 suara untuk Union”. Di Alabama, “tidak ada pemilihan suara baik untuk pemisahan diri atau Konstitusi baru”, dan mayoritas 61-39 delegasi konvensi yang mendukung pemisahan diri hanya karena fakta bahwa di bawah Konstitusi “setiap pemilik budak juga memilih 3/5 budaknya”. Sedangkan untuk Louisiana, lebih banyak suara untuk Union ketimbang suara untuk pemisahan diri yang diberikan kepada “pemilihan delegasi untuk konvensi”, tetapi cukup banyak delegasi yang membelot untuk mengubah keseimbangan.
Pertimbangan-pertimbangan semacam itu, dalam surat-surat Marx kepada Engels, dilengkapi dengan argumen yang bahkan lebih penting dalam karya jurnalistiknya. Selain kontribusi sporadis ke koran New-York Tribune, Marx sejak Oktober 1861 juga menulis untuk harian liberal Wina Die Presse, yang jumlah pelanggannya mencapai 30.000. Wina Die Presse adalah koran yang paling banyak dibaca di Austria dan salah satu yang paling populer di negara-negara berbahasa Jerman. Tema utama artikel-artikel ini – yang juga termasuk laporan tentang invasi Prancis kedua ke Meksiko – adalah dampak ekonomi dari perang Amerika terhadap Inggris. Secara khusus, Marx fokus pada perkembangan perdagangan dan situasi keuangan, serta menilai kecenderungan-kecenderungan dalam opini publik. Dengan demikian, dalam “A London Workers ‘Meeting” (1862), ia menyatakan senang dengan demonstrasi yang dilakukan oleh kaum buruh Inggris, yang, meskipun “tidak diwakili di Parlemen”, sukses membawa “pengaruh politik” mereka untuk menanggung dan mencegah intervensi militer Inggris melawan Union.
Demikian pula, Marx menulis sebuah artikel yang berapi-api untuk New-York Tribune setelah Trent Affair, ketika Angkatan Laut AS secara ilegal menangkap dua diplomat Konfederasi di atas kapal Inggris. Amerika Serikat, tulisnya, tidak boleh melupakan “bahwa setidaknya kelas pekerja Inggris [tidak pernah] meninggalkan” kapal itu. Bagi kelas pekerja Inggris sikap itu dilakukan “meskipun stimulan beracun setiap hari di publikasi oleh pers yang kejam dan sembrono, tidak ada satu pun pertemuan publik untuk perang yang dapat diadakan di Inggris selama semua periode yang damai diguncang dalam keseimbangan”. “Sikap kelas pekerja Inggris” semakin dihargai ketika diletakkan berdampingan dengan “perilaku munafik, bodoh, dan pengecut John Bull yang resmi dan baik-baik saja”; keberanian dan konsistensi di satu sisi, inkoherensi dan kontradiksi-diri di sisi lain. Dalam sebuah suratnya kepada Ferdinand Lassalle pada Mei 1861, ia berkomentar: “Seluruh pers resmi di Inggris, tentu saja, mendukung para pemilik budak. Mereka adalah orang yang sama yang membuat dunia bosan dengan filantropi perdagangan anti perbudakan. Tapi kapas, kapas!”
Ketertarikan Marx pada Perang Sipil jauh melampaui konsekuensi-konsekuensinya bagi Inggris; dia ingin, di atas segalanya, menjelaskan sifat dari konflik tersebut. Artikel yang ditulisnya untuk New-York Tribune beberapa bulan setelah konflik pecah adalah contoh yang baik tentang ini: “Orang-orang Eropa tahu bahwa perjuangan untuk kelanjutan Union adalah perjuangan melawan kelanjutan slaveocracy (demokrasi-perbudakan) – yang dalam kontes ini adalah bentuk tertinggi dari pemerintahan sendiri oleh rakyat yang terealisasi dalam wujud perlawanan terhadap bentuk perbudakan manusia paling kejam dan tak tahu malu yang terekam dalam catatan sejarah.”
Dalam beberapa artikel untuk Die Presse, Marx menganalisis secara lebih mendalam argumen kedua pihak yang berseberangan. Dia memulai dengan menunjukkan kemunafikan kaum Liberal dan Konservatif Inggris. Dalam “Perang Sipil Amerika Utara” (25 Oktober 1861), ia mencemooh “penemuan brilian” The Times, harian Inggris terkemuka ketika itu, bahwa perang tersebut hanyalah “perang tarif belaka, perang antara sistem proteksionis dan sistem perdagangan bebas”, dan kesimpulannya bahwa Inggris tidak punya pilihan selain menyatakan dukungannya pada “perdagangan bebas” yang diwakili oleh Konfederasi Selatan. Beberapa mingguan, termasuk The Economist dan The Saturday Review, melangkah lebih jauh dan bersikeras bahwa “masalah perbudakan … sama sekali tidak ada hubungannya dengan perang ini”.
Melawan penafsiran-penafsiran ini, Marx memperhatikan motif-motif politik di balik konflik itu. Pada pemilik budak di Selatan, ia mengatakan bahwa tujuan utama mereka adalah untuk mempertahankan kontrol terhadap Senat dan karenanya “kontrol politik Amerika Serikat”. Untuk itu, adalah perlu menaklukkan daerah baru (seperti yang terjadi pada tahun 1845 dengan aneksasi Texas) atau mengubah wilayah-wilayah yang ada di AS menjadi “negara budak”. Para pendukung utama perbudakan di Amerika adalah “oligarki sempit yang [berhadapan] dengan berjuta-juta orang kulit putih miskin, yang jumlahnya terus meningkat melalui konsentrasi kepemilikan tanah dan yang kondisinya hanya bisa dibandingkan dengan masyarakat rendahan (plebeian) Romawi pada periode kemerosotan ekstrim Roma ”. Oleh karena itu, “akuisisi dan prospek akuisisi wilayah-wilayah baru” adalah satu-satunya cara yang mungkin untuk menyamakan kepentingan orang miskin dengan kepentingan para pemilik budak, “untuk memberikan kepada mereka yang haus akan tindakan sebuah arah yang tidak berbahaya dan menjinakkan mereka dengan harapan bahwa suatu hari kelak mereka bisa menjadi pemilik budak”. Di sisi lain, Lincoln mengejar tujuan “membatasi dengan ketat perbudakan di daerah lamanya”, yang “terikat pada hukum ekonomi untuk mengarah pada kepunahan bertahap” dan karenanya untuk melenyapkan “hegemoni” politik  dari “negara-negara budak”.
Marx menggunakan artikelnya untuk membantah yang sebaliknya: “Seluruh gerakan didasarkan dan, seperti yang kita lihat, pada masalah budak. Bukan dalam pengertian apakah budak di dalam negara budak yang ada harus dibebaskan secara langsung atau tidak, tetapi apakah 20 juta manusia bebas di Utara harus tunduk lebih lama lagi kepada oligarki 300 ribu pemilik budak. ”Apa yang dipertaruhkan – dan Marx mendasarkan ini pada wawasannya tentang mekanisme ekspansionis dari bentuk ekonomi – adalah “apakah Wilayah republik yang luas harus menjadi pembibitan bagi negara-negara bebas atau untuk perbudakan; [dan] apakah kebijakan nasional dari Union adalah penggunaan kekuatan bersenjata untuk menyebarkan perbudakan ke Meksiko, Amerika Tengah dan Selatan”.
Penilaian ini menyoroti jurang yang memisahkan Marx dari Giuseppe Garibaldi, yang telah menolak tawaran pos komando angkatan darat di Utara dengan alasan bahwa tawaran itu hanya soal perebutan kekuasaan yang tidak ada urusannya dengan emansipasi para  budak. Mengenai posisi Garibaldi dan upayanya yang gagal untuk memulihkan perdamaian antara kedua belah pihak, Marx berkomentar kepada Engels: “Garibaldi, si brengsek itu, telah membodohi dirinya sendiri dengan suratnya kepada Yankees yang mempromosikan kerukunan.” Sementara Garibaldi gagal memahami tujuan sebenarnya atau opsi-opsi dalam proses yang sedang berjalan, Marx – sebagai seorang non-maksimalis bersikap hati-hati dengan perkembangan sejarah yang mungkin – segera merasa bahwa hasil dari Perang Sipil Amerika akan menentukan pada skala dunia dan menetapkan jarum jam sejarah bergerak baik di lintasan perbudakan atau emansipasi.
Pada November 1864, dihadapkan dengan peristiwa yang berlangsung cepat dan dramatis, Marx meminta pamannya Philips untuk merefleksikan “bagaimana pada saat pemilihan Lincoln [pada tahun 1860] itu hanya masalah tidak membuat konsesi lebih lanjut kepada pemilik budak, sementara tujuan yang kini diakuinya, yang sebagian telah disadari, adalah penghapusan perbudakan”. Dan Marx menambahkan: “Kita harus mengakui bahwa revolusi besar tidak pernah terjadi dengan kecepatan yang sedemikian cepat. Revolusi ini akan memiliki pengaruh yang sangat bermanfaat bagi seluruh dunia.”
Pemilihan kembali Lincoln pada November 1864 memberikan kesempatan kepada Marx untuk mengekspresikan, atas nama Asosiasi Pekerja Internasional, ucapan selamat dengan signifikansi politik yang jelas: “Jika perlawanan terhadap Penguasa Budak adalah semboyan yang disediakan untuk pemilihan pertama Anda, maka kemenangan dari pemilihan ulang Anda adalah seruan Kematian untuk Perbudakan”.
Beberapa perwakilan dari kelas penguasa Selatan telah menyatakan bahwa “perbudakan [adalah] lembaga yang bermanfaat”, dan bahkan berkhotbah bahwa itu adalah “satu-satunya solusi dari masalah besar ‘hubungan buruh dengan kapital’.” Itulah kenapa Mars bersikeras meluruskannya:
Kelas-kelas pekerja Eropa mengerti seketika itu juga, bahkan sebelum keberpihakan fanatik kelas-kelas atas untuk bangsawan Konfederasi telah memberikan peringatan yang suram, bahwa pemberontakan para pemilik budak adalah lonceng peringatan bagi sebuah perang suci melawan pekerja, dan bahwa bagi para pekerja, dengan harapan mereka untuk masa depan, bahkan penaklukan-penaklukan di masa lalu mereka dipertaruhkan dalam konflik besar di sisi lain Atlantik tersebut.
Marx kemudian membahas masalah yang tidak kalah pentingnya:
Sementara kelas pekerja, kekuatan politik sejati di Utara, mengijinkan perbudakan untuk mengotori republik mereka sendiri; sementara di depan orang-orang Negro, yang dikuasai dan dijual tanpa persetujuannya, mereka (pekerja kulit putih ini) menyombongkan hak prerogatif tertinggi dari pekerja kulit putih untuk menjual dirinya sendiri dan memilih tuannya sendiri; mereka (para pekerja kulit putih ini) tidak akan bisa mencapai kebebasan kerja yang sejati atau mendukung saudara-saudara mereka di Eropa dalam perjuangannya untuk pembebasan.
Hal yang sangat mirip dikemukakan Marx dalam Capital Volume I, di mana ia dengan tegas menggarisbawahi bahwa “di Amerika Serikat, setiap gerakan buruh independen dilumpuhkan selagi perbudakan merusak sebagian dari republik. Buruh di dalam kulit  yang putih tidak bisa membebaskan dirinya sendiri ketika itu dilabeli di dalam kulit yang hitam.” Tetapi, “sebuah kehidupan baru segera muncul dari kematian perbudakan. Buah pertama dari Perang Saudara Amerika ini adalah agitasi” untuk delapan jam kerja sehari.
Marx sangat menyadari posisi politik Abraham Lincoln yang moderat, juga tidak menutupi prasangka rasial dari beberapa sekutunya. Tetapi dia selalu dengan jelas menekankan, tanpa sektarianisme, perbedaan antara sistem budak di Selatan dan sistem yang didasarkan pada upah buruh di Utara. Dia mengerti bahwa, di Amerika Serikat, kondisi-kondisinya sedang berkembang untuk menghancurkan salah satu institusi paling terkenal di dunia. Akhir dari perbudakan dan penindasan ras akan memungkinkan gerakan pekerja global untuk beroperasi dalam kerangka kerja yang lebih menguntungkan untuk pembangunan masyarakat tanpa kelas dan modus produksi komunis.
Dengan mengingat hal ini, Marx menyusun “Pidato dari Asosiasi Kelas Pekerja Internasional kepada Presiden Johnson”, yang menggantikan Lincoln setelah pembunuhannya pada 14 April 1865. Marx ingin mengingatkan Andrew Johnson bahwa, dengan jabatan presidennya, ia telah menerima “tugas untuk mencabut dengan hukum apa yang telah ditebas oleh pedang”: yaitu,” untuk memimpin pekerjaan rekonstruksi politik dan regenerasi sosial yang sulit …; untuk memulai era baru emansipasi buruh.”

Categories
Journalism

Thus Capital

The work that, perhaps more than any other, has contributed to changing the world in the last 150 years, had a long and difficult gestation.

Marx started writing Capital only many years after he began his study of political economy.  Although he had already developed his critique of private property and idea of alienation in 1844, it was the financial crisis of 1857 – which began in the United States and spread across Europe – that ultimately drove him to put pen to page and begin writing what he initially called his “Economy”.

The crisis, the Grundrisse and poverty
With the onset of the financial crisis, Marx foresaw the birth of a new stage of social upheaval that he believed could lead to a revolutionary movement capable of transcending capitalism. He believed that the proletariat urgently needed a critique of the capitalist mode of production. From this was born the Grundrisse, eight large volumes in which, amongst other themes, Marx examined the formation of pre-capitalistic economies and elaborated on some important characteristics of his communist society like the importance of liberty and the intellectual development of the individual.

However, the revolutionary movement that Marx believed would emerge from the financial crisis remained illusory and Marx, now acutely aware of the theoretical shortcomings of his work, did not publish these manuscripts. The only section of the Grundrisse that would go to the press, and only after an extensive revision, was “The Chapter on Money”. Published in 1859 as A Contribution to the Critique of Political Economy, the text was only reviewed by a single person: Engels. Marx’s plan for the rest of the Grundrisse was to divide the manuscripts into six books.  He believed that this would allow him to dedicate each volume to a separate subject matter: capital, property ownership, wage labour State, foreign trade and the global market.

When, in 1862, because of the American Civil War, the New-York Tribune fired him from his job as their European correspondent, Marx – who had worked for the American daily for over a decade – and his family were plunged into the same level of destitution that they had experienced during their early years in London. Marx only had the help of Engels, to whom he wrote “Every day my wife says she wishes she and the children were safely in their graves, and I really cannot blame her, for the humiliations, torments and alarums that one has to go through in such a situation are indeed indescribable”. His condition was so desperate that, in his worst weeks, he went without food for his children and paper to write on. He applied for work at an English railway office, however, was denied the job on the basis of his poor handwriting. Consequently, in the face of these indignations, Marx’s work continued to suffer from long delays.

Surplus value and carbuncles
Despite these significant hurdles, Marx conducted a rigorous examination of economic theory during this period.  In an extensive manuscript entitled Theories of Surplus Value, he argued that the major economic theorists of the time had erroneously understood surplus value as either profit or income. Marx, conversely, argued that surplus value should be understood as the specific form through which the exploitation of capitalism was made manifest. This was because the workers gave up a part of their workday freely to the capitalist who then tried to generate surplus value by means of this surplus labour: “it is no longer enough for the worker to produce in general, he must now produce surplus value”. The theft of only a few minutes from lunch or breaks of each worker translated into the shift of an immense mass of riches into the owner’s pockets. Intellectual development, social obligations and holidays were for capital were “merely frills”. Factory owners would oppose labour legislation in the name of “freedom to work”.

But for Marx, the motto of capitalistic mind set towards all aspects of life – including the consideration of ecological questions (a topic rarely, if ever, addressed by his contemporaries) – was not freedom but “Après moi le déluge!” (“After us, the flood!”). He believed that the reduction of the working day, together with the additional surplus of labour, constituted the first terrain upon which the class struggle would be fought.  By 1862, Marx had chosen a title for his work: Capital. He thought he was ready to draft the final version but on top of overwhelming financial difficulties, he now also suffered significant health problems. Nicknamed “the terrible disease”, by his wife Jenny, the remaining years of Marx’s life would be plagued by ill health. He suffered from carbuncles, a hideous infection that manifests itself as abscesses, ulcers and serious debilitating boils all over the body. Because of a deep ulcer, followed by the appearance of a large abscess, Marx underwent an operation and “for quite a time his life was in danger”. His family was now, more than ever, on the brink of the abyss. Despite these adversities, the ‘Moor’ (his nickname) recovered and, at the end of December 1865, finished the first draft of what would become his magnum opus. Furthermore, in autumn 1864, he enthusiastically participated in the International Working Men’s Association, drafting, during eight intense years, all of its principal political documents. Studying by day in the library in order ensure the merit of his discoveries and working on his manuscript by night, Marx would submit himself to this exhausting daily routine until his body failed him.

An integrated whole
By this time, Marx had reduced the size of his initial project from six to three volumes on capital, but he maintained the hope of publishing them together. In fact, he wrote to Engels: “I cannot bring myself to send anything off until I have the whole thing in front of me. Whatever shortcomings they may have, the advantage of my writings is that they are an artistic whole, and this can only be achieved through my practice of never having things printed until I have them in front of me in their entirety”. Marx’s dilemma, to “do a fair copy of part of the manuscript and send it to the publisher, or finish writing the whole thing first”, was fortuitously solved by carbuncles. Marx was taken by yet another attack, this time the most violent he had ever had, and found himself close to death. He later told Engels that it was “a close shave this time”; the doctor told him that the reason for the attack was excessive work, particularly his late nights work vigils.

After this alarming event, Marx decided to concentrate only on his first book, the “The Process of Production of Capital”. Nevertheless, the carbuncles continued to torment him and for entire weeks, Marx was not well enough to be seated. In this desperate state, he even tried to operate on himself using a well-sharpened razor.  He later told Engels that he could “lance ‘the cur’ all by himself”. Much to Marx’s disappointment, the completion of his work was delayed not by “theoretical considerations” but because of “physical and bourgeois reasons”.

When in April 1867, the manuscript was finally finished and Marx was ready to travel to Germany to have the book published, he asked a friend from Manchester – who had helped him constantly for 20 years – to send him money so that he could free his “clothes and timepiece from their abode at the pawnbroker’s”. Marx survived with only the essentials without which he could not leave for Germany, where his manuscript would be published. The corrections of the drafts took the remainder of the summer and when Engels observed that the exposition of the idea of Value-form was too abstract and had “the marks of the carbuncles rather firmly stamped on it”, Marx responded: “I hope the bourgeoisie will remember my carbuncles until their dying day”.

Capital went on sale on 14 September 1867. One century and a half after its publication, it has become one of the most translated, sold and discussed works in the story of humanity. For those who wish to understand capitalism, and also why workers must fight for a “superior form of society whose fundamental principle is the full and free development of each individual”, Marx’s Capital is, now more than ever, an indispensable work.

Categories
Journalism

Maoísmo en los Andes: La historia de Abimael Guzmán, líder de Sendero Luminoso

La ciudad se sitúa en el centro de la Sierra peruana y ha estado marcada, durante muchos años, por la miseria extrema. Espacial y culturalmente alejada de Lima y de los centros más modernos del país, se halla inmersa en una tierra cuya producción, hasta hace pocas décadas, consistía en un sistema agrícola todavía organizado sobre bases semifeudales. Un tesoro que no dejado nunca de suscitar el interés de antropólogos y estudiosos de las tradiciones populares. Sin embargo, fue precisamente en este lugar remoto, hasta mediados de los años setenta sin carretera asfaltada que lo comunicara con la costa, sin una auténtica red eléctrica y sin televisión, donde se dieron cita los acontecimientos que cambiaron, irreversiblemente, la historia del Perú y que de nuevo pusieron en boca de todo el mundo a esta nación.
En 1962, un joven profesor universitario de veintiocho años llegó a Ayacucho para enseñar filosofía. Introvertido y esquivo, provenía de la espléndida ciudad de Arequipa, donde había estudiado filosofía en el instituto católico distinguiéndose por su disciplina y ascetismo. Poco después de su llegada, Abimael Guzmán aprendió quechua, la lengua más difundida entre las poblaciones indígenas de América Latina, e inició una intensa militancia política. Años después, llegaría a ser famoso en todo el mundo: el líder de Sendero Luminoso, la guerrilla maoísta que emprendió un sanguinario conflicto con el estado peruanoa partir de 1980, cobrandose casi 70.000 vidas durante veinte años.

En los años sesenta, con el estallido de la crisis chino-soviética, el mundo comunista se dividió en dos bloques. El Partido Comunista Peruano no fue ajeno a esta división y, cuando se formalizó la rupturaen 1964, Guzmán se adhirió a la facción filo-china, El PC Bandera Roja. En los años siguientes se sucedieron las escisiones, hasta que en 1970 dejó la organización y fundó el Partido Comunista de Perú – Sendero Luminoso (SL), grupo que se definió heredero de la Revolución Cultural: “el acontecimiento principal de la historia humana”, que había descubierto “como cambiar las almas”. A pesar de las proclamas, la organización surgió sin relación alguna con el campesinado. En todo el país tuvo sólo 51 partidarios y, durante mucho tiempo, su presencia política se limitó tan sólo a la universidad de Ayacucho, donde iban formándose los profesores y el nuevo personal técnico de toda la región interior y meridional de Perú.

En este período, Guzmán asistió a numerosos cursos sobre José Carlos Mariátegui, un agudo y apreciado marxista peruano (por muchos considerado el Gramsci latinoamericano), desaparecido en 1930 y transformado, a pesar de su alejamiento de toda ortodoxia y dogmatismo, en precursor del maoísmo y padre espiritual de SL. Basándose en esquemáticos manuales marxistas, Guzmán comenzó a difundir entre la juventud andina de la zona una visión del mundo extremadamente determinista. El objetivo perseguido fue el de crear un grupo monolítico, caracterizado por una relación opresiva entre partido político y sociedad, que no reconocía espacio alguno a la autonomía de las luchas. De hecho, SL se opuso sistemáticamente a las huelgas y ocupaciones de las tierras, manifestando en muchas ocasiones intolerancia hacia la cultura indígena.

Con todo, en América Latina, fue precisamente este partido, exiguo pero regido por una férrea disciplina, fuertemente centralizado (su principal órgano directivo estaba compuesto por Guzmán, su mujer y su futura compañera) y protegido por el secreto absoluto de sus militantes, el que más cerca estuvo de la conquista del poder político mediante las armas, empresa lograda sólo por Fidel Castro en Cuba y por los sandinistas en Nicaragua.

La Guerra Popular
Entre 1968 y 1980, Perú, como el resto de países latinoamericanos, conoció su periodo de dictadura militar. A finales de los años setenta, Guzmán dejó la universidad para pasar a la clandestinidad y, habiendo extraído de la lectura de Mao Tse-Tung la convicción de que la guerra fuese una etapa indispensable también para la realidad peruana, promovió la creación del Ejército Guerrillero Popular (EGP) como estructura paralela a SL. En los enunciados de Guzmán, la violencia se transmutó en categoría científica y la muerte, por consiguiente, en el precio que la humanidad debería pagar para alcanzar el socialismo: “el triunfo de la revolución costará un millón de muertos”.

El conflicto nació en un clima surreal. En mayo de 1980, durante el transcurso de las primeras elecciones políticas desde 1980, en la plaza central de Chuschi, pueblo poco distante de Ayacucho, los militantes de SL quemaron todas las papeletas electorales. El episodio fue totalmente ignorado, del mismo modo que lo fue el macabro episodio al que debieron asistir los habitantes de Lima pocos meses después cuando, al despertar, encontraron decenas de perros muertos, colgados de algunos semáforos y postes de la luz de las calles, con los carteles, para la mayoría incomprensibles, “Deng Xiaoping hijo de perra”.

En los primeros dos años y medio de guerra, el estado subestimó totalmente la determinación de SL. A mediados de los setenta, al menos 74 organizaciones marxistas-leninistas diferentes operaban en Perú y cuando el gobierno de Fernando Belaúnde decidió intervenir lo hizo sin conocimiento alguno de la estrategia política y militar de la formación que combatía, erróneamente considerada similar a otras guerrillas latinoamericanas (por ejemplo las de matriz guevarista) de las que, sin embargo, estaba totalmente alejada. A pesar del todavía escaso número de sus militantes, que entretanto había ascendido a 520, y el carácter rudimentario de su arsenal, la mayor parte viejos fusiles, la guerra popular de SL avanzó notablemente en este período. Belaunde decidió entonces utilizar las fuerzas armadas y Ayacucho se convirtió en el área de un comando político-militar de la entera región.

Esta segunda fase del conflicto se distinguió por la violenta represión contra las poblaciones locales. El racismo de los soldados llegados de la ciudad, que identificaban en cada campesino un peligro potencial y, por tanto, un objetivo a eliminar, contribuyó a incrementar el número de muertos. Laslibertades políticas fueron suprimidas, y las autoridades civiles sustituidas por exponentes del ejército que dirigían, arbitrariamente y con abusos, los Comités de Defensa Civiles, a medio camino entre campamentos militares y centros de tortura. Frente a esta estrategia, SL respondió intentando crear áreas de “contrapoder”: los Comités Populares. Es decir, “zonas liberadas”, rígidamente gobernadas por comisarios nombrados por el partido, que servían de base de apoyo a la guerrilla. Además, en el trienio siguiente, Guzmán decidió extender el conflicto a escala nacional, partiendo de la capital. Por consiguiente, a finales de la década (en 1984 había surgido también la guerrilla Movimiento Revolucionario Tupac Amaru), el 50% del territorio estaba bajo control militar.

En esta fase, el proceder de Guzmán degeneró en el más extremo de los maniqueísmos, en virtud del cual, identificados como enemigos absolutos cuantos no pertenecían al partido, toda realidad política no controlada por SL se convirtió en objetivo militar, incluidos representantes de campesinos, sindicalistas y líderes de organizaciones femeninas. La estrategia seguida consistió en el aniquilamiento selectivo, con el objetivo de crear vacíos de poder para después ocuparlos por dirigentes y militantes de la organización. En efecto, autoridades locales (incluidas las fuerzas del orden) y dirigentes sociales representaron, tras los campesinos que se oponían a sus directrices, el segundo blanco di SL. En total, más 1500 muertos, el 23% de los cuales fueron asesinados deliberadamente por sus militantes, es decir, no en atentados de gran escala.

La Cuarta Espada Del Marxismo
Si en Moscú Gorbachov daba curso a la Perestrojka y en Pekin Deng Xiaoping dirigía China hacia el capitalismo, en Lima, Guzmán decidió incrementar el número de ataques. Golpeado en su fortaleza rural, su ascendente creció, por el contrario, en la capital (un “monstruo” de siete millones de habitantes con más de 100.000 refugiados provenientes de las zonas en conflicto). Ello fue posible por el espíritu de revuelta que permeaba las clases populares golpeadas por los desastres sociales fruto del estallido de una grave crisis económica (en 1989 la hiperinflación llegó al 2.775%) y por las políticas neoliberales impuestas por los tecnócratas próximos a Alberto Fujimori, el dictador que llegó el poder con las elecciones de 1990 y autor, en 1992, de un autogolpe que condujo al cierre del parlamento y a la supresión de todas las libertades democráticas.

Entre tanto, alrededor de Guzmán sobrevolaban el terror o la reverencia. Si el primer sentimiento se generaba, en quienes habían tomado partido contra SL, por el miedo de represalias mortales, el segundo aumentó entre los miembros de esta organización después del primer congreso del partido, celebrado en 1988. El culto a su personalidad llegó a niveles psicopáticos. Desaparecida cualquier referencia al socialismo de Mariáetegui, Guzmán, que había adoptado el nombre de Presidente Gonzalo, “jefe del partido y de la revolución”, se transformó en una figura semi-divina por la cual todos los militantes (SL llegó a tener 3000 partidarios, mientras que el EGP a 5000) se comprometían, incluso por escrito, a sacrificar la vida. En los materiales de propaganda difundidos en la época, se comenzó a hablar de él como de la “cuarta espada (después de Marx, Lenin y Mao) del marxismo”, del “más grande marxista vivo en la tierra” o de la “encarnación del pensamiento más elevado en la historia de la humanidad”.

En realidad durante gran parte del conflicto, Guzmán nunca dejó Lima y se mantuvo alejado de los riesgos y privaciones de la guerra. Poco después de su captura, en Septiembre de 1992, propuso el acuerdo de paz que había siempre rechazado categóricamente con anterioridad y, a cambio de privilegios penales, llegó hasta a elogiar el régimen de Fujimori. Siguieron otros ocho años de guerrilla de baja intensidad entre el estado peruano, profundamente corrupto y autoritario, y el sector del SL (Proseguir) que no había aceptado el giro del “Presidente Gonzalo”, el líder que será recordado por haber dado vida a la experiencia política más abominable, en América Latina, en nombre del socialismo.

Categories
Journalism

Đọc Karl Marx! Một cuộc trao đổi với Immanuel Wallerstein

Trong ba thập kỉ qua, các chính sách và hệ tư tưởng tân tự do gần như không bị thách thức trên toàn thế giới. Tuy nhiên, cuộc khủng hoảng kinh tế năm 2008, cùng với những bất bình đẳng sâu sắc tồn tại trong lòng xã hội chúng ta – đặc biệt giữa phương Bắc và phương Nam– và các vấn đề môi trường đầy thảm họa của thời đại chúng ta đã thúc giục nhiều học giả, nhà phân tích kinh tế và chính trị gia mở lại cuộc tranh luận về tương lai của chủ nghĩa tư bản và sự cần thiết của một đối chọn khác. Chính trong bối cảnh này, hầu như ở khắp nơi trên thế giới, nhân dịp sinh nhật lần thứ 200 của Marx, đã có “sự hồi sinh của Marx”; trở về với vị tác gia trong quá khứ vốn thường bị gắn kết một cách sai trái với chủ nghĩa giáo điều Marx – Lenin, và sau đó nhanh chóng bị bác bỏ sau sự sụp đổ của Bức tường Berlin [tháng 11/ 1991].
Trở lại với Marx không chỉ là cần thiết để hiểu được lô gíc và cơ năng của chủ nghĩa tư bản. Công trình của ông cũng là một công cụ rất hữu ích, cung cấp một cuộc thẩm tra nghiêm ngặt giải thích tại sao các thử nghiệm kinh tế xã hội trước đó thay thế chủ nghĩa tư bản bằng một phương thức sản xuất khác lại thất bại. Sự giải thích về những thất bại này là điều rất quan trọng để chúng ta tìm kiếm những lựa chọn thay thế hiện nay.

Immanuel Wallerstein (www.iwallerstein.com), hiện tại ông là học giả cao cấp (Senior Research Scholar) tại đại học Yale, New Haven – Hoa Kì, là một trong những nhà xã hội học vĩ đại nhất còn sống, và là một trong những học giả thích hợp nhất để thảo luận về tính phù hợp cho hiện tại của Marx. Ông là một độc giả của Marx trong thời gian dài và công trình của ông chịu ảnh hưởng bởi lí thuyết của nhà cách mạng sinh ra ở Trier, ngày 5 tháng 5 năm 1818 này. Wallerstein đã viết hơn 30 cuốn sách, được dịch ra nhiều thứ tiếng, bao gồm cả tác phẩm nổi tiếng The Modern World-System [Hệ thống-Thế Giới Hiện Đại], xuất bản thành 4 tập trong khoảng thời gian từ năm 1974 đến năm 2011.

Marcello Musto: Giáo sư Wallerstein, 30 năm sau khi kết thúc cái gọi là “chủ nghĩa xã hội hiện thực”, đã liên tục có các ấn phẩm, những cuộc tranh luận và các hội nghị trên toàn cầu về khả năng của Karl Marx để tiếp tục giải thích hiện tại. Điều này có đáng ngạc nhiên không? Hay ông có tin rằng ý tưởng của Marx sẽ vẫn phù hợp với những người đang tìm kiếm một sự thay thế cho chủ nghĩa tư bản?

Immanuel Wallerstein: Có một câu chuyện cũ về Marx: bạn ném ông ấy ra cửa trước và rồi ông lại lẻn vào qua cửa sổ phía sau. Đó là những gì đã tái diễn. Marx rất phù hợp, bởi chúng ta phải xử lí các vấn đề mà ông vẫn còn có rất nhiều điều để nói và bởi những gì ông nói thì khác với những gì mà hầu hết các tác giả khác lập luận về chủ nghĩa tư bản. Nhiều nhà báo và học giả – không chỉ bản thân tôi – nhận thấy Marx cực kì hữu ích và ngày nay ông đang ở trong một giai đoạn nổi tiếng mới của mình, bất chấp những gì đã được dự đoán vào năm 1989.

Marcello Musto: Sự sụp đổ của Bức tường Berlin đã giải phóng Marx ra khỏi các chuỗi của một hệ tư tưởng ít có liên quan đến quan niệm về xã hội của ông. Bối cảnh chính trị sau sự sụp đổ của Liên bang Xô Viết [năm 1991] đã giúp Marx được giải phóng ra khỏi vai trò bù nhìn cho một bộ máy nhà nước. Điều gì khiến những giải thích của Marx về thế giới tiếp tục thu hút sự chú ý?

Immanuel Wallerstein: Tôi tin rằng khi mọi người nghĩ tới cách diễn giải của Marx về thế giới bằng một khái niệm thì họ sẽ nghĩ đến “đấu tranh giai cấp”. Khi tôi đọc Marx dưới ánh sáng của các vấn đề hiện tại, đối với tôi, đấu tranh giai cấp là cuộc đấu tranh cần thiết của cái mà tôi gọi là Cánh Tả Toàn Cầu – những người mà tôi tin rằng nỗ lực để đại diện cho 80% dân số trên thế giới thuộc tầng lớp bên dưới tính theo thu nhập – chống lại Cánh Hữu Toàn Cầu – đại diện cho khoảng 1% dân số. Cuộc đấu tranh giai cấp giành giựt 19% dân số còn lại. Và đó là cuộc đấu tranh để làm sao họ về phe đông đảo, hơn là về phe còn lại.
Chúng ta đang sống trong thời đại khủng hoảng có tính cấu trúc của hệ thống thế giới. Hệ thống tư bản không thể tồn tại, nhưng không ai có thể biết chắc chắn điều gì sẽ thay thế nó. Tôi tin rằng có hai khả năng: một là cái mà tôi gọi là “Tinh thần Davos”. Mục tiêu của Diễn đàn Kinh tế Thế giới Davos là thiết lập một hệ thống duy trì những đặc điểm tồi tệ nhất của chủ nghĩa tư bản: tình trạng phân cấp xã hội, bóc lột và, trên hết là, phân cực giàu nghèo. Phương án thay thế là một hệ thống phải dân chủ hơn và bình đẳng hơn. Đấu tranh giai cấp là nỗ lực cơ bản để tác động đến tương lai của những gì sẽ thay thế chủ nghĩa tư bản.

Marcello Musto: Suy ngẫm của ông về tầng lớp trung lưu khiến tôi nhớ tới ý tưởng về bá quyền của Antonio Gramsci, nhưng tôi nghĩ điểm mấu chốt là làm cách nào để thúc đẩy cả khối người, nhóm 80% mà ông đã đề cập, tham gia chính trị. Điều này có ý nghĩa rất quan trọng đối với phương Nam, nơi phần lớn dân số thế giới tập trung, và ở đó, trong những thập kỉ qua, bất chấp tình trạng bất bình đẳng ngày càng gia tăng do chủ nghĩa tư bản tạo ra, các phong trào tiến bộ đã yếu hơn nhiều so với trước đây. Ở những vùng này, phe đối lập với quá trình toàn cầu hóa tân tự do thường được chuyển đổi thành phe ủng hộ các xu thế bảo căn tôn giáo cũng như thành các phe bài ngoại. Chúng ta ngày càng thấy hiện tượng này đang trỗi dậy ở châu Âu.
Câu hỏi đặt ra là: Marx có giúp ta hiểu kịch bản mới này không? Các nghiên cứu được công bố gần đây đã cung cấp những diễn giải mới về Marx có thể góp phần mở “cửa sổ phía sau” khác trong tương lai, để sử dụng thành ngữ của ông. Các công trình này bộc lộ một tác giả đã mở rộng việc thẩm tra những mâu thuẫn của xã hội tư bản, vượt ra ngoài mâu thuẫn giữa tư bản và lao động, sang các lĩnh vực khác. Sự thật là, Marx đã dành rất nhiều thời gian cho việc nghiên cứu các xã hội ngoài châu Âu và vai trò hủy hoại của chủ nghĩa thực dân ở ngoại vi của chủ nghĩa tư bản. Một cách nhất quán, trái ngược với những cách giải thích đồng nhất quan điểm chủ nghĩa xã hội của Marx với sự phát triển của các lực lượng sản xuất, các mối quan tâm về sinh thái được làm nổi bật trong công trình của ông.
Cuối cùng, Marx rất quan tâm đến một số chủ đề khác mà các học giả thường bỏ qua khi nói về ông. Trong số đó có tính tiềm năng về công nghệ, sự phê phán chủ nghĩa dân tộc, việc tìm kiếm các hình thức sở hữu tập thể không bị nhà nước kiểm soát và nhu cầu tự do cá nhân trong xã hội đương đại: đó cũng chính là tất cả các vấn đề cơ bản của thời đại chúng ta. Nhưng bên cạnh những bộ mặt mới của Marx – điều này gợi ý là mối quan tâm trở lại đối với tư duy của ông là một hiện tượng sẽ còn tiếp diễn trong những năm tới – ông có thể chỉ ra ba ý tưởng được công nhận nhất của Marx mà ông cho là đáng được xem xét lại ngày nay không?

Immanuel Wallerstein: Trước hết, Marx đã giải thích cho chúng ta tốt hơn bất kì người nào khác rằng chủ nghĩa tư bản không phải là cách tự nhiên để tổ chức xã hội. Trong The Poverty of Philosophy [Sự Khốn Cùng của Triết học], xuất bản khi ông mới 29 tuổi, ông đã chế giễu các nhà kinh tế chính trị tư sản, những người đã lập luận rằng quan hệ tư bản “là quy luật tự nhiên, độc lập với sự ảnh hưởng của thời gian”. Marx viết rằng đối với họ “đã từng có lịch sử, vì trong các xã hội phong kiến, chúng ta tìm thấy những quan hệ sản xuất khá khác với những quan hệ sản xuất trong những ​​xã hội tư sản”, nhưng họ không áp dụng lịch sử cho phương thức sản xuất mà họ ủng hộ; họ biểu trưng chủ nghĩa tư bản “như một thứ gì đó tự nhiên và vĩnh viễn”. Trong cuốn Historical Capitalism [Chủ nghĩa Tư bản Lịch sử] của mình, tôi đã cố gắng nhấn mạnh rằng chủ nghĩa tư bản là những gì đã diễn ra trong lịch sử, trái ngược với một số ý tưởng mơ hồ và không rõ ràng được một số nhà kinh tế chính trị dòng chính tán thành. Tôi lập luận nhiều lần rằng chẳng có chủ nghĩa tư bản nào mà không phải là chủ nghĩa tư bản lịch sử. Với tôi điều này đơn giản như thế và chúng ta nợ Marx rất nhiều.
Thứ hai, tôi muốn nhấn mạnh tầm quan trọng của khái niệm “tích lũy ban đầu”, có nghĩa là chính việc nông dân bị truất quyền sở hữu ruộng đất là nền tảng của chủ nghĩa tư bản. Marx hiểu rất rõ rằng đó là một quá trình quan trọng hình thành sự thống trị của giai cấp tư sản. Nó đã có từ lúc khởi đầu của chủ nghĩa tư bản và vẫn tồn tại ngày nay.
Cuối cùng, tôi muốn mời gọi suy ngẫm nhiều hơn về chủ đề “tư hữu và chủ nghĩa công sản”. Trong hệ thống đã được thành lập ở Liên bang Xô Viết – đặc biệt là dưới thời Stalin – nhà nước sở hữu tài sản nhưng nó không đồng nghĩa là mọi người không bị bóc lột hoặc bị áp bức. Họ đã bị như thế. Nói về chủ nghĩa xã hội ở một đất nước, như Stalin đã làm, cũng là một thứ chẳng bao giờ đi vào tâm khảm của bất kì người nào, kể cả Marx, trước thời kì đó. Sở hữu công về các phương tiện sản xuất là một khả năng. Chúng cũng có thể là đối tượng của việc đồng sở hữu. Nhưng ta phải biết người nào đang sản xuất và người nào đang nhận giá trị thặng dư nếu ta muốn thiết lập một xã hội tốt hơn. Điều đó phải được tổ chức lại hoàn toàn, so sánh với chủ nghĩa tư bản. Đó là câu hỏi then chốt đối với tôi.

Marcello Musto: Năm 2018 đánh dấu sinh nhật lần thứ 200 của Marx và những cuốn sách cũng như các bộ phim mới đã được xuất bản để tưởng nhớ về cuộc đời ông. Có giai đoạn nào trong tiểu sử của Marx mà ông thấy thú vị nhất không?

Immanuel Wallerstein: Marx có một cuộc sống rất khó khăn. Ông đã đấu tranh chống lại tình trạng nghèo khổ của bản thân và ông đã may mắn có một người đồng chí như Friedrich Engels, người đã giúp ông [tiếp tục] sinh tồn. Marx cũng không có một đời sống tình cảm dễ dàng và ông rất kiên trì, nỗ lực làm những gì mà ông nghĩ rằng đó là công trình của đời mình – sự hiểu biết về cách thức hoạt động của chủ nghĩa tư bản – thật đáng ngưỡng mộ. Đây là những gì mà ông thấy bản thân mình đang làm. Marx không muốn giải thích về thời cổ đại, cũng như không định nghĩa thế nào là chủ nghĩa xã hội trong tương lai. Đây không phải là nhiệm vụ mà ông tự đặt ra cho mình. Ông muốn hiểu về thế giới tư bản [trong thời đại] mà ông đang sống.

Marcello Musto: Trong suốt cuộc đời của mình, Marx không chỉ đơn thuần là một học giả đứng đơn độc giữa những cuốn sách trong Viện bảo tàng Anh ở London, mà ông cũng luôn là một nhà cách mạng, một chiến binh tham gia vào cuộc đấu tranh trong thời đại của mình. Vì những hoạt động của mình, ông đã bị trục xuất khỏi Pháp, Bỉ và Đức vào lúc trẻ. Ông cũng buộc phải đi lưu vong ở nước Anh khi cuộc cách mạng năm 1848 bị thất bại. Ông tích cực viết báo và tạp chí cũng như luôn ủng hộ phong trào lao động theo mọi cách có thể. Sau đó, từ năm 1864 đến năm 1872, ông trở thành lãnh đạo của Hội liên hiệp Lao động Quốc tế [Quốc tế đệ nhất], tổ chức xuyên quốc gia đầu tiên của giai cấp công nhân, và năm 1871, bảo vệ Công Xã Paris, thử nghiệm xã hội chủ nghĩa đầu tiên trong lịch sử.

Immanuel Wallerstein: Vâng, đúng như thế. Đó là điều cần thiết để nhớ về sự đấu tranh của Marx. Như ông vừa nêu lên một cách nổi bật trong cuốn Workers Unite! [Công Nhân Đoàn Kết!], Marx đã có một vai trò phi thường trong Quốc tế [Đệ nhất], một tổ chức của những người ở cách xa nhau về mặt địa lí, tại một thời điểm khi chưa có các cơ chế giao tiếp thuận tiện. Hoạt động chính trị của Marx cũng liên quan đến báo chí. Ông đã thực hiện điều đó trong suốt cuộc đời của mình, như một cách giao tiếp với một lượng độc giả lớn hơn. Ông làm việc như một nhà báo để có thu nhập, nhưng ông lại nhận thấy những đóng góp của mình như một hoạt động chính trị. Ông không có bất kì cảm giác nào về việc mình là người trung lập. Ông luôn là một nhà báo dấn thân.

Marcello Musto: Vào năm 2017, nhân dịp kỉ niệm 100 năm Cách mạng [tháng 10] Nga, một số học giả đã trở lại với [chủ đề] sự tương phản giữa Marx và những nhà cầm quyền trong thế kỉ 20 tự nhận mình là học trò của Marx. Sự khác biệt chính yếu giữa Marx và họ là gì?

Immanuel Wallerstein: Các tác phẩm của Marx đang tỏa sáng, tinh tế và đa dạng hơn một số cách giải thích đơn giản về ý tưởng của ông. Sẽ rất tốt nếu ta luôn nhớ đến câu nói hóm hỉnh nổi tiếng của Marx: “Nếu đây là chủ nghĩa Marx, chắc chắn là tôi không phải là một người theo chủ nghĩa Marx.” Marx luôn luôn sẵn sàng để xử lí thực tiễn thế giới, không giống như nhiều người khác áp đặt quan điểm của họ. Marx thường xuyên đổi ý. Ông liên tục tìm kiếm các giải pháp cho các vấn đề mà ông thấy rằng thế giới đang phải đối mặt. Đó là lí do tại sao ông vẫn là một người hướng dẫn rất hữu ích và hữu dụng.
Marcello Musto: Để kết thúc [cuộc trò chuyện này], ông muốn nói gì với thế hệ trẻ, những người chưa từng gặp Marx?

Immanuel Wallerstein: Điều đầu tiên tôi phải nói với những người trẻ rằng họ phải đọc Marx. Đừng đọc về Marx, mà hãy đọc Marx. Rất ít người – so với nhiều người luôn nói về Marx – thực sự đọc Marx. Điều đó cũng đúng với Adam Smith. Nói chung, người ta chỉ đọc về những tác giả kinh điển này. Mọi người tìm hiểu về họ thông qua phần tóm tắt của người khác. Họ muốn tiết kiệm thời gian nhưng, thực sự, đó lại là một sự lãng phí thời gian! Mọi người phải đọc những người thú vị và Marx chính là học giả thú vị nhất của thế kỉ 19 và 20. Chẳng còn gì phải nghi ngờ nữa. Chẳng có ai là có thể bằng ông về số lượng những điều ông viết, cũng như [bằng ông] về chất lượng trong phân tích của ông. Vì vậy, thông điệp của tôi với thế hệ mới đó là Marx cực kì đáng được khám phá và bạn phải đọc, đọc, đọc Marx. Hãy đọc Karl Marx!

Categories
Journalism

Militansi Politik Marx Di Masa Asosiasi Kelas Pekerja Internasional (Bagian II)

I. Pentingnya Partai Politik setelah Komune Paris

SETELAH kemenangan Jerman di Sedan dan penangkapan Bonaparte, rakyat Paris berbalik melawan Adolphe Thiers, dan pada 18 Maret 1871 memulai peristiwa politik besar pertama dalam kehidupan gerakan buruh: Komune Paris (Paris Commune).

Tetapi selama “minggu berdarah” (21-28 Mei 1871), sekitar sepuluh ribu Communard (para pendukung Komune Paris) terbunuh dalam pertempuran atau dieksekusi secara sewenang-wenang; sebuah pembantaian paling berdarah dalam sejarah Prancis. 43.000 lainnya atau lebih ditawan, 13.500 di antaranya kemudian dijatuhi hukuman mati, dipenjara, di pekerja paksakan atau di deportasi. Sejak saat itu, Internasional berada di ambang badai, dituding sebagai provokator untuk setiap tindakan melawan kekuasaan yang mapan. “Ketika kebakaran besar melanda Chicago,” Marx merenung dengan ironi yang pahit, “surat kawat (telegram) di seluruh dunia mengumumkannya sebagai perbuatan terkutuk Internasional; dan yang sungguh menakjubkan bahwa gerakan keji itu tidak dikaitkan dengan badai yang menghancurkan West Indies”.

Namun demikian, pemberontakan Paris semakin memperkuat gerakan buruh, mendorongnya untuk mengambil posisi yang lebih radikal dan mengintensifkan militansinya. Pengalaman menunjukkan bahwa revolusi adalah mungkin, bahwa tujuannya dapat dan harus membangun masyarakat yang benar-benar berbeda dari tatanan kapitalis, tetapi juga bahwa, untuk mencapai ini, para pekerja harus menciptakan bentuk-bentuk asosiasi politik yang tahan lama dan terorganisir dengan baik. Ide-ide ini kemudian diperkenalkan dalam undang-undang (statuta) organisasi di Konferensi London pada September 1871. Salah satu resolusi yang disahkan di sana menyatakan: “bahwa untuk melawan kekuatan kolektif dari kelas-kelas berpunya, kelas pekerja tidak dapat bertindak, sebagai kelas, kecuali dengan membentuk dirinya menjadi sebuah partai politik (…); bahwa pengolompokkan kelas buruh ke dalam sebuah partai politik sangat diperlukan untuk memastikan kemenangan revolusi sosial dan tujuan akhirnya – penghapusan kelas-kelas”. Kesimpulannya jelas: “gerakan ekonomi [kelas pekerja] dan aksi politiknya menyatu tidak terpisahkan”.

Sementara Kongres Jenewa tahun 1866 menetapkan pentingnya serikat pekerja, Konferensi London 1871 menggeser fokus ke instrumen kunci lain dari gerakan buruh modern: partai politik. Bagi Marx, emansipasi diri kelas pekerja membutuhkan proses yang panjang dan sulit – kebalikan dari teori dan praktik dari Catechism of a Revolutionary-nya Sergei Nechaev yang dianjurkan oleh perkumpulan rahasia yang dikutuk oleh para delegasi di London, tetapi didukung dengan sangat antusias oleh Mikhail Bakunin.

Untuk semua klaim manfaat yang menyertainya, kejadian London dilihat oleh banyak orang sebagai campur tangan yang kasar. Tidak hanya kelompok-kelompok yang terkait dengan Bakunin tetapi hampir semua federasi dan seksi-seksi lokal menganggap prinsip otonomi dan menghormati realitas yang beragam telah menjadikan Internasional sebagai salah satu pilarnya. Kesalahan perhitungan dari Marx ini kemudian mempercepat krisis organisasi.

Pertarungan terakhir antara kelompok ‘sentralis’ dan kelompok ‘otonomis’ terjadi di Kongres Den Haag, pada September 1872. Menyadari pentingnya Kongres ini, Marx, dengan ditemani Engels, memutuskan untuk hadir secara pribadi. Inilah satu-satunya kongres Internasional yang dihadirinya. Seluruh sesi kongres ditandai dengan antagonisme dimana kedua kubu gagal mencapai kata sepakat, dan persetujuan atas resolusi dimungkinkan hanya karena komposisi yang terdistorsi. Bagaimanapun, setelah momen ini, partai dianggap penting untuk perjuangan proletariat: partai harus independen dari semua kekuatan politik yang ada dan akan dibangun, baik secara program maupun organisasi, berdasarkan konteks nasional.

II. Sumbangan Internasional kepada Marx

Hasil dari Konferensi London dan Kongres Den Haag secara signifikan memperburuk krisis internal, dengan tidak memperhitungkan suasana yang berlaku atau untuk menampilkan pandangan ke depan yang diperlukan guna menghindari menguatnya pengaruh Bakunin dan kelompoknya. Ini membuktikan kemenangan yang menghancurkan (Pyrrhic victory) buat Marx – yang, dalam upaya menyelesaikan konflik internal, akhirnya menonjolkan mereka. Namun demikian, tetap saja bahwa keputusan yang diambil di London hanya mempercepat proses yang sudah berjalan dan tidak mungkin dibalik.

Di samping seluruh pertimbangan-pertimbangan sejarah dan organisasional ini, terdapat juga pertimbangan lain yang tidak kalah pentingnya terkait penyebab utama krisis Internasional. Sebagaimana telah diingatkan Marx kepada para delegasi di suatu sesi Konferensi London tahun 1871, “pekerjaan Dewan telah menjadi sangat besar, yang diwajibkan untuk menangani masalah-masalah umum dan masalah nasional”. Internasional kini bukan lagi organisasi yang kecil seperti pada 1864, yang kakinya hanya ada di Inggris dan Prancis; ia kini telah berdiri di seluruh negara Eropa, dengan masalah-masalah dan karakter-karakternya yang khusus. Tidak hanya organisasi di mana-mana dirundung konflik internal, tetapi kedatangan para pendukung Komune yang mengungsi di London, dengan gangguan-ganguan baru dan muatan ide-ide yang beraneka ragam, menyebabkan tugas Dewan Umum untuk melaksanakan kerja-kerja penyatuan politik kian bertambah sulit.

Selama delapan tahun, Marx dengan sangat bersemangat aktif dalam Internasional. Sadar bahwa kekuatan buruh sedang mengalami kemunduran menyusul kekalahan Komune Paris – fakta paling penting saat itu baginya – ia kemudian mengabdikan sisa hidupnya untuk menyelesaikan Capital. Ketika ia menyeberangi Laut Utara menuju Belanda, ia merasakan bahwa pertempuran yang sedang menunggunya merupakan aktivitasnya yang terakhir sebagai seorang pelaku langsung aktivitas revolusioner itu.

Dari seorang sosok yang semula diremehkan pada pertemuan pertama di St. Martin Hall pada 1864, Marx kemudian diakui sebagai pemimpin Internasional, tidak hanya oleh para peserta kongres dan Dewan Umum, tapi juga oleh publik luas. Jadi, walaupun Internasional tentu berutang banyak hal pada Marx, Internasional juga telah mengubah hidupnya. Sebelum berdirinya Internasional, ia hanya dikenal di lingkaran kecil aktivis politik. Kemudian, dan di atas segalanya setelah Komune Paris – juga, tentu saja, publikasi karya besarnya pada 1867 – ketenaranya menyebar di kalangan revolusioner di banyak negara Eropa, keadaan dimana media menjulukinya sebagai “red terror doctor.” Dengan tanggung jawab yang melekat atas perannya di Internasional – yang memungkinkannya untuk mengalami langsung dari dekat begitu banyak perjuangan ekonomi dan politik – kemudian mendorongnya untuk melakukan refleksi yang mendalam akan komunisme dan memperkaya keseluruhan teori anti kapitalisnya.***

Categories
Journalism

Militansi Politik Marx Di Masa Asosiasi Kelas Pekerja Internasional (Bagian I)

I. Sumbangan Marx pada Internasional

ASOSIASI Kelas Pekerja Internasional (The International Working Men’s Association) – didirikan pada 28 September 1864, adalah sebuah organisasi tempat dimana berbagai aliran politik yang berbeda mampu hidup berdampingan satu sama lain.

Serikat buruh reformis dari Inggris, kaum mutualis Prancis yang terinspirasi oleh teori-teori Pierre-Joseph Proudhon, kalangan antikapitalis, dan berbagai kelompok lain, termasuk mereka yang dipengaruhi oleh ide-ide kaum sosialis ‘utopian’, berpartisipasi selama delapan tahun yang intens untuk mengembangkan pengalaman pertama dari politik transnasional gerakan buruh.
Untuk memastikan kebersamaan semua aliran dalam sebuah organisasi yang sama, dengan program yang sangat berbeda dari pendekatan semula dari masing-masing partisipan, merupakan sebuah prestasi gemilang seorang Karl Marx. Kecerdasan politiknya membuatnya sanggup merekonsiliasikan sesuatu yang tampaknya mustahildirekonsiliasikan, memastikan Internasional tidak secara tergesa-gesa mengikuti jalan buntu dari banyak asosiasi-asosiasi buruh yang telah ada sebelumnya. Adalah Marx yang memberikan tujuan jelas kepada Internasional, dan Marx juga yang mencapai pendekatan non-eksklusif, namun tegas berbasiskan kelas, memenangkan program politik yang berkarakter massa, yang melampaui seluruh sektarianisme. Roh politik dari Dewan Umum (General Council) selalu adalah Marx: dialah yang menulis rancangan dari seluruh resolusi-resolusi utama dan mempersiapkan seluruh laporan-laporan kongres.
Marx jugalah yang menulis Pidato Pembukaan (Inaugural Address) dan Statuta Sementara (Provisional Statutes) dari Internasional. Dalam dua teks fundamental ini, sebagaimana yang diikuti banyak orang, Marx merangkai gagasan-gagasan terbaik dari berbagai kompomen dari Internasional. Dia memastikan bahwa antara perjuangan ekonomi dan perjuangan politik terhubung satu sama lain, dan menjadikan pemikiran dan aksi internasional sebagai pilihan yang tidak bisa diganggu-gugat. Berkat kemampuan Marx lah Internasional mampu mengembangkan fungsi sintesis politiknya, menyatukan berbagai konteks nasional dalam proyek perjuangan bersama sembari mengakui signifikansi otonomi mereka, tetapi bukan independensi total, dari arahan pusat. Mengelola persatuan ini, sungguh meletihkan, khususnya anti-kapitalisme Marx tidak pernah menempati posisi politik dominan dalam organisasi. Namun demikian, dari waktu ke waktu, khususnya melalui keuletannya, atau melalui perpecahan yang kadang terjadi, pemikiran Marx kemudian menjadi doktrin yang hegemonik. Bukan hal yang mudah memang, namun upaya elaborasi politik tersebut sangat diuntungkan dari perjuangan selama tahun-tahun itu. Karakter dari mobilisasi buruh, tantangan anti-sistemik dari Komune Paris, tugas yang belum pernah ada sebelumnya dalam menyatukan organisasi besar dan rumit seperti itu, polemik berkelanjutan dengan tendensi-tendensi lain dalam gerakan buruh tentang berbagai isu-isu teoritik dan politik: kesemuanya ini mendorong Marx melampaui batas-batas ekonomi politik semata, yang menyerap begitu banyak perhatiannya sejak kekalahan revolusi 1848 dan surutnya kekuatan yang paling progresif.
Dia juga terangsang untuk mengembangkan dan kadang-kadang merevisi gagasannya, menempatkan keyakinan-keyakinan lama untuk didiskusikan kembali dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan baru kepada dirinya sendiri, dan secara khusus mempertajam kritiknya atas kapitalisme melalui penggambaran garis-garis besar masyarakat komunis. Pandangan ortodoks lama tentang peran Marx dalam Internasional, yang mengatakan bahwa ia secara mekanis menerapkan sebuah teori politik yang telah ia tempa dalam batas-batas ruang kerjanya ke dalam sebuah tahapan sejarah, dengan demikian secara keseluruhan telah menceraikannya dari kenyataan
Dalam salah satu dokumen kunci organisasi-politik Internasional, Marx meringkas fungsi-fungsi organisasi sebagai berikut: “merupakan urusan Asosiasi Pekerja Internasional untuk menggabungkan dan menyelaraskan gerakan spontan kelas pekerja, tetapi tidak mendikte atau memaksakan doktrin dari sistem apapun”. Meskipun otonomi luas diberikan kepada federasi-federasi dan sekdi-seksi lokal, Internasional selalu mempertahankan inti kepemimpinan politik. Dewan Umum adalah badan
yang menyusun sintesa pemersatu mengenai isu-isu luas, seperti: kondisi-kondisi kerja, efek-efek dari mesin baru, dukungan untuk pemogokan, peran dan pentingnya serikat-serikat buruh, masalah Irlandia, berbagai kebijakan luar negeri yang penting, dan, tentu saja, bagaimana membangun masyarakat masa depan.

II. Kemenangan Atas Kaum Mutualis
Pada bulan September 1866, kota Jenewa menjadi tuan rumah kongres pertama Internasional. Mereka yang terlibat dalam kongres secara mendasar terbelah dalam dua blok. Blok pertama terdiri atas delegasi dari Inggris, beberapa orang Jerman dan mayoritas orang-orang Swiss. Blok ini mengikuti arahan Dewan Umum yang disusun oleh Marx (yang tidak hadir di Jenewa). Blok kedua terdiri dari delegasi Prancis dan beberapa dari Swiss berbahasa Prancis, yang dibentuk oleh kelompok mutualis. Ketika itu, dalam kenyataannya, posisi moderat merupakan hal yang lazim dalam Internasional dan para mutualis membayangkan suatu masyarakat di mana pekerja sekaligus merupakan produser, kapitalis dan konsumen. Mereka menganggap pemberian kredit gratis sebagai tindakan yang menentukan untuk mentransformasikan masyarakat; menganggap pekerja perempuan tidak dapat diterima baik dari sudut pandang etika maupun sosial; dan menentang setiap campur tangan negara dalam hubungan kerja (termasuk undang-undang untuk mengurangi jam kerja menjadi delapan jam) dengan alasan bahwa itu akan mengancam hubungan pribadi antara pekerja dan pengusaha dan memperkuat sistem yang saat ini berlaku.
Dengan mendasarkan diri pada resolusi-resolusi yang disiapkan oleh Marx, para pemimpin Dewan Umum sukses meminggirkan kelompok mutualis dalam kongres, dan meraih dukungan suara berkaitan dengan campur tangan negara. Mengenai isu selanjutnya, dalam Petunjuk untuk Para Delegasi Dewan Umum Sementara (Instructions for Delegates of the Provisional General Council), Marx telah mengeja semuanya dengan jelas: “ini hanya dapat dilakukan dengan mengubah nalar sosial (social reason) menjadi kekuatan sosial (social force), dan dalam keadaan tertentu, tidak ada metode lain yang eksis dalam melakukannya,kecuali melalui hukum-hukum umum (general laws), yang ditegakkan oleh kekuatan negara. Dalam menegakkan undang-undang tersebut (reformasi sosial), kelas pekerja tidak membela kekuasaan pemerintah. Sebaliknya, mereka mentransformasikan kekuasaan tersebut, yang kini digunakan untuk melawan mereka (kelas buruh), menjadi agen untuk kepentingan mereka sendiri. Kelas buruh akan punya pengaruh ketika bertindak bersama-sama dan sebaliknya menjadi sia-sia ketika mereka bertindak sebagai gerombolan individu yang terisolasi”.
Selain itu, instruksi yang ditulis Marx untuk kongres Jenewa menggarisbawahi fungsi dasar serikat pekerja, yang tidak hanya melawan para mutualis tetapi juga pengikut-pengikut setia Robert Owen di Inggris dan Ferdinand Lassalle di Jerman untuk mengambil sikap: ” Aktivitas serikat buruh-serikat buruh ini tidak hanya absah, juga dibutuhkan. Ia tidak bisa ditiadakan sejauh sistem produksi saat ini tetap berlangsung. Sebaliknya, itu harus diselaraskan melalui pembentukan dan persatuan serikat buruh-serikat buruh di seluruh negara”.
Dalam dokumen yang sama, Marx tidak segan-segan mengritik serikat-serikat yang ada karena “terlalu eksklusif terikat pada perjuangan-perjuangan lokal dan langsung dengan kapital (dan tidak) sepenuhnya memahami kekuatan mereka dalam bertindak melawan sistem perbudakan upah itu sendiri. Oleh karena itu mereka terasing dari gerakan-gerakan sosial dan politik pada umumnya”.
Singkatnya, dengan semua kesulitan yang terkait dengan keragaman kebangsaan, bahasa, dan budaya politik, Internasional sukses mencapai persatuan dan koordinasi dari beragam organisasi yang luas jangkauannya dan perjuangan-perjuangan yang spontan. Manfaat terbesarnya adalah untuk menunjukkan mutlaknya kebutuhan akan olidaritas kelas dan kerja sama internasional, bergerak secara meyakinkan melampaui karakter parsial dari tujuan-tujuan dan strategi-strategi semula. Dari tahun 1867, diperkuat oleh keberhasilan dalam mencapai tujuan-tujuan ini, dengan peningkatan keanggotaan dan organisasi yang lebih efisien, Internasional membuat perkembangan pesat di seluruh Benua Eropa.

III. Sosialisasi Alat-alat Produksi
Selama empat tahun, kaum mutualis merupakan sayap penting dalam Internasional. Marx tidak diragukan lagi memainkan peran kunci dalam perjuangan panjang untuk meminimalisir pengaruh Proudhon di Internasional. Ide-ide Marx sangat penting bagi perkembangan teoretis para pemimpinnya, dan ia menunjukkan kapasitas yang menakjubkan untuk meyakinkan mereka dalam memenangkan seluruh konflik-konflik besar di dalam organisasi.. Berkenaan dengan kerja sama (salah satu poin kunci Proudhon), misalnya, dalam Instructions for the Delegates of the Provisional General Council, The Different Question, 1866, ia merekomendasikan kepada para pekerja “untuk memulai produksi koperasi ketimbang toko koperasi. Yang terakhir ini hanya menyentuh permukaan sistem ekonomi yang ada, sementara yang pertama menyerang dasar-dasar dari sistem ini”.
Dua tahun kemudian, yakni pada September 1868, dilangsungkan Kongres Brussel, yang akhirnya memotong sayap kaum mutualis. Poin terpentingnya adalah ketika dewan menyetujui proposal César De Paepe’s mengenai sosialisasi alat-alat produksi – sebuah langkah maju yang menentukan dalam mendefinisikan basis ekonomi dari sosialisme, tidak lagi sekadar muncul dalam tulisan-tulisan dari para intelektual tertentu tetapi sebagai program dari sebuah organisasi transnasional yang besar. Mengenai kepemilikan tanah, disepakati: “bahwa pembangunan ekonomi masyarakat modern akan menciptakan kebutuhan sosial untuk mengubah lahan subur menjadi kepemilikan bersama masyarakat, dan membiarkan tanah atas nama negara kepada perusahaan pertanian di bawah kondisis yang sama seperti yang ada di pertambangan dan dan kereta api”.
Akhirnya, beberapa poin menarik dibuat tentang lingkungan: “Menimbang bahwa pengabaian hutan kepada individu-individu privat menyebabkan rusaknya hutan yang diperlukan bagi konservasi mata air, dan, tentu saja, kualitas tanah yang baik, serta kesehatan dan kehidupan masyarakat, Kongres berpikir bahwa hutan harus tetap menjadi milik masyarakat”.
Di Brussels inilah, kemudian Internasional membuat pernyataan pertamanya yang jelas tentang sosialisasi alat-alat produksi oleh otoritas negara. Ini menandai kemenangan penting bagi Dewan Umum dan kemunculan, untuk pertama kalinya, prinsip-prinsip sosialis dalam program politik organisasi pekerja utama. Resolusi-resolusi dari Kongres Brussels tentang kepemilikan tanah ditegaskan kembali pada Kongres Basel yang diadakan pada bulan September 1869. Sebelas orang Perancis bahkan menyetujui sebuah teks baru yang menyatakan bahwa masyarakat memiliki hak untuk menghapus kepemilikan individual atas tanah dan menjadikannya bagian dari komunitas. Setelah Basel, tidak ada lagi mutualis di Prancis Internasional.

Categories
Journalism

La tecnica a Marx non faceva paura

Tra i numerosi scritti pubblicati in occasione del bicentenario marxiano, il volumetto Marx Eretico (il Mulino, 164 pp., € 13), di Carlo Galli, ha il pregio di separare le riflessioni del rivoluzionario comunista dal marxismo economicistico del Novecento.

Il testo è diviso in cinque capitoli – Spettri, Certezze, Scienza, Politica, Speranza –, ma l’obiettivo di Galli non è quello di indicare cosa abbia detto il “vero Marx” in proposito. Piuttosto, egli offre utili suggerimenti interpretativi in merito alle teorie più rilevanti – e, per molti versi, ancora indispensabili per comprendere il presente – dell’autore del Capitale. Tra queste vi è la capacità di aver inteso il carattere ambivalente del capitalismo e, dunque, la possibilità di adoperare le trasformazioni produttive da esso generate, una volta eliminata la logica di sfruttamento che le contraddistingue. La classe lavoratrice non deve temere la tecnologia, ma il suo uso capitalistico. Il dominio del capitale è assoluto, ma anche insostenibile.
La ricchezza dell’analisi di Marx si manifesta anche rispetto alla critica della politica, tanto più se paragonata alle teorie oggi ritornate in voga a sinistra. Diversamente da quanti si appellano all’indistinta sofferenza degli ultimi, o utilizzano il confuso concetto di “popolo” (incluso lo slogan “noi siamo il 99%”), Marx ritenne imprescindibile esaminare a fondo le contraddizioni di classe. La questione nazionale fu per lui rivoluzionaria solo quando fu anche questione sociale. Individuò nel proletariato il soggetto principale dell’emancipazione collettiva perché comprese la posizione centrale che aveva nel capitalismo del suo tempo.

Categories
Journalism

Perjuangan di Balik Penulisan Kapital

Ceritanya saya mulai dengan sebuah statemen bahwa Kapital, melebihi buku lainnya dalam sumbangannya untuk mengubah dunia dalam 150 tahun terakhir, memakan waktu yang lama dan sulit dalam proses penulisannya.

Marx mulai menulis Kapital hanya beberapa tahun setelah dia memulai studinya tentang ekonomi politik. Meskipun dia telah mengembangkan kritiknya tentang kepemilikan pribadi (private property) dan gagasan keterasingan (alienation) pada 1844, adalah krisis keuangan tahun 1857 – yang dimulai di Amerika Serikat dan menyebar ke seluruh Eropa – yang akhirnya mendorongnya untuk menggerakkan pena ke atas kertas dan mulai menulis apa yang awalnya disebutnya “Ekonomi”.

Krisis, Grundrisse dan Kemiskinan
Dengan merebaknya krisis keuangan, Marx meramalkan lahirnya sebuah tahapan baru pergolakan sosial yang dia yakini dapat mengarah pada gerakan revolusioner yang mampu menghancurkan kapitalisme. Dia percaya bahwa kaum proletar sangat membutuhkan kritik terhadap modus produksi kapitalis. Dari sini lahirlah Grundrisse, sejumlah delapan volume di mana, di antara tema-tema lain, Marx meneliti pembentukan ekonomi pra-kapitalis dan menguraikan beberapa karakteristik penting dari masyarakat komunis, seperti pentingnya kebebasan dan perkembangan intelektual individu.

Namun, gerakan revolusioner yang diyakini Marx akan muncul dari krisis keuangan tetap menjadi ilusi. Marx, yang kemudian sangat sadar akan kekurangan teoritis dari karyanya, tidak mempublikasikan naskah-naskah ini. Satu-satunya bagian dari Grundrisse yang dicetak, dan hanya setelah revisi mendalam, adalah “Bab tentang Uang”. Diterbitkan pada 1859 dengan judul A Contribution to the Critique of Political Economy, teks ini hanya diulas oleh satu orang: Engels. Rencana Marx untuk sisa Grundrisse adalah membagi manuskrip-manuskrip itu ke dalam enam buku. Dia percaya bahwa ini akan memungkinkannya untuk mendedikasikan setiap volume untuk subjek yang terpisah: kapital, kepemilikan properti, negara, buruh upahan, perdagangan luar negeri dan pasar global.

Pada 1862, karena Perang Sipil di Amerika Serikat, harian New-York Tribune memecatnya dari pekerjaannya sebagai koresponden Eropa. Akibatnya, Marx – yang telah bekerja untuk harian itu selama lebih dari satu dekade – dan keluarganya terjerumus ke jurang kemelaratan seperti yang mereka alami di tahun-tahun awal kehidupan mereka di London. Marx hanya mendapat bantuan dari Engels, kepada siapa dia menulis, “Setiap hari istri saya mengatakan ia ingin dirinya dan anak-anak aman di kuburan mereka, dan saya benar-benar tidak bisa menyalahkannya. Penghinaan, siksaan dan tuan rumah yang datang menagih sewa rumah merupakan situasi yang harus dilaluinya dan sungguh tidak bisa dilukiskan”. Kondisinya sangat menyedihkan sehingga, dalam minggu-minggu terburuknya, ia pergi tanpa persediaan makanan untuk anak-anaknya dan kertas untuk ditulis. Dia melamar kerja di kantor kereta api Inggris, namun ditolak karena tulisan tangannya yang buruk. Konsekuensinya, dalam keadaan terhina seperti itu, karya Marx tak kunjung selesai karena lama tertunda.

Nilai Lebih dan Bisul
Terlepas dari rintangan berat ini, Marx melakukan pemeriksaan yang ketat terhadap teori ekonomi selama periode itu. Dalam naskah ekstensif berjudul Theories of Surplus Value, ia berpendapat bahwa banyak para ahli teori ekonomi saat itu telah secara keliru memahami nilai lebih sebagai laba (profit) atau pendapatan (income). Marx, sebaliknya, berpendapat bahwa nilai lebih harus dipahami sebagai bentuk spesifik di mana melaluinya eksploitasi kapitalisme menjadi nyata. Ini karena para pekerja menyerahkan sebagian dari hari kerja mereka secara gratis kepada kapitalis yang kemudian menghasilkan nilai lebih melalui kelebihan kerja (surplus labour) ini: “tidaklah cukup bagi pekerja untuk memproduksi saja secara umum, kini dia juga harus menghasilkan nilai lebih”. Pencurian hanya beberapa menit dari makan siang atau waktu istirahat dari setiap pekerja diterjemahkan ke dalam pergeseran kekayaan yang luar biasa besar ke dalam kantong pemilik. Perkembangan intelektual, kewajiban sosial dan liburan di mata kapital “hanyalah pemborosan”. Pemilik pabrik akan menentang undang-undang tenaga kerja atas nama “kebebasan untuk bekerja”.

Tetapi bagi Marx, motto pemikiran kapitalistik yang mengatur semua aspek kehidupan – termasuk pertimbangan masalah-masalah lingkungan (sebuah topik yang jarang, jika pernah, ditangani oleh orang-orang sezamannya) – bukanlah kebebasan tetapi kekacauan (Après moi le déluge!”). Dia percaya bahwa pengurangan hari kerja, bersama penambahan kelebihan kerja, merupakan medan pertama di mana perjuangan kelas akan diperangi. Pada 1862, Marx memilih judul untuk bukunya: “Kapital“. Dia pikir dia kini siap untuk menyusun versi terakhir.

Perkiraannya meleset karena kesulitan keuangan yang luar biasa, dia juga kini menderita masalah kesehatan yang parah. Dijuluki sebagai “penyakit mengerikan”, oleh istrinya, Jenny, tahun-tahun sisa kehidupan Marx tak sepi dari gangguan kesehatan yang buruk. Di tubuhnya keluar banyak bisul, infeksi mengerikan yang berwujud borok, bisul dan kulit melepuh yang membuat seluruh tubuhnya lemah lunglai. Karena bisul parah yang diikuti oleh munculnya borok besar, Marx menjalani operasi dan “untuk beberapa waktu hidupnya berada dalam keadaan bahaya”.

Keluarganya kini, lebih dari sebelumnya, berada di tepi jurang kehancuran. Terlepas dari kemalangan ini, ‘Moor’ (nama panggilannya) pulih dan, pada akhir Desember 1865, ia menyelesaikan draf pertama dari apa yang kelak menjadi karya terbesarnya (magnum opus). Selanjutnya, pada musim gugur 1864, ia dengan antusias berpartisipasi dalam Asosiasi Kelas Pekerja Internasional (International Working Men’s Association), menyusun, selama delapan tahun yang intens, seluruh dokumen-dokumen politik utamanya. Belajar hari demi hari di perpustakaan untuk memastikan kelayakan penemuannya dan mengerjakan manuskripnya di malam hari, Marx kemudian menyerahkan dirinya pada rutinitas sehari-hari yang melelahkan ini sampai tubuhnya menyerah kalah.

Keseluruhan yang terintegrasi
Pada momen seperti itu, Marx kemudian mengurangi rencana proyek penulisan awalnya dari enam volume menjadi tiga volume tentang kapital, sembari tetap berharap untuk bisa menerbitkannya secara bersamaan. Kenyataannya, dia menulis kepada Engels: “Saya tidak dapat memaksa diri untuk mengirim apa pun sampai saya memiliki semuanya di depan saya. Kekurangan apa pun yang mungkin mereka miliki, keuntungan dari tulisan saya adalah bahwa mereka secara menyeluruh artistik, dan ini hanya dapat dicapai melalui praktik. Saya tidak akan pernah mencetak sesuatu sampai semuanya terpampang di depan saya secara menyeluruh”. Dilema Marx untuk “menyalin sebagian dari naskah dan mengirimkannya kepada penerbit, atau menuliskan semuanya dulu”, secara tak terduga dipecahkan oleh bisul. Marx diserang penyakit lain, kali ini lebih parah dari yang dideritanya sebelumnya, dan mendapati dirinya begitu dekat dengan kematian. Dia kemudian memberi tahu Engels bahwa itu adalah masa di mana ia “nyaris mati”; dokter mengatakan kepadanya bahwa alasan nyaris matinya itu adalah bekerja terlalu berlebihan, terutama pada saat begadang sampai larut malam.

Setelah kejadian yang mengkhawatirkan ini, Marx memutuskan untuk berkonsentrasi hanya pada buku pertamanya, “Proses Produksi Kapital”. Namun demikian, bisul-bisul itu terus menyiksanya dan selama berminggu-minggu, Marx tidak bisa duduk. Dalam keadaan yang membuatnya putus asa ini, dia bahkan mencoba mengoperasi dirinya sendiri menggunakan pisau cukur yang diasah tajam-tajam. Dia kemudian memberi tahu Engels bahwa dia bisa menyembuhkan penyakitnya sendiri. Marx banyak kecewa karena penyelesaian karyanya tertunda bukan karena “pertimbangan teoritis” tetapi karena “alasan fisik dan borjuis”.

Ketika pada bulan April 1867, naskah akhirnya selesai dan Marx siap untuk pergi ke Jerman untuk menerbitkan buku, dia meminta seorang teman dari Manchester – yang telah membantunya secara konstan selama 20 tahun – untuk mengiriminya uang sehingga dia bisa menebus “pakaian dan arloji dari tempat tinggal mereka di pegadaian”. Marx bertahan hidup hanya dengan hal-hal penting yang tanpanya dia tidak dapat pergi ke Jerman, di mana manuskripnya akan diterbitkan. Koreksi atas draft tulisannya dikerjakan di sisa musim panas dan ketika Engels mengamati bahwa eksposisi ide bentuk-Nilai terlalu abstrak dan memiliki “tanda-tanda dari bisul yang tampak jelas jadi cap di atasnya”, Marx menjawab: “Saya harap borjuasi akan mengingat bisulku sampai hari kematian mereka”.

Kapital mulai dijual pada 14 September 1867. Satu setengah abad setelah penerbitannya, karyanya ini telah menjadi salah satu karya yang paling banyak diterjemahkan, dijual, dan didiskusikan dalam sejarah manusia. Bagi mereka yang ingin memahami kapitalisme, dan juga mengapa para pekerja harus berjuang untuk “bentuk unggul masyarakat yang prinsip dasarnya adalah pengembangan penuh dan bebas dari setiap individu”, Kapital Marx, kini lebih daripada sebelumnya, adalah sebuah karya yang tak tergantikan.

Categories
Journalism

Kembalinya Sang Raksasa

Dalam surat kali ini, saya masih akan bercerita tentang Karl Marx.

Menurut saya, jika kemudaan abadi seorang penulis ditandai dengan kemampuannya untuk terus merangsang munculnya ide-ide baru, maka tanpa ragu bisa dikatakan Karl Marx adalah seorang penulis yang selalu muda

Menyusul ambruknya Tembok Berlin, kaum konservatif dan progresif, kaum liberal dan sosial demokrat hampir sepakat mendeklarasikan tamatnya Marx. Deklarasi itu kemudian terbukti prematur, ketika teori-teori Marx sekali lagi kembali hangat diperbincangkan – dengan kecepatan yang dalam banyak hal mengejutkan. Sejak 2008, akibat krisis ekonomi yang tak kunjung pulih dan kontradiksi-kontradiksi mendalam yang merobek-robek masyarakat kapitalis, telah membangkitkan minat baru pada Marx yang secara tergesa-gesa dipinggirkan pasca 1989. Ratusan surat kabar, majalah dan stasiun TV atau stasiun-stasiun radio memajang analisis-analisis Marx dalam Kapital dan juga artikel-artikel yang ditulisnya untuk harian New-York Tribune, yang mana saat itu sedang mengamati kepanikan 1857, yaitu krisis keuangan internasional pertama dalam sejarah.

Setelah dua puluh tahun tenggelam, orang-orang di banyak negara kembali menulis dan membicarakan Marx. Di dunia berbahasa Inggris, konferensi dan kursus-kursus di universitas tentang pemikiran-pemikirannya kembali mengemuka. Kapital sekali lagi menjadi buku terlaris di Jerman, sementara versi manga/komiknya telah diterbitkan di Jepang. Di Cina, edisi baru yang sangat tebal dari kumpulan karya-karyanya sedang akan diterbitkan (dengan terjemahan dari bahasa Jerman dan tidak seperti di masa lalu, dari bahasa Rusia). Di Amerika Latin, permintaan baru akan Marx sangat terasa di kalangan mereka yang aktif dalam politik.

Penemuan kembali ini juga berlangsung di front akademik dengan dilanjutkannya proyek edisi historis-kritis Jerman yang baru dari karya-karya lengkap Marx dan Engels, MEGA (Marx-Engels-Gesamtausgabe). Edisi Jerman yang baru ini dibagi dalam empat bagian: (1) karya tulis dan artikel-artikel; (2) Kapital dan seluruh naskah-naskah persiapannya; (3) korespondensi atau surat-menyurat; dan (4) buku catatan tentang nukilan-nukilan. Dari 114 volume yang direncanakan, sejauh ini 66 telah diterbitkan (26 di antara adalah kelanjutan dari proyek di tahun 1998). Proyek ini masih menerbitkan banyak karya-karya yang belum selesai dari Marx sebagaimana adanya, bukan dengan intervensi editorial seperti yang menjadi kebiasaan di masa lalu.

Berkat inovasi penting ini serta publikasi untuk pertama kalinya dari berbagai buku catatan tersebut, Marx yang muncul kemudian, dalam banyak hal, berbeda dari yang disajikan oleh sekian banyak lawan dan mereka yang diduga menjadi pengikutnya. Patung berwajah dingin si penunjuk jalan ke masa depan dengan kepastian dogmatis di alun-alun Moskow dan Beijing, telah berganti rupa menjadi sosok pemikir kritis yang merasakan pentingnya mencurahkan energi untuk studi mendalam dan mengecek argumen-argumennya sendiri, meninggalkan sebagian besar pekerjaan semasa hidupnya yang belum selesai.

Berbagai penafsiran yang mapan atas karya Marx kemudian dibuka kembali untuk diskusi lebih lanjut. Contohnya, seratus halaman pertama dari Ideologi Jerman – sebuah teks yang banyak diperdebatkan di abad ke-20 tetapi hampir selalu dianggap sebagai sebuah karya utuh– sekarang telah diterbitkan dalam urutan kronologis dan di dalam bentuk aslinya terdiri dari tujuh fragmen terpisah. Telah ditemukan bahwa ini semua adalah peninggalan dari bagian-bagian lain dari buku ini atas dua pengarang Hegelian-Kiri, Bruno Bauer dan Max Stirner. Edisi pertama yang terbit di Moskow pada 1932, tetapi sebagaimana banyak versi setelahnya, dengan hanya sedikit modifikasi, telah menciptakan kesan keliru dari pembukaan ‘Bab tentang Feuerbach’ bahwa Marx dan Engels telah secara komprehensif menetapkan hukum-hukum materialisme historis (sebuah istilah yang tidak pernah digunakan Marx) atau – sebagaimana Marxis Prancis Louis Althusser simpulkan – dikonseptualisasikan sebagai ‘patahan epistemologis yang pasti’.

Aspek menarik lainnya dari edisi ini adalah perbedaan yang lebih jelas antara bagian-bagian dari manuskrip yang ditulis oleh Marx dan yang ditulis oleh Engels. Ini menghasilkan sebuah pembacaan yang sangat berbeda dari bagian-bagian tertentu yang tadinya dianggap sebagai keseluruhan yang terintegrasi. Ambil contoh kalimat dimana banyak penulis, baik dalam semangat kritik yang tajam maupun sebagai pertahanan ideologis, telah memperlakukannya sebagai deskripsi utama Marx atas masyarakat pasca-kapitalis: ‘masyarakat mengatur produksi umum dan dengan demikian memungkinkan bagi saya untuk melakukan satu hal hari ini dan hal lain besok, berburu di pagi hari, memancing di sore hari, beternak di malam hari, dan mengkritik setelah makan malam … ‘. Sekarang kita tahu (juga berkat versi Ideologi Jerman yang diterbitkan di tahun 1974 oleh sarjana Jepang Wataru Hiromatsu) bahwa kalimat itu berasal dari pena Engels (pada saat itu masih di bawah pengaruh kaum sosialis utopis Prancis) dan sama sekali tidak cocok dengan pandangan sahabat karibnya itu.

Perbaikan gramatikal juga adalah salah satu yang penting atas karya besar (magnum opus) Marx. Empat volume baru MEGA yang diterbitkan dalam sepuluh tahun terakhir, yang mencakup semua naskah-naskah persiapan (draft) yang hilang dari Volume Dua dan Tiga di Kapital (dibiarkan tidak lengkap oleh Marx), memungkinkan kita untuk merekonstruksi seluruh proses seleksi, komposisi dan koreksi yang dilakukan Engels dalam pengeditan manuskrip-manuskrip Marx. Dengan demikian kita bisa melihat mana dari beberapa ribu perubahannya (sebuah angka yang tidak terpikirkan hingga baru-baru ini) yang dianggap paling signifikan dalam periode panjang penulisannya antara tahun 1883 dan 1894, dan memastikan di mana ia tetap menggunakan teks asli Marx – yang, bahkan dalam kasus hukum terkenal tentang kecenderungan turunnya tingkat laba, jelas-jelas tidak dimaksudkan untuk mewakili hasil akhir dari penelitiannya.

Menempatkan Marx pada posisi tak tersentuh dan hanya cocok untuk penelitian akademis khusus, adalah sebuah kesalahan yang setara dengan mentransformasikannya menjadi sumber doktrinal ’sosialisme yang benar-benar ada/actually existing socialism’. Karena pada kenyataannya, analisisnya lebih bersifat topikal ketimbang sebelumnya. Ketika Marx menulis Kapital, modus produksi kapitalis masih dalam periode yang relatif awal perkembangannya. Hari ini, setelah runtuhnya Uni Soviet dan penyebaran kapitalisme ke wilayah-wilayah baru di planet (pertama dan terutama adalah Cina), kapitalisme telah menjadi sebuah sistem global yang komplet yang menjajah dan membentuk semua aspek (bukan hanya ekonomi) dari keberadaan manusia. Dalam kondisi ini, ide-ide Marx terbukti lebih subur dibandingkan saat ia masih hidup.

Selain itu, ekonomi saat ini tidak hanya mendominasi politik, menetapkan agenda dan membentuk keputusan-keputusannya, tetapi keberlakuannya di luar yurisdiksi dan kontrol demokratis. Dalam tiga dasawarsa terakhir, kekuatan pengambilan keputusan telah diwariskan tanpa tedeng aling-aling dari dunia politik ke ekonomi. Pilihan-pilihan kebijakan tertentu telah ditransformasikan menjadi kebijakan ekonomi. Pengerdilan dari bagian-bagian politik ini ke dalam ekonomi, sebagai domain terpisah yang tidak dapat ditembus oleh perubahan, merupakan ancaman yang sangat mematikan untuk demokrasi di zaman kita. Parlemen-parlemen nasional mendapati kekuasaanya telah dipreteli dan ditransfer ke pasar. Peringkat Standard & Poor’s dan indeks Wall Street – nabi-nabi masyarakat modern masa kini – membawa bobot yang tak terbandingkan dengan kehendak rakyat. Hal terbaik yang bisa dilakukan pemerintah adalah ‘mengintervensi’ ekonomi (ketika diperlukan untuk mengurangi anarki kapitalisme yang destruktif dan krisis kekerasannya), tetapi mereka tidak dapat mempertanyakan aturan-aturan dan pilihan-pilihan dasarnya.

Setelah dua puluh tahun lagu puja-puji untuk masyarakat pasar dilantunkan bertemu dengan berbagai macam kekososngan postmodernisme, kemampuan baru untuk mensurvei cakrawala dari bahu raksasa seperti Marx merupakan sebuah perkembangan yang positif, tidak hanya bagi semua akademisi yang tertarik untuk memahami secara serius masyarakat kontemporer kita, tetapi juga bagi siapa saja yang terlibat dalam pencarian teoritis maupun politik untuk sebuah alternatif sosalis terhadap kapitalisme.

Categories
Journalism

Konsep Alienasi (Keterasingan) dan Sejarahnya

KALI ini saya akan bercerita tentang salah satu konsep penting dalam Marxisme, yakni konsep alienasi (keterasingan).

Catatan sistematis pertama tentang alienasi termaktub dalam karya Georg W.F. Hegel The Phenomenology of Spirit, di mana istilah Entäusserung (self-externalization) dan Entfremdung (estrangement) diadopsi untuk menunjukkan bahwa dalam dunia objektivitas Roh (spirit) bukan lagi dirinya sendiri. Konsep alienasi kemudian secara mencolok muncul tulisan-tulisan Hegelian Kiri, dan teori keterasingan religius Ludwig Feuerbach dalam bukunya The Essence of Christianity – yaitu, proyeksi manusia mengenai esensi dirinya sendiri ke dalam imanjinasi ketuhanan (imaginary deity) – yang berkontribusi pada pengembangan konsep tersebut. Sayangnya, konsep ini kemudian menghilang dari refleksi filosofis, dan tidak ada pemikir terkemuka pada paruh kedua abad XIX yang memberikan perhatian besar terhadapnya.

Teori ini baru kembali menjumpai pembacanya melalui filsuf-cum revolusioner Hungaria György Lukács. Dalam bukunya History and Class Consciousness, Lukács memperkenalkan istilah ‘reifikasi’ (Versachlichung) untuk menggambarkan fenomena dimana aktivitas kerja mengonfrontasi manusia sebagai sesuatu yang objektif dan independen, mendominasi manusia melalui hukum eksternal yang otonom. Kejadian penting selanjutnya yang dengan cepat menyebarkan konsep ini muncul dalam karya Marx berjudul the Economic-Philosophical Manuscripts of 1844, yang ditemukan pada tahun 1932. Dalam karya Marx muda yang sebelumnya tidak dipublikasikan ini, alienasi disajikan sebagai fenomena yang melaluinya produk buruh mengonfrontasi si buruh ‘sebagai sesuatu yang asing, sebagai kekuatan independen dari produsen’. Marx menyebutkan empat keadaan dimana buruh teralienasi dalam masyarakat borjuis: 1) oleh hasil kerjanya, yang menjadi “objek asing yang memiliki kekuasaan atas dirinya”; 2) terasing dari aktivitas kerjanya, dimana aktivitasnya justru ‘ditujukan untuk melawan dirinya sendiri’, seolah-olah aktivitas kerja itu ‘bukan miliknya’; 3) terasing dari ‘dirinya sendiri sebagai manusia/man’s species-being”, yang ditransformasukan menjadi ‘sesuatu yang keberadaannya asing baginya’; dan 4) oleh manusia lain, dan dalam hubungannya dengan ‘kerja mereka dan objek kerja’. Bagi Marx, tidak seperti Hegel, alienasi tidak menempel pada objektifikasi sebagaimana adanya melainkan dengan fenomena tertentu dalam bentuk ekonomi yang aktual: yaitu, upah buruh dan transformasi produk tenaga kerja menjadi objek yang berdiri bertentangan dengan produsernya. Sementara Hegel menerangkan keterasingan sebagai manifestasi ontologis buruh, Marx menganggapnya sebagai karakteristik dari epos sistem produksi tertentu: kapitalisme.

Pada bagian awal abad XX, sebagian besar penulis yang membahas keterasingan menganggapnya sebagai aspek universal dari eksistensi manusia. Dalam Being and Time, Martin Heidegger mendekatinya sebagai ‘modus eksistensial Mengada-di-dalam-dunia (Being-in-the-world)‘, sebagai sebuah realitas yang membentuk bagian dari dimensi fundamental sejarah. Setelah Perang Dunia II, alienasi menjadi tema yang berulang di bawah pengaruh eksistensialisme Prancis, yang ditandai dengan menyebarnya ketidakpuasan manusia dalam masyarakat, perpecahan antara individualitas manusia dan dunia pengalaman. Satu dekade kemudian, istilah itu masuk dalam kosakata sosiologi Amerika Utara. Sosiologi arus utama memperlakukan istilah alienasi ini sebagai masalah manusia individual, bukan hubungan sosial, dan pencarian solusi berpusat pada kapasitas individu untuk menyesuaikan diri dengan tatanan yang ada, bukan pada tindakan kolektif untuk mengubah masyarakat. Pergeseran besar pendekatan ini pada akhirnya menolak analisis faktor-faktor sejarah-sosial (historical-social factors). Sementara dalam tradisi Marxis konsep alienasi telah berkontribusi pada beberapa kritisisme tajam terhadap cara produksi kapitalis, pelembagaannya dalam ranah sosiologi telah mereduksinya menjadi sekadar fenomena ketidakmampuan individu untuk menyesuaikan diri dengan norma-norma sosial.

Konsep ini juga menemukan jalannya dalam psikoanalisis, di mana Erich Fromm menggunakannya dalam rangka membangun jembatan ke Marxisme. Namun ia meletakkan penekanan utama pada subjektivitas, dan gagasannya tentang keterasingan, yang dirangkumnya dalam The Sane Society sebagai ‘modus pengalaman di mana individu mengalami dirinya sebagai makhluk asing’. Pada Fromm, konsep ini tetap terlalu fokus pada individu.

Pada 1960-an, muncul trend baru dalam menteorikan alienasi dan konsep itu tampaknya mengekspresikan semangat zaman menuju kesempurnaan. Dalam buku Guy Debord The Society of the Spectacle, teori alienasi terkait dengan kritik terhadap produksi immaterial: ‘dengan “revolusi industri kedua”, konsumsi yang teralienasi telah menjadi harga yang harus dibayar sebanyak produksi yang teralienasi.” Namun, popularitas istilah tersebut, dan penerapannya yang serampangan, menciptakan ambiguitas atau ketidakpastian konseptual yang mendalam.

Penyebaran karya Marx Grundrisse, sebuah naskah yang ditulis pada 1857-58 dan kemudian menuai populartiasnya pada awal tahun 1970-an, disusul dengan “Capital, Volume Satu: Buku 1, Bab VI, tidak diterbitkan”, memusatkan perhatian pada cara bagaimana Marx mengonseptualisasikan alienasi pada tulisan-tulisan masa tuanya. Konspetualisasinya ini, dalam banyak hal, mengingatkan kita pada analisis-analisisnya dalam the Economic-Philosophical Manuscripts of 1844, namun diperkaya dengan pemahaman yang luas tentang kategori-kategori ekonomi serta analisis sosial yang lebih ketat. Tak pelak hal ini melempangkan jalan bagi pemahaman konsepsi alienasi yang berbeda dari konsepsi sebelumnya yang hegemonik dalam sosiologi dan psikologi.

Pada Marx tua, konsepsinya ditujukan untuk mengatasi alienasi dalam praktik – ke aksi politik dari gerakan sosial, partai dan serikat buruh untuk mengubah kondisi-kondisi kerja dan hidup kelas pekerja. Publikasi dari karya-karya (setelah the Economic-Philosophical Manuscripts of 1844 pada 1930-an) dapat dianggap sebagai “generasi kedua” dari tulisan-tulisan Marx tentang alienasi. Di sini, Marx tidak hanya menyediakan landasan teoretis yang koheren untuk studi-studi baru tentang alienasi, tetapi di atas semuanya adalah platform ideologi anti-kapitalis bagi gerakan sosial dan politik yang meledak secara spektakuler di dunia selama tahun-tahun itu. Pada momen ini, alienasi pergi meninggalkan buku-buku para filsuf dan ruang-ruang kuliah universitas, turun ke jalan-jalan dan ruang-ruang perjuangan buruh, dan menjadi kritik terhadap masyarakat borjuis secara umum.

Kemajuan ini juga terbukti tampak di bagian yang terkenal dari Capital, Volume I: ‘Fetisisme/pemujaan Komoditi dan Rahasianya’. Bagi Marx, dalam masyarakat kapitalis, hubungan di antara orang-orang muncul tidak “sebagai hubungan sosial yang langsung di antara orang-orang […], tetapi lebih sebagai hubungan material di antara orang-orang dan hubungan sosial di antara benda-benda’. Fenomena ini disebutnya sebagai “pemujaan/fetisisme yang melekat erat pada produk kerja segera setelah mereka diproduksi sebagai komoditas, dan karena itu tidak dapat dipisahkan dari produksi komoditas tersebut.” Konsep Fetisisme komoditi ini bukanlah pengganti dari konsep alienasi di tulisan-tulisan awalnya. Dalam masyarakat borjuis, Marx berpendapat, kualitas dan hubungan manusia berubah menjadi kualitas dan hubungan di antara benda-benada. Inilah teori yang disebut Lukács sebagai reifikasi, yang menggambarkan fenomena ini dari sudut pandang hubungan manusia, sementara konsep fetisisme memperlakukan fenomena itu dalam kaitannya dengan komoditas.

Sebaliknya, bagi Marx, sistem produksi post-kapitalis, bersamaan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dan konsekuensi pengurangan hari kerja, menciptakan kemungkinan bentuk sosial baru. Dalam sistem baru ini, buruh yang teralienasi dan dipaksa kerja oleh kapital sekaligus subjek yang tunduk pada hukum-hukumnya, secara bertahap digantikan dengan dengan kegiatan-kegiatan kreatif dan berkesadaran melampaui kebutuhan mendesaknya. Demikian juga hubungan sosialnya yang utuh mengganti pertukaran acak yang sama (undifferentiated exchange) yang didikte oleh hukum-hukum komoditas dan uang. Inilah ruang dimana kebebasan manusia yang sejati merekah menggantikan ruang kebebasan kapitalis.***

Categories
Journalism

Yue Du Kaer Makesi!——Yimanniuer Wolesitan Fang Tan”

阅读卡尔·马克思!
——伊曼纽尔·沃勒斯坦访谈

马塞罗·默斯托 著     张福公 译

30年来,新自由主义的政策与意识形态风靡全球。然而,2008年的经济危机,我们社会中存在的深刻不平等(尤其是全球北方和全球南方之间的不平等)以及当代严峻的环境问题已经促使许多学者、经济分析家和政治家们重新开始讨论资本主义的未来以及寻求一种替代性方案的必要性。正是在这种背景下,我们恰逢马克思诞辰200周年,于是,几乎在全世界的各个角落都涌现出一股“复兴马克思”的热潮,即回到一位过去曾被错误地混同于马列教条主义、在柏林墙倒塌后又被轻率地抛弃的思想家。
回到马克思不仅在于他对于我们理解资本主义的逻辑和发展动态仍是不可或缺的,而且在于他的著作是一种非常有用的工具,借助它可以仔细检验为什么过去用另一种生产方式来替代资本主义的各种社会经济实验大都失败了。关于这些失败的解释对于我们当下寻求各种替代性方案来说是至关重要的。
伊曼纽尔·沃勒斯坦(Immanuel Wallerstein)现为美国耶鲁大学高级研究学者,是在世的最伟大的社会学家之一,也是最适合谈论马克思的当代意义的学者之一。他长期以来都是马克思的读者,而且,他自己的著作也深受这位于1818年5月5日在特利尔出生的革命家的理论的影响。沃勒斯坦已撰写了30余部著作,并被译为多种语言文字,其中就包括从1974年至2011年以四卷本出版的著名的《现代世界体系》(The Modern World-System)。
默斯托:沃勒斯坦教授,最近30年来,围绕马克思对当今世界是否依旧具有解释力这一问题,世界各地在持续出版着各种著述,展开各种争,以及召开各种会议。这种现象令人惊讶吗?或者,您认为马克思的思想对于那些正在寻找一种资本主义替代方案的人们来说仍然有效吗?
沃勒斯坦:关于马克思,有这样一个老生常谈的故事:你从前门将他推出去,他又会从后窗溜回来。现在的情况又是如此。马克思是有价值的,因为我们不得不解决那些他仍然很有发言权的问题,因为他有关资本主义的论述不同于大多数其他作家。很多专栏作家和学者——不只是我自己——都发现马克思是极为有用的。而且,无论人们在1989年曾做过怎样的预言,今天我们再次迎来了一个马克思广受欢迎的新时期。
默斯托:柏林墙的倒塌将马克思从一种与他的社会观几乎无关的意识形态枷锁中解放出来。这种伴随苏联解体而形成的政治图景使马克思从一种国家机器的傀儡角色中解脱出来。那么,到底是什么让马克思关于世界的解释继续引发人们的关注呢?
沃勒斯坦:我相信,当人们想用一个概念来概括马克思关于世界的解释的时候,他们就会想到“阶级斗争”这个词。当我根据当前的各种问题来阅读马克思的时候,对我而言,阶级斗争就意味着我所说的全球左派(the Global Left)为反对全球右派(the Global Right)而进行的必要斗争。我认为前者是致力于代表那些处于收入底层的80%的世界人口,而后者则可能代表1%的人口。而这场斗争的关键就在于另外19%的人口,也就是如何把他们拉入自己的阵营,而不是对方的阵营。
我们生活在一个世界体系出现了结构性危机的时代。现存的资本主义制度无法继续存在下去,但是没有人确切知道什么将会取代它。我坚信有两种可能。一种是我所说的“达沃斯精神(Spirit of Davos)”。达沃斯世界经济论坛的目标就是建立一种保留着资本主义最坏的那些特征的制度:社会等级制度、剥削,而最重要的是财富的两极分化。另一种就是建立一种更加民主和更加平等的制度。阶级斗争是一种为了影响资本主义替代方案的前景所采取的必要尝试。
默斯托:您对于中产阶级的思考使我想起安东尼奥·葛兰西的霸权思想,不过,我认为问题的关键还在于懂得如何激励大众,也就是您提到的80%的世界人口参与政治。这一点对于所谓“全球南方”来说尤为紧迫,那里集聚了世界上的大部分人口。而且,在那里,尽管资本主义在过去的几十年里所造成的不平等急剧增长,但是各种进步运动却比之前愈加萎靡不振。在这些地区,对新自由主义全球化的反抗经常被引向对宗教原教旨主义和各种仇外政党的支持。而我们越来越多地看到,这种现象也在欧洲出现了。
那么,马克思能够帮助我们理解这种新形势吗?最近发表的一些研究已经提供了许多有关马克思的新阐释,用您的话来说,它们或许有助于为马克思在将来的回归打开其他的“后窗”。这些研究表明,马克思对资本主义社会矛盾的考察已经超出了劳资冲突的层面,而将其扩展到了其他领域。实际上,马克思投入了大量时间来研究非欧洲社会和殖民主义对资本主义边缘所发挥的毁灭性作用。同样,与那些将马克思的社会主义观等同于生产力发展的各种解读相反,对于生态问题的关注在马克思的著作中一直占据着显著地位。
最后,马克思对学者们在谈论他本人时经常忽略的其他主题同样有着广泛的兴趣,其中包括技术的潜力、民族主义批判、对不受国家控制的集体所有制形式的探索以及个人自由在当代社会中的必要性等问题,这些都是我们时代所面临的根本问题。但是,除了马克思的这些新面孔——它表明人们重拾对马克思思想的兴趣将是一种在未来几年里注定会持续下去的现象,您能谈一谈您认为今天值得重新思考的马克思最被认可的三种思想吗?
沃勒斯坦:首先,马克思比任何其他人都更好地向我们阐释了资本主义并不是组织社会的自然方式。在他年仅29岁时出版的《哲学的贫困》一书中,马克思就已经嘲弄了那些认为资本主义关系“是不受时间影响的自然规律”的资产阶级政治经济学家们。马克思写道,对他们来说,“以前所以有历史,是由于在这些封建制度中有一种和资产阶级社会生产关系完全不同的生产关系”,但是,他们却不将历史用于他们所拥护的生产方式上,而是将资本主义看作是“自然的和永恒的”。在《历史资本主义》(Historical Capitalism)一书中,我试图证明资本主义是在历史中发生的,以此来反对少数主流政治经济学家所信奉的一些含糊不清的观点。我曾多次强调,任何资本主义都是历史性的。对我来说,这一点是简单明了的,而这在很大程度上要归功于马克思。
其次,我想强调一下“原始积累”这个概念的重要性。它表明剥夺农民手中的土地构成了资本主义的基础。马克思清楚认识到这是形成资产阶级统治的一个关键过程。这一过程在资本主义起源时就已经出现,而今天它依然存在着。
最后,我想恳请大家对“私有财产和共产主义”这个主题进行更深入的思考。在苏联,特别是斯大林统治下的苏联所建立的制度中,国家掌握着财产,但这并不意味着人民没有遭受剥削或压迫。他们实际上遭受了剥削或压迫。而在此之前,包括马克思在内的任何人从未想过会像斯大林那样谈论一个国家的社会主义。生产资料公有制是一种可能的方案。生产资料也可以被合作拥有(cooperatively owned)。但是,如果我们想要建立一个更好的社会,我们就必须知道究竟谁生产了剩余价值,谁又得到了剩余价值。同资本主义相比,这就需要进行彻底地重组。对我来说,这是一个至关重要的问题。
默斯托:2018年是马克思诞辰200周年,许多新书和电影都聚焦于他的一生。在他的一生中有没有一个您觉得是最有趣的时期?
沃勒斯坦:马克思的一生是异常艰辛的。他要同严峻的自身贫困作斗争,他很幸运有一位像弗里德里希·恩格斯这样的志同道合者帮助他渡过难关。他在感情生活上也过得并不轻松。但他坚持不懈地从事着他视为毕生使命的工作——理解资本主义的运行机制,这是令人钦佩的。这正是他所着眼的东西,所以他并不想解释古代,亦不想定义未来社会主义的面貌。这些都不是他为自己制定的任务。他只想理解他正生活于其中的资本主义世界。
默斯托:就马克思的一生而言,他不只是一个一头扎进伦敦大不列颠博物馆的书堆中与世隔绝的学者,而是一个始终投身于自己时代的纷繁斗争中的富有战斗精神的革命者。由于他的激进主义,马克思在年轻时就遭到法国、比利时和德国的驱逐。当1848年革命失败后,他又被迫流亡英国。他创办报纸和杂志,一直竭尽所能支持工人运动。后来,在1864—1872年间,他成为第一个工人阶级跨国组织即国际工人协会的领导者。1871年,马克思公开声援作为人类历史上第一次社会主义实验的巴黎公社。
沃勒斯坦:是的,的确如此。记住马克思的战斗性是至关重要的。正如你最近在《无产者们联合起来!》(Workers Unite!)一书中所强调的那样,马克思在第一国际中扮演着不同寻常的角色,第一国际是一个成员彼此之间相距遥远的组织,而且当时缺乏便捷的交流手段。马克思的政治活动也延伸到新闻业。马克思在一生中的很多时期都从事过新闻工作,他把这一工作当作自己同广大读者进行交流的一种途径。虽然他从事新闻工作是为了谋生,但他是将自己的投稿看作一种政治活动。他从来不是一个中立者,而始终是一个立场坚定的新闻记者。
默斯托:在2017年十月革命100周年之际,有学者重新比较了马克思同一些20世纪的马克思的追随者之间的差异。您认为,马克思与他们之间的主要区别是什么?
沃勒斯坦:马克思的著作是富有启发性的,而它们要比那些对其思想的简单化阐释更加微妙和内涵丰富。记住马克思曾说过的那句名言总是没错的,即如果这就是马克思主义,“有一点可以肯定,我不是马克思主义者”。马克思总是随时准备着面对这个世界的现实状况,而不像很多其他人那样将他们自己的观点教条式地强加于人。马克思一直在探寻他眼前这个世界正面临的种种问题的解决方案。这就是为什么他现在依然是一个富有教益的指引者的原因。
默斯托:最后,让我们做个结语,您想对那些还尚未接触马克思的年轻一代说点什么呢?
沃勒斯坦:我想对年轻人说的第一件事就是,他们一定要读一读马克思。不要读关于他的东西,而是直接阅读马克思的著作。同许多谈论马克思的人相比,真正读过马克思的人其实不多。这一点同样适用于亚当·斯密。一般来说,人们只是读过有关这些经典著作的东西,从别人的概述中了解它们。他们想节省时间,但其实这是在浪费时间!一个人一定要阅读那些有趣的人的著作,而马克思就是整个19世纪和20世纪中最有趣的学者。这是确定无疑的。无论是他的写作数量,还是其分析的质量,都没有人能够同他比肩。因此,我想对年轻一代人说,马克思是非常值得探究的,不过你们必须读他、读他、再读他。阅读卡尔·马克思吧!

[马塞罗·默斯托(Marcello Musto):加拿大约克大学社会学系;张福公:南京大学哲学系]

1. 关于伊曼纽尔·沃勒斯坦的个人网站,请参见www.iwallerstein.com。